BAB V PEMBAHASAN
A. Pengetahuan Masyarakat Tentang
Tuak adalah minuman beralkohol yang di saring dari pohon enau atau pohon induk. Namun tuak lebih encer di banding susu. Tidak mudah untuk mendapatkan tuak dari pohon induk, bahkan tidak semua pohon induk dapat menghasilkan tuak yang baik. Ada pengetahuan khusus yang dimiliki oleh para pamba’ta (orang yang menyaring tuak dari pohonnya) sehingga tidak semua orang toraja mahir dalam mamba’ta (mengambil tuak dari pohonnya). Terkadang ciri khas tuak dan rasanya berbeda beda tiap daerah di Toraja. Salah satu contohnya tuak pa’buli. Tuak pa’buli adalah tuak dari pohon induk namun tuak ini di rendam dengan kulit kayu yang pahit selama beberapa jam sehingga rasanya agak pahit dan warnanya berubah menjadi sedikit kemerah-merahan. Namun tuak pa’buli bukan berarti tidak ada di wilayah lain hanya saja akan lebih sulit di dapatkan di luar Toraja. Tuak yang biasa di sebut ballo’, keberadaanya di toraja sangat berbeda dengan daerah lain di luar Toraja. Bila di Toraja tuak di perjual belikan dengan bebas maka diluar Toraja khususnya Makassar keberadaan tuak sangatlah langka.
Adapun penjual tuak atau penikmat tuak yang ada di Makassar
Satu satunya lokasi penjual tuak yang dikenal banyak banyak orang di Makassar adalah kampung Rama. Penghuni wilayah ini mayoritas orang Toraja. Makanya tidak mengherankan bila tuak di wilayah ini tidak sulit untuk kita dapatkan. Bila berada di kampung rama ibarat kita berada di Toraja, karena selain dari penduduknya yang mayoritas orang Toraja kehidupan masyarakat pun seperti kehidupan masyarakat Toraja, bahkan beberapa bangunan khususnya pintu gerbang menuju kampung rama bila dari arah Jalan Dg Sirua, sebuah miniatur rumah khas toraja terliat lebih jelas layaknya bangunan tongkonan diperbatasan Tana Toraja – Enrekang.
Gambar 1. Pintu gerbang kampung Rama (sumber : koleksi pribadi penulis)
Orang – orang disini kebanyakan pekerjaannya petani pohon induk seperti saya, disitulah kami mendapat rejeki. Pagi-pagi saya pergi mengambil tuak di pohon induk, siang hari tuak tersebut saya antar ke langganan saya yang ada di kota. Jadi saya tidak capek-capek lagi mencari pelanggan dan kebanyakan pelanggan orang-orang disini itu yang punya warung-warung makan di kota. Jadi tuak yang mereka beli itu dijual kembali kepada pelanggan-pelanggannya atau yang sering datang minum di warung mereka..
( wawancara dengan PPI pada tanggal 26 februari 2018)
Gambar 2. Proses pengambilan tuak (Sumber:
bainetorayaproject.wordpress.com)
Salah satu daerah dikota Makassar di perkirakan 10km dari kota (pemilik pohon induk tidak mau menyebutkan nama tempat pohon induk) memiliki pekerjaan yaitu sebagai petani induk. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, para petani tersebut bekerja sebagai petani pohon induk, setiap hari mereka mengambil tuak. Tuak yang diambil pada pagi hari akan dibawa ke kota pada siang hari untuk dijual kepada pelanggan-pelanggan yang ada di kota (Makassar). Jika tuak diambil pada sore hari, tuak tersebut langsung dibawa ke kota untuk
dijual. Di kota mereka masing-masing sudah memiliki pelanggan-pelanggan tuak, pelanggan-pelanggan tuak tersebut kebanyakan mempunyai warung makan meskipun ada juga yang memang hanya memiliki warung khusus untuk menjual tuak. Jadi tuak yang mereka beli di petani induk kembali di jual di warung-warung.
Kalau mau mengambil tuak itu, kita pilih pohon induk yang matang, biasa ada tandanya itu pohon paling tidak berumur 7 tahun dan sudah keluar tangkai buahnya. Sebelum ambil tuak, kita siapkan dulu alat-alat yang di pakai untuk mengambil tuak yaitu tangga yang terbuat dari bambu, pisau tajam, potongan bambu/jergen.kalau siap mi semua itu, pohonnya dipukul baru di taro bambu/jergen dibawanya.
(Wawancara dengan PPI pada tanggal 26 febuari 2018)
Gambar 3. Seorang Penyadap Tuak sedang mengambil Tuak (Sumber : bainetorayaproject.wordpress.com)
Cara mengambil tuak adalah memilih pohon yang umurnya kira-kira 7 tahun. Sesudah itu pamba’ta akan naik ke atas pohon mengayun dan memukul batang pohon induk setelah itu pamba’ta akan memotong setengah dari tandan buah kemudian di bersihkan dan diiris tipis serta di
lumuri berbagai resep. Setelah itu ujungnya di bungkus dan didiamkan selama 2 atau 3 hari agar di dapat tetesan tuak yang berkualitas tuak yang baru saja keluar biasanya berwarna putih, kental, sedikit berlendir dan rasanya manis. Agar tuak bisa lebih enak di nikmati biasanya kami campur dengan kulit kayu.
Menampung tuak seorang pamba’ta biasanya menggunakan wadah bambu yang di letakkan tepat di bawah cairan tuak yang tengah menetes. Aktivitas pengambilan ini di lakukan 2 kali sehari yakni setiap pagi dan sore. Pamba’ta akan meninggalkan wadah bambu di pagi hari hingga sore harinya dia kembali untuk mengambil wadah bambu yang kini telah dipenuhi tuak. Biasanya pamba’ta mencampur tuak dengan kulit kayu agar Rasanya berubah menjadi pahit dari yang sebelumnya. setiap hari pamba’ta akan meninggalkan wadah bambunya agar bisa memanen tuak. Tidak semua pohon induk bisa menghasilkan tuak, ada juga pohon induk yang tidak bisa menghasilkan tuak. ciri-ciri pohon induk yang bagus dan yang tidak bagus
a. Pohon Induk yang bagus
Pohon induk yang bagus adalah pohon induk yang memiliki buah aren, orang Toraja biasa menyebutnya dengan nama bure (kolang-kaling) yang banyak dan tidak mudah rontok.
kalau ada pohon induk yang buahnya banyak dan kalau disentuh tidak mudah rontok berarti pohonnya itu bagus untuk menghasilkan tuak.
(wawancara dengan PI pada tanggal 7 mei 2018)
Semua pohon induk memiliki buah aren (kolang-kaling), buah aren ini sangat baik untuk bagi kesehatan karena kaya dengan kandungan potassium, besi, kalsium, vitamin A, vitamin B, vitamin C dan juga gelatin. Manfaat buah aren ini yaitu untuk memperkuat tulang, sebagai makanan diet, sebagai obat radang sendi, kaya akan kandungan serat, kaya akan kalsium, melancarkan pencernaan, sebagai obat gatal-gatal.
b. Pohon induk yang tidak bagus
Tidak semua pohon induk bisa menghasilkan tuak ada juga pohon induk yang tidak bisa menghasilkan tuak. Pohon induk yang tidak bisa menghasilkan tuak yang umurnya sudah 7 tahun dan buahnya sangat mudah rontok.
pohon induk yang tidak bagus, atau yang tidak bisa menghasilkan tuak itu buahnya cepat sekali rontok. Itu tidak bisa menghasilkan tuak. orang biasa menebang pohonnya dan mengambil daun-daunnya untuk dijadikan sapu. Kalau orang dulu na jadikan atap rumah.
(wawancara dengan PI pada tanggal 7 mei 2018)
Pohon induk yang kurang bagus adalah pohon induk yang memiliki buah aren dan sangat mudah rontok. Pohon induk tersebut tidak bisa menghasilkan tuak. meskipun pohon induk tersebut tidak menghasilkan buah namun kegunaanya masih banyak seperti dijadikan sapu lidi dan bisa di jadikan atap rumah.
2. Penjualtuak
Tuak dijual pada sore hari sampai malam hari, biasanya tuak hanya di jual di warung-warung tertentu saja. Tidak semua warung menjual tuak.
kebanyakkan warung-warung makan di kampung Rama menjual tuak, disitulah biasa orang-orang /pecinta tuak menjadikan tempat itu sebagai tempat refreshing dan silahtuhrahi dengan sesama anggota pecinta tuak karena telah lelah bekerja seharian di siang hari. Para pecinta tuak bisa membedakan mana tuak yang asli dan mana tuak yang palsu (opolosan).
a. Tuak yang bagus (asli)
Tuak asli adalah tuak yang langsung di ambil dari pohon induk dan memiliki bau yang khas yaitu bau pohon induk, rasanya seperti air tape dan ketika meminumnya dada akan terasa hangat dan segar. Setelah meminum tuak yang asli pada malam hari maka ketika bangun tidur pagi hari badan akan terasa segar, kepala terasa ringan, dan rasa lelah akan hilang. Tuak yang bagus bisa tahan sampai 2 hari.
itu tuak asli yang tidak ada campurannya, rasanya seperti air tape, dan baunya khas dari pohon induk. Kalau diminum itu kayak hangat di dada, enak juga tidur kalau sudah minum tuak. biasanya tuak asli itu bisa tahan sampai 2 hari dan paling banyak di dapat di kampung-kampung.
(wawancara dengan PW pada tanggal 7 mei 2018)
Tuak asli banyak di temukan di kampung (yang tidak bisa disebutkan namanya) karena pada dasarnya orang yang tinggal di kampung dan pekerjaannya sebagai petani induk, langsung mengambil tuak dari pohonnya dan langsung tuak tersebut langsung di jual.
b. Tuak yang tidak bagus (oplosan)
Tuak oplosan adalah tuak yang sudah di campur dengan macam-macam kulit kayu dan memiliki bau yang apek, bau yang terlalu menyegat jika kita menghirupnya terlalu dekat. Rasa tuak oplosan ini memiliki rasa yang aneh dan tidak segar. Setelah minum tuak yang tidak bagus badan akan terasa sakit. Tuak yang tidak bagus tidak bisa tahan dalam 2 hari.
Ada juga tuak yang biasa di campur dengan kulit-kulit kayu.
Orang biasa menyebutnya tuak oplosan. Di sebut tuak oplosan karena sudah di campur dengan kulit-kuli kayu. Rasanya sangat pahit dan warnanya berubah. Baunya juga tidak enak. Orang yang suka minum tuak oplosan akan cepat mabuk daripada orang yang minum tuak asli.
(wawancara PW pada tanggal 7 mei 2018)
Tuak yang dicampur dengan kulit kayu, termasuk jenis tuak oplosan, karena mengandung alkohol, tuak seperti ini banyak di temukan diwarung-warung, orang biasanya mencampur tuak dengan kulit kayu alasannya supaya tuak tersebut bisa tahan berapa hari.
Tuak yang kami beli itu asalnya dari desa (penjual tidak mau di sebutkan nama desa yang menjual/membawa tuak) siang hari para petani membawa tuak ke warung kami. Nah disini kami jual kembali tuak yang kami beli di petani induk. Kami memang sudah langganan dari dulu dengan petani yang ada di desa jadi setiap mereka sudah mengambil tuak dari induk mereka langsung membawa ke kota. Karena tuak tidak bisa tahan sampai 2 hari.
Jadi kalau di ambil pagi, siang atau sore di minum. kalau sore di ambil malamnya itu langsung di minum”
(wawancara dengan pemilik warung yang tidak mau disebutkan namanya pada tanggal 28 februari 2018)
Penjual tuak di kota Makassar membeli tuak di desa yang di perkirakan 10km dari kota Makassar (tidak bisa disebutkan nama
desanya). Tuak yang mereka beli di antarkan oleh petani pohon induk.
Karena sudah langganan dari dulu jadi setiap hari para petani mengantarkan tuak kepada langganannya masing-masing. Jika tuak tersebut diambil pada pagi hari maka tuak tersebut diantarkan pada siang hari. Kalau tuak di ambil pada sore hari di antarkan pada malam hari. Dan para penjual di kota langsung menjual lagi kepada pelanggannya yang ada di warung karena Tuak dari pohon induk tidak bisa tahan sampai 2 hari kalau misalnya ada tuak yang tahan sampai 2 hari berarti tuak tersebut sudah di campur dengan kulit kayu.
Saya mempunyai warung kecil yang khusus untuk jual tuak.
meskipun kebanyakkan orang yang menjual tuak juga memiliki warung makan, tapi saya tidak. Karna saya tidak mau orang yang datang membeli tuak di warung saya tinggal di sini minum. saya takut kejadian-kejadian yang meresahkan warga terjadi seperti perkelahian karena kebanyakkan sekarang orang yang minum tuak pasti mabuk entah apa yang mereka campukan dengan tuak sampai mereka mabuk, padahal sebenarnya itu tuak tidak akan berpengaruh kalau di minum 2-3 cangkir tapi biasa anak muda sekarang kalau minum, baru 1 gelas atau 2 gelas sudah mabuk bahkan ada yang berkelahi dengan temannya sendiri. Jadi itu yang membuat saya takut untuk menjual makanan dengan tuak disini.
Yang tinggal disini biasa minum itu Cuma keluarga kalau orang lain yang mau minum disini, saya larang saya menyuruh mereka untuk minum diluar. Pelanggan saya yang sering sekali datang membeli tuak disini itu kebanyakkan anak muda, biasa ada orang tua tapi hanya ada beberapa orang. Tuak yang saya jual harganya 1ltr (liter) sepuluh ribu (Rp.10.000). pemuda yang sering datang disini beli tuak biasanya dia beli 5ltr-10ltr tuak. tuak yang saya jual itu tuak orang Toraja yang dari induk meskipun bukan di Toraja di ambil tapi pohonnya pohon induk seperti di Toraja. Dan kebetulan ada pelanggan saya pemuda orang Toraja sangat menyukai tuak yang saya jual bahkan setiap sore mereka selalu datang membeli tuak dan itu sudah menjadi langganan saya.”
(wawancara dengan salah seorang pemilik warung tuak pada tanggal 28 februari 2018)
Kehadiran tuak khususnya bagi peminum tuak saat ini tidak dapat di pisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tuak bisa ditemui dengan mudah.
Penjualnya pun berbagai macam. Mulai dari pedagang tuak yang datang dari kampung, penyadap tuak yang menjualnya dalam jeriken, warung khusus tuak bahkan warung makan juga menyediakan minuman khas tersebut. Orang tua, pemuda dan bahkan wanita pun apalagi kalau orang Toraja pasti penikmat tuak. Hingga terkenal ungkapan yang menyatakan
“ tannia Toraya ke tae na mangngiru tuak’’ artinya bukan orang Toraja jika tidak minum tuak. Bagi orang Toraja, tuak diyakini mampu mengusir hawa dingin yang merasuk tubuh. Bahkan bagi sebagian orang minuman tersebut di anggap memiliki khasiat sebagai menambah tenaga.
Sedangkan tuak yang disajikan dalam ritual adat umumnya berfungsi untuk mempererat tali persaudaraan, pencair suasana, mengakrabkan diri dengan orang lain. Namun begitu kadang orang sulit membedakan tuak yang bagus dengan tuak yang tidak bagus.
3. PeminumTuak
Tidak semua orang yang minum tuak adalalah pemabuk, ada orang yang hanya minum karena capek dalam seharian bekerja, karena stress dan ada juga yang memang sudah kecanduan dengan tuak..
a. Peminum biasa
Peminum biasa adalah orang yang hanya minum tuak ketika melihat orang terdekat sedang berkumpul atau hanya minum untuk menghilangkan rasa jenuh/stress
Kebetulan saya orang Toraja pencinta tuak tapi bukan pemabuk. Karena pekerjaan makanya saya tinggal disini dan dari dulu Saya memang suka minum tuak sampai sekarang. Ada ungkapan yang menyatakkan.Tapi saya hanya minum 2-3 gelas tidak sampai mabuk. saya biasa minum kalau lagi capek, pulang kerja kalau sudah minum enak tidur jadi tuak bagi saya itu hanya sebagai penghilang rasa capek, tapi kadang biasa ada orang na jadikan sebagai alat untuk memabukkan diri padahal itu tuak kalau di minum sedikit tidak bikin mabuk. Orang yang mabuk karena tuak itu sudah di campur dengan berbagai macam alat pemabuk”
(wawancara Sambira pada tanggal 1 maret 2018)
Peminum tuak bukan berarti sudah kecanduan dengan tuak ada orang yang minum tuak ketika merasa capek setelah seharian bekerja.
Ada juga orang minum hanya untuk pengantar tidur. Tetapi ada juga yang minum karena memang sudah kecanduan artinya dia sudah tidak bisa tidur kalau tidak minum. Namun kebanyakkan sekarang pemuda yang minum bukan untuk menghilangkan stress atau menghilangkan rasa capek, tapi hanya untuk memabukkan diri. Tuak yang memabukkan adalah tuak yang sudah di campur dengan kulit kayu, biasa orang Toraja menyebut tuak pa’buli. tuak pa’buli ini warna putih ke merah-merahan dan rasanya sangat pahit dari yang sebelumnya.
b. Peminum di kalangan orang tua
Tuak seperti rokok, kalau sudah kecanduan akan susah untuk di hentikan. Jadi tidak heran jika ada orang yang dari muda sampe tua tidak bisa berhenti minum. Justru kalau berhenti mereka akan merasa stress dan bahkan ada yang tidak bisa tidur kalau tidak minum tuak karena itu sudah menjad kebiasaannya. Namun disisi lain tuak juga berguna untuk
menambah teman karena orang yang kebiasaan minum setiap sore pasti punya tempat khusus untuk minum. Tempat khusus tersebut di jadikan markas atau tempat berkumpulnya para peminum.
Dari dulu saya memang suka minum. kalau tidak minum dalam sehari kayak pusing saya rasa. makanya sudah menjadi kebiasaan saya. kalau sore, selalu pergi minum di rumahnya saudara saya. Kebetulan itu rumah sudah di jadikan di jadikan markas karena banyak juga orang tua yang datang minum. bukan Cuma saya. Disitu mi saya kenal teman-teman saya yang sudah kayak saudara. Jadi setiap sore kami selalu minum di situ.
Sebelum minum kami kumpul-kumpul uang, tapi biasa ada teman-teman yang traktir kalau misalnya lagi punya rejeki. Kalau banyak rejekinya bukan Cuma tuak na belikan ki tapi makanan juga. Kalau ada waktu kosong biasanya kami pergi jalan-jalan di luar misalnya di pantai, jadi kalau pergi kami juga ajak keluarga lainnya. Jadi kita rame-rame pergi.
(wawancara dengan bapak KR pada tanggal 10 maret 2018)
Berkumpul disatu tempat yang sudah di jadikan markas (tempat kumpul ) adalah suatu kebiasaan yang dilakukan para pecinta tuak, baik di kalangan pemuda atau orang tua. Setiap hari mereka selalu berkumpul untuk minum tuak. Di kalangan orang tua, selain minum tuak mereka juga merencanakan kegiatan yang akan dilakukan ketika libur, karena kebanyakan dari mereka adalah orang yang sibuk bekerja dan sangat jarang untuk bisa keluar.
c. Peminum di kalangan pemuda (komunitas)
Kebiasaan dari dulu tidak bisa di hilangkan begitu saja, seperti kebiasaan minum tuak. Ada istilah orang Toraja “tannia to toraya ke taek na iru’ tuak” yang artinya bukan orang Toraja kalau tidak minum tuak,
dari istilah inilah orang Toraja yang tinggal diperantauan tidak pernah lepas dari tuak. diperantuan mereka bertemu dengan sesama orang Toraja, dan mereka sama-sama menyukai tuak akhirnya mereka sepakat untuk membuat komunitas pangngiru’ tuak. Alasan dari mereka membuat suatu komunitas pangngiru’ tuak adalah untuk memperat tali persaudaraan.
Setiap hari kami kumpul disini untuk minum, dari dulu sampai sekarang kami tidak pernah pindah tempat. Karena tempat ini jauh dari keramaian dan dekat dengan rumah kami. Jadi kalau sore itu datang mi semua anak-anak disini. Kalau beli tuak biasanya kami ceka-ceka atau biasa ada yang traktir. Kami membeli tuak hanya di satu tempat kecuali kalau sudah habis baru kami cari diluar. Tapi jarang kami kehabisan tuak karena kalau sore na tau mi semua anak-anak kalau mau ki minum jadi na kumpul memang mi uang. Kalau belum pi kumpul semua biasa uangnya dulu na pake beli. Baru kalau kumpul semua mi di ganti mi uangnya. Kami jarang diluar minum, kecuali kalau ada panggilan dari luar tapi kalau pergi minum diluar cepat kembali kesini untuk minum bersama anggota komunitas disini.
(wawancara dengan Ade pada tanggal 7 mei 2018)
Mereka hanya minum disatu tempat, tempat tersebut merupakan tempat yang memang dari dulu di khususkan untuk kumpul-kumpul dan minum tuak. Sebelum minum mereka sepakat untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu lalu membeli tuak. uang yang dikumpulkan diperoleh dari anggota komunitas yang juga ingin menikmati tuak. sejak terbentuknya komunitas pangngiru’ tuak, mereka telah sepakat memilih salah satu tempat untuk dijadikan langganan. Sangat jarang dari mereka untuk minum diluar kecuali kalau ada panggilan dari luar
B. Bentuk Dan Fungsi Solidaritas KomunitasPangngiru’ tuak