• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Pembahasan

4.3.3 Hambatan Pola Komunikasi Guru BK

Pada bab II telah dijelaskan tentang hambatan komunikasi, yaitu gangguan (semantik dan mekanik), kepentingan, motivasi, dan prasangka.41 Pada keempat kategori hambatan ini, guru BK pun pernah mengalami hambatan-hambatan tersebut yang menjadi awal kendala guru BK dalam melakukan pola komunikasi dengan siswanya.

Hambatan-hambatan yang mungkin datang atau berasal dari siswa bisa berupa karena siswa tidak terbuka sepenuhnya kepada guru BK atas persoalan yang sedang dihadapi atau siswa merasa tidak bebas untuk mengungkapkan persoalannya karena suasana di sekitaran tempat pelayanan kurang nyaman/aman atau siswa tidak percaya kepada guru BK untuk dapat membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya, terutama bagi siswa yang dipanggil.

Sementara itu, hambatan-hambatan yang mungkin datang dari seorang guru BK biasanya disebabkan oleh kurangnya kemampuan/penguasaan seorang guru BK dalam menggunakan teknik-teknik konseling, baik itu verbal maupun non verbal, sehingga masalah yang dialami siswa tidak terungkap dengan jelas. Selain itu, juga mungkin disebabkan oleh 41

Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, 2003, Bandung, Citra Aditya Bakti, hlm 45-50

ketidakmampuan seorang guru BK dalam membina hubungan yang baik dengan siswa pada saat/permulaan konseling, sehingga membuat siswa merasa tidak bebas untuk mengungkapkan masalahnya, terutama bagi siswa yang dipanggil.

Namun selain hambatan-hambatan tersebut, masih banyak ditemukan hambatan-hambatan lain yang dihadapi konselor dalam melakukan layanan bimbingan dan konseling.

1. Gangguan

a. Gangguan Semantik

Gangguan semantik adalah gangguan tentang bahasa terutama terutama yang berkaitan dengan perbedaan dan pemahaman bahasa yang digunakan oleh komunikator maupun komunikan, sehingga menimbulkan salah paham.Berdasarkan hasil wawanacara peneliti yang dilakukan oleh peneliti dalam hambatan yang terjadi pada pola komunikasi guru BK terhadap siswa dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :

“...Jadi ada bahasa-bahasa yang misalnya, saru gitu bahasa jawa yah. Maka untuk memperjelas hal itu yah itu diadakan kalau kalian belum paham tolong masuk ke ruangan ibu...” Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa faktor hambatan gangguan semantik lebih kepada bahasa saru atau kurang jelasnya apa yang dijelaskan oleh oleh guru BK kepada siswa diruangan kelas. Untuk mengantisipasi hal tersebut, guru BK berinisiatif memanggil siswa yang tidak paham mengenai yang

dikatakan oleh guru BK tersebut dengan cara berbicara secara face to face diruangan bimbingan konseling.

b. Gangguan Mekanik

Gangguan mekanik adalah gangguan yang disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik, terutama yang berkaitan dengan alat atau media yang digunakan. Berdasarkan hasil wawanacara peneliti yang dilakukan oleh peneliti dalam hambatan yang terjadi pada pola komunikasi guru BK terhadap siswa dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :

“...Jadi misalnya ibu mengatakan hal-hal yang belum dia itu kenali, itu memang hore itu yah si anak itu bersorak-sorei...”

Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa faktor hambatan dalam gangguan mekanik adalah kegaduhan yang ditimbulkan oleh para siswa didalam kelas sehingga menimbulkan informasi yang disampaikan oleh guru BK menjadi tidak begitu jelas. Kegaduhan terjadi, karena siswa menemui sesuatu hal yang baru yang akan disampaikan oleh guru BK, namun kegaduhan tersebut apakah terkait karena rasa antusias terhadap informasi yang akan diterima atau karena ada hal lain yang menyebabkan kegaduhan tersebut.

2. Kepentingan

Komunikator yang tidak memperhatikan kepentingan komunikan akan terjadi ketidakseimbangan antara keduanya,

sehingga komunikan hanya akan melakukan komunikasi apabila ada kepentingan yang berkaitan dengannya. Biasanya kepentingan ini juga akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau menghayati suatu pesan. Kepentingan juga bukan hanya mempengaruhi perhatian akan tetapi juga daya tanggap, perasaan, pikiran dan tingkah laku yang merupakan sifat reaktif terhadap segala perangsang yang tidak bersesuaian atau bertentangan dengan suatu kepentingan.

Berdasarkan hasil wawanacara peneliti yang dilakukan oleh peneliti dalam hambatan yang terjadi pada pola komunikasi guru BK terhadap siswa dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :

“...yang jelas saya kepentingannya satu. Supaya anak-anak itu jangan sampai terjerumus ke dalam hal seks bebas itu...” Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa kepentingan yang disampaikan oleh guru BK tersebut, terlebih untuk kepentingan siswanya, maka dari itu Dra. Wonisah selaku guru BK tersebut selalu menyempatkan waktu untuk menyisihkan sebagian aktifitas waktunya disekolah demi mendengarkan curhat serta memberikan nasihat kepada siswa tersebut terkait permasalahan yang dihadapi oleh siswa tersebut, sehingga hambatan kepentingan ini tidak didasari oleh kepentingan oleh satu pihak saja.

3. Motivasi

Terpendam motivasi adalah dorongan seseorang untuk mencapai tujuan, keinginan maupun kebutuhannya, sehingga apabila komunikasi sesuai dengan motivasi seseorang terutama komunikan, maka komunikasi akan dapat berjalan sukses. Sebaliknya apabila komunikasi tidak sesuai dengan motivasi yang terpendam dalam diri komunikan, maka komunikasi mengalami hambatan.

Berdasarkan hasil wawanacara peneliti yang dilakukan oleh peneliti dalam hambatan yang terjadi pada pola komunikasi guru BK terhadap siswa dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :

“...Memotivasi bahwa hal-hal yang tidak perlu kalian lakukan jangan dilakukan, terus bahwa hal-hal kaya gitu juga tidak bagus untuk kamu. Dan kamu itu harus semangat belajar, tugas kamuadalah belajar...”

Dari hasil pernyataan diatas menggambarkan bahwa motivasi yang kuat harus dilakukan terhadap siswa, dalam motivasi tersebut Dra. Wonisah selaku guru BK tersebut tidak lupa menyelipkan informasi-informasi mengenai dampak seks bebas tersebut, sehingga dengan bertambahnya informasi tersebut membuat siswa termotivasi untuk menghindari seks bebas dan mengalihkan perhatiannya kepada kegiatan-kegiatan positif yang berguna untuk siswa tentunya tetap dalam pengawasan guru dan pihak terkait di sekolah.

4. Prasangka

Prasangka merupakan salah satu rintangan yang berat dalam berkomunikasi, karena inilah ada komunikan yang memiliki prasangka terhadap komunikator, maka kecurigaan komunikan kepada komunikator akan menjadi penghambat. Selain itu juga adanya sikap menentang dan berburuk sangka kepada komunikator bisa memperburuk keadaan, tetapi apabila komunikator mampu memberi kesan yang baik dan mampu meyakinkan komunikan, maka komunikasi akan dapat berjalan sukses.

Berdasarkan hasil wawanacara peneliti yang dilakukan oleh peneliti dalam hambatan yang terjadi pada pola komunikasi guru BK terhadap siswa dengan Dra. Wonisah yang mengatakan :

“...Untuk mengatasi hal itu yah, ibu menjelaskan dengan sejelas-jelasnya, dengan memberikan contoh yang konkret. Sehingga siswa itu paham...”

Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa untuk meminimalisir prasangka didalam siswa, Dra. Wonisah dalam memberikan informasinya kepada siswa selalu dengan memberikan contoh yang konkret. Sehingga siswa pun paham dan mengerti apa yang disampaikan oleh guru BK tersebut, disisi lain. Siswa dan guru BK bisa saling bertukar pertanyaan dan jawaban, sehingga prasangka-prasangka buruk yang dipikirkan oleh siswa selama ini, perlahan-lahan akan hilang setelah diberikan pemahaman yang benar oleh Dra. Wonisah selaku guru BK tersebut.

4.3.4 Solusi Mencegah Perilaku Seks Bebas

Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, penyaluran minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang dapat membuat setiap orang mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya. Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering ‘didengungkan’ tetap saja masih banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Selain daripada solusi di atas masih banyak solusi lainnya.

Hasil wawancara peneliti dengan Dra. Wonisah yang mengatakan: “...Kita disitu kasih pengarahan dari hati ke hati, pelan-pelan mulai dikasih pengertian mengenai bagaimana agama, kenapa agama melarang begini, karena akibatnya akan fatal...”

Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Ahmad Yani dan Bidan Yamtini yang mengatakan :

“...Nah itu kita harus memberikan pembinaan. Pembinaan bimbingan, dengan adanya pembinaan dan bimbingan yang rutin ke pelajar Insya Allah kalangan remaja ataupun anak sekolah karena sudah tahu bahaya dari seks bebas dan sudah tahu kejelekan daripada perilaku seks bebas...”

“...Yah, diadakan penyuluhan-penyuluhan lah didalam kalangan pelajar, terus ada juga pendidikan tentang seks bebas itu. Jadi kan pelajar itu bisa mengetahui apa akibatnya, apa dampaknya yang ditimbulkan oleh seks bebas itu.

Dari pernyataan diatas menggambarkan bahwa solusi penanggulangan dampak seks bebas dikalangan pelajar salah satunya ditanamkan pendidikan agama dan akhlak yang kuat, karena dengan pendidikan agama dan akhlak yang kuat akan menjadi filter untuk pelajar dalam kehidupannya, pelajar mengetahui mana perbuatan yang harus dijalankan mana perbuatan yang

harus dihindari. Adapun pembinaan dan penyuluhan tersebut berfungsi memberikan informasi mengenai dampak akibat perbuatan seks bebas kepada pelajar. pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks.

Dengan pendidikan seks kita dapat memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada semua orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab IV maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Pola komunikasi yang digunakan oleh guru BK SMA Negeri 1 Cinangka dengan menggunakan pola rodadengan menggunakan komunikasi secara preventif dan persuasif melalui bimbingan classical. Dimana guru BK bekerja sama dengan pihak terkait memberikan pemahaman informasi mengenai seks bebas, narkoba, dll ke setiap kelas dengan diberikan waktu oleh pihak sekolah selama 2 jam dalam 1 minggu. Bentuk komunikasi yang dilakukan oleh guru BK SMA Negeri 1 Cinangka tidak hanya sebatas memberikan penyuluhan, sosialisasi saja. Tetapi juga menggunakan media sebagai bentuk informasi, hal ini dilakukan untuk mempermudah siswa memahami isi pesan yang disampaikan dalam media tersebut, seperti contoh media karikatur. Penggunaan media yang dilakukan oleh guru BK dan guru lainnya dalam menyebarkan informasi juga bertujuan untuk menggali dan mengembangkan potensi kreatifitas seni didalam diri siswa, sehingga siswa bisa di arahkan ke dalam kegiatan positif yang disukai oleh siswa. Dari adanya pola komunikasi yang diterapkan oleh guru BK ini memang telah mengacu pada teori Atribusi, hanya saja secara teori guru

BKbelum memahami. Namun, secara prakteknya telah dilakukan demi mencegah terjadinya perilaku seks bebas di wilayah SMA Negeri 1 Cinangka.

2. Terdapat beberapa faktor pendukung yang didapatkan oleh guru BK guna mencegah perilaku seks bebas di SMA Negeri 1 Cinangka, selain dukungan penuh dari guru, juga adanya dukungan dari pihak luar yang terkait. Seperti adanya kerja sama dengan BNN (Badan Narkotika Nasional) yang memberikan penyuluhan bahaya dampak dari penggunaan narkoba, penyuluhan narkoba juga pernah diberikan oleh DISPARPORA Serang kepada siswa SMA Negeri 1 Cinangka , kerja sama dengan pihak BKKBN dalam memberikan informasi mengenai sistem reproduksi seksual yang dimana kaitan informasi ini erat dalam mencegah seks bebas di kalangan siswa, karena siswa bisa mengetahui dampak seks bebas bagi sistem reproduksi mereka. Adapun faktor pendukung lainnya yaitu kerja sama dengan pihak kepolisian dari Polda Banten, Polres Cilegon dan Polsek Cinangka dalam kegiatan penyuluhan kenakalan remaja. Banyaknya faktor pendukung dari berbagai pihak yang terkait, sehingga memudahkan guru BK memberikan informasi secara konkret kepada siswa-siswanya, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan informasi dari guru di sekolah, tetapi juga dari pihak luar yang terkait, sehingga meminimalisir terjadinya perilaku seks bebas di lingkungan sekolah.

3. Terdapat beberapa hambatan dalam pola komunikasi guru BK yaitu pada gangguan semantik adanya bahasa saru, sehingga menyebabkan kurang jelasnya informasi yang diberikan ketika bimbingan classical. Untuk meminimalisir gangguan semantik tersebut, maka siswa yang belum memahami informasi tadi segera menghadap guru BK untuk bertemu di ruangan bimbingan konseling untuk mengetahu informasi lebih jelasnya. Sedangkan pada gangguan mekanik, diakibatkan oleh kegaduhan yang dibuat oleh siswa-siswa didalam kelas. Hambatan lainnya yaitu kepentingan, tidak adanya hambatan dalam hal ini. Karena apa yang dilakukan oleh guru BK tersebut semata-mata demi kepentingan dan kebaikan siswa kedepannya. Hambatan motivasi sering menjadi kendala, ketika guru BK telah memotivasi siswa-siswanya dalam hal-hal yang positif terkadang mendapat tanggapan yang beragam dari siswanya. Dan yang terakhir adalah hambatan prasangka, dugaan-dugaan yang salah mengenai informasi yang didengar oleh siswa mengenai seks bebas, akan dijelaskan secara konkret oleh guru BK. Sehingga prasangka-prasangka salah tersebut bisa diminimalisir dengan pemberikan informasi yang benar guna mencegah siswa dalam mengambil langkah kedepannya.

Solusi yang diberikan oleh guru BK guna mencegah perilaku seks bebas selain memberikan informasi serta penyuluhan dan sosialiasi, juga diberikannya pembinaan dan bimbingan yang rutin kepada siswa dan ditanamkan pendidikan agama dan akhlak yang kuat di sekolah. Karena

dengan pendidikan dan akhlak yang kuat akan menjadi filter untuk pelajar ke dalam kehidupannya.

5.2 Saran

Adapun saran yang ingin disampaikan oleh peneliti adalah :

1. Adanya interaksi terbuka antara guru BK dengan siswa, yang tidak hanya terjadi ketika bimbingan classical saja. Namun interaksi secara pribadi, dengan mendatangi siswa secara langsung diluar jam bimbingan classical. 2. Semakin dikembangkannya program-progam yang dilakukan oleh guru

BK, tidak hanya melibatkan pihak guru disekolah saja. Namun juga dengan pihak lainnya, guna memberikan variasi informasi yang diterima oleh siswa.

3. Perlu adanya keterlibatan dari pihak Kepala Sekolah dalam setiap kegiatan yang dibuat oleh guru BK dan pihak guru lainnya, karena dengan keterlibatan tersebut, kepala sekolah ikut andil dalam mensukseskan kegiatan yang dibuat.

4. Diberikan pelatihan-pelatihan untuk guru BK disetiap sekolah, guna menambah seputar informasi yang didapatkan oleh pihak terkait. Sehingga guru BK disekolah bisa mengetahui permasalahan terbaru disetiap sekolah, serta diberikan pelatihan untuk mengembangkan potensi siswa.

5. Diharapkan adanya peran aktif guru BK dengan orang tua siswa, sehingga dengan komunikasi yang terjalin bisa meminimalisir siswa dalam salah pergaulan.

DAFTAR PUSTAKA

Afrilla, Naniek F. 2002.Komunikasi Persuasi.Serang : Sayuti.com

Cangara, Hafied. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi., Jakarta : Raja Grafindo Persada

Danim, Sudarwan dan Khairil, H. 2011. Profesi Kependidikan. Bandung ; Alfabeta

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.,Jakarta : Balai Pustaka

Djamarah, Syaiful Bahri. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga.,Jakarta : PT Rineka Cipta

Effendy, Onong. 2003.Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi.,Bandung : PT. Citra Aditya Bakti

Gunarsa, Ny. Singgih, 2001,Psikologi Perkembangan, Gunung Mulia: Jakarta

Jalaluddin, Rakhmat. 2008. Psikologi Komunikasi Edisi Revisi, Bandung : Remaja Rosdakarya

Kriyantono, Rachmat. 2008.Teknis Praktisi Komunikasi.,Jakarta : Kencana

Muhammad Al-Mighwar, M.Ag. 2006.Psikologi Remaja. Bandung : Pustaka Setia

Milles, Matthew B, dan A Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.

Penerjemah Tjejep Rohendi Rosidi. Jakarta : Universitas Indonesia Press. Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung : PT. Remaja

Rosdakarya

Morisan dan Andy Corry Wardhani. 2009. Teori Komunikasi tentang Komunikator, Pesan, Percakapan, dan Hubungan. Jakarta : Ghalia Indonesia

Mulyana, Deddy. 2003. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya

Rosady, Ruslan. 2008. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi.,

Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Sugiyo. 2005. Komunikasi Antar Pribadi. Semarang : UPT Percetakan dan Penerbitan UNNES PRESS

Sugiyono. 2009.Memahami Penelitian Kualitatif.Bandung : Alfabeta

Vardiansyah, Dani. 2004.Pengantar Ilmu Komunikasi.Bogor : Ghalia Indonesia

Widjaja,H.A.W. 2000.Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta : PT Rineka Cipta

Wirjanto. 2004.Pengantar Ilmu Komunikasi.Jakarta : Grasindo

Sumber lainnya : http://sp.beritasatu.com/home/144-warga-banten-meninggal-akibat-hivaids/35302 (Diakses, 19-02-2015 jam 20:47) http://belajarpsikologi.com/pengertian-bimbingan-dan-konseling/ (Diakses, 24-02-2015 jam 21:13) http://lpkeperawatan.blogspot.com/2014/02/perilaku-seks-bebas.html#.VW9ge1Lq6UI (Diakses, 24-02-2015 Jam 22:00)

1. Apa arti seks bebas menurut anda? Jelaskan

2. Bagaimana anda menanggapi fenomena seks bebas dikalangan pelajar? Jelaskan

3. Apa penyebab seseorang melakukan tindakan seks bebas (atribusi kausalitas) ?

- Faktor situasional (lingkungan) dan faktor personal (diri sendiri) Jelaskan

4. Ketika anda mendiskusikan atau memberikan informasi dengan siswa, sejauh mana anda berpendapat bahwa siswa tersebut jujur ketika anda menanyakan perihal mengenai seks bebas? Jelaskan

5. Seperti apa pemahaman seks bebas di lingkungan SMA Negeri 1 Cinangka? Jelaskan

6. Seperti apa pola komunikasi yang diterapkan oleh anda kepada siswa dalam menyampaikan informasi mengenai seks bebas? Jelaskan

7. Apakah dengan menggunakan pola komunikasi tersebut, anda yakin bisa memberikan pemahaman kepada siswa mengenai seks bebas? Jelaskan 8. Adakah faktor pendukung (pihak ke 3) ketika anda memberikan informasi

kepada siswa mengenai seks bebas? Jelaskan

9. Bagaimana anda mencari faktor pendukung tersebut, guna membantu anda dalam memberikan informasi tersebut? Jelaskan

10. Bisa anda sebutkan atau jelaskan, faktor-faktor pendukung apa saja yang membantu anda dalam memberikan informasi seks bebas kepada siswa? Jelaskan

meningkat? Jelaskan

13. Seperti apa ciri-ciri orang yang telah melakukan seks bebas, menurut kacamata anda? Jelaskan

14. Dalam memberikan informasi mengenai seks bebas, tentu ada tujuan nya. Apa yang anda harapkan dari tujuan tersebut, dilihat dari :

- Perubahan sikap (apa yang diharapkan) - Perubahan pendapat (apa yang diharapkan) - Perubahan perilaku (apa yang anda harapkan) - Perubahan sosial (apa yang anda harapkan)

Jelaskan?

15. Bagaimana anda memposisikan diri anda sebagai guru BK terhadap siswa dan lainnya? Jelaskan

16. Fungsi guru BK itu sendiri menurut anda di sekolah seperti apa? Jelaskan 17. Berapa lama anda biasanya memberikan informasi seks bebas kepada

siswa? Jelaskan

18. Bagaimana anda mensiasati siswa yang masih penasaran dengan informasi mengenai seks bebas tersebut? Jelaskan

19. Dorongan apa yang membuat anda selaku guru BK harus melakukan atau memberikan informasi seks bebas kepada siswa? Jelaskan

20. Dalam hal hambatan ketika anda melakukan komunikasi dengan siswa, ada 4 macam. Yaitu, gangguan, kepentingan, motivasi dan prasangka. - Dalam hal gangguan semantik (bahasa) seperti apa hambatannya,

sedangkan gangguan mekanik (kegaduhan) seperti apa hambatannya. Jelaskan?

hambatan, bagaimana anda mensiasatinya? Jelaskan

- Prasangka, bagaimana anda mengubah prasangka yang salah dari siswa mengenai informasi yang anda berikan terkait kurangnya kemampuan anda menguasai isi informasi tersebut? Jelaskan

21. Apa feedback yang anda dapatkan dan siswa dapatkan ketika anda memberikan informasi seks bebas kepada siswa di sekolah? Jelaskan 22. Menurut anda, perkembangan perilaku seksual remaja khususnya pelajar.

Harusnya seperti apa? Jelaskan

23. Bagaimana tindakan anda, ketika ada salah satu siswa yang menjadi korban perilaku seks bebas? Jelaskan

24. Dampak seks bebas menurut anda seperti apa? Jelaskan

25. Bagaimana solusi mencegah perilaku seks bebas di kalangan siswa? Jelaskan

1. Bagaimana persepsi anda mengenai seks bebas di kalangan pelajar? Jelaskan

2. Bagaimana persepsi anda terhadap pelajar yang telah melakukan perilaku seks bebas? Jelaskan

3. Seperti apa komunikasi yang anda lakukan kepada siswa, mengenai memberikan informasi seks bebas? Jelaskan

4. Apakah anda mempunyai waktu khusus, ketika siswa/anda ingin menanyakan/memberikan perihal informasi seks bebas kepada anda? Jelaskan

5. Apakah anda memahami apa yang disampaikan mengenai komunikasi tersebut? Jelaskan

6. Sudah berapa kali anda terlibat dalam kegiatan mencegah perilaku seks bebas pelajar? Jelaskan

7. Bagaimana bentuk kegiatan tersebut? Jelaskan

8. Langkah-langkah apa saja yang sudah anda lakukan dalam mencegah perilaku seks bebas tersebut? Jelaskan

1. Menurut anda, bagaimana fenomena seks bebas di kalangan pelajar? Jelaskan

2. Bagaimana pandangan anda terhadap pelajar yang telah melakukan aktifitas seks bebas? Jelaskan

3. Menurut anda, penyebab pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut? Jelaskan

4. Adakah faktor atau dorongan pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut? Jelaskan

5. Menurut anda, dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas? Jelaskan

6. Apakah anda mempunyai waktu khusus, ketika siswa/anda ingin menanyakan/memberikan perihal informasi seks bebas kepada anda? Jelaskan

7. Bagaimana solusi atau penanggulangan dampak seks bebas di kalangan pelajar? Jelaskan

1. Bagaimana persepsi anda mengenai seks bebas di kalangan pelajar? Jelaskan

2. Bagaimana persepsi anda terhadap pelajar yang telah melakukan perilaku seks bebas? Jelaskan

3. Apakah anda memahami apa yang disampaikan mengenai komunikasi tersebut? Jelaskan

4. Sudah berapa kali anda terlibat dalam kegiatan mencegah perilaku seks bebas pelajar? Jelaskan

5. Bagaimana bentuk kegiatan tersebut? Jelaskan

6. Langkah-langkah apa saja yang sudah anda lakukan dalam mencegah perilaku seks bebas tersebut? Jelaskan

1. Menurut anda, bagaimana fenomena seks bebas di kalangan pelajar? Jelaskan

2. Bagaimana pandangan anda terhadap pelajar yang telah melakukan aktifitas seks bebas? Jelaskan

3. Menurut anda, penyebab pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut? Jelaskan

4. Menurut anda perkembangan perilaku seksual remaja itu seperti apa? Jelaskan

5. Bantuk-bentuk perilaku seks bebas yang sering dilakukan oleh pelajar seperti apa? Jelaskan

6. Adakah faktor atau dorongan pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut? Jelaskan

7. Menurut anda, dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas? Jelaskan

8. Menurut anda, bagaimana seharusnya seorang guru BK di sekolah dalam melakukan komunikasi informasi dalam mencegah perilaku seks bebas tersebut? Jelaskan

9. Apa pengaruh aktifitas seks bebas bagi perkembangan pelajar? Jelaskan 10. Bagaimana solusi atau penanggulangan dampak seks bebas di kalangan

1. Menurut anda, bagaimana fenomena seks bebas di kalangan pelajar? Jelaskan

2. Menurut anda, penyebab pelajar melakukan aktifitas seks bebas tersebut? Jelaskan

3. Menurut anda, dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas?

Dokumen terkait