Target Dari DPPKA
Target yang
Diperoleh Penulis Selisih Target
2008 3.527.909.910 3.450.000.000 4.109.974.132 659.974.132 2009 3.850.377.341 4.500.000.000 4.622.810.547 122.810.547 2010 4.697.717.016 4.550.000.000 5.443.568.087 893.568.087
Jika dilihat dari tabel II.11, Pemkot Surakarta masih kehilangan pendapatan daerah dari penerimaan pajak reklame selama tiga tahun terakhir sebesar Rp 1.676.352.766,- . Perhitungan di atas tentunya hanya sekedar gambaran kecil tentang perkiraan pendapatan yang dimungkinkan dapat memaksimalkan pendapatan daerah di sektor pajak reklame dan juga untuk memantau kinerja dari pegawai pemerintah daerah, terutama pada pemungutan pajak reklame tahunan. Dengan gambaran seperti di atas dapat diketahui kinerja dari pegawai pemerintah daerah kurang maksimal dalam pencapaian target pendapatan daerah.
C. Hambatan Yang Timbul Saat Penyelenggaraan Reklame dan Pemungutan Pajak Reklame.
Kemajuan teknologi hingga sampai sekarang ini membuat semua bidang di sektor manapun menjadi semakin beragam dan canggih. Media elektronik yang semakin merajai di segala aspek kehidupan semakin diburu para konsumennya, tidak terkecuali
di media promosi. Sebuah teknik pemasaran dengan promosi sudah sejak dulu dilakukan, salah satunya dengan reklame. Peran serta kemajuan teknologi turut serta dalam memajukan dunia periklanan. Keberagaman media iklan semakin berkembang sejalan dengan berkembangnya teknologi. Hal ini membuat persaingan di bidang periklanan semakin ketat terutama persaingan media promsi (reklame). Terbukti pada pendataan reklame tahun 2009 sebanyak 5543 reklame tahunan terpasang di sepanjang jalan kota Surakarta.
Semakin padatnya reklame yang terpasang membuat timbulnya beragam masalah. Masalah-masalah saat penyelenggaraan reklame dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Masalah sampah yang ditimbulkan akibat reklame yang sudah kadarluarsa tidak segera dibongkar oleh pemiliknya. Mengenai hal ini sebenarnya sudah ada tim penertib reklame, yang bertugas menertibkan dan membongkar reklame yang sudah habis masa tayangnya. Tetapi dari petugas itu sendiri kadang tidak mencukupi untuk menertibkan di lima kecamatan yang ada di Surakarta mengingat banyaknya reklame yang melanggar peraturan, seperti memasang reklame tanpa izin, memasang reklame di pohon dan tiang listrik, memasang di white area (kawasan bebas reklame). Dengan ada tim penertib reklame sebanarnya sudah cukup efektif untuk menekan pelanggaran dalam menyelenggarakan reklame, hanya saja tenaga kerja dari tim penertib reklame sendiri terbatas, kurang lebih ada lima belas tenaga kerja yang menjadi tim penertib reklame yang setiap hari terbagi dilima kecamatan di Surakarta (Jebres, Banjarsari, Laweyan, Pasar Kliwon, Serengan).
2. Pemasangan reklame yang berlebihan akan mengganggu suasana dan keindahan kota, menurut Ketua Asosiasi Perusahaan dan Praktisi Periklanan Solo (ASPPRO)
penataan reklame di Surakarta sangat semrawut, indikasinya terlihat dari tata letak dan pemasangan berbagai reklame yang ada sehingga justru mengurangi keindahan kota. Penataan dan pemasangan reklame yang semrawut dapat membuat tingkat kepercayaan dari pemasangan kepada biro iklan pada khususnya yang outdoor berkurang, jika dibiarkan terus menerus akan berdampak pada pendapatan pajak reklame. (Dikutib dari harian Joglosemar, tanggal 28-03-2011)
3. Keamanan akan reklame yang dipasang. Dari setiap laporan pengaduan yang masuk di Kantor Pelayanan dan Perizinan Terpadu Kota Surakarta wajib pajak sering dirugikan akibat reklame berjenis kain (baliho, MMT, spanduk) yang mereka pasang sering hilang atau bisa dikatakan dicuri. Keterangan yang di dapat penulis dari KPPT Kota Surakarta hal tersebut dikarenakan persaingan antar perusahaan atau bisa saja dicuri oleh masyarakat disekitar reklame yang dipasang itu sendiri. Biasanya masyarakat yang mempunyai warung untuk digunakan sebagai atap atau dinding warungnya. Mengenai hal ini pihak KPPT dan DPPKA Kota Surakarta tidak bisa mengawasinya secara terus menerus, yang dapat dilakukan untuk mengawasi reklame-reklame tersebut adalah dengan tim penertib yang sudah berjalan, dengan menertibkan reklame setiap hari diharapkan tim penertib tersebut juga mengawasi reklame yang sudah terpasang.
4. Aspek pengawasan terhadap penyelenggaraan reklame. Pemerintah harus bisa melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap semua titik reklame. Di dalam peraturan Walikota Surakarta Nomor 10-A tahun 2009 sebenarnya sudah ada tim penata reklame yang diketuai oleh Sekda dengan wakilnya Kepala DPPKA Kota Surakarta dan Kepala Dinas KPPT Kota Surakarta. Peraturan tersebut dibuat
bertujuan agar segala sesuatu yang berhubungan dengan penataan reklame berada dalam satu pintu. Tetapi pada kenyataannya penataan reklame masih semrawut. Yang terjadi di lapangan, menurut Ginda Ferachtriawan pegiat di Asppro divisi pengembangan media outdoor malah masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) mempunyai otoritas untuk memberikan izin pendirian reklame di wilayahnya masing-masing. Hal ini bisa dilihat di taman-taman yang telah dibangun dibuat untuk memasang vertical banner dengan cara disemen maupun dicor ke taman tersebut. Juga pemasangan reklame layanan masyarakat di lampu lalulintas (traffic light) yang justru bekerja sama dengan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ).
Menjadi PR besar bagi Pemkot Solo untuk segera mengatasi masalah ini, agar pendapatan bisa tetap terpenuhi. Masalah yang ditimbulkan dari penyelenggaraan reklame juga dapat berdampak pada susahnya memungut pajak reklame dari wajib pajak. Faktor keamanan juga perlu diperhatikan oleh Pemkot Solo. Pada akhirnya, jika dibiarkan saja bukan tidak mungkin Kota Surakarta akan menjadi hutan atau sampah reklame. Perlu ada koordinasi antara dinas-dinas, biro iklan dan stakeholder serta masyarakat akan perlunya penataan yang baik. Hambatan-hambatan yang terjadi bisa juga berdampak pada pemungutan pajak reklamenya. Hambatan yang timbul saat memungut pajak reklame adalah:
a. Dari Pihak Wajib Pajak.
1)Rendahnya kesadaran wajib pajak untuk membayar pajak tepat waktu.
mereka. Dengan tindakan seperti ini akan memperparah citra dari Kota Surakarta sendiri.
3)Adanya kesulitan untuk menghubungi wajib pajak yang berdomisili di luar kota. Biasanya selalu mengelak dengan banyak alasan untuk mengundur pembayaran. 4)Masih banyaknya para wajib pajak yang kurang jelas terhadap prosedur
pelaksanaan pajak reklame. Hal ini biasanya dikarenakan terbatasnya pengetahuan mereka tentang pajak reklame itu sendiri. Faktor ini tidak bias lepas dari tanggung jawab pihak DPPKA, tetapi kurangnya perhatian wajib pajak mengakibatkan tidak jelasnya mereka terhadap prosedur pelaksanaan pajak reklame.
5)Kurangnya pengetahuan wajib pajak akan perhitungan pajak reklame, sehingga kadang mereka memprotes bahwasanya pajak yang mereka bayar terlalu besar, padahal didalam perda no.5 tahun 1999 sudah jelas-jelas diterangkan mengenai tarif reklame dan juga di dalam perda no.7 tahun 2009 tentang retribusi pemakaian kekayaan daerah.
b. Dari Pihak DPPKA dan KPPT Kota Surakarta
1.Penerapan sanksi yang kurang tegas bagi wajib pajak yang kurang patuh.
2.Kurangnya tenaga lapangan yang mengawasi pelaksanaan pajak reklame di lima kecamatan yang ada di Surakarta.
3.Peraturan dearah yang dinilai tidak bisa mengikat secara tegas mengenai penataan reklame, karena peraturan yang ada sekarang ini sudah tidak bisa mengikuti
perkembangan reklame yang ada, pernyataan ini dipaparkan oleh Kasi DAFDA Kota Surakarta Bpk. Puguhno Mersianto, S.E., M.M.
D. Upaya Pemerintah Dalam Menanggulangi Masalah yang Terjadi.
Melihat banyaknya pelanggaran dalam menyelenggaraan reklame oleh wajib pajik, maka Pemkot mengupayakan beberapa upaya pencegahan. Ada beberapa upaya yang dilakukan Pemkot, yaitu sebagai berikut ini:
1. Memberikan fasilitas atau pelayanan lebih di kantor DPPKA dan KPPT Kota Surakarta. Sehingga wajib pajak merasa nyaman berada di kantor tersebut.
2. Safari reklame yang dilakukan oleh tim penertib reklame di lima kecamatan yaitu Jebres, Banjarsari, Laweyan, Pasar Kliwon, Serengan.
3. Menjalin kerja sama dengan pihak swasta. Seperti mengadakan diskusi bersama dengan pihak-pihak advertising sebagai penyelenggara reklame.
4. Koordinasi yang baik dengan dinas tata ruang kota untuk menata reklame yang ada sekarang ini, baik yang tahunan maupun yang insidentil.
5. Memaksimalkan fasilitas panggung reklame. Dengan pembersihan atau pengecatan ulang panggung reklame secara berkala.
6. Pengkajian titik – titik reklame di setiap tempat di lima Kecamatan yang ada di Kota Surakarta. Pengkajian ini dimaksudkan agar pemkot juga selalu mengetahui perubahan status tanah di titik-titik reklame tersebut. Apakah milik Negara atau milik wajib pajak sendiri.
BAB III
TEMUAN
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang penulis lakukan, dapat ditemukan adanya kelebihan dan kelemahan dalam pemungutan pajak reklame tahunan dan pajak reklame insidentil terhadap pendapatan asli daerah kota Surakarta. Adapun kelebihan dan kelemahannya adalah berikut ini :
A. Kelebihan
1. Memiliki prosedur yang cukup mudah dalam pemungutan pajak reklame insidentil.
2. Cepatnya pemberitahuan tentang besarnya pajak reklame tahunan dan pajak reklame insidentil
yang terutang kepada wajib pajak hanya dengan jangka waktu kurang dari 1 minggu, sehingga wajib pajak dapat segera melakukan kewajiban perpajakannya.
3. Mekanisme dan tata cara yang digunakan di DPPKA dan KPPT Kota Surakarta tersistematis, sehingga dapat menghemat waktu pelayanan kepada wajib pajak.
4. Kualitas pelayanan yang ramah CSO (Costumer Service Office), baik di DPPKA dan KPPT
Kota Surakarta, sehingga memberi kenyamanan bagi wajib pajak yang sedang mengurus kewajiban pajaknya ataupun pengurusan penyelenggaraan reklame.
5. Pengkajian semua titik reklame yang ada di Surakarta telah dimaksimalkan, sehingga dapat
mengetahui mana saja tempat-tempat yang strategis untuk ditempati kawasan reklame.
6. Tim penertib reklame telah bertugas secara maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan etos kerja
yang tinggi dari tim penertib reklame, yang tak sedikit pula bekerja diluar jam kerja dinas.
7. Tim penertib reklame juga memaksimalkan safari yang mereka lakukan, dengan mengontrol
reklame-reklame yang tidak berizin, yang kemudian segera untuk diambil tindakan tegas.
B. Kelemahan
1. Pengetahuan dan wawasan wajib pajak mengenai pajak reklame serta kesadaran pemenuhan
kewajiban perpajakan masih kurang.
2. Sarana dan prasarana saat ini masih kurang memadai, sehingga pelaksanaan pengawasannya
sedikit terhambat.
3. Masih adanya wajib pajak yang mendirikan reklame tanpa melakukan perizinan terlebih dahulu
melalui DPPKA atau KPPT Kota Surakarta.
4. Disfungsi pemberian otoritas izin pendirian reklame oleh UPTD tiap daerah dan juga pejabat
pemerintah yang terkait, seperti DLLAJ.
5. Masih adanya disfungsi dari bidang-bidang yang ada di DPPKA Kota Surakarta, seperti bidang
penagihan yang seharusnya bertugas untuk memungut seluruh aspek pajak yang ada di Kota Surakarta tidak berjalan dengan baik, sehingga penagihan pajak reklame harus dilakukan oleh
6. Peraturan yang mengatur tentang penyelenggaraan reklame kurang up to date jika dibandingkan dengan perkembangan reklame yang sudah semakin maju, sehingga hukum untuk mengontrol penataan reklame tidak berfungsi dengan baik, karena memang pada dasarnya hukum yang mengatur penataan reklame secara signifikan tidak ada.
7. Pengkajian untuk menetapan target penerimaan pajak reklame kurang maksimal, hal ini
ditunjukkan dengan penetapan target yang setiap tahunnya hanya didasarkan pada perhitungan
fiktif bukan pengkajian lapangan langsung. Dimana target pajak reklame didapat dari perbandingan realisasi pajak tahun sebelumnya dengan target pajak tahun sebelumnya.
PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang penulis lakukan, maka dapat ditarik kesimpulan yang berkenaan dengan analisis pemungutan pajak reklame tahunan dan pajak reklame insidentil terhadap pendapatan asli daerah kota Surakarta.
C. Kesimpulan
8. Proses pemungutan pajak reklame tahunan tidak serta merta setiap bulan terus ada pemasukan
yang besar, karena pada dasarnya objek pajaknya sendiri juga dalam jangka waktu tahunan sehingga pembayaran pajak oleh wajib pajak biasanya dilakukan diakhir-akhir jatuh tempo berakhirnya utang pajak. Moment-moment seperti ini yang dimanfaatkan oleh DPPKA untuk memaksimalkan kinerjanya dalam menagih utang pajak, yang tak jarang pula karyawan yang bertugas mengurus administrasi di kantor harus terjun juga di lapangan guna memaksimalkan pendapatan yang nantinya diperoleh.
9. Jika pemungutan pajak reklame mengalami peningkatan, maka secara otomatis juga
meningkatkan pendapatan asli daerah Kota Surakarta, begitu juga sebaliknya.
10. Hambatan dalam pemungutan pajak reklame tahunan disebabkan oleh para wajib pajak yang
kurang menyadari kewajiban perpajakannya yang selalu terbiasa mengelak dari kewajiban pajaknya. Minimnya petugas yang melakukan penertiban dan pelayanan dalam pemasangan reklame, sehingga kontrol dari penyelenggaraan reklame kurang maksimal. Mungkin juga dikarenakan sarana dan prasarana saat ini masih kurang memadai, sehingga pelaksanaan pengawasannya sedikit terhambat.
harus segera dilakukan, guna meminimalisir pelanggaran-pelanggaran hukum baik oleh wajib pajak maupun oleh aspek pemerintah kota sendiri.
12. Dalam mengatasi hambatan yang timbul dalam pemungutan pajak reklame sekarang ini, yang
bisa dilakukan pihak DPPKA ataupun KPPT adalah dengan mengupayakan pelayanan yang maksimal, seperti menambah tenaga ahli dalam bidang perpajakannya (mengambil karyawan
dari pihak outshorching) untuk membantu administrasi di kantor, sedang karyawan yang lain
bisa dimanfaatkan untuk safari reklame.
D. Rekomendasi
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka penulis dapat memberikan rekomendasi sebagai berikut :
1. Agar DPPKA lebih giat dalam menjalin kerjasama dengan pihak-pihak advertising dalam
upayanya untuk mengontrol para wajib pajak yang ingin menyelenggarakan reklame, sehingga pengkajian terhadap wajib pajak yang susah dalam penagihannya bisa segera ditindak lanjuti.
2. Penegasan sanksi terhadap wajib pajak yang melanggar aturan, karena hanya dengan begitu
pelanggaran bisa diminimalisir.
3. Segera dibuat peraturan yang baru dalam penataan reklame dengan memanfaatkan
masukan-masukan dari pihak advertising maupun wajib pajak sendiri, aturan yang ada
tidak lagi hanya sekedar mengatur penyelenggaraannya saja.
4. Aspek pengontrolan fungsi-fungsi yang terkait dalam pnyelenggaran reklame juga harus
dilakukan secara berkala, guna meminimalisir disfungsi pemberian otorisasi dari pejabat pemerintah yang ada di daerah-daerah, meski tujuannya sama untuk meningkatkan penerimaan tapi jika terus seperti itu maka wajib pajak pun semakin enggan untuk
mengurus izin penyelenggaraan reklame yang legal ke DPPKA ataupun KPPT Kota Surakarta.
5. Wajib pajak dapat lebih mentaati peraturan yang berlaku sehingga terjadi kerjasama yang