• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAMIL DI WOLLONGONG

Dalam dokumen Wollongong Menyapa by Made Andi Darsana (Halaman 74-79)

Hamil dan melahirkan

HAMIL DI WOLLONGONG

Tambahan catatan oleh I Made Andi Arsana

Mereka yang memutuskan akan hamil dan melahirkan di Wollongong atau Australia secara umum wajib mengetahui hal-hal pokok yang perlu dipersiapkan sebelum hamil. Salah satu yang sangat penting adalah vaksinasi MMR yang harus diberikan kepada calon ibu tiga bulan sebelum kehamilan. Perlu diperhatikan bahwa selama tiga bulan ini TIDAK BOLEH terjadi kehamilan karena bisa berakibat fatal terhadap bayi yang dikandung. Oleh karena itulah, selama proses vaksinasi ini pasangaan harus memastikan kontrasepsi dengan tingkat keamanan yang mendekati 100%. Vaksin MMR ini bisa diperoleh dari atau dikonsultasikan dengan dokter praktek umum (General Practitioner, GP) atau dari pusat layanan kesehatan lain seperti yang ada di kampus University of Wollongong.

Persiapan lain tentu saja menyangkut kesehatan dan kebiasaan hidup secara umum. Kebiasaan minum atau merokok, misalnya, akan mempengaruhi proses kehamilan. Hal ini perlu dikonsultasikan dengan dokter. Singkatnya, sebelum memulai proses kehamilan, sangat disarankan untuk mendatangi dokter dan berkonsultasi secara cermat tentang persiapan yang diperlukan.

Pengujian kehamilan dengan perangkat uji pribadi bisa dilakukan sendiri. Meski demikian, konfirmasi terhadap hasilnya tentu tetap perlu dilakukan oleh dokter. Bila merasakan nyeri pinggang atau sejenisnya, dokter bisa melakukan tes urin untuk mengetahui kemungkinan ISK (Infeksi Saluran Kemih). Selanjutnya dokter akan melakukan tes darah rutin lengkap untuk awal kehamilan. Sejak deteksi kehamilan pertama kali, perlu ditetapkan jadwal periksa rutin melalui konsultasi dengan dokter. Periksa rutin ini tidak harus dilakukan dengan dokter ahli kandungan, bisa juga dengan GP langganan keluarga.

Di Australia dan NSW secara khusus, ada saat-saat wajib pemeriksaan dan konsultasi serta kunjungan ke rumah sakit (RS). Kunjungan pertama ke RS (biasanya Wollongong Hospital, untuk wilayah Wollongong dan sekitarnya) biasanya dilakukan saat minggu ke-12 dengan membawa pasangan (optional tapi dianjurkan), paspor, kartu asuransi (misalnya AHM) dan catatan medis yang disiapkan oleh GP langganan keluarga. Seorang bidan (midwife) akan mewawancarai terkait identitas, riwayat penyakit, riwayat kehamilan, riwayat keluarga, kebiasaan hidup dll. Saat itu bidan juga menanyakan opsi pemeriksaan berkala selanjutnya, apakah tetap dengan GP (GP-shared care) atau ke RS dengan dokter ahli.

Saat kunjungan pertama ini, bidan juga melakukan pemeriksaan dengan digital doppler untuk mendengar detak jantung bayi. Banyak yang mengatakan bahwa itu adalah momen istimewa dan sangat menyentuh. Tidak sedikit calon ibu yang menangis mendengar detak jantung calon bayi untuk pertama kalinya.

Pengujian selanjutnya adalah untuk mendeteksi kelainan kongenital sejak dini dengan Nuchal Translucency menggunakan alat USG. Pemeriksaan ini sebenarnya opsional,

tergantung calon orang tua. Hanya saja memang calon orang tua harus siap jika ada kemungkinan bayinya mengalami Down Syndrome (DS). Setelah dilakukan pemeriksaan selanjutnya berupa amniocentesis, orang tua bahkan harus siap menerima kemungkinan terburuk jika kehamilannya harus digagalkan (terminasi) jika perkembangan bayi memang mengharuskan demikian. Sekali lagi, ini tentu saja terserah kepada calon orang tua.

Dengan pemeriksaan ini, akan diperoleh hasil kemungkinan DS. Kemungkinan ini akan semakin kecil jika perilaku hidup semakin sehat (tidak minum alkohol, tidak merokok, dll). Angka kemungkinan ini akan dikoreksi lagi dengan tes darah calon ibu untuk uji free hcG. Jika semua baik, angka kemungkinan DS akan semakin kecil misalnya 1:23000.

Hal tradisional yang mungkin tetap terjadi adalah morning sickness dan juga ngidam. Meski banyak yang mengatakan bahwa ngidam sesungguhnya adalah persoalan psikologis, kenyataannya hal ini terjadi pada banyak orang, bahkan yang sudah berada di luar negeri. Perlu kesepakatan dan saling pengertian antara suami dan istri untuk menghadapi fenomena ini. Akan kasihan kalau misalnya istri memaksa suaminya mencarikan sate Samirono di Jogja karena ongkos pesawat dan waktu yang dihabiskan tidak sedikit. Dengan saling pengertian ini, drama-drama seputar ngidam mungkin bisa dikurangi. Yang pasti, hampir semua orang mengalami morning sickness dan berakibat pada berat badan. Umum terjadi bahwa di bulan-bulan pertama calon ibu mengalami penurunan berat badan. Ini adalah hal biasa. Untuk mengimbangi ini, mungkin bisa menerapkan pola makan bervariasi, misalnya dengan buah yang dicampur yogurt.

Untuk mengisi waktu, calon ibu bisa tetap beraktivitas (jika memungkinkan), misalnya jalan atau olah raga. Ada yang hobi berenang tetap berenang saat hamil. Hobi jalan-jalan juga bisa dilakukan dengan mudah karena transportasi yang handal dan infrastruktur kota dan bangunan dirancang bersahabat untuk orang yang ’less mobile’, termasuk ibu hamil.

Terkait dengan periksa rutin, pelaksanaannya bisa dilakukan oleh GP sesuai jadwal yang sudah ditetapkan. Berbeda dengan di Indonesia, di Australia tidak ada kebiasaan melakukan USG setiap kunjungan ke dokter, dan inipun tidak disarankan. USG hanya dilakukan sekitar 3 kali selama kehamilan. Setelah melakukan pemeriksaan, klaim pembayaran dapat dilakukan di kantor asuransi, misalnya OHSC yang ada di Market Street, Wollongong. Selama waktu kehamilan, RS biasanya menawarkan berbagai pelatihan terkait penanganan bayi untuk calon ayah dan ibu. Pelatihan ini umumnya bersifat gratis, misalnya terkait cara memandikan bayi, cara menyusui yang baik dan benar, pertolongan pertama kalau bayi mengalami sakit tertentu dan sebagainya. Mengikuti pelatihan bersama (calon ibu dan ayah) ini adalah saat-saat yang baik, terutama bagi calon ayah, untuk belajar dan menjadi lebih memahami situasi dan perasaan istri sebagai calon ibu. Dari sinilah bisanya mulai direncanakan pembagian tugas merawat bayi nantinya, termasuk pembagian tugas rumah tangga lainnya. Adanya maternity tour yang diselenggarakan bagi ibu hamil dan pasangannya ketika hari kelahiran sudah dekat juga sangat direkomendasikan untuk diikuti. Dalam tour ini, akan dijelaskan ruang-ruang tempat rebah dan bersalin, barang-barang apa

yang dipersiapkan untuk dibawa ketika bersalin, cara memperoleh makanan untuk pasien, tata cara ketika terjadi kondisi emergency, dll.

Ketika saat persalinan sudah dekat, perlu konsultasi dengan dokter tentang rencana persalinan, apakah akan melakukan natural birth atau metode lain (ada juga yang di dalam air). Jika karena alasan kesehatan, misalnya karena ari-ari melintang di bawah (placenta previa) maka dokter akan memutuskan sesar jauh-jauh hari sebelumnya (keputusannya di minggu ke-30). Jika harus sesar makanya prosesnya akan relatif lebih mudah karena bisa direncanakan lebih baik, terutama dari segi tanggal persalinan. Dari pengalaman beberapa rekan Indonesia yang melahirkan secara normal, umumnya yang perlu terutama di persiapkan adalah kondisi mental terkait dengan cara atau posisi melahirkan. Apabila di Indonesia posisi melahirkan yang paling umum adalah dengan cara sang ibu berbaring di ranjang di kamar bersalin, maka di rumah sakit di Wollongong justru cara melahirkan dengan posisi tersebut adalah merupakan pilihan terakhir. Tempat proses persalinan yang paling umum dilakukan di rumah sakit Wollongong adalah di area kamar mandi dalam kamar bersalin, dimana calon ibu akan di siram air hangat dengan shower dan dengan posisi duduk atau berlutut. Cara ini oleh pihak rumah sakit dianggap lebih alamiah dan efek air hangat diyakini dapat mengurangi rasa sakit yang diderita oleh calon ibu. Pada proses bersalin normal, umumnya ibu dan bayi akan tinggal selama dua hari di rumah sakit terhitung sejak hari masuk.

Adapun cara melahirkan dengan sesar, umumnya kurang lebih sama dengan proses yang ada di Indonesia, dimana sang ibu akan disuntik epidural terlebih dahulu sebelum dilakukan operasi sesar. Pada proses ini, ibu dan bayi akan tinggal sekitar tiga atau empat hari di rumah sakit terhitung sejak hari masuk. Mengingat dokter di Australia pada umumnya ’pelit’ dengan obat-obatan, dimana pasca operasi sesar obat yang diminum oleh sang ibu biasanya hanya obat penghilang rasa sakit saja, maka cukup dianjurkan bagi ibu-ibu yang sangat percaya dengan keampuhan obat traditional penyembuh luka untuk tidak lupa membawa obat tersebut dari Indonesia. Pada kedua proses bersalin tersebut di atas, pasangan atau keluarga diperkenankan masuk ke ruang bersalin. Mengabadikan foto atau video juga diperkenankan. Apapun opsi persalinannya, yang pasti calon orang tua harus siap sedia. Satu tas berisi segala peralatan persalinan harus selalu siap dalam keadaan tertata rapi dan siap diambil kapan saja (baju bayi, popok, sabun, shampo, dll). Jika sering berkendaraan mobil sendiri, tas tersebut harus selalu dibawa ke manapun pergi untuk mengantisipasi jika terjadi tanda-tanda persalinan lebih awal dari perkiraan. Selain itu, peralatan untuk bayi seperti baby cot (kotak tempat tidur bayi) sebaiknya sudah disiapkan jauh-jauh hari dengan segala perlengkapannya.

Hal lain yang harus disiapkan adalah membuat catatan yang akan diberikan kepada dokter saat persalinan dilakukan, terutama terkait hal-hal yang tidak umum. Misalnya, dalam catatan itu ada permintaan untuk menyimpan ari-ari karena akan ditanam di rumah, misalnya (dalam pot). Jika permintaan ini tidak dilakukan, ari-ari akan dibuang. Permintaan khusus lainnya misalnya adalah mengingatkan agar bayi diberi injeksi khusus karena calon ibu pernah didiagnosis hepatitis. Catatan ini harus disiapkan dan diberikan kepada dokter sebelum persalinan dilakukan.

Saat hari persalinan tiba, kedua calon orang tua benar-benar harus berjuang. Bagi mereka yang istrinya memilih natural birth (dan ini memang disarankan) harus siap-siap menemani istri dengan segala keluh kesah dan penderitaannya sebelum melahirkan. Banyak yang bercerita bahwa momen seperti ini sangatlah dramatis dan melahirkan perasaan cinta dan tanggung jawab yang lebih tinggi sebagai seorang ayah. Proses persalinan ini pun tidak selalu mudah/cepat, sehingga pasangan harus sabar dan kuat. Meski demikian, tidak jarang terjadi akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi sesar jika dipandang calon ibu sudah tidak kuat lagi. Yang jelas opsi sesar ini tidak boleh diminta dari awal tanpa alasan medis yang kuat. Ini agak berbeda dengan praktik di Indonesia.

Setelah persalinan berlangsung lancar, perasaan lega akan datang disertai bahagia. Biasanya sang ayah akan menangani ari-ari yang tadi sudah dimintakan penyimpanannya kepada dokter. Hal ini tentu saja tergantung kepercayaan masing-masing. Sebagian orang masih melihat penanganan ari-ari sebagai sesuau yang penting dan bahkan sakral. Mengingat umumnya mahasiswa Indonesia tidak tinggal di rumah sendiri dan itupun biasanya berupa apartemen tanpa halaman/taman, ari-ari tidak tentu bisa ditanam di halaman. Sebagai solusinya, ari-ari bisa ditanam di dalam pot agak yang bisa dibeli di supermarket terdekat lengkap dengan tanahnya. Ari-ari mungkin bisa dimasukkan ke dalam kelapa yang dibeli di Coles. Tanaman untuk potnya bisa dipilih yang mudah tumbuh dan mudah dipindahkan (tidak akan jadi terlalu besar) jika suatu saat perlu dipindahkan ke apartemen/rumah lainnya.

Selama ayah mengurus segala sesuatunya, ibu bisa beristirahat di RS. Menariknya, ayah dan keluarga lain atau teman tidak diijinkan menginap di RS. Hal ini tentu tidak biasa terjadi di Indonesia, sehingga sang ibu harus memaklumi keadaan tersebut. Hal seperti ini kadang menimbulkan perasaan sedih/tidak terima karena ditinggal keluarga justru pada saat-saat sangat membutuhkan. Harus diingat bahwa kita berada di suatu negara yang berbeda dengan Indonesia, harus lapang dada menerima kenyataan dan perlakuan. Kalaupun ada RS yang mengijinkan suami menginap, biasanya harus membayar karena pihak RS harus menyediakan tempat tidur layak bagi sang suami. Jumlah pembayaran tergantung RS masing-masing. Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa para ibu tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Pihak RS pun menyarankan untuk lebih cepat pulang. Rata-rata, kalau tidak terjadi hal yang luar biasa, pada hari ketiga ibu dan bayi sudah boleh pulang, tentu saja setelah dokter melakukan pemeriksaan total secara intensif terhadap ibu dan bayi.

Di beberapa rumah sakit di NSW, ada juga pelatihan memandikan dan merawat bayi untuk ayah ketika istri masih dalam pemulihan. Para ayah akan dikumpulkan di ruangan dan dipertontokan cara memandikan bayi dan memakaikan popok serta perlengkapan lainnya. Setelah itu, masing disuruh untuk mempraktikkan sendiri dengan bayi masing-masing diawasi oleh pelatih. Praktik seperti ini sangat penting karena ayah akan memiliki pengalaman langsung sehingga bisa berperan merawat bayi dengan percaya diri ketika di rumah.

Ketika tiba saatnya pulang, perlu dilakukan pengurusan administrasi final. Yang jelas, pemegang asuransi OSHC, misalnya AHM, tidak dikenai biaya melahirkan. Ini juga yang

menjadi salah satu motivasi sebagian orang untuk punya anak ketika sekolah. Ada yang berkelakar, kapan lagi punya anak kelahiran luar negeri, gratis pula! Bayipun segera bisa dibawa pulang dengan syarat rumah harus sudah siap dengan segala sesuatunya. Seperti disampaikan sebelumnya, disarankan untuk menyiapkan segala sesuatu jauh-jauh hari. Jika kebetulan tidak ada keluarga yang bisa datang membantu dari Indonesia, perjuangan sesungguhnya akan terasa dan itu tidak mudah. Di Wollongong tidak mungkin memiliki pembantu atau baby sitter seperti di Indonesia karena harganya sangat mahal. Dengan asumsi mahasiswa Indonesia belajar di Wollongong dengan dana yang wajar maka tidak akan cukup anggaran untuk membayar baby sitter. Oleh karena itu, semua pekerjaan harus ditangani sendiri melalui kerjasama suami dan istri. Hal ini, bagi mereka yang terbiasa memiliki pembantu di Indonesia, bisa jadi masalah besar. Kondisi kesibukan dan kelelahan ini juga yang bisa memicu timbulnya baby blues yaitu suatu kondisi kejiwaan yang tidak nyaman karena depresi pasca melahirkan akibat aktivitas yang tinggi. Pemicu lain adalah kurangnya dukungan dari keluarga (suami). Hal ini harus diantisipasi.

Meskipun berat dan harus mandiri, pemerintah NSW menyiapkan layanan pengaduan atau konsultasi 24 jam melalui telepon. Nomor telepon tertentu bisa dihubungi jika, misalnya, anak menangis tiada henti. Selain itu, ada juga mothers group atau kelompok ibu-ibu sebagai forum untuk berbagi dan saling menguatkan. Pada masyarakat dengan jumlah keluarga kecil (karena tidak terlalu mengedepankan konsep extended family) forum ibu-ibu ini sangat berguna bagi ibu muda yang baru punya anak. Informasi seperti ini bisa diperoleh di rumah sakit atau ditanyakan kepada GP keluarga. Selama beberapa minggu pertama pasca persalinan, akan terdapat bidan yang berkunjung ke rumah untuk memeriksa dan memastikan kondisi bayi dan ibu dalam keadaan baik (mengukur, menimbang, melakukan konsultasi dengan orang tua, dll termasuk memberikan jadwal berkunjung ke dokter untuk memeriksa bayi dan ibunya).

Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah pemberian vaksin/imunisasi kepada bayi sesuai jadwal tetap. Saat lahir, bayi akan mendapatkan buku biru (blue book) yang berisikan segala informasi termasuk jadwal dan jenis imunisasi yang harus diberikan. Para orang tua harus berpedoman pada buku biru itu dan jangan sampai melewatkan jadwal kontrol atau imunisasi. Pemantauan kondisi bayi (berat badan, kesehatan, imunisasi) sangatlah penting. Kelengkapan imunisasi ini kelak sangat vital ketika sudah waktunya anak masuk sekolah atau child care. Imunisasi dapat dilakukan diberbagai community centre yang berada di area tempat tinggal keluarga (tanpa biaya baik untuk vaksin maupun mid-wife nya) atau di tempat GP kepercayaan keluarga (vaksin gratis, tapi kena biaya GP). Selanjutnya yang juga tidak boleh dilupakan adalah mengurus ’akta kelahiran’ di ’kantor catatan sipil’ Australia sebagai dasar penerbitan paspor Republik Indonesia di Konsulat Jendral RI di Sydney. Last but not least, berbagai macam minyak traditional seperti minyak telon, minyak kayu putih, baby hair lotion, dll agak sukar ditemui di Australia. Oleh karena itu ada baiknya calon ibu sudah mempersiapkan assesoris kelengkapan bayi tersebut dari Indonesia dalam jumlah yang cukup. Informasi lebih lanjut tentang hamil dan melahirkan di Wollongong bisa ditanyakan kepada mereka yang pernah mengalaminya.

Dalam dokumen Wollongong Menyapa by Made Andi Darsana (Halaman 74-79)