Hamil dan melahirkan
VISA UNTUK IBU HAMIL
Pada prinsipnya pihak Kedutaan Australia dapat memberikan visa Australia bagi ibu hamil. Meski demikian untuk mendapatkan visa tersebut, calon pemohon visa harus lulus serangkaian test kesehatan yang dapat dilakukan pada beberapa rumah sakit mitra pihak kedutaan Australia.
Pada form aplikasi visa mengenai Medical Examination for an Australian Visa (Form 26),94 terdapat pertanyaan mengenai kondisi kehamilan calon pemohon visa dan tanggal kelahiran (expected date of birth). Selain dilakukan tes urine, pada ibu hamil mungkin juga akan diminta untuk melakukan uji hepatitis B. Selain itu, salah satu aspek tes kesehatan yang menjadi syarat wajib dan tidak dapat ditawar lagi, bahkan oleh ibu hamil, adalah test kondisi paru-paru dengan menggunakan x-ray (chest x-ray). Bagi calon pemohon yang tidak hamil, tentu chest x-ray adalah salah satu tes yang paling mudah (dengan catatan calon pemohon bukan perokok aktif atau pernah sakit paru-paru). Bagi ibu hamil, chest
x-ray ini menjadi semacam ‘perjudian’ dan tidak terlalu direkomendasikan oleh Australian Embassy sendiri karena adanya resiko tertentu bagi janin apabila terpapar radiasi x-ray,
sebagaimana dapat dilihat dari salah satu statement dalam form Radiological Report on
Chest X-Ray of an Aplicant for an Australian Visa (Form 160) yang dikeluarkan DIAC
sebagai berikut:95
“Pregnant visa applicants and the chest x-ray requirement
The department does not recommend that a pregnant visa applicant undergoes a chest x-ray. This is because there is a risk that a chest x-ray could harm the unborn child. It is recommended that a pregnant visa applicant defers her chest x-ray, and therefore the decision on her visa application, until after the child’s birth. A pregnant visa applicant should firstly contact the Department of Immigration and Citizenship (the department) to discuss her options, including the possible deferral of her visa application.”
94 http://www.immi.gov.au/allforms/pdf/26.pdf
Meski demikian, ada kalanya calon pemohon visa, karena sesuatu hal, tidak dapat menunggu kelahiran bayi di Indonesia dan tetap harus berangkat ke Australia selama masa kehamilan. Hal ini tetap dimungkinkan oleh pihak kedutaan Australia setelah adanya konsultasi dengan tim dokter rumah sakit mitra kedutaan Australia dan mengisi lembar deklarasi yang terdapat pada form 160 tersebut di atas. Pihak kedutaan Australia, dalam
form 160 tersebut, tetap menyarankan dan mengingatkan agar chest x-ray pada ibu hamil
dilakukan sekurang-kurangnya pada kehamilan trimester kedua dan dalam proses x-ray sang ibu menggunakan pelindung janin (apron shield):
“If a pregnant visa applicant is prepared to undergo a chest x-ray, it is recommended
that she consults with her doctor before arranging her appointment for a chest x-ray and that special precautions are taken (eg. using a protective lead shield and waiting until at least the second trimester). A pregnant visa applicant must sign the declaration on page 4 before undergoing a chest x-ray. Undergoing a chest x-ray does not guarantee the grant of a visa.
The result of the chest x-ray must be found to be normal. Where a chest x-ray shows abnormalities, the visa applicant may be asked to undergo more specific tests and a course of treatment.”
Sekedar sharing saja, saya (Iwan Setiawan) dan istri dahulu termasuk orang yang akhirnya rela ‘berjudi’ dan melakukan chest x-ray ketika istri memasuki kehamilan sekitar 5 bulan meskipun dokter rumah sakit menyarankan aspek ‘normatif’ untuk menunda saja proses
x-ray sampai bayi dilahirkan (yang berarti menunda proses permohonan visa dan
keberangkatan ke Australia). “Keberanian” untuk berjudi tersebut sebenarnya tidak dilakukan secara sembarangan dan telah melalui riset terlebih dahulu baik via Internet maupun konsultasi dengan dokter spesialis anak maupun kandungan (meskipun tetap terdapat unsur ‘judi’ karena dua dokter ginekolog di Jakarta yang dimintai pendapat ternyata berbeda opini).
Kalaupun akhirnya kami berani melakukan chest x-ray, lebih didasarkan pada tiga aspek sbb.: (1). Usia janin telah melewati tri semester pertama; (2). Berdasarkan hasil riset Internet dan konsultasi dengan dokter spesialis anak, diperoleh informasi bahwa paparan radiasi x-ray yang dilakukan hanya sekali (apalagi menggunakan pelindung janin, tingkat radiasinya yang mungkin timbul relatif (sangat) kecil dan secara teoritis relatif ‘tidak’ membahayakan janin (terutama yang sudah melewati tri semester pertama); dan (3). X-ray dilakukan dengan menggunakan pelindung janin serta, berdasarkan wawancara dengan dokter dan operator x-ray yang melakukan proses x-ray, belum pernah ada visa applicant yang ‘mengeluh’ bayinya lahir tidak normal akibar proses x-ray serupa (ini persis jadi teringat kalau kita beli barang dan penjual meyakinkan kita bahwa barangnya bagus dan selama ini tidak ada pelanggan yang mengembalikan barang). Allhamdulillah bayi kami lahir dan tumbuh secara normal dan sehat. Meski demikian, perlu diingat bahwa kondisi masing-masing ibu hamil dan ‘compelling reason’ untuk melakukan ‘perjudian’ tentu berbeda-beda, perlu pemikiran dan kesepakatan dengan keluarga sebelum melakukan keputusan yang besar ini.
Asuransi Kesehatan dan Kehamilan/Persalinan
Sebagai salah satu syarat diterbitkannya student visa oleh pemerintah Australia adalah adanya pembayaran Overseas Student Health Cover (OSHC) untuk student ybs dan/atau keluarga-nya (family cover). Terkait dengan kehamilan dan kelahiran di Australia, issue pertama yang umumnya terdengar di Indonesia adalah mahalnya biaya periksa dokter dan melahirkan di Australia. Terkait dengan hal tersebut, tentu menjadi pertanyaan besar apakah OSHC akan juga meng-cover biaya-biaya terkait dengan periksa kehamilan dan kelahiran (khususnya untuk istri yang menjadi dependant dari student)? Hal ini menjadi cukup rumit karena dari beberapa situs OSHC, terdapat beberapa skema kesehatan yang memang baru dapat diperoleh oleh student bila melewati suatu masa tenggang/tunggu tertentu (tidak otomatis).
Terkait dengan pertanyaan tersebut di atas, kami yang berangkat ke Australia pada awal tahun 2009 dengan provider kesehatan dari AHM (family health cover),96 sempat melakukan komunikasi via email dengan pejabat dari OSHC Australia97 dan AHM.98 Kami memperoleh kepastian bahwa seluruh biaya pemeriksaan dan persalinan sepanjang dilakukan di rumah sakit umum (public hospital) atau privat hospital yang menjadi mitra-nya akan ditanggung oleh asuransi sepanjang masa berlaku visa bagi calon ibu lebih dari 3 (tiga) bulan. Dalam hal calon ibu dan/atau keluarga yang merupakan dependant datang lebih akhir dibandingkan suami yang menjadi student, maka fotocopy paspor dan visa ibu/family harus segera disampaikan ke pihak asuransi kesehatan terkait agar tidak terdapat kendala dalam pemanfaatan coverage asuransi kesehatan keluarga.
Mekanisme Tagihan Biaya Pemeriksaan/Kelahiran
Tagihan atas biaya pemeriksaan kesehatan atau kelahiran akan diterbitkan pihak rumah sakit beberapa hari/minggu setelah suatu tindakan medis dilakukan dan akan dialamatkan ke tempat kediaman pasien. Dalam prakteknya, kami sempat agak takut karena tagihan2 yang datang ke alamat rumah dari pihak rumah sakit baik untuk proses pemeriksaan maupun kelahiran, ternyata kadangkala tidak dicover secara full oleh pihak Asuransi, misalnya tagihan pemeriksaan sebesar AUS 200, hanya diganti sebesar AUS 170 (umumnya untuk tagihan2 yang belum dibayar oleh pasien, pihak asuransi akan mengeluarkan cek untuk pihak penagih/rumah sakit/dokter. Sedangkan untuk kuitansi pembayaran tagihan yang telah dibayar oleh pasien, akan diganti dengan uang tunai). Meski demikian, adanya kekurangan (gap) antara tagihan pihak rumah sakit dengan nilai cek yang diterbitkan oleh pihak asuransi, setelah disampaikan kepada bagian keuangan rumah sakit, tidak pernah dipermasalahkan oleh pihak rumah sakit dan tidak menjadi beban bagi pasien ybs. Kondisi ini menjadi sedikit berbeda, bila tindakan medik dilakukan di luar rumah sakit seperti dalam kegiatan USG yang dilakukan di klinik swasta (meskipun atas
96 http://www.ahm.com.au/oshc
97 mailto:[email protected]
98 Ahm OSHC will provide benefits for pregnancy, as long as your wife is on a student dependant visa that is more the 3 months in length.We will cover the full cost of accommodation and theatre fees for services preformed in a public or partner private hospital, in regards to the doctor’s bills we will pay 100% of the MBS fee, so you may still have a Gap and have to pay an out of pocket expense.
permintaan dokter kandungan di public hospital). Pihak pasien akan diminta membayar biaya USG secara langsung dan selanjutnya pihak OSHC akan mengganti biaya tersebut yang unfortunately, tidak 100% (hanya sekitar 80% biaya USG).
Pemeriksaan Kehamilan Setelah Tiba dari Indonesia
Tindakan pertama-tama yang harus dilakukan oleh ibu hamil sesampainya di Wollongong adalah segera membuat janji dengan pihak rumah sakit (Wollongong public hospital) untuk pemeriksaan dengan dokter/bidan. Untuk itu, berbagai catatan medic ibu hamil seperti hasil pemeriksaan rutin, hasil USG, dll sebaiknya dibawa untuk disampaikan kepada pihak rumah sakit/dokter (meskipun kadang dokter di Australia tidak ’nyambung’ dengan catatan medik kehamilan dari Indonesia). Umumnya pihak rumah sakit akan menyarankan agar ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan terlebih dahulu di tempat praktek ‘dokter umum’ atau di Australia dikenal dengan nama General Practisioner (GP), sebelum bertemu dengan dokter kandungan di rumah sakit.
Di Indonesia, umumnya ibu hamil telah memiliki dokter kandungan pilihan yang bersifat
dedicated dan dianggap paling ‘mumpuni’. Pemeriksaan selama kehamilan dan proses
kelahiran umumnya akan ditangani oleh dokter kandungan yang sama. Hal ini disadari atau tidak, memberikan comfort feeling yang cukup tinggi bagi ibu hamil. Minimal ibu hamil cukup merasa aman karena dia berada ditangan ‘ahli’ yang terpercaya. Apalagi kalau dokter kandungannya sudah cukup tua dan berpengalaman, dengan segudang title di belakang namanya, serta sudah terkenal punya pasien segudang yang dapat membuat ibu hamil rela antre berjam-jam di ruang tunggunya.
Di Australia pemeriksaan berkala ibu hamil tidak selalu dilakukan oleh dokter kandungan, namun kadangkala dilakukan pula oleh bidan secara berselang-seling (midwife). Dokter atau bidan yang menangani ibu hamil pun tidak bersifat dedicated, sehingga besar kemungkinan kita bertemu dengan dokter atau bidan yang berbeda dalam kunjungan permeriksaan berikutnya. Bahkan kita tidak bisa menanyakan siapakah dokter yang akan menangani proses kelahiran, karena sangat tergantung pada siapa dokter yang menjadi dokter jaga pada hari kelahiran berlangsung. Dari segi kualifikasi, bisa jadi dokter yang menangani bergelar professor, bisa juga dokter yang menangani adalah dokter muda yang tampak masih ‘hijau’. Bahkan dalam kasus kami, dokter kandungan yang memeriksa (dan dikemudian hari termasuk dokter yang melakukan operasi sesar) adalah dokter wanita muda yang juga sedang hamil muda anak pertama. Hmm…pertanyaan yang muncul secara alamiah tentu ”apakah dokter ini cukup qualified dan berpengalaman???” Meski demikian, kegundahan dengan tidak adanya dokter yang dedicated dan tua (baca berpengalaman) tersebut umumnya dapat terhibur dengan adanya jaminan dari pihak rumah sakit bahwa semua dokter maupun bidan yang menangani pasien di Australia adalah dokter/bidan yang memiliki kualifikasi tinggi dan pintar serta relatif berpengalaman. Namun demikian, bila ada ibu hamil yang merasa bahwa rumah sakit umum (public hospital) dianggap kurang meyakinkan untuk menjadi tempat pemeriksaan bayi/persalinan, terdapat beberapa klinik/rumah sakit swasta sebagai alternatif tempat melakukan pemeriksaan kehamilan/persalinan. Namun demikian, trade-off nya atas pilihan ini adalah ibu hamil
terpaksa akan menanggung biaya pemeriksaan/persalinan yang tidak dicover oleh pihak asuransi kesehatan.