Oleh: M. Yusri Saad
Di Indonesia, tadarus biasanya berbentuk sebuah majelis yang para pesertanya membaca Al-Quran bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak. Padahal kata ‘tadarus’ berasal dari asal kata (etimologi) ‘darosa’ atau ‘yadrusu’ dalam Bahasa Arab. Artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji, dan mengambil pelajaran dari wahyu Allah SWT. Kemudian ditambahkan huruf ‘ta’ pada kata ‘darosa’, sehingga menjadi ‘tadarosa’ atau ‘yatadarasu’. Artinya saling belajar atau mempelajari lebih mendalam.
Dengan demikian, kegiatan yang kita saksikan itu masih jauh dari makna tadarus sebenarnya. Nyaris tiada pengkajian makna setiap ayat, hanya sekadar membaca saja. Terkadang benar dan tidaknya bacaan tidak diperhatikan. Sebab tidak hadir pembimbing yang ahli di bidang membaca Al Quran untuk mentashih bacaan
70
peserta majelis. Bentuk tadarus seperti itu lebih tepat diistilahkan ‘tilawah wal istima’ (membaca dan mendengar).
Rasulullah juga bersabda, “Apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) sambil membaca Alquran dan saling bertadarus bersama-sama, niscaya akan turun ketenangan atas mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para malaikat akan melindungi mereka dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisiNya.” (HR.Muslim).
Dalam hal ini, kita akan mencoba mempelajari/menelaah terhadap salah dua ayat dalam Al Quran khususnya pada Quran surah Az-Zumar ayat 53 dan 54, sebagai berikut:
• َوُه ۥُهَّنِّإ ۚ ا عيِّمَج َبوُنُّذلٱ ُرِّفْغَي َ َّلِلّٱ َّنِّإ ۚ ِّ َّلِلّٱ ِّةَمْح َّر نِّم ۟اوُطَنْقَت َلْ ْمِّهِّسُفنَأ ٰٰٓىَلَع ۟اوُف َرْسَأ َنيِّذَّلٱ َىِّداَبِّعَٰي ْلُق ۞
ُمي ِّح َّرلٱ ُروُفَغْلٱ
•Terjemah: Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Dalam beberapa pendapat para pakar ahli tafsir, bahwasanya, para hamba Allah yang telah berbuat di luar batas dan telah banyak melakukan kemaksiatan/dosa, janganlah kalian putus asa untuk mendapatkan ampunan Allah selagi pintu taubat masih terbuka. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik yang pelakunya belum bertaubat. Sungguh Allah Maha Pengampun bagi dosa-dosa siapa yang bertobat, Allah Maha Penyayang kepada hamba-Nya.
Hakim meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Umar ia berkata, “Kami pernah mengatakan bahwa bagi orang yang melakukan fitnah (menghalangi manusia dari jalan Allah) tidak bisa bertobat dan Allah tidak akan menerima tobatnya meskipun sedikit. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, maka diturunkan ayat ini.
Ibnu Abbas berkata: "Sesungguhnya orang-orang musynk telah membunuh, dan mereka juga berbuat zina, kemudian mereka semakin banyak. Lalu mereka datang kepada Nabi Muhammad dan bertanya. Sesungguhnya apa yang kamu katakan dan kamu serukan itu benar-benar suatu yang baik, atau engkau kabarkan kepada kami bahwa kami bisa bertaubat.” Maka turunlah ayat tersebut.
َنو ُرَصنُت َلْ َّمُث ُباَذَعْلٱ ُمُكَيِّتْأَي نَأ ِّلْبَق نِّم ۥُهَل ۟اوُمِّلْسَأ َو ْمُكِّ ب َر ٰىَلِّإ ۟ا ٰٓوُبيِّنَأ َو
(QS.39:54)71 •Terjemah: Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Beberapa pendapat para pakar ahli tafsir, dapat disimpulkan bahwasanya; (Dan kembalilah kalian) bertobatlah kalian (kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah) sebelum datang kepada kalian azab atau ajal, kemudian kalian tidak dapat ditolong lagi, yakni azab itu tidak dapat dicegah jika kalian tidak bertobat kepada-Nya Simpulan:
Ini merupakan ayat al-Qur’an yang paling memberi HARAPAN BESAR, sebab ayat ini mengandung kabar gembira yang paling agung.
Pertama, dalam ayat ini Allah menisbatkan hamba-hamba-Nya kepada diri-Nya untuk memuliakan mereka dan menambah kegembiraan mereka.
Kedua, Allah menyebut mereka dengan orang-orang yang banyak melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa, kemudian Allah melanjutkannya dengan larangan untuk berputus asa dari rahmat-Nya bagi orang-orang yang banyak melakukan dosa tersebut, sehingga larangan berputus asa bagi orang-orang yang tidak banyak melakukan dosa adalah lebih baik dan lebih termaksud dalam ayat ini.
Ketiga, Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya yang tidak menyisakan keraguan sedikitpun: (Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa) Yakni Allah mengampuni segala dosa sebesar apapun jika Dia menghendaki, kecuali dosa syirik dari pelakunya yang belum bertaubat, sebab Allah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa’: 48), Dan Allah menekankan hal ini dengan firman-Nya: Sungguh ini merupakan kabar gembira yang menenangkan hati orang-orang beriman yang berbuat baik. (Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) Yakni ampunan dan rahmat Allah sangat besar dan luas. Untuk menggapai itu smua, dibutuhkan ksadaran yg tinggi untuk bertaubat sepenuhnya, sebelum ajal menjemput atau sbelum azab-Nya datang kepadamu. Maka barangsiapa yang membuat hamba-hamba Allah berputus asa dari rahmat-Nya setelah datangnya kabar gembira yang diberikan Allah lewat surah ini, maka ia telah melakukan kesalahan paling besar dan paling buruk. Orang yang berbuat dosa kemudian berusaha kembali berbuat baik lebih baik daripada orang yang berbuat baik tapi sombong (membanggakan kebaikannya). Ungkapan sederhana yang sarat makna ini mengajarkan banyak hal pada kita. Salah satunya adalah kita tidak boleh putus asa atas rahmat Allah karena berbuat dosa. Dari ‘Umar bin Al-Khottob ia berkata, “Tawanan perang didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang yang
72
sedang mencari. Tatkala ia mendapatkan seorang anak di kalangan para tawanan maka iapun mengambil anak kecil tersebut lalu ia peluk dan menyusuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kami, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”. Maka kami berkata, “Demi Allah, tentu tidak, sementara ia mampu untuk tidak melemparnya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambaNya daripada wanita ini terhadap anaknya” (HR Al-Bukhari 5999 dan Muslim no 2754).
Subhanallah…Wallahu a’lam bishawab. Taqobbalallahu minnaa wa minkum, semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian…Harapan Pendosa.
Referensi:
73