Tabel 53. Harga Bahan Pokok Nasional
Komoditas Oktober-13 November-13 Desember-13 Rata-rata
Triwulan PAB MTM YTD YOY PAB MTM YTD YOY PAB MTM YTD YOY
Minyak Goreng
Kemasan 13.861 0.18% 48.99% 45.84% 13.795 -0.48% 48.29% 48.38% 13.927 0.96% 49.70% 50.03% 13.861.00 Minyak Goreng
Curah 10.438 0.53% 3.50% -1.93% 10.705 2.56% 6.15% 4.29% 10.905 1.87% 8.13% 8.97% 10.682.67 Daging Sapi 93.333 0.87% 7.77% 15.92% 91.373 -2.10% 5.51% 7.77% 97.709 6.93% 12.83% 13.18% 94.138.33
Daging Ayam Broiler 29.256 -3.88% 6.77% 17.87% 28.206 -3.59% 2.94% 18.77% 29.530 4.69% 7.77% 9.65% 28.997.33
Daging Ayam
Kampung 56.626 -0.15% 13.67% 13.48% 55.476 -2.03% 11.36% 13.20% 59.129 6.58% 18.69% 17.60% 57.077.00 Telur Ayam Ras 18.787 -3.61% 3.16% 9.25% 18.606 -0.96% 2.16% 8.01% 19.630 5.50% 7.79% 8.33% 19.007.67
Telur Ayam Kampung 37.245 2.53% 8.71% 5.59% 36.770 -1.28% 7.32% 4.78% 37.052 0.77% 8.15% 5.04% 37.022.33 Tepung Terigu 8.200 -1.11% 4.17% 6.08% 8.242 0.51% 4.70% 6.13% 8.305 0.76% 5.50% 6.11% 8.249.00 Kedelai Impor 10.646 -0.59% 14.35% 13.34% 10.537 -1.02% 13.18% 12.61% 10.668 1.24% 14.59% 14.52% 10.617.00 Kedelai lokal 10.677 -0.02% 12.58% 11.29% 10.441 -2.21% 10.09% 8.35% 10.675 2.24% 12.56% 12.56% 10.597.67 Beras Medium 8.545 1.48% 2.58% 5.17% 8.587 0.49% 3.09% 4.66% 8.639 0.61% 3.71% 3.54% 8.590.33 Gula Pasir 12.227 0.31% -1.23% -1.75% 11.964 -2.15% -3.35% -4.08% 11.852 -0.94% -4.26% -4.34% 12.014.33
Susu Kental Manis 9.007 -0.08% 1.88% 2.28% 9.096 0.99% 2.88% 2.51% 9.145 0.54% 3.44% 3.44% 9.082.67
Mie Instant 1.761 -21.17% 8.37% 10.13% 1.767 0.34% 8.74% 9.41% 1.788 1.19% 10.03% 10.03% 1.772.00
Cabe Merah Keriting 37.510 34.76% 81.59% 72.43% 28.644 -23.64% 38.67% 60.47% 32.209 12.45% 55.93% 57.06% 32.787.67
Cabe Merah Biasa 35.412 15.68% 77.25% 68.58% 30.103 -14.99% 50.67% 68.27% 34.219 13.67% 71.27% 73.02% 33.244.67
Bawang Merah 26.472 3.27% 56.27% 109.98% 30.545 15.39% 80.31% 90.99% 32.120 5.16% 89.61% 93.68% 29.712.33
Ikan Teri Asin 59.381 -2.56% 14.68% 19.89% 58.921 -0.77% 13.79% 18.44% 59.596 1.15% 15.09% 13.76% 59.299.33
Kacang Hijau 16.942 1.07% 25.73% 27.13% 17.061 0.70% 26.61% 27.91% 17.332 1.59% 28.62% 29.24% 17.111.67
Kacang Tanah 18.097 -1.27% -0.94% 5.90% 18.505 2.25% 1.29% 4.40% 18.771 1.44% 2.75% 3.29% 18.457.67
Ketela Pohon 4.653 -0.62% 11.24% 15.03% 18.505 297.70% 342.39% 357.70% 4.728 -74.45% 13.03% 13.16% 9.295.33 Sumber: Kementerian Perdagangan (diolah kembali), posisi akhir bulan
SEKTOR PERBANKAN
Ketidakpastian mengenai pemulihan ekonomi dunia dan penundaan kebijakan
tapering off quantitative easing oleh Amerika Serikat telah memberikan tekanan di pasar keuangan. Namun sistem keuangan Indonesia memasuki triwulan IV tahun 2013 berada pada kondisi yang cukup baik. Terjaganya sistem keuangan di Indonesia tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang mencapai 18,7 persen per November 2013 dan rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross yang menurun yakni sebesar 1,9 persen.
Sementara itu DPK masih menempati porsi utama bagi perbankan sebagai sumber pembiayaan kredit. Hal ini tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mengalami peningkatan dari 88,9 persen dari triwulan II 2013 menjadi 90,0 persen pada November 2013. Apabila dilihat berdasarkan valuta, sama dengan akhir tahun 2012, LDR Valas tetap menempati posisi lebih tinggi dibandingkan LDR Rupiah. Secara umum pengawasan terhadap perbankan harus tetap dilakukan secara hati- hati terutama dalam pengelolaan sumber pendanaan kredit valas karena terdapat potensi mismatch valas yang berujung pada kerugian atas selisih nilai tukar.
Gambar 17. Perkembangan Kinerja Bank Umum di Indonesia
Sumber: Bank Indonesia, Februari 2014
Sebagian besar kredit perbankan yang disalurkan kepada korporasi dalam bentuk modal kerja dan investasi. Per bulan November 2014 sebagian besar kredit kepada korporasi dalam bentuk modal kerja mencapai 71,9 persen. Dari total kredit yang disalurkan kepada korporasi sebesar Rp 2.311 triliun, dimanfaatkan untuk keperluan modal kerja sebesar Rp 1.535 triliun, kegiatan investasi sebesar Rp 775 triliun. Sementara kredit untuk keperluan konsumsi adalah sebesar Rp 903 triliun. Sedangkan apabila dilihat dari sektor usaha, kredit lebih banyak digunakan antara
lain di sektor listrik, gas, dan air (33,1 persen), sektor industri pengolahan (16,5 persen) dan sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan (11,4 persen).
Gambar 18. Perkembangan Dana Pihak Ketiga dan Kredit di Indonesia
Sumber: Bank Indonesia, Februari 2014
Terjadi peningkatan pertumbuhan kredit investasi selama semester ke II tahun 2013 yang memperlihatkan tingkat kepercayaan investor yang baik. Hal ini diharapkan dapat mendorong sektor riil dan pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara itu, perlambatan pertumbuhan kredit konsumsi dan modal kerja lebih terkait dengan kebijakan Loan to Value ratio (LTV) dan Down Payment (DP) yang efektif mulai berlaku sejak Juni 2012. Perlambatan tersebut diduga terkait dengan penurunan kinerja sebagian korporasi domestik seiring dengan masih tingginya ketidakpastian dalam penyelesaian krisis global. Selain itu, penurunan likuiditas perbankan yang disertai dengan proses revitalisasi kredit juga mendorong tren perlambatan tersebut.
Gambar 19. Perkembangan Kredit Berdasarkan Tujuan Pemakaiannya
Sumber: Bank Indonesia, Februari 2014
Selama triwulan IV tahun 2013, Bank Indonesia menerbitkan beberapa peraturan untuk menjaga stabilitas sektor keuangan di Indonesia. Dua diantaranya adalah:
Pengaturan minimum down payment (DP) untuk kredit/pembiayaan kendaraan bermotor yaitu 25 persen untuk kendaraan bermotor roda dua, 30 persen untuk kendaraan bermotor roda tiga atau lebih untuk keperluan non produktif, dan 20 persen untuk kendaraan bermotor roda tiga atau lebih untuk keperluan produktif.
Peraturan Bank Indonesia No.15/12/PBI/2013 tanggal 12 Desember 2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum untuk peningkatan kualitas permodalan sesuai dengan kerangka Basel III.
KREDIT USAHA RAKYAT (KUR)
Penyaluran KUR periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2013 mencapai lebih dari Rp 40,9 triliun. Jumlah debitur KUR pada periode yang sama yaitu 2.347.587 debitur. Tingkat Non Performing Loan (NPL) KUR pada akhir tahun 2013 cukup baik yakni mencapai 3,2 persen. Sebagian besar KUR disalurkan untuk UMKM dan koperasi di: Sektor perdagangan, restoran, dan hotel (56,6 persen volume KUR; 62,3 persen debitur), dan sektor pertanian (19,6 persen volume KUR, dan 20,0 persen debitur). Sementara itu wilayah dengan populasi UMKM dan koperasi penerima KUR terbesar: Jawa (53,4 persen volume KUR; 62,6 persen debitur) Sumatera (21,1 persen volume KUR; 16,6 persen debitur).
Gambar 20. Target dan Realisasi Pemberian KUR
Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Pereknomian, Februari 2013
Pada tahun 2013 terdapat beberapa kebijakan untuk peningkatan kualitas dan efektifitas dari KUR, dua diantaranya adalah:
Penetapan target KUR tahun 2013 sebesar Rp 36 triliun, dengan syarat NPL tidak lebih dari 5 persen.
Suku bunga KUR dinyatakan dalam bentuk flat perbulan yaitu 0,6 persen untuk KUR Ritel dan 1,0 persen untuk KUR Mikro.
PERKEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI
DAN PARIWISATA
Pada tahun 2013 sektor industri pengolahan tumbuh 5,6 persen dengan perincian bahwa industri minyak dan gas bumi tumbuh -1,8 persen dan industri non-migas tumbuh 6,1 persen.
Posisi jumlah wisatawan mancanegara selama tahun 2013 mencapai 8.802.129 orang dengan penerimaan sektor pariwisata mencapai USD 10.100 juta.
Laporan Perkembangan Sektor Industri Triwulan IV Tahun 2013
Perkembangan Sektor Industri
Pada tahun 2013 sektor industri pengolahan tumbuh 5,6 persen dengan perincian bahwa industri minyak dan gas bumi tumbuh -1,8 persen dan industri non-migas tumbuh 6,10 persen. Dengan demikian sejak tahun 2011 pertumbuhan industri non- migas telah konsisten tumbuh lebih tinggi dari PDB, lihat Gambar 21. Resesi global menunjukkan pengaruhnya pada pertumbuhan industri non-migas. Bila pada triwulan pertama tumbuh 6,9 persen, maka secara kumulatif pertumbuhan pada triwulan kedua menjadi 6,7 persen, dan triwulan ketiga 6,3 persen. Di samping resesi global, industri dalam negeri juga menghadapi berbagai permasalahan dalam kenaikan faktor input, diantaranya adalah kenaikan upah buruh, gas, listrik, dan bunga bank. Tahun 2014 diharapkan kondisi yang lebih baik.
Gambar 21. Pertumbuhan PDB, Industri, dan Industri Non-Migas Tahun 2001 – 2013 (Persen)
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014
Pendorong utama pertumbuhann industri non-migas adalah subsektor alat angkut, mesin dan peralatannya yang tumbuh 10,54 persen. Subsektor lain penyerap tenaga kerja juga konsisten tumbuh positif, industri makanan, minuman dan tembakau tumbuh 3,34 persen, industri tekstil, barang kulit dan alas kaki tumbuh 6,06 persen, dan industri logam dasar besi dan baja tumbuh 6,93 persen. Dengan perkembangan
hutan Indonesia di pasar global meningkat setelah Surat Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) diberlakukan. Hal ini ditunjukkan oleh meningkatnya ekspor furnitur kayu ke manca negara. Melemahnya sektor konstruksi mengakibatkan terjadi penurunan permintaan akan semen, sehingga pertumbuhan subsektor semen dan barang galian bukan logam sedikit melambat bila dibandingkan tahun 2012, yaitu 3,00 persen, Gambar 22 berikut menjelaskan pertumbuhan subsektor Industri manufaktur tahun 2013
Gambar 22. Pertumbuhan Subsektor Industri Manufaktur Tahun 2013
Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas, pada bagian berikut ini akan diuraikan perkembangan industri semen dan alat angkut secara lebih rinci.
Gambar 23. Perkembangan Produksi Semen Nasional (dalam Ribu Ton)
Sumber: Kementerian Perindustrian
Produksi semen pada tahun 2013 mencapai 56 juta ton, tumbuh sebesar 7,95 persen jika dibandingkan produksi pada tahun 2012 yang sebesar 52 juta ton. Hal ini turut dipengaruhi oleh meningkatnya pertumbuhan perekonomian Indonesia dan peningkatan kapasitas produksi industri semen dalam negeri. Adapun sepanjang tahun 2013, kebutuhan semen mencapai 59 juta ton dan diprediksi mencapai 63 juta ton pada tahun 2014. Peningkatan produksi semen disebabkan oleh mulai beroperasinya pabrik semen baru sebagai langkah ekspansi industri, Gambar 23. Uraian perkembangan subsektor industri alat angkut akan menjelaskan industri automotif (Roda-4) dan industri sepeda motor (Roda-2). Produksi mobil nasional pada tahun 2013 mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada bulan September yaitu sebesar 33.384 unit. Meskipun terjadi penurunan produksi pada bulan Agustus, peningkatan yang sangat signifikan pada bulan September membuat jumlah produksi mobil pada bulan ini sangat besar yaitu sebesar 91.599 unit. Berdasarkan data BKPM, dari investasi perusahaan asing (PMA) di sektor manufaktur tahun lalu yang mencapai USD 15,7 miliar, investasi di sektor otomotif mencapai USD 3,6 miliar. Sedangkan dari investasi manufaktur perusahaan lokal
tahun ini dengan rata-rata investasi USD 50 juta, atau total investasi mencapai USD 2 miliar. Hal ini sejalan dengan ekspansi pemain otomotif yang beroperasi di Indonesia. Nilai investasi komponen otomotif ini umumnya sekitar 10 persen dari investasi pabrik mobil yang tengah berjalan.
Gambar 24. Perkembangan Produksi, Ekspor dan Impor Mobil Tahun 2013
Sumber: Gaikindo, 2014
Total ekspor CBU mengalami peningkatan yang cukup tinggi pada bulan September yaitu sebesar 7.466 unit sehingga ekspor CBU pada bulan september menjadi 17.092 unit. Apabila dilihat dari sisi impor, aliran masuk mobil-mobil mewah ke Indonesia terlihat cukup tinggi. Rata-rata setiap tahun ada 7.500 unit mobil impor mewah masuk Indonesia. Importasi tersebut menyumbang defisit neraca perdagangan Indonesia untuk impor-impor barang yang seharusnya tak perlu. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, setiap tahun Indonesia mampu mengekspor 170.000 unit mobil ke berbagai negara, namun di saat bersamaan setiap tahunnya ada 110.000 unit mobil impor yang masuk ke Indonesia. Total impor CUN pada empat bulan terakhir menjelang akhir tahun lalu (September-Desember 2013) mengalami penurunan di setap bulannya. Secara keseluruhan, ekspor mobil utuh (CBU) dari Indonesia ditargetkan mencapai 200.000 unit tahun ini. Jumlahnya meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai 180.000 unit, lihat Gambar 24.
Sementara itu, produksi sepeda motor nasional sejak tahun 2000 hingga tahun 2013 mengalami peningkatan. Meskipun sempat beberapa kali mengalami penurunan, tapi industri sepeda motor Indonesia terus berupaya meningkatkan produksinya sepeda motor. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menargetkan
penjualan sepeda motor pada tahun ini bisa mencapai 8 juta unit. Kondisi perekonomian juga cenderung kondusif, serta adanya daya beli masyarakat untuk membeli sepeda motor baru. Hingga November 2013, penjualan sepeda motor mencapai 7.218.606 unit atau meningkat 8,5 persen dari penjualan pada periode Januari-November 2012 sebanyak 6.652.745 unit.
Ekspor sepeda motor nasional sejak tahun 2000 hingga tahun 2013 terlihat fluktuatif dengan tren penurunan pada 2000-2004 dan kembali meningkat hingga 2013. Pasar domestik untuk penjualan sepeda motor di Indonesia dapat dikatakan cukup meningkat, khususnya tahun 2013. Namun untuk pasar luar negeri, secara umum dapat dikatakan bahwa ekspor sepeda motor CBU dari Indonesia kecil.
Gambar 25. Perkembangan Produksi Dan Ekspor Sepeda Motor Nasional Tahun 2000-2013
Sumber: AISI, 2013
Sektor Pariwisata
Sejak tahun 2009, sektor pariwisata secara konsisten tumbuh positif. Indikator utamanya adalah jumlah wisatawan manca negara yang berkunjung ke Indoesia. Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia terus meningkat sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2013 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 7,2 persen per tahun. Posisi jumlah wisatawan mancanegara selama tahun 2013 mencapai 8.802.129 orang dengan penerimaan sektor pariwisata mencapai USD 10.100 juta (meningkat dari 6,2 juta wisatawan mancanegara dan penerimaan
2009, terlepas dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun tersebut, Lihat Gambar 26.
Gambar 26. Jumlah Wisatawan Mancanegara Dan Penerimaan Sektor Pariwisata Tahun 2004-2013
Sumber: Badan Pusat Statistik (2014)
Bila diteliti perkembangan bulanan, kunjungan wisman menunjukkan kenaikan yang konsisten, walau terjadi fluktuasi tetapi memiliki pola peningkatan setiap bulannya. Bulan-bulan dengan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara terendah adalah April (646.117 orang), Juli (717.784 orang) dan Oktober (719.903 orang). Posisi tertinggi kunjungan wisatawan mancanegara dicapai pada Desember 2013 dengan jumlah 860.655 orang. Lihat Gambar 27.
Gambar 27. Jumlah Wisatawan Mancanegara Per Bulan Tahun 2013
Untuk memberikan hasil laporan terbaik, kami mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembaca.
Kritik dan saran harap dikirimkan ke alamat surat elektronik berikut
[email protected] [email protected] [email protected] [email protected] [email protected] [email protected] [email protected]