• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

1.3 Harga Diri Pasien Kanker Payudara yang Menjalan

Berdasarkan hasil analisa data menunjukkan bahwa harga diri pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan secara keseluruhan, mayoritas responden memiliki harga diri tinggi yaitu sebesar 60% (18 orang), dapat di lihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3 Analisa Harga Diri Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan (n=30)

Harga Diri Frekuensi Persentase (%) Harga Diri Tinggi

Harga Diri Sedang

18 12

60 40

1.4 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Harga Diri Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan

Analisa hubungan dukungan keluarga dengan harga diri pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan diukur dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian didapat koefisien korelasi (r) antara dukungan keluarga dengan harga diri pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi yaitu (r) 0,403 dengan tingkat signifikasi (p) 0,027. Hal ini menggambarkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan harga diri pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan dimana kekuatan hubungannya sedang yang berpola positif, dalam arti semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin tinggi juga harga diri pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan.

Tabel 5.4 Analisa Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan (n=30)

Variabel r P

Dukungan Keluarga Harga Diri

0,403 0,027

2. Pembahasan

2.1 Dukungan Keluarga Pasien Kanker Payudara yang menjalani Kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan

Hasil analisa data dukungan keluarga pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan terhadap 30 responden, didapat bahwa 56,7% (17 orang) cukup mendapat dukungan keluarga, 36,7% (11 orang) mendapat dukungan baik dari keluarganya dan 6,7% (2 orang) kurang mendapat dukungan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas dukungan keluarga cukup untuk pasien kanker payudara. Hasil penelitian ini didukung oleh Rachmawati (2009) dan Admin (2011) yang berpendapat bahwa peran keluarga sangat penting dalam perawatan pasien dimana keluarga berusaha meningkatkan semangat hidup dan komitmen pasien untuk tetap menjalani pengobatan terutama untuk pasien kanker payudara. Hal ini juga dinyatakan oleh House, Landis, & Umberson (1988) dalam Sherbourne & Stewart (1991) bahwa dukungan sosial keluarga dapat memberikan hasil yang positif terhadap kesehatan dan kesejahteraan pada pasien kanker payudara. Hal yang sama dinyatakan oleh Admin (2011) bahwa dukungan positif yang diberikan keluarga dapat membuat pasien kanker payudara lebih kuat dalam melawan kanker tersebut.

Dukungan yang baik dipengaruhi oleh dukungan dari orang yang sangat berarti. Menurut data demografi menyatakan bahwa 80% pasien dalam status

menikah dan dukungan tersebut didapat dari suami dan anak mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat Naufal (2011) bahwa penderita kanker payudara sangat membutuhkan dukungan dari orang yang paling dekat sebagai tempat mereka mendapatkan semangat, kasih sayang dan pengertian.

Dukungan keluarga juga dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi keluarga mengingat akan biaya untuk proses pengobatan (Friedman, 1998). Menurut data demografi menyatakan bahwa 46,7% pasien mempunyai penghasilan antara Rp 1.000.000 sampai Rp 1.500.000. Beberapa pasien yang kurang mampu telah mendapat bantuan dana dari pemerintah, tetapi bantuan tersebut tidak dapat membantu secara penuh karena pasien masih membutuhkan dana lagi untuk perawatan di rumah. Oleh karena itu, penghasilan yang didapat oleh keluarga sangat membantu pasien ketika menjalani pengobatan.

Dukungan keluarga dapat menurunkan tingkat kecemasan, rasa takut, dan depresi karena dukungan tersebut dapat meningkatkan kesehatan mental. Dukungan keluarga merupakan salah satu strategi koping keluarga yang sangat penting untuk mengatasi masalahnya (Friedman, 1998). Dalam penelitian ini menyatakan bahwa dukungan keluarga baik karena keluarga memberikan dukungan informasi, dukungan motivasi, dukungan instrumental, dan dukungan emosional kepada pasien. Hal ini sesuai dengan pendapat Gotay & Wilson (1998) dalam Katapodi (2002) bahwa dukungan keluarga dapat berupa dukungan informasi, dukungan motivasi, dukungan instrumental, dan dukungan emosional. Dukungan-dukungan tersebut akan sangat bermanfaat apabila diberikan pada

orang yang membutuhkan dan disaat yang tepat. Salah satunya adalah pasien kanker payudara yang sedang mengidap penyakit kronis.

Dukungan informasi sangat dibutuhkan pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan. Menurut Gotay & Wilson (1998) dalam Katapodi (2002) bahwa keluarga berusaha mencari informasi tentang pengobatan, memberikan nasihat, dan membantu mereka dalam pemecahan masalah. Pendapat tersebut sesuai dengan penelitian di RSUP H. Adam Malik Medan yang menunjukkan 43,3% keluarga sering berusaha untuk mencari informasi tentang pengobatan dan pemeriksaan yang diterima pasien, 63% keluarga sering mengingatkan pasien untuk menjalani kemoterapi secara teratur, 43,3% keluarga sering membantu pasien mengambil keputusan akan pengobatan, dan 33,3% keluarga sering menjelaskan hal yang tidak dimengerti akan pengobatan kepada pasien. Wortman & Dunkel-Schetter (1987) dalam Helgeson & Cohen (1996) juga berpendapat bahwa dukungan informasi dapat membantu untuk memperbaiki rasa kebingungan yang muncul ketika menjalani pengobatan.

Kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan juga membutuhkan dukungan motivasi. Dukungan motivasi yang diberikan keluarga menurut hasil penelitian ini yaitu 36,7% keluarga sering memberikan kesempatan kepada pasien bertemu dengan orang yang mengalami kanker payudara untuk mendapatkan nasihat dan saran, 50% keluarga sering memberikan dukungan yang dibutuhkan pasien, 63,3% keluarga memberikan pujian kepada pasien apabila menjalani kemoterapi dengan teratur dan berusaha

untuk sembuh, dan 63,3% keluarga berusaha memenuhi kebutuhan yang diperlukan pasien. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Winnubast dan Sarfino dalam Atkinson (2002) bahwa dukungan motivasi keluarga merupakan bantuan yang diberikan untuk perasaan berharga, memberikan nilai positif terhadap orang tersebut di tengah keadaannya yang kurang mampu baik secara mental maupun fisik.

Menurut pendapat Chandra (2009) bahwa dengan adanya pendampingan keluarga, pasien akan merasa nyaman, tenang dan lebih kuat dalam menerima keadaan fisiknya yang memberi dampak baik terhadap proses penyembuhan penyakit. Hasil penelitian di RSUP H. Adam Malik Medan menunjukkan 50% keluarga sering mendampingi pasien ketika menjalani pengobatan dan perawatan, 63,3% keluarga sering berusaha memberikan bantuan dalam pengobatan, 33,3% keluarga bersedia membiayai selama menjalani pengobatan, dan 56,7% keluarga bersedia memenuhi kebutuhan pengobatan yang belum terpenuhi. Hal ini didukung oleh Wortman & Dunkel-Schetter (1987) dalam Helgeson & Cohen (1996) bahwa dukungan instrumental melibatkan penyediaan barang-barang materi, misalnya, bantuan pengobatan, transportasi, uang, atau bantuan dalam pekerjaan rumah tangga.

Kebanyakan pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi sering emosi yang akan berdampak buruk terhadap psikologis (Naufal, 2011). Oleh karena itu, dukungan emosional dari keluarga sangat penting bagi pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi (Anggraini, 2006). Dalam penelitian ini, dukungan emosional yang dibutuhkan pasien kanker payudara yaitu 53,3%

keluarga memberikan solusi untuk menghadapi masalah yang terjadi, 60% keluarga memberikan kepada pasien rasa dicintai dan dihargai, 36,7% keluarga bersedia menjadi tempat mencurahkan semua perasaan yang saya rasakan ketika menjalani kemoterapi, dan 50% keluarga memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengambil keputusan yang terbaik. Hasil penelitian ini di dukung oleh Anne & David (2007) dalam Anggraini (2006) yang menyatakan bahwa dukungan emosional merupakan dukungan keluarga yang paling penting yang seharusnya diberikan kepada anggota keluarganya karena merupakan hal penting dalam meningkatkan semangat pasien dan memberikan ketenangan. Menurut Thomson (1996) dalam Anggraini (2006), pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi membutuhkan orang yang selalu bersedia mendengar perasaannya. Kroenke, dkk (2006) juga menyatakan bahwa dukungan emosional yang diberikan keluarga dapat membuat kelangsungan hidup mereka menjadi lebih baik karena dapat menurunkan stress.

2.2 Harga Diri Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan

Hasil analisa data menunjukkan bahwa harga diri pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan menunjukkan bahwa 60% (18 orang) pasien kanker payudara memiliki harga diri tinggi dan 40% (12 orang) pasien kanker payudara memiliki harga diri sedang. Hal ini menunjukkan bahwa pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan mayoritas memiliki harga diri tinggi karena pasien kanker payudara memiliki penilaian yang positif (penerimaan) terhadap

dirinya. Hal tersebut dapat dilihat dari jawaban responden bahwa mayoritas pasien tidak pernah menyalahkan diri sendiri ketika berbuat kesalahan (60%), pasien mengerti apa yang dikatakan orang lain (60%), pasien merasakan kehidupannya penting (73,3%), pasien memiliki hubungan yang baik dengan orang lain (83,3%), pasien merasakan bahwa dirinya cukup baik (43,3%), selama menjalani kemoterapi pasien menghargai dirinya sendiri (83,3%), pasien suka sesuatu yang dia katakan ataupun yang dia lakukan (66,7%), pasien merasa percaya diri akan kondisinya saat ini (56,7%), pasien tidak merasa marah akan kehidupan yang di jalani (43,3%), dan pasien merasa dirinya masih berarti (63,3%).

Hasil penelitian tidak sesuai dengan beberapa pandangan para ahli menjelaskan bahwa pasien yang menderita kanker payudara terjadi banyak perubahan fisik yang mempengaruhi aktivitas pasien sehari-hari dan hal ini juga mempengaruhi keadaan psikologis pasien. Menghadapi perubahan mental akibat penyakit kanker payudara, umumnya pasien yang memiliki penerimaan diri yang rendah, harga diri yang rendah, merasa putus asa, bosan, cemas, frustasi, tertekan dan takut kehilangan seseorang (Radleay, 1994 dalam Lubis, 2009). Adapun perilaku pasien kanker payudara yang berhubungan dengan harga diri rendah adalah mengkritik diri sendiri, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah tersinggung, pesimis, gangguan berhubungan (isolasi, menarik diri), dan merusak diri (Keliat, 1998). Bagi banyak wanita yang mengalami kanker payudara cenderung akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dialaminya dan berpandangan negatif terhadap dirinya (Puckett, 2007 dalam Hartati 2008).

Harga diri sangat dipengaruhi dengan lamanya suatu penyakit atau semakin kronisnya suatu penyakit. Makin kronis suatu penyakit yang mengganggu kemampuan dalam aktivitas yang menunjang perasaan berharga, maka makin besar pengaruhnya pada harga diri. Penyakit kronis membutuhkan perubahan pola perilaku yang telah lama diterima dan dijalani, maka individu mempunyai kesempatan untuk mengantisipasi berduka (Potter & Perry, 2005). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa sebagian besar pasien menderita kanker payudara selama 6 bulan keatas dimana mereka memiliki harga diri tinggi. Hasil penelitian ini juga didukung oleh beberapa pendapat bahwa ketika pasien mampu menerima keadaan dirinya, baru ia akan mempunyai harga diri yang tinggi (Rosenberg, 1965 dalam Lubis 2009). Pasien yang memiliki harga diri yang tinggi dapat melawan pengaruh negatif dari kanker (Hobfoll & Walfisch, 1984 dalam Lubis 2009).

2.3 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Harga Diri Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga mempunyai hubungan yang signifikan (p=0,027) dengan harga diri pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan dimana kekuatan hubungannya sedang (r=0,403) yang berpola positif. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin tinggi harga diri pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP H. Adam Malik Medan.

Hasil penelitian ini didukung oleh Dalami (2010) peran serta keluarga sangat penting untuk penyembuhan pasien, karena keluarga merupakan sistem

pendukung yang terdekat bagi pasien. Oleh karena itu keluarga selalu dilibatkan dalam perencanaan, perawatan dan pengobatan, persiapan pemulangan pasien, dan rencana perawatan tindak lanjut di rumah. Hal ini akan memotivasi keluarga agar berpartisipasi aktif dalam upaya membantu memecahkan masalah pasien.

Family Support After Cancer treatment (2008) dalam Halim & Wirawan (2010) menyatakan bahwa seorang wanita yang menjalani kemoterapi sangat membutuhkan dukungan keluarga dimana dukungan keluarga tersebut ditempatkan pada urutan pertama dalam pemulihan kesehatan pasca kemoterapi. Francis & Setiadarma (2004); Kuijen (2000) dalam Halim & Wirawan (2010) menyatakan bahwa dukungan keluarga dapat mempengaruhi pemulihan fisik dan mental seorang wanita dan dapat membuat reaksi yang menstimulus sel tubuh untuk pulih.

Pendapat yang sama disampaikan oleh Anoimus (2011) dalam Suparyanto (2012) menyatakan bahwa dukungan keluarga tinggi dapat memiliki harga diri yang lebih tinggi dimana peran keluarga mempunyai pengaruh yang sangat tinggi dalam harga diri. Sebuah keluarga yang memiliki dukungan keluarga yang rendah tidak mempunyai kemampuan dalam membangun harga diri anggota keluarganya dengan baik. Keluarga akan memberikan umpan balik yang negatif dan berulang- ulang akan merusak harga diri bagi penderita.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga dengan harga diri memiliki hubungan dengan tingkat sedang. Hal tersebut dapat terjadi karena ada beberapa pengaruh lain yang mendukung harga diri pasien. Terbentuknya harga diri dapat diperoleh dari interaksi pasien dengan lingkungannya, penerimaan, dan

perlakuan orang lain terhadap pasien. Pengalaman bergaul dan berinteraksi akan memberikan gambaran yang baik dari segi sifat dan mental melalui sikap dan respon orang lain terhadap dirinya (Klass & Hodge, 1978) dalam Lubis (2009). Buss (1978) dalam Lubis (2009) juga menegaskan bahwa persahabatan dapat meningkatkan harga diri individu. Sesuai dengan observasi di rumah sakit ketika meneliti, pasien dikunjungi oleh saudara mereka, pasien memiliki teman dengan kondisi yang sama, dan pasien sering berinteraksi dengan teman satu ruangannya.

Faktor usia dapat juga mempengaruhi harga diri seseorang karena menurut Kokene dalam Lubis (2009) bahwa harga diri seseorang mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan usianya. Melihat dari data responden, rata-rata usia pasien 49 tahun dimana usia tersebut merupakan usia dewasa madya. Menurut Stuart & Laraia (2001) dalam Purba, dkk (2008) bahwa harga diri akan stabil pada masa dewasa karena individu dewasa lebih mudah untuk menerima dirinya, mampu belajar untuk mengatasi segala kelemahannya dan mampu mengoptimalkan kekuatan yang ada pada dirinya.

Dokumen terkait