harga sangat terjangkau ini siapa saja bisa duduk dan menikmati kenyamanan yang ada dikedai kopi ini . Dengan hanya membawa uang Rp.10.000,- saja , sudah bisa makan dan minum . Inilah kelebihan yang dimiliki kedai kopi ini , dengan semboyan “ boleh murah asal tidak murah – murahan “ tetap prioritas utama yang disajikan oleh penjual agar kedai kopi yang dikelolanya tetap ramai oleh pengunjung dan ini lah salah satu strategi penjual untuk mempertahankan kedai kopi ini terus beroperasi sampai saat ini.
Tabel Harga Menu di Kedai Kopi
Menu Harga
Teh Manis Panas Gelas Kecil Rp.1.000,- Teh Manis Panas/Dingin ( Tambah
Susu )
Rp.2.000.- / Rp.3.000,- ( Rp.3.000,- / Rp.4.000,- )
Kopi Tubruk Panas / Tambah Susu Rp.3.000,- / Rp.4.000,- Minuman Sachet + Susu
Panas/Dingin
Rp.4.000,- / Rp.5.000,-
Indomie Kuah/Goreng Rp.6.000,-
TST ( Teh Susu Telur ) Rp.5.000,-
Telur Setengah Matang ( Ayam Kampung / Bebek )
2.7. Fasilitas
Pada umumnya fasilitas kedai kopi tradisional di Indonesia sangat sederhana, hanya terdiri bangku dan meja yang terbuat dari papan ala kadarnya, dengan atap terpal atau asbes, dan sekelilingnya ditutup dengan kain bekas spanduk atau spanduk bekas promosi produk tertentu yang terkadang tidak ada hubungannya dengan produk kopi, dan dilengkapi dengan pencahayaan ala kadarnya/remang-remang.
Di kedai kopi ini seperti terlihat gambar dibawah ini merupakan keadaan kedai kopi yang ada di jalan kopi . Dengan fasilitas televisi 21 inchi , meja yang beralas spanduk – spanduk sisa dan bangku panjang yang tampak usang . Penjual juga memberikan fasilitas tambahan seperti kartu remi , kartu domino , papan catur dan kamar mandi seadanya . Tanpa memandang kelas sosial di kalangan masyarakat Simalingkar , kedai kopi ini tetap menjadi tujuan favorit buat pelanggan tetapnya walaupun dengan fasilitas seadanya.
Bagi pelanggan kedai kopi ini , fasilitas tidak lah menjadi pilihan utama mereka . Yang diinginkan pelanggan adalah tempat buat nongkrong di dekat rumah mereka ada yaitu kedai kopi ini . Apalagi kedai kopi ini sempat tutup beberapa tahun lalu , jadi mereka tidak ingin tutup seperti sebelumnya . Dengan fasilitas yang ada sekarang mereka tetap mensyukuri apa yang ada di kedai kopi ini . Inilah menjadi nilai tambah bagi penjual dan pembelinya karena sama – sama saling membutuhkan , penjual membutuhkan tambahan ekonomi dan pembeli membutuhkan ruang publik dan tempat nongkrong yang dianggap asyik dan nyaman.
Gambar 4 . Fasilitas yang Ada di Kedai Kopi
2.8. Pembeli Kedai Kopi
Kedai kopi tidak akan berfungsi semestinya jika tidak ada pembelinya . Karena didalam suatu perjual-belian harus ada penjual dan pembeli . Pembeli dalam kategori kedai kopi adalah penikmat kedai kopi yang secara terus – menerus berkunjung ke kedai kopi . Dari sekian banyak masyarakat yang ada di perumnas simalingkar khususnya jalan kopi merupakan pengunjung tetap kedai kopi yang ada di jalan kopi ini . Mereka adalah orang –orang yang berbeda profesi, agama , etnis dan lain sebagainya . Tapi tetap saja tidak menjadi halangan karena fungsi kedai kopi merupakan ruang publik yang siapa saja bisa duduk , minum kopi , ngobrol dan menikmati suasana yang ada di kedai kopi .
Dari sekian banyak pengunjung kedai kopi , nama – nama yang akan disebutkan merupakan pelanggan tetap yang bisa menjadi informan dalam memberikan informasi . 1. Setia Sinulingga 2. Budi Siahaan 3. Mangatas Tambunan 4. Munir 5. Faisal Ariza 6. Yogi Prananda 7. Muslim 8. Anto 9. Agus Lubis 10.S. Simajuntak 11.Wakil Karo-Karo 12.Mustapa Surbakti 13.Taufik Ritonga 14.Anta Tarigan 15.Thalim 16.Indramada Ritonga 17.Rajab 18.Navid 19.Etoy 20.Agus 21.Douglas 22.Liki Tanjung 23.Doni
BAB III
AKTIFITAS DI KEDAI KOPI
3.1. Enak Tak Enak Yang Penting ”Ngopi”
Obrolan selalu memberi kesan yang bersahaja. Hal ini tidak muluk - muluk, karena obrolan adalah sebuah media yang akan membuka sebuah interaksi antar individu. Dengan obrolan dua orang yang tidak pernah bertemu dapat saling bertegur sapa, dengan obrolan dua orang yang tengah bertikai dapat saling mengungkapkan ekspresi masing masing.
Obrolan sering menjadi sarana berbagi informasi. Dengan obrolan seseorang akan berbagi informasi tentang apa yang ia butuhkan dan yang lain mendengarkannya, barangkali ada yang juga yang dapat membantu. Dengan obrolan pula tidak jarang seseorang akan mendapat pekerjaan atau peluang peluang pekerjaan.
Tidak jarang obrolan menjadi sebuah alat untuk berseteru antara satu dengan yang lain. Hal ini terjadi ketika sebuah obrolan berlangsung marathon dengan tensi tinggi, berdebat dengan kritis yang berakhir pada saling tuding atau mengancam satu sama lain. Disinilah obrolan dapat menjadi media apa saja untuk mengekspresikan apa yang seesorang rasakan.
Kedai kopi Girik menjadi salah satu tempat obrolan itu menjadi hidup. Ketika sebuah obrolan menjadi aktifitas yang pasti dilakukan. Di kedai kopi obrolan berlangsung dengan berbagai ekspresi sesuai dengan kondisi atau latar belakang yang memulai obrolan.
Obrolan kedai kopi bisa berupa apa saja. Tidak selalu berbentuk atau mengenai topik yang baku. Semua dapat dibahas, baik itu politik, ekonomi, masalah pribadi dan lain sebagainya. Obrolan itu tidak memiliki batas dan waktu, semua mengalir bagai alur yang tidak tersusun. Misalnya dalam sebuah obrolan dimulai dengan tawa, obrolan ringan tentang kegiatan hari ini hingga menyinggung masalah Indonesia terkini. Semua berjalan dengan alur yang terus meningkat, terkadang mereda dengan tawa berganti topik ke masalah olahraga khususnya sepak bola yang begitu tren di negeri Indonesia dan lain sebagainya.
Apalagi ketika pengunjung datang dan tujuan sebenarnya hanya ingin memesan kopi . Tanpa sadar ia akan mengikuti arus dan mendengarkan perbincangan yang ada di kedai kopi , dari tujuan utamanya hanya memesan kopi menjadi salah satu peserta obrolan yang terdengarkan di kedai kopi hingga kadang lupa akan waktu . Selain itu pengunjung yang benar –benar tidak tertarik dengan suasana yang di kedai kopi , ia hanya membaca koran yang tersedia di kedai kopi . Obrolan kedai kopi akan menjadi panjang dan menarik karena adanya kopi itu sendiri. Kopi merupakan penghantar para pengunjung untuk mengekspresikan apa yang ingin ia katakan. Dengan kopi seseorang menjadi lebih terbuka, lebih jujur dan lebih ekspresif, seseorang yang biasanya lebih pendiam akan perlahan mengungkapkan apa yang ia pikirkan tentang sebuah topik pembicaraan. Hal ini karena suasana yang terbawa situasi di kedai kopi yang memang benar – benar penuh dengan obrolan ringan hingga memanas.
Suasana kedai kopi Girik selalu memaksa seseorang untuk berbicara. Dengan memesan kopi, dengan kata lain ia telah masuk dan siap untuk mendengar
membuat setiap orang di kedai kopi akan berbicara, baik sedikit, ungkapan setuju maupun menolak sebuah pendapat. Disinilah muncul sebuah istlah “enak tak enak yang penting ngopi”. Yang diartikan bahwa enak tidak enak setiap orang yang berada di kedai kopi wajib memesan kopi dan ikut dalam obrolan kedai kopi. Ngopi sendiri memiliki makna dibalik istilahnya. Makna tersebut disepakati bahkan benar benar dipahami para pengunjung maupun pemilik kedai kopi. Ngopi memiliki makna “ngobrol sambil minum kopi”. Sebuah makna yang sederhana, dimana setiap tegukan kopi harus diselingi dengan obrolan - obrolan yang tenutnya tidak kalah hangat dengan kopi yang diminum.
Banyak sekali obrolan - obrolan yang terjadi di kedai kopi, tidak hanya itu permainan seperti catur , kartu domino , dan kartu remi menjadi tambahan yang ada di kedai kopi. Obrolan tersebut coba di klasifikasikan dalam beberapa topik yang paling sering dibahas. Topik - topik tersebut adalah tentang politik, ekonomi, tentang kehidupan pribadi dan olahraga khususnya sepakbola. Topik topik ini dideskripsikan selanjutnya.
3.2. Obrolan Tentang Politik
Obrolan tentang politik selalu menarik bagi masyarakat. Hal ini biasa menjadi bahan obrolan yang menurut mereka seru untuk diceritakan. Bahannya bisa tentang apa saja yang berkaitan dengan politik seperti pilkada,caleg, sampai masalah korupsi.
Permasalahan bangsa Indonesia yang kompleks menjadi bahan yang selalu diobrolakan. Bak sebuah topik utama obrolan tentang kisruh masalah korupsi dan dinamika yang ada di dalamnya terasa menarik. Ibarat sebuah sinetron maupun
film, persoalan bangsa ini seperti memiliki alur yang meruncing seakan rugi apabila ketinggalan sedikit saja.
Obrolan tentang politik ini bisa terlihat dimana saja, di kantor, diangkot di kedai kedai atau dimana saja tempat orang berkumpul.begitu pula di kedai kopi. Obrolan politik juga menjadi bahan utama yang begitu berperan dalam menjadikan kedai kopi menjadi ramai .
Sore selalu memberi kehangatan ketika mulai menyapa dengan matahari teduhnya. Kehangatan itu juga terlihat di kedai kopi. Hangat kopi dan gorengan yang menemani sebuah obrolan sore dan sapaan - sapaan serta tawa - tawa lepas pengunjung menambah riuh dan semaraknya kedai kopi. Padahal kedai itu hanya diisi oleh beberapa orang saja.
Tidak sampai lima belas orang yang ada dan beraktifitas di dalamnya sore itu, namun keadaan yang seru turut dirasakan oleh pengunjung kedai kopi. Obrolan yang seru itu berkaitan dengan berita korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan. Ada perasaan marah, jengkel , ada pula yang acuh tak acuh dan lain sebagainya. Semua diluapkan dalam pukulan meja, tudingan dan tunjukan kea rah televisi tanda tidak suka dengan perbuatan yang ada. Setiap pengunjung juga sudah merasa maklum dengan kondisi negara ini , hingga perdebatan pun di mulai.
Saat itu adalah masa masa penetapan Anas Urbaningrum sebagai tersangka korupsi oleh KPK. Tak heran perasaan jengkel dan sumpah serapah terlontar ketika menyaksikan tayangan tersebut. Saat itu Pak Sinulingga (54 tahun) mengungkapkan komentarnya.
yang pernah kau bilang itu , jangan banyak cakap kau, ikan kakap ikan gabus juga kau Nas.
Ekspresi marah ini menuntut janji anas terdahulu yang menyatakan bahwa ia siap untuk digantung di Monas jika ia terbukti korupsi. Ekspresi menuntut janji ini terasa riuh sore itu. Berbagai umpatan sanggahan pun mewarnai jalannya tayangan tersebut. Misalnya yang diungkapkan oleh Pak Supriadi (50 tahun) :
Sabar dulu pak, ini belum selesai bisa jadi ini kongkalikong sama Demokrat biar naek ratingnya pas pemilu nanti.
Dibalas oleh pak Thalim (46 tahun)
Alah, palingan ini isu aja, nanti juga ilang sendiri itu. Tapi kita tunggu aja janjinya si Anas jelebau itu. Gak suka aku liat mukanya itu,muka orang licik, penjahat kelas kakap. Mantap kali KPK ini, gas terus marlae, jangan takut mengungkapkan kebenaran
Ungkapan ini menggambarkan ketidakpuasan mereka dengan hasilnya. Mereka berharap sesuatu menjadi jelas dan kebenaran dapat segera terwujud. Obrolan itu terus berjalan seru ditemani kopi dan gorengan yang tak henti diseruput dan dilahap oleh pengunjung dengan mata yang tak bergerak memandang layar televisi.
Selepas tayangan tentang Anas, obrolan masih berlangsung di kedai kopi. Obrolan masih berlangsung dengan berbagai argumen yang mengemuka. Semua memberikan pendapatnya. Seolah olah ini sidang paripurna, padahal hanya obrolan obrolan kedai kopi. Pak Rajab (44 tahun) mengungkapkan :
Kadang aku miris liat negeri ini. Pada gak sadar orang itu. Menyengsarakan rakyat aja. Percuma sekolah tinggi tinggi tapi gak bermoral, mending kayak kita ya kan kerja bangunan tapi jujur.
Pak munir (39 tahun) memberikan sanggahan seperti berikut “
Alah jon,karena gak ada kesempatan ajanya kita ini, coba ada mungkinpun korupsi juga kita. Siapa yang tahan sama godaan duit ini. Hepeng mangatur negaraon jon, haha. Kemudian dijawab oleh Pak Rajab (44 tahun)
Hei lek, agak kau jaga muncung kau. Duit itu bisa dicari ah. Tapi jujur itu susah. Kita memang tak makan bangku sekolahan tapi tahulah kita yang mana hak kita yang mana yang bukan.
Obrolan berkembang terus ke beberapa aspek yang lain melalui celetukan dan sanggahan - sanggahan, seolah arus yang berjalan terus obrolan berjalan tak pernah putus. Seperti ungkapan Pak Muslim (48 tahun) :
Itulah, kalau liat berita berita di tv itu rasanya aku udah gak percaya lagi sama orang orang yang diatas itu. Golput ajalah nanti. Gak ada yang betol orang itu semua. Mukanya kayak orang baek baek, ganteng rupanya kelakuannya kayak binatang. Amangoi amangoi.
Ungkapan dari pak Muslim tesebut berdasarkan kekecewaan beliau dengan perbuatan para pejabat. Namun ungkapan beliau mendapat tanggapan dari Bang Mangatas (32 tahun) yang merupakan salah satu tim sukses calon legislatif.
Ah janganlah gitu om, janganlah gara gara orang tu korupsi kita jadi gak percaya terus golput. Masih adanya om yang bagus yang bersih, Cuma biasanya yang bagus bagus itu gak pernah masuk tv. Kayak calon kita ini misalnya (sambil memberikan kartu nama kepada
Dijawab oleh Bang Topik ( 35 tahun) :
Ah, kalau kau lah tas tas, macam memancing diair keruh hahaha. Siapa lagi itu yang mau kau kenalkan tuh.liat-liat situasi juga lah lek , ada juga kawan – kawan kita yang sering duduk ngopi sama di kedai ini . tapi tergantung orang nya itu kekmana dia , mau milih siapa ya kan
Dijawab oleh Bang Mangatas (32 tahun):
Ia juga memang lek , tapi kan namanya juga tim sukses lek.Mau ga mau kan harus dukung dan cari simpatisan lek. Tst (tau sama tau) aja lah kita lek ( sambil tertawa kecil ).
Dari percakapan diatas terlihat perubahan percakapan yang menjurus kearah pemilihan umum yang tidak lama lagi akan di langsungkan . Pemilihan yang akan berlangsung yakni pemilihan wakil rakyat. Disitu terlihat seorang tim sukses tengah mencoba menawarkan dan memperkenalkan calonnya kepada pengunjung kedai kopi. Dan pelanggan tetap kedai kopi Girik ini , juga ada yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif walaupun daerah pemilihannya berbeda yaitu Pak Mustapa Karo – Karo dan Indra Mada Ritonga . Sehingga obrolan semakin panas . Dan salah satu anggota obrolan masalah caleg ini dengan bijaksana membuat suasana agar menjadi lebih lunak .
Pak Sinulingga (54 tahun) mengatakan :
Nah, sekarang kita nya ini . Kita kan punya pilihan masing - masing , lagian pun daerah pemilihan kawan – kawan kita ini yang mau maju kan beda , ya kita sebagai kawan di kedai ini ya saling mendukung aja buat yang terbaik buat kawan kita .
Gambar 6 . Salah Satu CALEG yang Sering Nongkrong di Kedai Kopi Girik
Tentang pemilu , memang memberikan sebuah ruang yang berbeda di kedai kopi Girik. Saat itu berbagai caleg akan datang untuk sekadar menyapa markombur atau membagikan kartu nama dan memberikan spanduk . Saat itulah janj - janji mulai diumbar dan pengunjung yang lainnya akan memperhatikan dengan seksama . Suasana obrolan yang biasanya lepas seakan menjadi sedikit berbau politis , sehingga pancing – memancing pertanyaan tentang apa yang akan ditawarkan. Walaupun caleg yang sering ngopi di kedai Girik ini bisa dikatakan punya pendukung di sini , tetap saja pembahasan calon yang lain menjadi topik yang hangat untuk di perbincangkan di kedai kopi ini .
Analisa demi analisa dan pertanyaan kritis biasa menghiasi. Tidak jarang para caleg tersebut membagi buah tangan berupa uang kepada pengunjung dengan dalih hadiah sambil berharap dipilih pada saat pemilu. Seperti ungkapan si pemilik kedai Girik (38 tahun) :
Kalau pada masa masa kampanye gini, banyak tuh yang datang kesini. Purak puraknyalah minum kopi, merasakan kegiatan masyarakat, bagi bagi kartu nama sampai bagi bagi uang. Tapi kulihat orang orang ini gak bodoh juga. Waktu ada caleg disini habis juga orang itu bertanya Tanya soal program, soal apa yang bisa dia kasih.
Girik benar benar memperhatikan bagaimana perangai para pengunjungnya. Setelah caleg itu pulang obrolan biasanya masih berlangsung. Bisa kembali menghujat sang caleg bisa juga mendukung caleg tersebut hal ini sesuai dengan ungkapan pak Munir (39 tahun) :
Ah, gak sor aku sama calon yang dibawa mangatas itu, agak agak bermuka dua dia, tadi dia bilang mau membantu masyarakat sini, mengembangkan perekonomian, tapi keknya tak punya pengalaman dia. Ah payanhlah nanti bisa bisa beli kucing dalam karung kita. Hal ini ditambahkan oleh pak Rajab (44 tahun) :
Botul itu nir, akupun tak sor juga. Belum apa apa udah kasih duit dia..haha tapi boleh jugalah untuk uang rokok kita ini
Asik mendengarkan obrolan di kedai kopi, bukan orang Medan kalau nggak banyak omong. Topiknya selalu topik yang lagi ngetren. Apalagi kalau bukan politik (pilkada Sumut). Benar ataupun tidak yang penting ngomong. Bahkan ada yang sekedar menumpahkan unek-unek. Begitulah keunikan Ngopi di Kedai kopi Girik , kopinya secangkir ngobrolnya bisa berjam-jam .
Kali ini mereka tengah membicarakan kandidat calon gubernur. Ini yang harus diwaspadai para kontestan. Kayaknya orang-orang sekarang sudah pada pintar. Dan kayaknya para calon pimpinan Sumut ini tidak cukup hanya tebar pesona, tebar baleho, tebar sepanduk dan tebar banner (dan tebar yang lain).
Bahasan mereka begitu kritis. tidak terbayang, obrolan mereka sampai tingkat eveluasi. yang paling sering dibahas adalah Pak Gatot dengan Efendi Simbolon. Apakah dua calon ini yang terkuat, sampai mengabaikan tiga calon lainnya. Dan itulah warung kopi membuktikan.
Bahasan mereka tidak hanya siapa Pak Gatot dan siapa Efendi Simbolon. Atau partai apa yang mendukungnya, siapa orang-orang dibelakang mereka. Tapi sampai mundur kebelakang, mengapa dulu Pak Gatot menang?, bagaimana caranya menang? Kenapa Efendi tiba tiba muncul sebagai calon?,. Bahkan sampai bahas KPU Jatim yang tidak berjalan sewajarnya.
Pak Edy (51tahun)
Bila kita sudah mengenal seperti apa para incumbent yang kemarin menjadi wakil kita di gedung dewan maka perlu dilirik orang2 baru dikancah politik Gresik
mudah2an ada yang layak untuk dipilih Pak Rajab (44 tahun)
Betul Bang Edy, kita juga perlu melihat siapa dan partai mana yang berkepentingan
Pak Munir (39 tahun)
Kita hanya prihatin dengan pergolakan politik di negara kita yang menghalalkan segala cara. Ini yang kita waspadai dan kita hindari. Subhanallah apa yang tdk dikorupsi?
Pak Thalim (46 tahun)
masih belum ada robinhood sejati di negeri ini.. Kak Girik (38 tahun)
semua abal abal
Obrolan obrolan tentang politik ini selalu panjang dan menarik, saling medukung dan bantah sudah menjadi pemandangan yang biasa dalam obrolan. Dengan demikian obrolan tentang politik menjadi topik yang selau menjadi menu utama terutama saat - saat ada isu yang tengah membesar ataupun mendekat masa masa pemilhan umum. Politik di negeri ini ibarat “sandal” bisa kotor bisa juga bersih , tergantung dari pribadinya masing - masing . Pemberitaan media mau itu elektronik , cetak ataupun online tidak lepas dari masalah politik dinegeri ini . Ibarat ‘sayur tanpa garam’ itu lah yang terjadi di kedai kopi , tanpa perbincangan masalah politik kedai kopi terasa suasana menjadi hambar .
3.3. Obrolan Tentang Ekonomi
Obrolan yang juga cukup hangat dan menarik untuk dibicarakan adalah mengenai ekonomi. Obrolan ini menjadi menarik karena obrolan biasanya langsung mengenai kehidupan bisnis dan pekerjaan mereka. Namun tidak jarang juga pembicaraan membahas tentang ekonomi Negara.
Obrolan ini biasanya dimulai dari susahnya mencari uang sampai merembet tentang ekonomi Negara hingga petuah – petuah ekonomi . Segala aspek coba disambung - sambungkan untuk mengekspresikan kesal dan marah. Namun tidak jarang pula ada solusi yang hadir ketika obrolan - obrolan mulai meruncing.
Siang itu seperti biasa Girik membuka kedainya. Ia biasa membuka kedai kopinya pada siang hari sekitar jam dua belas siang. Saat itu sopir angkot biasa menghabiskan waktu ngopi sambil mengobrol. Bang Doni (37 tahun) masuk ke kedai sambil menyeka keringatnya, dan memesan ekstra joss dingin. Bang Doni membuka obrolan dengan dua temannya yang terlebih dahulu duduk di kedai. Keduanya sedang menyantap indomie goreng sebagai makan siang untuk hari ini yang ia pesan.
Huh, panas kali diluar itu bah, malah sepi lagi, pas masa libur anak sekolah gini memang pendapatan agak nurun. Bang Joni (28 tahun) menggunkapkan :
Mau cemana lagi bang don , kalau gak gini mau makan apa kita, mau tak mau narek jugalah . hahaha
Bang Doni, Bang Iwan dan satu orang temannya adalah supir angkutan Mars 61 jurusan Simalingkar – Belawan , mereka biasa menarik angkot dan biasanya istirahat dan singgah di kedai Girik yang salah satu sopir angkot berdekatan rumahnya dengan kedai untuk berbincang bincang dan melepas lelah . Siang itu mereka menghela nafas karena pendapatan yang mulai menurun akibat anak sekolah yang tengah libur. Akan tetapi mereka tidak boleh mengeluh untuk memenuhi kebutuhan mereka masing masing. Tiba tiba teman mereka yang sedari tadi makan mulai berbicara.