• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Harga Diri

1. Pengertian Harga Diri

Salah satu aspek penting dalam pembentukan kepribadian adalah harga

diri yang terbentuk sebagai hasil interaksi dengan lingkungan, terutama

lingkungan sosial. Apabila dilihat secara lebih mendalam, pengertian harga

diri seringkali dikaitkan dengan peneriman diri. Coopersmith (1967)

menyatakan bahwa harga diri merupakan hasil evaluasi individu terhadap

dirinya sendiri. Evaluasi ini menyatakan suatu sikap yang dapat berupa

penerimaan atau penolakan dan menunjukkan seberapa besar individu percaya

bahwa dirinya mampu, berarti, berhasil, dan berharga menurut standar dan

nilai pribadinya.

Evaluasi diri dibuat dan dipertahankan individu dalam jangka waktu

tertentu, serta dipengaruhi oleh kejadian sehari-hari. Oleh karenanya dapat

pula dikatakan bahwa harga diri bisa berupa penilaian seseorang terhadap

berbagai macam topik (Coopersmith, 1967).

Baron dan Byrne (1997) berpendapat bahwa harga diri adalah evaluasi

diri yang dibuat oleh individu, yang dinyatakan dalam sikap positif atau

negatif terhadap dirinya sendiri. Hal ini merupakan pengalaman yang sifatnya

subjektif yang diperoleh dari perlakuan verbal dan tingkah laku orang lain.

Karena bersifat subjektif maka setiap individu akan berbeda dalam menilai

dan memilih aspek yang paling penting dalam kehidupannya. Meskipun

bersifat subjektif tetapi harga diri dapat dilihat dari kombinasi jumlah global

19

dan dipertahankan individu dalam jangka waktu tertentu serta dipengaruhi

oleh kejadian sehari-hari (Trzesniewski dkk, 2003).

Brigham (1991), mengemukakan bahwa harga diri merupakan bagian

dari konsep diri dan setiap orang selalu berusaha untuk meningkatkan harga

dirinya. Harga diri dikaitkan dengan penerimaan sebagai faktor yang dominan.

Watson dkk (2002), menyatakan bahwa harga diri merupakan suatu keadaan

atau sifat kepribadian berdasar atas evaluasi diri meliputi unsur kognitif, yaitu

berkisar tentang pengetahuan terhadap diri sendiri dan afektif, misalnya

sejauhmana individu menyukai diri sendiri. Secara fundamental harga diri

didasarkan pada proses afektif, terutama perasaan positif (feel good) atau

negatif (feel bad) terhadap diri sendiri (Brown dalam Leary dkk, 1995).

French & Kahn (dalam Muntaha, 2003), mengatakan bahwa harga diri

merupakan dimensi yang bervariasi yang digunakan seseorang untuk

menerima dirinya sesuai dengan sudut pandang. Penerimaan diri tersebut

ditunjukkan oleh sikap untuk menerima secara wajar atas kelebihan dan

kekurangan yang dimilikinya. Penerimaan diri dibuat berdasarkan hal-hal

yang realistik tentang dirinya, yang berkaitan dengan kondisi fisik, mental

spiritual, pergaulan, pekerjaan, dan sebagainya. Selanjutnya Rosenberg dkk

(Fuhrmann, 1990), menambahkan bahwa selain hal-hal yang realistik dalam

diri individu, berkaitan pula dengan struktur keluarga, interaksi dalam

keluarga dan keakraban dalam keluarga, persepsi individu atas status sosial

Murray dkk (2000), mengatakan bahwa harga diri merupakanpersonal

feelingsebagai barometer dalam membuat penilaian tentang orang lain. Harga

diri adalah perasaan dari diri yang berharga, bagaimana dirinya diterima atau

ditolak oleh orang lain (Scheier dkk, 1994), sementara itu Schiraldi (1999),

menyatakan bahwa harga diri merupakan gambaran tentang diri sendiri

sebagai orang yang kompeten, berharga, dan meyakinkan. Harga diri adalah

perasaan suka atau tidak suka terhadap diri sendiri berkaitan dengan

atribut-atribut yang dimiliki dan bagaimana perhatian yang diberikan kepada dirinya

sendiri (Dodgson & Wood, 1998; Cleghorn, 1996).

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan

bahwa harga diri merupakan aspek kepribadian berupa penilaian terhadap diri

sendiri, perasaan suka atau tidak suka terhadap diri sendiri, sebagai hasil dari

interaksi dengan lingkungan, berdasarkan pada penilaian dan penghargaan

orang lain terhadap dirinya yang ditunjukkan oleh sikap yang wajar untuk

menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.

2. Aspek-aspek Harga Diri

Cleghorn (1996), mengemukakan bahwa harga diri individu selalu

terkandung aspek self-belief atau self-doubt dan self-value, ini berarti jika

individu merasa yakin pada kemampuan yang dimiliki, akan mendorong

perasaan bernilai. Sebaliknya jika individu menganggap dirinya bodoh, maka

21

Coopersmith (1967), mengatakan bahwa harga diri merupakan suatu

pendapat pribadi yang pantas, yang diekspresikan dalam sikap-sikap individu

yang berpatokan pada dirinya sendiri. Ada empat aspek yang menjadi sumber

pembentukan harga diri seseorang, yaitu :

a. Keberartian (significant)

Keberartian individu nampak dari adanya penerimaan, penghargaan,

perhatian, dan kasih sayang dari orang lain. Penerimaan dan perhatian

biasanya ditunjukkan dengan adanya penerimaan dari lingkungannya,

ketenaran, dan dukungan keluarga. Semakin banyak ekspresi kasih sayang

yang diterima, individu akan semakin berarti. Tetapi jika individu

tidak/jarang memperoleh stimulus positif dari orang lain, maka

kemungkinan besar individu akan merasa ditolak dan kemudian

mengisolasikan diri dari pergaulan.

b. Kekuatan (power)

Merupakan kemampuan untuk mempengaruhi dan mengontrol diri sendiri

serta orang lain. Pada situasi tertentu kebutuhan ini ditunjukkan dengan

adanya penghargaan dan penghormatan dari orang lain. Pengaruh dan

wibawa juga merupakan hal-hal yang menunjukkan adanya aspek ini pada

individu. Individu yang memiliki aspek kemampuan ini biasanya akan

menunjukkan sifat-sifat asertif danexplanatory actionsyang tinggi.

c. Kompetensi (competence)

Merupakanperformance dan penampilan yang prima dalam upaya meraih

ditunjukkan dengan adanya skill atau kemampuan yang merata di segala

usia. Dengan adanya kemampuan yang cukup, individu akan merasa yakin

untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Individu dengan kompetensi yang

bagus akan merasa setiap orang akan memberi dukungan padanya.

Individu akan merasa mampu mengatasi setiap masalah yang dihadapinya

serta mampu menghadapi lingkungannya.

d. Kebajikan (virtue)

Yaitu adanya kesesuaian diri dengan moral dan standar etik yang berlaku

di lingkungan. Kesesuaian diri dengan moral dan standar etik diadaptasi

individu dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh para orangtua.

Permasalahan nilai ini pada dasarnya berkisar pada persoalan benar dan

salah. Bahasan tentang kebajikan juga tidak akan lepas dari segala macam

pembicaraan mengenai peraturan dan norma di dalam masyarakat, juga

hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, serta ketaatan

dalam beragama.

Kesimpulan dari uraian yang telah dikemukakan di atas adalah bahwa

harga diri meliputi aspek keberartian, kekuatan, kompetensi, dan kebajikan

yang dimiliki serta dalam hubungannya dengan lingkungan. Yakin akan segala

kemampuan yang dimiliki akan mendorong perasaan bernilai bagi individu,

sedangkan individu yang tidak yakin akan kemampuan yang dimiliki akan

mendorong perasaan tidak bernilai. Aspek-aspek inilah yang digunakan

23

Dokumen terkait