BAB II LANDASAN TEORI 13
B. Landasan Teori
8. Harga
a. Definisi harga menurut para ahli :
1) Kotler (2002,h.518) bahwa harga ada di sekeliling kita.Anda membayar sewa untuk apartemen, uang kuliah dan uang jasa untuk dokter atau dokter gigi. Perusahaan penerbangan, kereta api, taxi dan bisa mengenakan ongkos perusahaan pelayanan iimum mengenakan tarif; dan bank mengenakan bunga atas uang yang anda pinjam.
2) Basu Swastha (1998,h.24) pengertian harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan
untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya."
3) Djasmin Saladin (2001,h.638) mendefinisikan bahwa harga merupakan salat tukar yang digunakan untuk mendapatkan produk atau jasa dengan sejumlah uang.
4) Tjiptono (2002,h.6) mendefinisikan bahwa harga adalah hukurn moneter yang dapat ditukarkan untuk mendapatkan hak atas suatu barang atau pemakaian layanan jasa.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa harga adalah jumlah uang yang di tawarkan ataupun yang dikeluarkan, guna mendapatkan barang atau jasa yang diinginkan. Dalam konteks penelitian ini, harga menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan bagi nilai perusahaan. Seperti telah dijelaskan pada subbab sebelumnya, bahwa nilai perusahaan tercermin dari harga sahamnya.
Harga saham yang tinggi memiliki arti bahwa investor harus mengeluarkan sejumlah uang untuk berinvestasi pada perusahaan tertentu. Sebagai timbal balik atas keluarnya sejumlah uang tersebut maka para investor berhak dinyatakan juga sebagai pemilik perusahaan tersebut dan berhak pula atas hak-hak pemilik perusahaan yang sudah tercatat dalam aturan perusahaan yang berlaku, contohnya mendapatkan deviden.
Semakin besar pemasukan perusahaan dalam kategori investasi, maka terlihat ada sebuah nilai lain yang dimiliki oleh
39
perusahaan tersebut (bukan uang). Nilai tersebut adalah nilai kepercayaan yang dimiliki para investor dalam memandang sebuah perusahaan. Semakin besar kepercayaan investor maka akan semakin besar pula penghargaan yang akan diberikan oleh investor untuk perusahaan. Penghargaan dalam hal ini adalah semakin meningkatnya harga saham di pasar.
b. Penetapan Harga Dalam Islam
Setelah perpindahan (hijrah) Rasulullah SAW ke Madinah, maka beliau menjadi pengawas pasar (muhtasib). Pada saat itu, mekanisme pasar sangat dihargai. Salah satu buktinya yaitu Rasulullah SAW menolak untuk membuat kebijakan dalam penetapan harga, pada saat itu harga sedang naik karena dorongan permintaan dan penawaran yang dialami. Bukti autentik tentang hal ini adalah suatu hadis yang diriwayatkan oleh enam imam hadis
(kecuali Imam Nasa’i) (Fauzia, 2014, h.201-204). Dalam hadis tersebut diriwayatkan sebagai berikut :
ىهس و هيهع للها ىهص للها لىسر لبقف .َبُن ْرِعسف ُرعِسنا َلاغ ِللها لىسر بي ُسبُّنا لبق ٌذحأ سينو للها ىَقنأ ٌْأ اىُجرلأ يَإ و قزاَرنا طسببنا ُضِببقنا قنبخنا ُرِعسًنا ىه للها ٌَإ" يُُبنبطُي ىكُي "لبي لاو ٍود يف ٍتًهْظًب
Nabi tidak menetapkan harga jual, dengan alasan bahwa dengan menetapkan harga akan mengakibatkan kezaliman, sedangkan zalim adalah haram. Karena jika harga yang ditetapkan
terlalu mahal, maka akan menzalimi pembeli dan jika harga yang ditetapkan terlalu rendah, maka akan menzalimi penjual. Hukum asal yaitu tidak ada penetapan harga (al-tas’ir), dan ini merupakan
kesepakatan para ahli fikih. Imam Hambali dan Imam Syafi’i
melarang untuk menetapkan harga karena akan menyusahkan masyarakat sedangkan Imam Maliki dan Hanafi memperbolehkan penetapan harga untuk barang-barang sekunder
Mekanisme penentuan harga dalam islam sesuai dengan Maqashid al-Syariah, yaitu merealisasikan kemaslahatan dan menghindari kerusakan di antara manusia. Seandainya Rasulullah saat itu langsung menetapkan harga, maka akan kontradiktif dengan mekanisme pasar. Akan tetapi pada situasi tertentu, dengan dalih Maqashid al-Syariah, penentuan harga menjadi suatu keharusan dengan alasan menegakkan kemaslahatan manusia dengan memerangi distorsi pasar (memerangi mafsadah atau kerusakan yang terjadi di lapangan) (Muksinin dalam situs Pustaka Media Syariah, 2015)
Harga hanya terjadi pada akad, yakni sesuatu yang direlakan dalam akad, baik lebih sedikit, lebih besar, atau sama dengan nilai barang. Biasanya, harga dijadikan penukar barang yang diridai oleh kedua pihak yang akad (Syafei, 2000,h.87). Hal ini menjelaskan bahwa harga merupakan sesuatu kesepakatan mengenai transaksi jual beli barang /jasa di mana kesepakatan tersebut diridhai oleh kedua belah pihak. Harga tersebut haruslah
41
direlakan oleh kedua belah pihak dalam akad, baik lebih sedikit, lebih besar, atau sama dengan nilai barang/ jasa yang ditawarkan oleh pihak penjual kepada pihak pembeli (Nuryadin, 2007,h.93).
Akan tetapi apabila para pedagang sudah menaikkan harga di atas batas kewajaran, mereka itu telah berbuat zalim dan sangat membahayakan umat manusia, maka seorang penguasa (Pemerintah) harus campur tangan dalam menangani persoalan tersebut dengan cara menetapkan harga standar. Dengan maksud untuk melindungi hak-hak milik orang lain., mencegah terjadinya penimbunan barang dan menghindari dari kecurangan para pedagang. Inilah yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Kattab (Hakim, 2012,h.169-170).
Konsep mekanisme pasar dalam Islam dibangun atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Ar-Ridha, yakni segala transaksi yang dilakukan haruslah atas dasar kerelaan antara masing-masing pihak (freedom contract). Hal ini sesuai dengan al-Qur’an Surat an- Nisa’
ayat 29 :
ٍضاَزَت ْهَع ًةَراَجِت َنىُكَت ْنَأ اَلِّإ ِلِطاَبْلّاِب ْمُكَىْيَب ْمُكَلّاَىْمَأ اىُلُكْأَت اَلّ اىُىَمآ َهيِذَلّا اَهُيَأ اَي اًميِحَر ْمُكِب َناَك َهَللّا َنِإ ۚ ْمُكَسُفْوَأ اىُلُتْقَت اَلَّو ۚ ْمُكْىِم
2) Berdasarkan persaingan sehat (fair competition). Mekanisme pasar akan terhambat bekerja jika terjadi penimbunan (ihtikar) atau monopoli. Monopoli setiap
barang yang penahanannya akan membahayakan konsumen atau orang banyak.
3) Kejujuran (honesty), kejujuran merupakan pilar yang sangat penting dalam Islam, sebab kejujuran adalah nama lain dari kebenaran itu sendiri. Islam melarang tegas melakukan kebohongan dan penipuan dalam bentuk apapun. Sebab, nilai kebenaran ini akan berdampak langsung kepada para pihak yang melakukan transaksi dalam perdagangan dan masyarakat secara luas.
4) Keterbukaan (transparancy) serta keadilan (justice).
Pelaksanaan prinsip ini adalah transaksi yang dilakukan dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan kehendak dan keadaan yang sesungguhnya.
c. Penetapan Harga Saham
Harga saham bergerak mengambang bebas, besaran nilai saham tergantung penawaran dan permintaan, prinsip ekonomi berlaku disini apabila kebutuhan akan saham itu tinggi sementara saham yang beredar hanya sedikit yang dilepas dipasaran maka nilai saham akan naik. Tetapi disaat permintaan saham rendah sementara saham banyak dilempar ke publik maka nilai saham tadi akan jatuh atau anjlok, tidak ada yang bisa menjamin bahwa nilai saham akan naik dikemudian hari atau malah turun.
Harga saham ditentukan oleh pelaku pasar berdasarkan penawaran dan permintaan saham yang relevan di pasar modal. Hal
43
lain yang akan mempengaruhi pasokan dan permintaan saham seperti ekspektasi atau harapan di masa depan perusahaan serta masalah masalah kinerja yang berkaitan dengan perusahaan yang bersangkutan apakah kedepan semakin baik atau semakin buruk. Sehingga para pelaku market menimbulkan spekulasi yang bersifat sementara. Penentuan harga pasar ini dapat pula, dilakukan dengan dua pendekatan (royalcharter dalam Ekonomi Indonesia, 2013) : a) Hipotesis Pasar Efisien
Pendekatan ini menunjukkan bahwa harga sebuah saham ekuitas adalah harga yang efisien dan akan cenderung mengikuti pergerakan ditentukan secara acak dengan munculnya berita (yang acak) dari waktu ke waktu.
b) Perilaku Keuangan
Pendekatan ini menyakini bahwa ada kalanya pengambil kebijakan membuat keputusan irasional, terutama yang berkaitan dengan pembelian dan penjualan saham didasarkan pada ketakutan dan persepsi yang salah dari suatu waktu. Perdagangan saham irrasional sering dapat menciptakan harga saham yang menyimpang dari harga rasional, yang didasarkan pada harga valuasi fundamental.
Berdasarkan hal di atas menunjukan bahwa, konsep penetapan harga dalam pasar modal adalah sesuai dengan konsep penetapan harga dalam Islam, yakni memuat konsep rela dan keterbukaan. Keterbukaan atau transparency yang
dimaksudkan yakni saat proses trading, secara gambling terlihat kenaikan dan penurunan harga saham pada setiap detiknya. Jadi, para pembeli dapat langsung menentukan pilihan pembeliannya pada perusahaan yang sudah terdaftar. Dan kerelaan yakni, dengan memilih sendiri menunjukan bahwa setiap pembeli harus menanggung setiap resiko yang akan dihadapi, begitu juga penjual atau dalam hal ini perusahaan, secara sederhana perusahaan melemparkan suatu harga ke bursa, dan secara rela membiarkan investor memberikan penghargaan kepada perusahaan dengan beruapa tinggi rendahnya harga.