• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. KONSTRUKSI UPACARA SIPAHA LIMA PADA

4.4. Pelaksanaan Upacara Sipaha Lima

4.4.2. Hari Kedua atau Pelaksanaan Upacara Sipaha Lima

Setelah acara parsahadaton dilakukan pada hari pertama maka hari kedua tibalah hari pelaksanaan Upacara Sipaha Lima tersebut. Pada hari kedua ini umat Parmalim sudah bersiap-siap mulai dari pagi hari, mereka sudah mengambil pekerjaan masing-masing secara tertib tanpa harus diatur oleh Ihutan maupun Ulu Punguan, pada perayaan Upacara Sipaha Lima ini pemuda-pemudi memiliki peran yang sangat penting karena pemuda-pemudi masih memiliki tenaga yang lebih banyak dibandingkan dengan para kaum bapak dan kaum ibu yang harus repot dalam mengurus anak-anak mereka yang masih kecil, tidak ketinggalan juga umat yang baru saja berumah tangga juga diharapkan perannya.

Seluruh umat turut berpartisipasi dalam persiapan Upacara tersebut mulai dari mempersiapkan bahan-bahan makanan untuk seluruh umat yang hadir serta rombongan lain yang turut hadir, mempersiapkan hewan-hewan untuk pelean maupun untuk dinikmati oleh seluruh peserta Upacara yang hadir, pemotongan hewan-hewan tersebut dilakuka oleh para kaum laki-laki, sementara itu sebahagian kaum laki-laki ada yang bersiap-siap di lapangan Bale Partonggoan untuk mempersiapkan Longgatan, Gondang Sabangunan, bane-Bane untuk Borotan kerbau, Bane-Bane kerbau, menancapkan Bambu Pelean dimana ada kepercayaan bahwa malaikat Tuhan atau roh akan berdiam di Bambu tersebut selama Upacara berlangsung, dan persiapan lainnya.

Seluruh peserta yang hadir bekerja untuk segala persiapan Upacara Sipaha Lima, para wanita juga turut membantu persiapan tersebut mulai dari memasak makanan maupun pelean, setelah makanan selesai dimasak maka seluruh peserta harus sarapan terlebih dahulu terutama peserta yang berasal dari luar Toba

Samosir dan peserta yang sudah berkumpul dari pagi hari, sikap mereka yang tertib dan tenang membuat mereka semua teratur dan tidak ada yang berebut makanan maupun minuman, setiap mau makan dan setelah makan mereka selalu mengawali dengan doa dan menutupnya dengan doa, seperti yang telah diucapkan oleh Raja Nasiak Bagi yang memberi berkat bagi penganutnya yaitu “ inilah yang kamu makan, makanan yang telah kusediakan dalam rumah ini,se iya sekatalah kamu membagi-bagikannya sebab ini keusediakan agar kelak kamu tidak berkekurangan ”.

Seluruh peserta telah selesai makan dan tibalah waktunya untuk para peserta diluar Parmalim di undang untuk makan bersama di rumah Ihutan, peserta yang diijinkan untuk makan bersama ini hanyalah peserta diluar Parmalim tetapi telah melapor terlebih dahulu kepada Ihutan, jika ada peserta yang dari luar Parmalim datang dan ikut makan bersama maka mereka menganggap peserta tersebut adalah penyusup dan peserta tersebut tidak akan dihargai. Parmalim sangat menghargai peserta di luar mereka asalkan peserta tersebut juga menghargai mereka, salah satunya yaitu dengan meminta ijin terlebih dahulu untuk hadir pada saat Upacara Sipaha Lima tersebut, sama seperti peserta Parmalim lainnya didalam memulai acara makan bersama selalu diawali dengan doa menurut Parmalim sendiri dan dipimpin oleh Ihutan dan diakhiri pula dengan doa, pemudi Parmalim pun melayani peserta dengan sopan dan ramah, setelah selesai makan seluruh peserta pun keluar dengan tertib dan kemudian beranjak menuju tempat yang telah disiapkan untuk para peserta yang ingin meliput Upacara tersebut.

Plastik berwarna biru yang lebar pun telah dibentangkan dan para pemusik pun telah siap menempati tempatnya masing-masing sesuai dengan kemampuannya di dalam memainkan alat musik tersebut dan seluruh peserta pun telah bersiap-siap untuk turun ke lapangan Bale Partonggoan. Perlahan-lahan dan secara teratur seluruh umat pun turun ke lapangan Bale Partonggoan dan mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti Upacara Sipaha Lima, seluruh umat telah duduk rapi di tempat yang telah disiapkan, tidak lama kemudian rombongan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan Bupati Toba Samosir pun datang dan masuk ke Lapangan Bale Partonggoan, untuk menghormati para tamu tersebut maka Ihutan yang telah berdiri di belakang Longgatan memberikan penghormatan kepada tamu dengan cara manortor dan diiringi oleh gondang Sabangunan, acara penghormatan pun dilakukan dengan pemberian Ulos dimana Ulos sebagai lambang pengikat persaudaraan diantara orang tua dan anak-anaknya serta sebagai tanda penghormatan terhadap orang lain. Setelah pemberian Ulos dilakukan maka dilanjutkan dengan penyampaian kata pengantar dari Bapak yang mewakili tamu dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Upacara Sipaha Lima pun sudah dimulai yang diawali dengan penyiapan Pelean di Bale Parpitaan yang diikuti oleh Ihutan dan seluruh Ulu Punguan beserta Istri dari Ihutan dan Ulu Punguan. Tampak perbedaan antara wanita yang menjadi istri Ihutan, Ulu Punguan dengan wanita yang berasal dari ruas, Istri dari Ihutan maupun Ulu Punguan berdiri di depan Bale Parpitaan dan memakai selendang Ulos serta selendang warna putih polos, sedangkan untuk wanita dari ruas hanya memakai Ulos saja sebagai selendang. Setelah pelean dipersiapkan dari Bale Parpitaan selanjutnya pelean dimasukkan ke dalam Longgatan yang di bawa

oleh Ulu Punguan dari Bale Parpitaan dan kemudian dimasukkan oleh Ihutan ke dalam Longgatan dengan menggunakan tangga yang telah dipersiapkan.

Pemberian Pelean hanya dilakukan oleh Ulu Punguan yang merupakan wakil dari seluruh umat Parmalim dan kemudian dimasukkan oleh Ihutan, pertama pelean harus di sampaikan kedalam Mombang atau tempat pelean yang berada di tengah, hal ini dilakukan sebab inti dari Upacara Sipaha Lima adalah pemberian Pelean kepada Parbanua Ginjang atau Debata Mulajadi Na Bolon sehingga pelean yang diletakkan di dalam mombang merupakan pelean yang akan disampaikan kepada Debata Mulajadi Na Bolon, pelean yang diberikan kepada Parbanua Ginjang berupa manuk nabontar, kemudian pelean di berikan ke longgatan yang sebelah kanan yaitu pelean untuk Parbanua tonga yaitu ayam yang berwarna hitam, kemerah-merahan dan agak kekuning-kuningan, selanjutnya pelean diberikan ke Longgatan yang sebelah kiri yaitu pelean untuk pendiri Ugamo Malim yaitu ayam yang berwarna merah kehitam-hitaman.

Setelah penyampaian pelean ke dalam Longgatan kemudian martonggo atau doa pun dipanjatkan kepada Debata Mulajadi Na Bolon dimana dalam doa tersebut disampaikan ungkapan syukur dan pengampunan dosa serta meminta berkat untuk kehidupan yang akan datang. Kemudian acara dilanjutkan dengan acara mengeluarkan Horbo Pelean dari kandangnya dan menambatkannya ke Borotan yang telah disiapkan, pengambilan Horbo Pelean dari kandang di iringi dengan Gondang dan tor-tor untuk membujuk kerbau agar mau di tambatkan ke Borotan, pengambilan kerbau ini dilakukan oleh Parhobas dan semuanya laki-laki, horbo pelean yang di tambatkan di Borotan sudah di hiasi dengan mare-mare, pengikatan horbo ke Borotan haruslah dekat ke Borotan agar Horbo Pelean tidak mudah lepas. Acara pengikatan horbo, pelepasan horbo dari Borotan sampai pemotongan horbo pelean disebut dengan mangalahat horbo.

Acara selanjutnya yaitu penyampaian tonggo-tonggo atau doa yang terangkum dalam 10 rangkaian syahadat diantaranya tonggo-tonggo tersebut di panjatkan kepada :

- Raja Mulajadi Na Bolon yaitu Tuhan pencipta langit dan bumi - Debata Na Toru

- Batara Guru - Debata Sori - Bala Bulan

- Siboru Deak Parujar yang memberi sumber pengetahuan dan keturunan

- Naga Panoha Ni Aji yaitu penguasa di dalam tanah - Saniang Naga Laut yaitu penguasa air dan kesuburan

- Raja Uti yang diutus Tuhan sebagai perantara pertama bagi manusia - Tuhan Simarimbulu Bosi

- Raja-raja dan semua Nabi yang diutus Tuhan kepada Bangsa-bangsa termasuk Raja Sisingamangaraja yang diutus di tanah Batak

- Raja Sisingamangaraja yaitu Raja yang pernah bertahta di Bakkara - Raja Nasiak Bagi yang dianggap sebagai penyamaran atau inkarnasi

Raja Sisingamangaraja

Setelah penyampain tonggo-tonggo tersebut kemudian dilanjutkan dengan peletakan beras di kepala para wanita yang turut manortor, kemudian pemercikan aek pangurasan yang terbuat dari jeruk purut yang dicampur dengan air di dalam mangkuk Pangurasan dan dipercikkan dengan menggunakan Bane-Bane Pangurasan, wanita yang manortor tidak ditentukan tetapi hanya karena keinginan hati mereka saja, wanita yang manortor tidak ditentukan jumlahnya dan mereka disebut sebagai paniaran atau wanita yang lebih diutamakan. Selanjutnya Ihutan menerima gondang pasahaton untuk menyampaikan pisau kepada parhobas untuk memotong Horbo Pelean dari Borotan untuk dibawa ke tempat pemotongan, sebelum pemotongan Horbo pelean dilakukan maka terlebih dahulu Horbo Pelean di kelilingi oleh Parhobas sebanyak tiga kali sambil diiringi dengan tor-tor dan gondang serta di doakan agar Horbo Pelean mau di jadikan sebagai Pelean yang hidup.

Gambar 7. Parhobas sedang mengikat Horbo Pelean untuk di bawa ke tempat pemotongan Horbo

Sementara Horbo Pelean di potong dan dimasak di Bale Parhobasan maka seluruh pengikut Ugamo Malim manortor diiringi oleh Gondang sabangunan yang mengeluarkan bunyian yang sangat lembut dan penuh kasih yang menandakan sebagai persembahan yang penuh kesakralan, pada saat Manortor seluruh wanita memegang demban sebanyak tiga lembar lengkap dengan kapur sirih dan pinang, demban ini disebut demban na mauliate, pada adat Batak demban juga dapat menandakan penyampaian rasa terima kasih seseorang kepada orang lain, demban dapat dilengkapi dengan kapur sirih, pinang, maupun uang dan beras yang diletakkan diatas piring. Gondang yang mengalun dengan lembut membuat Upacara Persembahan menjadi Khusuk untuk menghadap dan berserah diri kepada yang Maha Kuasa, gondang yang di gabungkan dengan tor-tor yang lembut menyampaikan persembahan kepada Yang Maha Kuasa,

persembahan dihantarkan melalui asap dupa yang mengeluarkan aroma menyelimuti seluruh Upacara Pameleon yaitu Upacara Sipaha Lima.

Tor-tor yang dilakukan pada saat ini dinamakan Tor-tor Na Torop yang terbagi dalam tiga sesi yaitu bagian Ina, bagian Ama, dan bagian Naposo, tor-tor Na Torop ini adalah sebagai perwujudan turut terima kasih atas pelaksanaan pesta Pelean, setelah tor-tor Na Torop ini dilaksanakan kemudian dilanjutkan kembali dengan penyampaian patik dan tona dari Ihutan Parmalim dimana patik dan tona ini berisi tentang poda untuk seluruh pengikut Ugamo Malim di dalam melaksanakan segala kegiatan dalam kehidupan sehari-hari agar selalu mencerminkan ajaran Ugamo Malim di dalam bertindak dan berperilaku, serta poda untuk tetap mempertahankan kepercayaan umat Parmalim ditengah berbagai tantangan yang mereka hadapi didalam kehidupan mereka.

Gambar 8. Bagian Ina Parmalim mendengarkan Patik yang disampaikan oleh Ihutan yang kemudian akan dilanjutkan dengan tor-tor

Pada saat pemotongan Horbo Pelean ada tehnik tersendiri yaitu hewan menghadap barat, kepala menghadap selatan dan ekornya menghadap utara, pisau

yang digunakan haruslah yang sangat tajam karena cara memotong Horbo Pelean tidak bisa dilakukan secara sembarangan, leher Horbo Pelean harus satu kali pemotongan tidak boleh dilakukan secara berulang-ulang sehingga tidak menyakiti hewan yang akan dipotong, Horbo Pelean yang di potong tadi tidak dapat dilakukan disembarang tempat harus dilakukan pada tempat yang telah disediakan. Tempat pemotongan hewan Pelean dibuat khusus dan dinamakan dengan Batu Siungkapon dan memiliki lubang dengan kedalaman lubang sekitar 2m ke dalam tanah, sehingga darah dari hewan yang dipotong tersebut akan dialirkan jauh ke dalam lubang tersebut. Darah yang dialirkan kedalam lubang tersebut merupakan persembahan kepada Debata Banua Toru, sehingga darah tersebut tidak boleh di kotori ataupun di jilat oleh anjing. Jika Parmalim memotong hewan apapun untuk dimakan maka darahnya harus di tanam sedalam mungkin sehingga tidak dikorek oleh anjing.

Gambar 9. Pemotongan Horbo Pelean di tempat pemotongan

Upacara Sipaha Lima masih tetap berlanjut di lapangan Bale Partonggoan dan Horbo Pelean pun di persiapkan di Bale Parhobasan oleh seluruh Parhobas,

setelah penyampaian patik kepada seluruh umat maka acara di lapangan Bale Partonggoan pun hampir selesai yaitu ditandai dengan pengambilan pelean dari Longgatan untuk dibawa kembali ke dalam Bale Parpitaan. Kemudian seluruh umat pun membubarkan diri secara tertib dan mulai mengambil tempat masing-masing, ada yang duduk di sekitar Bale dan ada yang pergi ke warung untuk minum kopi atau teh.

Setelah Horbo Pelean siap dimasak maka Horbo Pelean pun segera dibawa masuk ke dalam Bale Partonggoan untuk kemudian dipersembahkan kembali kepada Debata Mulajadi Na Bolon, Horbo pelean tidaklah seluruhnya dijadikan sebagai pelean tetapi hanya beberapa bagian saja yang dijadikan pelean yaitu Ekor, Kepala, dada, jantung, hati, dan lidah. Setelah Pelean tersebut selesai dipersiapkan di dalam Bale Partonggoan maka seluruh umat Parmalim pun mulai bersiap-siap dan memasuki Bale Partonggoan dengan tertib dan mengambil tempat duduk masing-masing, Horbo Pelean pun telah disusun rapi di altar dan kemudian Ihutan memasuki Bale Partonggoan kemudian Pelean yang telah dipersiapkan di hantarkan ke ruangan bagian atas yang ada di dalam Bale Partonggoan tersebut untuk di doakan oleh Ihutan yang tetap berada di lantai bagian atas.

Gambar 10. Horbo Pelean yang telah dipersiapkan di dalam Bale Partonggoan

Penyampaian Pelean kepada Debata Mulajadi Na Bolon telah disampaikan kemudian Ihutan pun turun dan berdiri di hadapan seluruh umat yang ada di dalam Bale Partonggoan tersebut. Doa pun dipanjatkan dengan iringan dari Gondang Sabangunan kemudian diakhiri dengan doa dan memercikkan aek Pangurasan yang di percikkan oleh Ulu Punguan yang turut mendampingi Ihutan. Lalu seluruh umat pun keluar dari dalam Bale Partonggoan tersebut dan mulai membereskan halaman Bale Partonggoan, sebagai tanda Upacara Sipaha Lima telah selesai, malam harinya di lanjutkan kembali dengan acara bebas yang laksanakan oleh pemuda dan pemudi Parmalim. Pelean yang telah dipersembahkan tadi akan diberikan kepada umat untuk dimakan kembali serta Demban yang dipakai pada saat manortor tadi juga boleh untuk dimakan oleh umat Parmalim.

Dokumen terkait