• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PARMALIM DAN KEHIDUPANNYA

3.3.3. Solidaritas di Dalam Komunitas Parmalim

Dalam segala kehidupan manusia, manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain, ketergantungan antara satu individu kepada individu lainnya membuat

manusia sangat dibutuhkan dan membutuhkan, dengan adanya saling ketergantungan ini manusia disebut sebagai makhluk social, sehingga rasa slodaritas diantara sesame manusia pun harus terjaga. Rasa solidaritas diantara sesame masyarakat dapat terjalin jika masyarakat memegang prinsip timbal balik seperti yang ada pada masyarakat Trobriand

Menurut Malinowsky masyarakat Trobriand masih memegang system saling tukar-menukar jasa tenaga dan benda dalam berbagai bidang produksi dan ekonomi dan dalam penyelenggaraan upacara-upacara keagamaan, maupun pertukaran harta mas kawin, menjadi pengikat dan penggerak dalam masyarakat. System memberi sumbangan yang mengundang kewajiban bagi penerima sumbangan untuk membalasnya merupakan prinsip dalam kehidupan masyarakat kecil atau prinsip timbale balik, dimana di dalam komunitas masyarakat kecil di seluruh dunia saling tolong menolong, system Bantu membantu tampak sangat menonjol ( Koentjaraningrat 1997; 151 )

Masyarakat pengikut Ugamo Malim yang masih memegang teguh adapt istiadat serta budaya asli suku batak tetap memiliki rasa solidaritas yang tinggi diantara mereka, hal ini tampak pada kepedulian mereka terhadap sesame pengikut Ugamo yang mengalami duka, serta kepada pengikut Ugamo yang mulai meninggalkan ajaran Ugamo Malim, jika ada ruas Parmalim yang jarang kelihatan pada setiap peribadahan dan upacara keagamaan, maka pengurus Parmalim atau ruas Parmalim yang tinggal berdekatan atau masih dekat dengan ruas tersebut maka mereka akan mengingatkan ruas tersebut.

Saat ini jumlah pengikut Parmalim sekitar 1500 kepala keluarga ( berdasarkan hasil wawancara bersama Ihutan Ugamo Malim ) dan tersebar di

daerah-daerah yang ada di Nusantara bahkan pengikutnya saat ini juga telah ada di luar negeri, tetapi daerah Sumatera Utara masih menjadi tempat komunitas Parmalim yang paling banyak di huni oleh pengikut Parmalim, tempat lainnya yang di huni oleh Parmalim yaitu di daerah Batam, Jawa, dan Irian Jaya, saat ini komunitas Parmalim yang telah memiliki rumah Parsantian yaitu di Batam dan Jawa yaitu di Jakarta. Sementara untuk di Sumatera Utara khususnya kota Medan dimana mayoritas sukunya yaitu suku batak tetapi sudah menganut agama Kristen dan Islam dan Parmalim masih kesulitan untuk mendirikan rumah Parsantian.

Kesulitan di dalam mendirikan rumah Parsantian tidak membuat semangat para pengikut Ugamo ini menjadi longgar, mereka tetap menjalani peribadatan setiap hari sabtu walaupun dilakukan di rumah Parmalim, tetapi semangat dan kebersamaan mereka tetap ada. Pada kepercayaan Ugamo Malim ada 2 perayaan besar dalam Ugamo mereka yaitu Sipaha Sada dan Sipaha Lima, pada setiap perayaan Upacara mereka merayakannya di Bale Partonggoan yaitu di Bale Pasogi Parmalim di Desa Pardomuan Nauli Hutatinggi Laguboti. Pada perayaan ini mereka harus berkumpul dan merayakannya secara bersama-sama.

Pada perayaan ini rasa solidaritas dan kesatuan diantara komunitas Parmalim terlihat dengan jelas, dimana di dalam sebuah komunitas terdapat rasa kesatuan wilayah, kesatuan adapt-istiadat, rasa identitas komunitas, dan rasa loyalitas terhadap komunitas sendiri yang merupakan cirri-ciri dari suatu komunitas. ( Koentjaraningrat 2000; 148 )

Awal dari persiapan Upacara hingga akhir Upacara Parmalim tetap menjaga keutuhan adapt yang mereka pegang selama ini, rasa gotong royong diantara mereka pun terjaga dengan baik, di dalam setiap pembagian tugas untuk

mendukung jalannya Upacara Keagamaan mereka tidak perlu diatur oleh panitia Upacara, tetapi mereka sudah mengetahui apa yang harus mereka kerjakan masing-masing. Upacara telah selesai dan seluruh Parmalim pun bersiap-siap untuk kembali ketempat masing-masing, tetapi sebelum kembali ke tempatnnya masing-masing mereka akan terlebih dahulu membereskan seluruh kawasan Bale Partonggoan dan seluruh peralatan yang mereka gunakan selama perayaan Upacara tersebut.

Pada komunitas Parmalim walaupun mereka tidak berada di satu daerah tetapi rasa solidaritas dan prinsip timbal balik pun masih tampak, baik pada saat perayaan upacara keagamaan maupun di dalam kehidupan masyarakat Ugamo Malim yang berada pada satu wilayah, gotong royong baik dalam bidang materi, maupun rohani mereka tetap saling memberikan dukungan,

Malinowsky ( dalam Koentjaraningrat 1997; 151 ) mengatakan prinsip timbal balik yang ada pada masyarakat Trobriand yaitu system tukar-menukar jasa tenaga dan benda dalam berbagai bidang produksi dan ekonomi dan dalam penyelenggaraan upacara-upacara keagamaa, maupun pertukaran harta mas kawin, menjadi pengikat dan penggerak dalam masyarakat. Sistem memberi sumbangan yang mengundang kewajiban bagi penerima sumbangan untuk membalasnya, merupakan prinsip dalam kehidupan masyarakat kecil.

Komunitas Parmalim yang tidak terlepas dari kehidupan yang diatur oleh adat istiadat asli batak membuat mereka selalu hidup dalam kedamaian dan keharmonisan diantara sesama manusia, maka Parmalim selalu mengharapkan kedamaian tersebut tetap terjaga dengan utuh, semua itu bisa tercipta jika didukung dengan sikap sopan santun dan memahami adat suku sendiri yang

menjadi pedoman untuk setiap langkah manusia, sifat masyarakat desa yang sopan santun, gorong royong, saling mengasihi dan tahu adat selalu dibawa Parmalim kemana pun mereka pergi, karena sifat ini sudah diajarkan oleh orang tua sejak seseorang itu lahir dan mulai mengenal kehidupannya.

Dalam masyarakat Nias para penduduk desa erat sangkut pautnya dengan cita-cita dan keinginan mereka. Cita-cita mereka itu antara lain untuk mencapai harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat atau sosia dan memelihara kedamaian. Harmonisasi kehidupan bermasyarakat itu biasanya digairahkan oleh tata sopan santun perilaku para penduduk desa ( maksud baik, saling Bantu, kerja sama, budi pekerti yang baik, tahu adapt ), sedangkan damai dapat dicapai bila mereka memelihara kehidupan aman, sentosa dan saling membela. ( Bambowo laiya 1983; 83 ).

Sifat tradisional inilah yang mampu membuat Parmalim dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar mereka dan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka dimana pun mereka berada. Selain diantara para pengikut Ugamo Malim, keharmonisan pun tetap dijaga dengan masyarakat diluar Ugamo Malim, sehingga dalam pesta adat batak masyarakat selalu mengundang Parmalim untuk menghadiri pesta dan turut berpartisipasi di dalam persiapan pesta tersebut.

Hal inilah yang membuat Parmalim mampu bertahan dan mempertahankan kepercayaan mereka ditengah-tengah kepercayaan agama lain yang sudah diakui oleh Negara, serta pelaksanaan patik, uhum, dan poda di dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu Parmalim untuk bertahan dan menjaga kesatuan diantara mereka.

Dokumen terkait