Yang Terhormat Saudara Pimpinan R'apat,
Saudara-saudara Anggota DPR Yang Terhormat, Serta Hadirin yang berbahagia
Assalamu'alaikum Wr. Wb., Salam sejahtera bagi kita semua
Marilah kita panjatkan puji dan syukur l<ehadirat Allah subhanahu wata'ala, karena atas ridho dan perkenanNya jualah kita semua berada dalam keadaan sehat walafiat · dapat mengikuti Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) pagi hari yang indah ini.
Sidang Dewan Yang Kami Muliakan,
Pada kesempatan ini ijinkanlah kami, menyampaikan penjel'asan para pengusul Rancangan Undang-Undang tentan Likuidasi Bank.
Sektor perbankan mempunyai peranan yang ·san gat strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Sebagai lembaga intermediasi di bidang keuangan, sektor perbankan sekurang-kurangnya mempunyai tiga fungsi pokok.
Pertama, sebagai sumber finansial bagi sector riil, yang diwujudkan dalam bentuk penyaluran kredit. J<edua, berfungsi sebagai lembaga yang diharapkan lebih mampu mengelola resiko, khususnya bagi para pemilik dana, baik masyarakat penyimpan maupun pemerintah. Ketiga, mampu memberikan informasi yang terbaik tentang arah alokasi optimal dari sumberdaya finansial.
Dalam rangka menjalankan ketiga fungsi perbankan tersebut setiap bank
dituntut agar senantiasa dikelola secara benar dan berdasarkan prinsip kehati-hatian. Disamping itu, pemerintah selaku pengendali kebijakan berusaha terus m,ewujudkan suatu tatanan perbankan yang sehat dan kuat.
Sidang Dewan Yang terhormat,
Sejak tahun 1983 sektor perbankan mengalami perjalanan deregulasl.
Pada awalnya deregulasi lebih banyak memberikan dampak perkembangan positif terhadap pembangunan termasuk terhadap perbankan itu sendiri. Namun 'sebagai akibat perkembangan kegiatan bisnis yang cepat dan dinamis, memungkinkan terjadinya permasalahan pada dunia perbankan.
Kenyataan menunjukkan bahwa implementasi dari kebijakan perbankan di lapangan yang semula dinilai memberikan dampak positif justru mendapat keadaan sebaliknya. Krisis ekonomi yang berkepanjangan yang salah satunya disebabkan oleh krisis perbankan, khususnya krisis likuiditas menyangkut soal ratio kecukupan modal /CAR (Capital Adequacy Ratio) perbankan. Krisis perbankan nasional telah memaksa pemerinta.h · untuk mengambil langkah dengan melikuidasi 16 bank pada bulan Nopember 1997 yang menimbulkan respon negatif bagi nasabah. Pada hakikatnya pemerintah ingin melakukan restrukturisasi perbankan sebagai upaya penyehatan perbankan nasional.
Namun langkah likuidasi menjadi pilihan terakhir dalam pembinaan perbankan untuk melindungi hak dan kewajiban bank serta hak dari kreditor.
Bila penyelamatan bank tidak lagi memungkinkan atau akan memberikan beban kepada Pemerintah, Bank Indonesia, dan masyarakat terutama para nasabah/kreditor tidak mungkin mempertahankan, bank yang dianggap sudah sakit, karena itu bank bisa dibubarkan dan selanjutnya dilikuidasi.
Konsekuensi dari pembubaran. dan likuidasi bank menimbulkan masalah baru berkenaan dengan hak dan kewajiban dari masing-masing pihak yang terkait (stakeholders) yang perlu mendapatkan perhatian secara proporsional.
Dengan demikian diperlukan adanya pengaturan untuk menjamin kepastian ' hukum dan memberi rasa adil kepada masing-masing pihak yang memiliki
keterlibatan dengan suatu bank terlikuidasi.
Sldang Dewan Yang terhormat,
Rancangan Undang-Undang tentang Ukuidasi Bank merupakan sebuah rancang bangun hukum perbankan yang dinantikan menjadi sebuah Undang-Undang yang diharapkan dapat menciptakan system perbankan nasional yang efisien dan efektif.
Penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Likuidasl Bank ini dilandasi oleh berbagai dasar pemikiran baik berkenaan dengan soal perundang-undang maupun praktik di dalam perbankan itu sendiri. Rancangan Undang-Undang ini mempunyai keterkaitan dengan UU No.1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, UU No. 23 Tahun 1999 tentan Bank Indonesia, UU No.7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No.1 0 tahun 1998. Peraturan Pemeintah No. 25 tahun 1999 tentang Pencabutan ljin Usaha, Pembubaran, dan Likuidasi Bank dan Keputusan Direksi Bank Indonesia No.32/53/Kep.Dir/1999 tentang Tata Cara Pencabutan ljin, Pembubaran dan Likuidasi Bank, serta Keppres No. 26 tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum dipandang kurang memadai. Sementara itu likuidasi bank merupakan kebutuhan yang tidak dapat dipungkiri, likuidasi bank terjadi disebabkan kelalaian ataupun kurang patuhnya pengurus ·bank, dalam likuidasi juga tampak bahwa posisi nasabah berada pada pihak yang lemah, sedangkan suatu bank telah mendapatkan kenikmatan dari dana simpanan para nasabah. Program penjaminan pemerintah yang ada sekarang ini bukan suatu system perbankan yang . permanen dalam menyelesaikan masalah akibat pencabutan ijin usaha bank.
Sidang Dewan Yang terhormat,
Dalam Rancangan Undang-Undang ini dimuat berbagai pengertian yang terkait dengan likuidasi, penyebab likuidasi, dan·. akibat-akibat hukum dari
' . .
likuidasi. Rancangan Undang-Undang ini terdiri dari 10 Bab dan 38 Pasal.
1. Ketentuan Umum
Ketentuan umum memuat beberapa pengertian umum diantaranya mengenai Bank, Bank Indonesia, kreditor, Nasabah, Pembubaran Bank, Likuidasi Bank, Neraca Akhir Likuidasi.
2. Pembubaran Bank dan Pembentukan Tim Likuidasl
Pada bagian ini diatur mengenai alasan-lasan pembubaran bank yaitu sukarena dari para pemegang saham, pencabutan ijin usaha oleh Bank Indonesia, dan Penetapan Pengadilan. Mekanisme pembentukan Tim likuidasi diatur sesuai dengan alasan pembubaran bank tersebut, demikian juga mengenai mengenai susunan keanggotaan Tim Likuidasi diatur berbdasarkan kewenangan atas dasar alasan pembubaran bank.
3. Fungsi dan Tugas Tim Likuidasi
Tim likuidasi berfungsi untuk menjamin segala ke;Najiban dan hak bank dalam likuidasi yang timbul sebagai akibat pembubaran bank atau putusan pernyataan pailit terhadap bank oleh pengadilan niaga.
Ruanglingkup tugas Tim Likuidasi adalah meliputi pengurusan harta kekayaan bank dalam likuidasi dengan kewenangan untuk mengambil alih pengelolaan bank, mencairkan dan menerima ha~il pencairan harta kekayaan bank, menerima dan pembayaran piutang bank, serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk . mengumpulkan, mengamankan dan menyelamatkan harta kekayaan bank dalam likuidasi.
Pada bab ini juga diatur batas waktu masa tugas Tim Likuidasi yaitu 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 2 (dua) tahun.
4. lnventarisasi dan Penyelidikan Harta Kekayaan Bank Dalam Likuidasl.
Tim Likuidasi melaksanakan inventarisasi harta kekayaan bank dalam likuidasi dengan menggunakan daftar yang diterima dari direksi. Untuk melaksanakan inventarisasi ini Tim likuidasi dapat melakukan penyelidikan
). . -.( .
harta kekayaan bank dalam likuidasi diluar data yang diperoleh dari direksl dan untuk kepetingan tersebut Tim likuidasi dapat menunjuk pihak ketiga.
5. Pengawasan dan Pertanggungjawaban Pengelolaan Bank Dalam Likuidasi
Untuk kepentingan kreditur Tim Likuidasi bertanggung jawab terhadap aset bank dalam likuidasi baik sebagian atau keseluruhan dan dalam melaksanakan tugasnya Tim Likuidasi bertanggung jawab kepada Bank Indonesia.
Bank Indonesia mempunyai kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas Tim Likuidasi.
6. Tanggung Jawab Direksi dan Komisaris Bank Dalam Llkuidasi
Direksi dan Komisaris bank dalam likuidasi setelah terbentuk Tim Likuidasi menjadi non-aktif dan berkewajiban setiap saat membantu memberikan segala data dan informasi yang aiperlukan oleh Tim Likuidasi dan Direksi wajib membuat neraca akhir bank dalam likuidasi.
Apabila pembubaran atau kepailitan bank terjadi karena kesalahan yang dilakukan oleh Direksi dan Komisaris, Direksi dan Komisaris bertanggung jawab secara tanggung renteng apabila nilai harta kekayaan bank dalam likuidasi lebih kecil dari nilai kewajiban terhadap kreditur.
Selain itu juga ditentukan selama masa · likuidasi, Direksi dan Komisaris dilarang melakukan perbuatan hukum yang. mengakibatkan peralihan hak atas kekayaan bank dalam likuidasi.
7. Penyelesaian Kewajiban Bank Dalam Likuidasi
Penyelesaian kewajiban bank dalam likuidasi terhadap semua kreditur bank dalam likuidasi dilakukan dengan cara pencairan harta dan atau penagihan piutang kepada debitur, diikuti dengan pembayaran kewajiban bank kepada krediur dari hasil penjualan dan atau penagihan tersebut.
:'
L
Pembayaran kewajiaban kepada kreditur tadi dilakukan setelah dikurangi dengan biaya tim likuidasi, pajak terutang yang berupa pajak bank dan pajak yang dipungut oleh bank selaku pemotong/pemungut pajak, biaya perkara di pengadilan, biaya lelang yang terutang dan gaji karyawan yang terutang.
Batas waktu pembayaran sebagian atau seluruh piutang nasabah penyimpan paling lama 1 (satu) tahun dan menjadi tanggung jawab Lembaga Penjamin Simpanan untuk melakukan pembayarannya.
8. Ketentuan Sanksi
Ketentuan sanksi ini dibagi menjadi dua yaitu sanksi administrasi berupa pemberhentian anggota tim likuidasi dan sanksi pidana berupa pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda maksimal Rp.
100.000.000.000,00 (seratus milyar).
9. Ketentuan Peralihan
Ketentuan peralihan ini mempunyai peranan yang sangat penting terutama untuk kepentingan nasabah penyimpan bank dalam likuidasi.
Dalam ketentuan peralihan ini ditentukan bahwa sebelum terbentuknya Lembaga Penjamin Simpanan sebagai mana dimaksud . dalam RUU inl, pembayaran terhadap nasabah penyimpanan d~n kreditur laninnya menjadi kewajiban pemerintah.
Ketentuan ini juga secara ekplisit memerintahkan agar Lembaga Penjamin Simpanan segera dibentuk agar pemerintah tidak terbebani kewajiban membayar nasabah penyimban bank dalam likuidasi yang pada akhirnya menjadi beban APBN.
Demikian secara ringkas keterangan pengusul atas Rancangan Undang-Undang tentang Likuidasi Bank sebagai bahan masukan tentang mengapa RUU ini perlu dibuat dan materi-materi apa saja yang dibuat dalam RUU ini. Atas perhatian para Anggota Dewan yang terhormat, saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Jakarta, 4 Juli 2002 Atas Nama--Pengl)~ul,
l
H.M. Thahir Jaimima. SH No. Anggota : A 59/F-PPP
Terima kasih.
Anggota yang terhormat Saudara. H. Mohammad Thahir Saimima, SH.
Berikutnya saya persilahkan Anggota yang terhormat Prof. Dr. Rustam E Tamburaka. Anggota No. A 394. Untuk menjelaskan Rancangan Undang-Undang tentang Panas Bumi.
WAKIL PENGUSUL (PROF. DR. RUSTAM E TAMBURAKA) Pimpinan Sidang yang kami hormati;
Para Anggota Dewan yang terhormat;
Hadirin yang berbahagia.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, Salam sejahtera bagi kita sekalian,
PENJELASAN PENGUSUL USUL INISIATIF ANGGOTA DPR RI MENGENAI RANGANAG UNDANG-UNDANG TENTANG PANAS BUMI
Disampaikan oleh Anggota
:PROF. DR. RUST AM E TAMBURAKA : A-394
Sidang Dewan yang kami hormati;
Pertama-tama kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan limpahan Rakhmat dan Karunia jualah, kita sempat hadir ditempat yang mulia ini dalam rangka Sidang Paripurna Dewan DPR Rl.
Sidang Dewan yang kami hormati;
Adapun penjelasan mengapa perlunya Rancangan Undang-undang Panas Bwni, dapat kami jelaskan sebagai berikut, bahwa cadangan Panas Bwni di Indonesia terbesar di dunia ± 40 % cadangan dunia dan diperkirakan setara dengan 20.000 mega watts tenaga listrik atau 9 milyard barrel minyak bumi namun baru 3 atau 4 % dari pontensi tersebut yang dimanfaatkan untuk tenaga listrik .
Panas Bumi adalah energi terbarukan yang bersih lingkungan dan dapat mengganti energi fosil yang cadangannya semakin menyusut dan dapat mengakibatkan menaikan dampak rumah kaca. Panas Bumi harus dimanfaatkan ditempat ditemukannya untuk pemanfaatan langsung maupun pembangkit tenaga listrik .
Pemanfaatan Panas Bumi sebagai pengganti BBM dapat mengurangi konswnsi BBM domestik sehingga dapat memberi nilai export minyak bumi. Persoalan Panas Bumi disisi hulu seperti pengusahaan Migas padat modal, padat teknologi dan sangat beresiko tinggi, bahwa cadangan Panas Bumi wnwnya terdapat dipeloksok-peloksok daerah tertentu dan manfaatnya berdampak positif pengembangan daerah terpencil yang jauh dari jangkauan suplay BBM.
Sidang yang terhormat;
Adapun struktur Rancangan Undang-Undang Panas Bumi itu terdiri dari . Mukadimah 11 BAB dan 30 Pasal.
Mukadimah menguraikan dasar filosofis aspirasi sosial dan landasan hukum dari Rancangan Undang-undang Panas Bumi visi dan misi dari Rancangan Undang-undang Panas Bumi dicerminkan pada Mukadimah.
Pada BAB I Membuat Ketentuan Umum atau definisi dari istilah-istilah khusus yang dipakai pada Undang-undang Panas Bumi azas dan tujuan jangka panjang dari Undang-undang Panas Bumi diuraikan pada BAB. II
Pada BAB III Memaparkan Kuasa Atas Mineral, kuasa penambangan dan wewenang perusahaan Panas Bumi, sedang pada BAB IV Membuat uraian tentang Wilayah Kerja untuk Kegiatan Usaha Panas Bumi.
Kegaiatan operasional Panas Bumi diuraikan pada BAB V. Demikianjuga pasal-pasal tentang kegiatan usaha Panas Bumi yang dapat dilakukan oleh Badan Usaha berdasarkan ijin usaha Panas Butni dan hak serta kewajiban Badan Usaha.
Pada BAB VI Menguraikan Penerimaan Negara serta Ketentuan tentang Pembagian Menerima Negara antar Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang belum diatur pada Undang-undang No.25 Tahun 1999.
Pada BAB VII Memaparkan Pengawasan Dan Badan Pengawas Yang Dibentuk Untuk Mengawasi Pelaksanaan ijin Usaha Panas Bumi Tentang Perizinanan diuraikan pada BAB VIII.
Pada BAB IX dan BAB X serta XI Memuat Ketentuan Pidana, Ketentuan Peralian dan Ketentuan Penutup.
Pimpinan Sidang,
Para Anggota yang Dewan yang saya hormati;
Seperti pada perusahaan Migas dan gas bumi kegiatan usaha eksplorasi dan exploitasi dan pengembangan Panas Bumi adalah padat biaya, pada teknologi dan beresiko tinggi, bagaimanapun juga pegusaha Panas Bumi sisi hulu dan sisi hilir harus menjadi satu kesatuan usaha terpadu khususnya untuk keperluan pembangkitan tenaga listrik, untuk menanamkan investasi usaha Panas Bumi agar energi Panas Bumi untuk listrik dapat lebih kompetitif, maka dengan belum adanya Undang-Undang untuk kegiatan Panas Bumi dan masih tergantungnya kegiatan usaha pada tingkat Keputusan Presiden, yang dapat merubah sewaktu-waktu mengakibatkan kurangnya kepastian hukum bagi pengusaha sehingga menambah resiko investasi.
Bahwa Perundang-Undangan Panas Bumi sangat diperlukan untuk memberi kepastian hukum kepada pengusaha Panas Bumi, sehingga potensi Panas Bumi di Indonesia yang tersebar di dunia memerlukan peranan vital untuk memenuhi keamanan supplier lebih strategis dapat dikembangkan. Selain itu pengembangan dan pemanfaatan Panas Bumi merupakan kegiatan khusus dan dapat memberikan nilai tambah sebagai penganti energi fosil untuk kebutuhan domestik.
Pimpinan para Anggota Dewan yang saya hormati;
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, Komisi VID DPR RI setelah melakukan beberapa kali seminar dengan beberapa mitra kerja, dapat mengajukan Usul Inisiatif Rancangan Undang-Undang tentang Panas Bumi berdasarkan Hak Konstitusional dan Normatif DPR RI yang diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPR RI Pasal 117 ayat (1), (3) dan ayat (4), Pasal 127 dan Pasa1184 ayat (1) dan ayat (2), beserta daftar nama-nama pengusul yang kami lampirkan sebagai berikut :
1. DR. Irwan Prayitno A-267 dari Fraksi Reformasi 52. Iping Somantri 468 dari Fraksi 1NIIPOLRI.
Demikian Pimpinan dan para Anggota Dewan yang saya hormati, mudah mudahan RUU ini dapat disetujui untuk dibicarakan dalam Sidang-sidang yang akan datang.
Terima kasih.
Dan. berikutnya saya persilahkan Anggota yang terhormat Drs. Djelantik Mokodomp1t Anggota No. A 391. Untuk menyampaikan menjelaskan tentang Rancangan Undang-Undang Pembentukan Kota Kotamobagu, Kabupaten Pakpak Barat, Kabupaten Pahuwato dan Kabupaten Bone Bolango.
Kami persilahkan.
WAKIL PENGUSUL(DRS. DJELANTIK MOKODOMPIT)
PENJELASAN PENGUSUL TERHADAP
RUU USUL DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TENTANG
PEMBENTUKAN KOTA KOTAMOBAGU, PEMBENTUKAN KABUPATEN PAK-PAK BHARAT, PEMBENTUKAN KABUPATEN POHUWATO DAN
PEMBENTUKAN KABUPATEN BONE BOLANGO Disampaikan oleh Drs. Ojelantik Mokodompit.
Anggota Nomor A-391 Assalamu'alikum Wr. Wb.
Yang terhormat Saudara Pimpinan Sidang Paripurna, Yang terhormat rekan-rekan anggota Dewan,
Yang terhormat rekan-rekan pengusul, Serta hadirin yang berbahagia.
Dalam kesempatan ini yang mulia ini, marilah kita senantiasa panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan ridha dan rahmatnya-Nya, kita dapat berkumpul dalam sidang yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat.
Pada Kesempatan ini, perkenankan kami untuk mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota Dewan yang terhormat dengan segala kerendahan hati, kami tetap berharap partisipasi dan ketulusan yang luhur untuk mendukung Usul lnisiatif ini, karena malalui keikutsertaan Saudara-saudara lah usul ini akan menjadi Usul Dewan.
Ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada rekan-rekan anggota Dewan yang berinisiatif untuk bersama-sama mengusulkan rancangan undang-undang ini menjadi RUU Usul lnisiatif DPR. Semoga inisiatif dan dukungan rekan-rekan pengusul akan dicatat sebagai amal ibadah dan akan dibalas oleh Allah SWT di hari akhir nanti.
Sidang Dewan yang terhormat,
Membangun segenap lapisan masyarakat menuju kesejahteraan dan kemaslahatan bersama baik secara material maupun spiritual merupakan tujuan hakiki dari pembangunan yang kita laksanakan. Dan Sejatinya, setiap warga negara berhak menikmati 'buah' yang dihasilkan oleh proses pembangunan. Untuk menciptakan kesejahteraan dan kemaslahatan bersama tersebut diperlukan suatu penyelenggaraan pemerintahan, dalam hal ini pemerintahan daerah, yang efektif dan efisien. Menjadi sebuah keniscayaan bahwa untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan seperti dimaksud maka hal yang paling urgen dan tepat untuk dilakukan adalah dengan memotong rentang birokrasi pemerintahan.
Hal yang sangat mustahil bila suatu pemerintahan daerah yang rentang birokrasinya terlalu panjang (terutama karena cakupan wilayah layanannya) akan dapat berjalan efektif dan efisien, apalagi menciptakan masyarakat yang sejahtera.
Berkenaan dengan upaya mengefektifkan dan mengefisienkan penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan memotong rentang birokrasi tersebut, kami berikhtiar dengan mengusulkan Pembentukan Daerah Otonom yaitu: 4 (empat).
1. Pemekaran Kabupaten Bolaang Mongondow yang memiliki luas wilayah mencapai 8.358.04 kilo meter persegi untuk dibentuknya Kotamobagu menjadi Kota Otonom yaitu Kota Kotamobagu;
2. Pemekaran Kabupaten Dairi yang memiliki luas wilayah mencapai 3.146,10 kilo meter persegi dimekarkan menjadi 1 (satu) Kabupaten, yaitu Kabupaten Pakpak Bharat;
· 3. Pemekaran Kabupaten Boalemo yang memiliki luas wilayah mencapai 7.252,83 kilo meter persegi dimekarkan menjadi 1 (satu) Kabupaten yaitu Kabupaten Pohuwato;
4. Pemekaran Kabupaten Gorontalo yang memiliki luas wilayah mencapai 5.411 ,38 kilo meter persegi dimekarkan menjadi 1 (satu) Kabupaten, yaitu Kabupaten Bone Bolango.
Sdr. Pimpinan Sidang dan Sidang Dewan yang terhormat.
Dalam Forum Sidang yang terhormat ini, kami sebagai pengusul ingin menyampaikan alasan dan pertimbangan atas diusulkannya Pembentukan 4 (empat) Daerah untuk menjadi Daerah Otonom.
1. Pembentukan Kota Kotamobagu di Provinsi Sulawesi Utara.
Keinginan dan cita-cita Masyarakat Bolaang Mongondow pada umumnya dan Kotamobagu pada khususnya sudah cukup ·Jama agar Kotamobagu yang ··
merupakan lbukota Kabupaten Bolaang Mongondow menjadi Kota Kotamobagu yang Otonom karena hal ini sudah pernah diusulkan sejak tahun 1980 dengan mengacu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 melalui tahapan Status Kota Administratif.
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan didorong dengan keinginan masyarakat dengan memperhatikan pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang begitu pesat dari tahun ke tahun serta dilandasi semangat Reformasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masyarakat berharap agar dambaan dan cita-cita ini dapat terwujud tentunya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
A.1. Proses pembentukan Kota Kotamob'agu sepenuhnya didukung oleh aspirasi masyarakat, dalam hal ini tertuang dalam :
1. Keputusan DPRD Kabupaten Bolaang Mangondow Nomor 03 Tahun 2002 tanggal 15 Januari 2002 tentang Penetapan Persetujuan Pembentukan Kota Kotamobagu.
2. Surat Bupati Bolaang Mongondow kepada Gubernur Sulawesi Utara Nomor 130/01/018 tanggal 18 Januari 2002 Perihal Pengusulan kembali Pembentukan Daerah Otonomm Kota Kotamobagu.
3. Surat DPRD Provinsi Sulawesi Utara kepada Gubernur Sulawesi Utara Nomor 160/DPRD/134 tanggal 21 Februari 2002 Perihal : Rekomendasi tentang Pembentukan Daerah Kota Kotamobagu.
4. Surat Gubernur Sulawesi Utara kepada Pimpinan DPRD Provinsi Sulawesi Utara Nomor 135/1/74 tanggal 7 Maret 2002 Perihal Rekomendasi tentang Persetujuan Pembentukan Kota Kotamobagu.
2. Pembentukan Kabupaten Pakpak Bharat di Provinsi Sumatera Utara.
Munculnya aspirasi pemekaran Kabupaten Dairi untuk mengusulkan Pembentukan Kabupaten Pakpak Bharat, merupakan akumulasi dari tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara sebagai wujud koreksi dalam penataan
hubungan yang lebih baik antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dan juga dalam rangka pemerataan pembangunan serta didorong oleh faktor-faktor lain berupa latar belakang sejarah sosial budaya dan sosial politik.
Keinginan dan tekad yang bulat dari masyarakat Pakpak Bharat untuk meningkatkan status Daerah ini menjadi suatu kabupaten dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak Jain bertujuan agar masyarakat Pakpak Bharat (rencana pemekaran) dapat memperjuangkan dan mengatur pembangunan masyarakat dan Daerah sesuai dengan aspirasinya untuk meningkatkan taraf hidup menuju masyarakat yang adil dan sejahtera.
B. 1. Proses pembentukan Kabupaten Pakpak Bharat sepenuhnya didukung oleh aspirasi masyarakat, dalam hal ini tertuang dalam :
1. Surat Keputusan DPRD Kabupaten Dairi Nomor 35/K-DPRD/2002 tanggal 22 April 2002 tentang Menyetujui Usul Pemekaran Kabupaten
Dairi. ·
2. Surat Keputusan Bupati Dairi Nomor 136/1653/2002 tanggal 23 April 2002 Perihal Usul Pemekaran Kabupaten Dalri untuk disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri cq. Gubemur Sumatera Utara dan Ketua DPR-RI.
3. Pembentukan Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Bone Bolango di Provinsi Gorontalo.
Bahwa untuk meneruskan aspirasi masyarakat Kabupaten Boalemo yang ..
berkembang dewasa ini, perlu diadakan pemekaran wilayah Kabupaten Boalemo, bahwa pemekaran wilayah tersebut dimaksudkan untuk mempercepat pelaksanaan Pembangunan, Pemerintahan dan Peningkatan Pelayanan kepada masyarakat.
Sejarah berdirinya Kabupaten Gorontalo (Kabupaten lnduk) maupun Kabupaten Bone Bolango (Rencana Pemekaran Kabupaten Gorontalo di Wilayah Timur) yang berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 132· Tahun 1978 merupakan Pembantu Bupati Kepala Daerah Wilayah II yang meliputi wilayah kerja Kecamatan Tapa; Kecamatan Kabila; Kecamatan Suwawa dan Kecamatan Bone Pantai, dalam dimensi historis tidak dapat dipisahkan dan dibedakan dengan Sejarah Gorontalo secara keseluruhan.
Pembentukan Kabupaten Bone Bolango dimaksudkan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna dalam rentang kendali penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, pelaksanaan pembangunan serta pembinaan/pelayanan masyarakat, serta untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan serta pembinaan dan pelayanan masyarakat dan pengembangan daerah perkotaan.
C.1. Proses pembentukan Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Bone Bolango sepenuhnya didukung oleh aspirasi masyarakat, dalam hal inl tertuang dalam:
1. Keputusan DPRD Kabupaten Boalemo Nomor 8 Tahun 2002 tanggal 25 Mei 2002 tentang Rekomendasi/Pernyataan Sikap Mendukung Pemekaran Kabupaten Boalemo.
2. Surat Bupati Boalemo kepada Gubernur Gorontalo Nomor :
2. Surat Bupati Boalemo kepada Gubernur Gorontalo Nomor :