TINJAUAN UMUM TENTANG HARTA BERSAMA, GENDER, DAN TEORI KEADILAN, KEMANFAATAN, KEPASTIAN HUKUM
A. Tinjauan Umum Tentang Harta Bersama 1. Harta Bersama dalam Perkawinan
3. Harta Bersama dalam Perspektif Hukum Adat
Pada dasarnya dalam Islam tidak ada percampuran harta kekayaan antara suami istri selama masa perkawinan. Awal mula konsep harta bersama merupakan bearsal dari adat istiadat yang berkembang di Indonesia sehinga didukung oleh hukum positif di negara ini, sehingga dapat dikatakan bahwa adanya percampuran harta kekayaan antara suami dan istri dalam perkawinan mereka. Percampuran harta kekayaan ini berlaku jika pasangan tersebut tidak menentukan hal lain dalam perjanjian perkawinan.42
Secara umum, hukum adat tentang harta bersama hampir sama di seluruh daerah, yang berbeda hanya dalam penyebutannya saja, sedangkan mengenai hal lainnya, terutama mengenai kelanjutan hukum yang berlaku di masing-masing daerah berbeda-beda.43 Pembagian harta bersama di berbagai daerah di Indonesia hampir sama, tetapi ada juga yang dibedakan berdasarkan konteks budaya lokal masyarakatnya. Namun salah satu contoh di mana hukum adat yang cenderung tidak memberlakukan konsep harta bersama, yaitu di daerah Lombok. Menurut hukum adat Lombok, perempuan yang bercerai pulang ke
42Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Saat Terjadi Perceraian, hal 8.
43Evi Djumiarti, “Hukum Harta Bersama ditinjau Dari Perspektif Undang-Undang Perkawinan Dan KUH Perdata.” Penelitian Hukum De Jure, Volume 17, Nomor 4, 2017, hal 447.
rumah orang tuanya dengan hanya membawa anak dan barang seadanya tanpa mendapatkan hak harta bersama.44
Menurut Ter Haar harta kekayaan keluarga dapat dibedakan menjadi empat bagian, yaitu; harta hibah atau harta warisan, harta yang diperoleh oleh salah seorang suami-istri diperoleh atas usahanya sendiri sebelum atau selama perkawinan, harta yang diperoleh suami istri dalam masa perkawinan atas usaha bersama, dan harta yang diperoleh pada waktu pernikahan.45
Harta bersama suami istri menurut Sayuti Thalib digolongkan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut:
Pertama, dilihat dari sudut asal-usul harta suami istri itu dapat digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu :
a. Harta bawaan, yaitu harta masing-masing suami istri yang telah mereka miliki sebelum mereka kawin baik berasal dari warisan, hibah maupun usaha sendiri
b. Harta masing-masing suami istri yang diperoleh setelah menikah, tetapi bukan hasil usaha mereka seperti hibah, wasiat atau warisan adalah harta masing-masing.
c. Harta yang diperoleh sepanjang perkawinan baik usaha suami atau istri maupun usaha bersama-sama merupakan harta pencaharian atau harta bersama.
Kedua, dilihat dari sudut pandang pengguna, maka harta dipergunakan untuk: pembiayaan untuk rumah tangga, keluarga dan untuk keperluan sekolah anak.
Ketiga, dilihat dari sudut hubungan harta dengan perseorangan dalam masyarakat, harta itu berupa ;
a. Harta milik bersama,
b. Harta milik seseorang tapi terikat pada keluarga,
44Rosnidar Simbiring, Hukum Keluarga: Harta-Harta Benda Dalam Perkawinan. hal 93.
45Ter Haar, Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, Penerjemah Soebakti Poesponoto.
(Jakarta: Balai Pustaka, 2013), hal 193.
c. Harta milik seseorang dan pemiliknya dengan tegas oleh yang bersangkutan.46
Sedangkan harta bersama menurut M. Idris Ramulyo, terbagi menjadi macam-macam harta suami istri antara lain :
1. Harta yang diperoleh masing-masing suami istri sebelum perkawinan melalui usaha mereka masing-masing,
2. Harta yang diperoleh pasangan suami istri yang diberikan oleh keluarga atau orang tua untuk mereka pada saat mereka menikah,
3. Harta yang diperoleh oleh masing-masing suami istri dalam masa perkawinan melalui hibah, wasiat maupun dari orang tua atau keluarga terdekat,
d. Harta yang diperoleh oleh masing-masing suami istri dalam masa perkawinan melalui usaha mereka berdua atau dari usaha salah satu dari mereka.47
Harta bersama menurut Abdul Manan bahwa terdapat empat macam harta keluarga dalam perkawinan, yaitu :
a. Harta yang diperoleh dari warisan, baik sebelum terjadinya perkawinan maupun setelah mereka melakukan perkawinan.
b. Harta yang diperoleh dari keringat sendiri sebelum terjadinya perkawinan.
c. Harta yang dihasilkan bersama suami istri selama perkawinan berlangsung.
d. Harta yang didapat pada waktu pernikahan dilaksanakan, harta ini menjadi milik suami-istri selama perkawinan.48
Macam-macam harta yang telah disebutkan di atas dilakukan oleh para eksponen hukum Islam di Indonesia untuk mengakomodasi hukum Islam dengan hukum adat. Karena sebagian besar buku fikih klasik tidak menjelaskan
46Sajuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia Berlaku Bagi Umat Islam. (Jakarta:
Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1974), hal 83.
47Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis Dari Undang-Undang No 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 1996), hal 228.
48Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2006), hal 115.
institusi harta bersama dalam perkawinan, para ulama merasa berkewajiban untuk memasukkan institusi masyarakat ke dalam hukum Islam. Sikap tersebut diambil oleh eksponen hukum Islam terhadap hukum adat didorong oleh fakta bahwa dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Indonesia tidak berhenti mengamalkan aturan-aturan yang berasal dari hukum adat. Oleh karena itu, keberadaan harta bersama dalam hukum positif di Indonesia di dukung dengan adanya praktek yang ada di masyarakat hukum adat.49
B. Tinjauan Umum tentang Gender 1. Pengertian Gender
Istilah gender dikonsepsikan para ilmuan sosial untuk menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang tidak bersifat bawaan atau kodrat sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dan yang bersifat bentukan budaya yang dipelajari dalam keluarga sejak dini. Kata “gender” berasal dari bahasa Inggris yang bermakna “jenis kelamin”50, perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.51 Gender dari bahasa latin yaitu “genus” bermakna jenis, macam atau kelas.
Istilah gender diperkenalkan oleh para ilmuan sosial untuk menciptakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan terlepas dari perbedaan-perbedaan biologis.52
Secara istilah gender memiliki beberapa pengertian. Menurut Helen Tierney, gender diartikan sebagai sebuah konsep kultural yang berusaha membuat pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik yang berkembang di masyarakat.
Menurut Hilary M. Lips dalam buku Sex & Gender : an Introduction bahwa gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan
49Ratno, Lukito, Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat Di Indonesia, (Jakarta: INIS, 1998), hal 83.
50John M. Echols dan Hassan Shadily, An English – Indonesian Dictionary, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1976), hal 265.
51Nasarudidin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al Qur’an, (Jakarta:
Paramadina, 1999), hal 33.
52Sharyn Graham, Keberagaman Gender Di Indonesia, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017), hal 26.
perempuan.53 Menurut Oakley yang dikutip oleh Alifulahti Utaminingsih bahwa gender adalah perbedaan yang bukan bersifat biologis dan bukan kodrat dari Tuhan sosial atau atribut yang dikenakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia.54
Menurut Nasarudin Umar, gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial dan budaya. gender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut nonbiologis. Gender lebih menekankan pada perkembangan aspek maskulinitas atau feminitas seseorang.55
Gender dalam Women’s Studies Encyclopedia yang dikutip oleh Siti Muzda Mulia adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Konsep gender mengacu pada seperangkat sifat, tanggung jawab, fungsi, hak dan perilaku yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungan masyarakat tempat manusia tumbuh dan dibesarkan.56
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia menjelaskan bahwa gender adalah "Pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dan peran gender terbagi menjadi peran produktif dan peran reproduktif serta peran sosial kemasyarakatan".57
Definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa gender adalah suatu sifat yang dijadikan sebagai dasar untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan dengan dilihat dari kondisi sosial, budaya, nilai, perilaku serta factor nonbiologis lainnya. Secara etimologis, gender dan sex memiliki arti
53 Hilary M.Lips. Sex & Gender; An Introduction. (California: MyField Publishing Company, 1993), hal 4. Lihat juga Amirudin Arani dan Faqihuddin Abdul Qadir (ed), dalam Bunga Rampai Tubuh, Seksualitas dan Kedaulatan Perempuan. (Yogyakarta: LKis, 2002), hal 197.
54Alifiulahtin Utaminingsih, Gender dan Wanita Karir, (Malang: UB Press, 2017), hal 2.
55Nasarudidin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al Qur’an, hal 35.
56Siti Musdah Mulia, Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender, (Yogyakarta: Kibar Press, 2006), hal 56.
57Kementerian Pemberdaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan. Dipublikasi pada tanggal Jum'at 09 Juni 2017.
yang sama yaitu jenis kelamin, namun sex adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu.
Misalnya, jenis laki-laki adalah memproduksi sperma sedangkan jenis perempuan memproduksi telur. Dan fungsi alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan atau diubah karena merupakan ketentuan Tuhan.
Sementara konsep gender adalah pembagian laki-laki dan perempuan yang diidentifikasikan secara sosial maupun kultural. Misalnya, perempuan dianggap lemah lembut, emosional, keibuan, dan sebagainya, sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut tidaklah kodrati dan dapat dipertukarkan. Oleh karena itu, gender dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat dapat berubah.58
Uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gender merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Hal tersebut merupakan rekonstruksi sosial yang tidak dimiliki sejak lahir karena dapat berubah yang dipengaruhi oleh tempat, waktu, ekonomi, suku, ras, budaya serta stastus sosial. Karena itu, gender bukan merupakan kodrat yang dibuat oleh manusia, bisa dipertukarkan dan bisa berubah.59