• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN

A. HASIL ANALISA DATA

Kepemimpinan Minangkabau bermula dari kepemimpinan dua penghulu

awal Minangkabau, yaitu Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah nan

Sabatang. Dua datuk ini merupakan pelopor sistem kepemimpinan yang ada di

Minangkabau, yang lebih dikenal dengan sistem kelarasan. Kelarasan Bodi

Chaniago didirikan oleh Datuak Parpatiah nan Sabatang dan Kelarasan Koto

Piliang didirikan oleh Datuak Katumanggungan.

Kedua kelarasan ini memiliki kekhasan masing-masing dalam

kedua kelarasan ini berasal dari latar belakang yang berbeda dan menganut nilai

yang berbeda, sehingga berbeda dalam menjalankan kepemimpinan. Kedua

kelarasan yang bertolak belakang ini hidup dalam masyarakat Minangkabau, yang

tidak hanya teraktualisasi pada dua nagari yang berdampingan tetapi juga

terkadang terdapat dalam suatu nagari yang sama. Oleh karena itu sebenarnya

tidak ada aturan multak untuk memakai salah satu sistem kelarasan tersebut.

Biasanya penerapan sistem kelarasan ini sesuai dengan pewarisan yang dilakukan

penghulu yang sebelumnya, tetapi dapat juga berdasarkan hasil kesepakatan yang

dilakukan masing-masing nagari. Seperti yang diungkapkan responden berikut:

“Tidak satupun nagari sekarang ini yang memakai Koto Piliang. Tidak satupun nagari yang memakai Bodi Chaniago tok. Kedua-duanya ada orang memakai. Di Batipuah, kami terang terangan memakai adat Koto Piliang, lakek Penghulu tetap menurut Koto Piliang, tetap sama menurut Bodi Chaniago.”

(W1/B2/b.666-668/37)

Penghulu di Minangkabau merupakan seorang pemimpin yang berasal dari

kaumnya yang terdiri dari orang-orang yang terikat pertalian menurut garis

keturunan ibu. Penghulu mengemban tugas sebagai pemelihara kaumnya, dimana

dia harus mengelola harta pusaka, mengatur pewarisan harta pusaka, dan

menyelesaikan perselisihan yang terjadi di kaumnya. Dikarenakan tugasnya

tersebut penghulu haruslah yang berasal dari kaumnya sendiri sehingga

memahami seluk beluk persoalan kaumnya, dan orang yang mensejahterakan

masyarakat. Penghulu dikatakan gadang karano dihamba, tinggi karano

dianjuang, yang artinya adalah penghulu itu tidak besar sendiri tetapi karena

penghulu harus berhati-hati dalam menjalankan kepemimpinannya karena

penghulu juga berasal dari kaumnya sehingga jika tidak melakukan amanahnya

maka mudah saja untuk menurunkannya kembali, seperti yang diungkapkan oleh

responden berikut:

“Pemimpin itu hanyalah didahulukan selangkah, ditinggi kan seranting kan gitu. Tidak sesuatu yang serba sempurna. Orang Minang tidak, menganggap ya manusia biasa. Kalaupun gadang ya, gadang karano

dihamba, tinggi karano dianjuang. Pemimpin itu tidak tinggi dengan

sendirinya, tidak besar dengan sendirinya, tapi dianjung. Tinggi itu karena rakyat yang meninggikan, besarnya karena dihamba. Karena dia hanya dulu selangkah tinggi seranting, diperingatkan oleh orang Minang. Hati-hati yang di- atas, dibawah akan maimpok. Jadi bukan yang di atas yang akan maimpok yang di bawah, tapi yang di bawah ini yang akan maimpok. Artinya diperingkatkan, kalau pemimpin itu diberi amanah ternyata tidak menjalankan amanahnya dengan baik, hati-hati kami akan segera me nurunkan. Karena tingginya hanya seranting mudah menurunkannya. Dulunya cuma selangkah, bisa ditarik ke belakang. Jadi posisi pemimpin begitu.

(W1/B3/b.30-53/4)

Disebutkan juga bahwa penghulu itu didahulukan selangkah, ditinggikan

sarantiang, (didahulukan selangkah, ditinggikan seranting,). Maksud dari pepatah

ini adalah bahwa penghulu itu ditinggikannya hanya seranting, dan

didahulukannya hanya selangkah bukan karena status sosialnya atau jabatan yang

dibawanya melainkan karena penghulu itu memiliki fungsi sebagai pemimpin di

Minangkabau.

“Jadi sebenarnya antara pemimpin dan orang yang dipimpin itu setara. Cuma pemimpin ini didahulukan karena fungsi nya. Jadi bukan status sosialnya sebenarnya. Tapi karena fungsinya tentu harus dihormati, makanya didahulukan selangkah.”

Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin itu jaraknya tidak jauh, tetapi

berada dekat dengan masyarakatnya, sehingga mudah untuk menyusulnya.

Penghulu bukanlah utusan dewa, melainkan orang yang berasal dari kaumnya

yang hanya didahulukan pun selangkah saja dan ditinggikan hanya seranting.

Dikarenakan penghulu dekat dengan masyarakatnya maka pemimpin itu bisa

mendengar dan melihat permasalahan yang dihadapi oleh masyarkatnya. Seperti

yang diungkapkan responden berikut:

“Jadi kalau kita berbicara mengenai konsep kepemimpinan menurut adat budaya Minangkabau, pemimpin itu didahulukan selangkah ditinggikan seranting, itu konsep dasarnya. Jadi artinya antara pemimpin dan orang yang dipimpin tidak jauh. Dia bisa mendengar dan melihat permasalahan masyarakatnya. Masyarakat pun bisa menjangkau pemimpin jika dia terlalu cepat berjalan.”

(W1/B1/b.1-7/1)

“Iya karena Bodi Chaniago ini dalam istilah untuk semua adat. Baik Bodi Chaniago maupun Koto Piliang, penghulu itu kan tingginya seranting, dahulunya selangkah. Di Bodi Chaniago itu yang dipakai. Karena dia da- hulunya hanya selangkah, tingginya hanya seranting, maka lebih dekat dia bermusyawarah dengan anak kemenakan.”

(W3/B3/b.77-83/7)

Penghulu hanya berkuasa atau hanya bisa memimpin di kaumnya saja.

Seorang penghulu dari rumah gadang maupun dari suatu nagari tidak bisa memimpin kaum dari rumah gadang lain maupun dari nagari lain. Hal ini dikarenakan kekuasaan penghulu hanya berlaku pada kelompok matrilineal dia

saja, sedangkan kelompok matrilineal lain juga memiliki penghulu

masing-masing. Seorang laki-laki yang merupakan seorang penghulu, ketika dia berada di

anak-anaknya sendiri dalam urusan adat. Rumah istrinya sudah mempunyai mamak dan laki-laki tersebut disebut dengan sumando jika berada pada rumah istri. Berikut penuturan responden:

“Kalau di adat tidak ada hubungan kita. bapak dan anak. Di adat mamak dan kemenakan. Kalau bapak itu mamak pula di kampungnya. Sumando bagi Tidak boleh mencampuri urusan kita. Tapi kalau di rumah gadang boleh. Itu bapak rajanya. Rumah beraja qadhi. Qadhi itu bapak. Tapi kalau kampung beraja mamak. Halaman, pekarangan, selama itu tanah pusaka. Rumah gadang dibangun di atas tanah pusaka. Jadi raja lah kita di rumah itu. Tapi kalau ke halaman jangan coba- coba, kena nanti oleh mamak. Itu bedanya kalau Minangkabau”

(W2/P/b.75-84/2)

Jadi hal-hal yang berhubungan dengan adat tidak boleh dicampuri oleh

pihak lain diluar dari anggota rumah gadang tersebut. Tetapi hal lain seperti mata pencaharian tetaplah tanggung jawab orang sumando. Seperti pepatah adat anak

dipangku kamanakan dibimbiang (anak dipangku kemenakan dibimbing). Hal ini

menandakan bahwa di Minangkabau seorang laki-laki itu memiliki dua

kewajiban, bertanggung jawab terhadap anaknya sebagai seorang ayah dan

bertanggung jawab terhadap )kemenakannya sebagai seorang penghulu.

“Anak dipangku itu kan dengan harta pencahariannya dan kemenakan dibimbing dengan harta pusaka. Kalau memangku anak kan bisa selama tangan bisa memangku, kalau memimbing ya sepanjang jalan, karena dimbimbing selagi kemenakan mau dibimbing maka mamak akan membimbingnya. Untuk laki-laki Minang itulah yang dipakai, tidak hanya untuk penghulu.

(W3/B3/b.354-357)

Seorang penghulu ketika menghadapi persoalan yang ada pada kaumnya

menentukan. Hal ini dikarenakan prinsip masyarakat Minangkabau itu

menganggap orang sama dan sejajar sehingga masyarakat bebas memberikan

pendapatnya dan pendapat tersebut dijadikan sebagai bahan pertimbangan ketika

membuat keputusan. Seperti yang diungkapkan responden berikut:

“Sebab dia mengakui hak tiap orang. Dia menghargai dan mengakui hak-hak setiap manusia. Sebab dia tidak mengklaim bahwa dia yang benar.”

(W4/P/b.601-603/18)

“Prinsip orang Minang begitu juga, menganggap orang itu sama.”

(W1/B2/b.24-30/6)

Kesediaan penghulu untuk menerima masukan dari masyarakat ini

berlaku pada kedua sistem kelarasan, namun terdapat perbedaan dalam

pelaksanaannya. Pengambilan keputusan di Bodi Chaniago dinamakan

mambasuik dari bumi (muncul dari bumi), dimana keputusan tersebut berasal dari

aspirasi masyarakat melalui proses musyawarah dan mufakat. Setiap persoalan

yang terjadi di masyarakat harus diselesaikan dengan cara musyawarah.

Musyawarah tersebut melibatkan penghulu, perangkat adat, serta pihak-pihak

yang terkait lainnya. Penghulu mendengar semua pendapat yang hadir pada

musyawarah tersebut. Hal ini sesuai dengan kutipan wawancara berikut:

“Bodi Chaniago lebih ya dominan demokrasi. Keputusannya itu lebih banyak dimusyawarahkan.”

(W1/B2/b.139-140/18)

“Dalam sistem demokrasi kan disuruh aspirasi itu disampaikan. Pemimpin itu membuka diri untuk berdiskusi dengan rakyatnya.”

“Menurut dia segala sesuatu yang akan diberlakukan kepada masyarakat dimusyawarahkan dulu.”

(W4/P/b.34-36/2)

“Kalau di Bodi Chaniago, itu duduk dengan penghulu dengan cadiak

pandai dengan ulama sehamparan masyarakat banyak. Menyampaikan apa

yang terasa.”

(W3/B3/b.28-31/3)

Musyawarah yang dilakukan oleh kelarasan Bodi Chaniago mengenai

semua aspek kehidupan masyarakat. Terutama mengenai anak dan kemenakan,

sangat banyak hal-hal yang dimusyawarahkan oleh penghulu.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh anak dan kemenakan misalnya. Apa Kesalahan-kesalahan

yang dilakukan, apa tindakan yang harus dilakukan selanjutnya, dan bagaimana

caranya agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali. Ataupun hal-hal yang

berhubungan dengan sengketa adat, mengenai harta pusaka yang perlu dilakukan

musyawarah yang melibatkan anggota kaum, dan sebagainya

“Apapun yang terjadi harus dimusyawarahkan. Persoalan menggadai sawah, persoalan mau beristri, persoalan harta pusaka, bagaimana mendidik anak, segala macamnya itu harus dimusyawarahkan. Segala aspek kehidupan”

(W3/B2/b.203-206)

Bersangkutan dengan acara-acara adat juga perlu dilakukan dengan

musyawarah. Seperti pengangkatan penghulu dimana tradisi kelarasan Bodi

Chaniago, proses pergantian penghulu dilakukan setelah penghulu sebelumnya

sudah meninggal. Hal ini dikarenakan pada kelarasan Bodi Chaniago, posisi

penghulu itu digilirkan pada setiap paruik yang ada. Jadi setiap kemenakan yang ada pada kelompok paruik itu memiliki peluang untuk dijadikan penghulu. Setiap

anak dari saudara perempuan memiliki hak untuk menggantikan posisi

mamaknya. Oleh karena itu perlu dilakukan musyawarah untuk mendiskusikan

kemenakan mana yang pantas dan memiliki kapasitas untuk menggantikan

penghulu sebelumnya. Proses ini tidak dilakukan di kelarasan Koto Piliang,

karena pada kelarasan Koto Piliang, penghulu digantikan oleh kemenakan yang

ada di bawahnya. Seperti yang diungkapkan responden berikut:

“Sistem pengangkatan penghulunya kalau Bodi Chaniago, hilang baganti namanya. Jadi bergilir di dalam kaum itu. Misalnya sekarang dari paruik ini, kalau meninggal paruik yang ini menggantikan. Tapi kalau orang Koto Piliang tidak, langsung. Misalnya anak bundo penghulu, kalau dia meninggal langsung kemenakannya Jadi langsung digantikan. Tapi kalau Bodi Chaniago tidak bisa langsung. Sudah dikubur penghulu yang dulu baru dicari penggantinya. Karena dia dipilih dulu di antara calon-calon yang ada.”

(W1/B1/b.113-122/11)

Selain mendiskusikan mengenai persoalan masyarakat dan hal yang

berhubungan dengan adat, musyawarah juga dilakukan sebelum melakukan

kegiatan bersama. Musyawarah tersebut mendiskusikan apa yang akan dilakukan

pada kegiatan tersebut, kemudian dilakukan pembagian tugasnya. Hal ini sesuai

dengan ungkapan responden berikut:

“Di bidang pertanian contohnya. Kalau Datuak Parpatiah, untuk melakukan semacam gotong royong ke sawah, bongkar bandar, itu melalui musyawarah dan mufakat.”

(W4/P/b.512-515/13)

“Darimana mulai, apa yang akan dibawa, benda-benda apa. Dimusyawarahkan dulu.”

Setelah semua pendapat dikumpulkan, penghulu kemudian menyimpulkan

pendapat tersebut untuk dibuat sebagai keputusan yang akan diberikan kepada

masyarakat. Berikut pernyataan responden:

“Kan sudah ada usul usul usul. Kemudian diresum, diformulasikan. Nah ini hasil rapat kita tadi, kan sepakat kita semuanya.”

(W1/B3/b.299-302/12)

Semua pendapat dikumpulkan karena ingin melihat yang mana yang

paling tepat, oleh karena itu semuanya dikumpulkan dulu agar bisa dibandingkan

sehingga keputusan yang dihasilkan lebih sesuai, sebagaimana yang dinyatakan

responden berikut:

“Minimal nanti untuk bahan perbandingan. Hal-hal yang benar dilihat salahnya dulu. Pendapat orang ini salah, pendapat kita benar, tapi dilihat yang salahnya dulu, punya nilai tidak pendapat kita kalau dibandingkan dengan yang salah itu.”

(W4/P/b.422-428/10)

Penghulu Koto Piliang ketika mengambil keputusan juga

mempertimbangkan aspirasi masyarakat tetapi tidak bertemu langsung dengan

masyarakat. Penghulu dan masyarakat dihubungkan oleh seorang perantara yaitu

seorang Manti yang bertugas menyampaikan informasi di dalam nagari. Kelarasan Koto Piliang memiliki hirarki otoritas, sehingga terdapat jenjang-jenjang dalam

kepemimpinannya. Penghulu dalam kelarasan itu mendapat peringkat hierarkis

dan penghulu dengan tingkat paling tinggi yang membuat keputusan di dalam

nagari tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan oleh responden berikut:

“Dia harus ada manti. Penghulu dalam Koto Piliang, dia tidak bisa sampai ke rakyat. Tidak levelnya berbicara dengan rakyat kalau tidak diperlukan.” (W1/B3/b.81-83/3)

“Di Koto Piliang kan itu juga petuahnya. Penghulu tinggi seranting, dahulu selangkah. Tapi tidak bisa dilangkahi. Karena hierarkinya, kalau istilahnya tidak usah repot-repot lah. Jadi dia harus melalui Manti tidak perlu dengan orang banyak.”

(W3/B3/b.83-87/9)

Manti tidak hanya menyampaikan informasi dari penghulu ke masyarakat,

tetapi juga dari masyarakat ke penghulu sehingga manti bisa menyampaikan informasi dari atas ke bawah maupun dari bawah ke atas Persoalan itu bisa

datangnya dari penghulu dan bisa datangnya dari masyarakat. Seperti penyataan

responden berikut:

“Bukan, Koto Piliang itu bajanjang naiak batanggo turun. Artinya, bisa dari atas ke bawah, bisa dari bawah ke atas. Dari atas ke bawah, artinya dari penghulu ke masyarakat. Tapi ada Manti pembatasnya. Kalau dari bawah ke atas, yang masyarakat banyak ini tidak boleh pula ke penghulu. Dia harus ke Manti ke atasnya. Sampai di Manti baru Manti yang bercerita ke penghulu.”

(W3/B3/b.11-13/1)

Jika persoalan tersebut berasal dari penghulu, maka penghulu menyampaikan

informasi tersebut kepada manti, yang menyampaikannya kepada masyarakat untuk dimusyawarahkan. Setelah selesai dimusyawarahkan, masyarakat

menyampaikan hasil kesepakatan kepada manti dan manti menyampaikannya ke penghulu. Barulah penghulu kemudian yang mengambil keputusan akhirnya,

apakah ada yang perlu ditambahkan oleh penghulu atau dikurangi. Sebaliknya

juga begitu, jika persoalan datang dari masyarakat, maka masyarakat

bermusyawarah terlebih dahulu, kemudian menyampaikan hasilnya kepada manti. Informasi tersebut diteruskan oleh manti kepada penghulu untuk disetujui atau tidak oleh penghulu. Pengambilan keputusan yang seperti ini disebut dengan

bajanjang naiak batanggo turun (berjenjang naik, bertangga turun). Artinya ada proses bertahap atau berjenjang yang dilakukan dalam pemgambilan keputusan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan responden:

“Yang ada pikiran saya begini, begini, kata penghulu ke manti. Coba saya sampaikan dulu ke bawah, kata manti. Dikumpulkan orang oleh manti, kata Penghulu begini, begini. Oh tidak suka kami, kami sukanya begini. Diukur oleh manti memang benar. Diteruskannya ke atas. Seperti ini pemikiran masyarakat, kata manti kepada penghulu, sesuai sama pemikiran datuak tadi tapi ini tambahannya.”

(W1/B3/b.84-91/4)

“Kalau Koto Piliang tentang perkara alek dan segala macam tu kita menyampaikan ke Manti. Itu yang dari bawah ke atas. Oleh Manti disampaikan ke penghulu. Oleh penghulu ditelaahnya, kalau sekarang ini dia pelajari, dia teliti, kalau betul menurut dia baru disahkan. Yang sudah

dibarih itu dirubah lagi itu. Artinya berjalan itu sesuai dengan anggaran

dasar dan anggaran rumah tangga memakai adat dalam nagari. Tidak boleh dirubah.”

(W3/B3/b.57-65/7)

Penghulu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang disampaikan

Manti yang berasal dari bawah atau masyarakat. Informasi tersebut dikoreksi oleh

Penghulu bersama cadiak pandai atau cendekiawan sehingga menjadi suatu keputusan yang nantinya akan disampaikan lagi oleh Manti kepada masyarakat.

“Ya karena dia, kalau istilah gadih gadangnya kan kato putuih dek penghulu. Makanya dia memakai raso jo pareso, memakai anggo jo

tanggo kan. Raso pareso tu pikiran masyarakat banyak, pikiran

masyarakat dari bawah, dia periksa dengan cendekiawannya dari atas, apakah cocok atau tidak, baru diambilnya keputusan.”

(W3/B3/b.19-24/3)

Meskipun penghulu dan masyarakat harus berhubungan lewat Manti, namun pada kondisi yang mendesak ataupun ketika manti tidak berada di tempat, masyarakat dapat bertemu langsung dengan penghulu dengan membawa saksi.

Saksi yang biasa dibawa menemui penghulu yaitu seorang ulama. Hal ini

dianalogikan seperti ketika kita menaiki tangga dalam keadaan buru-buru atau

terdesak ada kemungkinan kita dapat menaiki tangga itu dua atau tiga anak tangga

sekaligus. Maka dari itu disebutkan bahwa di dalam proses pengambilan

keputusan banjanjang naiak batanggo turun masyarakat dapat melangkahi ‘tangga’ itu dua atau tiga buah dalam satu waktu. Berikut pernyataan responden:

“Bedanya, tadi apa bahasanya, titiak dari ateh otokrasi. Kalau menurut mamak otokrasinya tidak tepat. Alasannya seperti yang dicontohkan tadi. Kalau Katu manggungan, tunggu dulu. Katumanggungan.. Kalau kita berlari dari rumah, dari jalan, pada suatu kali bisa tidak melangkahi dua anak tangga? Bisa, kadang-kadang tiga, karena kecil-kecil. Itu Katumanggungan salah satu contohnya. Walaupun ada manti di bawah, di tengah, pauleh suri nan tagantuang, lidah nan reco dek panghulu. Pauleh

suri nan tagantuang itu sifat manti. Artinya penyambung kata dari atas,

penyampai pesan dari bawah. Tapi pada suatu masa kita bisa melangkah anak tangga tiga loh. Bisa penghulu “Ondeh saya sudah tiga hari mencari

manti angku, sekarang baru bertemu angku di rumah. Saya perlu sekali

berbicara dengan beliau sedikit.” “Kalau memang untuk saya sampaikan sajalah.” Berarti kan dilangkahi tiga anak tangga analoginya. Sebab kenapa? Dia bajanjang naiak batanggo turun, titiak dari ateh mambasuik

dari bumi. Bajanjang naiak batanggo turun Katumanggungan. Jadi

walaupun kata orang semacam otokrasi, walaupun kata mamak tidak pas, kita bisa juga langsung dengan dia, di saat-saat yang genting. Umpamanya, manti sang penyambung lidah pergi ke Pekanbaru. Kita perlunya hari sekarang. Kan tidak harus dengan manti. Kita bawa saja seorang ulama, kalau memang perlu sekali. Artinya orang yang akan mendengarkan, yang menjadi saksi, kan bisa juga berbicara dengan penghulu.”

(W1/B3/b.155-182/5)

Saat ini kepemimpinan pada kelarasan Koto Piliang mengalami perubahan.

Perubahan tersebut yakni adanya musyawarah yang dilakukan dalam kelarasan

Koto Piliang. Seperti yang diungkapkan responden berikut:

“Secara hirarki, menurut dahulu begitu. Manti tetap ada, tapi tetap saja musyawarah segala sesuatunya itu tetap sama untuk seluruh Minangkabau.”

Pengambilan keputusan melalui proses berjenjang yang sudah dijelaskan

di atas, adalah suatu proses ideal menurut adat yang seharusnya dilakukan oleh

penghulu dalam kelarasan Koto Piliang. Tetapi pada saat sekarang ini tidak

banyak lagi nagari yang mengikuti prosedur itu, meskipun nagari tersebut secara

tegas menyatakan menganut sistem kelarasan Koto Piliang. Hal ini dikarenakan

meskipun kedua kelarasan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, namun

ada hal-hal yang berlaku umum untuk seluruh alam Minangkabau. Berikut

penuturan responden:

“Itu tatanan adat yang ideal. Yang mamak terangkan yang barusan apakah sampai hari ini masih dipakai yang ideal menurut Koto Piliang itu? Tidak banyak lagi yang memakainya. Realita hari ini, tidak semua orang yang memakai yang ideal itu, walaupun wilayahnya merupakan wilayah Koto Piliang. Tatanan adat sabatang panjang itu banyak yang berlaku secara umum walaupun yang membuatnya Datuak Parpatiah nan Sabatang dan Katumanggungan, banyak yang berlaku secara umum. Namanya adat

sabatang panjang kan? Adat sabatang panjang itu di Minangkabau

seluruhnya berlaku sama secara umum, menurut idealnya.”

(W4/B2/b.31-41/5)

Pembagian daerah-daerah Minangkabau ke dalam kelarasan Koto Piliang

atau Bodi Chaniago sebenarnya sudah jelas pada masa pemerintahan Datuak

Parpatiah nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan. Hal ini diartikan bahwa

sudah jelas bahwa suatu nagari memakai suatu sistem kelarasan, sedangkan nagari

lain memakai sistem kelarasan yang lainnya. Namun yang terjadi saat ini adalah

kebanyakan dari nagari yang memakai sistem kelarasan Koto Piliang, banyak

yang melakukan musyawarah yang merupakan ciri khas dari kelarasan Bodi

Chaniago. Perubahan itu terjadi begitu saja dan bukan merupakan kesepakatan

Wilayah Bodi Chaniago dan wilayah Koto Piliang itu lebih banyak ditentukan dengan daerah bukan orangnya. Umpamanya, daerah Ampek Angkek Agam daerahnya Koto Piliang. Daerah di Batipuah di kampung mamak, itu daerahnya Koto Piliang. Itu idealnya ya. Yang dipakai orang hari ini Koto Piliang tidak? Tidak, itu jawabannya. Itu berlaku saja sendirinya, tidak ada kesepakatan. Yang dipakai orang di Batipuah sekarang, untuk meminang dan semacamnya itu sudah Bodi Chaniago. Di nagari Batipuah, walaupun Tuan Gadang Batipuah itu adalah payuang

panji di Koto Piliang, sampai hari ini tatanan adat yang dipakai itu Bodi

Chaniago

(W4/B2/b.45-56/7)

Salah satu contoh dilakukannya musyawarah pada kelarasan Koto Piliang

adalah dalam hal pengangkatan penghulu. Pada kelarasan Koto Piliang, yang

menggantikan penghulu yang sebelumnya adalah kemenakan langsung yang ada

di bawahnya, jadi tidak perlu dilakukan musyawarah karena sudah jelas calon

yang akan diangkat menjadi penghulu. Nyatanya dalam realita ada kondisi dimana

cara pengangkatan yang seperti ini tidak bisa dilakukan.

Kondisi tersebut diantaranya yaitu ketika kemenakan yang akan

menggantikan penghulu yang sebelumnya itu mengalami kelainan jiwa atau tidak

mencukupi kapasitas intelegensinya. Hal ini menyebabkan kemenakan ini tidak

bisa diangkat menjadi penghulu. Oleh karena itu perlu diadakannya musyawarah

untuk mencari calon ke anak neneknya yang lain yang memiliki kapasitas sebagai

Dalam dokumen Gaya Kepemimpinan Penghulu Minangkabau (Halaman 54-75)

Dokumen terkait