A. GAMBARAN SUBJEK PENELITIAN
B. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi
2. Hasil Analisa Data
a. Hasil Perhitungan Korelasi Antarvariabel
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan program komputer SPSS 16.0 for windows. Hasil pengujian statistik yang dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel.11 Korelasi antara self-monitoring dengan OCB Correlations OCB SM OCB Pearson Correlation 1 .727 ** Sig. (2-tailed) .000 N 60 60 SM Pearson Correlation .727 ** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 60 60
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,727 dengan taraf signifikansi (ρ) sebesar 0,000 sehingga ρ < 0.05. Hal ini berarti hipotesa diterima, menunjukkan adanya hubungan antara self-monitoring terhadap
OCB karyawan PT. Bank Sumut Panyabungan. Hal ini menunjukkan bahwa Semakin tinggi skor yang diperoleh dalam skala self-monitoring karyawan maka semakin tinggi perilaku OCB karyawan muncul dan sebaliknya semakin rendah
self-monitoring karyawan yang diperoleh maka akan semakin rendah pula perilaku OCB yang muncul.
Tabel 12. Hasil Analisis Regresi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .727a .528 .520 10.703 a. Predictors: (Constant), SM
Berdasarkan analisis regresi pada tabel 12 dapat dilihat bahwa self-monitoring memberikan sumbangan efektif sebesar 52.8% terhadap OCB
karyawan selebihnya, yaitu 47.2% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Tabel 13. Koefisien a dan b
Persamaan garis regresi pada penelitian ini adalah Y= a+Bx (Field, 2009).
Self-monitoring di lambangkan dengan Y dan OCB dilambangkan dengan X. Berdasarkan rumus tersebut, persamaan garis regresinya adalah Y= 26.051+1.973X, artinya setiap kali variabel (self-monitoring) bertambah satu, maka rata-rata variabel Y (nilai OCB) bertambah 1.973. Berarti semakin tinggi
self-monitoring maka akan semakin tinggi nilai OCB pada karyawan tersebut. b. Kategorisasi Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik
Berdasarkan deskripsi data penelitian dapat dilakukan pengelompokan yang mengacu pada kriteria kategorisasi. Azwar (2006) menyatakan bahwa
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficien ts T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 26.051 12.021 2.167 .034 SM 1.973 .245 .727 8.053 .000 a. Dependent Variable: OCB
kategorisasi ini didasarkan pada asumsi bahwa skor subjek penelitian terdistribusi normal. Kriterianya terbagi atas tiga kategori yaitu: rendah, sedang, dan tinggi.
Menurut Azwar (2006), pengkategorisasian 3 jenjang (tinggi, sedang, rendah) ini merupakan pengkategorisasian minimal yang digunakan oleh peneliti. Apabila hanya dilakukan pengkategorisasian dalam 2 jenjang (misalnya tinggi dan rendah) maka akan menghadapi resiko kesalahan yang cukup besar bagi skor-skor yang terletak di sekitar mean kelompok (Azwar, 2006). Pengkategorisasian dalam 3 jenjang ini digunakan untuk menghindari resiko kesalahan yang cukup besar dan untuk keefisienan. Kriteria kategorisasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan norma kategorisasi sebagai berikut (Azwar, 2000):
X < (µ - 1,0 σ) rendah
(µ - 1,0 σ) ≤ X < (µ + 1,0 σ) sedang
(µ + 1,0 σ) ≤ X tinggi
Dalam penelitian ini peneliti mengkategorikan data penelitian berdasarkan mean hipotetik dan mean empirik. Mean hipotetik untuk melihat posisi relatif individu berdasarkan norma skor idealnya skala, sedangkan berdasarkan mean empirik untuk melihat posisi relatif individu berdasarkan norma skor dari subjek penelitian.
1). Nilai empirik dan nilai hipotetik self-monitoring
Hasil perhitungan mean empirik dan mean hipotetik disajikan dalam tabel 14 berikut:
Tabel.14 Nilai empirik dan nilai hipotetik self-monitoring
Variabel Skor Empirik Skor Hipotetik
Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD
Self-monitoring
35 62 48.75 5.689 14 70 42 14
Berdasarkan tabel 14 maka diperoleh nilai rata-rata empirik self-monitoring sebesar 48.75 dengan standar deviasi sebesar 5.689 dan nilai hipotetik sebesar 42 dengan standar deviasi sebesar 14.
Jika dilihat perbandingan antara rata-rata empirik dengan rata-rata hipotetik, maka diperoleh rata-rata empirik lebih besar daripada rata-rata hipotetik dengan selisih 51.25. Hasil ini menunjukkan bahwa self-monitoring yang dimiliki subjek penelitian lebih tinggi daripada rata-rata self-monitoring pada populasi umumnya.
Tabel. 15 Kategorisasi Self-monitoring Berdasarkan Mean Hipotetik
Berdasarkan tabel 15 dapat diketahui bahwa sabjek penelitian yang memiliki self-monitoring yang tinggi sebesar 3.3% sedangkan yang memiliki self-monitoring yang sedang sebesar 96.7% dan tidak ada subjek penelitian yang
Kriteria Kriteria Jenjang
Kategori Frekuensi Persentase (%)
Self-monitoring X < 28 Rendah - 0%
28 ≤ X < 56 Sedang 58 96.7%
memiliki self-monitoring yang rendah. Hal ini berarti sebagian besar karyawan memiliki self-monitoring yang sedang.
2). Nilai empirik dan nilai hipotetik OCB karyawan
Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkap OCB adalah sebanyak 33 aitem dengan format skala likert dalam 5 alternatif pilihan jawaban. Hasil perhitungan mean empirik dan mean hipotetik disajikan dalam tabel 15 berikut:
Tabel. 16. Nilai empirik dan nilai hipotetik OCB karyawan
Variabel Skor Empirik Skor Hipotetik
Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD
OCB 81 155 122.22 15.445 33 165 99 33
Berdasarkan tabel 15 maka diperoleh nilai rata-rata empirik OCB sebesar 122.22 dengan standar deviasi sebesar 15.445 dan nilai rata-rata hipotetik sebesar 99 dengan standar deviasi sebesar 33.
Jika dilihat perbandingan rata-rata empirik dengan rata-rata hipotetik, maka diperoleh rata-rata empirik lebih kecil daripada rata-rata hipotetik dengan selisih -22.22.hasil ini menunjukkan bahwa OCB yang dimiliki subjek lebih kecil daripada rata-rata OCB yang dimiliki populasi umumnya.
Tabel 17. Kategorisasi OCB Berdasarkan Mean Hipotetik Kriteria Kriteria
Jenjang
Kategori Frekuensi Persentase (%)
OCB X < 66 Rendah - 0%
66 ≤ X < 132 Sedang 46 76.7%
Berdasarkan tabel 16 dapat diketahui bahwa sabjek penelitian yang memiliki OCB yang tinggi sebesar 23.3% sedangkan 76.7% subjek penelitian memiliki OCB yang sedang dan tidak ada subjek yang memiliki OCB rendah. Hal ini berarti sebagian besar subjek penelitian perilaku OCB pada karyawan yang sedang.
C. Pembahasan
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa adanya hubungan antara self-monitoring terhadap OCB karyawan PT. Bank Sumut Panyabungan. Dimana hasil pengujian korelasi kedua variabel ini, diperoleh nilai r sebesar 0,727 dengan taraf signifikansi (ρ) sebesar 0,000 sehingga ρ < 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa Semakin tinggi skor yang diperoleh dalam skala self-monitoring karyawan maka semakin tinggi perilaku OCB karyawan muncul dan sebaliknya semakin rendah
self-monitoring karyawan yang diperoleh maka akan semakin rendah pula perilaku OCB yang muncul.
Selanjutnya hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan ada pengaruh self-monitoring terhadap OCB karyawan. Hal ini dilihat dari nilai koefisien determinasi sebesar 52.8% yang dalam hal ini berarti besarnya pengaruh self-monitoring terhadap OCB karyawan sedangkan sisanya yaitu 47.2% dijelaskan dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dinyatakan (Robbins & Judge, 2008)
perilaku seorang karyawan dalam suatu organisasi tidak dapat terlepas dari atribut
lagi dengan rujukan penelitian dari Blakely, Andrews, dan Fuller, (2003)
menunjukkan self-monitoring berhubungan signifikan dengan OCB, yang paling menonjol dalam dimensi OCB salah satunya perilaku menolong dalam lingkungan
organisasi. Dan kemudian ditambahkan manajer lebih tertarik pada karyawan yang
mempunyai self-monitoringtinggi karena penting dalam peningkatan karakteristik organisasi. Selanjutnya Niehoff & Noorman, (1993) menyatakan dalam penelitiannya bahwa ada hubungan positif antara metode monitoring pimpinan terhadap OCB. Yang pertama, dilihat hubungan positif yang ditemukan antara manager memulai diskusi dan altruisme
Hasil dari kategori subjek menunjukkan self-monitoring karyawan PT.Bank Sumut Panyabungan tergolong ke dalam self-monitoring yang sedang.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap 60 subjek penelitian, sebanyak 58 orang (96.7%) dari subjek penelitian memiliki self-monitoring yang sedang, sabjek penelitian yang memiliki self-monitoring yang tinggi sebesar 2 orang (3.3%) dan tidak ada subjek penelitian yang memiliki self-monitoring yang rendah. Hal ini berarti hampir semua subjek penelitian dalam penelitian ini memiliki kecakapan
individu dalam membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuannya untuk
mengontrol diri dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi
untuk menampilkan diri dalam situasi sosial kerja (Snyder dalam Baron & Byrne, 2000)
dalam kategori sedang.
Self-monitoring berhubungan positif dengan melayani diri sendiri dalam pengelolaan kesan. Pengelolaan emosi melibatkan pengaturan perilaku
dorongan internal untuk seorang pemimpin untuk menunjukkan OCB. Perhatian untuk citra umum seseorang kemungkinan untuk meningkatkan frekuensi orang menunjukkan OCB ( Krishnan & Arora, 2008).
Hasil yang diperoleh dari 60 orang subjek penelitian yang memunculkan perilaku OCB yaitu sebesar 46 orang (76.7%) subjek penelitian memiliki OCB yang sedang, sabjek penelitian yang memiliki OCB yang tinggi sebesar 14 orang (23.3%), tidak ada subjek yang memiliki OCB rendah.
BAB V