• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN ANALISA

Dalam dokumen identitas Diri Individu yang mengalami c (Halaman 29-56)

A. Deskripsi Subjek

Total subyek dalam penelitian ini berjumlah lima orang yang menjadi satu kelompok Focus Group Interview (FGI). Anggota kelompok memiliki rentang usia 19 tahun hingga 21 tahun. Keseluruhan subjek memiliki status sebagai mahasiswa. Setiap subjek memiliki selebriti idola yang berbeda-beda. Berikut ini adalah gambaran dari subyek yang turut dalam proses FGI:

FGI pertama dilakukan pada hari minggu, 18 Mei 2014 dengan subyek peserta yaitu :

1. AKA (19 tahun)

Subyek juga lulusan SMA. Subjek berjenis kelamin perempuan. Subjek adalah fans dari EXO (Boyband Korea). Personil yang paling disukai adalah Christ. 2. ZM (20 tahun)

Pendidikan terakhir subjek adalah SMA. Subjek berjenis kelamin perempuan. Subjek adalah fans dari Justin Bieber.

3. DK (21 tahun)

Subjek merupakan subjek yang memiliki usia paling dewasa. Subjek memiliki jenis kelamin perempuan. Subjek adalah fans dari Super Junior (Boyband Korea). Personil yang paling disukai adalah kyuhyun.

4. AH (20 tahun)

Subyek lulusan SMA dan sekarang berkuliah di fakultas psikologi UNM. Subjek berjenis kelamin perempuan. Selebriti idola subjek adalah Taylor Swift.

5. FT (19 Tahun)

Subjek lulusan SMA dan sekarang terdaftar sebagai mahasiswa aktif di sebuah universitas di Makassar.

Tabel 1. Data Responden FGI

No. Nama (inisial) Usia Jenis Kelamin Pendidikan Terakhir

1. AKA 21 Tahun Wanita SMA

2. ZM 19 tahun Wanita SMA

3. DK 19 Tahun Wanita SMA

4. AH 20 Tahun Wanita SMA

5. FT 19 Tahun Wanita SMA

B. Hasil

1. Subjek 1 (AKA) a. Gambaran diri subjek

Subjek AKA merupakan seorang perempuan yang berusia 19 tahun dan mahasiswa dari Fakulas Psikologi. Subjek memiliki kulit putih dan tinggi sekitar 158 cm. Subjek berdomisili di Makassar tepatnya di jalan kumala. Ayah subjek bekerja sebagai seorang dokter di Rumah Sakit Haji sedangkan ibu subjek bekerja sebagai ibu rumah tangga. Subjek memiliki saudara tiga yakni satu laki-laki dan dua perempuan.

Awal subjek sangat fans dengan EXO yakni pada tahun 2011 yang dimulai dengan subjek membuka-buka youtube. Subjek menganggap bahwa EXO

merupakan kumpulan lelaki yang sangat diperlukan di masa depan. EXO merupakan artis boyband yang berasal dari Korea. Subjek merasa sering merindukan idola subjek dan cara yang paling mahir ketika subjek merindukan idola subjek yakni mengunduh video terbaru subjek, ketika video yang diinginkan belum terungah subjek hanya melihat apa yang ada di dalam laptop subjek.

Subjek merupakan seorang anak yang hidup di lngkungan keluarga yang cukup baik. Pola asuh dari kedua orang tua subjek menggunakan pola asuh autoritarian. Pola asuh autoritarian merupakan cara orang tua dalam mendidik anak yakni memberikan kebebasban kepada anak namun tetap dalam kontrol yang cukup(tetap membuat anak nyaman untuk tetap dipantau oleh kedua orang tua). Pola asuh seperti itulah yan ditetapkan oleh orang tua subjek kepada subjek. Subjek sangat tertarik dengan idola subjek namun perubahan yang ada dalam diri subjek yang berhubungan dengan idolanya tidak nampak berlebihan karena yang subjek tiru hanyalah sifat yang ada dalam diri idolanya seperti rendah hati, baik, dan tidak sombong (menurut subjek). Subjek dapat meniru sifat idola subjek seperti yang telah dipaparkan di atas.

b. Gambaran identitas diri subjek 1. Hubungan orang tua dan remaja

Hubungan orang tua subjek dengan subjek cukup harmonis karena subjek palig sering meluangkan waktu subjek dengan orang tua subjek karena subjek cukup

merasa tenang atau terlindungi dengan orang tua subjek. Subjek sering mempertegas bahwa kebersamaannya dengan orang tuanya sangat lebih meyenangka dibandingkan dengan teman-teman subjek. Subjek sering melakukan quality time bersama orang tua subjek seperti makan-makan, nonton bersama atau dengan kegiatan-kegiatan yang lainnya.

“Kegiatan-kegiatan normal ji kayak makan bersama, nonnton, cerita-cerita, masak pokoknya banyak sekaliji. Pokoknya tenang dalam keluarga”. (baris 35-37)

“Of course, karena seperti yang saya bilang tadi bahwa keluarga adalah komunitas yang paling aman dan saya sangat merasa nyaman. Keluarga saya selalu jagaka, lindungika, keinginanaku semua terpenuhi di rumah”. (baris 40-43)

2. Model identifkasi

Subjek sangat mengharapkan kesuksesan seperti idola subjek yang sekarang seperti idola subjek EXO. Subjek menjadikan dirinya sebagai seorang yang sangat terikat dengan idola subjek. Subjek menjadikan idola subjek sebagai modeling untuk mencapai kesuksesan subjek sendiri. Subjek megaku bahwa setiap orag memilikdeling yang berbeda-beda untuk setiap kehidupan semua individu. Usaha keras yang dilakukan oleh idola subjek akan ditiru pula oleh subjek sesuai dengan yang dikatakan leh subjek yakni :

“Semangatnya dalam meraih impian sangat besar karena dalam hal pemilihan karir toh mau bangetka kayak dia mauka sukses kayak mereka. You know mi semua orang pasti mauji toh sukses eeeeeee tapi masing-masing beda model ki dalam kehidupan sehari-harinya orang toh termasuk saya”. (baris 118-122).

Subjek mengaku hanya dapat berinteraksi dengan keluarga subjek bukan teman-teman subjek ataupun orang-orang yang ada di lingkungan subjek. Gambaran orang-orang yang ada di sekitar subjek merupakan lingkungan yang termasuk ke dalam lingkungan yang homogen. Subjek mengaku bahwa yang menunjang sukses subjek yakni orang tua atau keluarga subjek bukan orang-orang yang ada di sekitar subjek atau di lingkungan subjek. Alasan yang dikemukakan bahwa subjek sulit untuk melakukan interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar subjek.

“Eeeeeeee 70% pastinya lebih senang sama keluarga kah keluargami itu tempat yang paling tenang weh. Keluarga toh menurutku lebih kesuasana yang kayak di surge. Apa pun yang dimau dalam keluarga toh kayak tercapai begitue. Apalagi kalo sama bapakku yang paling mengerti. Hahahahaha kalo mintaki uang langsungki nakasi”. (baris 19-24)

“Karena begitumi tadi yang kubilang weh keluarga itu menurut saya pribadi merupakan kumpulan orang-orang yang bisa bikinka nyaman. Teman juga sih tapi keluarga yang paling utama menurutku karena begitumi tadi yang kubilang apa yang diminta dominan selaluki terkabul begitu. Teman juga pentingji sebenarnya tapi kalo dibandingkan toh saya pilih keluarga jii nah weh”. (baris 25-31)

4. Konsep diri

Subjek dapat menyatakan konsep diri subjek seperti kesadaran diri subjek atau penggambaran mengenai diri subjek. Sube dapat mengahragai kemampuan yang subjek miliki atau kelebihan-kelebihan yang ada pada diri subjek dengan tetap menjadi diri subjek.

“kalau dibilang mood sih iya banget, Eeeeeee tapi kalau kepribadian nd tonji iyya karena haruska tetap jadi diriku sendiri weh mekipun itu modelku toh EXO. Ce cye kan anak psikologika bede toh be your self men hahahahah”. (baris 133-136)

5. Percaya diri

Percaya diri subjek timbul dari sisi keluarga subjek bukan dari kelompok sosial subjek. Percaya diri subjek untuk mencapai tujuan hidup subjek sangat tergantung dari dukungan-dukungan keluarga subjek.

“Eeeeeeee 70% pastinya lebih senang sama keluarga kah keluargami itu tempat yang paling tenang weh. Keluarga toh menurutku lebih kesuasana yang kayak di surge. Apa pun yang dimau dalam keluarga toh kayak tercapai begitue. Apalagi kalo sama bapakku yang paling mengerti. Hahahahaha kalo mintaki uang langsungki nakasi.” (baris 19-24)

“Karena begitumi tadi yang kubilang weh keluarga itu menurut saya pribadi merupakan kumpulan orang-orang yang bisa bikinka nyaman. Teman juga sih tapi keluarga yang paling utama menurutku karena begitumi tadi yang kubilang apa yang diminta dominan selaluki terkabul begitu. Teman juga pentingji sebenarnya tapi kalo dibandingkan toh saya pilih keluarga jii nah weh.” (baris 25-31)

“Tergantung ada beberapa keinginan yang tidak dapat terpenuhi dengan sahabat apalagi teman.” (baris 46-47)

c. Celebrity worship

Celebrity worship merupakan hubungan antar subjek dan idola subjek. Idola juga merupakan seorag atau kelompok yang dikenal secara meluas dalam masyarakat. Subjek berusaha membangun hubunga yang dekat dengan idola subjek meskipun subjek adar bahwa idola subjek berada pada wilayah yang sangat jauh untuk subjek jangkau. Subjek berusaha membangun hubungan dengan idolanya dengan menggunakan teknik intertainment social. Intertainment social merupakan suatu hubunga yang dibangun oleh subjek dengan idolanya yakni dengan melakukan pencarian informasi yang aktif oleh fans dengan selebriti.

“Sebenarnya saya mau ketemu, realistis saja toh nda suka sekalika numpuk-numpuk sama orang, apalagi itu yang sesame fans,ada yang biasa cemburu baru anarkiski toh. Bisa saja itu nabunuhki nah. Malla’

tonja itu nah nantimatika weh nda bisak menikah dengan salah satu personilnya EXO.” (baris 103-107)

“Ngefans bangetka karena hampir tiap hari saya nonton videonya. Saya selalu download video-video terbarunya. Malahan di laptop saya itu kebanyakan file dari EXO bukan tugas. Bayangkan kalo lagi kerja tugaska haruska buka dulu videonya EXO supaya moodka weh.” (baris 138-141)

d. Hasil observasi

Subjek memakai baju berwarna putih, jilbab berwarna abu-abu dan celana jeans biru muda. pada saat observer bertanya kepada subjek mengarahkan pandangannya mengarah ke observer disertai menjawab pertanyaan yang diberikan observer. Subjek duduk di sofa rumah subjek tepatnya berada di ruang tamu rumah subjek.

Subjek sering melihat ke kanan saat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh observer. Seringkali pula subjek menggoyangkan tangan subjek dengan mengetuk-ngetuk meja yang berada di depan subjek sambil berbicara. Subjek sering mengatakan “eeee” pada saat menjawab pertanyaan observer. Subjek juga sering mengecek handphone saat menjawab pertanyaan observer.

2. Subjek 2 (ZM) a. Gambaran diri subjek

Subjek ZM adalah perempuan yang berusia 20 tahun. Saat ini subjek ZM sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas negeri di Makassar.

Subjek ZM merupakan salah satu alumni dari SMP Negeri 3 Makassar dan SMK Negeri 8 Makassar. Subjek adalah salah satu fans dari Justin Bieber. Subjek ZM mulai ngefans sejak tahun 2009.

Subjek ZM di lingkungannya dapat bergaul baik dengan teman-temannya dan memiliki beberapa teman akrab. Subjek ZM memiliki orang tua yang cukup protektif, setiap subjek keluar rumah maka orang tua subjek harus mengetahui keberadaan dan bersama siapa subjek. Subjek ZM memiliki keinginan besar untuk ketemu selebriti idolanya.

Subjek ZM suka Justin Bieber karena menurut subjek Justin memiliki suara yang bagus, ganteng, baik, multi-talent, serta penyayang keluarga. Subjek ZM merasa Justin adalah salah satu calon suami yang baik. Subjek ZM membangga-banggakan Justin karena menurutnya Justin masih muda dan pintar pada bidang musik.

Subjek ZM merasa banyak hal yang bisa dia dapat dari Justin. Subjek bisa mendapat motivasi dari Justin yang multi-talent. Dari motivasi yang didapat, subjek ZM dapat berkonsentrasi dalam menerima pelajaran. Subjek ZM bangga memiliki idola yang kerja memang dari nol. Subjek rela menangis di depan orang tuanya untuk memohon-mohon untuk menghadiri acara idolanya.

Subjek ZM belum mengetahui identitas diri subjek. subjek masih dalam masa pencarian identitas diri. Subjek ZM masih bingung dengan identitas subjek. Subjek ZM merasa bingung identitas dirinya terbentuk dari lingkungan atau mengadopsi dari idolanya. Subjek ZM banyak mengikuti perilaku-perilaku idola subjek yang menurut subjek layak untuk diikuti.

b. Gambaran identitas subjek

1) Hubungan orang tua dengan remaja

Subjek ZM memiliki hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang dengan orang tua subjek, setiap subjek keluar rumah orang tua subjek selalu mengawasi subjek dengan menanyakan kemana dan bersama siapa subjek keluar. Hal tersebut sesuai yang dikemukakan subjek bahwa:

“Kalau keluar kaa, harus ditahu mau kemana dan sama siapa”. (wwcr, 54-55)

2) Model identifikasi

Subjek ZM memilih Justin Bieber sebagai idolanya karena menurut subjek Justin merupakan selebriti yang multi-talent sehingga memotivasi subjek dalam melakukan hal-hal positif sesuai dengan pernyataan subjek, yaitu:

“Karena dia toh, apa di’? terindah banget mii begitu e, karena masih muda, pintar main music, pintar nyanyi, cakep, multi-talented pokoknya kayak satu paket mii. Dia juga sayang banget sama mamanya juga. Kayak lengkap banget mii begitu ee” (wwcr, 23-26)

3) Homogenitas lingkungan

Subjek ZM memiliki lingkungan yang heterogen sehingga lebih lama menghadapi krisis karena banyaknya alternatif yang ada di hadapannya. Subjek ZM masih mencari identitas diri seperti yang dikemukakan bahwa:

“Itu identitasku tohh, ee apa di’ kayak masih mencari kaa. Kan belum pii ku tahu identitasku terbentuk dari lingkungan atau kuadopsi dari

mana karena masih dalam masa pencarian kaa kurasa” (wwcr, 157-160)

4) Konsep diri

Subjek ZM menggambarkan dirinya normal karena menurut subjek dia masih melakukan kelakuan yang masih dalam kewajaran, seperti yang dikemukakan kepada peneliti:

“Pandanganku toh tentang diriku bagaimana di’, hmmmm eeee biasa jii normal-normal jii karena tohh kayak wajar jii kelakuanku kurasa, tapi ndag tau mii itu menurut pandangannya orang lain.” (wwcr, 162-165)

5) Percaya diri

Subjek memiliki kepercayaan diri yang tinggi ketika menurut dirinya dia mempercayai bahwa ia sangat mirip dengan artis idolanya, dan menghargai pendapat teman-temannya ketika temannya mengiyakan pernyataan tersebut bahwa dirinya cantik dan mirip.

c. Pemujaan selebriti

Subjek ZM berusaha membangun hubungan yang dekat dengan selebriti idolanya. Subjek membangun entertainment social yaitu motivasi yang mendasari pencarian aktid informasi fans terhadap selebriti idolanya.

“Everything broo. He is my everything dehh. Dia toh bisa buat kaa semangat, kalau galau ko tohh dia bisa buat koo semangat dengan liat fotonya misalnya. Kau bisa alihkan dari stress kerja tugas jadi senang karena liat mukanya. Dengar suaranya bisa jadi rileks, bisa kasi muncul semangat begitueee karena Justin itu moodbosterku banget wehh.” (wwcr, 71-76)

Subjek duduk di kursi taman yang terletak di depan perpustakaan UNM. Subjek menggunakan baju kemeja kotak-kotak berwarna hijau merah dengan celana jeans berwarna hijau tua. Subjek menggunakan jilbab berwarna senada dengan baju yaitu warna merah. Subjek tersenyum saat peneliti menghampiri subjek. Subjek mendengar dan memperhatikan dengan seksama ketika peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada subjek. Subjek memberikan jawaban dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan peneliti dengan semangat.

Subjek melihat ke arah peneliti saat peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan. subjek menggoyang-goyangkan kaki saat memberikan jawaban dan tanggapan-tanggapan kepada peneliti. Subjek sesekali mengarahkan pandangan ke arah teman-teman subjek yang berada di kursi taman yang terletak di sisi lain. Selama menjawab dan memberi tanggapan-tanggapan, subjek sering terbata-bata. Sebelum peneliti mengakhiri wawancara, subjek beberapa melihat handphone yang ada di tangan kanan subjek.

3. Subjek 3 (DK) a. Gambaran diri subjek

Subjek DK adalah seorang perempuan yang berusia 21 tahun. Subjek DK berdomisili di Makassar. Subjek DK merupakan alumni SMP 8 Makassar dan

SMA 16 Makassar. Subjek DK sekarang merupakan mahasiswa aktif di salah satu universitas di Makassar.

Subjek DK dilingkungan sosialnya bergaul dengan teman-teman yang sama dan saat itu selalu berada dilingkungan sekitar subjek sehingga teman akrab subjek masih bisa dihitung. Subjek memiliki orang tua dengan pola asuh yang demokratis dengan aturan-aturan baku yang menetap tetapi diperbaharuai setiap jenjang pendidikan subjek meningkat. Subjek menurut dengan peraturan yang dibuat oleh orangtuanya. Di usia subjek yang ke 21 tahun subjek masih belum berpikiran untuk menikah dan subjek tidak pernah berpacaran.

Subjek DK pertama kali menyukai selebriti korea karena senang menonton drama korea sejak kelas dua SMP. Pada saat awal menyukai drama korea, subjek hanya menyukai cerita dari drama tersebut. Subjek DK kemudian baru tertarik kepada salah satu personil boyband super junior yang bernama Cho Kyuhyun. Subjek DK tertarik karena selebriti tersebut unik dan berbeda dengan personil lainnya. Keunikan dari selebriti idolanya tersebut karena tidak berdandan seperti anggota boyband lainnya.

Subjek DK awalnya sangat menyukai bibir pecah-pecah dari selebriti idolanya kemudian subjek sering mencari informasi mengenai selebriti idolanya hingga secara sadar dan tidak sadar meniru berbagai hal dari selebriti idolanya tersebut. Hal yang ditiru dapat berupa gerakan tubuh khas, dan ekspresi wajah selebriti idolanya. Selain berusaha meniru fisik, subjek DK juga meniru sifat selebriti idolanya yang dianggap baik oleh subjek.

1) Hubungan orangtua dan remaja

Subjek DK merasa terkekang dengan peraturan kedua orang tuanya. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan subjek, yaitu:

“trus SMA sebelum maghrib harus adami dirumah, terkekang kebebasanku kurasa dikasih begitu” (wwcr, 70-71).

2) Model identifikasi

Subjek DK memilih selebriti Cho Kyuhyun untuk dijadikan role model dalam hidupnya karena menganggap bahwa selebriti idolanya tersebut adalah orang yang layak dijadikan panutan dengan kesuksesan yang diraih oleh selebriti idolanya dalam bidang ilmiah dan bidang musik.

“charming ki. Banyak yang bisa ditiru bagus-bagus. Selain kreatif ki dalam segi musik pintar ki sukses asal ko tau nah juaraki olimpiade fisika nasional di Korea” (wwcr, 171-172).

“Mereka juga banyak bisa dilihat trus saya ubah mi saya serap toh karena belajar atau tiru dari mereka. Semangatnya, usahanya, kepribadiannya, kerja kerasnya deh nda gampang nah bisa kaya mereka. Selalu ada jalan ku untuk hibur diriku untuk jadi semangatku bisaka juuga belajar deh dari mereka.Ya semacam diilhami ka begite manfaatnya” (wwcr, 258-262).

3) Homogenitas lingkungan

Subjek DK merasa bahwa dirinya mudah untuk terpengaruh oleh lingkungan, baik lingkungan yang homogen ataupun hetero.

“Kalau yang dipengaruhi lingkungan ee kalau saya memang orangnya mudah bangetka terpengaruhi sama lingkungan” (wwcr, 285-286).

4) Konsep diri

Subjek DK bertanya ke peneliti apakah subjek DK mampu menggambarkan atau memahami diri subjek kemudian subjek menjawab sendiri pertanyaannya

dengan mengatakan bahwa subjek tidak bisa menggambarkan dirinya karena subjek masih bingung.

“Bukanka nda tau e bisa jeka gambarkan diriku we pahami diriku? Tapi kalau gambarkan diriku toh nda bisaka. Bingungka” (wwcr, 282-283).

5) Percaya diri

Subjek merasa percaya diri bahwa subjek memiliki kemiripan dengan selebriti idolanya setelah didukung oleh teman-temannya.

“Itu waktu lagi badmood ka pas temanku bilang ada kemiripanku toh sama kyuhyun deh langsungka bahagia we. Awalnya pernah ja kepikiran kalau ada miripku tapi kaya nda anu pa toh tapi tambah yakinma pas temanku bilang begitu. Deh bahagiaka nah haha karena toh menurutku banyak memang kesamaanku we” (wwcr, 131-135). c. Pemujaan terhadap selebriti (celebrity worship)

Subjek DK mengalami sindrom celebrity worship. Hal tersebut dilihat dari perilaku subjek yang mencari informasi mengenai selebriti idolanya, mulai mengembangkan hubungan parasosial dengan artis idolanya, dan menjadi tidak irrasional.

“mulai meka donlod tapi baru tiga lagu pertama saya donlod itu lagunya bonamana, sori-sori sama mister simpel. Saya donlod videonya cari beritanya trus suka ka lagunya yang ap bit akhirnya saya donlod mi semua albumnya dari awal sampai albumnya yang sekarang” (wwcr, 161-164).

“Nangis ka kalau dicallai we atau ada kejadian sedihnya biasa ee sedihka juga. Duka nya duka ku hahaha. Biasa juga kalau ketiduranka di pete-pete baru dengarki lagunya biasaka langsung banguun baru senyum-senyum sendiri. Apalagi kalau mereka dapat penghargaan toh bangga sendirika juga. Penghargaannya juga saya rasa berkat saya eh bukan berkat kami haha pede ku deh tapi memang we haha” (wwcr, 222-227).

Subjek menggunakan celana panjang kain berwarna hitam, baju batik berwarna biru, kerudung berwarna biru dan sepatu pantofel berwarna hitam. subjek memiliki tinggi badan 155cm. Subjek memiliki kulit berwarna sawo matang. Subjek di wawancarai sedang duduk di kursi taman depan perpustakaan UNM. ketika diwawancarai, subjek sering menaikkan kedua ujung bibir keatas dan mengeluarkan suara (tertawa). subjek sering berpikir dengan menaikkan bola mata ke atas. Subjek terlihat sangat ceria. Subjek sangat bersemangat ketika membahas mengenai artis idolanya. Subjek sering senyum jika peneliti memuja artis idolanya.

4. Subjek 4 (AHR) a. Gambaran diri subjek

Subjek AHR saat ini menempuh pendidikan di fakultas psikologi universitas negeri Makassar. Orang tua subjek memakai pola asuh otoritarian dimana subjek dapat melakukan hal-hal yang positif dengan yang menurutnya baik dan tetap berada dalam pengawasan orangtuanya. Dan terkadang iya juga sangat merasa terganggu karena adiknya yang sering jahil.

Subjek AHR memiliki banyak teman, dimana teman-temannya tersebut memiliki banyak fungsi, ada yang teman diajak bermain, diajak makan bersama, dan diajak mengerjakan tugas secara bersama-sama. Subjek AHR dapat mengerjakan tugas sesuai dengan persetujuan oleh orangtua, karena ada saat dimana subjek harus berada pada lingkungan untuk mengerjakan bersama-sama

dengan mendapatkan izin dari orangtuanya, asalkan orangtua subjek mengetahui dengan jelas identitas teman subjek tersebut.

Subjek AHR sangat mengidolakan artis barat yang bernama Taylor Swift, dan berusaha berada pada garis normal dalam mengidolakan seseorang, dan masih terus berharap agar dapat mendatangi konser yang diadakan kelak nanti. Subjek AHR sangatlah kooperatif dalam menjalani hidupnya sebagai mahasiswi yang mengidolakan artis luar negeri dengan mengikuti apa-apa saja yang artis idolanya

Dalam dokumen identitas Diri Individu yang mengalami c (Halaman 29-56)

Dokumen terkait