• Tidak ada hasil yang ditemukan

identitas Diri Individu yang mengalami c

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "identitas Diri Individu yang mengalami c"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Manusia secara umumnya terlahir dengan kemampuan kognitif melebihi makhluk hidup yang lainnya seperti hewan dan tumbuhan sehingga mampu untuk melakukan semua hal yang mencakup proses mental seperti thingking, problem solving, sensing and many more. Kemampuan kognitifnya itulah yang membuat manusia lebih unggul dari makhluk hidup lainnya. Seperti yang dikatakan oleh Albert Bandura bahwa dengan kemampuan belajarnya manusia dapat mengamati dan belajar banyak mengenai tingkah laku sebelum mereka melakukannya (Myers, 2011).

(2)

dengan memanfaatkan koneksi pribadi maupun media internet dan sosial untuk bertukar informasi dan pandangan, dan untuk menciptakan citra di masyarakat.

Ashe dan McCutcheon (Fitriani, 2009) juga mengemukakan bahwa pemujaan terhadap selebriti lebih banyak terjadi pada remaja dan dewasa awal dibandingkan dengan usia yang lebih tua. Individu menunjukan bahwa mereka yang memuja selebriti memiliki identitas difusi, self esteem yang rendah dan performance yang rendah dibandingkan dengan remaja yang menjadi pemuja selain selebriti memiliki studi performance yang lebih baik. Cuyler dan Ackhart (Raharja, tanpa tahun) mengemukakan bahwa identitas yang digunakan seseorang memiliki hubungan dengan motivasi tertentu.

(3)

sebagai tahapan pengembangan diri untuk menampilkan suatu bentuk kepribadian. Sebagai pribadi, manusia merupakan totalitas yang mantap dan harmonis. Ciri kepribadian seseorang yang memiliki identitas diri, yaitu orang yang mampu mengendalikan dorongan emosinya, pandai membaca perasaan orang lain, dan bisa memelihara hubungan baik dengan lingkungannya melalui pengenalan diri sendiri secara lebih mendalam. Sebagai makhluk sosial , akan lebih baik lagi bila seseorang memiliki sejumlah kemampuan yang merupakan komponen dasar dari kecerdasan antar pribadi.

B. Fokus Masalah

1. Bagaimana gambaran identitas diri individu yang memuja selebriti (celebrity worship) ?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui gambaran identitas diri individu yang memuja selebriti (celebrity worship).

D. Manfaat Penelitian 1. Kegunaan Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian untuk penelitian selanjutnya dan memberikan kontribusi ilmiah dalam bidang psikologi.

2. Kegunaan Praktis

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini akan membahas mengenai teori identitas diri, celebrity worship, dan beberapa teori yang berhubungan dengan celebrity worship seperti teori pemujaan dan teori hubungan parasosial.

A. Identitas Diri 1. Definisi Identitas Diri

Stuart dan Sundeen (Hasanah, 2013) mengemukakan bahwa identitas diri dalah sikap individu terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan dan potensi tubuh. Identitas diri merupakan sesuatu yang dinamis sebab terus menerus berubah dengan persepsi dan pengalaman baru, yang merupakan sasaran atau pelindung penting dari perasaan-perasaan seseorang, kecemasan dan nilai-nilai.

(5)

keluarga cenderung akan mengharapkan kasih sayang dari orang lain, sehingga identitas diri yang dimiliki akan berubah berdasarkan model yang ada dikehidupannya. Perubahan identitas diri yang dimiliki oleh individu yakni ketika individu memiliki idola yang diagung-agungkan, maka setiap individu yang memiliki idola cenderung akan mengalami perubahan identitas diri yang mengikuti idolanya.

(6)

2. Teori Identitas Diri

Santrock (2007) mengemukakan tahap-tahap perkembangan manusia menurut Erikson, yaitu:

a. Kepercayaan versus ketidakpercayaan menuntut adanya perasaan nyaman secara fisik dan ketidakpercayaan setidaknya perasaan takut dan ragu-ragu terhadap masa depan. Masa bayi, kepercayaan akan menetukan tahap bagi harapan seumur hidup bahwa dunia akan menjadi tempat tinggal yang baik dan menyenangkan.

b. Otonomi versus rasa malu dan keragu-raguan yaitu mulai menyatakan rasa kemandirian atau otonominya. Jika bayi banyak dibatasi dan dihukum terlalu keras, mereka cenderung mengembangkan rasa malu dan ragu-ragu.

c. Prakarsa versus rasa bersalah yaitu ketika anak-anak prasekolah mulai memasuki dunia sosial yang luas, mereka dihadapkan pada tantangan-tantangan yang lebih besar dibandingkan ketika mereka masih bayi.

d. Tekun versus rasa percaya diri tidak ada saat lain yang lebih bersemangat atau antusias untuk belajar dibandingkan pada akhir periode pengembangan imajinasi pada masa kanak-kanak awal. Bahayanya yang dihadapi di masa sekolah dasar adalah anak dapat mengembangkan rasa rendah diri-tasa tidak kompeten dan tidak produktif.

(7)

f. Keintiman versus keterkucilan yaitu individu menghadapi tugas perkembangan yang berkaitan dengan pembentukan relasi intim dengan orang lain. Erikson mendeskripsikan keintiman sebagai menemukan diri sendiri di sisi lainnya. Jika seorang muda membentuk persahabatan yang sehat dan sebuah relasi yang intim dengan orang lain, keintiman akan dicapai, jika tisak maka ia akan merasa terkucil.

g. Bangkit versus stagnasi yaitu membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna.

h. Interitas versus kekecewaan yaitu masa dimana individu mulai merefleksikan kehidupan di masa lalu.

Erikson (Yuniardi, 2010) menyatakan empat status identitas, sebagai berikut. a. Pengalihan identitas bagi individu yang berada dalam pengalihan status

identitas dan tidak pernah mengalami kritis identitas. Mereka telah membentuk suatu identitas premature yang lebih berdasarkan pilihan orang tua daripada identitas mereka sendiri. Mereka telah membuat komitmen pekerjaan dan ideology, tetapi apa yang dapat dilakukan oleh orang tua. Ini merupakan “identitas semu”.

b. Kebingungan identitas yaitu individu yang tidak menemukan arah pekerjaan atau komitmen ideology, dan mencapai kemajuan kecil kea rah tujuan-tujuan ini. Mereka kemingkinan telah mengalami krisis identitas, dan apabila benar, mereka tidak dapat mengatasinya.

(8)

membuat komitmen yang pasti terhadap salah satu pilihan. Remaja yang berada pada status moratorium langsung berada di tengah-tengah suatu krisis identitas dan sedang mencari pilihan-pilihan hidup.

d. Pencapaian identitas yaitu kondisi bagi individu ketika telah mengetahui tentang dirinya, mampu membuat keputusan-keputusan tegas tentang pekerjaan dan ideology. Mereka yakin bahwa keputusan-keputusan itu dibuat berdasarkan otonomi dan kebebasan serta komitmen internal.

Karl dan Reed (2002) dalam identitas yang dimiliki oleh individu tidak terlepas dengan identitas moral. Identitas moral merupakan perilaku yang melekat pada diri individu yang menjadi khas dalam berperilaku pada dunia sosial. Jones dan McEwen (2000) mengemukakan bahwa dalam pengembangan identitas dalam diri individu sangat membutuhkan perhatian dari lingkungan termasuk lingkungan internal. Lingkungan internal yang dimaksud yakni keluarga.

3. Aspek-aspek Identitas Diri

Dariyo (2004) mengemukakan ciri-ciri identitas diri, yaitu: a. Konsep diri

(9)

pemahaman bahwa untuk menghargai diri sendiri, hal yang paling utama yang harus dilakukan yaitu seseorang harus dapat lebih mengenal dirinya, baik mengenai kekurangan dan kelebihan diri, serta keunikan diri sebagai mahluk ciptaan Tuhan.

b. Evaluasi diri

Penerimaan kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri individu yang baik, berarti ia akan memiliki kemampuan untuk menilai, menaksir, mengevaluasi potensi diri sendiri.

c. Harga diri

Penghargaan diri yang wajar dan proporsional merupakan tindakan yang tepat bagi seorang individu yang mempunyai identitas diri yang matang. Individu yang memiliki harga diri yang positif memiliki kemampuan dalam berkata-kata, bersikap, berpikir, maupun bertindak berdasarkan nilai-nilai norma, etika, kejujuran, kebenaran, maupun keadilan.

d. Efikasi diri

Efikasi diri merupakan kemampuan menyadari, menerima, dan mepertanggungjawabkan semua potensi, keterampilan, atau keahlian secara tepat. Efikasi diri akan mendorong individu untuk menghargai dan menempatkan diri pada posisi yang tepat.

e. Kepercayaan diri

(10)

f. Tanggung jawab

Individu yang bertanggung jawab mampu melaksanakan kewajiban dan tugas-tugasnya sampai tuntas, walau harus mengorbankan banyak tenaga, waktu, dan biaya.

g. Komitmen

Individu yang memiliki komitmen biasanya perhatian, pemikiran, tenaganya tercurah untuk mencapai tujuan akhir dari komitmennya. Individu yang memiliki komitmen akan berusaha keras untuk mencapai keberhasilan, mampu mengatasi semua rintangan atau hambatan yang menyebabkan kegagalan.

h. Ketekunan

Ketekunan tidak mengenal putus asa dan selalu berorientasi pada masa depan. Individu yang tekun memiliki karakteristik kemandirian, rasa percaya diri, optimis, dan pantang menyerah.

i. Kemandirian

Berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan segenap kemampuan, inisiatif, daya kreasi, kecerdasan dengan sebaik-baiknya.

4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Identitas Diri

Furham (Ristianti, 2009) mengemukakan beberapa faktor yang dapat memengaruhi identitas diri, yaitu:

a. Hubungan orang tua-remaja

(11)

ide-idenya dengan orang tua sebagai pengawas bukan sebagai pengekang kebebasan. Collins (Neff dan McGehe, 2010) mengemukakan bahwa aspek sadar diri atas kasih sayang yang diterima oleh individu di lingkungan sekitar misalnya dari orang tua akan menghindari adanya obsesif merenungkan pikiran pesimis, emosi dan dapat mengakibatkan pada disfungsi psikologis. Diperkirakan bahwa remaja yang memiliki kasih sayang penuh dari individu-individu yang ada di sekitanya yang berhubungan dengan sosial yang akan mengurangi kecemasan depresi, sehingga individu tidak berharap kepada orang yang menurutnya bisa memberikan kasih sayang seutuhnya lewat seorang yang diidolakan.

b. Model identifikasi

Model identifikasi biasanya adalah orang yang sukses dalam hidupnya. Individu memiliki harapan bahwa dengan menjadi seperti model identifikasinya maka dirinya akan meraih sukses yang sama sehingga memotivasi individu untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh model tersebut. Stets dan Burke (2000) mengemukakan bahwa diri individu sangat berperan penting dalam mengklasifikasikan, mengelompokkan objek-objek secara khusus yang ada di lingkungan individu yang memiliki relasi atau hubungan dengan sosial kategori atau klasifikasi. Proses pengelompokkan atau pengklasifikasian objek-objek yang ada biasa disebut dengan pengeompokkan diri.

c. Homogenitas lingkungan

(12)

menghadapi krisis karena terlalu banyak alternatif yang ada di hadapannya. Faktor lingkungan pada waktu tertentu sangat memengaruhi hasil perkembangan. Individu yang tidak memperoleh kesempatan belajar dan tidak memperoleh bimbingan dalam mengembangkan bakat-bakatnya, tidak akan mencapai hasil maksimal dari perkembangan rancangan dasarnya. Hornsey (2007) mengemukakan bahwa identitas sosial yang dimiliki oleh individu yang menjelaskan bahwa konteks sosial mempengaruhi hubungan antar kelompok dan dapat menghubungkan ide-ide menjadi sebuah paradigma yang digunakan dalam konteks sosial tampaknya paradoks. Jadi, dapat disimpulkan bahwa identitas moral dan sosial memiliki pengaruh yang kuat untuk menentukan nilai keberadaan individu di tengah-tengah keluarga dan masyarakat sekitar, sehingga kasih sayang dapat dirasakan oleh individu dan tidak menggantungkan harapan pada seorang atau idola secara berlebihan. Aquinoo dan Reed (2002) mengemukakan bahwa identitas sosial dan identitas moral dapat dijadikan sebagai bahan dasar untuk membangun identitas diri yang ada pada diri individu. Hal yang berhubungan dengan identitas moral yakni keyakinan, sikap, dan perilaku. Aquinoo dan Reed juga mengemukakan bahwa identitas moral sangat penting untuk membangun self-important pada diri tiap individu.

d. Perkembangan kognisi

(13)

persoalan dari berbagai sudut pandang yang berbeda, individu cenderung lebih mempunyai komitmen yang kuat dan konsisten.

e. Sifat individu

Remaja memiliki sifat ingin tahu dan keinginan untuk eksplorasi yang besar dimana hal ini dapat membantu pencapaian identitas.

f. Pengalaman masa kanak-kanan

Individu yang di masa kanak-kanan telah berhasil menyelesaikan konflik-konfliknya cenderung lebih mudah menyelesaikan krisis dalam mencapai identitas diri.

g. Pengamalan kerja

Pengalaman kerja individu dapat menstimuli pengembangan identitas diri. Individu menjadi lebih matang dengan menghadapi permasalahan yang ada di lingkungan kerjanya sehingga individu mengetahui kelebihan atau kekurangan apa yang dimiliki untuk menghadapi permasalahan tersebut.

h. Interaksi sosial

Dalam tahap perkembangan yang dijalani oleh remaja ditandai oleh cara hubungan individu tersebut dengan orang lain dan kebalikannya. Hal yang sama terjadi pada masa remaja, dimana jelas ada pengaruh hubungan timbal balik antara remaja dan orang lain dalam perkembangan kepribadiannya.

i. Kelompok teman sebaya

(14)

Rifany (2008) menambhakan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan identitas diri remaja, yaitu:

a. Iklim keluarga. Interaksi sosio-emosional antara anggota keluarga, sikap, dan perlakuan orang tua terhadap remaja.

b. Tokoh idola. Orang-orang yang dipersepsi oleh remaja sebagai figur yang memiliki posisi di masyarakat.

c. Peluang perkembangan diri. Kesempatan yang dimiliki oleh remaja untuk melihat ke depan dan menguji dirinya untuk dapat menjalani kehidupan yang beraneka ragam.

Purwadi (2004:45) Pembentukan identitas diri remaja juga dipengaruhi oleh gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua dan atau pihak yang mengasuh dan merawat individu tersebut. Penelitian Purwadi (2000) menunjukkan bahwa pengasuhan orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan pembentukan identitas diri remaja. Dalam hal ini, bgaimana orang tua mendidik dan memperlakukan anak. Marcia (Dariyo, 2004) menyatakan terdapat dua faktor yang menentukan status identitas remaja yaitu orang tua dan kepribadian remaja. Faktor-faktor yang memengaruhi identitas diri remaja yaitu hubungan orang-tua-remaja, model identifikasi, homogenitas lingkungan, perkembangan kognisi, sifat individu, pengalaman masa kanak-kanan, pengalaman kerja, interaksi sosial, dan teman sebaya.

5. Unsur-unsur identitas diri

(15)

menemukan tempat individu di dunia yang tak terbatas dengan banyak kemungkinan nilai ang tak tebatas. Ego merupakan proses yang terpenting dalam pembentukan identitas. Unsur -usur yang yang terkandung dalam identitas, yaitu: a. Jenis kelamin

Telah disebutkan di atas bahwa pembentukan identitas yang terjadi pada setiap individu dipengaruhi oleh ego. Identitas terbetuk karena adanya kapasitas ego yang dimiliki oleg setiap individu itu berbeda. Ego yang ada pada perempuan dan laki-laki berbeda, sehingga pembentukan identitas dalam setiap individu khususnya perempuan dan laki-laki berbeda pula.

b. Etnis

Etnis juga merupakan salah satu yang penting dalam pembentukan idenitas dari setiap individu. Seperti yang dijelaskan dalam teori Shoemaker bahwa identitas diri yang dimiliki oleh individu terbentuk dari etnis yang terdapat dalam masyarkat tempat tinggalnya, sehingga peraturan-peraturan yang merupakan adat dan tradisi dalam masyarakat digunakan sebagai dasar untuk melakukan sesuatu atau berperilaku.

c. Kewargaegaraan

(16)

B. Celebrity Worship

1. Pengertian celebrity worship

(17)

pertanda patologi sehingga individu yang memiliki tingkat celebrity worship yang tinggi tidak berarti bahwa individu tersebut tergolong kedalam ciri individu yang memiliki pertanda patologi.

Kaparang (2013) Pemikiran mutakhir dalam dunia promosi sampai pada kesimpulan bahwa dalam budaya berbasis-selebriti (celebrity based-culture), para selebriti membantu dalam pembentukan identitas dari para konsumen kontemporer. Dalam budaya konsumen, identitas menjadi suatu sandaran "aksesori fashion".

C. Teori Mengenai Pemujaan 1. Pengertian Pemujaan

Pemujaan menurut Raviv (Yuniardi, 2010) adalah salah satu dimensi pengidolaan selain modelling. Maltby, dkk (2002) mengemukakan bahwa pemujaan merupakan bentuk kekaguman dengan intensitas yang tidak biasa dan penghormatan terhadap idola sehingga semakin tinggi tingkat pemujaan seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat keterlibatannya dengan sosok idola. Raviv (dalam Yuniardi, 2010) mengemukakan bahwa fenomena idolisasi adalah karakteristik khusus remaja awal.

(18)

perempuan yang belum siap menjalin hubungan dengan pria. Maltby dkk. (2004) mengemukakan bahwa individu yang telah menikah lebih minim untuk tertarik kepada selebriti. Maltby dkk. (2002) mengemukakan bahwa semakin tinggi religiusitas seseorang maka semikin menurun tingkat pengidolaan terhadap selebriti.

Alwisol (2009) mengemukakan berdasarkan teori Erikson bahwa identitas difusi adalah sindrom masalah-masalah yang meliputi gambaran diri, ketidakmampuan membina persahabatan, kurang memahami pentingnya waktu, dan menolak standar keluarga atau masyarakat. Yuniardi (2010) mengemukakan bahwa dalam dinamika perkembangan menurut Erikson sendiri, identitas dianggap penting ketika individu memasuki masa remaja, namun demikian identias diri ini bukanlah suatu entitas yang menetap melainkan terus mencari bentuk hingga biasanya individu matang identitas dirinya begitu lepas dari masa dewasa awal. Selanjutnya jika seseorang gagal memebentuk identitas diri yang matang maka yang terjadia adalah kebingungan identitas atau identity diffusion. Alwisol (2009) mengemukakan berdasarkan teori dari Bandura bahwa self esteem adalah unsur kognitif dan seperangkat fungsi-fungsi persepsi, evaluasi, dan pengaturan tingkah laku. Remaja biasanya mengidolakan selebritis tertentu agar tidak dianggap kurang pergaulan oleh teman-temannya. Maltby dkk (2004) mengemukakan bahwa kepribadian, faktor pemecahan masalah dan kesehatan mental dapat diperbaiki dengan kepercayaan diri.

(19)

kebutuhan remaja yang sedang mencari identitas diri. karena itu, tidak heran jika kemudian lahir penggemar-penggemar fanatik. Sheridan dkk (2007) mengemukakan bahwa fans yang meniru selebriti ini dapat memiliki konsekuensi negatif bagi fans. Fans kemudian dapat terlibat lebih dalam perilaku ekstrim dengan rangka meningkatkan pengetahuan fans tentang selebriti dan perasaan kedekatan dengan selebriti disukai. Celebrity worship dan perilaku adiksi berkorelasi positif begitupun dengan hubungan antara celebrity worship dan kriminalitas juga berkorelasi positif.

2. Hubungan Parasosial

Horton dan Whol (Fitriany, 2009) mengemukakan bahwa hubungan parasosial yang digambarkan sebagai hubungan tatap muka yang tidak nyata antara audiens dengan orang-orang yang tampil dalam media (yang kemudian dalam skripsi ini akan disebut dengan istilah selebriti). Hubungan parasosial timbul sebagai dampak dari maraknya media massa. Penggemar selalu dicirikan sebagai suatu kefanatikan yang potensial.

(20)
(21)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif. Lodico, Spaulding, dan Voegtle (Emzir, 2012) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah sebuah metodologi yang menggunakan penalaran induktif dan sangat percaya bahwa terdapat banyak perspektif yang akan dapat diungkapkan. Penelitian kualitatif berfokus pada fenomena sosial dan pemberian suara pada perasaan dan persepsi dari partisipan dibawah studi. Hal ini didasarkan pada kepercayaan bahwa pengetahuan dihasilkan dari setting sosial dan proses ilmiah yang sah.

(22)

dan cermat mengenai apa yang dialami oleh orang yang sehat maupun oleh orang yang sakit.

Pengeksplorasian kesadaran menunjuk baik pada tindakan maupun isi kesadaran dengan objek dan maknanya. Hal yang dieksplorasi mencakup persepsi, perasaan,ingatan, gambaran, gagasan, dan hal lainnya dalam kesadaran. Semua data fenomenal itu diterima dan dideskripsikan sebagaimana adanya tanpa pengandaian atau transformasi. Pengetahuan sebelumnya, corak berpikir, dan penyimpangan teoretis harus disingkirkan untuk sementara waktu dan disimpan dalam tanda kurung agar kita bisa memandang dunia fenomenal dalam segenap kekayaan dan kemurniannya.

Sianturi (2007) mengemukakan bahwa metode kualitatif fenomenologis menekankan pengeksplorasian dan penggambaran dunia pengalaman subjek seperti apa adanya. Identitas diri pada individu yang memuja selebriti (celebrity worship) sangat dipengaruhi oleh pengalaman seseorang. Oleh karena itu, identitas individu yang memuja selebriti (celebrity worship) sangat sesuai diteliti dengan menggunakan metode kualitatif fenomenologis.

B. Batasan Istilah

1. Identitas diri ialah dibangun mengarah ke kesatuan diri yang solid yang membedakan dengan yang lain.

(23)

3. Selebriti penyebutan untuk orang yang bekerja di depan layar dalam dunia entertainment untuk menghibur atau memberikan insipirasi seperti penyanyi, pemain film, host, dan atlit.

4. Fans adalah individu yang memiliki selebriti yang dijadikan sebagai idola.

C. Kriteria Subjek

Subjek penelitian dari pendekatan ini dipilih berdasarkan teknik purposive sampling dengan mengkhususkan kriteria subjek harus memiliki selebriti idola yang akan dipilih sebagai subjek penelitian. Subjek termasuk kedalam kategori remaja akhir dan dewasa awal. Subjek berdomisili di Makassar.

D. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah di rumah dan kampus masing-masing subjek. Penelitian awal (pilot study) dilakukan dengan melakukan wawancara pada subjek. Wawancara dilakukan melalui blackberry massager dan wawancara langsung.

E. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Wawancara

(24)

orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain-lain. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur. Pada wawancara semi terstruktur, peneliti hanya menyiapkan catatan-catatan pokok untuk menjadi dasar dalam mengajukan pertanyaan. Hal ini dimaksudkan agar proses wawancara tidak berjalan kaku namun tujuan wawancara dapat tercapai, mengefisiensikan waktu dan meminimalisir lupa. 2. Teknik Observasi

Di samping wawancara, penelitian ini juga menggunakan metode observasi. Menurut Rahayu (2004) observasi diarahkan pada kegiatan memperlihatkan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. Observasi bertujuan untuk mendapatkan data atau informasi untuk memperkuat informasi yang didapatkan dalam proses wawancara.

Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah overt observation. Overt observation adalah subjek mengetahui bahwa subjek sedang diamati Observasi dilakukan selama proses wawancara pada masing-masing subjek penelitian. Observasi dapat membantu dalam mengcocokkan perilaku yang tampak dengan hasil wawancara pada subjek penelitian. Pada penelitian ini, observasi yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran realita mengenai celebrity worship pada masing-masing subjek.

3. Dokumen

(25)

sebagainya. Dokumen penelitian dikumpulkan sejak awal penelitian ini berlangsung hingga penelitian selesai.

F. Analisis Data

Emzir (2012:85) mengemukakan bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan pengaturan transkripsi wawancara, catatan lapangan, dan materi-materi lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai materi tersebut. Tugas analisis adalah menafsirkan dan membuat makna materi-materi yang telah dikumpulkan muncul sebagai tugas menumental. Tujuan analisis adalah membantu individu belajar menangani analisis.

Miles dan Huberman (Emzir, 2012:129) mengemukakan tiga macam kegiatan dalam analisis data kualitatif, yaitu:

1. Reduksi data

Diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyerderhanaan data “kasar” yang muncul dalam catatan-catatan tertulis di lapangan. Proses ini berlangsung terus menerus selama penelitian. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data.

2. Model data

(26)

3. Penarikan/verifikasi kesimpulan

Kesimpulan yang diambil akan ditangani secara longgar dan tetap terbuka sehingga kesimpulan yang semula belum jelas, kemudian akan meningkat menjadi \lebih rinci dan mengakar dengan kokoh. Kesimpulan ini juga diverifikasi selama penelitian berlangsung dengan maksud-maksud menguji kebenaran, kekokohan dan kecocokannya yang merupakan validitasnya.

G. Keabsahan Data

Sianturi (2007) memaparkan beberapa syarat sehingga data yang dikumpulkan abash, yaitu:

1. Kredibilitas (taraf kepercayaan). Kredibilitas berfungsi meyakinkan pembaca bahwa penelitian telah dilakukan dengan benar. Kredibilitas ditunjang oleh 4 aspek, yaitu:

a. Cek anggota. Peneliti akan datang menemui subjek dengan memperlihatkan laporan hasil penelitian untuk mengecek kebenaran data dan interpretasi yang telah dilakukan. Hal ini diperlukan untuk mencegah kesalahan dalam membahasakan dunia pengalaman subjek yang mengakibatkan hasil penelitian tidak sesuai dengan keadaan dan pengalaman subjek yang sebenarnya.

(27)

selama melakukan penelitian (misalnya bila ada masalah dalam penelitian) dan untuk mengritik penelitian.

c. Triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.

d. Keterlibatan dan pengamatan berkesinambungan. Peneliti terlibat di lapangan untuk membangun rapport, mempelajari situasi sosial budaya di lingkungan subjek, dan meyakinkan diri bahwa fenomena yang ditelit dapat dilanjutkan.

2. Transferabilitas (daya transfer). Membantu pembaca melihat kemungkinan menerapkan hasil penelitian ini dalam situasi lain yang mirip. Hal ini berkaitan dengan generalisabilitas yang berarti kemampuan temuan penelitian untuk digeneralisasikan pada subjek lain yang memiliki karakteristik yang mirip dengan karakteristik yang dimiliki oleh subjek dalam penelitian ini.

(28)

emosional dengan peneliti sehingga dapat memeriksa proses dan hasil penelitian ini dengan objektif.

(29)

BAB IV HASIL DAN ANALISA A. Deskripsi Subjek

Total subyek dalam penelitian ini berjumlah lima orang yang menjadi satu kelompok Focus Group Interview (FGI). Anggota kelompok memiliki rentang usia 19 tahun hingga 21 tahun. Keseluruhan subjek memiliki status sebagai mahasiswa. Setiap subjek memiliki selebriti idola yang berbeda-beda. Berikut ini adalah gambaran dari subyek yang turut dalam proses FGI:

FGI pertama dilakukan pada hari minggu, 18 Mei 2014 dengan subyek peserta yaitu :

1. AKA (19 tahun)

Subyek juga lulusan SMA. Subjek berjenis kelamin perempuan. Subjek adalah fans dari EXO (Boyband Korea). Personil yang paling disukai adalah Christ. 2. ZM (20 tahun)

Pendidikan terakhir subjek adalah SMA. Subjek berjenis kelamin perempuan. Subjek adalah fans dari Justin Bieber.

3. DK (21 tahun)

(30)

4. AH (20 tahun)

Subyek lulusan SMA dan sekarang berkuliah di fakultas psikologi UNM. Subjek berjenis kelamin perempuan. Selebriti idola subjek adalah Taylor Swift.

5. FT (19 Tahun)

Subjek lulusan SMA dan sekarang terdaftar sebagai mahasiswa aktif di sebuah universitas di Makassar.

Tabel 1. Data Responden FGI

No. Nama (inisial) Usia Jenis Kelamin Pendidikan Terakhir

1. AKA 21 Tahun Wanita SMA

2. ZM 19 tahun Wanita SMA

3. DK 19 Tahun Wanita SMA

4. AH 20 Tahun Wanita SMA

5. FT 19 Tahun Wanita SMA

B. Hasil

1. Subjek 1 (AKA) a. Gambaran diri subjek

Subjek AKA merupakan seorang perempuan yang berusia 19 tahun dan mahasiswa dari Fakulas Psikologi. Subjek memiliki kulit putih dan tinggi sekitar 158 cm. Subjek berdomisili di Makassar tepatnya di jalan kumala. Ayah subjek bekerja sebagai seorang dokter di Rumah Sakit Haji sedangkan ibu subjek bekerja sebagai ibu rumah tangga. Subjek memiliki saudara tiga yakni satu laki-laki dan dua perempuan.

(31)

merupakan kumpulan lelaki yang sangat diperlukan di masa depan. EXO merupakan artis boyband yang berasal dari Korea. Subjek merasa sering merindukan idola subjek dan cara yang paling mahir ketika subjek merindukan idola subjek yakni mengunduh video terbaru subjek, ketika video yang diinginkan belum terungah subjek hanya melihat apa yang ada di dalam laptop subjek.

Subjek merupakan seorang anak yang hidup di lngkungan keluarga yang cukup baik. Pola asuh dari kedua orang tua subjek menggunakan pola asuh autoritarian. Pola asuh autoritarian merupakan cara orang tua dalam mendidik anak yakni memberikan kebebasban kepada anak namun tetap dalam kontrol yang cukup(tetap membuat anak nyaman untuk tetap dipantau oleh kedua orang tua). Pola asuh seperti itulah yan ditetapkan oleh orang tua subjek kepada subjek. Subjek sangat tertarik dengan idola subjek namun perubahan yang ada dalam diri subjek yang berhubungan dengan idolanya tidak nampak berlebihan karena yang subjek tiru hanyalah sifat yang ada dalam diri idolanya seperti rendah hati, baik, dan tidak sombong (menurut subjek). Subjek dapat meniru sifat idola subjek seperti yang telah dipaparkan di atas.

b. Gambaran identitas diri subjek 1. Hubungan orang tua dan remaja

(32)

merasa tenang atau terlindungi dengan orang tua subjek. Subjek sering mempertegas bahwa kebersamaannya dengan orang tuanya sangat lebih meyenangka dibandingkan dengan teman-teman subjek. Subjek sering melakukan quality time bersama orang tua subjek seperti makan-makan, nonton bersama atau dengan kegiatan-kegiatan yang lainnya.

“Kegiatan-kegiatan normal ji kayak makan bersama, nonnton, cerita-cerita, masak pokoknya banyak sekaliji. Pokoknya tenang dalam keluarga”. (baris 35-37)

“Of course, karena seperti yang saya bilang tadi bahwa keluarga adalah komunitas yang paling aman dan saya sangat merasa nyaman. Keluarga saya selalu jagaka, lindungika, keinginanaku semua terpenuhi di rumah”. (baris 40-43)

2. Model identifkasi

Subjek sangat mengharapkan kesuksesan seperti idola subjek yang sekarang seperti idola subjek EXO. Subjek menjadikan dirinya sebagai seorang yang sangat terikat dengan idola subjek. Subjek menjadikan idola subjek sebagai modeling untuk mencapai kesuksesan subjek sendiri. Subjek megaku bahwa setiap orag memilikdeling yang berbeda-beda untuk setiap kehidupan semua individu. Usaha keras yang dilakukan oleh idola subjek akan ditiru pula oleh subjek sesuai dengan yang dikatakan leh subjek yakni :

“Semangatnya dalam meraih impian sangat besar karena dalam hal pemilihan karir toh mau bangetka kayak dia mauka sukses kayak mereka. You know mi semua orang pasti mauji toh sukses eeeeeee tapi masing-masing beda model ki dalam kehidupan sehari-harinya orang toh termasuk saya”. (baris 118-122).

(33)

Subjek mengaku hanya dapat berinteraksi dengan keluarga subjek bukan teman-teman subjek ataupun orang-orang yang ada di lingkungan subjek. Gambaran orang-orang yang ada di sekitar subjek merupakan lingkungan yang termasuk ke dalam lingkungan yang homogen. Subjek mengaku bahwa yang menunjang sukses subjek yakni orang tua atau keluarga subjek bukan orang-orang yang ada di sekitar subjek atau di lingkungan subjek. Alasan yang dikemukakan bahwa subjek sulit untuk melakukan interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar subjek.

“Eeeeeeee 70% pastinya lebih senang sama keluarga kah keluargami itu tempat yang paling tenang weh. Keluarga toh menurutku lebih kesuasana yang kayak di surge. Apa pun yang dimau dalam keluarga toh kayak tercapai begitue. Apalagi kalo sama bapakku yang paling mengerti. Hahahahaha kalo mintaki uang langsungki nakasi”. (baris 19-24)

“Karena begitumi tadi yang kubilang weh keluarga itu menurut saya pribadi merupakan kumpulan orang-orang yang bisa bikinka nyaman. Teman juga sih tapi keluarga yang paling utama menurutku karena begitumi tadi yang kubilang apa yang diminta dominan selaluki terkabul begitu. Teman juga pentingji sebenarnya tapi kalo dibandingkan toh saya pilih keluarga jii nah weh”. (baris 25-31)

4. Konsep diri

Subjek dapat menyatakan konsep diri subjek seperti kesadaran diri subjek atau penggambaran mengenai diri subjek. Sube dapat mengahragai kemampuan yang subjek miliki atau kelebihan-kelebihan yang ada pada diri subjek dengan tetap menjadi diri subjek.

(34)

5. Percaya diri

Percaya diri subjek timbul dari sisi keluarga subjek bukan dari kelompok sosial subjek. Percaya diri subjek untuk mencapai tujuan hidup subjek sangat tergantung dari dukungan-dukungan keluarga subjek.

“Eeeeeeee 70% pastinya lebih senang sama keluarga kah keluargami itu tempat yang paling tenang weh. Keluarga toh menurutku lebih kesuasana yang kayak di surge. Apa pun yang dimau dalam keluarga toh kayak tercapai begitue. Apalagi kalo sama bapakku yang paling mengerti. Hahahahaha kalo mintaki uang langsungki nakasi.” (baris 19-24)

“Karena begitumi tadi yang kubilang weh keluarga itu menurut saya pribadi merupakan kumpulan orang-orang yang bisa bikinka nyaman. Teman juga sih tapi keluarga yang paling utama menurutku karena begitumi tadi yang kubilang apa yang diminta dominan selaluki terkabul begitu. Teman juga pentingji sebenarnya tapi kalo dibandingkan toh saya pilih keluarga jii nah weh.” (baris 25-31)

“Tergantung ada beberapa keinginan yang tidak dapat terpenuhi dengan sahabat apalagi teman.” (baris 46-47)

c. Celebrity worship

Celebrity worship merupakan hubungan antar subjek dan idola subjek. Idola juga merupakan seorag atau kelompok yang dikenal secara meluas dalam masyarakat. Subjek berusaha membangun hubunga yang dekat dengan idola subjek meskipun subjek adar bahwa idola subjek berada pada wilayah yang sangat jauh untuk subjek jangkau. Subjek berusaha membangun hubungan dengan idolanya dengan menggunakan teknik intertainment social. Intertainment social merupakan suatu hubunga yang dibangun oleh subjek dengan idolanya yakni dengan melakukan pencarian informasi yang aktif oleh fans dengan selebriti.

(35)

tonja itu nah nantimatika weh nda bisak menikah dengan salah satu personilnya EXO.” (baris 103-107)

“Ngefans bangetka karena hampir tiap hari saya nonton videonya. Saya selalu download video-video terbarunya. Malahan di laptop saya itu kebanyakan file dari EXO bukan tugas. Bayangkan kalo lagi kerja tugaska haruska buka dulu videonya EXO supaya moodka weh.” (baris 138-141)

d. Hasil observasi

Subjek memakai baju berwarna putih, jilbab berwarna abu-abu dan celana jeans biru muda. pada saat observer bertanya kepada subjek mengarahkan pandangannya mengarah ke observer disertai menjawab pertanyaan yang diberikan observer. Subjek duduk di sofa rumah subjek tepatnya berada di ruang tamu rumah subjek.

Subjek sering melihat ke kanan saat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh observer. Seringkali pula subjek menggoyangkan tangan subjek dengan mengetuk-ngetuk meja yang berada di depan subjek sambil berbicara. Subjek sering mengatakan “eeee” pada saat menjawab pertanyaan observer. Subjek juga sering mengecek handphone saat menjawab pertanyaan observer.

2. Subjek 2 (ZM) a. Gambaran diri subjek

(36)

Subjek ZM merupakan salah satu alumni dari SMP Negeri 3 Makassar dan SMK Negeri 8 Makassar. Subjek adalah salah satu fans dari Justin Bieber. Subjek ZM mulai ngefans sejak tahun 2009.

Subjek ZM di lingkungannya dapat bergaul baik dengan teman-temannya dan memiliki beberapa teman akrab. Subjek ZM memiliki orang tua yang cukup protektif, setiap subjek keluar rumah maka orang tua subjek harus mengetahui keberadaan dan bersama siapa subjek. Subjek ZM memiliki keinginan besar untuk ketemu selebriti idolanya.

Subjek ZM suka Justin Bieber karena menurut subjek Justin memiliki suara yang bagus, ganteng, baik, multi-talent, serta penyayang keluarga. Subjek ZM merasa Justin adalah salah satu calon suami yang baik. Subjek ZM membangga-banggakan Justin karena menurutnya Justin masih muda dan pintar pada bidang musik.

Subjek ZM merasa banyak hal yang bisa dia dapat dari Justin. Subjek bisa mendapat motivasi dari Justin yang multi-talent. Dari motivasi yang didapat, subjek ZM dapat berkonsentrasi dalam menerima pelajaran. Subjek ZM bangga memiliki idola yang kerja memang dari nol. Subjek rela menangis di depan orang tuanya untuk memohon-mohon untuk menghadiri acara idolanya.

(37)

b. Gambaran identitas subjek

1) Hubungan orang tua dengan remaja

Subjek ZM memiliki hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang dengan orang tua subjek, setiap subjek keluar rumah orang tua subjek selalu mengawasi subjek dengan menanyakan kemana dan bersama siapa subjek keluar. Hal tersebut sesuai yang dikemukakan subjek bahwa:

“Kalau keluar kaa, harus ditahu mau kemana dan sama siapa”. (wwcr, 54-55)

2) Model identifikasi

Subjek ZM memilih Justin Bieber sebagai idolanya karena menurut subjek Justin merupakan selebriti yang multi-talent sehingga memotivasi subjek dalam melakukan hal-hal positif sesuai dengan pernyataan subjek, yaitu:

“Karena dia toh, apa di’? terindah banget mii begitu e, karena masih muda, pintar main music, pintar nyanyi, cakep, multi-talented pokoknya kayak satu paket mii. Dia juga sayang banget sama mamanya juga. Kayak lengkap banget mii begitu ee” (wwcr, 23-26)

3) Homogenitas lingkungan

Subjek ZM memiliki lingkungan yang heterogen sehingga lebih lama menghadapi krisis karena banyaknya alternatif yang ada di hadapannya. Subjek ZM masih mencari identitas diri seperti yang dikemukakan bahwa:

(38)

mana karena masih dalam masa pencarian kaa kurasa” (wwcr, 157-160)

4) Konsep diri

Subjek ZM menggambarkan dirinya normal karena menurut subjek dia masih melakukan kelakuan yang masih dalam kewajaran, seperti yang dikemukakan kepada peneliti:

“Pandanganku toh tentang diriku bagaimana di’, hmmmm eeee biasa jii normal-normal jii karena tohh kayak wajar jii kelakuanku kurasa, tapi ndag tau mii itu menurut pandangannya orang lain.” (wwcr, 162-165)

5) Percaya diri

Subjek memiliki kepercayaan diri yang tinggi ketika menurut dirinya dia mempercayai bahwa ia sangat mirip dengan artis idolanya, dan menghargai pendapat teman-temannya ketika temannya mengiyakan pernyataan tersebut bahwa dirinya cantik dan mirip.

c. Pemujaan selebriti

Subjek ZM berusaha membangun hubungan yang dekat dengan selebriti idolanya. Subjek membangun entertainment social yaitu motivasi yang mendasari pencarian aktid informasi fans terhadap selebriti idolanya.

“Everything broo. He is my everything dehh. Dia toh bisa buat kaa semangat, kalau galau ko tohh dia bisa buat koo semangat dengan liat fotonya misalnya. Kau bisa alihkan dari stress kerja tugas jadi senang karena liat mukanya. Dengar suaranya bisa jadi rileks, bisa kasi muncul semangat begitueee karena Justin itu moodbosterku banget wehh.” (wwcr, 71-76)

(39)

Subjek duduk di kursi taman yang terletak di depan perpustakaan UNM. Subjek menggunakan baju kemeja kotak-kotak berwarna hijau merah dengan celana jeans berwarna hijau tua. Subjek menggunakan jilbab berwarna senada dengan baju yaitu warna merah. Subjek tersenyum saat peneliti menghampiri subjek. Subjek mendengar dan memperhatikan dengan seksama ketika peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada subjek. Subjek memberikan jawaban dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan peneliti dengan semangat.

Subjek melihat ke arah peneliti saat peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan. subjek menggoyang-goyangkan kaki saat memberikan jawaban dan tanggapan-tanggapan kepada peneliti. Subjek sesekali mengarahkan pandangan ke arah teman-teman subjek yang berada di kursi taman yang terletak di sisi lain. Selama menjawab dan memberi tanggapan-tanggapan, subjek sering terbata-bata. Sebelum peneliti mengakhiri wawancara, subjek beberapa melihat handphone yang ada di tangan kanan subjek.

3. Subjek 3 (DK) a. Gambaran diri subjek

(40)

SMA 16 Makassar. Subjek DK sekarang merupakan mahasiswa aktif di salah satu universitas di Makassar.

Subjek DK dilingkungan sosialnya bergaul dengan teman-teman yang sama dan saat itu selalu berada dilingkungan sekitar subjek sehingga teman akrab subjek masih bisa dihitung. Subjek memiliki orang tua dengan pola asuh yang demokratis dengan aturan-aturan baku yang menetap tetapi diperbaharuai setiap jenjang pendidikan subjek meningkat. Subjek menurut dengan peraturan yang dibuat oleh orangtuanya. Di usia subjek yang ke 21 tahun subjek masih belum berpikiran untuk menikah dan subjek tidak pernah berpacaran.

Subjek DK pertama kali menyukai selebriti korea karena senang menonton drama korea sejak kelas dua SMP. Pada saat awal menyukai drama korea, subjek hanya menyukai cerita dari drama tersebut. Subjek DK kemudian baru tertarik kepada salah satu personil boyband super junior yang bernama Cho Kyuhyun. Subjek DK tertarik karena selebriti tersebut unik dan berbeda dengan personil lainnya. Keunikan dari selebriti idolanya tersebut karena tidak berdandan seperti anggota boyband lainnya.

Subjek DK awalnya sangat menyukai bibir pecah-pecah dari selebriti idolanya kemudian subjek sering mencari informasi mengenai selebriti idolanya hingga secara sadar dan tidak sadar meniru berbagai hal dari selebriti idolanya tersebut. Hal yang ditiru dapat berupa gerakan tubuh khas, dan ekspresi wajah selebriti idolanya. Selain berusaha meniru fisik, subjek DK juga meniru sifat selebriti idolanya yang dianggap baik oleh subjek.

(41)

1) Hubungan orangtua dan remaja

Subjek DK merasa terkekang dengan peraturan kedua orang tuanya. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan subjek, yaitu:

“trus SMA sebelum maghrib harus adami dirumah, terkekang kebebasanku kurasa dikasih begitu” (wwcr, 70-71).

2) Model identifikasi

Subjek DK memilih selebriti Cho Kyuhyun untuk dijadikan role model dalam hidupnya karena menganggap bahwa selebriti idolanya tersebut adalah orang yang layak dijadikan panutan dengan kesuksesan yang diraih oleh selebriti idolanya dalam bidang ilmiah dan bidang musik.

“charming ki. Banyak yang bisa ditiru bagus-bagus. Selain kreatif ki dalam segi musik pintar ki sukses asal ko tau nah juaraki olimpiade fisika nasional di Korea” (wwcr, 171-172).

“Mereka juga banyak bisa dilihat trus saya ubah mi saya serap toh karena belajar atau tiru dari mereka. Semangatnya, usahanya, kepribadiannya, kerja kerasnya deh nda gampang nah bisa kaya mereka. Selalu ada jalan ku untuk hibur diriku untuk jadi semangatku bisaka juuga belajar deh dari mereka.Ya semacam diilhami ka begite manfaatnya” (wwcr, 258-262).

3) Homogenitas lingkungan

Subjek DK merasa bahwa dirinya mudah untuk terpengaruh oleh lingkungan, baik lingkungan yang homogen ataupun hetero.

“Kalau yang dipengaruhi lingkungan ee kalau saya memang orangnya mudah bangetka terpengaruhi sama lingkungan” (wwcr, 285-286).

4) Konsep diri

(42)

dengan mengatakan bahwa subjek tidak bisa menggambarkan dirinya karena subjek masih bingung.

“Bukanka nda tau e bisa jeka gambarkan diriku we pahami diriku? Tapi kalau gambarkan diriku toh nda bisaka. Bingungka” (wwcr, 282-283).

5) Percaya diri

Subjek merasa percaya diri bahwa subjek memiliki kemiripan dengan selebriti idolanya setelah didukung oleh teman-temannya.

“Itu waktu lagi badmood ka pas temanku bilang ada kemiripanku toh sama kyuhyun deh langsungka bahagia we. Awalnya pernah ja kepikiran kalau ada miripku tapi kaya nda anu pa toh tapi tambah yakinma pas temanku bilang begitu. Deh bahagiaka nah haha karena toh menurutku banyak memang kesamaanku we” (wwcr, 131-135). c. Pemujaan terhadap selebriti (celebrity worship)

Subjek DK mengalami sindrom celebrity worship. Hal tersebut dilihat dari perilaku subjek yang mencari informasi mengenai selebriti idolanya, mulai mengembangkan hubungan parasosial dengan artis idolanya, dan menjadi tidak irrasional.

“mulai meka donlod tapi baru tiga lagu pertama saya donlod itu lagunya bonamana, sori-sori sama mister simpel. Saya donlod videonya cari beritanya trus suka ka lagunya yang ap bit akhirnya saya donlod mi semua albumnya dari awal sampai albumnya yang sekarang” (wwcr, 161-164).

“Nangis ka kalau dicallai we atau ada kejadian sedihnya biasa ee sedihka juga. Duka nya duka ku hahaha. Biasa juga kalau ketiduranka di pete-pete baru dengarki lagunya biasaka langsung banguun baru senyum-senyum sendiri. Apalagi kalau mereka dapat penghargaan toh bangga sendirika juga. Penghargaannya juga saya rasa berkat saya eh bukan berkat kami haha pede ku deh tapi memang we haha” (wwcr, 222-227).

(43)

Subjek menggunakan celana panjang kain berwarna hitam, baju batik berwarna biru, kerudung berwarna biru dan sepatu pantofel berwarna hitam. subjek memiliki tinggi badan 155cm. Subjek memiliki kulit berwarna sawo matang. Subjek di wawancarai sedang duduk di kursi taman depan perpustakaan UNM. ketika diwawancarai, subjek sering menaikkan kedua ujung bibir keatas dan mengeluarkan suara (tertawa). subjek sering berpikir dengan menaikkan bola mata ke atas. Subjek terlihat sangat ceria. Subjek sangat bersemangat ketika membahas mengenai artis idolanya. Subjek sering senyum jika peneliti memuja artis idolanya.

4. Subjek 4 (AHR) a. Gambaran diri subjek

Subjek AHR saat ini menempuh pendidikan di fakultas psikologi universitas negeri Makassar. Orang tua subjek memakai pola asuh otoritarian dimana subjek dapat melakukan hal-hal yang positif dengan yang menurutnya baik dan tetap berada dalam pengawasan orangtuanya. Dan terkadang iya juga sangat merasa terganggu karena adiknya yang sering jahil.

(44)

dengan mendapatkan izin dari orangtuanya, asalkan orangtua subjek mengetahui dengan jelas identitas teman subjek tersebut.

Subjek AHR sangat mengidolakan artis barat yang bernama Taylor Swift, dan berusaha berada pada garis normal dalam mengidolakan seseorang, dan masih terus berharap agar dapat mendatangi konser yang diadakan kelak nanti. Subjek AHR sangatlah kooperatif dalam menjalani hidupnya sebagai mahasiswi yang mengidolakan artis luar negeri dengan mengikuti apa-apa saja yang artis idolanya lakukan. Seperti hal nya untuk bisa bermain gitar, dan mengoleksi barang-barang ataupun album dari artis favoritnya tersebut.

b. Gambaran identitas subjek 1) Hubungan orangtua

Subjek sangatlah baik dan harmonis. Karena subjek mendapatkan pola asuh otoritarian dimana subjek bebas melakukan hal apapun tapi masih tetap dalam pengawasan yang sewajarnya, dan dikontrol dalam batasan tertentu karena adanya sikap saling keterbukaan.

“Pola asuh di’? sejauh ini masih yang netralji, masih yang umum, yang otoritarianji, yang sejauh ini bisa ja lakukan ini itu, dengan adanyaji pengawasan. Karena selaluja saling terbuka dengan keluarga, terutama orangtua” (dlm wawancara 125-127).

2) Model identifikasi

Subjek meniru idolanya karena menurut subjek itu adalah hal yang keren bagi perempuan yang dapat memainkan alat musik gitar, dan meniru dan menyanyikan lagu taylor swift disela-sela waktunya.

(45)

karena dia jago main gitar, sejak masuk SMA, belajarka juga main gitar, dan finally, sekarang bisa meka main gitar, dan tau beberapa lirik cord lagunya taylor swift. Majalah juga tiap dia ada saya gunting, terus koleksi, terus saya susun di tembok, jadi yah lebih hidupki tembok kamarku gara-gara everything all about taylor swift itu tertempel dengan cantik dan rapih, hahahaa (dlm wawancara 61-68)”

3) Homogenitas lingkungan

Subjek mudah membentuk perilaku lingkungannya karena teman-teman disekitar subjek juga melakukan hal yang sama dalam bernyanyi dan belajar untuk menambah vocabulary.

“Banyak sih, jagoka main gitar, seringka nyanyi lagu barat, trus ku searching arti lirik dan makna lagunya, jadi mulai banyak paham mka juga dengan koskata bahasa inggris, yah nitung-ngitung nambah nambahi vocabulary ku toh. Apalagi kalo dibiasakanmi dengan teman-teman yang lainnya toh. (dlm wawancara 75-78)”.

4) Konsep diri

Subjek disini masih merasa dirinya normal-normal dan wajar-wajar saja dalam mengidolakan seseorang, dan tidak melebih-lebihkan seperti teman yang lainnya.

“Normal-normal ja sih, Alhamdulillah nda selebay penggemar korea jka kayak iteh teman-temanku yang selalu sebut penyanyi korea pendapat teman-temannya ketika temannya mengiyakan pernyataan tersebut bahwa dirinya cantik dan mirip.

(46)

hahaha tapi miripja gang, samaji manisku, nabilang orang-orang bede gang, sama nabilang kata hatiku (dlm wawancara 171-173)”. c. Celebrity worship

Subjek mengaku bahwa subjek sangat mengidolakan penyanyi luar negeri yang bernama Taylor swift, subjek sangat menyukainya karena banyak potensi yang bisa subjek jadikan motivasi-motivasi dalam kehidupannya dan meniru beberapa hal. Dan caranya menghadapi berbagai berita negative sangatlah baik.

“Lama banget mka sukaa, dari SMP kelas tigami kalo nda salah. Kalo ditanya alasannya toh terlalu banyak yang harus dijelaskan disini, tapi memang saatnyami kayaknya ku jelaskan semua-semuanya dari sisi-sisi positifnya sampai sisi-sisi negatifnya. Awalnya kan semua tauji kalo dia itu cantik, siapa sih yang nda ngefans sama cewek cantik kayak dia, pintar pula secara toh dia pernah dapat award-award prestasi dari majalah yang pernah say abaca. Dia juga jago main gitar, koleksi gitar, manusia siapa coba yang nda suka sama cewek yang jago main gitar, manalagi cantik to the max ki toh. Tiap tahun juga dia suka lakukan hal-hal yang menarik, kayak ganti style, nda begitu-begitu tonji gayanya dari tahun ke tahun itu beda bangetki. Selalu bisa buat style yang bagus-bagus, tapi begitumi iya toh, selalu juga banyak kisah-kisah negativenya wee, kayak sering sekali jadi bahan pembicaraan di majalah-majalah karena kasusnya yang playgirl bangetki, gonta-ganti pacar, terus pacarnya pasti actor-aktor yang lagi naik daun ki semuanya. Jadi banyakmi juga hatersnya ini taylor swift, tapi menurutku ih terserah hidupnyami toh orang, karena mungkin dia begitu karena lagi dalam masa pencarian untuk menemukan yang terbaik tsaah tsaaah. (dlm wawancara 17-32)”.

d. Hasil observasi

(47)

kanan, jam tangan subjek berwarna hitam. Subjek dan pewawancara duduk di sudut kanan belakang ruangan tersebut. Subjek berada di depan pewawancara. Subjek ketika diwawancarai mengepal kedua tangan di atas meja. Subjek menyilangkan kedua kakinya dibawah kursi dan sesekali subjek menggoyangkan keatas dan kebawah paha kanan. Subjek mengangguk ketika menjawab beberapa pertanyaan dari pewawancara.

Wawancara kedua berada dirumah subjek yang berada di Bukit baruga antang, jalan kintamani no. 50. Subjek dan pewawncara berada diruang tamu subjek. Didalam ruangan tersebut terdapat kursi satu set, meja tamu dengan taplak meja berwarna cokelat bermotif bunga-bunga, disudut ruang tamu terdapat bunga dengan pot yang berwarna-warni. Ada foto keluarga dari subjek dan beberapa keramik hias. Subjek pada saat wawancara kedua memakai baju kaos hitam, subjek memakai jilbab abu-abu dan subjek memakai celana panjang hitam. Subjek duduk disebelah kiri pewawancara, subjek menyilangkan kakinya diatas kursi.

5. Subjek 5 (FT)

(48)

wawancara berlangsung pada malam hari sekitar pukul 19.30 WITA. Subjek menjamu peneliti dengan minuman dingin dan kue kering yang terletak diatas meja.

Kemudian subjek duduk di kursi disamping peneliti dan bersiap untuk melakukan proses wawancara. Subjek menggunakan celana pendek berwarna hitam, baju kaos berwarna hijau dan mengikat rambutnya. Dalam proses wawancara, subjek tertawa beberapa kali ketika menceritakan pengalamnnya. Setelah proses wawancara selesai, peneliti kemudian berpamitan dengan subjek.

C.. Pembahasan

1. Hubungan orang tua-remaja

(49)

rumah. Hal tersebut dianggap sebagai pengawas bukan sebagai pengekangan kebebasan. Subjek ketiga (DK) merasa dikekang dengan peraturan kedua orang tuanya. Pola asuh seperti itu merupakan pola asuh yang tergolong ke dalam pola asuh otoriter yaitu pengekangan dengan semua aturan-aturan yang dibuat oleh orang tua subjek harus diikuti oleh subjek dan orang tua tidak mempertimbangkan peraturan-peraturan yang dibuat orang tua subjek. Subjek keempat (AHR) memiliki pola asuh yang diperoleh dari orang tuanya yakni pola asuh authoritarian sama dengan subjek pertama.

2. Model identifikasi

Stets dan Burke (2000) mengemukakan bahwa diri individu sangat berperan penting dalam mengklasifikasikan, mengelompokkan objek-objek secara khusus yang ada di lingkungan individu yang memiliki relasi atau hubungan dengan sosial kategori atau klasifikasi. Proses pengelompokkan atau pengklasifikasian objek-objek yang ada biasa disebut dengan pengeompokkan diri.

(50)

mempengaruhi kepribadian subjek. Subjek ZM memilah-milah perilaku tokoh idola subjek yang menurut subjek dapat subjek ikuti. Subjek termotivasi dari idola subjek yaitu tokoh idola subjek memiliki multi-talent. Subjek ketiga (DK) menjadikan tokoh idolanya sebagai role model. Subjek ingin sukses seperti tokoh idolanya, sehingga subjek termotivasi dalam melakukan berbagai aktivitas. Subjek keempat (AHR) memiliki tokoh idola yang sangat mempengaruhi kepribadiannya untuk dan menjadikan tokoh idolanya sebagai role model. Subjek ingin seperti tokoh idolanya yang selalu membuat gaya baru, dan subjek juga sangat ingin meniru kepiwaian idolanya dalam memainkan alat music seperti gitar.

3. Homogenitas lingkungan

Hornsey (2007) mengemukakan bahwa identitas sosial yang dimiliki oleh individu yang menjelaskan bahwa konteks sosial mempengaruhi hubungan antar kelompok dan dapat menghubungkan ide-ide menjadi sebuah paradigma yang digunakan dalam konteks sosial tampaknya paradoks. Jadi, dapat disimpulkan bahwa identitas moral dan sosial memiliki pengaruh yang kuat untuk menentukan nilai keberadaan individu di tengah-tengah keluarga dan masyarakat sekitar, sehingga kasih sayang dapat dirasakan oleh individu dan tidak menggantungkan harapan pada seorang atau idola secara berlebihan.

(51)

orang-orang yang ada di sekitar subjek atau di lingkungan subjek. Alasan yang dikemukakan bahwa subjek sulit untuk melakukan interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar subjek. Subjek kedua (zm), subjek ZM memiliki hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang dengan orang tua subjek, setiap subjek keluar rumah orang tua subjek selalu mengawasi subjek dengan menanyakan kemana dan bersama siapa subjek keluar. Subjek ketiga (DK), subjek DK merasa terkekang dengan peraturan kedua orang tuanya. Subjek kempat (AHR), subjek mudah membentuk perilaku lingkungannya karena teman-teman disekitar subjek juga melakukan hal yang sama dalam bernyanyi dan belajar untuk menambah vocabulary.

4. Konsep diri

(52)

mengatakan bahwa subjek tidak bisa menggambarkan dirinya karena subjek masih bingung. Subjek keempat (AHR), menyatakan bahwa konsep diri subjek seperti adanya penggambaran mengenai diri subjek, seperti hal nya subjek bangga dengan kemampuan memainkan alat musik yang selama ini telah subjek dapatkan.

5. Kepercayaan diri

Kepercayaan diri akan tumbuh dari kehidupan kelompok sosial atau keluarga yang hangat, penuh kasih sayang, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan keadilan, serta saling mempercayai antara satu dengan yang lainnya. Subjek pertama (AKA), percaya diri subjek timbul dari sisi keluarga subjek bukan dari kelompok sosial subjek. Percaya diri subjek untuk mencapai tujuan hidup subjek sangat tergantung dari dukungan-dukungan keluarga subjek. Subjek kedua (ZM) berusaha membangun hubungan yang dekat dengan se;ebriti idolanya. Subjek membangun entertainment social yaitu motivasi yang mendasari pencarian aktid informasi fans terhadap selebriti idolanya. Subjek ketiga (DK) Subjek merasa percaya diri bahwa subjek memiliki kemiripan dengan selebriti idolanya setelah didukung oleh teman-temannya. Subjek keempat (AHR) Subjek memiliki kepercayaan diri yang tinggi ketika menurut dirinya dia mempercayai bahwa ia sangat mirip dengan artis idolanya, dan menghargai pendapat teman-temannya ketika temannya mengiyakan pernyataan tersebut bahwa dirinya cantik dan mirip.

6. Celebrity workship

(53)
(54)

informasi mengenai selebriti idolanya, mulai mengembangkan hubungan parasosial dengan artis idolanya, dan menjadi tidak irrasional. Subjek keempat (AHR) Subjek mengaku bahwa subjek sangat mengidolakan penyanyi luar negeri yang bernama Taylor swift, subjek sangat menyukainya karena banyak potensi yang bisa subjek jadikan motivasi-motivasi dalam kehidupannya dan meniru beberapa hal. Dan caranya menghadapi berbagai berita negative sangatlah baik.

(55)

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pengumpulan dan pembahasan data yang diperoleh dan telah di paparkan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu: 1. Individu yang menjadi pemuja selebriti (celebrity worship) yang menjadi

responden pada penelitian ini memiliki kisaran usia antara remaja akhir 19 tahun dan dewasa awal 21 tahun. Sebagian besar subjek mulai menjadi pemuja selebriti sejak masih berada di dimasa remaja tengah.

(56)

3. Seluruh responden ingin meniru apa yang dianggap baik pada diri selebriti idolanya. Responden ingin menjadi seperti selebriti idolanya. Seluruh responden selalu mencari tahu informasi mengenai selebriti idolanya.

B. Saran

Sesuai dengan hasil yang telah diperoleh, khususnya bagi peneliti yang berminat mengadakan penelitian lanjutan atau penelitian lain dengan topik serupa. Peneliti memberikan beberapa saran, yaitu :

1) Perluasan topik-topik yang lebih dalam seperti bagaimana nilai-nilai

berkembang pada para pemuja selebriti, pengaruh usia perkembangan terhadap pola-pola identifikasi diri.

2) Peneliti dalam penelitian ini kekurang pemahaman dan kekurang pengalaman dalam pelaksanaan proses pengambilan data dimana peneliti selaku moderator kurang bisa melakukan eksplorasi mendalam dan cenderung memberikan pertanyaan-pertanyaan tertutup atau pertanyaan mengulang pernyataan subyek sebelumnya yang mendorong subyek yang ditanya untuk menjawab singkat, idem, yang tidak memberi gambaran deskriptif.

3) Pemilihan lokasi wawancara yang lebih tenang. Wawancara yang dilakukan diruangan terbuka sehingga suara-suara dari luar terdengar dan orang-orang yang hilir mudik terlihat dengan jelas dan mengganggu jalannya diskusi secara tidak langsung juga mempengaruhi hasil diskusi karena konsentrasi untuk menjawab pertanyaan atau mengeluarkan pendapat jadi terganggu.

Gambar

Tabel 1. Data Responden FGI

Referensi

Dokumen terkait