• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007

SONI GUMILAR A.155030241

Puji dan syukur Penulis panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkah dan karunia-Nyalah sehingga Tesis yang berjudul “Strategi Pengembangan Agribisnis Ikan Hias Air Tawar Dalam Meningkatkan Ekonomi Wilayah Kota Bogor” ini dapat diselesaikan. Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD), Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Dalam penyusunan Tesis ini Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Dr. Ir. Hedi Muhammad Idris, M.Sc selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan masukan yang berarti bagi penyelesaian Tesis ini.

Terima kasih disampaikan kepada Bapak Walikota dan Ibu Kepala Dinas Agribisnis Kota Bogor yang telah memberikan kesempatan penulis mengikuti pendidikan Pascasarjana di IPB Bogor dalam rangka peningkatan kapasitas diri.

Terima kasih juga Penulis sampaikan rekan-rekan PWD, rekan sejawat khususnya Seni Susanto atas dukungan dan bantuannya. Kupersembahkan khusus kepada istri dan anak-anakku tercinta Nela Aldriani, Hazarani Sari dan

Rafi Al-Ghani Gumilar juga atas dorongan moril, kanggo Mamah, Ema Panggugah, dan Keluarga Besar yang telah memberikan dorong doa.

Semoga Tesis ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca, terutama kepada Pemerintah Daerah sebagai masukan dalam pengambilan keputusan.

Bogor, Agustus 2007

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 6 Mei 1967 dari ayah bernama H. Ganda Sasmita (alm) dan Ibu bernama Hj. Siti Yayah Rukoyah. Penulis adalah anak keempat dari tujuh bersaudara.

Penulis menamatkan pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri Gang Aut Bogor pada tahun 1980, Sekolah Menengah Pertama Negeri I pada tahun 1983 dan Sekolah Pertanian Pembangunan Sekolah Peternakan Menengah Atas Negeri Bogor diselesaikan pada tahun 1986. Selanjutnya meneruskan di Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang dan Lulus pada tahun 1991. Pada tahun 2003 penulis di terima di Sekolah Pascasarjana Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan IPB.

Pada tahun 1991-1993, penulis bekerja di PT. Hybrida Niaga Putra yang bergerak di bidang perunggasan komersil. tahun 1993-1996 bekerja di PT. Agriphar Graha Farma yang bergerak di bidang obat hewan disamping itu secara sambilan juga sebagai peternak ayam broiler. Pada tahun 1996-1997 penulis diangkat sebagai PNS di Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur di Surabaya. 1997-2000 bertugas di Dinas Peternakan Kabupaten Kediri Propinsi Jawa Timur. Selanjutnya pada tahun 2000-2001 bekerja di Dinas Peternakan Kota Bogor dan 2001-2004 bekerja di Dinas Pertanian Kota Bogor, dan pada tahun 2004-sekarang bekerja di Dinas Agribisnis Kota Bogor. sejak tahun 2001 penulis dipercaya untuk membidangi perikanan dan pada tahun bersamaan sampat saat ini penulis juga melakukan kegiatan agribisnis yaitu sebagai pembudidaya ikan hias.

Pemakalah dilahirkan di Majalaya. Pada tahun 1991-1993, Pemakalah bekerja di PT. Hybrida Niaga Putra yang bergerak di bidang perunggasan komersil. tahun 1993-1996 bekerja di PT. Agriphar Graha Farma yang bergerak di bidang obat hewan disamping itu secara sambilan juga sebagai peternak ayam broiler. Pada tahun 1996-1997 Pemakalah diangkat sebagai PNS di Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur di Surabaya. 1997-2000 bertugas di Dinas Peternakan Kabupaten Kediri Propinsi Jawa Timur. Selanjutnya pada tahun 2000-2001 bekerja di Dinas Peternakan Kota Bogor dan 2001-2004 bekerja di Dinas Pertanian Kota Bogor, pada tahun 2004-sekarang bekerja di Dinas Agribisnis Kota Bogor. sejak tahun 2001 Pemakalah dipercaya untuk membidangi perikanan dan pada tahun bersamaan sampat saat ini Pemakalah juga melakukan kegiatan agribisnis yaitu sebagai pembudidaya. Pada tahun 2003 Pemakalah di terima di Sekolah Pascasarjana Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Institut Pertanian Bogor.

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR... iv DAFTAR LAMPIRAN ... vi I. PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 3 Tujuan Penelitian ... 6 Kegunaan penelitian ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

Pembangunan Berkelanjutan ... 7

Dimensi Pembangunan Berkelanjutan ... 8

Pembangunan Kota Berkelanjutan ... 9

Strategi ... 11

Teori Daya Saing ... 13

Teori Berlian Porter (Diamond’s Porter Theory) ... 15

Kondisi Faktor Sumberdaya ... 16

Kondisi Permintaan ... 18

Industri Pendukung dan Industri Terkait ... 19

Persaingan, Struktur dan Strategi Perusahaan ... 19

Agribisnis Perkotaan ... 20

2.71 Peranan Agribisnis dalam Pembangunan ... 22

2.72 Pembangunan Indonesia sebagai Strategi Pembangunan ... 24

Kebijakan Pemerintah Daerah ... 29

Pendapatan dan Sektor-sektor Ekonomi ... 36

2.10 Agribisnis Perikanan ... 37

2.11 Ikan Hias ... 40

2.12 Kajian Penelitian Terdahulu ... 48

III. METODOLOGI PENELITIAN ... 50

Kerangka Penelitian ... 50

Lokasi Pengumpul Data ... 54

Metode Penarikan Sampel ... 54

Data Primer ... 54

Data Skunder ... 56

Motede Analisa ... 56

Analisis Deskriptif ... 56

Analytical Hierarchy Process (AHP) ... 57

Penghitungan Niilai Manfaat dan Biaya ... 66

IV. KEUNGGULAN IKAN HIAS SEBAGAI DAYA SAING INDUSTRI PERIKANAN ... 70

Kondisi Faktor Sumberdaya ... 70

Sumberdaya Ikan Hias Air Tawar ... 70

Sumberdaya Manusia ... 73

Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ... 74

Sumberdaya Modal ... 76

Kondisi Permintaan ... 77

Industri Pendukung ... 81

Industri Terkait ... 81

Industri Pendukung ... 82

4.4 Peran Pemerintah Kota Bogor ... 83

4.5 Peran Kesempatan ... 83

4.6 Persaingan, Struktur dan Strategi Perusahaan ... 84

4.6.1 Persaingan Domestik... 84

4.6.2 Struktur dan Strategi Industri Ikan Hias ... 84

4.7 Strategi Peningkatan Daya Saing ... 86

4.7.1 Menumbuh Kembangkan Jaringan Pasar ... 86

4.7.2 Pengoptimalan Sumberdaya Pendukung Ikan Hias ... 87

V. ANALISA MANFAAT DAN BIAYA BUDIDAYA IKAN HIAS ... 88

Analisa Manfaat dan Biaya Ikan Hias ... 88

Analisa Usaha Ikan Hias Skala Kecil ... 89

Analisa Usaha Ikan Hias Skala Menengah ... 91

Analisa Usaha Ikan Hias Skala Besar ... 95

Strategi Pengembangan Dalam Meningkatkan Usaha ... 98

Peningkatan Skala Usaha ... 99

Pengoptimalan Produksi ... 100

VI. PERSEPSI STAKEHOLDERS DALAM PENGEMBANGAN IKAN HIAS DI KOTA BOGOR ... 101

... Ikan Hias Kota Bogor ... 101

... Fakt or-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Agribisnis Ikan Hias ... 102

... Stak eholders yang Berperan ... 106

... Strat egi Terhadap Persepsi Stakeholders ... 116

6.4.1 Meningkatkan Pasar ... 116

6.4.2 Menentukan Kebijakan Terhadap Usaha Ikan Hias ... 116

6.4.3 Peningkatan SDM ... 117

6.4.4 Memperkuat modal usaha ... 117

VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 118

7.1. Kesimpulan ... 118

7.1.1. Keunggulan Daya Saing Ikan Hias ... 118

7.1.2. Analisa Manfaat Dan Biaya Budidaya Ikan Hias ... 119

7.1.3. Persepsi Stakeholders ... 119

7.2. Saran ... 120 DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Matriks Perbandingan/Komparasi Berpasangan ... 61

2. Matriks Perbandingan Berpasangan ... 62

3. Jumlah RTP Ikan Hias di Kota Bogor ... 70

4. Jumlah Produksi Ikan Hias Kota Bogor Tahun 2006 ... 72

5. Lembaga Pengembangan Ikan Hias ... 75

6. Jumlah Permintaaan Ikan Hias di Kota Bogor ... 78

7. Volume dan Nilai Ekspor Ikan Hias Tahun 2005 ... 78

8. Potensi Pasar Internasional Ikan Hias... 80

9. Pasar Epektif Ikan Hias ... 80

10. Eksportir Ikan Hias di Wilayah Bogor ... 82

11. Analisis Kelayakan Usaha Skala Kecil ... 89

12. Analisis Kelayakan Usaha Skala Menengah ... 92

13. Analisis Kelayakan Usaha Skala Besar... 96

14. Jumlah RTP Pembudidaya Ikan Hias Kota Bogor ... 101

15. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Pengembangan Agribisnis Ikan Hias

di Kota Bogor ... 102

16. Tingkat Pengaruh Pasar Ikan Hias ... 103

17. Pengaruh Kriteria SDM dalam Pengembangan Ikan Hias ... 104

18. Modal Usaha Pengembangan Ikan Hias ... 105

19. Aspek Penting dari Faktor Kebijakan Pemerintah ... 105

20. Stakeholder yang Berperan dalam Faktor Pemasaran ... 106

21. Stakeholder yang Berperan dalam Faktor Modal Usaha ... 107

22. Stakeholder yang Berperan dalam Pengembangan SDM ... 108

23. Stakeholder yang Berperan dalam Kebijakan Pemerintah ... 109

24. Alternatif Strategi Berdasarkan Pendapat Kelompok Pembudidaya ... 110

25. Alternatif Strategi Berdasarkan Pendapat Pelaku Usaha ... 111

26. Alternatif Strategi Berdasarkan Pendapat Dinas Agribisnis ... 111

28. Alternatif Strategi Berdasarkan Pendapat BAPEDA... 113

29. Alternatif Strategi Berdasarkan Pendapat Perguruan Tinggi ... 113

30. Alternatif Strategi Berdasarkan Pendapat Lembaga Penelitian ... 114

DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Konsep Pembangunan yang Berkelanjutan ...

2 Manfaat Strategi ...

3 Kawasan Agropolitan ...

4 Otonomi Daerah dalam Wadah NKRI (Indonesia-Incorporated) di Era Global 5 Alur Pikir Penelitian...

6 “The National Diamond System ...

7 Skema Hirarki : Strategi Pengembangan Ikan Hias...

8 Grafik Perkembangan Pembudidaya...

9 Bagan Alur Usaha Ikan Hias...

10 Hasil Analisis Strategi Pengembangan Ikan Hias... 8 13 21 27 53 56 58 71 85 115

DAFTAR LAMPIRAN

Teks Halaman

1. Analisa Manfaat dan Biaya Budidaya Ikan Hias Skala Kecil ... 123

2. Analisa Manfaat dan Biaya Budidaya Ikan Hias Skala Menengah ... 126

3. Analisa Manfaat dan Biaya Budidaya Ikan Hias Skala Besar ... 130

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan ekonomi menurut Arsyad (1999) dalam Rustiadi et al (2003) dapat diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kemampuan ekonomi dan kualitas hidup masyarakatnya. Jadi pembangunan ekonomi harus dipandang sebagai suatu proses dimana terdapat saling keterkaitan dan saling mempengaruhi antara faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pembangunan ekonomi tersebut dapat diidentifikasi dan dianalisa dengan seksama sehingga diketahui runtutan peristiwa yang timbul yang akan mewujudkan peningkatan kegiatan ekonomi dan taraf kesejahteraan masyarakat dari satu tahap pembangunan ke tahap pembangunan berikutnya.

Pembangunan dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan pemerintah dan perundang-undangan, otonomi daerah merupakan alasan mendasar sebagai kunci pokok konsep pengembangan dalam meningkatkan perekonomian rakyat ekonomi yang memanfaatkan keunggulan komparatif tersebut selama ini telah berkembang di Indonesia dalam bentuk pembangunan pertanian. Perubahan tata ekonomi dunia yang mengarah pada perdagangan bebas menuntut perubahan strategi kebijakan pembangunan ekonomi dari strategi substitusi impor menjadi strategi yang berorientasi ekspor. Kunci keberhasilan perdagangan internasional dalam era ini adalah merubah keunggulan komparatif di sektor agribisnis menjadi keunggulan kompetitif (Azis, 1993 dalam Fatchiya, 2002).

Pembangunan pertanian dewasa ini diarahkan pada pembangunan sistem agribisnis, dimana seluruh sub sistem agribisnis dikembangkan secara simultan dan harmonis dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia. Sektor pertanian, khususnya sub sektor perikanan sebagai bagian integral dari perekonomian Indonesia, harus mempersiapkan diri dan mengantisipasi kondisi liberalisasi perdagangan bebas.

Salah satu komoditas perikanan yang memiliki potensi sebagai produk unggulan ekspor adalah ikan hias. Perdagangan ikan hias memang bermuara pada pemberdayaan masyarakat karena belum diminati oleh pemodal besar. Hal ini disebabkan nilai potensi perdagangannya kecil. Meskipun perdagangan

ikan hias kecil namun justru usaha ini dapat digunakan sebagai pemberdayaan masyarakat lewat industri kecil atau industri rumah tangga yang bermuara pada ekspor.

Peredaran ikan hias dunia di tingkat grosir diperkirakan mencapai nilai lebih USD 1 miliar, sedangkan di tingkat eceran mencapai lebih dari USD 6 miliar, yaitu dari sekitar 1,5 miliar ekor ikan yang diperdagangkan. Apabila perdagangan aksesori pemeliharaan ikan hias air tawar harus ikut dihitung maka nilai uang yang berputar diperkirakan mencapai USD 14 miliar. Tentu ini angka tidak kecil, apabila Indonesia dapat ikut andil 1% saja dari perdagangan ikan hias dan aksesorinya maka kita akan bermain pada angka USD 140 juta.

Jumlah ikan hias yang diperdagangkan mencapai 1.600 jenis dan 750 diantaranya berasal dari air tawar (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003). Jumlah ini diperkirakan terus bertambah dengan semakin majunya teknik pembenihan, transportasi, dan pemeliharaan ikan hias. Hal ini juga terlihat permintaan akan ikan hias air tawar di Kota Bogor dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2004 Kota Bogor telah mengekspor ikan hias air tawar sebanyak 6.800.000 ekor dan tahun 2006 sebanyak 9.043.842 ekor dengan negara tujuan Timur Tengah, Chili, UAE, Srilangka, Singapura, Malaysia, Sudan, Muritius, Kuwait, Saudi Arab, Jepang, India, Yordan, Tasmania, Bangladesh, Korea, Afganistan, Libya, Philipina, Oman, Kenya, Yaman dan Zimbabwe. Selama dua tahun terakhir perkembangan ikan hias air tawar di Kota Bogor terus meningkat.

Selain faktor–faktor yang telah disebutkan di atas data pendukung lainnya bahwa Kota Bogor mempunyai keunggulan-keunggulan komparatif dalam rangka pengembangan agribisnis perkotaan, diantaranya posisi Kota Bogor yang strategis. Selain posisinya yang dekat dengan Ibukota Jakarta, juga berada pada jalur wisata utama Jawa Barat. Selain itu juga berada/berdekatan dengan kawasan andalan Bodebek, kawasan andalan Bopunjur serta kawasan andalan Sukabumi dan sekitarnya.

Dengan posisi yang dekat dengan Jakarta, maka Kota Bogor berfungsi pula sebagai daerah penyangga dalam berbagai aspek, baik aspek ketersediaan pangan, aspek permukiman dan lain-lain. Selain itu berbagai Badan/Lembaga Penelitian Pertanian, pakar-pakar perikanan berada di Kota ini sehingga akan

mempermudah dalam hal aksesibilitas informasi pertanian terkini (Pemerintah Kota Bogor, 2001)

Berdasarkan arah kebijakan pembangunan, pertanian di Kota Bogor diarahkan pada pengembangan pertanian yang terintegrasi dengan menetapkan komoditas unggulan yang didasarkan kepada potensi, agroklimat dan sosial budaya masyarakat. Dari hasil pertimbangan tersebut telah ditetapkan komoditas unggulan sebagai berikut:

1) Kecamatan Bogor Barat untuk komoditas talas beserta olahannya, tanaman hias dan itik.

2) Kecamatan Bogor Utara untuk komoditas ikan hias, domba/kambing dan agroornamental (daun potong).

3) Kecamatan Bogor Timur untuk komoditas palawija dan hortikultura buah-buahan (pepaya).

4) Kecamatan Bogor Selatan untuk komoditas hortikultura buah-buahan (durian Rancamaya) dan sayuran.

5) Kecamatan Tanah Sareal untuk tanaman berkhasiat obat, hortikultura buah-buahan (jambu) dan sapi perah.

Berdasarkan hasil pengkajian, komoditi ikan hias merupakan salah satu komoditi unggulan di Kota Bogor yang saat ini mendapatkan prioritas untuk dikembangkan melalui program pengembangan agribisnis perkotaan.

1.2. Perumusan Masalah

Saat ini salah satu program yang sedang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bogor dalam menggerakkan perekonomian masyarakatnya adalah mengembangkan agribisnis perkotaan. Dipilihnya kebijakan pengembangan agribisnis perkotaan di Kota Bogor karena masalah kepemilikan lahan yang sempit, mobilitas penduduk kota yang sangat tinggi, disamping posisi Kota Bogor yang sangat strategis bila ditinjau dari sudut pasar.

Tujuannya adalah meningkatkan ketahanan pangan dan pengembangan sektor perikanan berbasis agribisnis, sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya ketahanan pangan dan berkembangnya usaha agribisnis.

Kebijakan yang ditempuh adalah memantapkan ketahanan pangan serta mengembangkan agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan dan

berkelanjutan. Dengan memperhatikan hal tersebut, program prioritas yang dilaksanakan adalah Penanggulangan Kemiskinan. (Pemerintah Kota Bogor, 2004). Berbeda dengan kawasan/wilayah non perkotaan, pertanian di wilayah perkotaan seperti halnya di Kota Bogor mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1). Rata-rata pemilikan lahan yang relatif sangat sempit, seiring dengan

derasnya alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke non pertanian.

2). Aktivitas petani (pelaku agribisnis) yang sangat tinggi disertai dengan keterdedahan informasi (information exposure) dari luar, sangat tinggi. 3). Menghendaki pengelolaan sumber daya alam dan faktor produksi secara

efisien.

4). Berorientasi pasar (kualitas, kuantitas, kontinyuitas) harus prima sesuai permintaan pasar.

5). Menghendaki pengelolaan yang ramah lingkungan.

Dengan memperhatikan ke lima ciri pertanian di wilayah perkotaan tersebut, maka pembangunan pertanian di Kota Bogor dilaksanakan melalui “Pengembangan Agribisnis Perkotaan”. Arah kebijaksanaannya adalah menuju agribisnis perkotaan yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan lokal spesifik.

Pembangunan sektor perikanan merupakan pembangunan seluruh aspek yang mencakup pembangunan sumberdaya manusia yang bergerak disektor perikanan. Pembangunan untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam tersebut harus lebih mengedepankan pengembangan dan pengelolaan pada keseimbangan aspek ekologi dan ekonomi secara berkelanjutan.

Alder et al 2001 dalam Mudzakir (2003) mengatakan bahwa menurunnya sumber daya perikanan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekologi tetapi juga oleh faktor sosial, ekonomi dan teknologi akibat rezim pengelolaan sumberdaya perikanan yang diterapkan. Agar pemanfaatan sumberdaya perikanan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, maka perlu dilakukan upaya pengelolaan yang dapat menyeimbangkan tingkat pemanfaatannya. Upaya pengelolaan tersebut akan berjalan dengan baik apabila didukung dengan informasi kondisi perikanan secara lengkap dan akurat. Ada empat dimensi utama dalam penilaian kondisi perikanan yang perlu dipertimbangkan sebelum sampai kepada suatu keputusan strategi pengelolaan diterapkan, yaitu aspek ekologi, ekonomi, sosial dan teknologi.

Sektor perikanan dalam perekonomian Kota Bogor masih kecil kontribusinya, akan tetapi dari tahun ketahun mengalami peningkatan. Peningkatan peran tersebut dilandasi oleh suatu pandangan bahwa pengembangan sektor perikanan sangat potensial untuk dikembangkan meskipun terjadi mutasi lahan sehingga menjadi industri ataupun jasa. Belum optimalnya pemanfaatan ikan namun kenyataan yang sebenarnya ikan hias mampu memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat dan secara tidak langsung dapat mengangkat dan mengurangi angka kemiskinan yang pada akhirnya menjadi masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Kurangnya motor penggerak di bidang perikanan menjadikan sektor perikanan tidak dapat bersaing dengan sektor lainnya. Namun walaupun demikian kontribusi yang diberikan oleh sektor pertanian dalam Produk Regional Domestik Bruto (PDRB) sebanding dengan sektor lainnya yaitu rata-rata sebesar 10 % per tahun.

Struktur perekonomian sektor perikanan belum mampu untuk mengangkat hajat hidup sebagian besar pembudidaya apalagi perekonomian secara keseluruhan. Sektor perikanan dalam perkonomian Kota Bogor selain menciptakan lapangan pekerjaan juga memiliki kontribusi dalam peningkatan PDRB, hal ini tidak lepas dari dukungan sumberdaya alam yang ada. Potensi perikanan yang ada di Kota Bogor menjadi catatan sendiri dalam upaya untuk meningkatkan peran yang lebih besar terhadap perekonomian Kota Bogor.

Berdasarkan perumusan masalah, sektor perikanan diharapkan mempunyai peranan yang cukup pada perekonomian Kota Bogor dan bagaimana dampak pengembangannya terhadap perubahan struktur ekonomi. Peran yang diharapkan akan memberikan kontribusi pada perekonomian Kota Bogor antara lain pertama, melalui peningkatan pendapatan masyarakat pembudidaya. Kedua, peningkatan jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor perikanan yang pada akhirnya akan mengurangi jumlah pengangguran dan ketiga, mampu sebagai penggerak bagi sektor lain.

Kontribusi tersebut merupakan implikasi dari besarnya potensi perikanan yang dimiliki oleh Kota Bogor dan diharapkan potensi itu akan berdampak pada peran sektor perikanan dalam struktur perekonomian. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka permasalahan yang ingin dibahas adalah sebagai berikut : 1) Bagaimana keunggulan daya saing ikan hias air tawar sebagai industri

2) Bagaimana analisis manfaat dan biaya dari budidaya ikan hias air tawar di Kota Bogor.

3) Bagaimana persepsi stakeholders dalam pengembangan ikan hias air tawar di Kota Bogor.

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :

1) Menganalisis keunggulan daya saing ikan hias air tawar di Kota Bogor sebagai industri perikanan.

2) Menganalisis manfaat dan biaya dari budidaya ikan hias air tawar di Kota Bogor.

3) Menganalisis persepsi stakeholders dalam mengembangkan ikan hias air tawar di Kota Bogor.

1.4. Kegunaan Penelitian

Penelitian tentang peranan komoditi ikan hias air tawar di sektor perikanan dalam Pengembangan Agribisnis Perkotaan di Kota Bogor ini diharapkan berguna bagi semua pihak terkait yaitu :

1) Memberikan informasi tambahan dalam penentuan kebijakan pembangunan sub sektor perikanan bagi instansi terkait baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Kota Bogor, 2) Memberikan informasi pendahuluan kepada pihak-pihak yang

2.1 Pembangunan Berkelanjutan

Wolrd Comission on Environment and Development (1987) menyatakan bahwa Pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai Pembangunan atau perkembangan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Tantangan pembangunan berkelanjutan adalah menemukan cara untuk meningkatkan kesejahteraan sambil menggunakan sumberdaya alam secara bijaksana, sehingga sumber daya alam terbarukan dapat dilindungi dan penggunaan sumber alam yang dapat habis (tidak terbarukan) pada tingkat dimana kebutuhan generasi mendatang tetap akan terpenuhi. Pembangunan berkelanjutan ini difokuskan pada dua kelompok, yaitu kemiskinan pada masa sekarang dan generasi masa depan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan mengurangi kemiskinan

Tiga hal yang paling mendasar dalam pembangunan berkelanjutan adalah :

1. Bernilai ekonomis (economically viable) meliputi : pertumbuhan, keseimbangan dan efisiensi;

2. Bersahabat dengan lingkungan (environmentally sound) meliputi : ekosistem, keragaman hayati, Uni Eropa global, dan kapasitas tampung.

3. Berwatak sosial (socialy just) meliputi : partisipasi, mobilitas sosial, identitas budaya dan perkembangan kelembagaan.

Definisi lain menyebutkan bahwa pembangunan daerah merupakan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur didalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber-sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. Salah satu ciri penting pembangunan daerah adalah upaya mencapai pembangunan berimbang (balanced development). Pembangunan yang berimbang adalah terpenuhinya potensi-potensi pembangunan sesuai dengan kapasitas pembangunan setiap wilayah/daerah yang jelas-jelas beragam sehingga memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat di seluruh wilayah.

Isu pembangunan wilayah/daerah menurut Murty (2000) tidak mengharuskan adanya kesamaan tingkat pembangunan antar daerah (equally development), tidak menuntut pencapaian tingkat industrialisasi wilayah/daerah yang seragam, bentuk-bentuk keseragaman pola struktur ekonomi daerah atau juga tingkat pemenuhan kebutuhan dasar (self sufficiency) setiap wilayah/daerah. Terjadinya perubahan baik secara incremental maupun paradigma menurut Anwar (2003) adalah mengarahkan pembangunan wilayah kepada terjadinya pemerataan (equity) yang mendukung pertumbuhan ekonomi (efficiency) dan keberlanjutan (sustainability) dalam pembangunan ekonomi.

Skala prioritas pembangunan yang cenderung mengejar sasaran-sasaran makro pada akhirnya menimbulkan berbagai ketidak seimbangan pembangunan berupa menajamnya disparitas spasial, kesenjangan desa-kota, kesenjangan struktural, dan sebagainya. Pendekatan makro juga cenderung mengabaikan plurality akibatnya keragaman sumberdaya alam maupun keragaman sosial budaya.

2.2 Dimensi Pembangunan yang Berkelanjutan

Serageldin and Steer (1994) menjelaskan bahwa konsep pembangunan yang berkelanjutan mengintegrasikan tiga aspek kehidupan (ekonomi, sosial dan lingkungan) dalam suatu hubungan yang sinergis. Ketiga aspek kehidupan dan tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut dapat digambarkan sebagai

“a triangular framework” dengan tujuan masing-masing aspek yang berbeda, seperti terlihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 1 : Konsep pembangunan yang berkelanjutan (Serageldin and Steer, 1994)

Ekonomi

Tujuan: pertumbuhan, pemerataan dan efisiensi

Sosial

Tujuan: pemerataan, pemberdayaan masyarakat, keterpaduan sosial, partisipasi

masyarakat efisiensi

Ekologi

Tujuan: integritas ekosistem keanekaragaman hayati, daya dukung lingkungan

2.3. Pembangunan Kota Berkelanjutan

Untuk memahami konsep pembangunan kota berkelanjutan (sustainable city), tidak dapat dilakukan tanpa pembahasan yang kritis dan holistik tentang lingkungan kota itu sendiri. Memahami lingkungan kota secara holistik berarti melihat lingkungan kota sebagai satu kesatuan integral, dinamik dan kompleks