Kecernaan Protein
Tabel Analisa sidik ragam kecernaan Protein Source of variation Sum of squares Df Mean square F Sig Between Groups 110,889 2 55,444 31,188 0,001 Within Groups 10,667 6 1,778 Total 121,556 8 Uji Duncan
Perlakuan N Subset for alpha = .05
1 2 3 3 77,000 2 3 83,000 1 3 1,000 85,333 Sig 0,076 Kecernaan Total
Tabel sidik ragam kecernaan Total Source of variation Sum of squares df Mean square F Sig Between Groups 76,222 2 38,111 13,192 0,006 Within Groups 17,333 6 2,889 Total 93,556 8 Uji Duncan
Perlakuan N Subset for alpha = .05
1 2
3 3 61,333
2 3 66,000
1 3 68,333
Uji Duncan N 1 2 3 3 3 3.099,000 2 3 3.300,333 1 3 3.788,000 Sig 1,000 1,000 1,000
Perlakuan Subset for alpha = .05
Kecernaan DE
Tabel sidik ragam DE Source of
variation
Sum of
squares df Mean square F Sig
Between Groups 753075 2 376537,4444 161,87423 0,000 Within Groups 13956,7 6 2326,111111
Total 767032 8
Kecernaan Energi
Tabel sidik ragam kecernaan energi Source of variation Sum of squares df Mean square F Sig Between Groups 349,556 2 174,778 104,867 0,000 Within Groups 10,000 6 1,667 Total 359,556 8 Uji Duncan
Perlakuan N Subset for alpha = .05
1 2 3
3 3 68,667
2 3 72,333
1 3 83,333
ABSTRACT
ZURAIDA. The Evaluation of Utilization of Sheep Rumen Liquor Enzyme for Hydrolisis of Crude Fiber Content in Coconut Meal and its Apparent Digestibility for Red Tilapia Oreochromis sp. Under direction of DEDI JUSADI, NUR BAMBANG PRIYO UTOMO
Two experiments were conducted to evalueate the hydrolysis of crude fiber in coconut cake meal (CCM) by sheep rumen liquor enzymes, and apparent digestibility of hydrolyzed CCM for the diet of red tilapia (Oreochromis sp). In Experiment I, the sheep rumen liquor enzymes were added into the CCM at concentration of either 0, 25, 50, 75, 100, or 125 ml/kg of CCM, and incubated for the period of 0, 12, and 24 hours, respectively. In order to evaluate the apparent digestibility, in Experiment II, CCM and hydrolyzed CCM were fed on tilapia for 2 weeks. The result showed that sheep rumen liquor enzymes could effectively reduced the fiber content of CCM, while its glucose concentration increased. It was found that the application of sheep rumen liquor enzymes at a dose of 125 ml in 1 kg CCM at a period of 24 hours was the most effective treatment to reduce the crude fiber content in CCM. The crude fiber content in this treatment decreased from 13.76% to 6.98 %, thereby the apparent digestibility in red tilapia increased from 45.71% to 60.64%.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebutuhan pakan dari tahun ketahun semakin meningkat untuk mengimbangi peningkatan produksi sektor budidaya. Pada tahun 2008 kebutuhan mencapai 8,13 juta ton, meningkat menjadi 8,60 juta ton pada tahun 2009, dan tahun 2010 kebutuhan pakan meningkat menjadi 9,70 juta ton (Anonim, 2011). Peningkatan kebutuhan pakan ini tidak didukung oleh produksi bahan baku pakan, sehingga untuk memenuhi kebutuhan bahan pakan, Indonesia harus mengimpor bahan baku pakan. Beberapa jenis bahan baku yang masih diimpor diantaranya adalah tepung ikan, tepung kedelai, jagung, bone meal dan bahan lainnya. Indonesia pada tahun 2008 mengimpor tepung ikan sebesar 44.073,22 ton, 47.518,97 ton pada tahun 2009 dan pada tahun 2010 menjadi 39.261,69 ton. Sedangkan impor tepung kedelai pada tahun 2008 mencapai 35.849,98 ton, tahun 2009 menjadi 53.474,80 ton dan 55.805,86 ton pada tahun 2010 (Anonim, 2011).
Pemakaian bahan pakan impor sedikit demi sedikit harus dikurangi dan digantikan oleh bahan baku lokal, hal ini harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan impor. Sumber bahan baku lokal yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan adalah hasil sampingan produk agro industri seperti bungkil kelapa. Indonesia saat ini merupakan salah satu negara yang memiliki areal kelapa terluas di dunia yaitu ±3,9 juta ha dengan produksi 3,3 juta ton setara kopra di tahun 2009 dan menempati urutan ke dua setelah Philipina sebagai negara produsen kelapa (Ditjen Perkebunan, 2010). Potensi ini memungkinkan bungkil kelapa yang diperoleh cukup banyak, sementara pemanfaatannya masih sangat terbatas. Salah satu contoh daerah di Indonesia yang sangat berpotensi sebagai salah satu daerah penghasil tepungbungkil kelapa yaitu Provinsi Aceh. Di daerah ini hampir semua kabupaten terdapat perkebunan kelapa, namun ada dua daerah yang menjadi sentral produksi dan pengolahan kelapa yaitu Kabupaten Bireun dan Kabupaten Aceh Utara. Di kedua kabupaten tersebut ada pabrik pengolahan minyak kelapa. Pabrik-pabrik ini memiliki kapasitas pengolahan yang tinggi, setiap hari kelapa yang masuk rata-rata sebesar 35 ton dan yang menjadi bungkil kelapa yaitu ±7
ton (Anonim, 2010). Tepung bungkil hasil pengolahan minyak kelapa di pabrik tersebut selama ini dijual ke Medan untuk dijadikan pakan ternak dengan harga jual Rp. 1.500/kg. Harga ini masih cukup murah bila dibandingkan dengan bahan baku lain seperti pollar Rp. 2.400/kg, bungkil kedelai Rp.4.400/kg, dan tepung jagung Rp.3.050/kg. Bungkil kelapa yang dijual ini mempunyai kadar air 2,51%, protein kasar 23,13%, lemak 10,87%, serat kasar 11,64%, abu 7,21% dan BETN 44,64%. Moorthy dan Viswanathan (2009) bungkil kelapa mengandung kadar air 9,4%, Protein kasar 22.75%, lemak kasar 2,89%, serat kasar 12,11%, abu 7,41%, BETN 54,84%, kalsium 0,40%, dan posfor 0,63%. Bungkil kelapa sebagai bahan baku lokal alternatif karena ketersediaannya banyak, tidak berkompetisi dengan manusia dan harga yang relatif murah.
Penggunaan bungkil kelapa sebagai bahan pakan non-ruminansia memiliki keterbatasan nutrisi yaitu tingginya serat kasar dan daya cerna yang rendah. Kandungan serat kasar yang tinggi pada bungkil kelapa menyebabkan bahan baku tersebut perlu diolah lagi sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan. Halver (1989) menyatakan bahwa ikan kurang mampu mencerna serat kasar karena dalam usus ikan tidak terdapat mikroba yang dapat memproduksi enzim selulase. Serat dibutuhkan tubuh ikan dalam jumlah terbatas yaitu maksimal 7 % pada pakan (Robinson et al. 2001). Fakta dilapangan menujukkan bahwa kandungan serat kasar pada pakan komersil tidak melebihi 5 %. Pengolahan terhadap berbagai pakan yang mengandung serat kasar tinggi sudah banyak dilakukan untuk efisiensi pemanfaatan pakan, seperti pengolahan secara fisik, kimia dan biologi atau kombinasinya. Upaya lain yang telah berkembang yaitu pemanfaatan enzim cairan rumen untuk menurunkan serat kasar bahan pakan. Cairan rumen merupakan salah satu sumber alternatif yang murah dan dapat dimanfaatkan dengan mudah sebagai enzim hidrolase (Muharrery & Das, 2002). Penelitian pemanfaatan enzim cairan rumen untuk bahan pakan ikan sudah dilakukan seperti ikan nila dengan bahan baku daun lamtoro (Fitriliyani, 2010), dan benih ikan patin dengan bahan baku bungkil sawit (Pamungkas, 2011).
Penggunaan bahan baku lokal terutama bungkil kelapa yang telah diturunkan serat kasarnya melalui hidrolisis oleh enzim cairan rumen domba diharapkan dapat menjadi sumber bahan baku lokal alternatif yang berkualitas,
dan dapat menurunkan impor bahan baku. Untuk itu, dilakukan penelitian efektifitas pemanfaatan enzim cairan rumen domba terhadap penurunan serat kasar dan nilai kecernaan bungkil kelapa sebagai pakan ikan nila merah (Oreochromis sp).
Perumusan Masalah
Penggunaan bahan pakan impor selama ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan impor bahan pakan maka otomatis akan mengakibatkan banyak menguras devisa negara, dan efeknya adalah mahalnya harga pakan. Peningkatan harga pakan menimbulkan masalah yang besar di sektor budidaya, sehingga perlu dicari bahan pakan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Bahan pakan alternatif yang perlu didorong di antaranya bungkil kelapa. Penggunaan bungkil kelapa sebagai bahan pakan ikan mempunyai permasalahan sendiri yaitu tingginya serat kasar. Salah satu teknologi yang bisa dilakukan untuk menurunkan serat kasar bahan yaitu dengan penambahan cairan rumen domba, dimana di dalam cairan rumen ini berdasarkan penelitian diketahui mengandung enzim pendegradasi serat (Williams & Withers, 1992). Martin et al. (1999) mendapatkan bahwa enzim-enzim pencerna karbohidrat dalam cairan rumen antara lain adalah amylase, xilanase, avicelase, α-D-glukosidase, α-L- arabinofuranosidase, β-D-glukosidase, dan β-D-xylosidase. Penelitian Budiansyah (2010) menyatakan bahwa di dalam enzim cairan rumen mengandung enzim selulase, xilanase, mannanase, amylase, protease, dan fitase mampu menghidrolisis bahan pakan lokal dan penambahan enzim cairan rumen sapi lokal dalam pakan meningkatkan kecernaan ayam broiler.
Lebih lanjut penelitian Fitriliyani (2010); Pamungkas (2011) bahwa di dalam rumen domba terdapat aktifitas enzim –enzim selulase, amylase, protease, lipase, dan fitase. Pemanfaatan ekstrak cairan rumen domba 100 ml/kg daun lamtoro dengan masa inkubasi 24 jam mampu menurunkan serat kasar dari 16,77% ke 7,774% (Fitriliyani, 2010). Pamungkas (2011) menyatakan bahwa penggunaan ekstrak cairan rumen domba 100 ml/kg bahan dengan lama inkubasi 24 jam mampu menurunkan serat kasar dari 17,54% ke 6,69% dan meningkatkan nilai kecernaan bungkil kelapa sawit sebesar 42,26%. Penelitian yang dilakukan oleh Pantaya (2003) menyatakan bahwa penambahan enzim cairan rumen dengan
dosis 1.240 IU/kg menurunkan kandungan polisakarida dari 26,32% ke 22,38%, meningkatkan kandungan oligosakarida dari 73,68% ke 77,62% dan meningkatkan energi wheat pollard dari 1.55 kkal/kg menjadi 1.88 kkal/kg. Penelitian Sandi (2010) penambahan enzim cairan rumen dosis 1% (b/v) dengan lama waktu inkubasi 24 jam mampu menurunkan kandungan serat kasar sebesar 17,83% dan meningkatkan gula total terlarut sebesar 29,91% pada singkong.
Penambahan cairan rumen domba ke dalam bungkil kelapa diharapkan dapat menurunkan kandungan serat kasar dan meningkatkan nilai kecernaan bungkil kelapa sehingga bisa digunakan sebagai bahan baku alternatif yang dapat mensubstitusi bahan baku lain terutama impor. Dalam pembuatan pakan diperlukan bahan pakan yang mempunyai nilai kecernaan tinggi sehingga nutrien yang ada dalam pakan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ikan.
Tujuan Penelitian
1. Mengevaluasi penambahan enzim cairan rumen terhadap tingkat penurunan serat kasar bungkil kelapa.
2. Mengetahui kecernaan bungkil kelapa yang dihidrolisis dengan enzim cairan rumen domba sebagai bahan pakan ikan nila merah (Oreochromis sp).
Manfaat Penelitian
1. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi pemanfaatan enzim cairan rumen domba dalam penurunan serat kasar bungkil kelapa sebagai bahan penyusun pakan untuk ikan nila merah (Oreochromis sp).
Hipotesis
1. Penambahan enzim cairan rumen domba pada bungkil kelapa dapat menurunkan kandungan serat kasar bungkil kelapa.
2. Bahan pakan yang dihidrolisis dengan enzim cairan rumen domba kecernaan meningkat.
TINJAUAN PUSTAKA Ikan Nila Merah (Oreochromis sp)
Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut :
phylum : Vertebrata (bertulang belakang) super class : Pisces (ikan)
kelas : Osteichthytes (Bony fish) sub-kelas : Acanthopterigii
super ordo : Teleostei
ordo : Percomorphidae
family : Cichilidae
genus : Oreochromis
spesies : Oreochromis sp
Ikan nila merah (Oreochromis sp) selain untuk konsumsi domestik juga dikembangkan sebagai komoditas ekspor, dalam bentuk ikan utuh maupun fillet dengan negara tujuan antara lain Timur Tengah, Singapura, Jepang dan Amerika Serikat. Indonesia merupakan eksportir nila terbesar ke-3 setelah China dan Filipina (DKP, 2008). Menurut data Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DKP (2007) impor tilapia alias nila (beku maupun fillet) di AS terus tumbuh dalam sepuluh tahun terakhir. Angka impor tilapia AS pada 2002–2006 masing-masing 67,2 ribu ton, 90,2 ribu ton, 112,9 ribu ton, 134,9 ribu ton, dan 158,3 ribu ton. AS mengimpor fillet nila segar dan beku dari negara- negara Amerika Latin, Ekuador, Kosta Rika, dan Honduras.
Kebutuhan Nutrisi Ikan Nila
Ikan membutuhkan energi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, dimana energi tersebut berasal dari nutrien yang dikonsumsi oleh ikan. Faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrien pada ikan diantaranya adalah jumlah dan jenis asam amino esensial, kandungan protein yang dibutuhkan, kandungan energi pakan dan faktor fisiologis ikan (Lovell, 1989). Campuran yang seimbang dari bahan penyusun pakan dan kecernaan dari pakan merupakan dasar utama untuk
penyusunan formulasi pakan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan (Cho & Watanabe, 1983). Ikan nila akan memperlihatkan pertumbuhan yang baik apabila pemberian pakan dengan formulasi yang seimbang, yang di dalamnya terkandung bahan-bahan seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin, serat, dan mineral.
Protein merupakan molekul kompleks yang terdiri atas asam amino essensial dan asam amino non essensial. Ikan membutuhkan protein untuk pemeliharaan tubuh, penggantian jaringan yang rusak, dan pembentukan jaringan atau penambahan protein tubuh. Protein merupakan komponen dasar dalam jaringan tubuh hewan dan merupakan nutrien yang paling penting untuk pertumbuhan dan pertahanan tubuhnya. Hampir 60-75% bobot tubuh ikan adalah protein, oleh karena itu ikan membutuhkan protein untuk pertumbuhannya dan keberadaannya harus secara terus menerus disuplai dari makanan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh.
Kebutuhan protein ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ukuran ikan, spesies, tingkat pemberian pakan, ketersediaan, dan kualitas pakan, serta energi yang akan dicerna dalam pakan (Watanabe, 1988). Jumlah protein yang diperlukan dalam pakan secara langsung dipengaruhi oleh komposisi asam amino pakan. Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus tersedia dalam pakan (NRC, 1983). Ikan membutuhkan 10 jenis asam amino esensial untuk menghasilkan pertumbuhan optimum, yaitu arginin, fenilalanin, histidin, isoleusin, lisin, metionin, triptofan, treonin dan valin. Kebutuhan ikan seperti halnya hewan, tidak memiliki kebutuhan protein yang mutlak tetapi memerlukan suatu campuran yang seimbang antara asam amino esensial dan non esensial.
Menurut NRC (1983), kekurangan asam amino esensial akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan. Suprayudi et al. (1999) menambahkan bahwa retensi protein yang rendah disebabkan oleh tingginya perbedaan komposisi asam amino esensial dalam protein dibandingkan dengan komposisi asam amino esensial tubuh ikan. Kebutuhan protein menurun seiring dengan bertambahnya umur dan ukuran ikan tetapi akan meningkat secara linier dengan peningkatan suhu air hingga batas yang dapat ditoleransi oleh ikan (Halver, 2002). Setiap spesies membutuhkan protein yang berbeda untuk pertumbuhannya,
sebagai contoh ikan mas membutuhkan protein 31-38%, ikan gurame ukuran 25 gram membutuhkan protein 38% dan benih membutuhkan protein 43% dalam pakan (Mokoginta et al. 1993), sedangkan kadar protein yang optimal untuk menunjang pertumbuhan ikan nila berkisar antara 28-50% (Webster & Lim, 2002).
Protein pakan yang tidak mencukupi akan menghambat pertumbuhan, sedangkan kadar protein yang berlebih mengakibatkan kelebihan protein akan dikatabolisme menjadi energi sehingga protein yang digunakan untuk membangun jaringan tubuh hanya sedikit (NRC, 1983). Jumlah dan kualitas protein akan mempengaruhi pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan. Apabila kadar protein dalam pakan berkurang, maka protein dalam jaringan tubuh akan dimanfaatkan untuk menjalankan fungsi jaringan yang lebih penting.
Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi yang relatif lebih murah harganya. Karbohidrat dalam pakan disebut dengan BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen). BETN ini bagian dari karbohidrat yang mengandung gula, pati dan sebagian besar dari zat hemiselulosa dalam bahan makanan. Daya cerna karbohidrat sangat bervariasi, tergantung dari kelengkapan molekul penyusunnya. Karbohidrat sebagian besar didapat dari bahan nabati, sedangkan kadarnya dalam makanan ikan berkisar antara 10-50%. Karbohidrat dalam bentuk serat kasar sebenarnya tidak termasuk sebagai zat gizi yang sangat diperlukan, karena sukar sekali dicerna. Kemampuan ikan menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi berbeda setiap spesies ikan. Ikan omnivora umumnya mampu memanfaatkan karbohidrat lebih tinggi (kadar optimum 30-40%) sedangkan ikan karnivora memanfaatkan karbohidrat pada kadar optimum 10-20% (Furuichi, 1988).
Lemak dan minyak merupakan sumber energi yang tinggi dalam pakan. Satu gram lemak memiliki energi dalam pakan (gross energy) sebesar 9.4 kkal, sedangkan dalam protein dan karbohidrat sebesar 5.6 dan 4.1 kkal (Watanabe, 1988). Lemak berfungsi sebagai sumber energi yang efisien, baik secara langsung maupun potensial tersimpan di dalam jaringan adiposa, sebagai penyedia asam lemak esensial serta komponen struktur sel dan pemeliharaan integritas biomembran membantu dalam penyerapan vitamin yang larut dalam lemak dan
untuk mempertahankan daya apung tubuh (NRC, 1993), sebagai prekursor untuk hormon-hormon steroid (Robinson et al. 2001). Lemak juga berfungsi sebagai sumber asam lemak dan pelarut vitamin A, D, E, dan K. Kadar lemak sebesar 5% sudah mencukupi untuk kebutuhan ikan nila, tetapi jika kadar lemak dalam pakan ditingkatkan menjadi 12% akan memberikan pengaruh berupa perkembangan maksimal pada ikan nila (Webster & Lim, 2002).
Vitamin merupakan senyawa yang sangat penting peranannya dalam kehidupan ikan meskipun tidak merupakan sumber tenaga, tapi dibutuhkan untuk pertumbuhan normal, reproduksi, kesehatan dan metabolisme secara umum. Meskipun vitamin yang dibutuhkan hanya sedikit, tetapi bila kekurangan dapat menimbulkan gangguan dan penyakit. Kebutuhan vitamin pada setiap ikan dipengaruhi oleh ukuran ikan, umur, kondisi lingkungan, suhu air dan saling berpengaruh diantara zat makanan yang tersedia.
Mineral adalah zat organik yang dibutuhkan oleh ikan untuk pembentukan jaringan tubuh, proses metabolisme dan mempertahankan keseimbangan osmotis. NRC (1993) menyatakan bahwa mineral merupakan senyawa yang digunakan untuk proses respirasi, osmoregulasi dan pembentukan kerangka tulang. Kebutuhan nutrisi ikan nila dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.
Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Ikan Nila (Oreochromis sp)
Nutrien Jumlah Yang dibutuhkan Sumber referensi**)) Protein Asam amino -Arginin -Histidin -Isoleusin -Leusin -Lysine -Metionin + Cystin -Phenilalanin + Tyrosin -Threonin -Tritopan -Valin Lemak
Asam lemak essensial Posforus
Karbohidrat
Digestibiliti energi (DE)
Larva 35% Benih– konsumsi 25-30% 4,2 % 1,7 % 3,1 % 3,4 % 5,1 % 3,2 % ( Cys 0,5 ) 5,5 % (Tyr 1,8 ) 3,8 % 1,0 % 2,8 % 6 – 10 % 0,5 % - 18:2n-6 < 0,9 % 25% 2500 – 4300 Kkal/ kg Santiago et al (1982) Santiago et al (1986) Santiago & Lovell (1988)
Jauncey & Ross (1982) Takeuchi et al (1982) Watanabe et al (1980) Jauncey & Ross (1982) Jauncey & Ross (1982) Sumber : **))BBAT Sukabumi (2005) dalam Indariyanti (2011)
Bahan Pakan Sumber Nutrien
Bahan baku pakan merupakan faktor utama yang harus tersedia dalam pembuatan pakan. Bahan baku pakan pada umumnya dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu bahan baku yang berasal dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani).
Bungkil kelapa
Bungkil kelapa merupakan produk sampingan dari pembuatan santan, untuk keperluan rumah tangga atau industri makanan/kue, dan dari pengolahan minyak kelapa baik secara tradisional maupun dengan menggunakan teknologi penggolahan minyak kelapa. Potensi bungkil kelapa cukup tinggi sebagai bahan baku pakan alternatif, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang merupakan penghasil kelapa terbesar di dunia. Dari tahun ke tahun produksi kelapa Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2009 Indonesia menempati urutan kedua setelah Philipina sebagai produsen kelapa yaitu dengan luas lahan ±3,9 juta ha memproduksi 3,3 juta ton setara kopra (Ditjen Perkebunan, 2010). Dengan produksi kelapa yang tinggi, pengolahan minyak kelapa yang terus meningkat maka secara otomatis akan terjadi peningkatan limbah bungkil kelapa.
Salah satu contoh daerah di Indonesia yang sangat berpotensi sebagai salah satu daerah penghasil bungkil kelapa yaitu Provinsi Aceh. Di daerah ini hampir semua Kabupaten terdapat perkebunan kelapa, namun ada dua daerah yang menjadi sentral produksi dan pengolahan kelapa yaitu Kabupaten Bireun dan Kabupaten Aceh Utara, ini terlihat dari adanya pabrik pengolahan minyak kelapa dikedua Kabupaten tersebut. Pabrik-pabrik ini memiliki kapasitas pengolahan yang tinggi, setiap hari kelapa yang masuk rata-rata sebesar 35 ton dan yang menjadi limbah bungkil kelapa yaitu ±7 ton bungkil kelapa (Anonim, 2010). Tepungbungkil kelapa hasil pengolahan minyak kelapa di pabrik ini selama ini di jual ke Medan untuk dijadikan pakan ternak dengan harga jual Rp 1.500/kg.
Di dalam bungkil kelapa ini masih terkandung protein yang cukup tinggi yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Bungkil kelapa umumnya masih mengandung protein kasar 20% dari bahan kering dan selama ini telah digunakan sebagai bahan pakan ternak unggas. Pemanfaatan bungkil kelapa juga merupakan usaha untuk memanfaatkan bahan yang tidak terpakai lagi bagi
konsumsi manusia. Bungkil kelapa dapat diperoleh cukup banyak dari tempat- tempat penghasil makanan manusia yang menggunakan bahan dasar kelapa dan pabrik pengolahan minyak kelapa dengan harga sangat murah.
Selama ini pemanfaatan bungkil kelapa sebagai pakan ternak sudah banyak digunakan terutama untuk pakan ayam pedaging/broiler, sapi, dan babi. Sementara pemanfaatan bungkil kelapa sebagai pakan ikan masih jarang sekali dan hal ini patut untuk dicoba, bungkil kelapa yang mudah diperoleh dan harga
yang murah merupakan suatu keuntungan terhadap industri pakan dan pembudidaya dimana pakan yang akan dihasilkan relatif lebih murah dan
dapat terjangkau oleh pembudidaya.
Bungkil kelapa juga mengandung protein dimana protein merupakan salah satu komponen yang terpenting pada pakan sehingga tingginya kadar protein pada bungkil kelapa merupakan suatu keuntungan untuk diolah menjadi pakan. Menurut Derrick (2005), protein kasar yang terkandung pada bungkil kelapa mencapai 23%, dan kandungan seratnya yang mudah dicerna merupakan suatu keuntungan tersendiri untuk menjadikan bungkil kelapa sebagai bahan pakan pelet (calf). Menurut (Parakkasi, 1990), bahan pakan bungkil ini mengandung bahan protein nabati dan sangat potensial untuk meningkatkan karkas. Kandungan nilai nutrien bungkil kelapa dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan nilai nutrien bungkil kelapa
Kandungan Zat Jumlah (%)
Kadar Air 10,9a 10,1b 7,6c 9,54d Protein Kasar 16,6 a 20,9b 20,04 c 22,75 d BETN - 46,2 b 49,56 c 54,84 d Serat Kasar 8,4 a 10,5 b 9,08 c 12,11 d Ether Extract 27,3 a 5,8 b 8,52 c 2,89 d Abu Kalsium 3,5 a - 6,5b - 5,24 c - 7,41 d 0,40 d Sumber : a. Hoffman, A (1981) c. Mepba dan Achinewhu (2003) b. Creswell & Brooks (1971) d. Moorthy, M & Viswanathan (2009)
Selain itu, di dalam bungkil kelapa juga mengandung asam amino yang sangat bermanfaat untuk pertumbuhan ikan. Kandungan asam amino dalam bungkil kelapa dapat dilihat pada Tabel 3, dibawah ini.
Tabel 3. Kandungan asam amino bungkil kelapa
Asam Amino Jumlah (%)
Alanine 1.13 ± 0.10a 0,81b - Arginine 1.99 ± 0.09 a 1,96 b 1,97c Asam Aspartat 1.01 ± 0.01 a 1,62 b - Asam Glutamat 2.70 ± 0.03 a 3,64 b - Cystine - 0,24 b 0,28 c Glycine 0.52 ± 0.05 a 0,89 b 0,82 c Histidine 0.44 ± 0.27 a 0,41 b 0,36 c Isoleucine 1.76 ± 0.14 a 0,6 b 0,63 c Leucine 2.36 ± 0.05 a 1,21 b 1,18 c Lysine 0.59 ± 0.15 a 0,48 b 0,50 c Methionine 0.34 ± 0.11 a 0,37 b 0,28 c Phenylalanine 0.81 ± 0.25 a 0,81 b 0,88 c Serine 0.71 ± 0.02 a 0,96 b 0,79 c Threonine 0.62 ± 0.04 a 0,66 b 0,58 c Tryptophan - - 0,12 c Tyrosine 0.27 ± 0.14 a 0,46 b 0,44 c Valine 0.44 ± 0.12 a 0,89 b 0,91 c
Sumber :a. Moorthy dan Viswanathan (2009); b.Creswell & Brooks (1971); c. NRC (1993)
Bungkil kelapa juga mengandung asam lemak, sebagaimana pada protein sebagian dari asam lemak tersebut bersifat esensial untuk ikan, terutama untuk asam lemak dengan rantai karbon panjang seperti C18 hingga C22. Kebutuhan ikan air tawar akan jenis asam lemak tertentu pada umumnya tidak jauh berbeda sebagaimana ikan air laut, meskipun terdapat beberapa perbedaan pokok diantara ke dua kelompok ikan tersebut. Lemak, sebagaimana protein, merupakan sumber energi dalam pakan. Namun, penggunaan lemak dalam pakan perlu pemahaman yang tepat baik dalam jumlah, jenis, ataupun sumber asalnya. Penggunaan yang kurang tepat dapat mengakibatkan pakan mudah rusak, menurunkan efisiensi pakan, pemborosan secara ekonomis, bahkan mungkin saja