• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

B. ANALISIS HASIL PENELITIAN

1. Hasil Analisis

Tabel 4.8 Test of Normality Kolmogorov - Smirnov

Jenis Rasio Kode Mean df Asymp

Sig Keterangan Desentralisasi fiskal DF1 0.0956207 38 0.0256303 Tidak Normal DF2 0.0522660 38 0.0015859 Tidak Normal Kemandirian daerah KP1 0.4761636 38 0.8989225 Normal KP2 0.2655551 38 0.3773243 Normal Ketergantungan daerah Ktg1 0.4516215 38 0.4424663 Normal Ktg2 0.1854698 38 0.2725149 Normal

Sumber : Hasil uji SPSS, 2008

Keterangan :

DF 1 : Rasio tingkat desentralisasi fiskal sebelum desentralisasi fiskal

DF 2 : Rasio tingkat desentralisasi fiskal sesudah desentralisasi fiskal

KP 1 : Rasio kemandirian pembiayaan daerah sebelum desentralisasi fiskal

55

Ktg 1 : Rasio tingkat ketergantungan daerah sebelum desentralisasi fiskal

Ktg 2 : Rasio tingkat ketergantungan daerah sesudah desentralisasi fiskal

Berdasarkan hasil test normalitas data sesuai tabel diatas maka terdapat rasio yang tidak normal yaitu desentralisasi fiskal, karena tingkat signifikansi lebih kecil dari 0.05, dan dua rasio kemandirian pembiayaan daerah dan tingkat ketergantungan daerah, terdistribusi secara normal karena tingkat signifikansinya lebih besar dari 0.05. Data yang tidak terdistribusi secara normal, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji berperingkat wilcoxon. Dari tabel Test statistic diperoleh informasi bahwa Asymp. Sig(2-tailed) = 0.000, karena nilai Asymp. Sig> taraf nyata (0.05), maka Ho diterima.

Pengujian Hipotesis terhadap data yang terdistribusi secara normal dilakukan uji t untuk dua sampel berpasangan. Dari hasil pengolahan data dengan SPSS diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.8

Hasil Uji Hipotesis Metode Paired T Test

Jenis Rasio Kode T tabel T hitung Sig. (2-tailed) Keterangan Tingkat Kemandirian daerah KP1 - KP2 2.178813 3.809 0.002 T hitung > T tabel maka Ho ditolak Tingkat Ketergantungan daerah Ktg1 - Ktg2 2.178813 4.719 0.000 T hitung > T tabel maka Ho ditolak

Sumber : Hasil uji SPSS, 2008

Dari hasil pengujian seluruh rasio kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota tiga tahun sebelum dan tiga tahun sesudah desentralisasi fiskal dapat dijelaskan sebagai berikut :

57

Tabel 4.9

Kesimpulan Hasil Uji Statistik

Hipotesis Kode Rasio Mean

Kesimpulan Penjelasan

1 DF1-DF2 0.0956207 0.0522660

Terima Ho Tidak ada perbedaan kinerja keuangan yang signifikan dalam bentuk derajat desentralisasi fiskal pemerintah kabupaten/kota sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal.

2 KP1-KP2 0.4761636 0.2655551

Tolak Ho Ada perbedaan kinerja keuangan dalam bentuk kemandirian pembiayaan daerah pemerintah kabupaten/kota sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal.

3 Ktg1-Ktg2 0.4516215

0.1854698

Tolak Ho Ada perbedaan kinerja keuangan dalam bentuk ketergantungan pemerintah kabupaten/kota sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal.

Sumber : Penulis, 2008

2. Pembahasan Hasil Analisis Statistik

Berdasarkan hasil analisis statistik diatas, maka dapat diketahui :

a. Tingkat desentralisasi fiskal

Berdasarkan hasil uji berperingkat wilcoxon, tidak ada perbedaan kinerja keuangan dalam bentuk tingkat desentralisasi fiskal sebelum dan sesudah otonomi daerah pada pemerintah kabupaten/kota di propinsi Sumatera Utara, rasio tingkat desentralisasi fiskal sebelum desentralisasi fiskal

sebesar 0,076639, setelah desentralisasi fiskal mengalami penurunan sebesar 0,045315. Penurunan rasio tingkat desentralisasi fiskal menggambarkan pemerintah kabupaten/kota di Sumatera Utara belum mampu mengelola dan membiayai daerah tersebut sehingga masih tergantung pada penerimaan dari pemerintah pusat.

b. Tingkat Kemandirian pembiayaan daerah

Berdasarkan hasil uji t untuk 2 sampel berpasangan terdapat perbedaan kinerja keuangan daerah dalam bentuk kemampuan pembiayaan pemerintah kabupaten/kota di Sumatera Utara ditandai dengan penurunan rata-rata pencapaian target pendapatan asli daerah. Rasio kemampuan pembiayaan sebelum desentralisasi fiskal sebesar 0,426123, dan setelah desentralisasi fiskal mengalami penurunan menjadi 0,267962. Menurunnya kontribusi pendapatan asli daerah dan semakin rendahnya kemampuan daerah untuk membiayai daerah akan menunjukkan kinerja keuangan daerah yang semakin rendah. Kinerja keuangan daerah yang semakin rendah yaitu kurangnya kemandirian keuangan daerah dalam membiayai kebutuhan daerah dan mendukung pelaksanaan otonomi daerah.

c. Tingkat ketergantungan

59

kinerja keuangan dalam bentuk tingkat ketergantungan sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal pada pemerintah kabupaten/kota di Sumatera Utara, dan rasio tingkat ketergantungan sebelum desentralisasi fiskal sebesar 0.728869, dan setelah desentralisasi fiskal mengalami penurunan menjadi 0,453152. Penurunan rasio menggambarkan bahwa tingkat kemampuan daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah semakin menurun.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan bukti empiris mengenai ada tidaknya perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal pada pemerintahan Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Utara dengan menggunakan rasio tingkat desentralisasi fiskal, tingkat kemandirian pembiayaan daerah, dan tingkat ketergantungan daerah. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbandingan kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Utara sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal dapat dilihat dalam uraian dibawah ini :

1. Tingkat Desentralisasi fiskal apabila ditinjau dari :

Hasil dari uji berperingkat wilcoxon menunjukkan bahwa tingkat desentralisasi fiskal tidak mengalami perbedaan antara sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal, dan rata-rata tingkat desentralisasi fiskal semakin rendah setelah kebijakan desentralisasi fiskal.

2. Tingkat Kemandirian pembiayaan dan Tingkat ketergantungan

Hasil dari uji t untuk dua sampel berpasangan menunjukkan bahwa tingkat kemandirian pembiayaan daerah dan tingkat ketergantungan daerah memiliki perbedaan antara sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal.

3. Rasio kinerja keuangan daerah semakin rendah, hal ini menunjukkan bahwa setelah desentralisasi fiskal diperlakukan terjadi penurunan kinerja keuangan.

  61

B. Saran – saran

Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara lebih meningkatkan pendapatan asli daerah dari sektor pajak, karena sektor pajak belum menjadi sektor yang diprioritaskan dalam upaya peningkatan PAD, sehingga sektor pajak belum tergali dan terkelola secara optimal, maka perlu diupayakan peningkatan PAD baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi.

Secara ekstensifikasi, pemerintah daerah seharusnya dapat mengidentifikasi potensi daerah sehingga peluang – peluang baru untuk sumber penerimaan daerah dapat dicari. Secara intensifikasi yaitu dengan cara memperbaiki kinerja pengelolaan pemungutan pajak, antara lain :

1. Pendataan kembali wajib pajak dan objek pajak yang sudah ada dalam rangka penggalian potensi daerah.

2. Melakukan perhitungan efisiensi dan efektivitas pemungutan pajak, sehingga biaya pemungutan dapat diperhitungkan sebelumnya.

3. Meningkatkan kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan, sehingga kebocoran dapat dikurangi.

, 2004. Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah Edisi Revisi, UPP UMP YKPN, Yogyakarta.

Mardiasmo (2004), Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Andi, Yogyakarta. Saragih, Juli Panglima (2003), Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam

Otonomi, PT Ghalia Indonesia, Jakarta.

Setiarti, L. (2002), ”Analisis Kemampuan Keuangan Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah : studi di kabupaten Bantul Yogyakarta”, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Volume III, No. 2, 141-152.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (1999), Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta.

Susanto, Sudono (2001), “ Analisa Perimbangan Pembiayaan Fiskal Pemerintah Pusat dan Daerah Studi kasus Kabupaten Banjarnegara “, Skripsi Sarjana (Tidak dipublikasikan) Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Undang – Undang Otonomi Daerah 2004, Penerbit Absolut.

Yani, Ahmad (2002), Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Widjaja, Haw, 2004. Otonomi Daerah dan Daerah Otonom, Cetakan Ketiga, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Dokumen terkait