Studi Pada Wakil Penjamin Emisi Efek
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Jalur
Dari 80 kuesioner yang dkirimkam lewat pos ternyata hanya kembali sebanyak 59 buah. Jumlah ini memenuhi syarat untuk dianalisis karena telah lebih dari 5 kali parameter yang diestimesi seperti yang dianjurkan Bentler (1993), lebih dari 50 seperti yang dianjurkan oleh Hair (1992). Setelah asumsi norma-litas data, multikolinieritas, dan asumsi penting lainnya terpenuhi berikutnya dari hasil analisis dengan pro-gram AMOS 4, dihasilkan koefisien jalur antar varia-bel yang ditunjukkan oleh regresi terstandar dan hasil uji hipotesis model seperti tampak pada gambar 4.
WWWWW
Gambar 4
Hasil Jalur Hubungan antara Keyakinan, Sikap, Keyakinan Normatif, Norma Subyektif, dan Intensi Wakil Penjamin Emisi Efek Terhadap Penggunaan Forecast Reporting
WWWWW WWWWW WWWWW WWWWW W W W W W W W W W W W W W W W W W W WW KYPFR KNPFR SKPFR NSPFR ITPFR Er2 Er3 Er4 WWWWW Er1 Er5 .19 .07 .58 .02
Uji Hipotesis Model Chi-Square=7.398 Probability=.286 RMSEA=.063 GFI=.951 AGFI=.878 TLI=.903 CFI=.942
Untuk menguji apakah model gambar 4 memi-liki kesesuaian dengan data, digunakan beberapa kriteria Goodness of Fit Indices yang sesuai dengan
terstandar), nili t hitung serta t tabelnya. Kriteria signifikan apabila nilai t hitung lebih besar daripada t tabel.
Tabel 1
Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indicate
Kriteria Hasil Nilai Kritis *) Evaluasi Model
Chi-Square 7,39 Relatif Kecil Baik
Probability 0,285 ³ 0,05 Baik
RMSEA 0,063 £ 0,08 Baik
GFI 0,951 ³ 0,90 Baik
TLI 0,903 ³ 0,95 Marginal
CFI 0,942 ³0,95 Marginal
Sumber : *) Hair (1992), Arbukle (1997), Muller (1996)
jumlah sampel maupun tujuan analisis yang diingin-kan. Beberapa kriteria, nilai kritis, serta kesimpulan yang bisa diambil disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa model yang diajukan menunjukkan adanya kesesuaian dengan antara model yang dikembangkan dengan data terbukti dari adanya nilai Chi-Square yang relatif kecil dan tidak signifikan (nilai p ³ 0,05) dan RMSEA lebih kecil dari 0,08. Kondisi tersebut menunjukkan tidak adanya perbedaan antara besaran dalam sampel
(co-variance sample) dan parameter populasi yang
diestimasi (covariance poulasi) . GFI (Goodness of Fit) juga di atas 0,90 meskipun TLI dan CFI dengan penerimaan marginal, maka model ini relatif dapat diterima dan sesuai dengan data.
Untuk menguji hipotesis yang diajukan disajikan Tabel 2 yang menunjukkan besarnya koefisien jalur (regresi
Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat dikemukakan bahwa hipotesis alternatif 1 (satu) yang diajukan bahwa keyakinan berpengaruh terhadap sikap wakil penjamin emisi efek terhadap penggunaan pengembangan laporan keuangan forecasting tidak signifikan atau ditolak, karena nilai t hitung lebih kecil daripada t table pada tingkat kesalahan (a) 5 persen dan DF 6. Namun hanya bisa diterima pada peluang kesalahan 14 persen (nilai probability). Untuk hipotesis 2 (dua) yang menyatakan bahwa keyakinan normative berpengaruh terhadap norma subyektif wakil penjamin emisi efek terhadap penggunaan pengembangan laporan keuangan forecasting juga tidak signifikan karena t hitung lebih kecil dari t table, dan hanya dapat diterima pada peluang kesalahan yang tinggi yakni 60 persen. Berdasarkan hipotesis 3 (tiga) yang menyatakan bahwa sikap berpengaruh terhadap
Tabel 2
Koefisien Jalur (Regresi terstandar) Hubungan Antarvariabel Koefisien T hitung T table Probability
Jalur Jalur (α =5%) (p) Keterangan
KYPFR>SKPFR 0,186 1,443 1,94 0,14 Tidak Signifikan KNPFR>NSPFR 0,067 0,513 1,94 0,60 Tidak Signifikan SKPFR>ITPFR 0,582 5,457 1,94 0,00 Signifikan NSPFR>ITPFR 0,016 0,188 1,94 0,85 Tidak Signifikan
intensi wakil penjamin efek dalam menggunakan pengembangan laporan keuangan forecasting diterima, terlihat dari nilai t hitung lebih besar daripada t table dan nilai p = 0. Berdasarkan Tabel 1 juga dapat disimpulkan bahwa hipotesis 4 (empat) yang menyatakan bahwa norma subyektif berpengaruh terhadap intensi wakil penjamin emisi efek tidak diterima, karena t hitung lebih kecil daripada t tabel. Hubungan kausal antar variabel yang diteliti berikutnya dapat diamati dari efek langsung, efek tidak langsung, dan efek total yang distandarisir dari masing-masing variabel seperti yang terlihat pada Tabel 3.
Keyakinan wakil penjamin emisi efek hanya memiliki pengaruh langsung pada sikap terhadap penggunaan forecast reporting dengan nilai 0,19, dan pengaruh tidak langsung terhadap intensi menggunakan pengembangan laporan keuangan melalui sikap sebesar 0,11. Kemudian keyakinan nor-mative hanya memiliki pengaruh langsung kepada norma subyektif sebesar 0,07 dan efek tidak langsung terhadap intensi menggunakan pengembangan laporan keuangan forecasting melalui norma subyektif sebesar 0,001.
hubungan lainnya antara keyakinan dengan sikap, keyakinan normatif dan norma subyektif, dan antara norma subyektif dengan intensi menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan.
Hasil pembuktian empiris tersebut dapat dikait-kan dengan kenyataan bahwa memang ada berbagai pendekatan tentang teori sikap dan perilaku. Bukti empiris dalam penelitian ini , bisa terjadi wakil penjamin emisi efek sebagai praktisi analis keuangan yang bekerja pada underwriter, sikapnya terhadap penggunaan forecast reporting lebih didominasi oleh pengalaman praktiknya dan bukan ditentukan oleh pengetahuan yang mendasari keyakinannya. Sehingga dalam hal ini sikap lebih mantap daripada pengetahuan serta keyakinannya. Minat mereka terhadap penggu-naan forecast reporting juga lebih banyak ditentukan oleh sikapnya, bukan oleh pengaruh orang maupun kelompok lain.
Apabila dilihat dari pengujian terdahulu (Wignjohartojo, 1995) tampak bahwa para wakil pen-jamin emisi efek memiliki sikap positif serta memiliki minat untuk menggunakan forecast reporting untuk
Tabel 3
Rekap Efek Langsung, Efek Tidak Langsung, dan Efek Total Antarvariabel Variabel KNPFR NSPFR KYPFR SKPFR
Terikat EL ETL ET EL ETL ET EL ETL ET EL ETL ET
NSPFR 0,07 0,00 0,07 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
SKPFR 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,19 0,00 0,19 0,00 0,00 0,00
ITPFR 0,00 0,001 0,001 0,02 0,00 0,02 0,00 0,11 0,11 0,58 0,00 0,58 Sumber : Lampiran
Keterangan : EL = Efek Langsung ETL = Efek Tidak Langsung ET = Efek Total
Pembahasan
Berdasarkan Gambar 4 dan Tabel 2 beserta inte-pretasinya, ternyata hubungan kausal antara sikap dan intensi wakil penjamin emisi efek terhadap penggunaan forecast reporting yang signifikan, yaitu sikap berpengaruh positif terhadap intensi, sedangkan
menganalisis dalam mengambil keputusan investasi. Dengan demikian dua hasil pengujian ini konsisten, serta memiliki implikasi bahwa me-ningkatnya minat penggunaan forecast reporting pada wakil penjamin emisi efek akan banyak ditentukan oleh sikap positif mereka.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dapat diberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Argumentasi teoritis dan hasil penelitian empiris sebelumnya menyatakan bahwa
fore-cast reporting memiliki kandungan informasi
yang bermanfaat untuk mengambil keputusan investasi pada sekuritas. Pernyataan di atas didukung oleh penelitian Wignjohartojo (1995) dan hasil pengujian ini bahwa pada hakekatnya memberikan bukti empiris bahwa wakil penjamin emisi efek sebagai analis keuangan yang bekerja pada underwriter mempunyai sikap positif yang ternyata juga konsisten dengan minat mereka untuk menggunakan
forecast reporting dalam mengambil keputusan
investasi pada sekuritas.
2. Adanya hubungan kausal yang tidak signifikan antara keyakinan dan sikap, keyakinan normatif dan norma subyektif, serta norma subyektif dan intensi, karena para wakil penjamin emisi efek sebagai praktisi analis keuangan yang bekerja pada underwriter kemantapan sikapnya barangkali lebih banyak ditentukan oleh pengalaman praktiknya.
IMPLIKASI
Dari argumentasi teoritis, penelitian empiris terdahulu serta bukti empiris dari hasil penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa implikasi sebagai berikut:
1. Badan Pengawas Standar Akuntansi untuk menyusun aturan yang memasukkan forecast reporting sebagai produk dari akuntansi keuangan.
2. Lembaga pendidikan akuntansi untuk memasukkan forecast reporting dalam materi pendidikan.
3. Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang variabel pembentuk minat, dapat dilakukan pengembangan penelitian dengan memasukkan variabel pengalaman seperti yang diduga dari hasil penelitian ini. Sebagai alternatif model dapat digunakan pengem-bangan dari model theory of resoned action, yakni theory of planned behavior yang dikembangkan oleh Ajzen (1985) yang memang memasukkan pengalaman.
Pengembangan penelitian juga diharapkan dapat lebih memperbaruhi data.
DAFTAR PUSTAKA
Accounting Principles Board, 1970. Basic Con-cepts and Accounting Principles Under-lying Financial Statements of Business Enterprices. APB Statement No. 4. American Institute of Certified Public Accountants, USA.
Accounting Standards Committee. The
Corpo-rate Report, ASC, 1975.
Ajzen I, 1985. “From Intention to Action : A Theory of Planned Behavior,” dala J. Kuhl and Beckmann (Eds),
Action-con-trol : From Cognition to behavior.
Springer. Heidelberg
American Accounting Associstion, 1966. A
Statement of Basic Accounting Theory.
American Accounting Association, USA.
American Institute Of Certified Public Accoun-tants, 1973. Objective of Financial
Statement. American Institute of
Certi-fied Public Accountnts, Inc.
Ancok, Djamaludin. 1993. Teknik Penyusunan
Skala Pengukur. Pusat Penelitian
Kependudukan Gajah Mada, Yogyakarta.
Arbuckle JL, 1999. Amos 4 User Guide. Smallwaters Corporation. Chicago Azwar, Saifuddin, 1998. Sikap Manusia - Teori
dan Pengukurannya. Liberty,
Yogyakarta.
Bentler P, 1993. EQS : Structural Equation
Program Manual. Los Angeles :
Scien-tific Software International
Bapepam, 1992. Peraturan Pasar Modal. Edisi
1992, Penerbit Yayasan Mitradana, Jakarta, April.
Chang, Lucia S., Kenneth S. Most, Carlos W. Brain, (1983). The Untility of Annual Reports: An International Study.
Jour-nal of InternatioJour-nal Business Studies,
Spring/summer, 63-84.
Dev, S., 1973. Problem in Interpreting Profit Forecasts. Accounting and Business
Research, Spring, 110-116.
__________ and M. Webb, 1972. The Accu-racy of Company Profit Forecasts.
Jour-nal of Business finance, Autum, 26-39.
Ferris, K.R., 1975. Profit forecasts Disclosure: The Effect on Managerial Behaviour.
Accounting and Business Research,
Spring, 133-139.
__________, 1976. The Apparent Effect of Profit Forecast Disclosure on Manage-rial Behavior: An Empirical Examina-tion. Journal of Business Finance and
Accounting, Vol.3 No.3, 53-56.
Financial Accounting Standard Board, 1978. Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises. Statement of
Fi-nancial Accounting Concept No. 1.
FASB, Stamford, Connecticut, Novem-ber.
Fishbein M, dan Ajzen I, 1975. Belief, Attitude,
Intention and Behavior. Reading,
Addison-Wesley. Massachusett __________, 1980. Understanding Attitudes
and Predicting Social Behavior. New
York. Prentice-Hall
Foster, G, 1973. Stock Market Reaction to Es-timates of Earnings per Share by Com-pany Officials. Journal of Accounting
Research, Spring, 25-37.
_________, 1977. Quaterly Accounting data: Time-Series Properties and Predictive-Ability Results. The Accounting Review, Jaunuary, 1-21.
Gray, Sidney J., 1981. Segmental or
Disaggre-gated Financial Statements, in Thomas
Lee (Ed.) Development in Financial re-porting, Philip Allan Publishers Limited, (Reprinted 1984, 1986).
Hadi, Sutrisno, 1987. Metodologi Research. Jilid 3. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Hair Joseoh H, Ralph E. Anderson, Tathan R, dan William C. Black, 1992.
Multivari-ate Data Analysis. New York :
Macmillan Publishing Company. Kerlinger Fred N, 1986. Multiple Regression
in Behavioral Research. Holt, Richart
& Winston, Inc. New York
Komite PAI, 1994. Standar Akuntansi
Indone-sia. Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Lee, Thomas A., 1986. Developments in
Finan-cial Reporting. Philip Allan Publishers,
Southampton, Great Britain.
Mar’at, 1984. Sikap Manusia - Perubahan serta
Pengukurannya. Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Muller Ralp O, 1996. Basic Principles of
Struc-tural Equation Modelling. An
Introduc-tion to Lisrel and EQS. New York :
Springer
Nazir M, 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Paton, W.A. and A.C. Littleton, 1940. An
In-troduction To Corporate Accounting Standards. American Accounting
Asso-ciation, (Twenth-First Printing, 1992). Sekaran U, 2000. Research Methods for
Busi-ness : A Skill-Building Approach. John
Wiley & Sons. New York
Siegel, S, 1986. Terjemahan, Zanzawi Suyuti
dan Landung Simatupang. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu-Ilmu Sosial,
PT. Gramedia, Jakarta.
Susanto, Djoko, 1992. An Empirical
Investi-gation of The Extent of Corporate Dis-closure in Annual Reports of Compa-nies Listed on The Jakarta Stock Ex-change. Unpublished Doctoral
Disser-tation, University of Arkansas. Wignjohartojo, Parwoto, 1995. Sikap Akuntan
Pendidik dan Pemakai Laporan Keuangan terhadap Penggunaan Pengembangan Laporan Keuangan untuk Membuat Keputusan Investasi pada Saham. Disertasi Doktor.
Univer-sitas Airlangga. Surabaya.
Yunus, Hadori, 1992. External Financial
Re-porting In Indonesia And Its Inplications For Accounting Development.
Unpub-lished Doctoral Dissertation, The Uni-versity of Hull, U.K.
ABSTRAKSI
Pengembangan usaha kecil menjadi tema sentral dalam rangka memberdayakan ekonomi rakyat, tak terkecuali di Yogyakarta. Dalam pengembangan tersebut masih banyak mengalami hambatan. Perspektif masyarakat masih beranggapan bahwa pengembangan usaha kecil yang terpenting adalah modal. Apabila diamati lebih jauh, modal hanyalah salah satu bagian pengembangan usaha kecil. Justru hal terpenting dan krusial adalah pemasaran tetapi hal tersebut masih mendapatkan suara minor dari pengusaha kecil. Padahal, pasar merupakan ujung tombak dalam usaha. Untuk itulah artikel ini mencoba mengedepankan aspek pemasaran dalam pengembangan usaha kecil yang ada di Yogyakarta. Maksudnya, agar pengembangan usaha kecil tersebut dapat diketahui kinerja pemasarannya, yang nantinya dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan pola pembinaan terhadap usaha kecil yang ada di Yogyakarta.
PENDAHULUAN
Pertumbuhan usaha kecil yang ada di Yogyakarta sejak tahun 1986 sampai tahun 1996 mencapai 3,43%. Hal ini menunjukkan bahwa usaha kecil merupakan sektor yang masih banyak diminati oleh masyarakat. Pemerintah sebagai penyelenggara publik perlu merespon kondisi tersebut. Apalagi jika