Hiras Pasaribu 8)
KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS Christiawan (1994:44-47) mengartikan
profesionalisme sebagai sikap dan perilaku seseorang dalam melakukan profesi tertentu. Ia menyebutkan bahwa seorang yang profesional, disamping mempu-nyai keahlian dan kecakapan teknis, harus mempumempu-nyai kesungguhan dan ketelitian bekerja, mengejar kepuasan orang lain, keberanian menang-gung resiko ketekunan dan ketabahan hati, integritas tinggi, konsistensi dan kesatuan pikiran, kata dan perbuatan. Robbin dalam alih bahasa Pujaatmaka (1996:168) mendefinisikan “kemampuan atau profesionalisme, sebagai keahlian yang dimiliki pada kapasitas seorang individu untuk mengerjakan tugas dalam suatu pekerjaan”. Dengan demikian profe-sionalisme me-rupakan keahlian yang dimiliki pada kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan sesuai sikap dan perilaku yang sesuai dengan profesinya.
Menurut Ratliff et. al. (1988:59) terdapat lima persyaratan atau kriteria yang harus dipenuhi oleh auditor internal atau SPI:
1) Compliance with standard of conduct, 2) Knowl-edge, skills and disciplines, 3) Human relation and communication, 4) Continuance education, dan 5) Due professional care. Kelima persyaratan tersebut
merupakan dimensi untuk mengukur profesionalisme SPI. Semakin baik kelima syarat tersebut, maka kemampuan atau profesionalisme SPI akan semakin baik pula. Masing-masing syarat tersebut dijelaskan di bawah ini.
Compliance with standard of conduct
(kesesuaian sikap dengan standar profesi). Kode etik merupakan standar profesi dan menetapkan dasar bagi SPI untuk melaksanakan pemeriksaan pada suatu organisasi. Kode etik menghendaki standar yang tinggi
bagi loyalitas, sikap obyektif, kejujuran, yang harus dipenuhi oleh anggota SPI.
Knowledge, skills and disciplines. Pengetahuan,
kecakapan dan disiplin ilmu yang sesuai merupakan dasar yang harus dimiliki oleh SPI dalam pelaksanaan pemeriksaan.
Human relation and communication.
Kemampuan untuk menghadapi orang lain dan ber-komunikasi secara efektif. Pelaporan hasil pemerik-saan SPI dengan temuan-temuannya, harus disampai-kan kepada atasan mereka beserta rekomendasi untuk perbaikan. Dalam laporan mungkin banyak terdapat objek tidak efektif, tidak efisien, dan hal ini tidaklah mudah untuk dimengerti dan bahkan mungkin sebagai suatu yang potensial akan terjadinya konflik antar pribadi.
Continuance education (pendidikan
ber-kelanjutan). Anggota SPI berkewajiban menerus-kan pendidikannya dengan tujuan meningkatkan keahliannya. Mereka harus berusaha memperoleh informasi tentang kemajuan dan perkembangan baru dalam standar, prosedur, dan teknik-teknik audit. Hiro Tugiman dalam bukunya Standar Profesional Audit Internal (1997:31), menyebutkan pendidikan berkelanjutan dapat diperoleh:
Melalui keanggotaan dan partisipasi dalam perkumpulan profesi, keahlian dalam berbagai konferensi, seminar, kursus-kursus yang diadakan oleh suatu Universitas, program latihan yang dilaksanakan oleh organisasi (in-house training program) dan partisipasi dalam proyek penelitian.
Selain itu pada pasal 8 Kode Etik PAII disebutkan, para anggota harus secara terus-menerus berusaha meningkatkan keahlian dan keefektifan dalam melakukan pekerjaanya.
Due professional care (ketelitian melaksanakan
tugas secara profesional). Anggota SPI hendaklah melaksanakan tugas secara profesional yang sepantasnya dalam melaksanakan pemeriksaan. Hiro Tugiman (1979:32), menyebutkan: “SPI harus mewaspadai berbagai kemungkinan terjadinya pelanggaran ataupun kecurangan yang dilakukan dengan sengaja, kesalahan, kelalaian, ketidak efisienan dan konflik kepentingan”. SPI dituntut menghindarkan diri dari pengendalian yang lemah dan merekomendasikan perbaikan untuk menciptakan kesesuaian dengan berbagai prosedur dan praktek yang
sehat.
Apabila kelima syarat tersebut terpenuhi maka kemampuan atau profesionalisme SPI akan semakin tinggi. Hal ini akan memberikan kontribusi yang besar guna membantu manajemen dalam pengendalian in-tern (inin-ternal control). Dalam hal ini profesionalisme merupakan kriteria untuk mengukur keberhasilan SPI untuk melaksanakan tanggung jawab pemeriksaan.
Bilamana kriteria atau faktor yang membentuk profesionalisme SPI tersebut terpenuhi, maka seorang SPI akan memiliki perilaku dan pandangan profesi-onalisme, sehingga dalam melaksanakan fungsi pemeriksaan dilakukan secara frofesional, yang pada akhirnya akan menghasilkan hasil pemeriksaan atau laporan hasil pemeriksaan yang baik
Tinggi rendahnya profesionalisme SPI ditentukan lima faktor pembentuk profesionalisme tersebut, semakin tinggi profesionalisme SPI, maka akan semakin baik hasil pemeriksaan atau laporan hasil pemeriksaan. Hal ini ada hubungan antara profesio-nalisme dengan laporan hasil pemeriksaan. Hubungan tersebut perlu dijelaskan, bahwa semakin tinggi kesungguhan anggota SPI untuk menyesuaikan sikap
dengan standar profesi, maka akan menghasilkan
pemeriksaan yang lebih baik. Demikian pula
penge-tahuan, kecakapan dan disiplin yang semakin
ditingkatkan secara berkesinambungan maka kemam-puan untuk melakukan pemeriksaan akan semakin baik dan akan menghasilkan pemeriksaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kemampuan mengkomunikasikan hasil pemeriksaan sangat penting kepada atasan mere-ka, sehingga sasaran hasil pemeriksaan yang dilapor-kan dalam laporan hasil pemeriksaan mendapat tang-gapan yang sesuai dari manajemen dan terhindar dari konflik antara pihak yang diperiksa dengan anggota SPI. Pendidikan berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan keahlian dan keefektifan pemeriksaan yang ideal, sehingga dapat meningkatkan mutu hasil pemeriksaan yang disajikan dalam laporan hasil pemeriksaan. Ketelitian anggota SPI melaksanakan
tugas secara profesional sangat membantu kinerja
anggota SPI melaksanakan tugas pemeriksaan secara efisien dan efektif, sehingga data hasil pemeriksaan yang dilaporkan dalam laporan hasil pemeriksaan lebih dipercaya.
Baik tidaknya laporan hasil pemeriksaan akan ditentukan oleh kemampuan profesionalisme anggota
SPI, semakin tinggi atau semakin baik kemampuan profesionalisme SPI, maka kemampuan untuk melaksanakan fungsi pemeriksaan akan semakin baik pula dan akan berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan semakin baik. Hasil pemeriksaan yang semakin baik akan dicerminkan dalam laporan hasil pemeriksaan yang semakin baik pula. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa masing-masing faktor pembentuk profesionalisme SPI tersebut ada hubungan dengan laporan hasil pemeriksaan.
Courtemanche, Gil. (1986:191) memberikan 4 kriteria mendasar, yang menyangkut laporan hasil pemeriksaan yang baik, yaitu objektivitas, kewibawa-an, keseimbangkewibawa-an, dan penulisan yang profesional.
Objektivitas, isi laporan pemeriksaan tidak
boleh dikaitkan dengan pihak yang diperiksa selaku pribadi, akan tetapi anggota SPI harus mengetahui tugasnya sebagai pemeriksa untuk melakukan penilaian dan bersedia tetap patuh pada prinsipnya, serta dapat mengatasi keadaan yang dapat menyeretnya keluar dari objektivitasnya. Anggota SPI tidak boleh menonjolkan diri sebagai pengawas internal, menggerakkan ataupun menyinggung perasaan pihak yang diperiksa. Kewibawaan (authoritativeness) berawal dari pernyataan yang jelas tentang tujuan dan lingkup pemeriksaan, fakta dan hasil observasi yang kuat, kriteria pengevaluasian yang pantas, relevansi dan waktu pemeriksaan serta rekomendasi yang layak.
Keseimbangan merupakan keadilan memberikan
gambaran tentang organisasi atau aktivitas yang ditinjau secara wajar dan realistik, serta adanya keadilan dalam penyusunan laporan hasil pemeriksaan. Keseimbangan memperlakukan pihak yang diperiksa (auditee) sebagaimana SPI yang ingin diperlakukan seandainya mereka bertukar peran. Cara penulisan
yang profesional, laporan yang didistribusikan kepada
sejumlah pembaca yang heterogen harus dibuat sedemikian rupa, sehingga jelas dan dipahami oleh pembuat keputusan yang paling berpengaruh dalam menanggapi temuan audit. Walaupun pembuat keputusan tersebut mungkin bukan merupakan orang yang secara langsung menerima laporan hasil pemeriksaan, ia harus dianggap sebagai pembaca laporan yang sesungguhnya. Semakin baik laporan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh SPI, maka akan membantu organisasi untuk mengambil langkah-langkah perbaikan maupun koreksi apabila ada
indikasi penyimpangan pelaksanaan anggaran operasi. Hal ini akan memberikan keefektifan terhadap pengendalian pelaksanaan anggaran operasi.
Beberapa penelitian empiris menunjukkan bahwa profesionalisme akan berpengaruh positif terhadap kinerja. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan Kalbers dan Forgaty (1995), yang dikutip oleh Tugiman (1997:53). Jumlah sampel yang diambil cukup besar yaitu 498 responden dari 13 organisasi yang terdiri atas 5 perusahaan manufaktur, 3 bank, 2 perusahaan jasa publik, 1 perusahaan minyak, 1 perusahaan asuransi dan 1 organisasi pemerintah. Untuk memperoleh data dikumpulkan melalui kuesio-ner yang disebar ke 13 organisasi tersebut. Kalbers dan Forgaty menggunakan lima variabel profesionalis-me, yaitu: (1) Afiliasi masyarakat profesional, (2) Kewajiban sosial, (3) Keyakinan pada regulasi audi-tor internal sendiri (4) Dedikasi pada profesi, dan (5) Permintaan terhadap otonomi. Kalbers dan Forgaty menghubungkan setiap dimensi profesionalisme dengan konsekuensi kerja. Konsekuensi kerja terdiri atas kepuasan kerja, dorongan untuk beralih kerja, kinerja tugas, dan komitmen organisasional baik komitmen efektif maupun komitmen berkesinambu-ngan. Hasil penelitiannya menunjukkan: (1) pengala-man auditor internal berpengaruh positif terhadap afiliasi kominitas profesional, dan komitmen organisasi berkelanjutan, (2) pengalaman auditor internal berkorelasi negatif dengan dorongan berpindah pekerjaan. Hal ini berarti semakin berpengalaman, maka semakin rendah dorongan berpindah pekerjaan, (3). afiliasi komunikasi profesional berpengaruh positif terhadap kinerja auditor internal berdasarkan penilaian sendiri dan kepuasan kerja serta berkorelasi negatif dengan dorongan beralih posisi didalam perusahaan, (4) permintaan terhadap keotonomian berpengaruh positif terhadap kinerja auditor internal berdasarkan penilaian sendiri. (5) keyakinan terhadap pengaturan sendiri profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor internal berdasarkan penilaian atasan auditor. (6) dedikasi terhadap profesi berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi. Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan kembali, bahwa profesionalis-me auditor internal atau SPI bepengaruh terhadap kinerja auditor internal. Variabel profesionalisme yang dilakukan oleh peneliti berbeda dengan penelitian Kalbers dan Forgaty di atas.
Semakin baik kemampuan profesionalisme SPI, maka secara langsung akan semakin baik laporan hasil pemeriksaan dan secara tidak langsung akan meningkatkan keefektifan pelaksanaan anggaran operasi, dengan demikian hipotesis penelitian ini adalah:
1. Pembentuk Profesionalisme SPI berpengaruh positif terhadap hasil pemeriksaan atau laporan hasil pemeriksaan pada Perum Pegadaian. 2. Pembentuk profesionalisme auditor internal
berpengaruh positif terhadap keefektifan pelaksanaan anggaran operasi pada Perum Pegadaian.
3. Laporan hasil pemeriksaan berpengaruh positif terhadap keefektifan pengendalian pelaksanaan anggaran operasi pada Perum Pegadaian. 4. Terdapat korelasi secara parsial antara faktor
pembentuk profesionalisme SPI dan pelaporan hasil pemeriksaan dengan keefektifan pengendalian pelaksanaan anggaran.
METODE RISET