• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dan Analisis Data

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 22-31)

Dari analisis data ini diperoleh dari tes evaluasi pada akhir siklus I dan siklus II. Dari data tersebut kemudian dianalisis dengan membandingkan data pada tiap siklusnya, yaitu kondisi awal, siklus I dan siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SDN Purworejo diketahui bahwa hasil belajar sisiwa kelas 3 ini mengalami peningkatan setelah diterapkan model pembelajaran STAD.

1) Siklus I

Hasil evaluasi pada siklus I ini diperoleh dari tes evaluasi pada pertemuan ketiga di SDN Purworejo, dari hasil tes ini dapat dilihat bahwa hasil tes awal dan tes siklus I dapat dikatakan ada perubahan yang terjadi yaitu terjadi peningkatan daftar nilai matematika (terlampir) dan dapat disajikan di Tabel 4.13 berikut :

Tabel 4.13

Distribusi Frekuensi Nilai Matematika Siklus I

No Nilai Frekuensi Presentase Keterangan

1 47-5 1 1 4,76% Belum Tuntas

2 52-56 4 19,04 Belum Tuntas

3 57-61 1 4,76 Belum Tuntas

2 62-66 2 9,54% Belum Tuntas

3 67-71 0 0%

4 72-76 0 0%

5 77-81 4 19,04% Tuntas

6 82-86 1 4,76% Tuntas

7 87-91 3 14,3% Tuntas

8 92-96 5 23,8% Tuntas

Jumlah 21 100%

Nilai Rata-Rata 74,5

Nilai Max 96

Nilai Min 47

Dari Tabel 4.13 dapat dilihat bahwa daftar frekuensi siswa pada siklus I ini mengalami peningkatan dari kondisi awal. Rata-rata pada kondisi awal 62,85 sedangkan siklus 1 mencapai 74,5 dengan frekuensi 13 siswa. Siswa yang mendapat nilai dibawah KKM yaitu 8 anak atau 38 %. Nilai yang terendah semula 45 pada siklus I mencapai peningkatan menjadi 47. Berdasarkan tabel 4.13 dapat dinyatakan dalam diagram sebagai berikut :

Diagram 4.1 Hasil Perolehan Nilai siklus I

Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM≥65) data hasil perolehan nilai siklus I dapat disajikan dalam bentuk tabel 4.14 berikut:

Tabel 4.14 Ketuntasan Belajar Siklus I

No Ketuntasan Belajar Jumlah Siswa Jumlah Presentase %

1 Belum Tuntas 8 38

2 Tuntas 13 62

Jumlah 21 100

Dari Tabel 4.14 ketuntasan belajar kondisi pada siklus I ini dapat dilihat bahwa siswa yang belum tuntas sebanyak 8 anak yaitu 38 %. Sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan sebanyak 13 anak yaitu 62 %. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa siswa yang tuntas lebih sedikit dari pada siswa yang belum tuntas, ketuntasan siswa pada kondisi awal dapat dilihat dari Diagram 4.4 berikut :

0 1 2 3 4 5 6

47-5 1

52-56 57-61 62-66 67-71 72-76 77-81 82-86 87-91 92-96

frekuensi

Series1

Diagram 4.2 Ketuntasan Belajar siklus I

Dari diagram ketuntasan belajar siklus I ini dapat kita lihat bahwa masih ada siswa yang belum mencapai ketuntasan yaitu sebanyak 38% sedangkan siswa yang mencapai ketuntasan yaitu 62% ini dilihat dari kondisi awal sudah mengalami peningkatan yaitu sekitar 24%.

2) Siklus II

Hasil evaluasi pada siklus II ini diperoleh dari tes evaluasi pada pertemuan ketiga di SDN Purworejo, dari hasil tes ini dapat dilihat bahwa hasil tes awal dan tes siklus II dapat dikatakan ada perubahan yang terjadi yaitu terjadi peningkatan daftar nilai matematika (terlampir) dan dapat disajikan ditabel 4.15 berikut :

Tabel 4.15 Distribusi Frekuensi Nilai Matematika Siklus II

No Nilai Frekuensi Presentase Keterangan

1 60-64 2 9,54% Belum Tuntas

2 65-69 2 9,54% Tuntas

3 70-74 2 9,54% Tuntas

4 75-84 8 38,09% Tuntas

5 85-89 2 9,54% Tuntas

6 90-94 2 9,54% Tuntas

7 95-100 3 14,3% Tuntas

Jumlah 21 100%

Nilai Rata-Rata 80,7

Nilai Max 100

Nilai Min 60

62%

38%

tuntas belum tuntas

Dari Tabel 4.14 dapat dilihat bahwa daftar frekuensi siswa pada siklus II ini mengalami peningkatan dari kondisi awal dan siklus I. Rata-rata pada kondisi awal 62,85 sedangkan siklus I mencapai 74,5 dan pada siklus II mencapai 80,7. Dengan frekuensi 19 siswa. Siswa yang mendapat nilai dibawah KKM yaitu 2 anak atau 10 %. Nilai yang terendah semula 45 pada siklus I mencapai peningkatan menjadi 48. Dan disiklus II yaitu 60 Berdasarkan tabel 4.14 dapat dinyatakan dalam diagram sebagai berikut :

Diagram 4.3 Hasil Perolehan Nilai Matematika siklus II

Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=65) data hasil perolehan nilai siklus II dapat disajikan dalam bentuk tabel 4.15 berikut :

Tabel 4.15 Ketuntasan Belajar Siklus II

No Ketuntasan Belajar

Jumlah Siswa Jumlah Presentase %

1 Belum Tuntas 2 10

2 Tuntas 19 90

Jumlah 21 100

0 1 2 3 4 5 6 7 8

60-64 65-69 70-74 75-84 85-89 90-94 95-100 Series1; 3

frekuensie

Dari Tabel 4.15 ketuntasan belajar kondisi siklus II dapat dilihat bahwa siswa yang belum tuntas sebanyak 2 anak yaitu 10 %. Sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan sebanyak 19 anak yaitu 90 %. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa siswa yang tuntas lebih banyak daripada siswa yang belum tuntas, ketuntasan siswa pada kondisi awal dapat dilihat dari diagram 4.4berikut :

Diagram 4.4 Ketuntasan Belajar siklus II

Dari diagram ketuntasan belajar siklus II maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 90% sedangkan siswa yang belum mencapai ketuntasan sebanyak 10% ini dibandingkan dengan siklus 1 sudah mengalami peningkatan sebanyak 28%.

d) Analisis Komparatif

Dalam bagian ini akan dipaparkan hasil belajar siswa antar siklus.

Pembahasan antar siklus dapat dijelaskan menggunakan tabel di bawah ini

90%

10%

tuntas belum tuntas

Tabel 4.16 Perbandingan Nilai Hasil Belajar Matematika Kondisi awal,

Berdasarkan tabel di 4.16 nilai rata-rata dari tiap siklus mengalami peningkatan, pada siklus I nilai rata-rata kelas sebesar 74,5 yang semula 62,85 pada pembelajaran kondisi awal sedangkan pada siklus II nilai rata-rata menjadi 80,7.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut:

Diagram 4.5 Peningkatan Rata-Rata Hasil Belajar Matematika Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

0

Sedangkan ketuntasan hasil belajar Matematika dapat dijelaskan bahwa pada kondisi awal ada 15 siswa (71,42%) yang belum tuntas karena mendapat nilai di bawah KKM (65), sedangkan 6 siswa (28,58%) telah tuntas karena mendapat nilai di atas KKM (65). Pada Siklus I terlihat peningkatan tentang ketuntasan pembelajaran siswa yang cukup banyak dibanding kondisi awal, siswa kelas 3 SDN Purworejo telah mencapai ketuntasan belajar sebanyak 62% karena dari 21 siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM 65 sebanyak 13 siswa dan 8 siswa lainnya masih memperoleh nilai di bawah KKM. Kemudian tindakan dilanjutkan dengan Siklus II agar ketuntasan belajar Matematika siswa bisa mencapai lebih dari indikator kinerja yang diharapkan yaitu 90%. Pembelajaran Matematika pada siklus II siswa yang memperoleh nilai lebih dari KKM yang ditentukan yaitu 65 sebanyak 19 (90%). Sedangkan siswa yang tidak mencapai KKM 65 hanya 2 siswa (10%). Perbandingan ketuntasan belajar tiap siklus dapat dilihat pada gambar diagram 4.8 di bawah ini:

Diagram 4.6 Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

Dari diagram perbandingan ketuntasan belajar Matematika kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2 dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas 3 mengalami peningkatan secara signifikan yang semula siswa yang tuntas

0 5 10 15 20 25

kondisi awal siklus I siklus II

belum tuntas 15 8 2

tuntas 6 13 19

JUMLAH SISWA

hanya 6 siswa kemudian mengalami peningkatan pada siklus 1 yaitu 13 siswa dan mengalami peningkatan lagi pada siklus 2 yaitu siswa yang tuntas mencapai 19 siswa.

4.3.Pembahasan

Hasil observasi sebelum tindakan yang dilakukan di kelas 3 SD Negeri Purworejo ditemukan bahwa hasil belajar Matematika siswa masih rendah, hal ini disebabkan pemahaman tentang materi yang diajarkan oleh guru selalu tidak bisa dipahami siswa karena proses pembelajaran guru menggunakan metode konvensional. Siswa belum secara aktif terlibat dalam pembelajaran. Proses pembelajaran sebelum tindakan menunjukkan bahwa siswa masih pasif, siswa lebih cenderung mendengarkan ceramah guru sehingga siswa terkesan bosan pada proses pembelajaran. Siswa masih bekerja secara individual, tidak tampak kreatif dan tidak dibiasakan mengembangkan keterampilan bekerjasama dalam sebuah kelompok kecil.

Siswa terlihat jenuh karena pembelajaran selalu monoton sehingga nilai rata-rata pelajaran Matematika kurang dari KKM yang ditentukan.

Nilai rata-rata yang didapatkan siswa sebelum tindakan adalah 62,85 Siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM ≤ 65) hanya 6 siswa atau 28,58%, sedangkan siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal sebanyak 15 siswa atau 71,42%. Nilai tertinggi yang berhasil di dapatkan oleh siswa sebelum tindakan adalah 95 sedangkan nilai terendahnya adalah 45.

1) Siklus I

Siklus I dengan penerapan Model STAD (student Teams achived davision) siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≤ 65) sebanyak 13 siswa atau 62% dan 8 atau 38% siswa yang mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal. Nilai rata-ratanya adalah 74,5 sedangkan nilai tertinggi adalah 96 dan nilai terendahnya adalah 48.

2) Siklus II

Siklus II dengan penerapan Model STAD (student Teams achived davision) siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≤ 65) sebanyak 19 siswa atau 90% dan siswa yang tidak mencapai nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal

ada 2 siswa atau 10%. Nilai rata-ratanya adalah 80,7 sedangkan nilai tertinggi adalah 100 dan nilai terendahnya adalah 60.

Adapun tabel dari pemaparan peneliti yaitu sebagai berikut :

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 22-31)

Dokumen terkait