BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Deskripsi Hasil Penelitian
5.1.3. Hasil Analisis Data
5.1.3.1. Tingkat Pengetahuan Anak tentang Kecacingan
Pada penelitian ini, dalam lembar kuesioner terdapat 10 pertanyaan mengenai tingkat pengetahuan terhadap penyakit kecacingan. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya sehingga pertanyaan tersebut dapat mewakili tingkat pengetahuan
responden tentang penyakit kecacingan. Data lengkap mengenai distribusi frekuensi jawaban kuesioner responden pada variabel tingkat pengetahuan dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas pada Variabel Tingkat Pengetahuan
No Pertanyaan
Benar Salah
Frekuensi % Frekuensi %
1 Defenisi kecacingan 51 63,75 29 36,25
2 Melalui apa telur cacing masuk
ke dalam tubuh 34 42,50 46 57,50
3 Cara mengetahui seseorang
menderita kecacingan 69 86,25 11 13,75
4 Bersama dengan apa telur
cacing dikeluarkan dari tubuh 69 86,25 11 13,75
5 Gejala seorang anak yang
menderita kecacingan 51 63,75 29 36,25
6 Berapa kali minum obat untuk mencegah kecacingan dalam setahun
27 33,75 53 66,25
7 Cara penularan penyakit
kecacingan 57 71,25 23 28,75
8 Kapan sebaiknya memotong
kuku 52 65,00 28 35,00
9 Kapan sebaiknya mencuci
tangan 56 70,00 24 30,00
10 Bagaimana pencegahan
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pertanyaan tingkat pengetahuan yang paling banyak dijawab dengan benar adalah pertanyaan nomor 3 dan 4 yaitu sebesar 86, 25 %. Sementara itu, pertanyaan yang paling banyak dijawab dengan salah adalah pertanyaan nomor 6 yaitu sebesar 66,25 %.
Penilaian tingkat pengetahuan dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2, yaitu baik dan buruk. Seorang responden dikatakan memiliki tingkat pengetahuan baik bila memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 70,00% dari total nilai dan buruk jika memperoleh nilai kurang dari 70,00%. Berdasarkan hal tersebut maka tingkat pengetahuan siswa-siswi kelas 3 dan 4 SD Negeri 060925 Kelurahan Harjosari 1 dapat dikategorikan pada tabel 5.3
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Responden SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas berdasarkan Tingkat Pengetahuan
Tingkat Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik 50 62,50
Buruk 30 37,50
Total 80 100,00
Dari tabel 5.3 dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan dengan kategori baik memiliki persentase 62,50 % dan tingkat pengetahuan yang dikategorikan buruk sebesar 37,50 %.
5.1.3.2. Sikap Anak tentang Kecacingan
Pada penelitian ini, dalam lembar kuesioner terdapat 10 pertanyaan mengenai sikap terhadap penyakit kecacingan. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya sehingga pertanyaan tersebut dapat mewakili sikap responden tentang penyakit kecacingan. Data lengkap mengenai distribusi frekuensi jawaban kuesioner responden pada variabel sikap dapat dilihat pada tabel 5.4.
Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas pada Variabel Sikap
No Pertanyaan Sangat Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju N % N % N %
1 Memelihara kebersihan diri dan lingkungan dapat menghindarkan kita dari penyakit kecacingan
66 82,5 7 8,75 7 8,75
2 Memotong kuku dengan teratur dapat menghindarkan kita dari penyakit kecacingan
61 76,25 9 11,25 10 12,50
3 Anak-anak yang bermain tidak memakai alas kaki/sandal dapat terkena penyakit kecacingan
29 36,25 14 17,50 37 46,25
4 Buang air besar di WC dapat mencegah penularan terhadap kecacingan
37 46,25 22 27,50 21 26,25
5 Setelah buang air besar harus mencuci tangan agar tidak terkena penyakit kecacingan
67 83,75 7 8,75 6 7,50
6 Sebaiknya setelah bermain, anak harus mencuci tangan dan kaki dengan sabun untuk menghindari penyakit kecacingan
65 81,25 9 11,25 6 7,50
7 Kecacingan dapat menyebabkan badan kurus, sering mengantuk waktu belajar dan prestasi di sekolah menurun
32 40,00 19 23,75 29 36,25
8 Anak yang terkena penyakit kecacingan harus meminum obat
No Pertanyaan Sangat Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju N % N % N %
9 Ketika berada di sekolah harus selalu memakai sepatu walaupun sedang bermain di tanah supaya terhindar dari penyakit
kecacingan
56 70,00 12 15,00 12 15,00
10 Air minum harus dimasak
terlebih dahulu sebelum diminum suapaya terhindar dari penyakit kecacingan
60 75,00 13 16,25 7 8,75
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pertanyaan sikap yang paling banyak dijawab sangat setuju oleh responden adalah pertanyaan nomor 5 yaitu sebesar 83,75%. Pertanyaan sikap yang paling banyak dijawab kurang setuju oleh responden adalah adalah pertanyaan nomor 4 yaitu sebesar 27,50%. Pertanyaan sikap yang paling banyak dijawab tidak setuju oleh responden adalah pertanyaan nomor 3 yaitu sebesar 46,25%.
Penilaian sikap dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2, yaitu baik dan buruk. Seorang responden dikatakan memiliki sikap baik bila memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 76,00% dari total nilai dan buruk jika memperoleh nilai kurang atau sama dengan 75,00%. Berdasarkan hal tersebut maka sikap siswa-siswi kelas 3 dan 4 SD Negeri 060925 Kelurahan Harjosari 1 dapat dikategorikan pada tabel 5.5
Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Responden SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas berdasarkan Sikap
Sikap Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik 55 68,75
Buruk 25 31,25
Total 80 100,00
Dari tabel 5.5 dapat dilihat bahwa sikap responden dengan kategori baik memiliki persentase 68,75% dan sikap yang dikategorikan tidak baik sebesar 31,25%.
5.1.3.3. Higienitas Personal Anak terhadap Kecacingan
Pada penelitian ini, dalam lembar kuesioner terdapat 10 pertanyaan mengenai higienitas personal anak terhadap kecacingan. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesiner ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya sehingga pertanyaan tersebut dapat mewakili higienitas personal anak terhadap kecacingan. Data lengkap mengenai distribusi frekuensi jawaban kuesioner responden pada variabel higienitas personal dapat dilihat pada tabel 5.6.
Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas pada Variabel Higienitas Personal
No Pertanyaan Selalu Kadang-kadang Tidak Pernah N % N % N %
1 Adik selalu mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah makan
62 77,5 14 17,50 4 5,00
2 Adik menggunakan toilet/WC ketika buang air besar
No Pertanyaan Selalu Kadang-kadang Tidak Pernah N % N % N %
3 Adik mencuci tangan menggunakan sabun setelah buang air besar
53 66,25 21 26,25 6 7,50
4 Adik meminum air minum yang telah dimasak terlebih dahulu
57 71,25 15 18,75 8 10,00
5 Adik menggunting kuku secara teratur
58 72,50 15 18,75 7 8,75
6 Adik suka menggigit kuku jari tangan
45 56,25 20 25,00 15 18,75
7 Adik menggunakan sendal/sepatu saat keluar rumah
62 77,50 12 15,00 6 7,50
8 Adik mandi di sungai 53 66,25 22 27,50 5 6,25
9 Adik mencuci buah-buahan sebelum dimakan
57 71,25 14 17,50 9 11,25
10 Adik mencuci tangan setelah bermain dengan tanah
53 66,25 13 16,25 14 17,50
Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa pertanyaan higienitas personal yang paling banyak dijawab sering oleh responden adalah pertanyaan nomor 1 dan 7 yaitu sebesar 77,50%. Pertanyaan higienitas personal yang paling banyak dijawab kadang-kadang adalah pertanyaan nomor 2 yaitu sebesar 30,00%. Pertanyaan higienitas personal yang paling banyak dijawab tidak pernah adalah pertanyaan nomor 6 yaitu sebesar 18,75%
Penilaian higienitas personal dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2, yaitu baik dan buruk. Seorang responden dikatakan memiliki higienitas personal baik bila memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 76,00% dari total nilai dan buruk jika memperoleh nilai kurang atau sama dengan 75,00%. Berdasarkan hal tersebut maka higienitas personal siswa-siswi kelas 3 dan 4 SD Negeri 060925 Kelurahan Harjosari 1 dapat dikategorikan pada tabel 5.7.
Tabel 5.7. Distribusi Frekuensi Responden SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas berdasarkan Higienitas Personal
Higienitas Personal Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik 60 75,00
Buruk 20 25,00
Total 80 100,00
Dari tabel 5.7 dapat dilihat bahwa higienitas personal responden dalam kategori baik memiliki persentase 75,00% dan higienitas personal yang dikategorikan buruk sebesar 25,00%.
5.1.3.4. Sanitasi Lingkungan Rumah Anak
Pada penelitian ini, dalam lembar kuesioner terdapat 10 pertanyaan mengenai sanitasi lingkungan rumah anak. Pertanyaan yang ada dalam kuesioner ini telah dirancang untuk dapat mewakili kondisi sanitasi lingkungan rumah anak. Data lengkap mengenai distribusi frekuensi jawaban kuesioner responden pada variabel sanitasi lingkungan rumah dapat dilihat pada tabel 5.8.
Tabel 5.8. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas pada Variabel Sanitasi Lingkungan Rumah
No Sanitasi Lingkungan Rumah Frekuensi
(n)
Persentase (%)
1 Fasilitas buang air besar yang tersedia di rumah
Jamban/WC pribadi 53 66,25
Jamban umum 22 27,50
Sungai 5 6,25
2 Letak jamban/WC yang digunakan
Di dalam rumah 51 63,75
Di luar rumah 21 26,25
Tidak ada 8 10,00
3 Terbuat dari bahan apa jamban/WC yang digunakan
Keramik 41 51,25
Semen 29 36,25
Tanah atau kayu 10 12,5
4 Ketersediaan saluran pembuangan air limbah atau air kotor di rumah
Ada dan lancar 50 62,50
Ada dan tidak lancar 13 16,25
Tidak ada 17 21,25
5 Sumber air yang digunakan sehari-hari untuk minum, mencuci, dan mandi
Air dari kran air atau air kemasan 48 60,00
Air sumur 24 30,00
Air hujan 5 6,25
No Sanitasi Lingkungan Rumah Frekuensi (n)
Persentase (%)
6 Ketersediaan air di jamban/WC
Tersedia 67 83,75
Tidak tersedia 13 16,25
7 Jarak dari jamban/WC ke sumber air yang digunakan
Lebih dari 10 meter 30 37,50
5-10 meter 16 20,00
Kurang dari 5 meter 34 42,50
8 Apakah air yang diminum dimasak terlebih dahulu
Ya 64 80,00
Kadang-kadang 9 11,25
Tidak 7 8,75
9 Terbuat dari apa bahan dan lantai rumah
Keramik/semen 64 80,00
Kayu/papan 7 8,75
Tanah 9 11,25
10 Tempat penampungan air bersih di rumah
Bak permanen 35 43,75
Ember plastik 30 37,50
Langsung dari sumur 15 18,75
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa fasilitas buang air besar yang digunakan responden paling banyak adalah jamban/WC pribadi yaitu sebesar 66,25%. Terdapat sebesar 63,75% responden yang memiliki jamban/WC di dalam rumah. Bahan pembuat jamban/WC responden paling banyak terbuat dari keramik yaitu sebesar 51,25%. Terdapat sebesar 62,50% responden yang saluran pembuangan air limbah dan air kotor tersedia dan lancar. Sumber air yang digunakan paling banyak oleh responden sehari-hari untuk minum, mencuci dan
mandi adalah air dari kran dan air kemasan yaitu sebesar 60,00%. 83,75 % responden memiliki air yang cukup di jamban/WC mereka. Jarak jamban/WC ke sumber air yang digunakan oleh responden paling banyak adalah kurang dari 10 meter yaitu sebesar 42,50%. Sebanyak 80,00% responden meminum air yang dimasak terlebih dahulu. Bahan pembuat lantai rumah responden paling banyak terbuat dari keramik/semen yaitu sebesar 80,00%. Tempat penampungan air bersih responden paling banyak terbuat dari bak permanen yaitu sebesar 43,75%.
Penilaian sanitasi lingkungan rumah dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2, yaitu baik dan buruk. Seorang responden dikatakan memiliki sanitasi lingkungan rumah baik bila memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 76,00% dari total nilai dan buruk jika memperoleh nilai kurang atau sama dengan 75,00%. Berdasarkan hal tersebut maka sanitasi lingkungan rumah siswa-siswi kelas 3 dan 4 SD Negeri 060925 Kelurahan Harjosari 1 dapat dikategorikan pada tabel 5.9.
Tabel 5.9. Distribusi Frekuensi Responden SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas berdasarkan Variabel Sanitasi Lingkungan Rumah
Sanitasi Lingkungan
Rumah Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik 54 67,50
Buruk 26 32,50
Total 80 100,00
Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa sanitasi lingkungan rumah responden dalam kategori baik memiliki persentase 67,50 % dan higienitas personal yang dikategorikan buruk sebesar 32,50 %.
5.1.3.4. Kejadian Infeksi STH pada Siswa-Siswi SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas
Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan feses responden untuk melihat apakah responden terinfeksi kecacingan atau tidak. Pemeriksaan feses dilakukan dengan menggunakan metode Kato-Katz untuk melihat apakah terdapat telur cacing golongan STH pada feses responden. Data lengkap mengenai distribusi frekuensi kecacingan pada anak dapat dilihat pada tabel 5.10
Tabel 5.10. Prevalensi Infeksi Soil-Transmitted Helmithes pada Siswa-Siswi di SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas
Infeksi STH Frekuensi (n) Persentase (%)
Positif 32 40,00
Negatif 48 60,00
Total 80 100,00
Dari tabel 5.10 dapat dilihat bahwa responden yang positif terinfeksi cacing golongan Soil-Transmitted Helmithes memiliki persentase sebesar 40,00% dan anak yang negatif terinfeksi cacing golongan Soil-Transmitted Helmithes sebesar 60,00%.
Tabel 5.11. Distribusi Frekuensi Infeksi Parasit Berdasarkan Jenis STH pada Siswa-siswi di SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas
Jenis Infeksi Frekuensi (n) Persentase (%)
Ascaris lumbricoides 20 62,50
Trichuris trichiura 7 21,87
Hookworm 0 0,00
Campuran : Ascaris lumbricoides + Trichuris trichiura
5 15,63
Dari tabel 5.11 dapat dilihat bahwa dari 32 orang (40,00%) responden yang positif terinfeksi kecacingan, 20 orang (62,50%) terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides, 7 orang (21,87%) terinfeksi cacingTrichuris trichiura, dan terdapat 5 orang (15,63%) yang menderita infeksi campuran (Ascaris lumbricoides + Trichuris trichiura). Pada penenlitian ini tidak ditemukan responden yang terinfeksi cacing hookworm.
Tabel 5.12. Distribusi Frekuensi Infeksi STH pada Siwa-siswi SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Infeksi STH Jumlah Positif Negatif N % N % N % Laki-laki 21 26,25 24 30,00 45 56,25 Perempuan 11 13,75 24 30,00 35 43,75 Total 32 40 48 60 80 100
Dari tabel 5.12 dapat dilihat bahwa dari 32 orang yang positif terinfeksi Soil-Transmitted Helminthes, 21 orang berjenis kelamin laki-laki (26,25%) dan 11 orang berjenis kelamin perempuan (13,75%). Sedangkan dari 48 orang yang negatif terinfeksi, 24 orang berjenis kelamin laki-laki (30,00%) dan 24 orang berjenis kelamin perempuan (30,00 %).
Tabel 5.13. Distribusi Frekuensi Infeksi STH pada Siwa-siswi SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas Berdasarkan Usia
Umur Infeksi STH Jumlah Positif Negatif N % N % N % 7 tahun 2 2,50 2 2,50 4 5,00 8 tahun 13 16,25 25 31,25 38 47,50 9 tahun 14 17,50 13 16,25 27 33,75 10 tahun 3 3,75 8 10,00 11 13,75 Total 32 40 48 60 80 100,00
Dari tabel 5.13 dapat dilihat bahwa dari 32 orang (40%) responden yang positif terinfeksi Soil-Transmitted Helminthes, 2 orang (2,50%) berusia 7 tahun, 13 orang (16,25%) berusia 8 tahun, 14 orang (17,50%) berusia 9 tahun, dan 3 orang (3,75%) berusia 10 tahun. Sedangkan dari 48 orang yang negatif terinfeksi, 4 orang (5,00%) berusia 7 tahun, 38 orang (47,50%) berusia 8 tahun, 27 orang (33,75%) berusia 9 tahun, dan 11 orang (13,75%) berusia 10 tahun.
5.1.3.14. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Infeksi STH
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melihat adanya hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan kejadian infeksi STH. Pemeriksan feses dengan menggunakan metode Kato-Katz dilakukan untuk menentukan responden positif atau negatif terinfeksi STH. Pengisian kuesioner dilakukan untuk menilai tingkat pengetahuan. Untuk mengetahui adanya hasil tersebut maka data dari 80 sampel yang telah terkumpul diolah menggunakan ujiChi-Square.
Tabel 5.14. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Infeksi STH pada Siswa-siswi di SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas Tingkat Pengetahuan Infeksi STH Jumlah Positif Negatif N % N % N % Baik 10 12,50 40 50,00 50 62,50 Buruk 22 27,50 8 10,00 30 37,50 Total 32 40 48 60 100 100 X2= 22,22 df = 1 p = 0,000
Berdasarkan tabel 5.14 diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik, terdapat 10 orang (12,50%) positif infeksi STH dan 40 orang (50,00%) negatif infeksi STH. Sementara dari 30 responden yang memiliki tingkat pengetahuan buruk, terdapat 22 orang (27,50%) positif infeksi STH dan 8 orang (10,00 %) negatif infeksi STH. Dari hasil ujiChi-Square (X2) diperoleh p < 0,05 artinya terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan reponden dengan kejadian infeksi STH.
5.1.3.15. Hubungan Sikap dengan Kejadian Infeksi STH
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melihat adanya hubungan antara sikap responden dengan kejadian infeksi STH. Pemeriksan feses dengan menggunakan metode Kato-Katz dilakukan untuk menentukan responden positif atau negatif terinfeksi STH. Pengisian kuesioner dilakukan untuk menilai sikap. Untuk mengetahui adanya hasil tersebut maka data dari 80 sampel yang telah terkumpul diolah menggunakan ujiChi-Square.
Tabel 5.15. Hubungan Sikap dengan Kejadian Infeksi STH pada Siswa-siswi di SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas
Sikap Infeksi STH Jumlah Positif Negatif N % N % N % Baik 16 20,00 39 48,75 55 68,75 Buruk 16 20,00 9 11,25 25 31,25 Total 32 40 48 60 100 100 X2= 8,727 df = 1 p = 0,003
Berdasarkan tabel 5.15 diatas menunjukkan bahwa dari 55 responden yang memiliki sikap baik, terdapat 16 orang (20,00%) positif infeksi STH dan 39 orang (48,75%) negatif infeksi STH. Sementara dari 25 responden yang memiliki sikap buruk, terdapat 16 orang (20,00%) positif infeksi STH dan 9 orang (11,25%) negatif infeksi STH. Dari hasil uji Chi-Square (X2) diperoleh p < 0,05 artinya terdapat hubungan antara sikap reponden dengan kejadian infeksi STH.
5.1.3.16. Hubungan Higienitas Personal dengan Kejadian Infeksi STH
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melihat adanya hubungan antara higienitas personal responden dengan kejadian infeksi STH. Pemeriksan feses dengan menggunakan metode Kato-Katz dilakukan untuk menentukan responden positif atau negatif terinfeksi STH. Pengisian kuesioner dilakukan untuk menilai higienitas personal. Untuk mengetahui adanya hasil tersebut maka data dari 80 sampel yang telah terkumpul diolah menggunakan ujiChi-Square.
Tabel 5.16. Hubungan Higienitas Personal dengan Kejadian Infeksi STH pada Siswa-siswi di SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas Higienitas Personal Infeksi STH Jumlah Positif Negatif N % N % N % Baik 19 23,75 41 51,25 60 75 Buruk 13 16,25 7 8,75 20 25 Total 32 40 48 60 100 100 X2= 6,944 df = 1 p = 0,008
Berdasarkan tabel 5.16 diatas menunjukkan bahwa dari 60 responden yang memiliki higienitas personal baik, terdapat 19 orang (23,75%) positif infeksi STH dan 41 orang (51,25%) negatif infeksi STH. Sementara dari 20 responden yang memiliki higienitas personal buruk, terdapat 13 orang (16,25 %) positif infeksi STH dan 7 orang (8,75 %) negatif infeksi STH. Dari hasil uji Chi-Square (X2) diperoleh p < 0,05 artinya terdapat hubungan antara higienitas personal reponden dengan kejadian infeksi STH.
5.1.3.17. Hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Infeksi STH
Tujuan utama dari penelitian ini dalah untuk melihat adanya hubungan antara sanitasi lingkungan rumah responden dengan kejadian infeksi STH. Pemeriksan feses dengan menggunakan metode Kato-Katz dilakukan untuk menentukan responden positif atau negatif terinfeksi STH. Pengisian kuesioner dilakukan untuk menilai sanitasi lingkungan rumah. Untuk mengetahui adanya hasil tersebut maka data dari 80 sampel yang telah terkumpul diolah menggunakan ujiChi-Square.
Tabel 5.17. Hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Infeksi STH pada Siswa-siswi di SD Negeri 060925 Kecamatan Medan Amplas Sanitasi Lingkungan Rumah Infeksi STH Jumlah Positif Negatif N % N % N % Baik 16 20,00 38 47,50 54 67,50 Buruk 16 20,00 10 12,50 26 32,50 Total 32 40 48 60 100 100 X2= 7,445 df = 1 p = 0,006
Berdasarkan tabel 5.17 diatas menunjukkan bahwa dari 54 responden yang memiliki sanitasi lingkungan rumah baik, terdapat 16 orang (20,00 %) positif infeksi STH dan 38 orang (47,50 %) negatif infeksi STH. Sementara dari 26 responden yang memiliki sanitasi lingkungan rumah buruk, terdapat 16 orang (20,00 %) positif infeksi STH dan 10 orang (12,50 %) negatif infeksi STH. Dari hasil uji Chi-Square (X2) diperoleh p < 0,05 artinya terdapat hubungan antara sanitasi lingkungan rumah reponden dengan kejadian infeksi STH.