• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Sanitasi Lingkungan Rumah

Lingkungan rumah merupakan tempat berinteraksi paling lama dari anggota keluarga termasuk di dalamnya adalah anak. Kondisi lingkungan rumah yang baik dalam hal sanitasi akan membantu meminimalkan terjadinya gangguan kesehatan bagi penghuninya. Anak usia sekolah merupakan anggota keluarga yang masih harus mendapatkan pengawasan dalam aktivitas kesehariannya. Dalam hal kesehatan, perilaku bermain merupakan hal yang penting diperhatikan dalam kaitannya dengan kondisi sanitasi lingkungan rumah. Kondisi sanitasi lingkungan rumah yang baik tentu akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak untuk bermain (Sumanto, 2010).

Sanitasi lingkungan yang buruk akan menyebabkan anak lebih mudah terserang penyakit infeksi yang akhirnya dapat mempengaruhi status gizi. Sanitasi lingkungan sangat terkait dengan ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, jenis lantai rumah serta kebersihan peralatan makan pada setiap keluarga. Makin tersedia air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, makin kecil risiko anak terkena penyakit kurang gizi (Ernawati, 2006).

Sanitasi lingkungan merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Oleh karena itu untuk mencapai kemampuan hidup sehat di masyarakat, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

2.3.1. Penyediaan Air Bersih

Air merupakan kebutuhan yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk di dunia, khususnya sebagai air minum. Namun air dapat juga menimbulkan berbagai gangguan kesehatan terhadap si pemakai. Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan. Air bersih juga merupakan kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan masyarakat. Untuk itu penyediaan air bersih harus memenuhi persyaratan dari segi (Tumanggor, 2008) :

a. Kualitas : Tersedia air bersih yang memenuhi syarat kesehatan (fisik, kimia, dan bakteriologis).

c. Kontinuitas : Air minum dan air bersih tersedia pada setiap kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan.

Syarat kualitas air secara fisik adalah tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau dan jernih. Secara kimia air yang baik tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia ataupun mineral terutama zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Syarat bakteriologis semua air minum hendaknya dapat terhindar dari kemungkinan terkontaminasi bakteri terutama bakteri pathogen. Mengingat bahwa tidak mungkin air yang dikonsumsi seratus persen sesuai dengan persyaratan kesehatan, namun air yang ada diusahakan sedemikian rupa mendekati syarat-syarat yang tercantum dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 416/MENKES/PER/IX/1990 (Jalaluddin, 2009).

2.3.2. Toilet dan Kamar Mandi

Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran yang lazim disebut WC, sehingga kotoran tersebut berada dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman. Pembuangan tinja yang tidak saniter akan menyebabkan berbagai macam penyakit seperti : Diare, Cholera, Dysentri, Poliomyelitis, Ascariasis dan sebagainya. Kotoran manusia merupakan buangan padat. Selain menimbulkan bau, mengotori lingkungan juga merupakan media penularan penyakit pada masyarakat (Tumanggor, 2008)

Perjalanan agent penyebab penyakit melalui cara transmisi seperti dari tangan, maupun melalui peralatan yang terkontaminasi ataupun melalui mata rantai lainnya memungkinkan tinja atau kotoran yang mengandung agent penyebab infeksi masuk melalui saluran pencernaan. Untuk itu persyaratan toilet dan kamar mandi harus memenuhi persyaratan (Jalaluddin, 2009) :

1. Toilet selalu dalam keadaan bersih

2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, berwarna terang dan mudah dibersihkan

3. Ada pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi, dilengkapi dengan penahan bau

4. Letak toilet dan kamar mandi tidak berhubungan langsung dengan tempat pengelolaan makanan (dapur, ruang makan)

5. Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar 6. Harus dilengkapi dengan slogan untuk memelihara kebersihan

7. Tidak terdapat penampungan atau genangan air yang dapat menjadi tempat perindukan binatang pengerat dan serangga.

2.3.3. Pengelolaan Sampah

Menurut Kusnoputranto (1983) dalam Tumanggor (2008) Sampah ialah sesuatu bahan/benda padat yang terjadi karena berhubungan dengan aktifitas manusia yang tidak dipakai lagi, tidak disenangi dan dibuang dengan cara-cara saniter kecuali buangan yang berasal dari tubuh manusia. Pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung adalah karena kontak langsung dengan sampah misalnya sampah beracun. Pengaruh tidak langsung dapat dirasakan akibat proses pembusukan, pembakaran dan pembuangan sampah (Tumanggor, 2008).

Efek tidak langsung dapat berupa penyakit bawaan, vektor yang berkembang biak di dalam sampah. Mengingat efek daripada sampah terhadap kesehatan maka pengelolaan sampah harus memenuhi kriteria sebagai berikut (Tumanggor, 2008) :

1. Tersedia tempat sampah yang dilengkapi dengan penutup

2. Tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat, tahan karat, permukaan bagian dalam rata dan dilengkapi dengan penutup

3. Tempat sampah dikosongkan setiap 1 x 24 jam atau 2/3 bagian telah terisi penuh

4. Jumlah dan volume tempat sampah disesuaikan dengan volume sampah yang dihasilkan setiap kegiatan

5. Tersedia tempat pembuangan sampah sementara yang mudah dikosongkan, tidak terbuat dari beton permanen, terletak di lokasi yang mudah terjangkau kendaraan pengangkut sampah dan harus dikosongkan sekurang-kurangnya 3 x 24 jam.

2.3.4. Pengelolaan Air Limbah

Air limbah adalah sisa air yang dibuang dan berasal dari rumah tangga maupun industri. Air limbah pada umumnya mengandung bahan atau zat yang membahayakan. Limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup karena berpotensi sebagai media penyebaran berbagai penyakit (Notoatmodjo, 2003). Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan harus dikeluarkan dari dalam tubuh seperti tinja dan urin. Masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah pokok karena kotoran manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks (Jalaluddin, 2009).

Dalam kehidupan sehari-hari pengolahan air limbah dilakukan dengan cara menyalurkan air limbah tersebut jauh dari tempat tinggal tanpa diolah sebelumnya atau menyalurkan air limbah tersebut setelah diolah sebelumnya. Air buangan yang dibuang tidak saniter dapat menjadi media perkembangan mikroorganisme pathogen, telur cacing, larva nyamuk ataupun serangga yang dapat menjadi media transmisi penyakit seperti cholera, typhus abdominalis, dysentri basiller dan sebagainya.Sarana pembuangan air limbah yang sehat harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut (Tumanggor, 2008):

1. Tidak mencemari sumber air bersih

2. Tidak menimbulkan genangan air yang menjadi sarang serangga/nyamuk 3. Tidak menimbulkan bau

4. Tidak menimbulkan becek, kelembaban dan pandangan yang tidak menyenangkan

Untuk itu pengelolaan limbah harus memiliki persyaratan teknis apabila belum ada atau tidak terjangkau oleh sistem pengolahan limbah perkotaan. Kualitas air limbah yang dibuang ke lingkungan harus mempunyai persyaratan baku mutu airlimbah sesuai peraturan.

Dokumen terkait