• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.3 Hasil Analisis Data

Tabel 5.2 Rerata Nilai Selisih Kadar Gula Darah Post Prandial dan Kadar Gula Darah Puasa (mg/dl)

T abel 5.2 menunjukkan rata-rata nilai selisih kadar gula darah (KGD) post prandial dengan KGD puasa. Data diatas menunjukkan bahwa terdapat penurunan KGD postprandial pada kelompok kontrol rata-rata sebesar 4,60 mg/dl dibandingkan dengan KGD puasa, dengan standar deviasi sebesar 1,342. Pada kelompok kopi dekafein terdapat penurunan KGD post prandial dibandingkan KGD puasa rata-rata sebesar 1,80 mg/dl dengan standar deviasi sebesar 6,535. Sedangkan pada

N Mean Std. Deviation

Kontrol 5 -4.60 1.342

Kopi dekafein 5 -1.80 6.535

Kopi berkafein 5 5.80 5.357

kelompok kopi berkafein dialami peningkatan KGD postprandial dibandingkan KGD puasa dengan selisih rata-rata sebesar 5,80 mg/dl dan standar deviasi sebesar 5,357.

Gambar 5.1 Grafik Rata-rata Selisih Kadar Gula Darah

Uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov didapatkan distribusi data normal, kemudian dilanjutkan dengan uji parametrik One-Way Anova menunjukkan ada perbedaan yang bermakna pada rerata nilai selisih kadar gula darah pada ketiga kelompok yang diuji dengan nilai p=0,016 (p ≤ 0,05).

Kemudian dilanjutkan dengan uji Post Hoc untuk menentukan adanya perbedaan antar kelompok.

Tabel 5.3 Tukey’s Post Hoc; Pengaruh Kopi terhadap Kadar Gula Darah Post Prandial

Grup Grup P

Kontrol Kopi dekafein 0,653

Kopi berkafein 0,015

Kopi berkafein 0,075

Kopi berkafein Kontrol 0,015

Kopi dekafein 0,075

Pada uji beda antar kelompok didapatkan bahwa ada perbedaan yang bermakna nilai selisih kadar gula darah antara kelompok kontrol dengan kelompok kopi berkafein dengan nilai p≤ 0,05 (p =0,015). Sedangkan antara kelompok kontrol dengan kelompok dekafein maupun kelompok kopi berkafein dengan kelompok kopi dekafein tidak ditemukan perbedaan yang bermakna (nilai p>0.05).

5.2 Pembahasan

Grafik pada gambar 5.1 dan tabel 5.3 menunjukkan kadar gula darah setelah mengkonsumsi kopi berkafein meningkat secara signifikan (p=0,015) dibandingkan setelah mengkonsumsi minuman kontrol (air putih) atau pun kopi dekafein. Proses interaksi antara kopi dengan toleransi glukosa masi kontroversial. Namun, menurut teori, efek fisiologis kopi terbanyak ditimbulkan oleh kehadiran kafein. Kafein secara fisiologis menunjukkan efek penghambatan fosfodiesterase, yaitu enzim yang terlibat dalam katabolisme cyclic adenosine monophosphat (cAMP). Peningkatan konsentrasi cAMP menyebabkan peningkatan glikogenolisis yang secara tidak langsung bertanggung jawab atas peningkatan kadar gula darah yang ditimbulkan oleh konsumsi kopi berkafein dibandingkan kopi dekafein maupun minuman kontrol. Selain itu kafein juga merupakan antagonis reseptor adenosine dan dapat menghambat ambilan glukosa oleh otot, walaupun dengan adanya insulin (Daly dan Fredholm, 2004).

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Moisey et al. (2008) menyatakan bahwa kopi berpengaruh terhadap toleransi glukosa dengan menyebabkan peningkatan kadar gula darah yang diakibatkan oleh kafein. Dan mekanisme peningkatan yang tidak bergantung dengan kehadiran insulin. Namun, penelitian tersebut hanya mengungkapkan efek kafein terhadap kadar gula darah

tanpa mempertimbangkan senyawa chlorogenic acid (CGA) yang terkandung dalam kopi.

Chlorogenic acid (CGA) mempengaruhi metabolisme glukosa dengan cara menurunkan gradient konsentrasi Na+, sehingga menurunkan ambilan glukosa oleh enterosit, dan menghambat aktifitas glukosa-6-fosfatase. CGA juga menurunkan pelepasan glucose dependent-insulinotropic peptide (GIP) di bagian proksimal usus halus dan menurunkan absorpsi glukosa (Thom, 2007).

Penelitian Johnston et al. (2003), dengan menggunakan kelompok kopi berkafein, dekafein dan minuman kontrol, menunjukkan adanya peningkatan kadar gula darah 30 menit pada kelompok kopi berkafein (dibandingkan kadar gula darah sebelum pemberian kopi), penurunan kadar gula darah pada kelompok kopi dekafein, serta penurunan kadar gula darah pada kelompok kontrol. Uji Post Hoc pada masing-masing kelompok menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05).

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek kopi secara akut terhadap kadar gula darah, dengan menggunakan metode yang lebih sederhana yaitu selisih kadar gula darah setelah pengkonsumsian minuman, baik kopi maupun kontrol (air putih), dibandingkan kadar gula darah sebelum pengkonsumsian minuman (KGD post prandial − KGD puasa). Setelah uji One-Way ANOVA menunjukkan nilai signifikan, dilanjutkan oleh uji Post Hoc untuk membedakan antar kelompok. Tabel 5.3 menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p≤0,05) antara

kelompok kopi berkafein dibandingkan kelompok kontrol maupun kelompok kopi dekafein. Hal ini sesuai dengan penelitian dan teori sebelumnya yang menyatakan kafein dapat meningkatkan kadar gula darah.

Didukung oleh hasil penelitian Johnston et al. (2003), pada kelompok kopi dekafein dan kontrol terdapat penurunan kadar gula darah setelah perlakuan dibandingkan kadar gula darah sebelum perlakuan. Namun dilihat dari selisih kadar gula darah sebelum dan sesudah perlakuan, kadar gula darah pada kelompok kontrol mengalami penurunan yang lebih besar dibandingkan kelompok kopi dekafein. Hal yang sama juga dijumpai pada penelitian ini (Gambar 5.1). Hasil tersebut bertolak belakang dengan teori sebelumnya yang menyatakan

bahwa kopi dapat menurunkan kadar gula darah. Hal ini mungkin dikarenakan masih terdapatnya kafein (sekitar 0,3%) didalam kopi dekafein. Namun, hal ini secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa kafein mempunyai efek yang lebih potensial dalam pengaturan kadar gula darah dibandingkan dengan efek yang ditimbulkan oleh chlorogenic acid.

Terdapat beberapa perbedaan pada hasil penelitian ini dibandingkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Johnston (2003). Melalui uji Post Hoc, pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok kopi dekafein dibandingkan kelompok kontrol sedangkan pada penelitian Johston (2003) menyatakan adanya perbedaan. Hal ini mungkin terjadi karena adanya beberapa perbedaan pada metode penelitian antara lain desain penelitian, jumlah sampel yang digunakan, jumlah kalori perlakuan dan waktu uji setelah perlakuan. Penelitian ini menggunakan desain paralel, 15 sampel (5 sampel pada masing-masing kelompok perlakuan), 130 kcal, dan diuji 2 jam setelah perlakuan. Sedangkan penelitian Johnston menggunakan desain cross-over, 9 sampel, 25 g glukosa (100 kcal), dan diuji 30 menit setelah perlakuan.

BAB 6

Dokumen terkait