BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Hasil analisis data dan pembahasan
Berdasarkan tujuan penelitian, maka variable yang akan diamati adalah
kualitas tidur berdasarkan usia, kualitas tidur berdasarkan jenis kelamin, kualitas tidur pada orang obesitas, risiko OSA, dan kebiasaan berolahraga pada responden.
5.2.1.1 Distribusi frekuensi kualitas tidur berdasarkan jenis kelamin
Distribusi frekuensi kualitas tidur berdasarkan jenis kelamin, dapat dilihat pada Tabel 5.2. Pada tabel 5.2, tampak bahwa responden berjenis kelamin laki-laki
merupakan responden terbanyak mengalami kualitas tidur yang buruk, yaitu 57 orang (73,1%).
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Kualitas Tidur Berdasarkan Jenis Kelamin
Selain itu, pada kedua jenis kelamin, jumlah yang mengalami kualitas tidur yang buruk lebih banyak daripada yang mengalami kualitas tidur yang baik. 5.2.1.2 Distribusi frekuensi kualitas tidur berdasarkan usia
Distribusi frekuensi kualitas tidur berdasarkan jenis kelamin, dapat dilihat pada
Tabel 5.3. Berdasarkan Depkes RI tahun 2009, maka usia pada penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok usia dewasa awal (19-35 tahun) dan usia dewasa akhir (36- 45 tahun).
Pada tabel 5.3, tampak bahwa kualitas tidur yang buruk didapati lebih banyak pada kelompok usia dewasa awal, yaitu sebanyak 61 orang (78,2%).
Jenis Kelamin
Kualitas Tidur Total
Buruk Baik f(n) % f(n) % Laki-laki Perempuan 57 21 73,1 26,9 13 9 59,1 40,9 70 30 Total 78 100 22 100 100
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Kualitas Tidur Berdasarkan Usia
5.2.1.3 Distribusi frekuensi kualitas tidur pada kelompok obesitas
Distribusi frekuensi kualitas tidur pada kelompok obesitas, dapat dilihat pada Tabel 5.4
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Kualitas Tidur pada Kelompok Obesitas
Kualitas Tidur N %
Baik 22 22
Buruk 78 78
Total 100 100
Pada Tabel 5.4, tampak bahwa dari 100 orang obesitas, dijumpai sebanyak 78 orang (78%) mengalami kualitas tidur yang buruk.
Usia Kualitas Tidur Total
Buruk Baik f(n) % f(n) % 19-35 tahun 36- 45 tahun 61 17 78,2 21,8 14 8 63,6 36,4 75 25 Total 78 100 22 100 100
5.2.1.4 Distribusi frekuensi kuantitas tidur pada kelompok obesitas
Distribusi frekuensi kuantitas tidur pada kelompok obesitas, dapat dilihat pada Tabel 5.5
Tabel 5.5 Distribusi kuantitas tidur pada kelompok obesitas
Kuantitas Tidur N % Rerata
Cukup 36 36
Kurang 64 64
Total 100 100 6.1 jam
Pada Tabel 5.5 tampak bahwa kuantitas tidur yang tidak cukup didapati pada sebagian besar orang yang mengalami obesitas (64%), yaitu sebanyak 64 orang. Rata-rata durasi tidur pada kelompok obesitas adalah 6,1 jam.
5.2.1.5 Distribusi frekuensi efisiensi tidur pada kelompok obesitas
Distribusi frekuensi efisiensi tidur pada kelompok obesitas, dapat dilihat pada Tabel 5.6
Tabel 5.6 Efisiensi tidur pada Kelompok Obesitas
Memulai tidur N %
Tertidur dalam 30 menit 46 46
Tertidur diatas 30 menit 54 54
Total 100 100
Pada Tabel 5.6, tampak bahwa dari 100 orang obesitas, dijumpai sebanyak 54 orang (54%) mengalami tidur yang tidak efisien.
5.2.1.6 Distribusi frekuensi efisiensi tidur dengan gejala mendengkur
Distribusi frekuensi efisiensi tidur dengan gejala mendengkur pada kelompok obesitas, dapat dilihat pada tabel 5.7
Tabel 5.7 Efisiensi tidur dan gejala mendengkur pada orang obesitas
Pada tabel 5.7, tampak bahwa sebanyak 54 orang (54%) orang obesitas memiliki tidur yang terputus-putus. Diantara 54 orang tersebut, sebanyak 31 orang (57,4%) memiliki gejala mendengkur keras.
5.2.1.7 Distribusi frekuensi gejala EDS
Distribusi frekuensi gejala EDS pada kelompok obesitas, dapat dilihat pada tabel 5.8
Pada Tabel 5.8, tampak bahwa dari 100 orang obesitas, dijumpai sebanyak 55 orang (55%) memiliki gejala excessive daytime sleepiness.
Gejala mendengkur keras
Efisiensi tidur Total
Normal Tidur terputus-putus
f(n) % f(n) % Ya Tidak 27 19 58,7 41,3 31 23 57,4 42,6 58 42 Total 46 100 54 100 100
Tabel 5.8 Gejala EDS pada kelompok obesitas
Gejala EDS N %
Ada 55 55
Tidak 45 45
Total 100 100
5.2.1.8 Distribusi frekuensi kualitas tidur subjektif
Distribusi frekuensi kualitas tidur subjektif pada kelompok obesitas, dapat dilihat pada tabel 5.9
Tabel 5.9 Kualitas tidur subyektif pada kelompok obesitas
Kualitas tidur subyektif N %
Baik 61 61
Buruk 39 39
Total 100 100
Pada Tabel 5.9, tampak bahwa dari 100 orang obesitas, dijumpai sebanyak 61 orang (61%) menyatakan bahwa dirinya memiliki kualitas tidur yang baik. 5.2.1.9 Distribusi frekuensi faktor risiko OSA
Distribusi frekuensi faktor risiko OSA pada kelompok obesitas, dapat dilihat pada tabel 5.10. Pada tabel 5.10, diperoleh bahwa sebanyak 71 orang (71%) obesitas tergolong risiko tinggi OSA sedangkan 29 orang (29%) obesitas tergolong risiko rendah OSA.
Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Faktor Risiko OSA
Risiko OSA N %
Risiko tinggi OSA 71 71
Risiko rendah OSA 29 29
Total 100 100
5.2.1.10 Distribusi frekuensi kebiasaan olahraga
Distribusi frekuensi kebiasaan olahraga pada kelompok obesitas, dapat
dilihat pada tabel 5.11. Pada tabel 5.11 dapat dilihat bahwa dari 100 orang obesitas sebanyak 74 orang (74%) tergolong jarang berolahraga dan 26 orang (26%)
tergolong rutin berolahraga.
Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Kebiasaan Olahraga Kebiasaan berolahraga N % Jarang 74 74 Rutin 26 26 Total 100 100
5.2.1.11 Distribusi frekuensi kebiasaan olahraga dengan kualitas tidur
Distribusi frekuensi kebiasaan olahraga dengan kualitas tidur pada kelompok obesitas dapat dilihat pada tabel 5.12
Pada tabel 5.12 tampak bahwa sebanyak 74 orang (74%) tergolong jarang berolahraga. Diantara 74 orang tersebut, sebanyak 61 orang (82,4%) mengalami kualitas tidur yang buruk.
Tabel 5.12 Kualitas tidur dan frekuensi olahraga
5.2.2 Pembahasan
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa 57 (73.1%) responden laki-laki
dan 21 (26,9%) responden perempuan, sama-sama memiliki kualitas tidur yang buruk. Dengan kata lain, kelompok laki-laki maupun perempuan yang mempunyai kualitas tidur yang buruk lebih banyak jumlahnya.
Perempuan mengalami insomnia 3 kali lebih sering dibandingkan laki laki tetapi pada laki-laki gangguan tidur berupa sleep apnea dijumpai 2 kali lebih sering dibandingkan perempuan. OSA lebih sering dijumpai pada laki-laki dikarenakan
pola penumpukan lemak pada laki-laki lebih banyak di daerah sentral tubuh dan di daerah sekitar jalan nafas atas jika dibandingkan dengan perempuan. Faktor seperti stabilitas jalan nafas juga ditemukan berbeda pada laki-laki dan
perempuan. Pada perempuan jalan nafas ditemukan lebih stabil pada perempuan. Penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa jenis kelamin perempuan bisa
menjadi salah satu faktor protektif OSA (Mohsenin, 2011). Kualitas tidur
Frekuensi Olahraga Total
Jarang Rutin f(n) % f(n) % Buruk Baik 61 13 82,4 17,6 17 9 65,4 34,6 58 42 Total 74 100 26 100 100
Berbeda dengan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, ada hasil penelitian sebelumnya, yang menyatakan tidak adanya perbedaan kualitas tidur pada laki-laki
maupun perempuan (Twery, 2011). Namun, semasa hidupnya perempuan lebih mudah untuk mengalami perubahan pola tidur yang diakibatkan oleh perubahan hormonal selama masa pubertas, kehamilan, dan menopause
(Krishnan dan Collop, 2006).
Penelitian ini mendapatkan bahwa kualitas tidur yang buruk lebih banyak
dijumpai pada kelompok, usia dewasa awal. Hal ini juga dijumpai pada penelitian survey oleh National Adolescent and Young Adult Health
Information Center (NAHIC) pada tahun 2014 yang menemukan bahwa 67% usia dewasa muda mengalami kualitas tidur yang buruk. Hal tersebut diakibatkan pada usia dewasa muda faktor seperti pekerjaan yang harus diselesaikan, gaya hidup,
menonton televisi, penggunaan ponsel cerdas, paparan sinar sewaktu tidur, perilaku sosial memengaruhi pola tidur orang pada kelompok usia dewasa muda.
Pada usia dewasa akhir hingga lanjut usia, kualitas tidur yang buruk semakin mudah terjadi seiring dengan penuaan. Akibat dari proses penuaan, maka tubuh akan
memproduksi hormon pertumbuhan dan melatonin dalam jumlah yang sedikit. Hal ini mengakibatkan kelompok usia tersebut semakin sulit memasuki fase tidur
gelombang lambat dan siklus tidur menjadi lebih singkat. Prevalensi insomnia meningkat seiring bertambahnya usia dengan peningkatan
sekitar 23% sampai 41% sejak usia dewasa muda hingga usia dewasa akhir (Smyth, 2012).
Kualitas tidur yang baik dinilai melalui PSQI yang menganalisis domain tidur berupa durasi tidur (kuantitas tidur), efisiensi tidur, waktu tidur, keterjagaan, dan kualitas tidur subyektif (Buysee, 2014).
Kuantitas tidur adalah total waktu yang dialami oleh seseorang pada saat ia tidur pada malam hari. Kuantitas tidur dihitung mulai seseorang tertidur lelap
hingga seorang tersebut bangun dan mencapai kesadaran penuh. Kuantitas tidur dapat menjadi semakin singkat apabila seseorang sulit mencapai
mempertahankan kondisi tidur disebut dengan efisiensi tidur. Jika efisiensi tidur
tidak tercapai dengan baik maka kualitas tidur yang buruk dapat terjadi, bahkan hal tersebut dapat menjadi suatu pertanda gangguan tidur berupa insomnia. Tidur dinyatakan efisien apabila seseorang dapat jatuh ke dalam kondisi tidur dalam
waktu sekitar 30 menit sejak ia memulai tidur.
Kelompok obesitas pada penelitian ini mengalami kesulitan memulai tidur
sebanyak 54 orang (54%) sedangkan yang mampu tidur terlelap dalam 30 menit sebanyak 46 orang (46%). Berdasarkan penelitian sebelumnya juga
ditemukan bahwa pada kelompok obesitas cenderung lebih sering mengalami sulit tidur sampai akhirnya jatuh ke dalam keadaan insomnia. Hal ini dapat disebabkan oleh meningkatnya kadar hormon glukokortikoid, seperti kortisol, pada orang obesitas. Hormon glukokortikoid meningkat pada orang obesitas karena hormon tersebut diperlukan untuk deposisi lemak di
tubuh bagian sentral. Efek hormon ini akan mengakibatkan hiperaktifitas dari nukleus amigdala yang berperan dalam memulai tidur. Akibat hiperaktifitas
tersebut, seorang obesitas dapat mengalami kesulitan memulai tidur (Singareddy et al, 2012).
Sebelumnya telah dikatakan bahwa sulit memulai tidur dapat menyebabkan seseorang kehilangan kuantitas tidur yang cukup. Kuantitas tidur dinyatakan cukup jika seseorang memiliki durasi tidur selama 7-8 jam setiap harinya. Jika durasi tidur kurang dari 7 jam, maka seseorang tersebut dinyatakan kurang tidur atau mengalami sleep deprivation.
Pada penelitian ini, diperoleh bahwa 64 orang (64%) tergolong mengalami
sleep deprivation karena jumlah jam tidur normal yang tidak terpenuhi. Rata-rata durasi tidur pada orang obesitas di penelitian ini adalah 6.1 jam. Hal ini juga dijumpai pada penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa sekitar
33% orang dewasa yang tidur < 6 jam mengalami obesitas dan hanya 22% orang dewasa obesitas yang jumlah jam tidurnya cukup (Schoenborn dan Adams, 2008).
(Becuuti dan Pannain, 2011). Obesitas juga merupakan faktor risiko terjadinya OSA. Jika seorang obesitas sudah menderita OSA maka pola tidur penderita menjadi terputus-putus dan akan semakin menyulitkan penderitanya untuk memenuhi
jumlah jam tidur yang cukup. Hal ini mengakibatkan buruknya kualitas tidur dan tidak terpenuhinya kuantitas tidur yang cukup.
Pada kelompok obesitas, gejala mendengkur keras juga dapat dialami yang kemudian dapat membangunkan orang obesitas sehingga tidurnya menjadi
tidak efisien. Hal tersebut dapat membuat tidur menjadi terputus-putus hingga akhirnya juga dapat berimplikasi pada durasi tidur seseorang.
Pada penelitian ini, sebanyak 54 orang (54%) mengalami tidur yang terputus-putus. Orang obesitas memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan nafas pada saat tidur. Gangguan nafas pada saat tidur ini dapat ditandai dengan keluhan mendengkur atau sesak yang dialami sewaktu tidur. Akibat keluhan
tersebut maka seseorang akan terbangun sehingga tidurnya akan terputus-putus dan seseorang tersebut gagal mencapai durasi dan kualitas tidur yang baik
(Schwartz, 2008). Tidur yang terputus-putus menandakan tidur yang tidak efisien sehingga kualitas tidur yang baik tidak tercapai (Buysee, 2014).
Pada penelitian ini, gejala mendengkur keras yang dijumpai adalah sebanyak 58 orang (58%) dan sebanyak 42 orang (42%) tidak mendengkur. Dari 58 orang yang mendengkur, diperoleh sebanyak 31 orang (57,4%) terbangun dari tidurnya. Gejala mendengkur keras ini dapat disebabkan oleh penyempitan jalan nafas oleh lemak yang tertumpuk di sekitar jalan nafas pada orang obesitas. Apabila lemak yang menumpuk belum mampu menyebabkan penyempitan jalan
nafas maka gejala mendengkur keras bisa tidak ditemukan. Gejala mendengkur ini merupakan salah satu tanda yang sering dikaitkan dengan OSA. Obstructive sleep apnoea sendiri memiliki faktor risiko utama berupa obesitas
(Schwartz, 2008).
Keterjagaan adalah kemampuan untuk mencapai kondisi terjaga dan penuh perhatian. Keterjagaan dijadikan sebagai salah satu domain kualitas tidur karena
kaitannya dengan durasi dan efisiensi dari tidur (Buysse, 2014). Apabila seseorang tidak mencapai kualitas tidur yang baik maka di siang hari seseorang tersebut dapat mengalami gejala ngantuk berlebihan pada siang hari. Gejala tersebut disebut excessive daytime sleepiness yang dapat dilihat dari atensi dan antusiasme seseorang pada siang hari.
Pada penelitian in ditemukan sebanyak 55 orang (55%) dari orang obesitas mengalami gejala excessive daytime sleepiness. Hal ini juga ditemukan pada penelitian yang sebelumnya bahwa sekitar 30% orang obesitas dijumpai gejala excessive daytime sleepiness (Panossian dan Veasey, 2012). Dugaannya adalah bahwa pada orang obesitas terjadi gangguan hormonal yang mengakibatkan seorang tersebut lebih banyak prevalensinya mengalami excessive daytime sleepiness. Pada orang obesitas meningkatnya kada TNF-α, IL-6, dan leptin dapat menyebabkan penurunan kadar norepinefrin, 5- HT, orexin sehingga menurunkan aktivitas persinyalan di neuron yang mengatur keterjagaan. Hal ini menimbulkan efek mengantuk dan sedasi. Pada orang obesitas, gejala excessive daytime sleepiness akan semakin parah dan meningkat prevalensinya pada penderita OSA (Panossian dan Veasey, 2012).
Waktu tidur adalah waktu yang menunjukkan tidur yang dilakukan setiap 24 jam. Waktu tidur seseorang sangatlah bervariasi. Banyak faktor yang
memengaruhi waktu tidur seseorang antara lain pekerjaan, gaya hidup, kesehatan, usia, dan kecenderungan genetik. Tidak ada patokan waktu tidur yang benar untuk seseorang dan yang diutamakan adalah tercapainya kuantitas tidur dan efisiensi tidur yang baik (Chang et al, 2009).
Kualitas tidur subyektif, salah satu domain kualitas tidur, adalah penilaian
yang bersifat subyektif terhadap baik atau buruknya tidur seseorang. Pada penelitian sebelumnya dikatakan bahwa kualitas tidur subyektif memiliki
hubungan yang kuat dengan durasi tidur dan efisiensi tidur. Namun, kualitas tidur subyektif sesungguhnya dibangun dari kondisi mental dan kondisi fisik sehingga kedua hal tersebut dapat memengaruhi kualitas tidur subyektif (Augner, 2011).
Pada penelitian ini diperoleh bahwa 61 orang (61%) orang obesitas menyatakan bahwa kualitas tidurnya adalah baik. Melalui penelitian sebelumnya, dikatakan bahwa kualitas tidur secara subyektif tidak boleh dijadikan parameter utama dalam menentukan kualitas tidur karena hal tersebut bisa saja dipengaruhi
oleh kondisi fisik maupun mental seseorang (Augner, 2011). Penelitian lain juga mengatakan bahwa kualitas tidur subyektif adalah domain yang paling rendah
tingkatannya dalam menentukan kualitas tidur seseorang (Buysse, 2014).
Kedaan-keadaan seperti sulit memulai tidur, gejala mendengkur keras, tidur yang terputus, OSA, sleep deprivation, dan restless leg syndrome adalah beberapa keadaan yang dapat mengakibatkan buruknya kualitas tidur pada kelompok
obesitas. Keadaan tersebut mengakibatkan kelima domain kualitas tidur (durasi tidur, efisiensi tidur, waktu tidur, keterjagaan, dan kualitas tidur subjektif)
menjadi tidak tercapai pada kelompok obesitas (Buysee, 2014).
OSA akan mengakibatkan tidur yang terputus-putus sehingga akan mengurangi durasi tidur penderitanya. Durasi tidur yang tidak cukup dapat meningkatkan nafsu dan asupan makan melalui mekanisme hormonal sehingga dapat menyebabkan kelebihan energi yang berujung kembali kepada obesitas.
Sehingga dapat dikatakan bahwa durasi tidur yang pendek (sleep deprivation) dan OSA dapat menjadi penyebab buruknya kualitas tidur pada orang obesitas
(Beccuti dan Pannain, 2011). Selain OSA dan durasi tidur yang pendek, gangguan tidur lain yang diduga berhubungan dengan obesitas dan memperburuk
kualitas tidur orang obesitas adalah restless leg syndrome. Penumpukan jaringan lemak dalam tubuh berhubungan dengan munculnya restless leg syndrome (Gao et al, 2009).
Pada penelitian ini diperoleh bahwa dari 100 orang obesitas, sebanyak 71 orang (71%) dinyatakan sebagai kelompok risiko tinggi untuk menderita OSA.
Penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa prevalensi risiko tinggi OSA pada kelompok obesitas adalah sebanyak 53 dari 105 orang (50.4%) (Wiadnyana et al, 2010). Obesitas sendiri adalah faktor risiko terjadinya OSA
dan melalui penelitian sebelumnya dinyatakan bahwa 70% orang yang menderita OSA juga mengalami obesitas. Diperkirakan bahwa sekitar 30% kelompok obesitas dengan IMT ≥ 30 kg/m2 dan 50% kelompok obesitas dengan IMT ≥ 40 kg/m2 menderita OSA (Downey, 2012).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 74% dari orang-orang obesitas tergolong jarang berolahraga dan 26% orang tergolong rutin berolahraga.
Dari 74 orang tersebut diperoleh 61 orang (82,4%) mengalami kualitas tidur yang buruk. Penelitian oleh Fogelholm et al tahun 2007 juga menyatakan bahwa
sekitar 83% orang obesitas memiliki aktivitas fisik pasif dan jarang berolahraga dan hanya 17% yang rutin berolahraga. Kualitas tidur yang buruk dan sleep
deprivation dapat menurunkan pengeluaran energi dalam bentuk olahraga yang mengakibatkan orang obesitas dengan kualitas tidur yang buruk cenderung jarang berolahraga. Hal ini dapat terjadi karena kualitas tidur yang buruk memiliki
implikasi terhadap kadar hormon leptin yang berubah kadarnya menjadi lebih sedikit. Penurunan kadar hormon tersebut mengakibatkan berkurangnya
BAB 6