BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Penyajian dan Analisis Data
4.2.2 Hasil Analisis Data
Menurut Roland Barthes di dalam sebuah teks novel tersembunyi lima kode- kode pembacaan (leksia). Kode-kode pokok tersebut meliputi aspek sintagmatik dan semantik sekaligus, yaitu menyangkut bagaimana bagian-bagiannya berkaitan satu dama lain dan terhubung didunia diluar “teks”.
Berikut ini adalah kolom yang menjelaskan penggolongan leksia dalam kode pembacaan menurut Roland Barthes beserta kalimat mana dalam leksia tersebut yang menunjukan salah satu kode pembacaan, yaitu :
Kode Pembacaan
Leksia Kalimat Yang Menunjukan Kode Pembacaan Pada Leksia
Kode
Hermeneutik
Leksia 3 Saat mendengar suara anak-anak berlarian dari tempat ayunan, aku memejamkan mata, berharap menemukan jawaban pertanyaan mengapa hubunganku dengan ibu jadi sedemikian buruk. Dua pertanyaan selalu mengganggu pikiranku: apakah ibu pernah mencintai aku dan mengapa ia memperlakukan aku sedemikian rupa
Leksia 4 “Dia tidak menyayangi aku, bukan? Aku..aku tidak mengerti. Mengapa? Mengapa dia bahkan tidak mau berbicara kepadaku? Apakah aku ini memang nakal sekali? Aku sudah mencoba menjadi anak baik. Aku sudah mencoba menjadi anak penurut” suaraku semakin keras dan tinggi, penuh rasa marah
Leksia 5 Rasanya aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk memahami anak-anak asuh yang lain sehingga aku bisa belajar-sehingga aku bisa diterima di dalam
lingkungan anak-anak lain yang lebih tua. Aku ingin sekali disukai anak-anak lain, tetapi tetap saja aku tak mampu
Leksia 6 “Aku sama sekali tidak mengerti. Bagaimanapun aku ingin tahu: apakah aku ini ikut-ikutan jadi sakit juga seperti ibu? Apakah aku kelak seperti dia? Aku sungguh ingin tahu. Aku sungguh ingin tahu mengapa seperti ini jadinya. Kami keluarga yang tidak kurang suatu apa, mengapa bisa sampai jadi begitu”
Leksia 13 Dalam semua pertemuan berkalaku seminggu sekali dengan Dr. Robertson, aku tidak pernah dipaksa untuk menceritakan apapun, tetapi aku segera menyadari justru akulah yang selalu memulai pembicaraan mengenai pengalaman masa laluku. Akulah yang mengajukan pertanyaan kepada Dr. Robertson mengenai segala hal, termasuk pertanyaan: apakah aku ditakdirkan untuk jadi orang seperti ibuku. Aku selalu berusaha untuk tetap membicarakan berbagai masalah yang kurasakan selama ini dalam upayaku mendapat jawaban-jawabannya
perasaanku. Bosan aku dengan berbagai macam akibat yang ditimbulkan oleh kehidupanku yang baru. Aku sendiri sepenuhnya bisa merasakan perubahan yang sedang terjadi dalam diriku. Tapi aku tak memperdulikannya. Kuyakinkan diriku sendiri bahwa agar mampu bertahan hidup aku harus bersikap keras agar aku aku tak pernah lagi membiarkan orang lain, siapapun, menyakiti diriku
Leksia 11 Setelah kantong kertasku kujejali dengan semua milikku, aku mematikan perasaan iba ku terhadap keluarga Jones. Mereka orang baik-baik dan aku ikut prihatin atas masalah yang menimpa mereka, tetapi aku terpaksa mendahulukan kepentinganku sebab bagiku semua itu menyangkut hidupku yang sebatang kara ini
Leksia 17 Aku duduk terus dihadapannya dan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan tentang masa depanku Leksia 19 Supaya bisa memenuhi niatku untuk tinggal di
Russian River, aku tahu bahwa pertama-tama aku harus menemukan diriku sendiri. Tak mungkin aku bisa tinggal di dekat kenangan masa laluku. Aku harus
membebaskan diriku. Kurasakan kehangatan di dalam diriku. Aku telah menetapkan keputusanku. Kuhirup napas dalam-dalam, lalu berkata lirih, seakan-akan memperbarui janji seumur hidupku. Aku akan kembali
Simbolik Leksia 2 Kupejamkan mata. Kubayangkan diriku dibawa ibu kembali kerumah itu, tempat dia biasa memukuli aku dan hidup dibasement. Semua itu membuatku berharap suatu hari kelak aku bisa melarikan diri dari keadaan itu dan bisa menjadi anak-anak biasa yang bebas dari rasa takut, bisa bermain sepuas hati diluar rumah. Beberapa detik kutahan napasku, lalu sebelum keberanianku lenyap, aku berkata lantang, “kau, pak hakim! Aku mau tinggal bersamamu!”
Leksia 9 Aku merasakan kehangatan yang pelan-pelan merambat dari dalam jiwaku. Aku akan melakukannya! Aku bersumpah, akan ku buktikan pada Mrs. C, Mr. Hutchenson, dan kepada ibu bahwa aku anak baik! Aku tahu bahwa sidang pengadilan kasusku tinggal beberapa minggu lagi. Jadi, kataku dalam hati, aku harus berusaha lebih keras lagi
Leksia 10 Kurogoh saku celanaku, lalu kukeluarkan selembar kertas yang berisi catatan alamat serta nomor telepon semua keluarga yang menampungku. Dengan pena yang kupinjam dari Gordon, aku membuat garis yang memisahkan Joanne dan Michael Nulls. Tak kurasakan penyesalan. Kuusir semua perasaanku terhadap keluarga Nulls-atau terhadap siapapun
Leksia 12 Aku tak perduli. Aku tak perduli harus tidur di sofa atau di dipan berpaku sekalipun. Aku cuma ingin tinggal di sebuat tempat yang bisa kurasakan sebagai home-rumah
Leksia 14 Dalam perjalanan waktu, aku belajar menerima hadiah. Dan bagiku, itulah salah satu pelajaran paling sulit yang dapat kupahami
Leksia 15 Aku berusaha keras melakukan hal-hal yang biasa dilakukan anak-anak normal tanpa merasa terancam. Aku sekedar ingin menyesuaikan diri dengan hidup yang wajar. Aku ingin berlaku dan diperlakukan seperti anak-anak pada umumnya
Leksia 16 Sejak itu kutinggalkan semua kegiatan pendidikan formalku, sebab aku tahu bahwa masa depanku ada
diluar dinding sekolah. Aku menghabiskan lebih dari 48 jam dalam seminggu untuk melakukan berbagai jenis pekerjaan, dan aku yakin tak satupun pelajaran yang aku peroleh disekolah dapat dipakai dalam kehidupan nyata
Proaretik Leksia 1 Aku berjanji pada diriku sendiri aku tak akan pernah mau pulang lagi. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, berusaha mati-matian untuk tetap bertahan terhadap berbagai pukulan yang menyiksa, dan mengais-ngais tempat sampah untuk bisa makan, kini aku tahu bagaimanapun aku akan tetap hidup
Leksia 8 Tanpa mempertimbangkan apa-apa lagi aku berlari ke kamar, mengambil semua uang yang kusimpan dalam toples, menyambar jaket, dan bergegas menuruni tangga. Dengan rasa percaya diri kukeluarkan sepedaku, lalu dengan sengaja kubanting pintu lebih keras dari biasanya. Aku memutuskan untuk kabur dari rumah
Gnomic Leksia 18 Mr. Marsh menyarankan aku untuk masuk militer, dan aku langsung mencoba mendaftarkan diri. Tetapi karena usiaku masih setingkat siswa kelas satu
sekolah lanjutan atas, aku harus mengikuti aptitude test-tes bakat berdasarkan kecerdasan-dan ternyata aku gagal total. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku pasti berhasil melakukannya tanpa harus mengikuti pendidikan formal di sekolah
Berikut ini adalah data terhadap leksia-leksia yang telah dipaparkan diatas, yaitu :
A. Kode Hermeneutik
Leksia 3 Halaman 91
“Saat mendengar suara anak-anak berlarian dari tempat ayunan, aku memejamkan mata, berharap menemukan jawaban pertanyaan mengapa hubunganku dengan ibu jadi sedemikian buruk. Dua pertanyaan selalu mengganggu pikiranku: apakah ibu pernah mencintai aku dan mengapa ia memperlakukan aku sedemikian rupa”
Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan hermeneutik (kode teka- teki) yaitu kode dengan berbagai cara berfungsi mengartikulasikan suatu persoalan tersebut, atau justru menunda-nunda penyelesaiannya atau menyusun tekateki (enigma) dan sekedar memberi isyarat bagi penyelesaian berikutnya.
Dari leksia diatas dapat menimbulkan pertanyaan yang sama bagi pembaca, yaitu apakah sang ibu memang pernah mencintai David, mengingat begitu
kejamnya perlakuan ibu terhadapnya terhadapa anak kandungnya itu selama 8 tahun. Dan juga tak ada bisa mengetahui apa alasan sang ibu sampai tega memperlakukan anak kandungnya seperti itu, terutama hanya kepada David. Apa yang sebenarnya terjadi antara ibu dan David, apa sebenarnya yang bisa membuat David berbeda dengan saudara-saudaranya dimata sang ibu sehingga hanya David lah yang diperlakukan seperti itu. Siapakah David itu sebenarnya.
Leksia ini menunjukan bahwa banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai perlakuan ibunya terhadap dia yang tidak dia pahami. Dia selalu berusaha untuk mengetahui hal-hal yang terjadi didalam hidupnya yang tak pernah dia mengerti mengapa, dan ini mengenai semua yang dilakukan sang ibu terhadapnya. Dia selalu bertanya-tanya kenapa dan siapakah dia, namun tak juga mendapatkan jawabannya.
Leksia 4 Halaman 98
“Dia tidak menyayangi aku, bukan? Aku..aku tidak mengerti. Mengapa? Mengapa dia bahkan tidak mau berbicara kepadaku? Apakah aku ini memang nakal sekali? Aku sudah mencoba menjadi anak baik. Aku sudah mencoba menjadi anak penurut” suaraku semakin keras dan tinggi, penuh rasa marah”
Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan hermeneutik (kode teka- teki) yaitu kode dengan berbagai cara berfungsi mengartikulasikan suatu
persoalan tersebut, atau justru menunda-nunda penyelesaiannya atau menyusun tekateki (enigma) dan sekedar memberi isyarat bagi penyelesaian berikutnya.
Dari leksia ini menunjukan pertanyaan-pertanyaan yang juga selalu membuat David gusar, tidak tenang. Setiap apapun yang berhubungan dengan ibunya, dia mengharapkan sesuatu yang berbeda, dia mengharapkan perlakuan ibu akan berubah kepadanya. Saat dia sudah tidak tinggal bersama ibunya, dia mengharapkan sang ibu mulai luluh dan bisa menerima juga menyayangi dia. Dan sayangnya sang ibu tidak pernah sekalipun menunjukan sifat yang berbeda dari sebelumnya, itu membuat David bertambah emosi. Dia mulai merasa lelah selalu mengharapkan perubahan dari ibunya. Dia semakin tidak mengerti mengapa ibunya bisa menjadi begitu keras hati, padahal apapun sudah dilakukan untuk menjadi anak baik. Sebisa mungkin David menjadi anak yang penurut, berharap ada sedikit perubahan dari sang ibu terhadapnya. Dan David tidak bisa menemukan hal itu. Dia mulai kesal dan namun tetap bertanya-tanya siapakah dia sebenarnya dimata sang ibu.
Leksia 5 Halaman 118
“Rasanya aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk memahami anak-anak asuh yang lain sehingga aku bisa belajar-sehingga aku bisa diterima di dalam lingkungan anak-anak lain yang lebih tua. Aku ingin sekali disukai anak-anak lain, tetapi tetap saja aku tak mampu“
Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan hermeneutik (kode teka- teki) yaitu kode dengan berbagai cara berfungsi mengartikulasikan suatu persoalan tersebut, atau justru menunda-nunda penyelesaiannya atau menyusun tekateki (enigma) dan sekedar memberi isyarat bagi penyelesaian berikutnya.
Dari leksia ini menunjukan adanya pertanyaan bagi David dalam hidupnya. Dia bingung dan tidak mengerti. Sebenarnya dia sudah berusaha keras untuk bisa menjadi anak normal, untuk bisa diterima oleh lingkungan sekitarnya, anak-anak asuh yang lebih tua, yang lebih lama tinggal di rumah asuhnya. Dia sudah sering belajar dari apapun didalam rumah itu, untuk bisa saling memahami bagaimana anak-anak asuh dirumah itu. Namun entah mengapa, semua usahanya itu tidak pernah berhasil. Entah mengapa dia selalu gagal untuk bisa disukai oleh anak- anak lainnya. Dia tetap saja tidak mampu untuk berbaur, untuk memahami sifat semua anak-anak disitu, dan uuntuk bisa disukai. Entah apa yang kurang dari usahanya, tidak pernah dia ketahui. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk bisa diterima di lingkungan anak-anak asuh yang baginya masih baru itu. Dia tidak bisa menemukan jawaban apa yang sebenarnya salah dari dirinya dan apa yang kurang dari usahanya, apa lagi yang harus dia rubah dari dirinya dan apa yang harus dilakukannya di lingkungan tersebut.
Leksia 6 Halaman 129
“Aku sama sekali tidak mengerti. Bagaimanapun aku ingin tahu: apakah aku ini ikut-ikutan jadi sakit juga seperti ibu? Apakah aku kelak seperti dia? Aku
sungguh ingin tahu. Aku sungguh ingin tahu mengapa seperti ini jadinya. Kami keluarga yang tidak kurang suatu apa, mengapa bisa sampai jadi begitu”
Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan hermeneutik (kode teka- teki) yaitu kode dengan berbagai cara berfungsi mengartikulasikan suatu persoalan tersebut, atau justru menunda-nunda penyelesaiannya atau menyusun teka-teki (enigma) dan sekedar memberi isyarat bagi penyelesaian berikutnya.
Dari leksia ini jelas menunjukan pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran David, pertanyaan mengenai masa depannya. Banyak kekhawatiran David bahwa dia akan menjadi sama seperti ibunya kelak. Apakah nanti dia akan menjadi ayah yang kejam bagi anak-anaknya. Ini juga menimbulkan pertanyaan bagi pembaca, bagaimanakah masa depan David nanti, apakah dia pada akhirnya akan menuruni sifat ibunya juga. David bingung dan sangat tidak paham, apa yang sebenarnya terjadi pada dia dan keluarganya. David sempat mempunyai masa kecil yang begitu indah, keluarga yang sempurna, ayah ibu dan saudara- saudara yang menyayangi dia. Dia merasa keluarganya tidak mempunyai suatu kekurangan apa, sehingga harus menjadi berantakan seperti ini. Dia benar-benar ingin tahu mengapa. Apa yang kurang dari keluarganya. Apa yang tiba-tiba bisa menjadi penyebab kehancuran keluarganya, selain ibunya yang memang biasa menenggak minuman keras. Namun mengapa ayah dan ibunya menjadi seperti itu, mengapa ibu bisa “sakit”. David sangat ingin tahu apakah dia akan menjadi
sakit juga seperti ibunya, dan hal mengenai keluarganya tidak pernah habis dipikirkannya. Sebenarnya apa yang terjadi didalam hidup dan keluarganya, tidak pernah dia pahami.
Leksia 13 Halaman 254
“Dalam semua pertemuan berkalaku seminggu sekali dengan Dr. Robertson, aku tidak pernah dipaksa untuk menceritakan apapun, tetapi aku segera menyadari justru akulah yang selalu memulai pembicaraan mengenai pengalaman masa laluku. Akulah yang mengajukan pertanyaan kepada Dr. Robertson mengenai segala hal, termasuk pertanyaan: apakah aku ditakdirkan untuk jadi orang seperti ibuku. Aku selalu berusaha untuk tetap membicarakan berbagai masalah yang kurasakan selama ini dalam upayaku mendapat jawaban-jawabannya”
Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan hermeneutik (kode teka- teki) yaitu kode dengan berbagai cara berfungsi mengartikulasikan suatu persoalan tersebut, atau justru menunda-nunda penyelesaiannya atau menyusun tekateki (enigma) dan sekedar memberi isyarat bagi penyelesaian berikutnya.
Leksia ini menunjukan pertanyaan yang sama bagi masa depan David. Mungkin dia merasa tidak akan pernah menemukan mengenai jati dirinya, mengenai masa depannya hanya dengan berpikir sendiri. Dan dia berusaha bertanya kepada seseorang yang mungkin bisa memahaminya. Pertanyaan yang
tak pernah kunjung didapatkan jawabannya, pertanyaan yang sama mengenai masa depanny, apakah dia ditakdirkan untuk menjadi seperti ibunya, ikut menjadi sakit dan menjadi kejam bagi anak-anaknya kelak.. Kepada orang yang bisa dipercaya, bukan membuat dia semakin lemah, namun diharapkan bisa membantu dia menemukan teka-teki dalam hidupnya selama ini. Orang-orang yang sebelumnya diharapkan bisa membantu dia untuk bisa memecahkan persoalan dalam hidupnya hanya menambah beban dipikirannya. Namun saat dia bertemu dengan seseorang yang dianggapnya bisa membantunya keluar dari hal- hal yang mengganggu pikirannya, semakin keras usahanya untuk bisa menemukan jawaban dari setiap masalah yang dirasakan selama ini. Beberapa hal yang dimulai dengan membicarakan masa lalunya, namun diikuti berbagai macam pertanyaan tentang masa depannya, dan jati dirinya untuk melengkapi semua usahanya selama ini.
B. Kode Semik
Leksia 1 Halaman 12
“Saat pertama masuk sekolah, aku sudah mematikan perasaanku. Bosan aku dengan berbagai macam akibat yang ditimbulkan oleh kehidupanku yang baru. Aku sendiri sepenuhnya bisa merasakan perubahan yang sedang terjadi dalam diriku. Tapi aku tak memperdulikannya. Kuyakinkan diriku sendiri bahwa agar mampu bertahan hidup aku harus bersikap keras agar aku aku tak pernah lagi membiarkan orang lain, siapapun, menyakiti diriku”
Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan semik (kode konotasi) yaitu kode yang memanfaatkan isyarat, petunjuk, atau “kilasan makna” yang ditimbulkan oleh penanda-penanda tertentu, bisa juga melekat pada suatu nama tertentu.
Dari kata-kata “aku sudah mematikan perasaanku” menunjukan kilasan makna. Arti “mematikan” yang biasanya berarti membunuh namun dalam kalimat ini mempunyai arti lain. Bukan perasaan yang dibunuh, dan perasaan pun tidak bisa dibunuh. Artinya disini adalah David mulai tidak ingin melakukan apapun berdasarkan perasaannya. Perasaan David mulai tidak peka dengan lingkungan sekitar. Dia mulai tidak ingin merespon apapun yang terjadi disekitarnya, dan sebisa mungkin dia tidak ingin mencampuri segala urusan orang lain. Dia ingin berlaku dalam lingkungannya tanpa menggunakan perasaannya. Karena jika dia mengikuti perasaannya untuk merespon sesuatu, dia pasti terkena masalah. Emosi, karena hal itulah yang selalu mengakibatkan masalah dalam hidupnya. Saat dia menggunakan perasaannya, dan saat dia melakukan apa saja, berpikir mengenai apa saja dengan menggunakan perasaan, pasti ada saja masalah yang terjadi. Ini adalah usaha David untuk menghindari masalah yang bisa saja terjadi akibat dirinya dalam kehidupannya yang baru. David pun merasa aneh, dia harus menjadi tidak seperti dia, cuek akan sekitarnya, dan itu sebenarnya bukan tipe dirinya. Dia merasa ada yang ganjil, namun sebisa mungkin dia tidak ingin memperdulikannya. Karena inilah salah satu cara juga untuk bisa bertahan dan bisa menemukan apa yang dia inginkan kedepannya nanti. Dan dia juga harus
mulai bisa mempunyai pertahanan, agar tidak ada orang lain yang bisa menyakiti diriku. Dia memang tidak peka, namun dia menjadi lebih was-was dalm hidupnya, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang bisa mengganggu hidupnya.
Leksia 11 Halaman 248
“Setelah kantong kertasku kujejali dengan semua milikku, aku mematikan perasaan iba ku terhadap keluarga Jones. Mereka orang baik-baik dan aku ikut prihatin atas masalah yang menimpa mereka, tetapi aku terpaksa mendahulukan kepentinganku sebab bagiku semua itu menyangkut hidupku yang sebatang kara ini”
Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan semik (kode konotasi) yaitu kode yang memanfaatkan isyarat, petunjuk, atau “kilasan makna” yang ditimbulkan oleh penanda-penanda tertentu, bisa juga melekat pada suatu nama tertentu.
Dari kata “mematikan perasaan iba” juga dapat dipahami makna kiasan, yaitu mematikan. Yang bukan berarti membunuh sesuatu, seperti membunuh binatang, namun disini adalah tidak menggunakan perasaannya lagi untuk merespon sekitar. Jika dia selalu menggunakan perasaan dalam setiap lingkungannya, ini akan membuat dia menjadi semakin lemah. Karena perasaan bisa mengalahkan logika, dan melakukan apa yang harusnya tidak dilakukan dan begitu juga sebaliknya. Untuk bisa meneruskan kehidupannya, David harus banyak menggunakan logika
daripada perasaan. Dan ini berarti untuk anak seusia David, dia benar-benar harus sudah bisa mengorbankan perasaanya. Dia harus bisa menyingkirkan hal-hal berdasarkan perasaannya, namun dia harus bisa menggunakan otaknya untuk tetap bertahan, kalau tidak begitu dia tidak akan bisa kuat bertahan menjalani segala hal yang menimpa dalam hidupnya. Karena yang harus dipikirkan saat itu bagi David hanyalah tetap bertahan untuk bisa menemukan jati dirinya. dia harus sedikit egois dengan mendahulukan kepentingannya, karena hidupnya yang sudah sebatang kara dan dia lebih harus memikirkan kehidupannya daripada orang- orang sekitarnya yang sedang terlibat masalah.
Leksia 17 Halaman 280
“Aku duduk terus dihadapannya dan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan tentang masa depanku”
Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan semik (kode konotasi) yaitu kode yang memanfaatkan isyarat, petunjuk, atau “kilasan makna” yang ditimbulkan oleh penanda-penanda tertentu, bisa juga melekat pada suatu nama tertentu.
Dari kata “aku duduk terus dihadapannya dan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan tentang masa depanku” bisa ditemukan makna kiasan. Kata “menghujani” yang bukan berarti memberikan hujan air kepadanya, namun disini berarti bahwa dia memberikan secara terus menerus tanpa henti pertanyaan-
pertanyaan yang tidak pernah dipahami, pertanyaan tentang masa depannya yang dirasakan belum ada kejelasan bagaimana hidupnya kelak. Karena memang dalam hidup David terlalu banyak pertanyaan. Bukan hanya pertanyaan mengenai masa lalunya yang kelam dan mengapa itu bisa terjadi, pertanyaan mengenai masa sekarang dan masalah-masalah yang harus dihadapinya, namun juga yang paling terpenting adalah pertanyaan tentang masa depannya. Pertanyaan yang akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, pertanyaan yang sangat menentukan hidupnya kedepan, dan pertanyaan yang bisa mengakhiri segala penderitaan yang dia alami sekarang, segala persoalan yang bertubi-tubi menghampiri hidupnya tanpa henti. Terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan mungkin dia tak bisa menemukan jawaban itu sendiri, demi bisa menemukan akhir dari pencariannya, pencarian mengenai jati dirinya.
Leksia 19 Halaman 292
“Supaya bisa memenuhi niatku untuk tinggal di Russian River, aku tahu bahwa pertama-tama aku harus menemukan diriku sendiri. Tak mungkin aku bisa tinggal di dekat kenangan masa laluku. Aku harus membebaskan diriku. Kurasakan kehangatan di dalam diriku. Aku telah menetapkan keputusanku. Kuhirup napas dalam-dalam, lalu berkata lirih, seakan-akan memperbarui janji seumur hidupku. Aku akan kembali”
Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan semik (kode konotasi) yaitu kode yang memanfaatkan isyarat, petunjuk, atau “kilasan makna” yang ditimbulkan oleh penanda-penanda tertentu, bisa juga melekat pada suatu nama