• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Penyajian dan Analisis Data

4.2.2. Hasil Analisis Data

Leksia 1 1. “Sudah Cina, transgender pula. Mana yang lebih gawat dari itu?Katanya, orang Cina di Indonesia mempunyai tiket gratis pergi ke neraka karena terlalu tertekan di Negara ini.”(halaman 45)

Leksia 2 2. “Uuh, Mama juga sih! Kenapa mau nerima barang bekas segala. Kayak orang susah aja.”(halamna 46)

Leksia 3 3. “Mungkin karena aku kelihatan Cina banget, jadi santapan empuk bagi mereka semua!Akhirnya dia mau juga mengalah. Tapi you know-lah, UUD gitu,,,ujung-ujungnya duit.”(halaman 54)

Leksia 4 4. “Dasar Cina sialan. Sudah belagu, sok kaya, sok borjuis pula. Itu benar-benar pelecehan kelas berat Ndah!Masa aku dibilang Cina sialan, Bayangkan, padahal aku sudah mau mengalah,kasih duit. Yang menabrak siapa? Yang penyok mobil siapa? Semuanya kan aku yang tanggung.”(halaman 55)

Leksia 5 5. “Waktu aku mau kasih duit, ada lagi yang kasih komentar di belakangku. Dasar Cina pelit, kasih duit selalu sedikit.”(halaman 55)

Leksia 6 6. “Tampang Cina tapi tidak mampu berbahasa Cina, sudah pasti orang Indonesia. Itu sindiran baku yang tersebar dari mulut ke mulut di antara orang-orang Asia.Hanya orang-orang Cina di Indonesia yang gagap berbahasa Cina.” (halaman 86)

Leksia 7 7. “Lagian, kalau aku meletakkan jabatanku sebagai pastor,apakah kamu yakin kita direstui menikah oleh papamu?Dari warna kulit saja kita sudah berbeda, apakah papa dan keluarga besarmu menerimaku?. Antonius Jawa dan Indah Cina”.(halaman 126)

Leksia 8 8. “Banyak akhirnya yang menjadi lebih Indonesia daripada orang Indonesia asli. Tapi mereka tidak dianggap sebagai tuan rumah di Negara kelahiran mereka sendiri.”(halaman 134)

Leksia 9 9. “ Amoy! Ngapain nyanyi keras-keras…lu bukan orang Indonesia…Amoy, am-AAWWW!” (halaman 235)

Leksia 10 10. “ Orang Cina menyukai gunung karena gunung dianggap tempat yang kokoh untuk bersandar” (halaman 341)

Berikut ini adalah kolom yang menjelaskan penggolongan leksia kedalam kode pembacaan menurut Roland Barthes beserta kalimat mana dalam leksia tersebut yang menunjukkan salah satu kode pembacaan, yaitu :

Kode Pembacaan

Leksia Kalimat yang menunjukkan kode

pembacaan pada leksia

Hermeneutic Leksia 4 “Dasar Cina sialan. Sudah belagu, sok kaya, sok borjuis pula. Itu benar-benar pelecehan kelas berat Ndah!Masa aku dibilang Cina sialan, Bayangkan, padahal aku sudah mau mengalah,kasih duit. Yang menabrak siapa? Yang penyok mobil siapa? Semuanya kan aku yang tanggung.”(halaman 55)

Leksia 5 “Waktu aku mau kasih duit, ada lagi yang kasih komentar di belakangku. Dasar Cina pelit, kasih duit selalu sedikit.”(halaman 55)

Indonesia daripada orang Indonesia asli. Tapi mereka tidak dianggap sebagai tuan rumah di Negara kelahiran mereka sendiri.”(halaman 134)

Semik Leksia 3 “Mungkin karena aku kelihatan Cina banget, jadi santapan empuk bagi mereka semua!Akhirnya dia mau juga mengalah. Tapi you know-lah, UUD gitu,,,ujung-ujungnya duit.”(halaman 54)

Leksia 1 “Sudah Cina, transgender pula. Mana yang lebih gawat dari itu?Katanya, orang Cina di Indonesia mempunyai tiket gratis pergi ke neraka karena terlalu tertekan di Negara ini.”(halaman 45)

Leksia 2 “Uuh, Mama juga sih! Kenapa mau nerima barang bekas segala. Kayak orang susah aja.”(halamna 46)

Simbolik Leksia 8 “Banyak akhirnya yang menjadi lebih Indonesia daripada orang Indonesia asli.

Tapi mereka tidak dianggap sebagai tuan rumah di Negara kelahiran mereka sendiri.”(halaman 134)

Leksia 6 “Tampang Cina tapi tidak mampu berbahasa Cina, sudah pasti orang Indonesia. Itu sindiran baku yang tersebar dari mulut ke mulut di antara orang-orang Asia.Hanya orang-orang Cina di Indonesia yang gagap berbahasa Cina.” (halaman 86)

Proaretik Leksia 7 “Lagian, kalau aku meletakkan jabatanku sebagai pastor,apakah kamu yakin kita direstui menikah oleh papamu?Dari warna kulit saja kita sudah berbeda, apakah papa dan keluarga besarmu menerimaku?. Antonius Jawa dan Indah Cina”.(halaman 126)

Leksia 9 “ Amoy! Ngapain nyanyi keras-keras…lu bukan orang Indonesia…Amoy, am-AAWWW!” (halaman 235)

Gnomic Leksia 10 “ Orang Cina menyukai gunung karena gunung dianggap tempat yang kokoh untuk bersandar” (halaman 341)

Leksia 4 “Dasar Cina sialan. Sudah belagu, sok kaya, sok borjuis pula. Itu benar-benar pelecehan kelas berat Ndah!Masa aku dibilang Cina sialan, Bayangkan, padahal aku sudah mau mengalah,kasih duit. Yang menabrak siapa? Yang penyok mobil siapa? Semuanya kan aku yang tanggung.”(halaman 55)

1. Kode Hermeneutik

Leksia 4 ( halaman 55)

“Dasar Cina sialan. Sudah belagu, sok kaya, sok borjuis pula. Itu benar-benar pelecehan kelas berat Ndah!Masa aku dibilang Cina sialan, Bayangkan, padahal aku sudah mau mengalah,kasih duit. Yang menabrak siapa? Yang penyok mobil siapa? Semuanya kan aku yang tanggung.”

Leksia di atas digolongkan dalam kode pembacaan Hermeneutik (Kode teka-teki), sebuah narasi yang dapat mempertajam permasalahan, menciptakan ketegangan misteri dan misteri sebelum memberikan pemecahan atau jawaban. Dari leksia ini menggambarkan sebuah permasalahan yang meruncing, dan terbentuk dari pelabelan diri dari seorang individu terhadap sebuah kelompok. Didalam novel ini salah satu tokoh mendapatkan sebuah

pelecehan etnis. Dimana seharusnya sebagai sesama masyarakat harus saling

menghargai dan menghormati.

Dari leksia diatas kita dapat menyimpulkan dengan adanya stereotype yang muncul di masa lalu hingga kini mengenai bangsa Cina yang memiliki sifat yang sok dan angkuh, menyebabkan timbulnya pandangan asumsi negative. Sehingga mampu menimbulkan tindakan-tindakan seperti pelecehan yang diakibatkan hanya dari sebuah asumsi yang terbentuk dari permasalahan masa lalu yang secara tidak sadar membudaya. Seharusnya sebagai bangsa yang beradab dan bermoral, perbedaan budaya seharusnya dijadikan sebagai kekayaan Negara. Dan sesama warga Negara harus saling menghormati dan menghargai.

PENANDA : “Dasar Cina sialan. Sudah belagu, sok kaya, sok borjuis pula. Itu benar-benar pelecehan kelas berat Ndah!Masa aku dibilang Cina sialan, Bayangkan, padahal aku sudah mau mengalah, kasih duit. Yang menabrak siapa? Yang penyok mobil siapa? Semuanya kan aku yang tanggung.”

PETANDA : menjelaskan pada kata Cina sialan, belagu, sok kaya, sok borjuis. Yang mana Cina atau semua masyarakat Cina dianggap sama yaitu sombong, dan menyusahkan.

TANDA DENOTATIF : terlihat adanya pelabelan atau stereotype pada kelompok Tionghoa.

PENANDA KONOTATIF : Itu benar-benar pelecehan kelas berat Ndah!Masa aku dibilang Cina sialan,

PETANDA KONOTATIF : Pada petanda konotatif ini menjelaskan adanya makna pada kata pelecehan kelas berat. Dimaksud bahwa terjadi tindakan penghinaan yang sangat tidak manusiawi. Dan penghinaan ditujukan pada suatu kelompok bukan individu. TANDA KONOTATIF : Dari leksia ini dapat disimpulkan bahwa stereotype yang dibangun pada pemikiran masyarakat pribumi di Indonesia, mampu mengganggu efektifitas komunikasi. Dengan adanya kepercayaan pada pola pikir membudaya dan salah akan menimbulkan masalah diantara kelompok tersebut.

Leksia 5 (halaman 55)

“Waktu aku mau kasih duit, ada lagi yang kasih komentar di belakangku. Dasar Cina pelit, kasih duit selalu sedikit.”(halaman 55)

Leksia di atas digolongkan dalam kode pembacaan Hermeneutik (kode teka-teki), sebuah narasi yang mempertajam permasalahan, menciptakan ketegangan dan memberikan pemecahan atau jawaban, dalam leksia ini terdapat masalah yang meruncing pada leksia Cina pelit, yang merujuk bahwa semua keturunan Tionghoa memiliki sifat kikir, dengan leksia yang menujukkan adanya stereotype.

Ketidakadilan yang timbul pada leksia ini merupakan isyarat makna. Dimana tokoh dalam novel ini upayanya untuk memberikan uang, justru dilecehkan dengan perkataan yang negative mengenai etnis Cina. Karena adanya stereotype yang ditanamkan mengenai pandangan-pandangan buruk etnis Cina, menyebabkan timbulnya ketidakadilan sosial dalam bermasyarakat. Terutama pada kelompok minoritas. Dan seharusnya tidak terjadi ketidakadilan pada kelompok minoritas di Indonesia. Sesama bangsa yang berbudaya seharusnya saling menghormati meski etnis berbeda.

PENANDA : “Waktu aku mau kasih duit, ada lagi yang kasih komentar di belakangku. Dasar Cina pelit, kasih

PETANDA : Menjelaskan kata pada Cina pelit, kasih duit selalu sedikit. Bahwa masyarakat Cina pada

duit selalu sedikit.” umumnya dianggap sebagai individu yang sedikit memberikan uang untuk orang lain.

TANDA DENOTATIF : Pada leksia ini menjelaskan bahwa semua masyarakat Tionghoa adalah orang-orang yang jarang bersedekah. Selalu sedikit jika memberikan uangnya kepada orang lain.

PENANDA KONOTATIF : “Waktu aku mau kasih duit, ada lagi yang kasih komentar di belakangku.

PETANDA KONOTATIF : mengandung makna bahwa ucapan itu adalah ucapan seseorang yang berasumsi negative terhadap masyarakat Cina.

TANDA KONOTATIF : Bahwa etikat baik dari seorang keturunan Tionghoa dianggap salah sekalipun mereka sudah berusaha untuk berbuat baik. Adanya pandangan dan pemikiran negative mengenai Tionghoa akan berdampak seolah-olah kenyataannya sesuai dengan apa yang ada dalam pemikirinnya.

2. Kode Semik

Leksia 1 (halaman 45)

“Sudah Cina, transgender pula. Mana yang lebih gawat dari itu?Katanya, orang Cina di Indonesia mempunyai tiket gratis pergi ke neraka karena terlalu tertekan di Negara ini.”(halaman 45)

Leksia di atas digolongkan dalam kode pembacaan Semik atau kode konotatif karena kilasan makna dalam narasi ini. Dalam leksia “tertekan di Negara ini”, maksudnya adalah bahwa terjadi masalah-masalah yang

menyebabkan suatu tindakan yang berakibat ketidaknyamanan secara psikis (mental), sehingga merasa tertekan di negaranya sendiri, yang seharusnya memberikan kenyamanan untuk setiap warganya.

PENANDA : “Sudah Cina, transgender pula. Mana yang lebih gawat dari itu?Katanya, orang Cina di Indonesia mempunyai tiket gratis pergi ke neraka karena terlalu tertekan di Negara ini.”

PETANDA : Cina di Indonesia mempunyai tiket gratis pergi ke neraka. Mengartikan banyaknya masalah yang etrajadi pada masyarakat Tionghoa di Indonesia, sehingga seolah-olah mereka berada di neraka.

TANDA DENOTATIF : Pada leksia ini menunjukkan adanya tindakan tindakan yang menjadi sebuah tekanan hidup pada kelompok Tionghoa

PENANDA KONOTATIF : “ orang Cina di Indonesia mempunyai tiket gratis pergi ke neraka”

PETANDA KONOTATIF : tiket gratis ke neraka yang dimaksud adalah tinggal di Indonesia, seolah olah dimknai sama dengan neraka.

TANDA KONOTATIF : Pada leksia ini kilasan makna adanya stereotype yang melekat pada keturunan Tionghoa Indonesia, sehingga banyak terjadi tindakan yang berakibat penyiksaan baik secara lahir maupun batin disadari maupun tidak.

Leksia 2 (halaman 46)

“Uuh, Mama juga sih! Kenapa mau nerima barang bekas segala. Kayak orang susah aja.”(halaman 46)

Leksia di atas digolongkan dalam kode semik atau kode konotatif karena kilasan makna dalam narasi ini. Dalam leksia ini mengandung makna menerima barang bekas adalah orang susah. Sedangkan orang susah adalah orang-orang yang dianggap tidak mampu untuk menhidupi dirinya secara materi.

Dalam hal ini, penulis ingin menunjukkan bahwa keluarga Tionghoa ini, bukan orang susah maupun yang sangat kaya. Akan tetapi, dengan menerima barang dari orang lain, menunjukkan adanya sikap rendah hati dan tidak sombong, seperti stereotype Cina yang selalu dianggap sombong.

PENANDA : “Uuh, Mama juga sih! Kenapa mau nerima barang bekas segala. Kayak orang susah aja.”

PETANDA : Arti kata orang susah disini adalah orang miskin atau orang yang serba kekurangan baik dalam sandang maupun pangan.

TANDA DENOTATIF : Pada leksia ini menunjukkan adanya makna tersirat, bahwa masyarakat Tionghoa pada umumnya adalah masyarakat yang mampu dan berkecukupan.

PENANDA KONOTATIF : “Kenapa mau nerima barang bekas segala”

PETANDA KONOTATIF: bahwa adanya pemikiran mengenai etnis Cina sombong dan sok kaya tidak selalu benar. Mereka masih mau menerima pemberian orang meskipun bekas karena mereka menghargai pemberian

orang.

TANDA KONOTATIF : Pada leksia ini timbul stereotype yang salah, tidak semua orang Cina maupun keturunannya sombong ataupun sok kaya. Pada dasarnya masyarakat Tionghoa pun sama dengan etnis lainnya.

Leksia 3 (halaman 54)

“ Mungkin karena aku kelihatan Cina banget, jadi santapan empuk bagi mereka semua!Akhirnya dia mau juga mengalah. Tapi you know-lah, UUD gitu,,,ujung-ujungnya duit.”(halaman 54)

Leksia di atas digolongkan dalam kode semik atau kode konotatif karena kilasan makna dalam narasi ini. Dalam kata”santapan empuk”, adalah kata yang mengartikan sebuah makanan yang dirasa enak.

Dari leksia diatas dapat disimpulkan bahwa leksia ini mengandung makna yaitu orang Cina sangat mudah mengalami tindak diskriminasi sehingga sering dimanfaatkan oleh masyarakat tak bertanggung jawab. Dengan mudahnya mereka memanfaatkan kelompok minoritas seperti yang dialami salah satu tokh dalam novel ini, untuk mendapatkan uang dengan mencari-cari kesalahan.

PENANDA : “Mungkin karena aku kelihatan Cina banget, jadi santapan

PETANDA : menjelaskan pada makna santapan yang berkaitan dengan sebuah makanan.

empuk bagi mereka semua!Akhirnya dia mau juga mengalah. Tapi you know-lah, UUD gitu,,,ujung-ujungnya duit.”

TANDA DENOTATIF : pada leksia ini menunjukkan adanya tindakan diskriminasi yang timbul karena adanya stereotype yang melekat pada masyarakat mengenai etnis Cina bahwa Cina itu kaya.

PENANDA KONOTATIF : jadi santapan empuk bagi mereka semua

PETANDA KONOTATIF: bahwa adanya latar belakang yang didahuli stereotype Tionghoa, menjadikannya sebagai sasaran tindakan semena-mena.

TANDA KONOTATIF : Adanya makna santapan empuk, dalam hal ini dijelaskan bahwa keturunan Tionghoa di Indonesia, sangat mudah untuk dijadikan sasaran atau target permasalahan yang berujung uang.

3. Kode Simbolik

Leksia 8 (halaman 134)

“Banyak akhirnya yang menjadi lebih Indonesia daripada orang Indonesia asli. Tapi mereka tidak dianggap sebagai tuan rumah di Negara kelahiran mereka sendiri.”(halaman 134)

Leksia di atas digolongkan dalam kode simbolik yaitu kode pengelompokkan” atau konfigurasi yang gampang dikenali karena kemunculannya yang berulang-ulang secara teratur melalui berbagai cara dari sarana tekstual.(Budiman, 2003:56)

Leksia diatas dapat diartikan bahwa tokoh dalam novel ini yaitu kaum Tionghoa, lebih mengerti peranannaya sebagai warga Negara Indonesia dibandingkan warga Negara Indonesia asli (pribumi). Pada pernyataan “Tapi mereka tidak dianggap sebagai tuan rumah di Negara kelahiran mereka sendiri” yang dimaksud mereka adalah kaum Tionghoa yang dilahirkan di Indonesia. Disini dapat dilihat adanya perlakuan pembedaan yang terjadi, sehingga kaum Tionghoa di Indonesia, meski yang lahir di Indonesia statusnya sebagai warga Negara Indonesia kurang diakui secara tidak langsung. Adanya unsur Nasionalisme pada pernyataan tersebut dapat dilihat pada “Banyak akhirnya yang menjadi lebih Indonesia daripada Indonesia asli”.

PENANDA : “Banyak akhirnya yang menjadi lebih Indonesia daripada orang Indonesia asli. Tapi mereka tidak dianggap sebagai tuan rumah di Negara kelahiran mereka sendiri”

PETANDA : Indonesia asli dalam leksia ini adalah warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia dan bukan keturunan dari Negara lain.

TANDA DENOTATIF : pada leksia ini menjelaskan bahwa justru yang lebih mengerti perannya sebagai warga Negara Indonesia adalah kaum Tionghoa yang ada di Indonesia.

PENANDA KONOTATIF : “tapi mereka tidak dianggap sebagai tuan rumah di Negara kelahiran mereka sendiri.”

PETANDA KONOTATIF: bahwa mereka yang dimkaksud adalah keturunan Tionghoa yang dilahirkan di Indonesia dan berwarga Negara syah Indonesia.

TANDA KONOTATIF : Dari leksia diatas dapat disimpulkan bahwa adanya perlakuan berbeda yang dirasakan kaum minoritas Tionghoa di Indonesia, secara langsung maupun tidak. Belum adanya kesetaraan secara merata pada bangsa Indonesia.

Leksia 6 (halaman 86 )

“ Tampang Cina tapi tidak mampu berbahasa Cina, sudah pasti orang Indonesia. Itu sindiran baku yang tersebar dari mulut ke mulut di antara orang-orang Asia. Hanya orang-orang Cina di Indonesia yang gagap berbahasa Cina.” (halaman 86)

Leksia di atas digolongkan dalam kode simbolik yaitu kode pengelompokkan” atau konfigurasi yang gampang dikenali karena kemunculannya yang berulang-ulang secara teratur melalui berbagai cara dari sarana tekstual.(Budiman, 2003:56)

Pada leksia diatas menjelaskan bahwa adanya pemahaman atau pencitraan suatu kelompok yaitu kelompok Tionghoa di Indonesia, yang pada umumnya dianggap tidak bisa berbahasa Cina. Jadi ketika salah satu tokoh disini yang tidak fasih berbahasa Cina, dengan mudah ditebak bahwa dia adalah orang Indonesia di mata mancanegara. Timbulnya pemahaman atau stereotype orang Cina di Indonesia tidak mahir brebahasa Cina, dapat menyebabkan kesenjangan lain dalam komunitas Tionghoa sendiri. Karena bisa dianggap tidak berbudaya.

PENANDA : “Tampang Cina tapi tidak mampu berbahasa Cina, sudah pasti orang Indonesia. Itu sindiran baku yang tersebar dari mulut ke mulut di antara orang-orang Asia. Hanya orang-orang Cina di Indonesia yang gagap berbahasa Cina.”

PETANDA : gagap mengandung arti tidak lancar berkomunikasi atau berbicara.

TANDA DENOTATIF : pada leksia ini menjelaskan bahwa adanya stereotype yang timbul mengenai keturunan Tionghoa-Indonesia dalam pandangan mancanegara, bahwa orang hanya Cina Indonesia tidak fasih berbahasa Cina. PENANDA KONOTATIF : “Hanya

orang-orang Cina di Indonesia yang gagap berbahasa Cina.”

PETANDA KONOTATIF: bahwa di mata dunia orang Cina yang ada di Indonesia suadah pasti tidak mahir berbahasa Cina

kesenjangan di kalangan kaum Tionghoa itu sendiri, karena akan menimbulkan pemikiran lain yang beranggapa orang-orang Cina yang lahir di Indonesia tidak mengenal dengan baik budaya Cina (budaya asli keturunan Tionghoa).

4. Kode Proaretik

Leksia 7 (halaman 126)

“Lagian, kalau aku meletakkan jabatanku sebagai pastor,apakah kamu yakin kita direstui menikah oleh papamu?Dari warna kulit saja kita sudah berbeda, apakah papa dan keluarga besarmu menerimaku?. Antonius Jawa dan Indah Cina”.(halaman 126)

Leksia diatas digolongkan kedalam kode pembacaan proaretik atau kode narasi yang merupakan kode “tindakan” (action). Kode ini didasarkan atas konsep “kemampuan untuk menentukan hasil atau akibat dari suatu tindakan secara rasional yang mengaplikasikan logika manusia.

Dari pernyataan diatas, dapat diketahui bahwa pernyataan itu menuai sebuah dampak maupun tindakan-tindakan yang diakibatkan oleh sebuah pemikiran yang salah. Faktor-faktor itu muncul menurut logika pelaku pada etnis dan ras yang jauh berbeda, tidak boleh saling mencintai. Terutama yang terjadi pada wanita kaum Tionghoa yang mencintai pria jawa ataupun sebaliknya, hal inipun menjadi budaya dalam pola pikir masyarakat. Dapat

disimpulkan bahwa adanya stereotype yang timbul pada individu etnis Jawa dan individu Cina. Yang dilihat dari faktor pada masa Orde Baru, etnis Jawa dan etnis Cina yang selalu bermasalah, dibudayakannya asumsi hingga kini, bahwa Cina dan Jawa sulit bersatu.

Leksia 9 (halaman 235)

“ Amoy! Ngapain nyanyi keras-keras…lu bukan orang Indonesia…Amoy, am-AAWWW!” (halaman 235)

Leksia di atas digolongkan dalam kode pembacaan proaretik atau kode narasi yang merupakan kode “tindakan” (action). Kode ini didasarkan atas konsep “kemampuan untuk menentukan hasil atau akibat dari suatu tindakan secara rasional yang mengaplikasikan logika manusia”

Dari pernyataan di atas, dapat dilihat bahwa tokoh dalam novel ini mendapatkan penghinaan. Kaum Tionghoa di Indonesia tidak dianggap sebagai orang Indonesia meski dirinya hanya seorang keturunan. Semestinya sebagai sebuah bangsa yang berbudaya, kita harus saling menghormati dan menghargai sesama. Selain itu, sebagai sebuah bangsa yang menjaga kerukunannya, tidak sepantasnya perbedaan menjadi sebuah jurang kesetaraan sosial.

PENANDA : “Amoy! Ngapain nyanyi keras-keras…lu bukan orang Indonesia…Amoy, am-AAWWW!”

PETANDA : amoy sebutan yang ditujukan pada keturunan Tionghoa.

TANDA DENOTATIF : pada leksia ini menjelaskan bahwa adanya anggapan bahwa orang-orang tionghoa di Indonesia buka warga Negara Indonesia.

PENANDA KONOTATIF : “lu bukan orang Indonesia”

PETANDA KONOTATIF: bahwa secara tidak langsung terjadi pelecehan yang ditujukan pada kaum Tionghoa TANDA KONOTATIF : dari leksia diatas dapat disimpulkan bahwa kaum Tionghoa di Indonesia sering mendapatkan pelecehan baik secara verbal maupun non verbal. Ketidakberdayaan kaum minoritas sering dijadikan peluang bagi orang-orang tak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan-tindakan semena-mena. Terutama apa yang terjadi pada keturunan Tionghoa.

5. Kode Gnomic

Leksia 10 (halaman 341)

“ Orang Cina menyukai gunung karena gunung dianggap tempat yang kokoh untuk bersandar” (halaman 341)

Leksia di atas digolongkan kedalam kode pembacaan Gnomic(kode kultural) yang berwujud sebagai semacam suara kolektif yang anonym dan otoritatif, bersumber dari pengalaman manusia yang mewakili atau berbicara tentang sesuatu yang hendak dikukuhkannya sebagai pengetahuan atau kearifan (wisdom) yang terus menerus dirujuk oleh teks atau menyediakan

semacam dasar autoritas moral dan ilmiah bagi suatu wacana. Biasanya orang mengindikasikan tipe pengetahuan (fisika, fisiologi, psikologi, sejarah, dan lain-lain)mengacu atau merekonstruksi budaya yang mereka ekspresikan.

Pengkodifikasian ini mengacu pada kata “Orang Cina menyukai gunung”, hal ini pula terbentuk dari stereotype Cina. Namun, pemikiran ini terbentuk dari sebuah budaya yang melekat pada Cina. Bahwa masyarakat Tionghoa, sangat suka mengkaitkan apa yang terjadi di dalam kehidupan dengan segala sesuatu yang ada di alam. Semua yang ada di dunia ini memiliki makna dan perhitungan tersendiri menurut budaya Cina. Dan gunung dalam budaya Cina dianggap sebagai tempat yang kokoh dan teduh. Sehingga sangat bagus bila dijadikan sebagai tempat peristirahatan terakhir.

Leksia 4 (halaman 55)

“Dasar Cina sialan. Sudah belagu, sok kaya, sok borjuis pula. Itu benar-benar pelecehan kelas berat Ndah!Masa aku dibilang Cina sialan, Bayangkan, padahal aku sudah mau mengalah,kasih duit. Yang menabrak

Dokumen terkait