BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Penyajian dan analisis data
4.2.2 Hasil analisis data
Berikut ini adalah kolom yang m enjelaskan kalim at dalam leksia yang m enunjukan adanya perilaku Seks bebas, selengkapnya sebagai berikut :
Leksia Kalimat yang Menunjukkan Adanya perilaku seks bebas
Leksia 1 Aku lupa siapa yang pertama kali mengulum bibirku
Leksia 2 Aku lupa lelaki mana yang pertama kali melihat telanjang dadaku, juga dua payudara ku. Entah siapa pula orang pertama yang berhasil menggigit halus dua gunung sintal dadaku ini
Leksia 3 Aku lupa karena terlalu cukup banyak lelaki yang menyinggahi dermaga tubuhku, menikmati ranum buah dadaku
Leksia 4 Seandainya Amar ada di dekatku, dan selalu di dekatku, mungkin ia lelaki pertama yang menggerayangi keluasan tubuhku
Leksia 5 Entah siapa persisnya. Aku lupa. Karena terlalu banyak. Telah terlalu banyak lelaki.
Leksia 6 Ya, aku mulai mengenal sebuah persetubuhan antar manusia, bercinta, bersetubuh, berzina
Leksia 7 Di beberapa kota yang ku kunjungi, aku menjalin hubungan dengan para lelaki yang aku kenal. Yang aku anggap menarik
Leksia 8 Aku bersetubuh dengan para lelakiku, banyak lelaki, terlalu banyak
Leksia 9 Aku selalu merindukan sebuah sentuhan percintaan dengan para lelaki ku
Leksia 10 Terlalu banyak lelaki yang menjelajahi lekuk tubuhku.
Leksia 11 Di sela-sela keliaran lelaki ini menjelajahi tubuhku yang telanjang. Ia tampak senang mendengar eranganku.
Leksia 12 Tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dari semua percintaanku. Ranjang ini, malam ini, seolah menjelma piring lebar yang menampung tubuhku
Leksia 13 Malam berbeda, lelaki berbeda
Leksia 15 Setiap lelaki yang hadir adalah cenderamata bagi perjalananku, petualanganku, mereka adalah kenangan
Leksia 16 Bukan malam kemarin, bukan lelaki kemarin
Leksia 17 Semisal lukisan yang terlahir dari sela-sela jemari ini, penuh warna. Perjalananku tak hanya dengan satu dua lelaki…
Leksia 18 Dengan lelaki kesekian. Entah keberapa, aku tak ingat, kupikir rak perlu diingat
Leksia 19 Ah, sebegitu pentingkah keperawanan seorang perempuan? Begitu pentingkah selaput dara? Apa bedanya perawan dan tidak perawan?
Leksia 20 Buktinya para lelaki yang telah tidur dan bergumul denganku, tidak ada yang protes tentang diriku yang sudah tidak perawan
Leksia 21 Kamu tak pernah tahu apakah untuk menikah, para lelaki itu memang tidak mempersoalkan sebuah keperawanan dari calon istrinya. Kalian hanya bersenang-senang, Swastika. Bukan menikah
laki-laki
Leksia 23 Aku suka bercinta. Dengan laki.laki
Leksia 24 Seperti yang kurasakan ketika bercinta dengan para lelaki-lelaki ku. Apa yang akan ‘memasuki’ ku ?
Leksia 25 Bahwa aku bercinta demi membuang kelesbianan ku. Meski lama kelamaan aku juga menjadi seperti ketagihan. Untuk bercinta dan bercinta lagi. Lagi dan lagi
Leksia 26 Sila, aku telah begitu terlena dengan dunia ciptaan ku sendiri. Dunia kebebasan. Dimana aku bias bercinta, mabuk, merokok, memuji dan memaki
Leksia 27 Aku suka lelaki yang kuat. Yang bisa mengalahkan ku di tempat tidur. Tapi, aku bukan pelacur. Apalagi perempuan sundal.
Leksia 28 Aku masih suka bercinta. Tapi, aku hanya melakukannya dengan lelaki yang pernah bercinta denganku sebelum ini
Leksia 29 Kalau aku jadi begini, suka ‘bermain’ dengan beberapa lelaki, itu karena aku tak mau jadi lesbian
Leksia 30 Kalau boleh jujur, aku malah mencintai salah dua dari lelaki yang pernah tidur denganku. Tapi mungkin itu karena hasrat. Dan, aku terlanjur menyukai permainan mereka di atas tempat tidur
Leksia 31 Lagi pula, aku tak pernah bermaksud menjadikan salah satu dari lelaki yang pernah tidur denganku itu, menjalin hubungan serius denganku.
Berikut adalah kolom yang menjelaskan penggolongan leksia dalam kode pembacaan menurut Roland Barthes, beserta kalimat mana dalam leksia tersebut yang menunjukan salah satu kode pembacaan sebagai berikut:
Kode Pembacaan Leksia Kalimat yang menunjukkan kode
pembacaan pada leksia
Kode proaretik Leksia 4 Seandainya Amar ada di dekatku, dan selalu di dekatku, mungkin ia lelaki pertama yang menggerayangi keluasan tubuhku
Leksia 5 Entah siapa persisnya. Aku lupa. Karena terlalu banyak. Telah terlalu banyak lelaki.
Leksia 6 Ya, aku mulai mengenal sebuah persetubuhan antar manusia, bercinta, bersetubuh, berzina
Leksia 8 Aku bersetubuh dengan para lelakiku, banyak lelaki, terlalu banyak
Leksia 12 Aku selalu merindukan sebuah sentuhan percintaan dengan para lelaki ku
Leksia 11 Di sela-sela keliaran lelaki ini menjelajahi tubuhku yang telanjang. Ia tampak senang mendengar eranganku. (hal 86)
Leksia 20 Dengan lelaki kesekian. Entah keberapa, aku tak ingat, kupikir rak perlu diingat
Leksia 21 Aku hanya ingin mencintai dan bercinta dengan laki-laki
Leksia 22 Aku suka bercinta. Dengan laki.laki
Leksia 23 Bahwa aku bercinta demi membuang kelesbianan ku. Meski lama kelamaan aku juga menjadi seperti ketagihan. Untuk bercinta dan bercinta lagi. Lagi dan lagi.
Leksia 25 Sila, aku telah begitu terlena dengan dunia ciptaan ku sendiri. Dunia kebebasan. Dimana aku bias bercinta, mabuk, merokok, memuji dan memaki.
Leksia 31 Lagi pula, aku tak pernah bermaksud menjadikan salah satu dari lelaki yang pernah tidur denganku itu, menjalin hubungan serius denganku.
Kode Semik Leksia 1 Aku lupa siapa yang pertama kali mengulum bibirku
kali melihat telanjang dadaku, juga dua payudara ku. Entah siapa pula orang pertama yang berhasil menggigit halus dua gunung sintal dadaku ini
Leksia 3 Aku lupa karena terlalu cukup banyak lelaki yang menyinggahi dermaga tubuhku, menikmati ranum buah dadaku
Leksia 13 Terlalu banyak lelaki yang menjelajahi lekuk tubuhku
Leksia 9 Tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dari semua percintaanku. Ranjang ini, malam ini, seolah menjelma piring lebar yang menampung tubuhku.
Leksia 15 Setiap lelaki yang hadir adalah cenderamata bagi perjalananku, petualanganku, mereka adalah kenangan
Leksia 24 Seperti yang kurasakan ketika bercinta dengan para lelaki-lelaki ku. Apa yang
akan ‘memasuki’ ku ?
Leksia 31 Kalau aku jadi begini, suka ‘bermain’ dengan beberapa lelaki, itu karena aku tak mau jadi lesbian (hal 158)
Leksia 26 Aku suka lelaki yang kuat. Yang bisa mengalahkan ku di tempat tidur. Tapi, aku bukan pelacur. Apalagi perempuan sundal.
Kode Hermeneutik Leksia 5 Di beberapa kota yang ku kunjungi, aku menjalin hubungan dengan para lelaki yang aku kenal. Yang aku anggap menarik
Leksia 12 Malam berbeda, lelaki berbeda
Leksia 13 Lelaki baru ,Kuinginkan pengalaman baru
Leksia 11 Bukan malam kemarin, bukan lelaki kemarin
Leksia 28 Aku masih suka bercinta. Tapi, aku hanya melakukannya dengan lelaki yang pernah bercinta denganku sebelum ini
Leksia 16 Ah, sebegitu pentingkah keperawanan seorang perempuan? Begitu pentingkah selaput dara? Apa bedanya perawan dan tidak perawan?
Leksia 17 Buktinya para lelaki yang telah tidur dan bergumul denganku, tidak ada yang protes tentang diriku yang sudah tidak perawan
Leksia 18 Kamu tak pernah tahu apakah untuk menikah, para lelaki itu memang tidak mempersoalkan sebuah keperawanan dari calon istrinya. Kalian hanya bersenang-senang, Swastika. Bukan menikah.
Leksia 30 Kalau boleh jujur, aku malah mencintai salah dua dari lelaki yang
pernah tidur denganku. Tapi mungkin itu karena hasrat. Dan, aku terlanjur menyukai permainan mereka di atas tempat tidur
Kode Simbolik Leksia 14 Semisal lukisan yang terlahir dari sela-sela jemari ini, penuh warna. Perjalananku tak hanya dengan satu dua lelaki
Berikut ini adalah analisa data terhadap leksia – leksia yang telah dipaparkan diatas, yaitu:
1. Kode Proaretik
Leksia 4 (halaman 62)
Seandainya Amar ada di dekatku, dan selalu di dekatku, mungkin ia lelaki pertama yang menggerayangi keluasan tubuhku
Penanda :
Teks pada kalimat “Seandainya Amar ada di dekatku, dan selalu di dekatku, mungkin ia lelaki pertama
Petanda:
Pada kata menggerayangi keluasan tubuh mempunyai arti Menyentuh, meraba tubuhnya
yang menggerayangi keluasan tubuhku”
Tanda Denotatif:
Bentuk penggambaran keinginan yang muncul dalam dirinya yang ingin berada di dekat kekasihnya.
Penanda Konotatif :
mungkin ia lelaki pertama yang menggerayangi keluasan tubuhku”
Petanda Konotatif :
Makna lelaki pertama adalah lelaki yang pertama kali akan berhubungan intim dengannya.
Tanda Konotatif:
Makna lelaki pertama adalah lelaki yang pertama kali akan berhubungan intim dengannya.
Dari leksia yang terdapat pada peta diatas, digolongkan kedalam kode pembacaan proaretik atau kode tindakan (action) / lakuan yang dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang ( Sobur, 2004 : 66)
Dari leksia diatas dapat diketahui bahwa perilaku seks bebas ditunjukan dalam kalimat “Seandainya Amar ada di dekatku, dan selalu di dekatku, mungkin ia lelaki pertama yang menggerayangi keluasan tubuhku”
Leksia ini menunjukan bahwa Swastika menginginkan kekasihnya ada di dekatnya, bersamanya dan mungkin akan menjadi lelaki yang pertama kali berhubungan badan dengannya jika benar-benar Kekasihnya ada di dekatnya.
Leksia 5 (halaman 63)
Entah siapa persisnya. Aku lupa. Karena terlalu banyak. Telah terlalu banyak lelaki.
Penanda:
Teks pada kalimat “Entah siapa persisnya. Aku lupa. Karena terlalu banyak. Telah terlalu banyak lelaki.
Petanda:
Pada kalimat bersetubuh dengan banyak lelaki memiliki arti melakukan hubungan intim dengan bayak lelaki
Tanda Denotatif:
Gambaran bahwa Swastika bercinta dengan banyak lelaki, berhubungan badan dengan banyak lelaki
Penanda Konotatif:
Menyadari bahwa kehidupannya diwarnai dengan berhubungan dengan banyak lelaki.
Petanda Konotatif:
Banyak lelaki memiliki arti sudah melakukan hubungan seksual dengan lebih dari 2 orang
Tanda Konotatif:
tidak ada penyesalan meskipun telah berhubungan badan dengan banyak lelaki
Dari leksia yang terdapat pada peta diatas, digolongkan kedalam kode pembacaan proaretik atau kode tindakan (action)/ lakuan yang dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang
Dari leksia diatas, dapat diketahui perilaku seks bebas yang ditunjukan dalam kalimat “Aku bersetubuh dengan para lelakiku, banyak lelaki, terlalu banyak” kata- kata tersebut merupakan sebuah tindakan dimana sudah melakukan hubungan badan dengan banyak lelaki, sehingga untuk mengingat berapa banyaknya saja akan kesulitan
Leksia ini dapat diartikan bahwa tokoh utama sudah terjebak di perilaku seks bebas. Dimana sudah berhubungan badan dengan benyak lelaki, terlalu banyak malah sehingga dia sendiri lupa lelaki mana yang pertama kali melakukan hubungan badan dengannya
Leksia 6 (halaman 68)
“Ya, aku mulai mengenal sebuah persetubuhan antar manusia, bercinta, bersetubuh, berzina”
Penanda :
Teks pada kalimat “Ya, aku mulai
mengenal sebuah persetubuhan antar manusia, bercinta, bersetubuh, berzina
Pada kata-kata mengenal persetubuhan antar manusia adalah ketika melakukan hubungan badan dengan laki-laki tanpa ikatan pernikahan
Tanda Denotatif:
Mulai mengenal apa itu yang dianggap kehidupan seks bebas, apa itu berzina dengan laki-laki yang btidak terikat sebuah pernikahan dengannya
Penanda Konotatif :
Ya, aku mulai mengenal sebuah persetubuhan antar manusia,
Petanda Konotatif :
Makna kata persetubuhan antar manusia adalah ketika melakukan hubungan badan dengan laki-laki dan perempuan
Tanda Konotatif:
Makna kata persetubuhan antar manusia, perzinahan adalah ketika terjadi perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat hubungan pernikahan
Dari leksia yang terdapat pada peta diatas, digolongkan kedalam kode pembacaan proaretik atau kode tindakan (action) / lakuan yang dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang ( Sobur, 2004 : 66)
Dari leksia diatas dapat diketahui bahwa perilaku seks bebas ditunjukan dalam kalimat “Ya, aku mulai mengenal sebuah persetubuhan antar manusia,
bercinta, bersetubuh, berzina”. Kata tersebut adalah tindakan-tindakan yang membuahkan dampak-dampak, dan masing-masing dampak memiliki nama generik tersendiri, yaitu mulai mengenal persetubuhan antar manusia yang diamksud adalah perbuatan bersenggama dengan pasangan nya yang tidak terikat dalam sebuah pernikahan.
Leksia ini menunjukan bahwa Swastika menyadari bahwa perilakunya di sebut perzinahan. Dimana dia terjerumus di kehidupan pemuja kebebasan termasuk kehidupan seks bebas yang dilarang oleh agama manapun sehingga dia sendiri menyebutnya sebagai sebuah perzinahan.
Leksia 8 (halaman 71)
“Aku bersetubuh dengan para lelakiku, banyak lelaki, terlalu banyak”
Penanda:
Teks pada kalimat “Aku bersetubuh dengan para lelakiku, banyak lelaki, terlalu banyak
Petanda:
Pada kalimat bersetubuh dengan banyak lelaki memiliki arti melakukan hubungan intim dengan bayak lelaki
Tanda Denotatif:
Gambaran bahwa Swastika bercinta dengan banyak lelaki, berhubungan badan dengan banyak lelaki
Penanda Konotatif:
Menyadari bahwa kehidupannya diwarnai dengan berhubungan dengan banyak lelaki.
Petanda Konotatif:
Banyak lelaki memiliki arti sudah melakukan hubungan seksual dengan lebih dari 2 orang
Tanda Konotatif:
Menyadari bahwa dirinya terjebak di perilaku seks bebas, dimana dirinya tidak ada penyesalan meskipun telah berhubungan badan dengan banyak lelaki
Dari leksia yang terdapat pada peta diatas, digolongkan kedalam kode pembacaan proaretik atau kode tindakan (action)/ lakuan yang dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang
Dari leksia diatas, dapat diketahui perilaku seks bebas yang ditunjukan dalam kalimat “Aku bersetubuh dengan para lelakiku, banyak lelaki, terlalu banyak” kata- kata tersebut merupakan sebuah tindakan dimana sudah melakukan hubungan badan dengan banyak lelaki, sehingga untuk mengingat berapa banyaknya saja akan kesulitan
Leksia ini dapat diartikan bahwa tokoh utama sudah terjebak di perilaku seks bebas. Dimana sudah berhubungan badan dengan benyak lelaki, terlalu banyak malah sehingga dia sendiri lupa lelaki mana yang pertama kali melakukan hubungan badan dengannya
Leksia 9 (halaman 74)
“Aku selalu merindukan sebuah percintaan, dengan para lelakiku”
Penanda :
Teks pada kalimat “Aku selalu merindukan sebuah percintaan, dengan para lelakiku”
Petanda:
Pada kalimat “…merindukan sebuah percintaan memiliki arti bahwa hubungan yang dijalani tidak berdasar pada cinta dan persaan, hanya berdasarkan hasrat seksual semata
Tanda Denotatif
Leksia ini mempunyai arti Merindukan munculnya perasaan cinta setiap berhubungan dengan lelaki-lelakinya
Penanda Konotatif:
Hubungan selama ini hanya berdasar suka sama suka, jika berhubungan dengan lelaki-lelakinya. Tidak ada perasaan cinta
Petanda Konotatif:
Merindukan adanya perasaan cinta dalam berhubungan dengan lelaki-lelakinya
Tanda Konotatif:
Dalam leksia ini mempunyai arti Merindukan adanya perasaan cinta dalam berhubungan dengan lelaki-lelakinya. Bukan sekedar suka sama suka kemudian berganti pasangan di keesokan harinya.
Dari leksia yang terdapat pada peta diatas, digolongkan kedalam kode pembacaan proaretik atau kode narasi yang merupakan kode tindakan (action) / lakuan yang dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang.
Kode proaretik ditunjukan pada kalimat “Aku selalu merindukan sebuah percintaan, dengan para lelakiku” Leksia ini dapat di artikan bahwa sebenarnya tokoh utama menginginkan tumbuhnya perasaan cinta dalam berhubungan dengan lelaki-lelaki ada di hidupnya. Bukan hanya berdasar nafsu semata, tetapi melibatkan hati dan perasaan.
Leksia 16 (halaman 99)
“Dengan lelaki kesekian. Entah keberapa, aku tak ingat, kupikir, tak perlu diingat”
Penanda:
Teks pada kalimat “Dengan lelaki kesekian. Entah keberapa, aku tak ingat, kupikir, tak perlu diingat”
Petanda:
“Dengan lelaki kesekian…” mempunyai arti, sudah tidak terhitung jumlah lelaki yang sudah berhubungan seksual denganya
Tanda Denotatif :
Terlihat adanya perilaku seks bebas dalam leksia ini bahwa Tidak mengingat lelaki keberapa yang berhubungan dengannya, dan juga tidak
mau mengingatnya. Penanda Konotatif :
Tindakan untuk mendapat kepuasan dalam berhubungan dengan melakukan hubungan
Petanda Konotatif:
Perilaku seks bebas adalah tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual
Tanda Konotatif:
Dari leksia ini dapat diartikan bahwa Karena terlalu banyaknya lelaki yang hadir di kehidupan, maka dia lupa lelaki kebarapa yang sedang berhubungan dengannya, dan menandakan dia lupa juga sudah berapa kali berhubungan dengan lelaki di kehidupannya.
Leksia diatas digolongkan ke dalam kode pembacaan proaretik atau kode narasi yang merupakan kode tindakan (action) / lakuan yang dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang
Dari leksia diatas, dapat diketahui bahwa perilaku seks bebas di tunjukan dalam kalimat “Dengan lelaki kesekian, entah keberapa, aku tak ingat, kupikir tak perlu diingat”
Leksia ini dapat diketahui bahwa terdapat suatu pernyataan dalam hidup Swastika yang bahwa saat ini sudah lelaki kesekian yang berhubungan badan dengannya. Dan Swastika sendiri lupa lelaki keberapa yang ada dengannya saat ini, lagi pula menurutnya tak perlu juga diingat siapa atau lelaki keberapa yang ada dengannya saat ini.
Leksia 22 (halaman 146)
“Aku hanya ingin mencintai dan bercinta dengan laki-laki” Penanda:
Teks pada kalimat “Aku hanya ingin mencintai dan bercinta dengan laki-laki”
Petanda:
Pada kalimat “ ….hanya ingin bercinta dengan laki-laki” mempunyai arti betapa perasaan ingin berhubungan seksual dengan laki-laki sangat tinggi menguasai perasaannya
Tanda denotatif:
Pada leksia ini ada Pernyataan yang menjelaskan bahwa bagaimana dirinya hanya ingin bercinta dan mencintai lelaki sudah sangat menggebu dan memenuhi otak dan perasaannya.
Penanda konotatif:
Pernyataan bahwa hanya ingin mencintai dan bercinta hanya sengan lelaki
Petanda Konotatif:
Bentuk tindakan pengekspresian diri yang hanya ingin mencintai dan bercinta dengan laki-laki
Tanda Konotatif:
Bahwa dirinya hanya ingin bercinta dan mencintai lelaki, karena menyadari orientasi seksualnya yang ternyata mulai menyukai sesama jenis
Leksia diatas digolongkan ke dalam kode pembacaan proaretik atau kode narasi yang merupakan kode tindakan (action) / lakuan yang dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang
Leksia diatas terdapat sebuah tindakan dari tokoh dalam novel ini yang ditunjukkan oleh tokoh utama yaitu hanya ingin mencintai dan bercinta dengan lelaki.
Dari leksia diatas dapat diketahui perilaku seks bebas ditunjukkan dalam kalimat “……bercinta dengan laki-laki” yang berarti tokoh utama novel hanya ingin bercinta atau melakukan hubungan seksual hanya dengan lelaki saja.
Leksia 23 (halaman 147)
“Aku suka bercinta. Dengan laki-laki” Penanda :
Teks pada kalimat “Aku suka bercinta. Dengan laki-laki”
Petanda:
Kata “suka bercinta,,” mempunyai arti menikmati pada saat melakukan hubungan seksual dengan laki-laki Tanda Denotatif:
Mempunyai makna bahwa dirinya suka jika bercinta dengan lelaki Penanda Konotatif:
Aku suka bercinta. Dengan laki-laki”
Petanda Konotatif:
Kata “suka bercinta,,” mempunyai arti menikmati pada saat melakukan
hubungan seksual dengan laki-laki Tanda Konotatif:
Leksia ini dapat diartikan Bentuk peryataan bahwa dirinya suka bercinta dan menikmati ketika berhubungan seksual dengan laki-laki
Leksia diatas digolongkan ke dalam kode pembacaan proaretik atau kode narasi yang merupakan kode tindakan (action) / lakuan yang dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang.
Dari leksia diatas dapat diketahui perilaku seks bebas ditunjukkan dalam kalimat “Aku suka bercinta. Dengan laki-laki” yang berarti Tokoh utama novel membuat peryataan bahwa dirinya menyukai dan menikmati ketika bercinta ketika berhubungan seksual dengan laki-laki.
Leksia 25 (halaman 148)
“Bahwa aku bercinta demi membuang kelesbianan ku. Meski lama kelamaan aku juga menjadi seperti ketagihan. Untuk bercinta dan bercinta lagi. Lagi dan lagi.”
Penanda :
Teks pada kalimat “Bahwa aku bercinta demi membuang kelesbianan ku. Meski lama
Petanda:
“…Bercinta demi membuang kelesbianan ku” mempunyai arti bahwa sebenarnya inti dari bercinta dengan banyak laki-laki hanya agar tidak diketahui bahwa dirinya
kelamaan aku juga menjadi seperti ketagihan. Untuk bercinta dan bercinta lagi. Lagi dan lagi.”
sebenarnya adalah seorang lesbi (wanita penyuka sesama jenis)
Tanda Denotatif:
Leksia ini menjelaskan bahwa alasan kenapa dirinya masuk ke dunia seks bebas
Penanda Konotatif:
Meski lama kelamaan aku juga menjadi seperti ketagihan. Untuk bercinta dan bercinta lagi. Lagi dan lagi.”
Petanda Konotatif:
Ketagihan mempunyai arti ingin terus-menerus, merasa sangat ingin karena sudah menjadi kebiasaan
Tanda Konotatif:
Bahwa sebenarnya hanya ingin menghindari perasaan suka yang tidak wajar, sampai akhirnya terjebak den terus menerus inging bercinta dengan lelaki, karena sudah menjadi sebuah bentuk kebiasaan.
Leksia diatas digolongkan ke dalam kode pembacaan proaretik atau kode narasi yang merupakan kode tindakan (action) / lakuan yang dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang.
Dari leksia diatas dapat diketahui perilaku seks bebas ditunjukkan dalam kalimat “Bahwa aku bercinta demi membuang kelesbianan ku. Meski lama kelamaan aku juga menjadi seperti ketagihan. Untuk bercinta dan bercinta lagi. Lagi dan lagi.”
Dari kalimat “…bercinta demi membuang kelesbianan ku.” Di ketahui bahwa alasan dasar dari tokoh utama novel berhubungan seksual dengan banyak laki-laki karena ingin mengingkari perasaan lesbi (wanita yang menyukai sesame jenis) yang muncul di dirinya. Yang awalnya hanya ingin menghindari perasaan suka yang tidak wajar, sampai akhirnya terjebak den terus menerus inging bercinta dengan lelaki, karena sudah menjadi sebuah bentuk kebiasaan.
Leksia 26 (halaman 149)
“Sila, aku telah begitu terlena dengan dunia ciptaan ku sendiri. Dunia kebebasan. Dimana aku bisa bercinta, mabuk, merokok, memuji dan memaki.”
Penanda :
Teks pada kalimat “Sila, aku telah begitu terlena dengan dunia ciptaan ku sendiri. Dunia kebebasan. Dimana aku bisa bercinta, mabuk,
Petanda:
Kata “terlena” mempunyai arti terlalu menikmati sehingga semakin terjerumus ke dalam dunia