BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dalam penelitian ini untuk merumuskan dan
menginterpretasikan hasil penelitian berupa identitas responden dan distribusi
jawaban terhadap masing-masing variabel.
4.2.1 Karakteristik Responden
Berikut ini adalah tabulasi mengenai karakteristik responden yang
berjumlah 98 orang, di distribusikan sebagai berikut :
1) Deskripsi profil responden berdasarkan jenis kelamin (gender)
Tabel 4.9
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Presentase
Laki - Laki 67 68%
Perempuan 31 32%
T O T A L 98 100%
77 Pada Tabel 4.7 menunjukkan bahwa karyawan yang bekerja pada PT.
Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Medan didominasi oleh karyawan laki-laki jika
dibandingkan dengan karyawan yang berjenis kelamin perempuan dengan
presentase laki-laki sebesar 68%, dan Perempuan sebesar 32%. Hal ini
dikarenakan PT. Tigaraksa Satria bergerak di bidang penjualan dan distribusi,
pekerjaannya lebih banyak dilakukan di lapangan dan membutuhkan tenaga kerja
yang kuat dan cekatan untuk bekerja sehingga perudahaan lebih mempercayakan
pekerjaan tersebut untuk karyawan laki-laki, sedangkan untuk karyawan
perempuan biasanya menduduki posisi sebagai admin atau HRD yang bekerja di
kantor.
2) Deskripsi profil responden menurut usia responden
Tabel 4.10
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Presentase
20 – 30 Tahun 38 39%
31 – 40 Tahun 35 36%
41 – 50 Tahun 17 18%
51 Tahun Keatas 8 7%
T O T A L 98 100%
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Pada Tabel 4.8 menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah berusia 20 - 30 Tahun dengan presentase sebesar 39%, sehingga dapat disimpulkan bahwa karyawan yang bekerja pada PT. Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Medan rata-rata berumur antara 21 – 30 tahun. Usia 21-30 Tahun adalah usia produktif , ini menunjukkan bahwa PT. Tigaraksa mengutamakan karyawan berusia produktif untuk bekerja di perusahaan, karena pada
usia ini kinerja karyawan masih optimal dan masih memiliki semangat yang tinggi
dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Selain itu karakteristik
78 bersifat fisik sehingga dibutuhkan orang-orang yang masih memiliki kemampuan
fisik yang baik dan stamina yang bagus untuk menunjang kegiatan perusahaan.
3) Deskripsi Profil Responden berdasarkan Status
Tabel 4.11
Karakteristik Responden Berdasarkan Status
Status Jumlah Presentase
Menikah 74 75%
Belum Menikah 24 25%
T O T A L 98 100%
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Pada Tabel 4.9 menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah Menikah
dengan presentase sebesar 75%, dan Belum Menikah dengan persentase sebesar
25%. Karakteristik responden berdasarkan status pernikahan ini menunjukkan
bahwa rata-rata para pegawai PT. Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Medan telah
berstatuskan menikah, hal ini menggambarkan bahwa rata-rata pegawai merasa
bahwa gaji yang diterima dari perusahaan cukup untuk membina rumah tangga
dengan pasangannya. Hal ini sejalan juga dengan tingginya insentif yang
diberikan perusahaan apabila seorang karyawan berhasil mencapai target-target
yang telah ditetapkan yang sesuai dengan kinerja masing-masing karyawan,
dengan begitu mereka merasa bahwa penghasilan dari bekerja cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
4) Deskripsi Profil Responden berdasarkan Jenjang Pendidikan
Tabel 4.12
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan Jumlah Presentase
SMA 3 3%
D-III 18 18%
S-1 67 68%
S-2 10 11%
T O T A L 98 100%
79 Pada Tabel 4.10 menunjukkan bahwa mayoritas pendidikan responden
adalah S-1 dengan presentase sebesar 68%, Karakteristik responden berdasarkan
tingkat pendidikan ini menunjukkan bahwa karyawan yang bekerja pada PT.
Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Medan adalah orang-orang yang memiliki
pendidikan tinggi. Hal ini berhubungan dengan kebijakan perusahaan bahwa
syarat pendidikan dalam penerimaan karyawan diutamakan sarjana (S1). Latar
belakang pendidikan yang baik masih menjadi tolok ukur perusahaan dalam
penerimaan dan penempatan karyawan pada pekerjaan yang dibutuhkan oleh PT.
Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Medan. Perusahaan mengharapkan bahwa
pendidikan yang tinggi berbanding lurus dengan kemampuan karyawan dalam
bekerja. Dengan demikian, seluruh target kerja yang ditetapkan perusahaan dapat
tercapai sesuai dengan harapan perusahaan.
5) Deskripsi Profil Responden menurut Lamanya Bekerja
Tabel 4.13
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja
Pendidikan Jumlah Presentase
Kurang Dari 1 Tahun 4 4%
1 - 3 Tahun 16 16%
3 - 5 Tahun 34 35%
> 5 Tahun 44 43%
T O T A L 98 100%
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Pada Tabel 4.11 menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah > 5
Tahun dengan presentase sebesar 43%, Hal ini menunjukkan bahwa sebagian
besar karyawan yang bekerja di PT. Tigaraksa Satria, Tbk Cabang Medan sudah
memiliki pengalaman kerja yang cukup lama dan dinilai memiliki loyalitas dan
kompetensi yang baik untuk menyelesaikan setiap pekerjaannya. Dengan
80 tertentu, akan tetapi harus pula didukung dengan kemampuan-kemampuan lain
yang dimiliki oleh karyawan yang bersangkutan.
4.2.2 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Seleksi, Penilaian Kerja, Insentif, dan Kinerja Karyawan
Tabel 4.14
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Seleksi (X1)
No. Item STS TS KS S SS T O T A L F % F % F % F % F % F % 1 0 0 42 42,9 32 32,7 24 24,5 0 0 98 100 2 1 1 39 39,8 35 35,7 22 22,4 1 1 98 100 3 0 0 26 26,5 44 44,9 28 28,6 0 0 98 100 4 0 0 27 27,6 41 41,8 29 29,6 1 1 98 100 5 0 0 26 26,5 42 42,9 30 30,6 0 0 98 100 6 0 0 35 35,7 43 43,9 20 20,4 0 0 98 100 7 1 1 39 39,8 41 41,8 17 17,3 0 0 98 100 8 1 1 44 44,9 40 40,8 13 13,3 0 0 98 100 9 2 2 34 34,7 42 42,9 20 20,4 0 0 98 100 10 5 5,1 47 48 32 32,7 14 14,3 0 0 98 100
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Pada Tabel 4.12 dapat dilihat bahwa:
1. Pada pernyataan pertama, dari 98 responden, sebanyak 0% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Perusahaan melakukan proses referensi
sebelum memilih calon karyawan, 24,5% menyatakan setuju, 32,7%
menyatakan kurang setuju, 42,9% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden
menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
2. Pada pernyataan kedua, dari 98 responden, sebanyak 1% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Proses referensi yang dilakukan perusahaan
efektif, 22,4% menyatakan setuju, 35,7% menyatakan kurang setuju, 39,8%
menyatakan tidak setuju, dan 1% responden menyatakan sangat tidak setuju
81 3. Pada pernyataan ketiga, dari 98 responden, sebanyak 0% responden
menyatakan sangat setuju bahwa materi yang di berikan (di ujikan) dalam test
tertulis berkaitan dengan pekerjaan yang ditawarkan, 28,6% menyatakan
setuju, 44,9% menyatakan kurang setuju, 26,5% menyatakan tidak setuju, dan
0% responden menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
4. Pada pernyataan keempat, dari 98 responden, sebanyak 1% responden
menyatakan sangat setuju bahwa pelaksanaan tes tertulis yang dilaksanakan
perusahaan efektif, 29,6% menyatakan setuju, 41,8% menyatakan kurang
setuju, 27,6% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat
tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
5. Pada pernyataan kelima, dari 98 responden, sebanyak 0% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Materi yang di berikan (di ujikan) dalam test
psikologi berkaitan dengan pekerjaan yang ditawarkan, 30,6% menyatakan
setuju, 42,9% menyatakan kurang setuju, 26,5% menyatakan tidak setuju, dan
0% responden menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
6. Pada pernyataan keenam, dari 98 responden, sebanyak 0% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Tes psikologi yang dilaksanakan perusahaan
efektif, 20,4% menyatakan setuju, 43,9% menyatakan kurang setuju, 35,7%
menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat tidak setuju
dengan pernyataan tersebut.
7. Pada pernyataan ketujuh, dari 98 responden, sebanyak 0% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Tes kesehatan berpengaruh penting terhadap
82 menyatakan kurang setuju, 39,8% menyatakan tidak setuju, dan 1% responden
menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
8. Pada pernyataan kedelapan, dari 98 responden, sebanyak 0% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Pelaksanaan tes kesehatan yang dilaksanakan
perusahaan sudah tepat, 13,3% menyatakan setuju, 40,8% menyatakan kurang
setuju, 44,9% menyatakan tidak setuju, dan 1% responden menyatakan sangat
tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
9. Pada pernyataan kesembilan, dari 98 responden, sebanyak 0% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara
berhubungan dengan pekerjaan yang ditawarkan, 20,4% menyatakan setuju,
42,9% menyatakan kurang setuju, 34,7% menyatakan tidak setuju, dan 2%
responden menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
10. Pada pernyataan kesepuluh, dari 98 responden, sebanyak 0% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Wawancara yang dilakukan perusahaan sudah
tepat, 14,3% menyatakan setuju, 32,7% menyatakan kurang setuju, 48%
menyatakan tidak setuju, dan 5,1% responden menyatakan sangat tidak setuju
dengan pernyataan tersebut.
Tabel 4.15
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Penilaian Kerja (X2)
No. Item STS TS KS S SS T O T A L F % F % F % F % F % F % 1 0 0 0 0 1 1 31 31,6 66 67,3 98 100 2 0 0 0 0 31 31,6 41 41,8 26 26,5 98 100 3 0 0 0 0 18 18,4 40 40,8 40 40,8 98 100 4 0 0 0 0 0 0 20 20,4 78 79,6 98 100 5 0 0 0 0 13 13,3 61 62,2 24 24,5 98 100 6 0 0 0 0 0 0 14 14,3 84 85,7 98 100 7 0 0 0 0 0 0 18 18,4 80 81,6 98 100 8 0 0 0 0 0 0 26 26,5 72 73,5 98 100
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
83 1. Pada pernyataan pertama, dari 98 responden, sebanyak 67,3% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Kriteria penilaian kinerja disesuaikan dengan pekerjaan, 31,6% menyatakan setuju, 1% menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat tidak setuju
dengan pernyataan tersebut.
2. Pada pernyataan kedua, dari 98 responden, sebanyak 26,5% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Kriteria penilaian kinerja sulit untuk dicapai oleh karyawan, 41,8% menyatakan setuju, 31,6% menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat tidak
setuju dengan pernyataan tersebut.
3. Pada pernyataan ketiga, dari 98 responden, sebanyak 40,8% responden
menyatakan sangat setuju bahwa pejabat penilai kinerja yang ditunjuk untuk melakukan penilaian kinerja adalah orang yang tepat, 40,8% menyatakan setuju, 18,4% menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0%
responden menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
4. Pada pernyataan keempat, dari 98 responden, sebanyak 79,6% responden
menyatakan sangat setuju bahwa pejabat penilai kinerja melakukan penilaian
dengan adil, 20,4% menyatakan setuju, 0% menyatakan kurang setuju, 0%
menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat tidak setuju
dengan pernyataan tersebut.
5. Pada pernyataan kelima, dari 98 responden, sebanyak 24,5% responden
menyatakan sangat setuju bahwa perusahaan menetapkan periode waktu penilaian kinerja, 62,2% menyatakan setuju, 13,3% menyatakan kurang setuju,
84 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat tidak
setuju dengan pernyataan tersebut.
6. Pada pernyataan keenam, dari 98 responden, sebanyak 85,7% responden
menyatakan sangat setuju bahwa waktu penilaian kinerja tetap dan tidak berubah-ubah, 14,3% menyatakan setuju, 0% menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat tidak setuju
dengan pernyataan tersebut.
7. Pada pernyataan ketujuh, dari 98 responden, sebanyak 81,6% responden
menyatakan sangat setuju bahwa prosedur penilaian kinerja sudah terkoordinir dengan baik, 18,4% menyatakan setuju, 0% menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat tidak setuju
dengan pernyataan tersebut.
8. Pada pernyataan kedelapan, dari 98 responden, sebanyak 73,5% responden
menyatakan sangat setuju bahwa prosedur penilaian kinerja sudah sesuai dengan peraturan perusahaan yang berlaku, 26,5% menyatakan setuju, 0% menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden
menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Tabel 4.16
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Insentif (X3)
No. Item STS TS KS S SS T O T A L F % F % F % F % F % F % 1 0 0 5 5,1 10 10,2 40 40,8 43 43,9 98 100 2 0 0 0 0 6 6,1 52 53,1 40 40,8 98 100 3 4 4,1 3 3,1 9 9,2 27 27,6 55 56,1 98 100 4 3 3,1 4 4,1 14 14,3 51 52 26 26,5 98 100 5 2 2 3 3,1 12 12,2 58 59,2 23 23,5 98 100 6 3 3,1 5 5,1 9 9,2 55 56,1 26 26,5 98 100
85 Pada Tabel 4.14 dapat dilihat bahwa:
1. Pada pernyataan pertama, dari 98 responden, sebanyak 43,9% responden
menyatakan sangat setuju bahwa perusahaan memberikan insentif finansial
kepada karyawan, 40,8% menyatakan setuju, 10,2% menyatakan kurang setuju,
5,1% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat tidak
setuju dengan pernyataan tersebut.
2. Pada pernyataan kedua, dari 98 responden, sebanyak 40,8% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Insentif finansial diberikan secara adil sesuai
dengan kinerja karyawan, 53,1% menyatakan setuju, 6,1% menyatakan kurang
setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat
tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
3. Pada pernyataan ketiga, dari 98 responden, sebanyak 56,1% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Insentif finansial diberikan dalam bentuk
bonus dan tunjangan, 27,6% menyatakan setuju, 9,2% menyatakan kurang
setuju, 3,1% menyatakan tidak setuju, dan 4,1% responden menyatakan sangat
tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
4. Pada pernyataan keempat, dari 98 responden, sebanyak 26,5% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Perusahaan memberikan insentif non finansial
kepada karyawan, 52% menyatakan setuju, 14,3% menyatakan kurang setuju,
4,1% menyatakan tidak setuju, dan 3,1% responden menyatakan sangat tidak
setuju dengan pernyataan tersebut.
5. Pada pernyataan kelima, dari 98 responden, sebanyak 23,5% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Insentif non finansial diberikan secara adil
86 kurang setuju, 3,1% menyatakan tidak setuju, dan 2% responden menyatakan
sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
6. Pada pernyataan keenam, dari 98 responden, sebanyak 26,5% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Insentif non finansial diberikan dalam bentuk
piagam penghargaan dan kenaikan jabatan, 56,1% menyatakan setuju, 9,2%
menyatakan kurang setuju, 5,1% menyatakan tidak setuju, dan 3,1% responden
menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
Tabel 4.17
Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Kinerja Karyawan (Y)
No. Item STS TS KS S SS T O T A L F % F % F % F % F % F % 1 0 0 0 0 25 25,5 51 52 22 22,4 98 100 2 0 0 0 0 0 0 24 24,5 74 75,5 98 100 3 0 0 0 0 0 0 10 10.2 88 89.8 98 100 4 0 0 0 0 1 1 21 21,4 76 77,6 98 100 5 0 0 0 0 1 1 20 20,4 77 78,6 98 100 6 0 0 0 0 0 0 14 14,3 84 86,7 98 100 7 0 0 0 0 0 0 19 19,4 79 80,6 98 100 8 0 0 0 0 0 0 11 11,2 87 88,8 98 100
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Pada Tabel 4.15 dapat dilihat bahwa:
1. Pada pernyataan pertama, dari 98 responden, sebanyak 22,4% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Perusahaan menetapkan standar kualitas
pekerjaan yang harus dicapai karyawan, 52% menyatakan setuju, 25,5%
menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden
menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
2. Pada pernyataan kedua, dari 98 responden, sebanyak 75,5% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Kinerja karyawan sudah sesuai dengan
kualitas yang ditetapkan perusahaan, 24,5% menyatakan setuju, 0%
menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden
87 3. Pada pernyataan ketiga, dari 98 responden, sebanyak 89,8% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Perusahaan menetapkan target kuantitas yang
harus dicapai karyawan, 10,2% menyatakan setuju, 0% menyatakan kurang
setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat
tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
4. Pada pernyataan keempat, dari 98 responden, sebanyak 77,6% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Kinerja karyawan sudah sesuai dengan
standar kuantitas yang ditetapkan perusahaan, 21,4% menyatakan setuju, 1%
menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden
menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
5. Pada pernyataan kelima, dari 98 responden, sebanyak 78,6% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Perusahaan menetapkan batas waktu dalam
menghasilkan kinerja, 20,4% menyatakan setuju, 1% menyatakan kurang
setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat
tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
6. Pada pernyataan keenam, dari 98 responden, sebanyak 86,7% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Karyawan sudah disiplin dalam hal ketepatan
waktu, 14,3% menyatakan setuju, 0% menyatakan kurang setuju, 0%
menyatakan tidak setuju, dan 0% responden menyatakan sangat tidak setuju
dengan pernyataan tersebut.
7. Pada pernyataan ketujuh, dari 98 responden, sebanyak 80,6% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Perusahaan memiliki standar pengetahuan
88 menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden
menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
8. Pada pernyataan kedelapan, dari 98 responden, sebanyak 88,8% responden
menyatakan sangat setuju bahwa Karyawan sudah memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja 11,2% menyatakan setuju, 0%
menyatakan kurang setuju, 0% menyatakan tidak setuju, dan 0% responden
menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
4.3 Uji Asumsi Klasik 4.3.1 Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah ingin menguji apakah dalam model regresi
distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi
data dengan bentuk lonceng. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi
tidak valid. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah data berdistribusi normal atau
tidak, yaitu dengan pendekatan grafik dan pendekatan Kolmogorv-Smirnov.
1. Analisis Grafik
Salah satu cara untuk melihat normalitas adalah dengan melihat grafik
histogram, dan grafik normal p-p plot, yang membandingkan antara dua observasi
dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Hasil output SPSS terlihat
89
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Gambar 4.2
Pengujian Normalitas Histogram
Berdasarkan grafik dapat disimpulkan bahwa distribusi data normal karena
grafik histogram menunjukkan pola distribusi normal maka model regresi
memenuhi asumsi normalitas dan sebaliknya jika data menyebar jauh dari garis
diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak
menunjukkan pola distribusi data normal yang tidak melenceng kanan maupun
melennceng kiri. Jadi, berarti data residual berdistibusi normal. Terbukti bahwa
data maupun model yang digunakan memenuhi asumsi normalitas.
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Gambar 4.3
90 Pada P-P plot terlihat bahwa titik-titik menyebar disekitar garis diagonal
dan cenderung mengikuti arah garis diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa data
yang dipergunakan dalam penelitian ini memenuhi asumsi normalitas sehingga
layak untuk diuji dengan model regresi.
2. Analisis Statistik
Uji normalitas dengan grafik bisa saja terlihat berdistribusi normal,
padahal secara statistik tidak berdistribusi normal. Jika nilai sig probability lebih besar dari 0,05 maka Ho ditolak dengan pengertian bahwa data yang dianalisis
berdistribusi normal. Demikian juga sebaliknya jika nilai sig probability lebih kecil dari 0,05 maka Ho diterima dengan pengertian bahwa data yang dianalisis
tidak berdistribusi normal. Berikut ini pengujian normalitas yang didasarkan
dengan uji statistik nonparametik Kolmogorv-Smirnov (K-S)
Tabel 4.18 Uji Kolmogrov Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardize d Residual
N 98
Normal Parametersa,,b Mean .0000000
Std. Deviation 1.12611456
Most Extreme Differences Absolute .102
Positive .045
Negative -.102
Kolmogorov-Smirnov Z 1.012
Asymp. Sig. (2-tailed) .257
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.16, terlihat bahwa nilai Asymp.Sig. (2-tailed) adalah
0,257, ini berarti nilainya diatas nilai signifikan 5% (0.05), dengan kata lain
91
4.3.2 Uji Multikolinieritas
Gejala multikolinieritas dapat dilihat dari besarnya nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor), kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya, Tolerance adalah mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak
dijelaskan variabel independen lainnya. Nilai yang dipakai untuk Tolerance > 0,1, dan VIF < 5, maka tidak terjadi multikolinieritas.
Tabel 4.19 Uji Multikolinieritas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 13.327 2.894 4.605 .000
Seleksi .598 .084 .557 7.103 .000 .967 1.034
Penilaian_Kerja .128 .052 .195 2.469 .015 .949 1.053
Insentif .112 .051 .173 2.218 .029 .975 1.025
a. Dependent Variable: Kinerja_Karyawan
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.17 dapat terlihat bahwa data (variabel) tidak terkena
multikolinieritas karena nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance > 0,1 sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi kinerja karyawan berdasarkan masukan
seleksi, penilaian kerja, dan kinerja karyawan.
4.3.3 Uji Autokorelasi
Uji Durbin Watson adalah sebuah test yang digunakan untuk mendeteksi
terjadinya autokorelasi pada nilai residual (prediction errors) dari sebuah analisis regresi. Yang dimaksud dengan autokorelasi adalah hubungan antara nilai-nilai
92 Tabel 4.20 Uji Autokorelasi Model Summaryb Mode l R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Change Statistics Durbin-Watson R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change 1 .664a .441 .423 1.144 .441 24.706 3 94 .000 1.987
a. Predictors: (Constant), Insentif, Seleksi, Penilaian_Kerja b. Dependent Variable: Kinerja_Karyawan
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Berdasarkan hasil hitung, nilai Durbin-Watson (DW-Test) adalah sebesar
1,987 sedangkan dalam DW-Tabel untuk k=4 dan n=98, besarnya DW-Tabel
dL(batas bawah Durbin Watson) = 1,608 dU(batas atas Durbin Watson) = 1,734
(4-d) = 2,013. Cara untuk menentukan atau kriteria pengujian autokorelasi adalah
sebagai berikut :
1. Deteksi autokorelasi positif :
Jika d < dL maka terdapat autokorelasi positif
Jika d > dU maka tidak terdapat autokorelasi positif
Jika dL < d < dU maka pengujian tidak meyakinkan atau hasil tidak dapat
disimpulkan
Berdasarkan kriteria diatas, maka di dapat nilai d > dU (1,987 > 1,734). Hasil
tersebut menyatakan bahwa tidak terdapat autokorelasi positif
2. Deteksi autokorelasi negatif :
Jika (4-d) < dL maka terdapat autokorelasi negatif
Jika (4-d) > dU maka tidak terdapat autokorelasi negatif
Jika dL < (4-d) < dU maka pengujian tidak meyakinkan atau hasil tidak dapat
93 Berdasarkan kriteria diatas, maka di dapat nilai (4-d) > dU (2,013 > 1,734).
Hasil tersebut menyatakan bahwa tidak terdapat autokorelasi negatif
Pada hasil diatas dapat disimpulkan pada analisis regresi tidak terdapat
autokorelasi positif dan tidak terdapat autokorelasi negatif sehingga bisa
disimpulkan sama sekali tidak terdapat autokorelasi.
4.3.4 Uji Heteroskedastisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah didalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varians. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut
heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau
tidak terjadi heteroskedastisitas. Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada atau
tidaknya heteroskedastisitas, yaitu :
1. Analisis Grafik
Dasar analisis adalah tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di
atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas,
sedangkan jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu
94
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Gambar 4.4
Pengujian Heteroskedastisitas Scatterplot
Berdasarkan Gambar 4.4 dapat terlihat bahwa tidak ada pola yang jelas,
serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka
berdasarkan metode grafik tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.
2. Analisis Statistik
Dasar analisis metode statistik adalah jika variabel bebas signifikan secara
statistik mempengaruhi variabel terikat, maka ada indikasi terjadi
heteroskedastisitas. Tabel 4.21 Uji Glejser Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.827 1.683 1.086 .280 Seleksi .095 .049 .191 1.933 .056 Penilaian_Kerja -.053 .030 -.174 -1.748 .084 Insentif -.069 .029 -.232 -2.357 .060
a. Dependent Variable: RES2
95 Berdasarkan Tabel 4.19 dapat diketahui bahwa tidak satupun variabel
bebas yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat RES2. Hal
ini terlihat dari probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5% jadi
disimpulkan model regresi tidak mengarah adanya heteroskedastisitas.
4.4 Analisis Linier Berganda
Analisis linier berganda dilakukan dengan bantuan SPSS 17.0 dengan
tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas seleksi,
penilaian kerja, daj insentif terhadap variabel terikat yaitu kinerja karyawan (Y).
Tabel 4.22 Variables Entered/Removed Model Variables Entered Variables Removed Method 1 Insentif, Seleksi, Penilaian_Kerjaa . Enter
a. All requested variables entered.
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.20 (Variabel Entered/removedb) menunjukkan hasil analisis statistik tiap indikator sebagai berikut.
Tabel 4.23 Analisis Linier Berganda
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 13.327 2.894 4.605 .000 Seleksi .598 .084 .557 7.103 .000 Penilaian_Kerja .128 .052 .195 2.469 .015 Insentif .112 .051 .173 2.218 .029
a. Dependent Variable: Kinerja_Karyawan
Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.21 maka persamaan analisis regresi linier berganda
96
Y = 13,327 + 0,598 X1 + 0,128 X2 + 0,112 X3
Berdasarkan persamaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Konstanta (a) = 13,327, ini menunjukkan harga constant, dimana jika variabel seleksi (X1), penilaian kerja (X2), dan insentif (X3) = 0, maka kinerja karyawan =
13,327.
b. Koefisien X1 (b1) = 0,598, ini berarti bahwa variabel seleksi (X1) berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, atau dengan kata lain jika seleksi (X1)
ditingkatkan sebesar satu-satuan, maka kinerja karyawam akan bertambah sebesar
0,598. Koefesien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara variabel
seleksi dengan kinerja karywan, semakin meningkat seleksi seorang pegawai
dalam bekerja maka akan semakin meningkat pula kinerja karyawan tersebut pada
PT. Tiga Raksa Satria, Tbk Cabang Medan.
c. Koefisien X2 (b2) = 0,128, ini berarti bahwa variabel penilaian kerja (X2) berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, atau dengan kata lain jika
penilaian kerja (X2) ditingkatkan sebesar satu-satuan, maka kinerja karyawan akan
bertambah sebesar 0,128. Koefesien bernilai positif artinya terjadi hubungan
positif antara variabel penilaian kerja dengan kinerja karyawan, semakin
meningkat penilaian kerja ke arah yang semakin baik maka akan semakin
meningkat pula kinerja karyawan pada PT. Tiga Raksa Satria, Tbk Cabang