HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3. Hasil Analisis Data Hipotesis Pertama 1 Uji Koefisien Determinasi 1 Uji Koefisien Determinasi
Hasil Goodness of fit of models yang dilakukan dalam penelitian ini untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen dengan menggunakan koefisien determinasi (R2) masih relatif rendah.
Nilai R2 yang rendah ini mengindikasikan bahwa kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas, namun secara umum koefisien determinasi untuk data silang (cross section) relatif rendah karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan (Ghozali, 2006).
Tabel 5.5. Nilai Koefisien Determinasi
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .503(a) .253 .162 .03067
Sumber : Lampiran 11 (data diolah SPSS 15)
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa besarnya R2 adalah 0,253. Hal ini menjelaskan bahwa 25,30% dari variasi pertumbuhan koperasi dapat dijelaskan oleh variasi dari ke tiga variabel independen yaitu current ratio, debt to assets ratio, dan return on assets ratio. Rendahnya koefisien determinasi pada penelitian ini disebabkan karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan objek penelitian seperti ketidak seragaman penerapan sistem pencatatan laporan keuangan masing-masing koperasi. Standar Error of Estimate (SEE) sebesar 0,03067 yang menunjukkan bahwa dengan semakin kecil nilai SEE maka akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen.
5.3.2. Uji Simultan (Uji-F)
Hasil uji simultan (Uji-F) pada variabel current ratio, debt to assets ratio, dan ROA terhadap variabel pertumbuhan koperasi dapat dilihat pada Tabel 5.6.
Tabel 5.6. Hasil Uji Statistik F (Simultan)
Model Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression .009 3 .003 3.002 .044(a)
Residual .033 34 .001
Total .042 37
Sumber : Lampiran 12 (data diolah SPSS 15)
Hasil uji ANOVA atau F test berdasarkan Tabel 5.4 diperoleh nilai F hitung sebesar 3.002 dengan probabilitas 0.044. Probabilitas lebih kecil dari 0.050 menyatakan bahwa model regresi dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan koperasi. Hipotesis pertama (H1) yang menyatakan bahwa current ratio, debt to assets ratio, dan return on assets ratio, berpengaruh terhadap pertumbuhan koperasi di Kota Pematangsiantar secara simultan dapat diterima.
5.3.3. Uji Parsial (Uji-t)
Hasil uji parsial (Uji-t) pada variabel current ratio, debt to assets ratio, dan ROA terhadap variabel pertumbuhan koperasi dapat dilihat pada Tabel 5.7.
Tabel 5.7. Hasil Uji Statistik t (Parsial)
Model
Sumber : Lampiran 13 (data diolah SPSS 15)
Ketiga variabel independen yang dimasukkan ke dalam model regresi pada Tabel 5.7 seperti variabel current ratio (X1) dan debt to assets ratio (X2) tidak signifikan. Hal ini dapat dilihat dari probabilitas signifikansi untuk curret ratio (X1) sebesar 0.239 dan dan debt to assets ratio (X2) sebesar 0.137 dan keduanya jauh di atas 0.05 serta variabel ROA (X3) signifikan pada 0.05. Disimpulkan bahwa variabel pertumbuhan jumlah anggota koperasi dipengaruhi oleh ROA (X3) dengan persamaan matematis sebagai berikut :
Ŷ = 0.982 + 0.000 X1 + 0.040 X2 + 0.247 X3
Interpretasi dari persamaan regresi berganda di atas, sebagai berikut : 1. Nilai intersep sebesar 0.982 berarti jika nilai variabel X1,X2 danX3 bernilai
nol (0), maka kemampuan pertumbuhan jumlah anggota koperasi akan meningkatkan sebesar 98,2%.
2. Koefisien variabel current ratio (X1) bertanda positif sebesar 0.00. Hal ini berarti nilai likuiditas suatu koperasi akan meningkat sebanding dengan meningkatnya pertumbuhan jumlah anggota koperasi. Kemampuan koperasi dalam memenuhi hutang jangka pendeknya dapat menyatakan bahwa koperasi tersebut memiliki kinerja keuangan yang semakin baik. Kinerja keuangan koperasi yang semakin baik dapat memberikan persepsi positif bagi masyarakat untuk masuk menjadi anggota koperasi tersebut dan dengan hal tersebut dapat pula memicu jumlah simpanan yang masuk ke dalam koperasi semakin baik dan semakin lancar.
3. Koefisien variabel debt to assets ratio (X2) bertanda positif sebesar 0.040. Hal ini berarti jika semakin besar kemampuan koperasi menutupi total
kewajibannya, maka pertumbuhan jumlah anggota koperasi akan semakin menurun sebesar 4%. Kemampuan koperasi dalam memenuhi hutang jangka panjangnya dapat menyatakan bahwa koperasi tersebut memiliki kemampuan solvabilitas yang semakin baik, maka koefisien yang diharapkan bertanda negatif. Kemampuan debt to assets ratio yang semakin baik (mengecil) membuktikan bahwa koperasi tersebut memiliki kinerja keuangan yang semakin baik. Hal ini juga dapat memicu kenaikkan anggota karena dianggap sebagai koperasi yang memiliki prospek masa depan yang baik. Jumlah anggota koperasi potensial yang semakin bertambah dapat memicu meningkatnya jumlah simpanan baik simpanan pokok dan simpanan sukarela yang masuk ke dalam koperasi.
4. Koefisien variabel ROA (X3) bertanda positif sebesar 0.247. Hal ini berarti jika dinyatakan bahwa semakin besar tingkat kemampuan koperasi dalam menghasilkan laba maka semakin meningkat pula pertumbuhan jumlah anggota koperasi sebesar 24,7%. Hal ini dapat dibuktikan dengan semakin baik rentabilitas yang dimiliki suatu koperasi maka koperasi tersebut dapat dinyatakan sebagai koperasi yang memiliki kemampuan yang baik dalam mengolah asset yang dimiliki guna menghasilkan laba. Jika semakin besar laba yang dihasilkan suatu koperasi maka koperasi tersebut telah dianggap mampu menjadi koperasi yang potensial dan mampu meningkatkan jumlah anggotanya dimasa yang akan datang.
5. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hanya variabel ROA yang berpengaruh signifikansi terhadap pertumbuhan koperasi.
Kolom signifikansi pada Tabel 5.7 menunjukkan bahwa variabel independen likuiditas dengan current ratio (X1) berpengaruh tidak signifikan secara parsial terhadap pertumbuhan jumlah anggota koperasi (rasio selisih jumlah anggota), dimana (p = 0,239 > 0,05) sehingga H1 yang menyatakan bahwa current ratio berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah anggota koperasi secara parsial ditolak. Variabel independen solvabilitas dengan debt to assets ratio (X2) tidak berpengaruh secara parsial terhadap pertumbuhan jumlah anggota koperasi (rasio selisih jumlah anggota), dimana (p = 0,137 > 0,05) sehingga H1 yang menyatakan bahwa debt to assets ratio berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah anggota koperasi secara parsial ditolak. Hasil regresi secara parsial menunjukkan variabel independen Rentabilitas dengan return on assets ratio (X3) berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah anggota koperasi (rasio selisih jumlah anggota), dimana (p = 0,017 < 0,05) sehingga H1 yang menyatakan bahwa return on assets ratio secara parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah anggota koperasi diterima.
Secara keseluruhan current ratio (X1), debt to assets ratio (X2), return on assets ratio (X3) berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan jumlah anggota koperasi (Y) secara parsial ditolak.