D. Hasil Uji Hipotesis
4. Hasil Analisis Kualitatif
Dalam penelitian ini keberdayaan usaha mikro petani dilihat dari beberapa aspek sebagai berikut.
1) Kemampuan mengakses sumber usaha
2) Kemampuan membuat dan mempertahankan jaringan usaha 3) Kemampuan melihat tren pasar
4) Kemampuan mencari terobosan untuk memilih usaha 5) Kemampuan menarik pelanggan
6) Kemampuan memilih solusi yang tepat untuk mengatasinya commit to user commit to user
7) Kemampuan mendistribusikan barang
8) Kemampuan mengkondisikan lingkungan usaha yang membuat tidak nyaman dalam berusaha.
Keberdayaan usaha mikro petani dapat terwujud dari upaya CSR hotel yang dilakukan oleh hotel. CSR hotel yang dilakukan dalam penelitian ini berbasis pada partisipasi pelanggan, dalam aspek sosial diketahui bahwa mayoritas pelanggan hotel mengetahui pengembangan jumlah materi/tema lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan oleh usaha mikro dari tahun ke tahun pengembangan program CSR hotel untuk usaha mikro semakin banyak dari tahun ke tahun.
CSR hotel dalam aspek lingkungan, pelanggan hotel mengetahui pengembangan efisiensi penggunaan sumberdaya alam program CSR hotel khususnya program efisiensi penggunaan bahan baku dan bahan pembantu dan pengembangan efisiensi penggunaan sumberdaya alam program CSR hotel khususnya program efisiensi penggunaan air. Pelanggan hotel mengetahui pengembangan pencegahan pencemaran lingkungan program CSR di hotel, khususnya pemakaian energy cost . Selain itu, sebagian besar pelanggan hotel juga mengetahui pengembangan pencegahan pencemaran lingkungan program CSR di hotel, khususnya pengelolaan limbah yang dihasilkan hotel agar tidak mencemari lingkungan mengetahui pengembangan pengurangan terbentuknya limbah pada sumbernya, khususnya yang bersumber dari kitchen/dapur serta pengembangan pengurangan terbentuknya limbah pada sumbernya, khususnya yang bersumber dari laundry/ binatu.
Melalui CSR hotel berbasis pelanggan ini, hotel telah melakukan kegiatan CSR kepada para mitra pemasok, utamanya kepada usaha mikro petani. Untuk mengukur adanya keberdayaan usaha mikro petani dilihat dari berbagai indikator seperti telah disebutkan diatas. Gambaran tentang keberdayaan usaha mikro petani dipaparkan dibawah ini.
commit to user commit to user
1). Kemampuan Mengakses Sumber Usaha
Salah satu kegiatan CSR yang dilakukan hotel adalah kegiatan pelatihan dan pendampingan akses modal usaha ke perbankan. Pada awalnya sumber dana usaha mikro petani (UMP) mendapatkan modal dari pemilik sendiri. Seiring dengan perkembangan usaha, modal sendiri sudah tidak mencukupi sehingga UMP perlu mendapatkan modal dari perbankan.
Pengajuan kredit dapat lancar disetujui karena adanya pendampingan dari CSR hotel yang merupakan tindak lanjut dari pelatihan yang telah diselenggarakan dalam rangka implementasi CSR hotel. Yang menarik dari kegiatan ini adalah UMP memiliki ketertarikan meminjam dari bank karena adanya subsidi bunga melalui kegiatan CSR hotel sebagaimana yang dikatakan Pak Joko (budidaya sayuran, 7 November 2018 ) :
“Melalui kegiatan CSR hotel, kami telah berhasil meningkatkan modal yang berasal dari pinjaman Bank. Pada awalnya kami tidak memiliki keinginan untuk pinjam bank karena prosedurnya rumit dan bunganya cukup tinggi, sehingga kurang menguntungkan kalau pinjam bank. Karena hotel melaksanakan CSR ke kami berupa pelatihan dan pendampingan peningkatan akses perbankan maka kami tertarik untuk meminjam ke bank untuk nambah modal. Apalagi ada subsidi bunga melalui program CSR ini.”
2). Kemampuan Membuat Dan Mempertahankan Jaringan Usaha
Salah satu program CSR hotel adalah upaya memberikan pengetahuan tentang networking. Mitra hotel dari usaha mikro petani diundang untuk bertukarpikiran dengan pihak manajemen hotel yang juga menghadirkan pengurus PHRI tentang pembangunan jejaring bisnis untuk memperluas pemasaran. Secara berkala dilakukan diskusi dengan pihak manajemen hotel, juga dilakukan secara rutin sehingga masalah-masalah yang timbul dalam hubungan kemitraan bisa diselesaikan dalam forum ini.
Seperti yang dituturkan Ibu Emma (produsen beras organik, 10 November 2018) terkait dengan berkembangnya networking :
“Program CSR hotel berupa forum diskusi antara manajemen hotel dan mitra usaha mikro petani sangat membantu kami mengembangkan jejaring bisnis, karena dalam forum ini kami dikenalkan dengan banyak commit to user commit to user
pihak yang berpotensi untuk memperluas pemasaran produk kami, misalnya hadirnya pengurus PHRI Surakarta.”
3). Kemampuan Melihat Tren Pasar
Setelah mengikuti forum diskusi yang melibatkan UMP, Manajemen Hotel dan narasumber yang diselenggarakan melalui program CSR hotel, UMP telah meningkat kemampuannya dalam melihat trend pasar. Mereka telah memahami misalnya dalam memilih jenis usaha yang relatif kecil persaingannya terutama bagi Usaha Mikro Petani (UMP) yang baru berdiri. Banyak peluang-peluang bisnis yang persaingannya rendah namun harus jeli menangkap peluang tersebut. Memilih ide usaha/bisnis yang brilian. Risiko kegagalan bisnis UMP akan kecil jika ide bisnisnya benar-benar brilian. Betul-betul mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan mengetahui bagaimana cara memenuhinya. Tidak bimbang, fokus, bertindak tanpa henti dan penuh determinasi. Berani dan jangan berhenti bertindak, mencoba, dan selalu memperbaiki kesalahan.
Mengelola sumber daya sebaik mungkin. Mengarahkan semua sumber daya yang ada ke arah tujuan UMP yang sudah ditetapkan. Kemampuan dalam hal ini memang benar-benar telah dikuasai seperti yang dinyatakan oleh Bapak Sutar (usaha ayam pedaging, 17 November 2018) berikut ini :
“Sebelum adanya pencerahan melalui kegiatan CSR hotel berupa pelatihan kewirausahaan, kami hanya tahu membudidayakn ayam pedaging dari jenis ayam ras saja. Tapi ternyata banyak yang kami tidak tahu tentang trend kebutuhan pasar terkini bahkan untuk masa mendatang. Dan melalui pelatihan ini kami tercerahkan dan banyak ilmu yang didapat. Saat ini kami telah punya pengetahuan yang memadahi untuk melihat trend pasar misalnya bahwa ayam pedaging dari jenis ayam kampung sangat diminati masyarakat.”
4). Kemampuan Mencari Terobosan Untuk Memilih Usaha
Faktor penting dalam strategi pemasaran lainnya adalah masalah pemilihan tempat. Identifikasi target market akan membantu dalam menyusun strategi marketing yang efektif. Melakukan upaya promosi atau memperkenalkan produk bisnis kepada konsumen. Mengusahakan commit to user commit to user
agar promosi yang dilakukan tersebut konsisten, terus-menerus, dan dengan cara-cara kreatif sehingga para pelanggan tidak merasa bosan.
Mengenali pelanggan dan memilih lokasi yang strategis. Menggunakan internet marketing karena bisa jadi salah satu strategi marketing yang sangat efektif untuk hubungan dengan pelanggan.
5). Kemampuan Menarik Pelanggan
Kemampuan menarik pelanggan dari UMP telah meningkat karena adanya kegiatan pelatihan pemasaran (marketing) dari program CSR hotel. UMP mulai terbiasa menyempatkan diri bicara serta mendengarkan apa yang dirasa pelanggan, menyadari bahwa tiap-tiap pelanggan itu memiliki keunikan masing-masing. Bukan sekedar media cetak, elektronik sampai media online dapat jadi tambang info bernilai untuk beberapa pelaku bisnis. Tetapi yang butuh diperhatikan dalam memakai media internet yaitu mesti pandai memisah info mana yang betul-betul memiliki dasar menilai sebuah trend serta mana yang cuma menjadi info trend palsu. Langkah paling akhir yaitu dengan merangkum seluruh data yang sudah dapatkan. Rekomendasi yang telah diperoleh dapat dicatat lalu memperbandingkan keduanya. Dari situ trend pasar sebenarnya bakal mulai terbaca. Makin kompleks rekomendasi yang diperoleh, maka hasilnyapun juga bakal makin baik.
Peningkatan kemampuan dalam menarik pelanggan secara nyata telah ada seperti diutarakan oleh Bapak Muhadi (Kelompok Tani Ngudi Urip, 24 November 2018) :
“Adanya pelatihan pemasaran yang dilakukan melalui CSR hotel Lorin Solo, telah meningkatkan kemampuan saya dalam memperluas pelanggan. Saat ini kami telah berhasil mendapatkan pelanggan baru misal beberapa rumah sakit rumah makan di Solo telah menjadi pelanggan kami.”
commit to user commit to user
6). Kemampuan Memilih Solusi Yang Tepat Untuk Mengatasinya
Dari beberapa jawaban narasumber dapat disimpulkan untuk memilih solusi yang tepat untuk mengatasinya sebagai berikut Menguasai Masalah, Mencari dan Menemukan Solusi, Memilih Keputusan, Membuat Target dan Implementasi Keputusan, Melakukan Evaluasi. Hal ini sesuai seperti yang disampaikan oleh Bapak Nando (UD Ananta Jaya, 8 Desember 2018) berikut ini :
“Kami sangat terkesan dengan pelatihan manajemen yang diselenggarakan oleh CSR hotel New Kuta Bali. Dalam menjalankan bisnis tentu banyak timbul masalah yang harus dicarikan solusinya.
Sering kami bingung menghadapi masalah dalam kami menjalankan usaha. Untung ada pelatihan manajemen usaha yang diselenggaran CSR hotel, dimana materi yang disampaikan sangat bermanfaat dan kami jadi tahu mengatasi masalah yang timbul. Tindaklanjutnya kami juga bisa selalu berkonsultasi dengan beliau-beliau para ahli baik secara langsung atau melalui CSR hotel.”
7). Kemampuan Mendistribusikan Barang
Untuk menjalankan usaha, perusahaan merekrut karyawan harian untuk melakukan proses budidaya dengan sistem manajemen yang dikendalikan oleh pengelola perusahaan. Dengan demikian keberlangsungan budidaya tetap terjaga yang artinya ketersediaan barang selalu terjamin. Barang atau produk berupa sayuran segar dan produk yang lain dikirimkan langsung ke hotel setiap dini hari atau sesuai order.
Untuk menjaga komitmen dalam ketepatan waktu pengiriman, kebanyakan UMP saat ini telah memiliki armada sendiri. UMP menjalin kemitraan dengan hotel dalam jangka panjang, sehingga UMP memiliki keberanian untuk mengambil kredit kepemilikan kendaraan bermotor.
Seperti yang disampaikan oleh Bapak Budi (Wahana Mina, produsen ikan air tawar, 15 Desember 2018) :
“Sebagai pembudidaya ikan air tawar seperti nila merah, gurame dan lele, kami sangat terbantu adanya program CSR hotel berupa pendampingan dan penjaminan kredit kendaraan bermotor ke leasing.
Kebutuhan kami akan armada yang prima adalah keharusan karena kami commit to user commit to user
telah berkomitmen untuk mengirimkan ikan produk kami dalam keadaan segar dan tepat waktu.”
8). Kemampuan mengkondisikan lingkungan usaha yang membuat tidak nyaman dalam berusaha
Kebanyakan UMP dalam menyikapi pengalaman yang membuat kenyamanan dalam berusaha dengan cara selalu menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Komunikasi yang lancar dan saling menjaga kepercayaan dijadikan sikap standar pelayanan bagi kebanyakan UMP.
Untuk mengantisipasi ketidaknyamanan, berdasarkan jawaban narasumber dapat dikemukakan antara lain UMP melakukan evaluasi apa yang membuat ketidaknyamanan itu terjadi. Selanjutnya setelah ketemu penyebabnya dicoba dicari jalan keluarnya.
Setelah dilakukan telaah terhadap hasil wawancara maka dapat disajikan matrik sebagai berikut :
Tabel 4.22 Matrik Kesimpulan Hasil Wawancara Narasumber UMP
NO INDIKATOR KETERANGAN
1
Kemampuan mengakses sumber usaha
Semula kebanyakan UMP hanya mengandalkan modal milik sendiri. Dalam perkembangannya ada perluasan akses mendapatkan modal dari perbankan dengan rekomendasi pihak hotel. Dalam menjalankan usaha, UMP menerima masukan untuk melakukan proses budidaya dengan sistem manajemen yang lebih rapi dari hasil pelatihan/penyuluhan yang dilakukan melalui CSR hotel melakukan MoU dengan hotel untuk memastikan adanya keterjaminan pesanan.
Menjalin komunikasi dengan hotel untuk menjaga hubungan yang baik . UMP selalu menjaga kualitas dan pelayanan yang diberikan kepada pihak hotel
3 Kemampuan melihat tren pasar
Peningkatan kemampuan dalam bidang ini diperoleh karena adanya pendampingan yang dilakukan oleh CSR hotel melalui workshop-workshop tentang manajemen pemasaran. Beberapa UMP telah berhasil mengembangkan produk baru yang bisa dipasok ke pelanggan hotel misalnya sayuran organik dan buah organik.
commit to user commit to user
NO INDIKATOR KETERANGAN
UMP telah meningkat dalam kemampuan mencari terobosan untuk memilih usaha setelah mendapatkan pelatihan manajerial CSR hotel. Pemahanan ini bisa dilihat dari kemampuan memilih jenis usaha yang relatif kecil persaingannya terutama bagi Usaha Mikro Petani yang baru berdiri, memilih ide usaha/bisnis yang brilian dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan mengetahui bagaimana cara memenuhinya. meningkat karena adanya kegiatan pelatihan pemasaran (marketing) dari program CSR hotel. UMP menyempatkan diri bicara serta mendengarkan apa yang dirasa pelanggan, menyadari bahwa tiap-tiap pelanggan itu memiliki keunikan masing-masing.
6 mengatasi masalah diperoleh melalui bimbingan yang dilakukan oleh program CSR hotel. Peningkatan yang nyata dalam bidang ini adalah penguasaan terhadap masalah, mencari dan menemukan solusi, memilih keputusan, membuat target dan implementasi keputusan, dan selanjutnya melakukan evaluasi
7
Kemampuan mendistribusikan barang
Untuk menjaga komitmen dalam ketepatan waktu pengiriman, kebanyakan UMP saat ini telah memiliki armada sendiri. UMP menjalin kemitraan dengan hotel dalam jangka panjang, sehingga UMP memiliki keberanian untuk mengambil kredit kepemilikan kendaraan bermotor.
Untuk mengantisipasi ketidaknyamanan, berdasarkan jawaban narasumber dapat dikemukakan antara lain UMP melakukan evaluasi apa yang membuat ketidaknyamanan itu terjadi. Selanjutnya setelah ketemu penyebabnya dicoba dicari jalan keluarnya.
Kemampuan ini diperoleh melalui pelatihan manajemen usaha yang diberikan melalui program CSR hotel
Berdasarkan analisis secara kualitatif dapat diketahui bahwa CSR hotel memiliki hubungan yang erat dengan keberdayaan usaha mikro petani dalam konservasi lingkungan. Hasil telaah dari matrik jawaban responden mengungkapkan bahwa partisipasi pelanggan memiliki hubungan yang erat dengan CSR hotel untuk Keberdayaan Usaha Mikro dalam Konservasi Lingkungan. Hasil ini mengindikasikan bahwa commit to user commit to user
Keberdayaan Usaha Mikro dalam Konservasi Lingkungan yang dilakukan bergantung pada partisipasi pelanggan yang dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan dalam hal ini adalah hotel.
E. Pembahasan
a. Pengaruh Persepsi Pelanggan terhadap Partisipasi Pelanggan Pendapat Soemadi (1986) menyatakan bahwa persepsi merupakan fungsi psikologis melalui alat sensoris yang memungkinkan individu menerima data informasi baik berupa stimulus fisik dan stimulus sosial dari lingkungan dan mengolah data/informasi untuk kemudian memberikan interpretasi, penilaian, dan perubahan-perubahan. Menurut Asngari (1984), persepsi adalah sebagai interpretasi individu akan makna sesuatu bagi individu dalam kaitan dengan “dunia”nya. Litterer (1973) mengatakan bahwa suatu persepsi sangat penting untuk mengetahui susunan atau pengorganisasian tingkah laku individu. Selanjutnya seseorang bertindak atas dasar sesuatu yang ada untuk dipikirkan, diketahui atau dimengerti oleh seseorang.
Pelanggan mempunyai persepsi bahwa tanggung jawab sosial perusahaan merupakan aktivitas perusahaan membantu masyarakat dalam berbagai bidang yaitu : (1) fisik, (2) sosial, (3) budaya dan (4) ekonomi supaya masyarakat lebih mampu dan mandiri sehingga merasa terbantu dalam meningkatkan kesejahteraan hidup. Perusahaan baik divisi maupun mitra yang bergerak pada bidang tanggungjawab sosial perusahaan memahami bahwa dengan memberikan bantuan fisik yaitu : (1) prasarana pendidikan, (2) ibadah, (4) sosial, dan (5) bantuan pendidikan dalam menjalin hubungan dengan masyarakat berarti perusahaan sudah melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (Mardikanto, 2010). commit to user commit to user
Hasil pengujian hipotesis membuktikan bahwa persepsi pelanggan berpengaruh positif dan signifikan terhadap partisipasi pelanggan. Hasil ini memberikan indikasi bahwa penciptaan persepsi pelanggan yang baik dan kondusif melalui struktur kebijakan, praktik manajemen, teknologi yang digunakan, dan sistem penghargaan akan membuat hotel di Indonesia memiliki konsep pengembangan CSR yang merupakan cerminan dari partisipasi pelanggan. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik persepsi pelanggan terhadap hotel, maka akan semakin baik pula partisipasi pelanggan hotel untuk keberdayaan usaha mikro petani dalam konservasi lingkungan.
Hotel yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini memiliki fokus utama pada penyelenggara penyedia jasa penginapan. Sebagai institusi profit yang bergerak di bidang jasa penginapan, hotel memiliki misi yaitu menciptakan mata rantai pengelolaan bisnis penginapan internasional dengan mengutamakan pelayanan terus-menerus dalam memperbaiki mutu pelayanan pelanggan baik produk dan jasa berdasarkan manajemen mutu total, guna meningkatkan mutu kehidupan, memberikan kepada karyawan pekerjaan yang berarti dan kesempatan kemajuan serta memberikan kepada investor tingkat pengembalian yang tinggi.
Pengaruh positif yang muncul karena hotel yang memiliki persepsi pelanggan yang baik, dimana hasil ini mengacu pada pendapat yang dikemukakan oleh Litterer (1973) yang mengatakan bahwa suatu persepsi sangat penting untuk mengetahui susunan atau pengorganisasian tingkah laku individu. Selanjutnya seseorang bertindak atas dasar sesuatu yang ada untuk dipikirkan, diketahui atau dimengerti oleh seseorang.
Temuan penelitian ini dapat diartikan bahwa hotel di Indonesia telah melakukan upaya-upaya yang cukup baik yang dapat dilihat dalam menciptakan persepsi pelanggan yang mencakup commit to user commit to user
dipikirkan, diketahui atau dimengerti oleh seseorang. Jika dilihat dari nilai estimasi masing-masing indikator persepsi pelanggan yang mempengaruhi partisipasi pelanggan hotel di Indonesia, maka indikator pengetahuan pelanggan yang paling kuat. Hal ini sangat beralasan karena hotel sebagai sebuah badan usaha bergantung pada persepsi pelanggan yang ada dalam menciptakan suatu partisipasi pelanggan yang besar.
Pemikiran pelanggan di dalam hotel berdampak pada partisipasi pelanggan hotel. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam hotel, informasi-informasi yang dibuat oleh hotel terkait CSR akan menimbulkan bertambahnya pengetahuan pelanggan.
Pengetahuan pelanggan di dalam hotel juga berdampak pada penciptaan partisipasi pelanggan hotel. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indikator pengetahuan pelanggan yang ada di dalam hotel merupakan dimensi yang paling dominan dalam membentuk persepsi pelanggan hotel.
Selain itu, untuk membangun persepsi pelanggan hotel yang kuat juga harus memperhatikan bagaimana pengertian pelanggan hotel saat ini. Semakin tinggi pengertian pelanggan hotel terhadap aktifitas hotel maka semakin tinggi persepsi pelanggan hotel terhadap partisipasi pelanggan hotel dalam keikutsertaan kegiatan CSR hotel.
Apabila telah terbentuk persepsi pelanggan hotel maka juga akan berdampak pada partisipasi pelanggan sebagaimana yang dikemukakan oleh Literree (1998). Hasil deskriptif penelitian ini juga menunjukkan bahwa persepsi pelanggan dipersepsikan cukup baik oleh hotel di Indonesia yang berada pada kategori tinggi. Oleh karena itu untuk meningkatkan partisipasi pelanggan yang besar, salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian yaitu persepsi pelanggan yang meliputi pemikiran pelanggan, pengetahuan pelanggan, dan pengertian pelanggan di dalam hotel di Indonesia.
Adapun indikator yang dominan yaitu pengetahuan pelanggan. commit to user commit to user
b. Pengaruh Penerapan Kebijakan terkait CSR terhadap Partisipasi Pelanggan
Penerapan kebijakan terkait CSR termasuk didalamnya mengenai tatakelola (governance) terbukti positif signifikan terhadap partisipasi pelanggan hotel. Hasil ini memberikan bukti bahwa hotel yang bisa membangun persepsi pelanggan yang baik dapat memberikan dampak langsung secara positif terhadap partisipasi pelanggan hotel.
Hasil ini sesuai dengan literatur di dalam studi sebelumnya yang menyatakan bahwa penerapan kebijakan yang baik akan mendorong meningkatkan terjadinya partisipasi pelanggan. Secara empirik, literatur tersebut membahas bagaimana persepsi pelanggan suatu hotel akan berdampak pada peningkatan CSR hotel.
Dalam penelitian ini, pelanggan hotel memandang penerapan kebijakan terkait CSR baik dari pemerintah maupun hotel itu sendiri yang didalamnya termasuk tatakelola (governance) mendorong terciptanya keterbukaan dan akomodatif bagi pelanggan dalam melaksanakan tanggung jawabnya berpengaruh langsung terhadap CSR hotel. Penerapan kebijakan yang ada di hotel tersebut akan membentuk CSR hotel melalui tahapan-tahapan tertentu.
c. Pengaruh Partisipasi Pelanggan terhadap CSR hotel
Dari hasil pengujian hipotesis pengaruh variabel partisipasi pelanggan terhadap variabel CSR hotel diketahui bahwa partisipasi pelanggan terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap CSR hotel. Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian CSR hotel suatu hotel sangat bergantung pada partisipasi pelanggan yang dilakukan oleh hotel tersebut. Pengaruh positif muncul karena partisipasi pelanggan terlibat ikut serta yang dilakukan berorientasi kepada kesertaan memberikan dana, kesertaan memberikan barang, kesertaan commit to user commit to user
memberikan pengetahuan dan kesertaan dalam memantau program.
Dengan demikian, partisipasi pelanggan berdampak positif terhadap CSR hotel. Jika dilihat dari masing-masing indikator yang membentuk partisipasi pelanggan hotel berpengaruh terhadap pengembangan CSR hotel, maka indikator keikutsertaan memberikan dana dan keikutsertaan memberikan pengetahuan merupakan indikator yang paling berpengaruh terhadap pengembangan CSR hotel.
Dengan demikian, untuk meningkatkan CSR hotel maka hotel harus memiliki partisipasi pelanggan aktif yang baik. Partisipasi ini termasuk kesertaan memberikan dana, kesertaan memberikan barang, kesertaan memberikan pengetahuan, dan kesertaan dalam memantau program. Partisipasi lebih efektif jika diikuti dengan langkah nyata (action), dengan kata lain bahwa keikutsertaan atau keterlibatan seseorang dalam kegiatan nyata yang dilakukan secara aktif untuk merealisasikan suatu rencana terpantau sesuai harapan dalam mencapai tujuan, sehingga kegiatan tersebut akan berlangsung secara bekesinambungan (sustainability). Dalam hal ini partisipasi baik dari pelanggan maupun masyarakat yang disertai dengan keterlibatan secara aktif oleh partisipan dapat diistilahkan menjadi
“participaction”.
d. Pengaruh CSR hotel terhadap Keberdayaan Usaha Mikro Petani Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa CSR hotel merupakan wujud nyata suatu organisasi (Ferdinand, 2002).
Suatu CSR hotel dapat diupayakan dengan memperhatikan aspek sumberdaya yang dimiliki oleh organisasi tersebut sejalan dengan teori resource based view dimana menekankan pada pemberdayaan dan pengelolaan aset dan sumber daya yang dimiliki secara maksimal untuk mencapai suatu kinerja yang baik. Dalam upaya mencapai CSR hotel yang baik, organisasi tidak terlepas dari faktor-faktor secara internal maupun eksternal untuk meningkatkan kinerja commit to user commit to user
mereka. Dengan memperhatikan berbagai aspek yang membentuk CSR hotel, maka diharapkan suatu organisasi mampu dikelola dengan baik agar mampu meningkatkan daya saing mereka.
Pengelolaan tersebut dapat dilakukan melalui proses perencanaan yang baik, penerapan serta melakukan evaluasi dari kegiatan mereka. Dengan kata lain, untuk mencapai kinerja yang menciptakan CSR hotel, suatu organisasi harus mempertimbangkan aspek kebijakan, perencanaan serta sumberdaya yang dimiliki.
Indikator dalam studi ini mengacu pada pendapat Slamet
Indikator dalam studi ini mengacu pada pendapat Slamet