IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Hasil Analisis Model Regresi
Pengujian faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja secara bersama-sama dapat dilakukan dengan uji F-statistik dan uji t- statistik. Hasil estimasi dari fungsi regresi dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja di Indonesia Tahun 2003-2007
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. PDRB riil 0,2119730 0,037009 5,727588 0,0000 UMP riil 16,759620 3,412397 4,911391 0,0000 IN riil 1,7888230 0,439707 4,068220 0,0001 C 1363677,0 28730,51 47,46441 0,0000
Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables)
Weighted Statistics
R-squared 0,9945370 Mean dependent var 1697311,0 Adjusted R-squared 0,9929760 S.D. dependent var 1132762,0 S.E. of regression 133069,40 Sum squared resid 1.36E+12 F-statistic 637,15510 Durbin-Watson stat 1,622343 Prob(F-statistic) 0,0000000
Unweighted Statistics
R-squared 0,996518 Mean dependent var 1621204,0 Sum squared resid 1,56E+12 Durbin-Watson stat 1,6484190
Hasil analisis menunjukkan koefisien determinasi (R2) atau R-squared
bernilai 0,9945370 (99,45 persen). Artinya seluruh variabel bebas pada model secara bersamaan memberi pengaruh yang cukup besar terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa uji ketepatan perkiraan (goodness of fit) model adalah baik. Artinya model tersebut mampu dijelaskan oleh variabel-variabel bebas di dalamnya sebesar 99,45 persen dan sisanya 0,55 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
Uji F-statistik untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara keseluruhan dan untuk mengetahui apakah model penduga yang diajukan sudah layak untuk menduga parameter yang ada dalam persamaaan. Uji ini dilakukan dengan melihat F-statistik sebesar 637,1551 dengan probabilitas F- statistik sebesar 0,000000 yang nyata pada taraf 5 persen. Berdasarkan pengujian di atas dapat disimpulkan bahwa minimal ada salah satu variabel bebas berpengaruh nyata terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja di Indonesia.
Uji t-statistik bertujuan untuk menguji tingkat signifikasi hubungan tiap variabel bebas. Uji ini dilakukan dengan melihat nilai probabilitas masing- masing variabel bebas tersebut. Pada Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa PDRB, UMP dan investasi berpengaruh nyata terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada taraf 5 persen (α = 5 %). Berdasarkan hasil estimasi model, dapat ditentukan nilai elastisitas masing- masing variabel bebas melalui nilai masing- masing koefisiennya dengan metode perhitungan elastisitas sebagai berikut :
Ej= ηj =
/
=≌
βj ………...(4.1)Ej adalah elastisitas variabel bebas terhadap Y dan βj koefisien variabel
bebas. X dan Y masing- masing adalah nilai variabel terikat dan variabel bebas. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai elastisitas variabel PDRB sebesar 0,11, nilai elastisitas variabel UMP sebesar 0,04 dan nilai elastisitas variabel investasi sebesar 0,01.
4.3.2. Uji Pelanggaran Asumsi
Uji pelanggaran asumsi dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan pelanggaran asumsi normalitas, yaitu heteroskedastisitas, autokorelasi, dan
multikolinearitas. uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode fixed effect dengan pembobotan (General Least Square/Cross Section Weights), yaitu membandingkan antara sum square resid pada weighted statistic dan sum square resid pada unweighted statistic. Jika nilai sum square resid pada weighted statistic
lebih kecil dari nilai sum square resid pada unweighted statistic, maka diindikasikan terjadi heteroskedastisitas. Nilai sum square resid pada weighted statistic pada persamaan tenaga kerja lebih kecil dari nilai sum square resid pada
unweighted statistic, sehingga disimpulkan bahwa model memiliki gejala heteroskedastisitas. Untuk mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan cara uji
white dengan mengestimasi model menggunakan pembobotan (GLS) kemudian dilakukan white heteroscadasticity covariance (Widarjono, 2007).
Setelah menguji masalah heteroskedastisitas, asumsi lain yang harus dipenuhi adalah tidak adanya autokorelasi dalam model. Hal ini dapat dilihat dari nilai Durbin Watson. Jika nilai Durbin Watson mendekati 2, maka diasumsikan tidak terjadi autokorelasi Hasil estimasi dengan menggunakan metode fixed effect GLS secara teori tidak ditemukan adanya masalah autokorelasi.
Masalah multikolinearitas dapat dilihat dengan menggunakan nilai korelasi. Berikut ditampilkan tabel hasil uji Multikolinearitas.
Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolinearitas
PDRB UMP IN
PDRB 1,000000 0,172455 0,670887
UMP 0,172455 1,000000 0,226589
IN 0,670887 0,226589 1,000000
Jika nilai korelasi antar variabel < 0.8, maka tidak ada multikolinearitas dalam persamaan. Pada Tabel 4.4 terlihat bahwa seluruh variabel memiliki nilai korelasi < 0,8 sehingga pada model tidak terdapat masalah multikolinearitas.
4.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja
Berdasarkan hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada Tabel 4.3, maka secara matematis dapat diperoleh model persamaan tingkat penyerapan tenaga kerja di Indonesia sebagai berikut :
TK = 1363677 + 0,11 PDRBriil + 0,04 UMPriil + 0,01 INriil (28730,51) (0,037009) (3,412397) (0,439707)
Variabel PDRB berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia dan berhubungan positif. Nilai koefisien regresi dari variabel PDRB sebesar 0,11. Artinya jika terjadi kenaikan PDRB sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,11 persen. Semakin tinggi PDRB maka akan semakin banyak tenaga kerja yang diserap, asums i cateris paribus. Kenaikan PDRB akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi berimplikasi terhadap peningkatan kemampuan daya beli masyarakat. Hal ini tentunya akan semakin memicu lapangan usaha untuk meningkatkan produktivitasnya untuk memenuhi peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa akibat peningkatan kemampuan daya beli masyarakat.
Mengingat bahwa sektor-sektor ekonomi di Indonesia mayoritas masih di dominasi oleh sektor padat karya maka salah satu upaya perusahaan da lam meningkatkan produktivitasnya adalah dengan menambah jumlah tenaga kerja. Hal ini tentunya akan mendapat respon positif dari pasar tenaga kerja sehingga meningkatkan jumlah angkatan kerja yang terserap pada lapangan pekerjaan yang tersedia. Kondisi ini akhirnya dapat mengurangi tingkat pengangguran. Hasil penelitian sejalan dengan teori yang menunjukkan kenaikan PDRB akan memicu peningkatan penyerapan tenaga kerja.
Variabel upah minimum propinsi berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia dan berhubungan positif. Nilai koefisien regresi variabel upah minimum propinsi sebesar 0,04. Artinya jika terjadi kenaikan upah minimum propinsi sebesar 1 persen, maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,04 persen. Semakin tinggi PDRB maka akan semakin banyak tenaga kerja yang diserap, asumsi cateris paribus.
Hasil penelitian tampak bahwa koefisien regresi variabel UMP bersifat positif yang artinya kenaikan UMP akan meningkatkan jumlah tenaga kerja. Fakta ini bertolak belakang dengan teori dan hipotesis penelitian. Teori hubungan upah minimum dengan penyerapan tenaga kerja menjelaskan bahwa pemberlakuan upah minimum dapat menyebabkan pengangguran, namun dalam beberapa kasus pergeseran ini pada kenyataanya dapat menyebabkan perusahaan yang bersangkutan meningkatkan masukan tenaga kerja yang memaksimumkan laba2).
2)
Menurut Nicholson (1999) dala m bu kunya yang berjudul Teori Mik ro Ek onomi : Prinsip Dasar dan Perluasan.
Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan hubungan positif antara UMP dengan penyerapan tenaga kerja, diduga kenaikan UMP di Indonesia pada tahun 2003 hingga 2007 satu sisi akan mengurangi penyerapan tenaga kerja untuk kelompok pekerja yang rentan seperti pekerja yang berada di bawah usia kerja, kelompok pekerja yang kurang terdidik dan kurang memiliki keterampilan. Di sisi lain, kenaikan UMP akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja yang terdidik, memiliki ketrampilan, keahlian dan pengalaman. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.2 di mana selama kurun waktu 2003-2007 secara umum terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja lulusan SLTA, diploma dan universitas. Sedangkan penyerapan tenaga kerja yang tidak/belum tamat SD mengalami penurunan selama 2004-2006. Begitu juga penyerapan tenaga kerja lulusan SLTP mengalami penurunan sepanjang 2003-2007, kecuali tahun 2005 yang sempat mengalami sedikit kenaikan.
Selain itu, berdasarkan teori permintaan tenaga kerja, hubungan positif antara upah minimum dengan penyerapan tenaga kerja di mana kenaikan upah minimum akan diikuti dengan kenaikan penyerapan tenaga kerja dapat terjadi jika permintaan terhadap tenaga kerja secara agregat mengalami kenaikan. Data BPS3) menunjukkan bahwa pada tahun 2003 hingga 2007 terjadi penyerapan tenaga kerja yang cukup tinggi di sektor jasa-jasa, industri pengolahan, dan pertanian. Berdasarkan fakta ini dapat diduga bahwa meningkatnya penyerapan tenaga kerja akibat kenaikan upah minimum disebabkan oleh besarnya peningkatan permintaan tenaga kerja di ketiga sektor tersebut.
3)
Lihat Tabel 1.1
Sumber : LPI (2003-2007)
Gambar 4.2 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas, Bekerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Variabel investasi berpengaruh siginifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia dan berhubungan positif. Nilai koefisien regresi variabel investasi sebesar 0,01. Artinya jika terjadi kenaikan investasi sebesar 1 persen maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,01 persen. Semakin besar investasi semakin banyak jumlah tenaga kerja yang diserap, ceteris paribus.
Investasi diartikan sebagai pengeluaran atau pembelanjaan penanaman modal atau membeli berbagai barang modal dan perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan dalam memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian. Barang dan perlengkapan tersebut dikelola dan digerakkan oleh tenaga manusia sehingga secara teoritis semakin besar nilai investasi pada suatu lapangan usaha khususnya investasi yang bersifat padat karya, maka kesempatan kerja yang diciptakan semakin tinggi (Sukirno, 1997 dalam Subekti, 2007).
Hasil penelitian sesuai dengan teori, yaitu menunjukan adanya hubungan positif antara investasi dengan penyerapan tenaga kerja. Semakin meningkatnya jumlah investasi maka akan semakin meningkatkan jumlah tenaga kerja yang diserap lapangan usaha.