• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Hasil Analisis Penelitian

siswa

Motivasi belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran 75% masuk kategori tinggi.

a. Lembar observasi diskusi kelompok dan turnamen TGT siklus I dan siklus II. b. Kuisioner motivasi belajar siklus II (kuisioner motivasi awal belum terukur). 2. Hasil belajar aspek kognitif

Skor rata-rata kelas 76 dan capaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 75%

a. Pretes (tes awal) b. Postes siklus I dan

siklus II

Peneliti mentargetkan capaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) sebesar 75% yang lebih kecil dari rata-rata ketuntasan tiap kelas SMA Negeri 4 Yogyakarta sebesar 80%, karena dari hasil observasi peneliti selama Pelaksanaan Program Lapangan (PPL) di Kelas Khusus Olahraga (KKO) untuk pelajaran Biologi belum mencapai target KKM sekolah. Peneliti berpendapat bahwa target KKM sekolah terlalu tinggi untuk siswa KKO. Hal tersebut karena siswa Kelas Khusus Olahraga (KKO) yang berbeda dari kelas reguler lainnya. Siswa Kelas Khusus Olahraga (KKO) cenderung lebih aktif dalam kegiatan olahraga dan kurang tertarik pada pelajaran lain (lebih fokus pada pelajaran olahraga).

H. Personalia Penelitian

Penelitian ini melibatkan guru Biologi SMA Negeri 4 Yogyakarta dan peneliti dibantu oleh 4 observer.

1. Putu Juni Widiastuti, peneliti yang bertindak sebagai guru dan observer 1 pada siklus I.

2. Dra. Wardhani Indah Evyanti, guru Biologi SMA Negeri 4 Yogyakarta.

3. Dwi Apriani, observer 2 pada siklus I dan II. 4. Tri Liniarti, observer 3 pada siklus I dan II.

5. Veronica Dara Kumalasari, observer 4 pada siklus I dan II.

6. Florian Makin P., observer 5 pada siklus II (pengganti peran peneliti sebagai observer).

Peran observer adalah mengobservasi kelompok dalam diskusi kelompok (7 kelompok) dan turnamen TGT (5 kelompok). Peneliti dan observer 5 mengobservasi 1 kelompok diskusi dan 2 kelompok turnamen TGT. Sedangkan observer 2,3, dan 4 mengobservasi 2 kelompok diskusi dan 1 kelompok turnamen TGT.

51 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kegiatan Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas dengan menerapkan metode Teams Game Tournament (TGT) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa telah dilaksanakan pada siswa Kelas Khusus Olahraga (KKO) X-G SMA Negeri 4 Yogyakarta. Kelas Khusus Olahraga (KKO) adalah kelas yang mewadahi peserta didik dengan minat dan bakat pada berbagai bidang olahraga. Kegiatan belajar mengajar di Kelas Khusus Olahraga (KKO) pada dasarnya sama dengan kegiatan di kelas reguler, hanya saja bobot materi olahraga lebih banyak dan mendalam dengan adanya pertambahan jam pelajaran. Selain aspek akademik, evaluasi terhadap peserta didik di kelas ini juga ditekankan pada kondisi fisik, kematangan mental dan prestasi di cabang olahraga.

Pemilihan materi filum chordata yang merupakan sub-bab dunia hewan adalah karena materi-materi pada filum chordata terdapat banyak nama-nama ilmiah hewan yang membuat siswa susah untuk mengingatnya. Sehingga pemilihan metode Teams Game Tournament (TGT) adalah metode pembelajaran yang tepat untuk materi filum chordata. Pembelajaran dengan menerapkan metode Teams Game Tournament (TGT) yang meliputi diskusi kelompok, permainan, turnamen, dan pemberian hadiah dalam proses pembelajarannya, membuat

siswa semangat untuk belajar. Siswa belajar sambil bermain yang membuat siswa belajar dengan senang dan nyaman. Sehingga metode Teams Game Tournament (TGT) adalah metode pembelajaran yang tepat diterapkan pada materi filum chordata di Kelas Khusus Olahraga (KKO).

Dalam penelitian ini, peneliti juga bertindak sebagai guru dalam memberikan materi pelajaran. Penelitian ini berlangsung hingga 2 siklus, berikut ini hasil dari masing-masing siklus.

1. Pelaksanaan Penelitian a. Siklus I

1) Perencanaan

Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti terlebih dahulu melakukan perencanaan. Tahap awal perencanaan adalah dengan melakukan observasi dan wawancara. Observasi dilakukan pada saat peneliti melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) dengan mengajarkan pelajaran Biologi di Kelas Khusus Olahraga (KKO) X-G SMA Negeri 4 Yogyakarta.

Hasil dari observasi adalah siswa kurang termotivasi untuk belajar karena siswa lebih fokus dalam pembelajaran olahraga dan sedikit mengabaikan pelajaran lainnya, sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu dengan banyaknya siswa yang mendapatkan hasil dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum).

Tahap kedua ialah dengan melakukan identifikasi masalah dan menentukan alternatif pemecahan masalah. Menentukan materi pembelajaran yang bermasalah dan motivasi siswa yang kurang. Setelah menentukan materi pembelajaran dan mengukur motivasi siswa, dilakukan persiapan sebagai berikut ini :

a) Menyusun perangkat instrumen penelitian yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, yang meliputi silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), materi pembelajaran, Lembar Kerja siswa (LKS), kisi-kisi soal pretes dan postes, soal-soal tes baik untuk pretes maupun postes, dan kunci jawaban LKS, pretes dan postes.

b) Menyusun perangkat instrumen pengukuran motivasi dari lembar observasi dan kuisioner. Lembar observasi meliputi kisi-kisi lembar observasi diskusi dan turnamen TGT, lembar observasi diskusi kelompok, lembar observasi dan turnamen TGT, soal turnamen TGT, lembar skoring turnamen TGT, kunci jawaban soal turnamen TGT. Sedangkan kuisioner meliputi kisi-kisi dan soal pertanyaan. c) Merancang dan menyiapkan segala alat dan bahan yang

akan digunakan dalam penelitian, yang meliputi kartu soal dan jawaban, kartu gambar, tabel gambar, bahan presentasi, dan penghargaan kelompok.

2) Pelaksanaan Tindakan

Pembelajaran siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan (setiap satu kali pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran) pada jam pelajaran ke tujuh hingga jam pelajaran ke delapan yaitu dari pukul 12.20 WIB sampai dengan pukul 13.50 WIB. Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilaksanakan di Kelas Khusus Olahraga X-G SMA Negeri 4 Yogyakarta dan di ruang AVA.

Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 30 April 2013. Jumlah total siswa yang mengikuti semua kegiatan belajar mengajar dengan data nilai yang lengkap selama penelitian adalah 29 siswa dari jumlah seluruh siswa Kelas Khusus Olahraga (KKO) yang berjumlah 35 siswa. Pembelajaran diawali dengan melaksanakan pretes mengenai materi dunia hewan, khususnya filum chordata. Tes ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa mengenai materi yang akan diajarkan dan untuk membagi siswa dalam kelompok turnamen dari hasil pretes. Pelaksanaan pretes berlangsung selama 15 menit.

Gambar 6. Pelaksanaan Pretes siklus I

Data hasil pretes yang dianalisis adalah 29 siswa. Hasil pretes menunjukkan bahwa siswa yang tuntas atau mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) berjumlah 1 siswa dari 29 siswa, dengan rata-rata nilai 56,72 dan ketuntasan klasikal/pencapaian prosentase Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 3,45%. Berikut ini hasil pretes yang sudah dilaksanakan:

Tabel 7. Analisis Hasil Belajar Siswa Awal (Pretes)

No Jenis Data yang Diamati Hasil yang Diperoleh

1 Nilai tertinggi 80

2 Nilai terendah 25

3 Jumlah siswa yang tuntas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) >75

1 siswa 4 Jumlah siswa yang tidak tuntas

Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) <75

28 siswa

5 Rata-rata kelas 56,72

6 Ketuntasan klasikal 3,45 %

7 Target keberhasilan skor rata-rata kelas

76 8 Target keberhasilan capaian Kriteria

Ketuntasan Minimum (KKM)

75%

(keterangan lebih lengkap mengenai hasil pretes siswa

terdapat pada lampiran 11 halaman 174, lembar pretes dengan

nilai tertinggi pada lampiran 12 halaman 175, dan lembar

pretes dengan nilai terendah pada lampiran 13 halaman 180).

Setelah pretes selesai dilaksanakan, peneliti meminta siswa untuk mengumpulkannya dan selanjutnya peneliti memberi materi. Materi yang diajarkan pada pertemuan pertama siklus I adalah ciri-ciri filum chordata, klasifikasi filum chordata, hubungan invertebrata dan vertebrata dalam filum chordata, dan klasifikasi subfilum vertebrata.

Kegiatan selanjutnya adalah peneliti membagi siswa dalam kelompok diskusi, dengan masing-masing kelompok terdiri dari 4 sampai 5 siswa, satu kelompok dengan jumlah anggota 4 siswa dan enam kelompok dengan jumlah anggota 5 siswa. Setelah kelompok diskusi terbentuk, peneliti memberi mereka tugas untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa 1 (LKS 1) dengan masing-masing anggota memiliki partisipasi dalam menyelesaikannya. Akan tetapi karena keterbatasan waktu, siswa melaksanakan diskusi dengan menyelesaikan Lembar Kerja Siswa 1 (LKS 1) pada pertemuan selanjutnya. Selain itu, peneliti juga memberi tugas yang dikerjakan di rumah kepada masing-masing siswa yaitu mengerjakan Lembar Kerja Siswa 2 (LKS 2), hal ini bertujuan agar lebih memperdalam pemahaman siswa terhadap materi yang sudah dipelajari.

Lembar Kerja Siswa 1 (LKS 1) dan Lembar Kerja Siswa 2 (LKS 2) masing-masing dikumpulkan dan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Pertemuan ke dua pada hari Selasa, 07 Mei 2013 yang diawali dengan melanjutkan kembali diskusi kelompok. Setelah semua kelompok selesai melaksanakan diskusi kelompok dengan menjawab semua pertanyaan pada Lembar Kerja Siswa 1 (LKS 1), peneliti membimbing siswa untuk membahas hasil diskusi kelompok. Masing-masing perwakilan kelompok mengemukakan hasil diskusi dan kelompok lain menanggapi jika jawaban dari kelompok mereka berbeda. Setelah semua kelompok mengemukakan hasil diskusi, peneliti memberi sedikit penjelasan dan meminta siswa untuk mengumpulkan hasil diskusi kelompok berupa Lembar Kerja Siswa 1 (LKS 1) dan Lembar Kerja Siswa 2 (LKS 2) yang sudah dikerjakan siswa di rumah.

Setelah semua tugas-tugas siswa dikumpulkan, kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan melakukan permainan tebak gambar dan turnamen TGT. Sebelum permainan tebak gambar dan turnamen TGT dilaksanakan, peneliti terlebih dahulu menjelaskan langkah-langkah dan peraturan pelaksanaannya.

Kegiatan yang lebih dahulu dilaksanakan adalah permainan tebak gambar. Kegiatan permainan tebak gambar adalah siswa berkumpul dalam kelompok yang sama seperti dalam diskusi kelompok, kemudian peneliti membagikan kartu gambar-gambar hewan filum chordata kepada masing-masing kelompok. Kartu gambar yang diberikan kepada masing kelompok berjumlah 4 kartu gambar. Setelah masing-masing kelompok sudah memiliki kartu gambar, peneliti meminta siswa untuk mencocokkan dan menempelkan kartu gambar tersebut pada tabel klasifikasi subfilum vertebrata yang siswa anggap sesuai dan benar. Selanjutnya peneliti bersama siswa membahas hasil permainan tebak gambar dengan mengkoreksi kartu gambar yang ditempel pada tabel klasifikasi subfilum vertebrata sudah benar atau tidak. Setiap kartu gambar yang ditempelkan pada tabel klasifikasi subfilum vertebrata dengan benar, kelompok tersebut mendapatkan poin.

Gambar 8. Siswa Melaksanakan Permainan Tebak Gambar Siklus I

Setelah permainan tebak gambar selesai dilaksanakan, pembelajaran kemudian memasuki kegiatan turnamen TGT. Kegiatan turnamen TGT adalah siswa berkumpul dalam kelompok baru yang dibentuk berdasarkan hasil pretes siswa. Turnamen TGT dibagi ke dalam 5 kelompok yang masing-masing dengan jumlah anggota 6 sampai 7 siswa. Sebelum melaksanakan turnamen TGT, peneliti terlebih dahulu menjelaskan langkah-langkah kerjanya dan setelah semua siswa paham, peneliti membagi siswa dalam kelompok dengan nama kelompok A, B, C, D, E dan siswa berkumpul dengan kelompok masing-masing.

Dalam turnamen alat-alat yang digunakan adalah kartu soal, kartu jawaban, handphone sebagai timer, dan lembar skor. Setiap kelompok, anggotanya duduk membentuk lingkaran dan membagi peran. Masing-masing anggota memiliki peran sebagai pembaca soal, penantang, pembaca kunci jawaban,

timer, dan menulis skor. Jumlah penantang masing-masing kelompok disesuaikan dengan jumlah anggota kelompok dan pembaca kunci jawaban juga berperan sebagai timer serta penulis skor.

Permainan dimulai dari pembaca soal yang mengambil kartu soal dan membacanya kemudian menjawabnya, dan timer memulai menghitung waktunya. Seandainya pembaca soal tidak bisa menjawab dengan benar atau menjawabnya masih kurang tepat, maka peran penantang yang menjawab atau melengkapinya. Penantang-penantang lainnya akan melengkapi jika seandainya jawaban dari penantang 1 masih belum tepat. Setelah jawaban disebutkan dengan benar atau belum ada yang menjawab dengan benar dari pembaca soal hingga penantang terakhir, maka pembaca kunci jawaban akan membacakan kunci jawaban dan menuliskan skor yang diperoleh siswa. Turnamen TGT ini terus berlangsung hingga semua anggota mengalami masing-masing peran dan pembagian peran dilakukan berdasarkan perputaran arah jarum jam.

Setelah turnamen selesai dilaksanakan, skor masing-masing siswa dijumlahkan dan siswa kembali ke kelompok diskusi untuk dijumlahkan skor total dari skor diskusi kelompok, permainan tebak gambar, dan turnamen TGT.

3) Observasi

Pengamatan motivasi siswa dalam diskusi kelompok dan turnamen TGT dilakukan oleh 3 observer yang membantu peneliti untuk mengetahui aktivitas siswa yang menunjukkan munculnya motivasi siswa. Berikut ini hasil pengamatan motivasi siswa dalam diskusi kelompok dan turnamen TGT :

Tabel 8. Hasil Observasi Diskusi Kelompok Siklus I Kualifikasi skor yang diperoleh Jumlah siswa Kategori Prosentase skor 66,68% - 100% 16 Tinggi 55,17% 33,34% - 66,67% 5 Sedang 17,24% 0% - 33,33% 8 Rendah 27,59%

Jumlah total siswa 29

Dari tabel di atas diketahui bahwa terdapat 55,17% siswa yang masuk dalam kategori tinggi, 17,24% siswa masuk dalam kategori sedang, dan 27,59% siswa masuk dalam kategori sangat rendah. (keterangan lebih lengkap mengenai hasil observasi diskusi kelompok siklus I terdapat pada

lampiran 14 halaman 184, lembar observasi diskusi kelompok

dengan nilai tertinggi pada lampiran 15 halaman 185, dan

lembar observasi diskusi kelompok dengan nilai terendah pada

lampiran 16 halaman 187).

Tabel 9. Hasil Observasi Turnamen TGT Siklus I Kualifikasi skor yang diperoleh Jumlah siswa Kategori Prosentase skor 66,68% - 100% 24 Tinggi 82,76% 33,34% - 66,67% 5 Sedang 17,24% 0% - 33,33% 0 Rendah 0%

Berdasarkan tabel 9, diketahui bahwa terdapat 82,76% siswa yang masuk dalam kategori tinggi dan 17,24% siswa yang masuk dalam kategori sedang. (keterangan lebih lengkap mengenai hasil observasi turnamen TGT siklus I terdapat pada

lampiran 17 halaman 189, lembar observasi turnamen TGT

dengan nilai tertinggi pada lampiran 18 halaman 190, dan

lembar observasi turnamen TGT dengan nilai terendah pada

lampiran 19 halaman 192).

Evaluasi siklus I dilaksanakan pada pertemuan ke tiga pada hari Selasa tanggal 14 Mei 2013, dengan data siswa yang dianalisis berjumlah 29 siswa. Siswa mengerjakan postes selama 15 menit, berikut ini hasil dari postes siklus I :

Tabel 10. Analisis Hasil Belajar Siswa siklus I (Postes siklus I) No Jenis Data yang Diamati Hasil yang Diperoleh

1 Nilai tertinggi 75

2 Nilai terendah 25

3 Jumlah siswa yang tuntas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) >75

1 siswa 4 Jumlah siswa yang tidak tuntas

Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) <75

28 siswa

5 Rata-rata kelas 49,48

6 Ketuntasan klasikal 3,45%

7 Target keberhasilan awal skor rata-rata kelas

76 8 Target keberhasilan capaian Kriteria

Ketuntasan Minimum (KKM)

75%

9 Kualifikasi Belum tuntas

Dari tabel di atas diketahui bahwa hanya 1 siswa yang tuntas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dari 29 siswa dengan rata-rata nilai 49,48 dan prosentase pencapaian Kriteria

Ketuntasan Minimum (KKM) 3,45%. (keterangan lebih lengkap mengenai hasil postes siklus I siswa terdapat pada

lampiran 20 halaman 194, lembar nilai postes siklus I dengan

nilai tertinggi pada lampiran 21 halaman 195, dan lembar

nilai postes siklus I dengan nilai terendah pada lampiran 22

halaman 200).

4) Refleksi

Refleksi dilaksanakan setelah pembelajaran siklus I selesai dilaksanakan. Hasil dari refleksi akan digunakan sebagai bahan perbaikan pada siklus selanjutnya. Berikut ini hasil dari refleksi pembelajaran siklus I.

Proses pelaksanaaan pembelajaran dengan menggunakan metode TGT sudah dilaksanakan sesuai rencana, tetapi masih kurang dalam manajemen waktu, sehingga pelaksanaan pembelajaran yang seharusnya pretes, pemberian materi, dan diskusi kelompok diselesaikan dalam satu kali pertemuan terpaksa dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya. Proses pembelajaran hanya sampai pada pembentukan kelompok diskusi, sehingga masing-masing kelompok diberikan Lembar Kerja Siswa 1 (LKS 1) untuk dikerjakan dan dibahas pada pertemuan selajutnya. Hal ini disebabkan siswa yang banyak bertanya dan mencatat materi yang peneliti

jelaskan dan mengakibatkan pembelajaran banyak menghabiskan waktu saat pemberian materi.

Respon siswa cukup baik, yaitu dengan ada beberapa siswa yang bertanya mengenai materi yang kurang jelas. Tetapi hal tersebut juga dibarengi dengan beberapa siswa yang kurang memperhatikan jalannya pembelajaran dengan sibuk sendiri dan mengobrol dengan teman sebangku. Hal ini membuat peneliti sering menghampiri siswa yang kurang memperhatikan tersebut dan menegur mereka.

Pada saat diskusi kelompok, siswa susah diatur untuk bergabung dalam kelompok yang ditentukan peneliti. Siswa beralasan merasa kurang nyaman dan tidak bisa bekerja sama. Selain itu juga disebabkan jumlah siswa laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang, yaitu jumlah siswa laki-laki lebih banyak dibandingkan jumlah siswa perempuan. Oleh karena itu, peneliti membentuk kembali kelompok-kelompok baru agar membuat siswa nyaman dalam belajar berkelompok.

Jumlah kelompok diskusi adalah 7 kelompok dengan 3 kelompok yang dalam kelompoknya terdapat siswa laki-laki dan perempuan dan 4 kelompok yang hanya terdiri dari siswa laki-laki saja. Pelaksanaan diskusi kelompok tidak tuntas dalam satu kali pertemuan. Pembentukan dan penyerahan tugas kelompok diskusi pada pertemuan pertama, sedangkan penyelesaian dan pembahasan Lembar Kerja Siswa 1 (LKS 1)

dan Lembar Kerja Siswa 2 (LKS 2) pada pertemuan kedua. Dalam pelaksanaan diskusi kelompok, peneliti dibantu oleh 3 observer. Obeserver membatu dalam mengobservasi siswa saat melaksanakan diskusi kelompok.

Pelaksanaan permainan tebak gambar dan turnamen TGT dilaksanakan pada pertemuan kedua. Pada saat permainan tebak gambar, siswa terlihat antusias dan semangat. Sedangkan dalam turnamen TGT siswa terlihat masih binggung, sehingga pelaksanaan turnamen TGT menjadi kurang efektif. Selain itu, dalam turnamen, peneliti dibantu 3 observer yang membantu mengobservasi siswa saat melaksanakan turnamen.

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada pembelajaran siklus I belum mencapai target yang diharapkan. Hasil pretes dan postes siklus I tidak tuntas dengan sama-sama memperoleh ketuntasan klasikal 3,45%. Tetapi berbeda pada skor rata-rata kelas, skor rata-rata pretes sebesar 56,72 lebih besar dari skor rata-rata postes siklus I yaitu 49,48. Perbedaan skor rata-rata dikarenakan pada saat siswa mengerjakan pretes banyak siswa yang tidak jujur, seperti mencontek teman dan mencontek di buku, selain itu juga karena kurangnya pengawasan peneliti saat mengawasi siswa. Sehingga banyak siswa yang memperoleh hasil yang cukup baik, walaupun hasil tersebut belum mencapai target Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Sedangkan pada saat siswa mengerjakan postes siklus I,

peneliti lebih teliti dalam mengawasi siswa, yaitu sebelum postes dilaksanakan, peneliti meminta siswa mengumpulkan semua buku catatan pelajaran Biologi maupun pelajaran lainnya di meja guru dan hanya pena atau pensil yang ada di atas meja siswa. Selain itu, tempat duduk siswa juga diatur jaraknya, sehingga jarak tempat duduk antar siswa lebih terlihat dan mencegah atau menghindari siswa untuk mencontek.

Kurang aktifnya siswa saat melaksanakan diskusi dan turnamen TGT juga turut mempengaruhi hasil belajar siswa. Maka untuk memperbaiki hasil belajar pada siklus selanjutnya, peneliti melakukan perbaikan langkah-langkah pembelajaran. Sehingga dapat memberi kenyamanan siswa dalam belajar.

b. Siklus II

1) Perencanaan

Perencanaan siklus II, dilakukan berdasarkan hasil yang dicapai pada siklus I. Pencapaian hasil siklus I belum sesuai target yang diinginkan. Langkah-langkah pembelajaran siklus II secara umum sama dengan siklus I, hanya saja terdapat beberapa pembeda yang merupakan hasil refleksi dari siklus I.

Berikut ini yang membedakan siklus II dengan siklus I : Peneliti memberikan fotocopy ringkasan materi kepada siswa, hal ini bertujuan untuk menghemat waktu dalam menjelaskan materi, agar siswa lebih fokus untuk memperhatikan penjelasan

materi. Peneliti juga membebaskan siswa untuk memilih anggota kelompok diskusi, hal ini bertujuan untuk memberi kenyamanan siswa dalam berkomunikasi antar anggota dan mempermudah siswa saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas diskusi.

2) Pelaksanaan Tindakan

Siklus II dilaksanakan pada pertemuan ketiga, keempat, dan kelima. Pertemuan ketiga pada hari Selasa, 14 Mei 2013 di kelas khusus olahraga (KKO) X-G SMA Negeri 4 Yogyakarta. Pelaksanaan tindakan siklus II bersamaan dengan evaluasi siklus I, karena waktu yang tidak cukup untuk melaksanakan postes pada pertemuan kedua. Sehingga refleksi perbaikan untuk siklus II dilihat dari antusias dan keaktifan siswa saat mengikuti pembelajaran siklus I, serta hasil observasi motivasi siswa siklus I.

Setelah postes selesai dilaksanakan, peneliti mulai membagikan fotocopy ringkasan materi kepada masing-masing siswa dan menjelaskan materi. Selama proses penjelasan materi, siswa terlihat lebih aktif dengan memperhatikan dan bertanya mengenai materi yang belum dipahami.

Gambar 9. Peneliti Menjelaskan Materi

Pembelajaran selanjutnya adalah diskusi kelompok dengan mengerjakan Lembar Kerja Siswa 3 (LKS 3). Dalam mengerjakan tugas diskusi, siswa terlihat lebih semangat dengan membagi tugas kepada masing-masing anggota kelompok, sehingga memiliki peran dalam kelompok.

Gambar 10. Siswa Melaksanakan Diskusi Kelompok

Setelah siswa selesai melakukan diskusi kelompok, peneliti membimbing siswa untuk mengemukakan hasil diskusi kelompok dan mengemukakan pendapat yang berbeda jika

tidak sesuai dengan kelompok lain. Sebelum pembelajaran berakhir, peneliti memberikan penghargaan kepada siswa dari hasil diskusi kelompok, permainan, dan turnamen TGT siklus I dan tugas kepada siswa untuk mengerjakan Lembar Kerja Siswa 4 (LKS 4) di rumah dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya. Selain itu, peneliti juga memberi tugas siswa untuk mempelajari kembali materi yang sudah dipelajari dan mengingatkan siswa bahwa pada pertemuan selanjutnya akan diadakan permainan dan turnamen.

Pertemuan keempat siklus II dilaksanakan pada hari Selasa, 21 Mei 2013 dan juga di kelas khusus olahraga (KKO) X-G SMA Negeri 4 Yogyakarta. Peneliti langsung membimbing siswa untuk berkumpul dalam kelompok diskusi. Setelah semua berkumpul dalam kelompok, peneliti membagikan 4 kartu gambar kepada masing-masing kelompok dan permainan tebak gambar dimulai.

Gambar 11. Siswa Melaksanakan Permainan Tebak Gambar Siklus II

Pembelajaran selanjutnya adalah turnamen TGT. Sebelum turnamen TGT dimulai, peneliti terlebih dahulu membimbing siswa untuk berkumpul dalam kelompok turnamen TGT yang sama dengan kelompok turnamen TGT siklus I. Peneliti kemudian memberikan kartu soal dan kartu jawaban kepada masing-masing kelompok dan turnamen TGT dilaksanakan.

Gambar 12. Siswa Melaksanakan Turnamen TGT Siklus II 3) Observasi

Observasi diskusi kelompok dan turnamen TGT yang dalam proses observasinya dibantu oleh 4 observer. Berikut ini hasil observasi diskusi kelompok dan turnamen TGT :

Tabel 11. Hasil Observasi Diskusi Kelompok Siklus II Kualifikasi skor yang diperoleh Jumlah siswa Kategori Prosentase skor 66,68% - 100% 25 Tinggi 86,21% 33,34% - 66,67% 4 Sedang 13,79% 0% - 33,33% 0 Rendah 0%

Berdasarkan tabel 11, diketahui bahwa terdapat 86,21% siswa yang masuk dalam kategori tinggi dan 13,79% siswa masuk dalam kategori sedang. (keterangan lebih lengkap mengenai hasil observasi diskusi kelompok siklus II terdapat

Dokumen terkait