• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.2 Hasil Analisis Pengaruh Impor terhadap Harga

Penelitian mengenai analisis pengaruh impor komoditi jagung pipil terhadap harga ditingkat produsen Sumatera Utara dilaksanakan dengan mengumpulkan data-data yang mempengaruhi harga produsen jagung domestik Sumatera Utara dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012. Adapun hal ingin diteliti adalah bagaimana

pengaruh volume impor jagung yang dilakukan pemerintah terhadap harga produsen atau petani dan pengaruh-pengaruh lainnya.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Harga

Harga produsen jagung pipil di Sumatera Utara dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu produksi jagung, stok jagung pipil periode sebelumnya, volume impor jagung pipil periode sebelumnya, harga rill jagung pipil produsen periode sebelumnya, harga rill jagung pipil domestik Indonesia, harga rill jagung pipil impor, kurs rupiah terhadap dollar dan harga rill pakan ternak unggas dikalikan dengan Indeks Harga Konsumen. Hasil analisis fakor-faktor pembentukan harga produsen jagung Sumatera Utara dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel 9 . Model Summary Regresi

Model R R Square Adjusted R Square 1 0,839 0,704 0,628 Sumber : Lampiran

Pada tabel dapat dilihat nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,839 yang menunjukkan hubungan yang kuat antar variabel. Koefisien determinasi (R2) dari model harga rill jagung di tingkat produsen Sumatera Utara sebesar 0,704, yang berarti 70,4 persen keragaman harga rill jagung pipil di tingkat produsen Sumatear Utara dapat diterangkan oleh variabel- variabel eksogen di dalam model yaitu produksi jagung, stok jagung pipil periode sebelumnya, volume impor jagung pipil periode sebelumnya, harga rill jagung pipil produsen periode sebelumnya, harga rill jagung pipil domestik Indonesia, harga rill jagung pipil impor, kurs

rupiah terhadap dollar dan harga rill pakan ternak unggas. Sedangkan sisanya sebesar 29,6 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat dalam model.

Tabel 10.Analisis Regresi Faktor-faktor pembentukan Harga Produsen Jagung Pipil

Penduga Koefisien

Regresi Sig t

Konstanta 983494,418 0,226

Produksi jagung -1,068 0,053

Stok periode sebelumnya -0,653 0,210

Volume impor sebelumnya -2,495 0,328

Harga rill jagung sebelumnya 0,429 0,005

Harga jagung Indonesia sebelumnya -0,523 0,048

Harga rilll impor 0,797 0,005

Kurs 68,093 0,283

Harga rill pakan ternak unggas 0,041 0,459

Sumber : Lampiran Output SPSS

Model yang dirumuskan dalam upaya menerangkan pengaruh volume impor jagung pipil terhadap harga jagung pipil ditingkat produsen Sumatera Utara adalah model regresi berganda, dengan metode pendugaan Ordinary Least Square (OLS). Model hasil dugaan diperoleh sebagai berikut:

HJG = 983494,418 – 1,068 PRO – 0,653 STK – 2,495 VIM + 0,429 HJS - 0,523 HDI + 0,797 HJI + 68,093 KRS + 0,041 HPT

Dari persamaan tersebut diperoleh konstanta sebesar 983494,418, nilai ini menunjukkan bahwa harga pada bulan desember tahun 2012 sebesar 983494,418 rupiah per ton apabila tidak dipengaruhi oleh produksi jagung, stok jagung pipil periode sebelumnya, volume impor jagung pipil periode sebelumnya, harga rill jagung pipil produsen periode sebelumnya, harga rill jagung pipil domestik

Indonesia, harga rill jagung pipil impor, kurs rupiah terhadap dollar dan harga rill pakan ternak unggas.

Untuk koefisien dugaan variabel jumlah produksi jagung adalah sebesar -1,068, artinya hal ini menunjukkan bahwa harga jagung pipil ditingkat produsen Sumatera Utara pada saat sekarang akan turun sebesar 1,068 rupiah untuk setiap kenaikan jumlah produksi jagung.

Koefisien dugaan variabel jumlah stok jagung pipil periode sebelumnya adalah sebesar -0,653, artinya hal ini menunjukkan bahwa harga jagung pipil ditingkat produsen Sumatera Utara pada saat sekarang akan turun sebesar 0,653 rupiah untuk setiap kenaikan jumlah stok jagung periode sebelumnya sebesar satu ton.

Untuk volume impor jagung pipil periode sebelumnya diperoleh koefisien -2,495, hal ini menunjukkan bahwa harga jagung pipil ditingkat produsen Sumatera Utara pada saat sekarang akan turun sebesar 2,495 rupiah untuk setiap kenaikan jumlah volume impor jagung pipil periode sebelumnya sebesar satu ton.

Untuk koefisien dugaan variabel harga rill jagung pipil produsen periode sebelumnya diperoleh koefisien 0,429, yang berarti jika terjadi peningkatan harga rill jagung pipil ditingkat produsen sebesar satu rupiah per ton akan menyebabkan peningkatan harga rill jagung pipil ditingkat produsen sebesar 0,429 rupiah per ton di periode yang akan datang, sebaliknya apabila terjadi penurunan harga rill jagung di tingkat produsen periode sebelumnya sebesar satu rupiah per ton akan mengakibatkan harga rill jagung pipil di tingkat produsen turun sebesar 0,429 rupiah per ton.

Untuk harga jagung domestik Indonesia periode sebelumnya diperoleh koefisien -0,523, hal ini menunjukkan bahwa harga jagung pipil ditingkat produsen pada saat sekarang akan turun sebesar 0,523 rupiah setiap kenaikan harga jagung pipil domestik Indonesia pada periode sebelumnya.

Koefisien dugaan variabel harga rill jagung pipil impor adalah sebesar 0,797, artinya jika terjadi peningkatan harga rill jagung pipil impor sebesar satu rupiah per ton akan menyebabkan peningkatan harga rill jagung pipil ditingkat produsen sebesar 0,797 rupiah per ton.

Untuk kurs rupiah diperoleh nilai koefisien 68,093, hal ini menunjukkan bahwa harga rill jagung pipil ditingkat produsen akan naik sebesar 68,093 rupiah untuk setiap kenaikan kurs rupiah di Indonesia dimana faktor lain dianggap konstan.

Untuk harga pakan ternak unggas diperoleh koefisien 0,041, hal ini menunjukkan bahwa harga jagung pipil ditingkat produsen Sumatera Utara akan naik sebesar 0,041 rupiah setiap kenaikan harga pakan ternak unggas di Sumatera Utara, dimana faktor lain dianggap konstan.

Dari persamaan tersebut dilakukan uji asumsi sebagai berikut:

1. Uji Statistik F

Tabel 11. Anova Hasil Regresi

Model

Sum of Squares df Mean Square

F Sig.

1 Regression 1,71101E12 8 2,14E11 9,228 0,000 Residual 7,1848E11 31 2,32E10

Total 2,42949E12 39

Dari tabel diperoleh nilai signifikan F sebesar 0,000 yaitu lebih kecil

dibandingkan dengan α sebesar 0,1 (10 %). Dengan demikian H0 ditolak, H1

diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas secara serempak memiliki pengaruh yang nyata terhadap harga jagung di Sumatera Utara.

2. Uji Statistik t

Dari tabel diperoleh nilai signifikan t:

• Jumlah produksi (PRO) sebesar 0,053 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan

α sebesar 0,1 (10%). Dengan demikian H0 ditolak, H1 diterima. Hal ini

menunjukkan jumlah produksi (PRO) berpengaruh nyata terhadap harga jagung di tingkat produsen Sumatera Utara.

• Jumlah stok periode sebelumnya (STK) sebesar 0,210 yaitu yaitu lebih besar

dari nilai α dengan besar 0,1 (10%). Dengan demikian H0 diterima, H1

ditolak. Hal ini menunjukkan pengaruh jumlah stok periode sebelumnya terhadap (STK) harga rill jagung pipil di tingkat produsen Sumatera Utara tidak nyata.

• Volume impor jagung pipil periode sebelumnya (VIM) sebesar 0,328 yaitu yaitu yaitu lebih besar dari nilai α dengan besar 0,1 (10%). Dengan demikian

H0 diterima, H1 ditolak. Hal ini menunjukkan volume impor jagung pipil periode sebelumnya (VIM) terhadap harga rill jagung pipil di tingkat produsen Sumatera Utara tidak nyata.

• Harga rill jagung pipil di tingkat produsen periode sebelumya (HJS) sebesar 0,005 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan α sebesar 0,1 (10%). Dengan

demikian H0 ditolak, H1 diterima. Hal ini menunjukkan Harga rill jagung pipil di tingkat produsen periode sebelumnya (HJS) berpengaruh nyata terhadap harga jagung pipil di tingkat produsen Sumatera Utara.

• Harga rill jagung pipil domestik Indonesia periode sebelumnya (HDI) sebesar

0,048 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan α sebesar 0,1 (10%). Dengan

demikian H0 ditolak, H1 diterima. Hal ini menunjukkan Harga rill jagung pipil domestik Indonesia periode sebelumnya (HDI) berpengaruh nyata terhadap harga jagung pipil di tingkat produsen Sumatera Utara.

• Harga rill jagung pipil impor (HJI) sebesar 0,005 yaitu lebih kecil

dibandingkan dengan α sebesar 0,1 (10%). Dengan demikian H0 ditolak, H1

diterima. Hal ini menunjukkan Harga rill jagung pipil impor (HJI) berpengaruh nyata terhadap harga jagung pipil di tingkat produsen Sumatera Utara.

• Kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dollar sebesar 0,283 yaitu lebih besar

dari nilai α dengan besar 0,1 (10%). Dengan demikian H0 diterima, H1 ditolak. Hal ini menunjukkan pengaruh kurs dollar terhadap rupiah dalam model pembentukan harga jagung di tingkat produsen Sumatear Utara tidak nyata.

• Harga rill pakan ternak unggas Sumatera Utara sebesar 0,459 yaitu lebih

ditolak. Hal ini menunjukkan pengaruh Harga pakan ternak unggas Sumatera Utara terhadap harga jagung di tingkat produsen Sumatear Utara tidak nyata.

Uji Asumsi Klasik

1. Multikolinearitas

Multikolinieritas dalam model dapat diidentifikasi dengan melihat nilai tolerance

dan Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai tolerance independennya lebih besar dari 1, atau nilai VIF sama dengan 1 dibagi dengan niali tolerance, maka terdapat masalah multikolinieritas. Dengan berpedoman padahasil output regresi dengan tabel , terlihat bahwa ternyata nilai tolerance dari kedelapan variabel (produksi jagung, stok jagung pipil periode sebelumnya, volume impor jagung pipil periode sebelumnya, harga rill jagung pipil produsen periode sebelumnya, harga rill jagung pipil domestik Indonesia, harga rill jagung pipil impor, kurs rupiah terhadap dollar dan harga rill pakan ternak unggas), lebih kecil dari 1 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinieritas di dalam model dugaan.

Tabel 12. Nilai tolerance dan VIF dalam uji Multikolinearitas

Model Tolerance VIF

1 (Constant)

produksi jagung 0,775 1,290

stok periode sebelumnya 0,560 1,784 volume impor sebelumnya 0,544 1,838 harga rill jagung sebelumnya 0,446 2,243 harga jagung Indonesia sebelumnya 0,129 7,779

harga rilll impor 0,122 8,189

Kurs 0,255 3,927

harga rill pakan ternak unggas 0,369 2,712 Sumber : Lampiran Output SPSS

Menurut Gujarati (1995) cara lain dalam pengujian multikolinearitas adalah dengan cara melihat nilai koefisien korelasi sederhana dimana angkanya tidak boleh mencapai atau melebihi 0,8. Untuk hasil yang didapatkan pada (lampiran) tidak terdapat koefisien korelasi yang melebihi 0,8.

2. Autokorelasi

Uji autokorelasi adalah keadaan dimana variabel gangguan pada periode tertentu berkorelasi dengan variabel gangguan pada waktu lain. uji autokorelasi dapat dilihat dari nilai durbin watson (DW). Berdasarkan hasil regresi (lampiran) diperoleh DW sebesar 1,653. Untuk melihat apakah dalam model regresi tersebut terjadi autokorelasi atau tidak dengan cara membandingkan antara nilai DW dengan dU (nilai batas atas) dan dL (nilai batas bawah). Penentuan nilai dU dan dL berdasarkan jumlah sampel dan jumlah variabel bebas yang digunakan dalam model regresi. Dalam model regresi terdapat 40 sampel data dan 8 variabel bebas.

Dengan melihat tabel durbin watson (DW) didapat nilai batas atas (dU) 1,799 dan

batas bawah (dL) 0,844 dimana nilai DW 1,653. Dapat disimpulkan bahwa dU > DW > 4-dU yang berarti tidak terjadi autokorelasi.

3. Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah variabel pengganggu (e) memiliki distribusi normal atau tidaak. Uji normalitas dapat dilihat dari posisi normal sebaran data dengan menggunakan standart deeviasi dari histogram dan juga one sample Kolmogorov Smirnov test . dari lampiran didapatkan bahwa hasil test kolmogorov terdistribusi normal.

5.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil yang didapat melalui model harga jagung yang terbentuk, diketahui bahwa adanya impor jagung pipil mempengaruhi harga jagung jagung pipil di tingkat Produsen. Dapat kita katakan pengaruh yang diberikan adalah buruk, dimana harga jagung produsen di ratakan dengan harga jagung impor tanpa memperhatikan kerugian yang didapat produsen dari biaya-biaya usahatani yang dikeluarkan produsen. Penurunan harga jagung tersebut menyebabkan keuntungan yang didapat dari usahatani jagung menurun. Penurunan keuntungan tersebut dalam jangka panjang dapat menyebabkan petani meninggalkan usahatani padi sehingga produksi jagung dikhawatirkan semakin menurun. Karena itu, diusahakan agar impor jagung tidak terlalu besar dengan menerapkan kebijakan perdagangan yang akan menurunkan impor jagung.

Pada model dugaan harga jagung pipil di tingkat produsen Sumatera Utara, ternyata diketahui bahwa variabel volume impor jagung pipil periode sebelumnya secara tidak nyata mempengaruhi harga beras domestik dengan taraf kepercayaan 90 persen, bertolak belakang dengan harga impor jagung pipil yang berpengaruh nyata terhadap harga di tingkat produsen. Hal ini dikarenakan dalam melakukan impor pertama sekali konsumen akan memperhatikan harga di pasaran, sehingga dapat disimpulkan harga impor jagung pipil mempunyai hubungan dengan harga jagung pipil tingkat produsen Sumatera Utara.

Dalam penentuan volume impor jagung pipil sendiri bergantung pada harga impor jagung pipil di pasar, dimana semakin murah harga jagung pipil impor maka

semakin banyak permintaan akan jagung pipil tersebut yang berujung pada peningkatan volume impor.

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang menerima hampir setiap bulannya jagung impor dari para negara ekportir. Perkembangan industri peternakan yang bersamaan dengan perkembangan industri pakan ternak merupakan salah satu faktor dimana semakin meningkatnya permintaan akan jagung pipil impor. Dapat dikatakan industri-industri inilah faktor utama masuknya jagung pipil impor yang digunakan sebagai bahan utama industri mereka. Para konsumen dalam hal ini pengusaha lebih memilih jagung pipil impor karena harga yang relatif lebih murah, kualitas terjamin sebab telah teruji mutunya sehingga dapat diperdagangkan di pasar Internasional serta lebih mudah didapatkan karena untuk jagung impor sendiri memiliki badan logistik penyimpanan. Sedangkan untuk jagung lokal sendiri mutu kualitasnya tidak dapat disamakan dengan jagung impor, serta dalam mendapatkannya konsumen harus sabar dalam pengumpulan jagung pipil itu sendiri.

Ini merupakan masalah bagi petani di Sumatera Utara sendiri, dimana kita ketahui untuk produksi dan produktivitas tanaman jagung beberapa tahun belakangan ini mengalami peningkatan, tetapi peningkatan produksi yang ada tidak bersamaan dengan peningkatan konsumsi atau permintaan jagung pipil lokal.

BAB VI

Dokumen terkait