C. Fraud Scale Steve Albrecht
5.4. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel 1. Pengalaman Audit (X1)
Pengalaman audit bermakna auditor yang lebih berpengalaman dan memiliki pemahaman yang lebih baik atas objek yang diperiksa sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih baik. Auditor tersebut dapat memberi penjelasan yang lebih rasional dan akurat atas kesalahan yang ada.
Pengalaman auditor berdasarkan lamanya bekerja sebagai auditor internal (< 4 tahun : junior; > 4 tahun : senior) serta kaitan dengan banyaknya tugas pemeriksaan yang telah dilakukan. Uraian lebih lengkap mengenai deskripsi jawaban responden pada variabel pengalaman audit sebagai berikut.
Tabel 5.3.. Deskripsi Variabel Pengalaman Audit
Indikator Butir Pernyataan
Sangat Tidak Setuju
Tidak
Setuju Setuju Sangat
Setuju Mean
F % F % F % F %
Lamanya bekerja sebagai auditor
1 0 0 9 4,7 77 40,3 105 55,0 3,5026 2 0 0 4 2,1 95 49,7 92 48,2 3,4607 Banyaknya tugas
pemeriksaan yang telah dilakukan
1 0 0 4 2,1 78 40,8 109 57,1 3,5497 2 0 0 3 1,6 86 45,0 102 53,4 3,5183 3 0 0 1 0,5 111 58,1 79 41,4 3,4084 Sumber: Hasil Olah Data, tahun 2016
Pada Tabel 5.3 menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap variabel pengalaman audit dengan capaian rata-rata 3,49, hal ini bermakna bahwa mayoritas responden menyatakan setuju terhadap seluruh butir pernyataaan dalam variabel pengalaman audit. Indikator yang dominan membentuk variabel pengalaman audit dalam penelitian ini adalah banyaknya tugas pemeriksaan yang telah dilakukan khususnya pada butir pernyataan
“mengaudit klien perusahaan besar, sehingga saya dapat melakukan audit lebih baik” dengan nilai mean tertinggi sebesar 3,5497, sedangkan pernyataan
“banyaknya tugas pemeriksaan yang telah dilakukan menjadikan anda yakin
dengan pengalaman audit” dianggap kurang penting yaitu dengan nilai rata-rata/mean terendah yaitu 3,4084. Dengan demikian indikator banyaknya tugas pemeriksaan yang telah dilakukan menjadi prioritas utama dalam membentuk pengalaman audit.
5.4.2. Kepercayaan (X2)
Kepercayaan diukur dengan menggunakan model Kopp et al. (2003) dimana variabel ini akan diukur dengan tiga tingkatan dimensi kepercayaan yaitu calculus-based trust, knowledge-based trust dan identification-based trust. Uraian lebih lengkap mengenai deskripsi jawaban responden pada variabel kepercayaan sebagai berikut.
Tabel 5.4. Deskripsi Variabel Kepercayaan
Indikator Butir
Pernyataan
Sangat Tidak Setuju
Tidak
Setuju Setuju Sangat
Setuju Mean
F % F % F % F %
Calculus-based trust 1 0 0 3 1,6 89 46,6 99 51,8 3,5026 Knowledge-based trust 1 1 0,5 6 3,1 99 51,8 85 44,5 3,4031 Identification-based
trust
1 0 0 7 3,7 94 49,2 90 47,1 3,4346 Sumber: Hasil Olah Data, tahun 2016
Pada tabel 5.4 menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap variabel kepercayaan dengan capaian rata-rata 3,45, hal ini bermakna bahwa mayoritas responden menyatakan setuju terhadap seluruh butir pernyataaan dalam variabel kepercayaan. Indikator yang dominan membentuk variabel kepercayaan audit dalam penelitian ini adalah calculus-based trust dengan nilai mean tertinggi sebesar 3,5026, sedangkan indikator knowledge-based trust dianggap kurang penting yaitu dengan nilai mean terendah yaitu 3,4031. Dengan demikian indikator calculus-based trust menjadi prioritas utama dalam membentuk variabel kepercayaan.
5.4.3. Teknologi Informasi untuk audit internal (X3)
Teknologi informasi untuk audit internal mencakup sistem yang terdiri dari perangkat keras, lunak dan teknologi penyimpanan data yang bertujuan untuk menghemat waktu dan tenaga, serta meningkatkan efektifitas dalam mencapai output yang lebih besar. Instrumen yang digunakan untuk mengukur efektifitas teknologi informasi untuk audit internal terdiri dari tiga dimensi yang dikembangkan dari CobIT Framework (2003). Uraian lebih lengkap mengenai deskripsi jawaban responden pada variabel teknologi informasi untuk audit internal sebagai berikut.
Tabel 5.5. Deskripsi Variabel Teknologi Informasi Untuk Audit Internal Indikator Butir
Pernyataan
Sangat Tidak Setuju
Tidak
Setuju Setuju Sangat
Setuju Mean
F % F % F % F %
Prinsip kerahasiaan 1 0 0 8 4,2 90 47,1 93 48,7 3,4450 2 0 0 7 3,7 67 35,1 117 61,3 3,5759 Prinsip integritas
1 0 0 4 2,1 85 44,5 102 53,4 3,5131 2 0 0 4 2,1 84 44,0 103 53,9 3,5183 3 0 0 7 3,7 79 41,4 105 55,0 3,5131 Prinsip
ketersediaan
1 0 0 8 4,2 76 39,8 107 56,0 3,5183
2 0 0 4 2,1 94 49,2 93 48,7 3,4660
Sumber: Hasil Olah Data, tahun 2016
Pada Tabel 5.5 menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap variabel teknologi informasi untuk audit internal dengan capaian rata-rata 3,51.
Hal ini bermakna bahwa mayoritas responden menyatakan setuju terhadap seluruh butir pernyataaan dalam variabel teknologi informasi untuk audit internal.
Indikator yang dominan membentuk variabel teknologi informasi untuk audit internal dalam penelitian ini adalah prinsip kerahasiaan khususnya pada butir pernyataan “menjamin kerahasiaan data yang hanya dapat diakses oleh orang yang berwenang” dengan nilai mean tertinggi sebesar 3,5759, sedangkan pernyataan “fokus proteksi pada informasi yang penting dari pihak yang tidak
memiliki hak otoritas” dianggap kurang penting yaitu dengan nilai mean terendah yaitu 3,4450. Dengan demikian indikator prinsip kerahasiaan menjadi prioritas utama dalam membentuk variabel teknologi informasi untuk audit internal.
5.4.4. Skeptisisme Profesional (Y1)
Skeptisisme profesional adalah sikap auditor yang akan membawa pada tindakannya yang selalu mempertanyakan dan secara kritis menaksir bukti-bukti audit. Indikator skeptisisme profesional auditor internal adalah tingkat keraguan auditor terhadap bukti audit, banyaknya pemeriksaan tambahan dan konfirmasi langsung. Uraian mengenai deskripsi jawaban responden pada variabel skeptisisme profesional untuk audit internal sebagai berikut.
Tabel 5.6. Deskripsi Variabel Skeptisisme Profesional Indikator Butir
Pernyataan
Sangat Tidak Setuju
Tidak
Setuju Setuju Sangat
Setuju Mean
F % F % F % F %
Pemeriksaan Karakteristik Bukti
1 1 0,5 7 3,7 97 50,8 86 45,0 3.4031 2 1 0,5 4 2,1 111 58,1 75 39,3 3.3613
3 0 0 6 3,1 87 45,5 98 51,3 3.4817
4 0 0 8 4,2 87 45,5 96 50,3 3.4607
5 1 0,5 8 4,2 103 53,9 79 41,4 3.3613 6 2 1,0 6 3,1 110 57,6 73 38,2 3.3298 7 0 0 10 5,2 118 61,8 63 33,0 3.2775 8 1 0,5 9 4,7 104 54,5 77 40,3 3.3455 Memahami penyedia
bukti
1 1 0,5 7 3,7 101 52,9 82 42,9 3.3822 2 1 0,5 8 4,2 114 59,7 68 35,6 3.3037 3 0 0 10 5,2 105 55,0 76 39,8 3.3455 Karakteristik bertindak
atas bukti-bukti
1 1 0,5 7 3,7 101 52,9 82 42,9 3.3822 2 1 0,5 10 5,2 108 56,5 72 37,7 3.3141 3 3 1,6 10 5,2 92 48,2 86 45,0 3.3665 Sumber: Hasil Olah Data, tahun 2016
Persepsi responden terhadap variabel skeptisisme profesional dengan capaian rata-rata 3,37. Hal ini bermakna bahwa mayoritas responden menyatakan setuju terhadap seluruh butir pernyataaan dalam variabel skeptisisme profesional. Indikator yang dominan membentuk variabel
skeptisisme profesional dalam penelitian ini adalah pemeriksaan karakteristik bukti khususnya pada butir pernyataan “mempertanyakan hal-hal yang dilihat atau didengar” dengan nilai mean tertinggi sebesar 3,4817, sedangkan pernyataan “suka mencari pengetahuan” dianggap kurang penting yaitu dengan nilai mean terendah yaitu 3,2775. Dengan demikian indikator pemeriksaan karakteristik bukti menjadi prioritas utama dalam membentuk variabel skeptisisme profesional.
5.4.5. Kemampuan Menjustifikasi Kecurangan (Y1)
Kemampuan menjustifikasi kecurangan adalah kompetensi dan kualitas auditor internal dalam mengidentifikasi dan menemukan ketidakwajaran atau anomali melalui pembuktian kecurangan. Variabel ini menggunakan pernyataan tentang gejala-gejala kecurangan yang dilakukan dengan cara pengamatan, melakukan tuntutan hukum, penegakan etika, dan kebijakan atas tindakan fraud (Nelly, 2010). Pada tahap awal pendeteksian hanya mengidentifikasi gejala atau red flag yang sering terjadi dan mengarah pada tindakan fraud. Pengukuran variabel kemampuan menjustifikasi kecurangan berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Wilopo (2008) yang terdiri dari 4 dimensi (menghilangkan informasi secara sengaja, memberikan informasi yang tidak sesuai, mengambil dana perusahaan, dan mengubah catatan dan dokumen pendukung). Uraian lebih lengkap mengenai deskripsi jawaban responden pada variabel kemampuan menjustifikasi kecurangan sebagai berikut.
Tabel 5.7. Deskripsi Variabel Kemampuan Menjustifikasi Kecurangan Indikator Butir
Pert
Sangat Tidak Setuju
Tidak
Setuju Setuju Sangat
Setuju Mean
F % F % F % F %
Menghilangkan Informasi Secara Sengaja
1 6 3,1 8 4,2 114 59,7 63 33,0 3,2251 2 3 1,6 12 6,3 91 47,6 85 44,5 3,3508 Memberikan Informasi
Yang Tidak Sesuai
1 0 0 11 5,8 89 46,6 91 47,6 3,4188 Mengambil Dana
Perusahaan
1 0 0 7 3,7 100 52,4 84 44,0 3,4031 Mengubah Catatan Dan
Dokumen Pendukung
1 0 0 8 4,2 97 50,8 86 45,0 3,4084 Sumber: Hasil Olah Data, tahun 2016
Pada Tabel 5.7 menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap variabel kemampuan menjustifikasi kecurangan dengan capaian rata-rata 3,36.
Hal ini bermakna bahwa mayoritas responden menyatakan setuju terhadap seluruh butir pernyataaan dalam variabel kemampuan menjustifikasi kecurangan.
Indikator yang dominan di dalam membentuk variabel kemampuan menjustifikasi kecurangan dalam penelitian ini adalah memberikan informasi yang tidak sesuai khususnya pada butir pernyataan “hasil deteksi menemukan bahwa klien menghilangkan informasi secara sengaja” dengan nilai mean tertinggi sebesar 3,4188, sedangkan indikator pernyataan menghilangkan informasi secara sengaja khususnya pernyataan “klien sengaja memberikan informasi yang tidak sesuai” dianggap kurang penting yaitu dengan nilai mean terendah yaitu 3,2251.
Dengan demikian indikator memberikan informasi yang tidak sesuai menjadi prioritas utama dalam membentuk variabel kemampuan menjustifikasi kecurangan.