C. Fraud Scale Steve Albrecht
2.1.5. Kepercayaan (Trust)
Kepercayaan dipandang sebagai aspek dalam suatu hubungan dan terus menerus berubah serta bervariasi yang dibangun melalui rangkaian tindakan trusting dan trustworthy. Trusting adalah kemauan untuk mengambil risiko terhadap akibat yang baik maupun yang buruk sedangkan trustworthy adalah perilaku yang melibatkan penerimaan terhadap kepercayaan orang lain (Johnson dan Johnson, 1997). Rosseau et al. (1998) menyatakan bahwa trust adalah suatu pernyataan psikologis atas niat untuk menerima kerawanan yang berdasar
atas harapan positif dari niat atau perilaku dari orang lain.
Pada kebanyakan orang, individu membangun kepercayaan dari reputasi dan stereotip, pengalaman aktual dan orientasi psikologisnya. Kepercayaan dari reputasi dan stereotip dibangun tidak dari pengalaman langsung dengan auditee, tetapi harapan percaya/tidak percaya terbentuk melalui pelajaran yang diperoleh atau sesuatu yang didengar dari orang lain sebelumnya. Sedangkan pengalaman aktual diperoleh dari interaksi langsung melalui komunikasi dan kordinasi langsung. Sejalan dengan waktu kepercayaan/ketidakpercayaan mulai mendominasi pengalaman. Ketika polanya sudah stabil maka audit akan cenderung mengeneralisasikan sebuah hubungan yang dapat dipercaya atau tidak. Orientasi psikologis terbentuk dari hubungan sosial yang terbentuk dan sebaliknya.
Teori Johnson dan Swap (1982) menyebutkan komponen trust meliputi trusting dan trustworthy. Mempercayai (trusting) terdiri dari keterbukaan (openness) dan berbagi (sharing), sementara trustworthy terdiri dari penerimaan (acceptance), dukungan (support) dan niat untuk bekerjasama (cooperative intention). Untuk membangun kepercayaan (trust) dan memperdalam hubungan dengan orang lain, setiap individu harus bisa mengkomunikasikan penerimaan, dukungan dan niat untuk bekerjasama. Kunci untuk membangun dan mendapatkan trust adalah menjadi trustworthy.
Lewicki dan Wiethoff (2000) menyebutkan bahwa tiap individu yang mengembangkan harapan mengenai tingkat bagaimana seseorang dapat trust kepada orang lain tergantung kepada predisposisi kepribadian, reputasi dan stereotip, pengalaman aktual, serta orientasi psikologis. Mereka menggambarkan trust sebagai sesuatu yang diyakini seseorang dan berkemauan untuk bertindak
atas dasar kata-kata, tindakan maupun keputusan dari pihak lainnya
Tingkat kepercayaan akan meningkat melalui pertemuan berulang antara individu-individu (Dasgupta, 1988). Auditor internal dan auditee adalah karyawan di organisasi yang sama sehingga frekuensi dan momentum untuk berinteraksi social biasanya lebih tinggi dibandingkan antara eksternal audit dengan auditeenya. Kopp et al. (2003) mengatakan bahwa selama pelaksanaan audit, auditee memiliki banyak peluang untuk menunjukkan prasangka baik yang selanjutnya mengakumulasikan bukti-bukti trustworthy. Awal predisposisi untuk trust bersamaan dengan kerjasama konsisten auditee dapat memperkuat satu dan yang lain yang perlahan-lahan meningkatkan tingkat trust.
Kopp et al. (2003) menegaskan bahwa bentuk trust dan skeptisisme adalah sebuah hubungan yang tidak mudah yang mesti diseimbangkan dengan baik. Trust merupakan suatu hal yang penting dalam praktik audit agar dapat melaksanakan audit dengan efisien. Biasanya auditor internal berharap auditee bersikap koperatif dan jujur dalam memberikan keterangan maupun informasi lainnya selama proses audit.
Penelitian tentang kategori kepercayaan (trust) menjadi suatu yang menarik bagi ilmuwan. Salah satunya adalah kategori trust yang diusulkan oleh Lewicki dan Bunker (1996) yang dikutip dari Kopp et al. (2003) dengan tiga kelas yaitu calculus-based trust, knowledge-based trust dan identification-based trust.
Calculus-based trust merupakan trust pada fase awal yang diberikan dengan
dasar penilaian rasional untung ruginya dari tiap-tiap alternatif yang ada. Dalam konteks hubungan kerja dalam lingkungan pekerjaan, orang-orang cenderung bertindak atas dasar sistem reward and punishment. Kepuasan pribadi seseorang tidak dinilai atas dasar penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan
melainkan konsekuensinya. Lewicki dan Wiethoff (2000) menyebutkan untuk membangun trust diperlukan sejumlah langkah seperti berperilaku konsisten tiap waktu dan situasi, bekerja untuk selesai sesuai deadline, mengikuti janji yang telah dibuat.
Knowledge-based trust adalah tingkat selanjutnya dimana trust
dibangun setelah beberapa kali yang dasar utamanya pada sejarah interaksi antar individu. Perilaku seseorang dapat diprediksi bahwa seseorang dapat dipercaya digenalisir dari sejarah perilakunya selama ini. Hubungan kerja antar-individu sering kali mencapai tingkatan ini. Kemampuan memprediksi orang yang dipercaya tersebut berdasarkan kinerja sebelumnya (Husted, 1998). Dengan adanya pengalaman interaksi dengan orang tersebut yang telah menunjukkan perilaku yang dapat dipercaya secara konsisten selama ini sehingga dapat mempercayainya.
Yang terakhir adalah identification-based trust adalah tingkat tertinggi antar-pribadi dimana di tingkatan ini individu telah mengidentifikasikan keinginan dan niat dari individu yang lain. Lewicki dan Wiethoff (2000) menyebutkan identification-based trust timbul saat adanya kesesuaian dalam persepsi (perceived compatibility), sasaran yang sama, keterikatan positif satu pihak kepada pihak lainnya, dan dikarakterisasikan dengan keyakinan tingkat tinggi dalam harapan positif terhadap pihak lainnya. Saling percaya dan meyakini bahwa kepentingan masing-masing akan dilindungi oleh individu lain sehingga tidak perlu pemantauan lagi. Dalam tingkat kepercayaan ini diyakini telah menumbuhkan suatu ikatan emosional. Membangun trust ini, orang-orang perlu saling mengenal dekat satu sama lainnya seperti menemukan kesenangan yang sama, nilai-nilai pribadi, persepsi, motivasi, tujuan dan maupun sasaran.
Pada umumnya apabila seseorang memberikan kepercayaan (trust) yang tinggi, berlebihan kepada orang lain yang kemudian suatu saat dilanggar maka besar kemungkinan pada awalnya orang tersebut tidak akan langsung percaya.
Pada umumnya selaku manusia biasa, perasaan kita akan memberikan respons seakan-akan kita tidak mempercayai kejadian tersebut bahkan kadang-kadang kita merasionalisasikan dengan membela yang bersangkutan.
McAllister (1997) menyebutnya sebagai proses pembuatan perasaan (sense-making process). Beliau membagi menjadi tiga yakni penolakan (rejection) dimana kita akan menolak signifikansi perilaku dengan alasan bahwa ini termasuk faktor situasional. Kedua, menerjemahkan kembali (reconstrual), dimana perasaan kita berupaya untuk menerjemahkan secara positif. Terakhir, adalah penolakan (refutation) dimana pihak yang mempercayai akan mencoba menerjemahkan kejadian tersebut dalam konteks yang lebih luas sehingga trust tetap diberikan berhubungan adanya aspek positif dari hubungan yang dijalin.
Shaub (1996) menyebutkan tingkat kepercayaan subjektif auditor atas kliennya yang menjadi prediktor perilaku auditor adalah fungsi dari faktor situasional dan disposisional. Kepercayaan melekat pada proses audit dan auditor yang harus memutuskan seberapa besar akan mempercayai representasi dari klien daripada melakukan prosedur tambahan untuk mengkonfirmasikan kejujuran klien. Hasil penelitiannya tentang dampak faktor situasional dan disposisional terhadap kepercayaan auditor atas kliennya menyimpulkan bahwa pengalaman historis sebelumnya dengan klien dan faktor situasional lebih penting daripada faktor disposisional untuk menentukan sejauh mana auditor mempercayai kliennya.
Persoalan dilematis yang dihadapi oleh auditor internal di antaranya
dituntut untuk bersikap skeptis namun di lain pihak tetap memerlukan kepercayaan (trust) agar pelaksanaan audit dapat berjalan efisien. Riset dari Lewicki, McAllister dan Bies (1998) menyimpulkan dalam hubungan yang sama masih memungkinkan untuk menampilkan tingkat trust yang tinggi dan tingkat tidak trust secara bersamaan. Sementara Hurt (2003) memandang bahwa skeptisisme profesional dan trust bukan merupakan konstruk yang sama.
Kopp et al. (2003) menyatakan bahwa tingkatan kepercayaan (trust) yang terlampau tinggi dapat mengkompromikan skeptisisme profesional seorang auditor. Skeptisisme profesional mungkin memiliki kekuatan untuk menahan perkembangan tingkat trust yang berlebihan. Mereka berpendapat trust yang berlebihan mempengaruhi auditor pada tingkat afektif, sementara skeptisisme professional mempengaruhi auditor pada tingkat kognitif.
Model Kopp et al. (2003) menjelaskan adanya hubungan yang negatif antara trust dan skeptisisme profesional. Keduanya memiliki dampak inverse bentuk U terhadap kualitas audit. Tanpa trust yang memadai maka audit sulit dilaksanakan, dan tingkat optimal trust akan membuat audit berjalan efisien dan audit yang efektif ketika dapat menghindari respons yang tidak pantas terhadap pelanggaran atas kepercayaan (trust) seperti perilaku pembentukan perasaan (sense-making behavior), kecenderungan mempercayai situasi sebelumnya (cognitive inertia), mengurangi bukti-bukti yang bertentangan (discounting of disconfirming evidence), atau membohongi diri sendiri (self deception). Tingkat optimal trust adalah calculus-based trust.
Fungsi trust dipengaruhi oleh tiga faktor yakni predisposisi trust auditor, karakteristik klien, dan karakteristik hubungan antara auditor dan klien.
Predisposisi auditor akan dipengaruhi oleh pengalaman auditor sebelumnya baik
yang terkait audit maupun lainnya, karakteristik manajemen dan staf dari klien juga mempengaruhi tingkat trust yang berkembang. Whitener et al. (1998) menyebutkan perilaku yang mempengaruhi persepsi dari trustworthiness yang berpotensi meningkatkan trust antara lain konsistensi perilaku (mis: andal dan dapat diprediksikan), integritas perilaku (konsistensi antara kata-kata dan perbuatan), komunikasi (memberikan informasi akurat, menyediakan penjelasan untuk keputusan, keterbukaan) dan menunjukkan keperdulian.
Menurut Hurtt (2003), auditor yang skeptis akan menunjukkan perilaku pencarian informasi yang diperluas, menambah deteksi kontradiksi, menambah generasi alternatif, meningkatkan penelitian keandalan narasumber. Tingkatan yang kurang memadai tipe aktifitas ini tentunya akan berdampak buruk terhadap kualitas audit. Sebaliknya bila berlebihan dapat membuat audit menjadi tidak terkelola dan mungkin saja mustahil diselesaikan. Pada titik atau jarak optimal tertentu, perilaku skeptis berdampak ideal bagi kualitas audit.
Dalam cakupan pekerjaan auditor internal, tantangan yang dihadapi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan auditor eksternal dalam kaitan dengan konteks trust dan skeptisisme profesional. Sebagai ilustrasi, dewasa ini banyak organisasi yang menerapkan kebijakan perencanaan karyawan dengan rotasi berkala yang berdampak auditor internal bisa menjadi auditee dan sebaliknya.
Ada juga organisasi yang menempatkan unit audit internal menjadi batu loncatan bagi kader-kader pejabat, fungsi audit internal selaku konsultan yang sering diminta masukan dan advis dan lainnya. Hal-hal ini berpotensi mempengaruhi tingkat skeptisisme profesionalnya di samping kemungkinan terjadinya event yang mengandung unsur pertentangan kepentingan, namun dengan berpatokan kepada sikap netralitas dan memegang teguh standar etika
dan kinerja auditor internal, peneliti berasumsi bahwa faktor trust berpotensi mempengaruhi tingkat skeptisisme profesional auditor internal dan juga kemampuan dalam menjustifikasi kecurangan.