• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Hasil Belajar Mahasiswa dalam Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum PA

1. Hasil Belaj ar Mahasiswa a Pengertian Hasil Belajar

Hasil dapat diartikan sebagai sesuatu yang dihasilkan (dibuat, dijadikan, dsb) oleh suatu usaha (Depdiknas, 2007: 391). Sedangkan belajar ialah “Serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor” (Djamarah, 2011: 13). Belajar juga dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang teijadi melalui pengalaman (Sukmadinata, 2013: 52).

Belajar merupakan suatu proses, dan bukan hasil yang hendak dicapai semata. Proses itu sendiri berlangsung melalui serangkaian pengalaman, sehingga terjadi modifikasi pada tingkah laku yang telah dimiliki sebelumnya (Hamalik, 2011: 106).

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan yang dialami oleh individu yang relatif permanen baik dalam tingkah laku maupun potensi yang ada dalam dirinya. Belajar merupakan proses dan bukan hasil yang ingin dicapai semata, namun belajar dan hasil belajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Perubahan atau kemampuan baru yang diperoleh peserta didik setelah melakukan perbuatan belajar adalah hasil belajar, karena

belajar pada dasarnya bagaimana perilaku seseorang berubah sebagai akibat dari pengalaman (Rusmono, 2012: 8).

b. Ciri-ciri Belajar

Ciri-ciri belajar meliputi:

1) Belajar ditandai adanya perubahan tingkah laku. 2) Perubahan perilaku dari hasil belajar itu relatif permanen. 3) Perubahan tingkah laku tidak harus dapat diamati pada saat

berlangsungnya proses belajar, tetapi perubahan perilaku itu bisa jadi bersifat potensial.

4) Perubahan tingkah laku itu merupakan hasil latihan atau pengalaman.

5) Pengalaman atau latihan itu dapat memberikan penguatan (Sriyanti, 2011: 18).

Perubahan sebagai hasil belajar itu memiliki tiga ciri, yaitu: 1) Perubahan intensional

Perubahan intensional adalah perubahan yang terjadi dalam diri individu merupakan pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sengaja dan disadari.

2) Perubahan itu positif dan aktif

Bersifat positif maksudnya perubahan itu baik, bermanfaat dan sesuai yang diharapkan individu. Perubahan bersifat aktif maksudnya perubahan yang terjadi dalam diri individu merupakan hasil usahanya sendiri.

3) Perubahan itu efektif dan fungsional

Perubahan bersifat efektif, artinya perubahan itu berhasil guna. Perubahan yang berhasil guna adalah perubahan yang berpengaruh, bermakna dan bermanfaat bagi diri individu.

Sedangkan perubahan bersifat fungsional artinya perubahan itu relatif permanen dan siap dibutuhkan setiap saat (Syah, 2010: 118- 119).

Berdasarkan uraian di atas, belajar merupakan perubahan perilaku yang sifatnya relatif permanen. Perubahan tersebut merupakan hasil latihan dan pengalaman. Meskipun perubahan dari proses belajar tidak bisa diamati secara langsung saat teijadinya proses belajar, namun perubahan tersebut bersifat potensial. Perubahan tersebut bersifat aktif dan positif atau ke arah yang lebih baik serta bermanfaat bagi diri individu yang sedang belajar,

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah sebagai berikut:

1) Faktor Internal

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri mahasiswa sendiri yang meliputi:

a) Aspek fisiologis

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi- sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ-organ khusus siswa seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan penglihat, juga

sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khusunya yang disajikan di kelas, b) Aspek Psikologis

Aspek psikologis yang mempengaruhi pembelajaran siswa ialah:

(1) Inteligensi/tingkat kecerdasan

Inteligensi dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Tingkat kecerdasan akan mempengaruhi daya serap dan proses pembelajaran siswa serta sangat menentukan tingkat keberhasilan belajarnya.

(2) Sikap

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif, berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, barang dan sebagainya. Sikap siswa dalam proses pembelajaran sangat menentukan hasil belajarnya. Sikap siswa yang positif terutama pada guru dan mata pelajaran yang disajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa akan menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa

tersebut sehingga juga akan berdampak pada prestasi yang akan dicapai siswa kurang memuaskan

(3) Bakat

Bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Bakat dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar pada bidang-bidang studi tertentu. Bakat siswa dalam suatu mata pelajaran akan mendorongnya mendapat kemudahan mencapai tujuan belajar.

(4) Minat

Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu. Siswa yang menaruh minat yang besar pada suatu mata pelajaran akan memusatkan perhatiannya lebih banyak dari pada siswa yang lainnya sehingga memungkinkannya untuk belajar lebih giat dan akhirnya dapat mencapai prestasi yang diinginkan.

(5) Motivasi

Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang

mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu:

(a) Motivasi intrinsik adalah keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar seperti perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan.

(b) Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar diri siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar seperti pemberian pujian dan hadiah, peraturan dan tata tertib sekolah, suri teladan orang, guru dan sebagainya yang dapat mendorong siswa untuk belajar.

Dalam perspektif kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi siswa adalah motivasi intrinsik, karena lebih mumi dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain.

2) Faktor Eksternal

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari luar diri mahasiswa sendiri yang meliputi:

a) Lingkungan sosial

Lingkungan sosial merupakan faktor yang mempengaruhi belajar siswa yang berupa orang di lingkungannya. Lingkungan sosial siswa bisa berasal dari keluarga (orang tua dan keluarga siswa itu sendiri), lingkungan sekolah (seperti para guru, para staf administrasi, dan teman- teman sekelas) dan lingkungan masyarakat (tetangga dan teman pergaulan siswa) yang dapat mempengaruhi semangat belajar dan kegiatan belajarnya.

b) Lingkungan nonsosial

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.

3) Faktor Pendekatan Belajar

Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu.

Faktor pendekatan belajar, di samping faktor internal dan eksternal siswa juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran siswa (Islamuddin, 2012: 182-192).

d. Gaya Belajar

1) Somatis, somatis artinya tubuh atau raga. Anak dengan gaya belajar somatis akan belajar dengan cepat bila dilakukan dengan memanfaatkan tubuh/raga, baik melalui aktifitas yang melibatkan tubuh, ataupun dengan melihat dan memperhatikan bagian-bagian tubuhnya.

2) Auditif, artinya suara. Gaya belajar ini ditempuh dengan mendengarkan suara, seperti suara guru, suara diri sendiri atau teman lain yang sedang belajar.

3) Visual, merupakan gaya belajar melalui penglihatan. Anak dengan gaya belajar ini akan lebih mudah memahami materi bila dengan melihat atau membaca.

4) Intelektual, gaya belajar yang dilakukan dengan perenungan atau insight (Sriyanti, 2011: 25).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap anak memilki gaya belajar masing-masing untuk memahami materi dalam pembelajaran. Ada anak yang dapat dengan mudah memahami materi dengan melihat atau membaca materi, ada yang melalui suara atau penjelasan dari guru ataupun orang lain, ada yang dengan perenungan maupun melibatkan anggota tubuhnya.

1) Kebiasaan

Salah satu wujud hasil belajar adalah adanya perubahan kebiasaan dalam diri individu. Keberhasilan belajar akan menjadikan seseorang akan berperilaku positif yang relatif menetap dan otomatis.

2) Ketrampilan

Ketrampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat syaraf dan otot yang bersifat motorik. Oleh sebab itu, hasil belajar dapat dilihat dari tingkat ketrampilan yang ada dalam diri individu.

3) Pengamatan

Pengamatan dapat diartikan proses menerima, menafsirkan dan mengartikan rangsangan yang masuk melalui indra, terutama mata dan telinga. Seseorang yang belajar akan menghasilkan pengamatan yang objektif dan benar.

4) Berpikir asosiatif dan daya ingat

Berpikir asosiatif maksudnya berpikir untuk mmghubungkan sesuatu dengan lainnya. Orang yang belajar akan mudah melakukan berpikir asosiatif tersebut. Selain itu, orang belajar akan memiliki daya ingat yang lebih baik.

5) Berpikir rasional dan kritis

Berpikir rasional berarti mampu menggunakan logika untuk menentukan sebab-akibat, menganalisis, menyimpulkan, bahkan meramalkan sesuatu.

6) Sikap

Sikap adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk mereaksi terhadap sesuatu hal. Hasil belajar akan ditandai muncul kecenderungan baru dalam diri seseorang dalam menghadapi suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya.

7) Inhibisi

Inhibisi dapat diartikan sebagai kesanggupan individu untuk mengurangi dan melakukan tindakan lain yang lebih baik. Hasil belajar dapat dilihat adanya kesanggupan individu dalam melakukan sesuatu secara baik.

8) Apresiasi

Hasil belajar dapat dilihat dari apresiasi dalam diri individu yang belajar. Orang belajar akan muncul kemampuan untuk menilai dan menghargai terhadap suatu objek tertentu.

9) Tingkah laku efektif

Orang belajar akan memiliki tingkah laku efektif. Sesorang dikatakan berhasil belajar jika orang tersebut memiliki tingkah laku yang efektif, yaitu tingkah laku yang memiliki manfaat (Sriyanti, 2011:21-22).

2. Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum PAI a. Pengembangan Kurikulum

1) Pengertian Pengembangan Kurikulum

Sebelum membahas mengenai pengembangan kurikulum, maka peneliti akan membahas mengenai kurikulum terlebih dahulu. “Kurikulum adalah suatu program yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu” (Idi, 2010: 184-185).

Secara etimologis, istilah kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”. Kurikulum berarti suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai dengan garis finish untuk memperoleh penghargaan. Secara terminologis istilah kurikulum (dalam pendidikan) adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan peserta didik di sekolah untuk memperoleh ijazah (Arifin, 2012: 2).

Kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang berisi berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancang secara sistematik atas dasar norma- norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan (Dakir, 2004: 3).

Berdasarkan pengertian dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum ialah pedoman yang digunakan dalam proses pembelajaran yang memuat tentang bahan ajar serta berbagai kegiatan dan pengalaman belajar yang telah disusun

secara sistematik yang harus ditempuh oleh peserta didik agar tujuan pendidikan tercapai.

Pengembangan berarti proses, cara, perbuatan mengembangkan (Depdiknas, 2007: 538). Jadi pengembangan ialah proses, cara atau perbuatan yang dilakukan secara sadar untuk mencapai tujuan agar menjadi lebih sempurna.

Pengembangan kurikulum pada hakikatnya merupakan pengembangan komponen-komponen kurikulum yang membentuk sistem kurikulum itu sendiri, yaitu komponen: tujuan, bahan, metode, peserta didik, pendidik, media, lingkungan, sumber belajar (Idi, 2010: 186).

Berdasarkan uraian di atas, pengembangan kurikulum merupakan pengembangan dari program yang telah direncanakan dan disusun secara sistematis baik dari isi dan bahan pelajaran, media maupun metode yang digunakan

Dokumen terkait