HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.3 Hasil Belajar Afektif
Rekapitulasi analisis hasil belajar afektif siswa dapat dilihat pada Tabel 4.3. Rincian selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 8.
Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil Belajar Afektif Siswa
Aspek yang diamati
Pertemuan ke- 1 (%) 2 (%) 3 (%) Kehadiran 100 100 100 Tanggung jawab 59 69 98 Kerjasama 76 94 99 Rata-rata (%) 78 88 99 Nilai tertinggi 100 100 100 Nilai terendah 47 73 87 Ketuntasan klasikal (%) 91 100 100 Gain 0,45 0,92 0 20 40 60 80 100 120
Menyiapkan Alat Melakukan Perc. Mengacungkan
Tangan
Pert. 1 Pert. 2 Pert. 3 (%)
Peningkatan aktivitas belajar siswa setiap pertemuan ditunjukkan pada Gambar 4.3.
Secara keseluruhan aktivitas, hasil belajar psikomotorik dan afektif pada setiap pertemuan mengalami peningkatan setelah diberikan perlakuan. Peningkatan aktivitas, hasil belajar psikomotorik dan afektif pada setiap pertemuan ditunjukkan Gambar 4.4.
0 20 40 60 80 100 120
Kehadiran Tanggung Jawab Kerjasama
Pert. 1 Pert. 2 Pert. 3
Gambar 4.3 Diagram Hasil Belajar Afektif Siswa (%) 0 20 40 60 80 100 120
Aktivitas Psikomotorik Afektif
Pert. 1 Pert. 2 Pert. 3
Gambar 4.4 Diagram Peningkatan Aktivitas, Hasil belajar Psikomotorik dan Afektif
4.1.4 Analisis Hasil Belajar Kognitif
Hasil belajar kognitif diperoleh dari hasil tes tertulis yang diberikan di awal (pretest) dan akhir (posttest) penelitian. Rekapitulasi analisis hasil belajar kognitif siswa dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Belajar Kognitif
Aspek Nilai Pretest Posttest Rata-rata 70 84 Nilai tertinggi 85 100 Nilai terendah 50 65 Ketuntasan klasikal (%) 71 97 Gain 0,47 4.1.5 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data penelitian terdistribusi normal atau tidak. Data yang digunakan untuk pengujian normalitas adalah daftar nilai pretest dan posttest. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Data
Pretest Posttest
�2
6,52 5,07
�2 11,07 11,07
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa Chi kuadrat hitung untuk data pretest
adalah 6,52 sedangkan posttest sebesar 5,07. Hasil Chi kuadrat hitung kedua data tersebut ternyata kurang dari harga Chi kuadrat tabel yaitu sebesar 11,07 pada taraf kesalahan 5%. Oleh karena harga �2 <�2 maka data pretest dan
posttest terdistribusi normal, sehingga statistik yang digunakan adalah jenis parametris. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
4.1.6 Uji Ketuntasan Belajar
Uji ketuntasan belajar digunakan untuk menentukan efektivitas penerapan model BTL berketerampilan proses terhadap nilai KKM sekolah. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil Uji Ketuntasan Belajar Nilai Posttest Rata-rata 83,53 Standar deviasi 6,80 Dk 33,00 thitung 11,56 ttabel 1,69
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa harga thitung > ttabel maka Ho yang menyatakan bahwa penerapan model BTL berketerampilan proses efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa diterima sedangkan Ha ditolak. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
4.2 Pembahasan
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di SMP N 3 Ungaran pada tanggal 4 Februari sampai 4 Maret 2013. Subjek dari penelitian ini adalah kelas VIII G yang berjumlah 34 orang. Alasan pemilihan kelas ini didasarkan pada observasi awal dengan mengumpulkan data nilai ulangan harian dan pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan terpilih kelas VIII G sebagai subjek penelitian karena mempunyai rata-rata aktivitas dan hasil belajar yang rendah dibandingkan kelas yang lain.
Model BTL dalam pembelajaran diterapkan menggunakan kerangka ICARE yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan apa yang dipelajari. Pada kegiatan pembelajaran, siswa dibagi menjadi 7 kelompok yang terdiri 4-5 orang untuk saling berdiskusi dan bekerjasama menyelesaikan tugas yang diberikan. Selanjutnya, guru membagikan LKS yang telah direncanakan dalam RPP. Setiap kelompok harus membuat hasil kerja yang ditulis pada kertas yang telah disediakan. Hasil kerja yang telah dibuat, kemudian dipresentasikan dan dipajang sebagai sumber belajar. Kelompok yang terpilih wajib mempresentasikan hasil kerjanya dan ditanggapi oleh kelompok yang lain. Melalui kegiatan diskusi dan presentasi kelompok, dapat menciptakan aktivitas bertanya yang berguna untuk membangkitkan respon. Aktivitas seperti tersebut di atas, dapat membentuk motivasi siswa untuk belajar sehingga hasil belajar pun
termotivasi menunjukkan proses kognitif yang tinggi dalam belajar, menyerap dan mengingat apa yang dipelajari. Pada akhir pembelajaran, dilakukan kegiatan refleksi untuk mengetahui sejauh mana materi pembelajaran yang diserap oleh siswa. Sebelum pembelajaran berakhir, guru mengumumkan kelompok terbaik yang akan mendapatkan reward. Pemberian reward dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa agar menjadi yang terbaik.
Pada penelitian ini, model BTL dipadukan dengan pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Keterampilan proses pada penelitian ini tercermin dalam LKS yang mengarahkan siswa untuk inkuiri. Subagyo et al. (2009) menyatakan bahwa pembelajaran sains dengan pendekatan keterampilan proses dapat melibatkan siswa menjadi aktif dan meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan-kegiatan dalam LKS dibuat kontekstual sehingga siswa lebih mudah memahami karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Siswa didorong untuk menemukan sendiri hubungan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Keterlibatan dalam percobaan membuat siswa lebih mudah memahami konsep-konsep yang diajarkan sehingga informasi yang diperoleh tidak cepat lupa.
4.2.1 Aktivitas Belajar
Aktivitas yang diamati dalam penelitian ini yaitu melihat, mendengar, menulis dan mengucap. Penilaian aktivitas belajar siswa dilakukan melalui
pengamatan secara langsung menggunakan lembar observasi oleh empat observer. Berdasarkan analisis data hasil observasi yang telah dilakukan, diketahui setiap pertemuan rata-rata aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Peningkatan rata-rata aktivitas belajar siswa setiap pertemuan disajikan pada Gambar 4.1.
4.2.1.1 Aktivitas Melihat
Aspek aktivitas melihat yang diamati dalam penelitian ini yaitu mengamati percobaan. Tabel 4.1 menunjukkan rata-rata aktivitas melihat pada pertemuan pertama masih rendah yaitu sebesar 66%. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa melakukan percobaan. Ketika percobaan berlangsung, siswa terlihat sering bercanda dengan temannya sehingga menyebabkan percobaan tidak terselesaikan tepat waktu. Pada pertemuan kedua, percobaan yang dilakukan yaitu menentukan massa jenis dari suatu cairan. Percobaan ini membutuhkan ketelitian pengamatan yang tinggi, karena berpengaruh terhadap hasil pengukuran yang diperoleh. Siswa terlihat serius dalam melakukan pengamatan sehingga menyebabkan rata-rata aktivitas melihat pada pertemuan kedua meningkat menjadi 87%. Rusmiyati & Yulianto (2009) menyatakan bahwa melalui percobaan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas dan tepat serta hasil belajar siswa dapat lebih permanen. Pada pertemuan ketiga rata-rata aktivitas melihat mencapai 95%, hal ini disebabkan karena siswa sudah beradaptasi dengan
model pembelajaran yang diterapkan. Selain itu, siswa juga terlihat antusias ketika percobaan dilakukan di luar kelas.
4.2.1.2 Aktivitas Mendengar
Aspek aktivitas mendengar yang diamati yaitu mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Berdasarkan Tabel 4.1, setiap pertemuan rata-rata aktivitas mendengar mengalami peningkatan. Pada pertemuan pertama, siswa sering berbicara dengan temannya dan kurang memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru. Hal ini menyebabkan rata-rata aktivitas mendengar pada pertemuan pertama menjadi rendah. Pada pertemuan selanjutnya, rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan yang tinggi. Hal ini dikarenakan selama proses pembelajaran, siswa mulai terlihat antusias dan serius memperhatikan dan mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh guru. Munculnya perhatian siswa terhadap pembelajaran, menunjukkan siswa mempunyai minat untuk belajar. Menurut Nurnawati et al. (2012), minat merupakan sumber motivasi yang kuat untuk belajar. Peningkatan rata-rata aktivitas mendengar siswa setiap pertemuan disajikan pada Gambar 4.1.
4.2.1.3 Aktivitas Menulis
Aspek aktivitas menulis yang diamati dalam penelitian ini yaitu menuliskan hasil percobaan. Secara umum, rata-rata aktivitas menulis siswa mengalami peningkatan pada setiap pertemuan. Peningkatan rata-rata aktivitas menulis siswa setiap pertemuan disajikan pada Gambar 4.1. Menurut Alwi (2007:
646), menulis adalah membuat huruf atau angka dengan alat tulis, melahirkan pikiran atau perasaan dalam bentuk karangan atau membuat cerita Pada pertemuan pertama, siswa terlihat kesulitan dalam menuliskan hasil percobaan ke dalam tabel pengamatan. Setiap siswa diminta untuk menuliskan hasil percobaan pada lembar kerja masing-masing. Berdasarkan pengamatan pada pertemuan pertama terlihat banyak siswa yang menuliskan hasil percobaan tetapi masih kurang lengkap terutama masalah satuan. Pada pertemuan kedua dan ketiga, rata-rata aktivitas menulis siswa mengalami peningkatan yang tinggi setelah diberikan arahan dalam melakukan penulisan hasil percobaan. Menurut Syamsi (2012), seseorang dapat menyebarluaskan pemikiran, pandangan, pendapat, gagasan atau perasannya tentang berbagai hal secara produktif, menarik, dan mudah dipahami melalui keterampilan menulis yang baik.
4.2.1.4 Aktivitas Mengucap
Aspek aktivitas mengucap yang diamati dalam penelitian ini yaitu seluruh kegiatan yang berhubungan dengan berbicara seperti bertanya, menjawab pertanyaan, berpendapat dan menanggapi pendapat. Berdasarkan hasil analisis data, rata-rata aktivitas mengucap siswa mengalami peningkatan yang paling rendah dibandingkan aktivitas belajar yang lain. Rendahnya aktivitas mengucap disebabkan karena siswa kurang berani dan merasa malu untuk mengemukakan pendapatnya. Melalui aktivitas mengucap, guru dapat mengetahui apa yang disampaikan oleh siswa sehingga guru dapat melakukan penilaian. Menurut
Tukiyem (2012), siswa dapat mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan secara lisan melalui berbicara. Oleh karena itu, aktivitas mengucap merupakan aspek yang sangat penting dalam kegiatan proses pembelajaran.
Aktivitas belajar merupakan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar. Aktivitas memegang peranan yang penting dalam proses pembelajaran. Tanpa adanya aktivitas maka proses pembelajaran tidak akan berlangsung. Purba et al. (2006) mengungkapkan bahwa dalam KBM diperlukan aktivitas siswa pada setiap kegiatan yang dilakukan sehingga pembelajaran menjadi efektif. Secara keseluruhan rata-rata aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan pada setiap pertemuan setelah diterapkan model BTL berketerampilan proses. Peningkatan rata-rata aktivitas belajar siswa terjadi karena siswa terlibat langsung dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan penelitian Nugroho et al. (2009) yang menyatakan bahwa penerapan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan proses dapat meningkatkan aktivitas siswa.