BAB II LANDASAN TEORI
2.1. Hasil Belajar
2.1.2. Hasil Belajar Akuntansi
Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya. Fungsi mata pelajaran akuntansi pada Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, sikap rasional, teliti,
jujur dan bertanggung jawab melalui prosedur pencatatan, pengelompokkan, pengikhtisaran transaksi keuangan, penyusunan laporan keuangan dan penafsiran perusahaan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Tujuan mata pelajaran akuntansi pada Sekolah Menengah Atas adalah untuk membekali siswa tamatan SMA dalam berbagai kompetensi dasar, agar mereka menguasai dan mampu menerapkan konsep-konsep dasar, prinsip dan prosedur akuntansi yang benar, baik untuk kepentingan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi ataupun untuk terjun ke masyarakat, sehingga memberikan manfaat bagi kehidupan siswa.
Hasil belajar akuntansi merupakan hasil yang dicapai oleh siswa khususnya mata pelajaran akuntansi setelah menerima materi akuntansi yang diberikan oleh guru dalam aktivitas belajar di sekolah. Dalam aktivitas belajar, sebuah hasil pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor yang berasal dari luar maupun dari dalam diri siswa. Pencapaian hasil sebuah mata pelajaran di tunjukkan melalui nilai atau angka dari hasil evaluasi guru terhadap tugas, ulangan atau ujian yang telah ditempun siswa yang biasanya dilakukan setelah selesai satu sub pokok bahasan dalam pelajaran. Hasil tersebut selanjutnya akan dipakai sebagai gambaran untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap mata pelajaran akuntansi yang telah disampaikan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar.
Indikator yang dipakai sebagai hasil belajar mata pelajaran IPS akuntansi dalam penelitian ini adalah nilai Ulangan Harian Bersama siswa kelas XII IPS SMAN 12 Semarang.
2.2 Motivasi
2.2.1 Pengertian Motivasi
Menurut Sardiman (2010: 75) motivasi merupakan daya penggerak yang menjadi aktif atau dapat juga dikatakan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu. Motivasi sangat penting untuk membangkitkan semangat siswa dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Menurut Mc. Donald (dalam Sardiman, 2010:73-74), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting yaitu :
1. Bahwa motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem “neurophysiological” yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
2. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa/feeling, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
3. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena
terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Berdasarkan ke tiga elemen di atas, maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.
Motivasi menurut Hamalik (2002:121) adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang di tandai oleh timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi mempunyai tiga komponen utama yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang mereka miliki dengan apa yang mereka harapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan. Dorongan yang berorientasi pada tujuan tersebut merupakan inti dari pada motivasi (Dimyati. DKK, 2005:88).
Motivasi belajar memiliki peranan yang sangat penting, baik untuk guru maupun siswa. Menurut Dimyati. dkk, 2006:85-86 ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari adanya motivasi belajar bagi guru dan siswa. Bagi siswa manfaatnya adalah (1) Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir (2) Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar yang
dibandingkan dengan teman sebaya (3) Mengarahkan kegiatan belajar (4) Membesarkan semangat belajar (5) Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja yang bersinambungan, individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat berhasil. Sedangkan bagi guru manfaatnya adalah (1) Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil (2) Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas yang bermacam-macam (3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran (4) Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa paedagogis
Berdasarkan sifatnya, motivasi dibagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Contoh konkrit, seorang siswa itu melakukan belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan yang lain-lain. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya. Sehingga apabila motivasi yang terdapat dalam diri siswa itu tinggi maka siswa tersebut akan berusaha untuk belajar lebih keras dan melakukan cara-cara agar hasil belajarnya baik. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan dalam belajar (M. Dalyono, 1997)
2.2.2 Fungsi Motivasi
Motivasi sangat diperlukan dalam belajar. Hasil belajar akan lebih optimal, kalau ada motivasi. Menurut Sardiman (2007: 85) motivasi mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegaiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Motivasi yang ada pada diri siswa sangat berpengaruh dalam pelaksanaan pembelajaran. Motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Jadi fungsi motivasi adalah sebagai berikut (Hamalik, 2008: 161):
1. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar. 2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan
3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau
lambatnya suatu pekerjaan.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hakim (2002: 27) bahwa motivasi siswa sangat bermanfaat dalam mengarahkan kegiatan belajar siswa. Adapun manfaat motivasi di dalam belajar diantaranya adalah:
1. Memberikan dorongan semangat kepada siswa untuk rajin belajar dan mengatasi kesulitan belajar.
2. Mengarahkan kegiatan belajar siswa kepada suatu tujuan tertentu yang berkaitan dengan masa depan dan cita-cita.
3. Membantu siswa untuk mencari suatu metode belajar yang tepat dalam mencapai tujuan belajar yang diinginkan.