BAB II LANDASAN TEORI
2.3. Kompetensi Profesional Guru
Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan pemdidikan menengah. Djamarah (2005:31), dalam pengertian yang sederhana Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di masjid, di surau/mushola, di rumah, dan sebagainya. Ametembun dalam Djamarah (2005:32), menyatakan bahwa guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual ataupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Menurut Hamalik (2006: 36) guru adalah jabatan profesional yang memerlukan berbagai keahlian khusus. Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang
memerlukan keahlian khusus sebagai sorang guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan (Uno, 2008: 15). Walaupun kenyataannya masih terdapat hal-hal tersebut diluar bidang kependidikan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah orang yang memiliki keahlian khusus dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik serta mempunyai jabatan profesional yang mempunyai wewenang tanggung jawab terhadap peserta didik baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah.
Syarat guru menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yang tertuang dalam pasal 28 meliputi:
1. Pendidik harus memiliki kaulifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2. Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan atau sertifikat keahlian yang relavan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
3. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
a. Kompetensi pedagogik b. Kompetensi kepribadian
c. Kompetensi profesional d. Kompetensi sosial
4. Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan atau sertifikat keahlian sebagaimana dimaksud di atas tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.
2.3.2 Kompetensi Guru
Kompetensi menurut Mc. Leod dalam Usman (2006:14) merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang disyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Adapun kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Surya (2004:93) kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang dalam kaitan dengan suatu tugas tertentu. Kompetensi bersifat kompleks dan merupakan satu kesatuan yang utuh dan menggambarkan potensi, pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai, yang dimiliki seseorang terkait dengan profesi tertentu berkenaan dengan bagian-bagian yang dapat diaktualisasikan atau diwujudkan dalam bentuk tindakan atau kinerja untuk menjalankan profesi tersebut.
Berdasarkan gambaran tersebut dapat disimpulkan, bahwa kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi guru adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus ada pada seseorang agar dapat menunjukkan perilakunya sebagai guru (Surya, 2004:93).
Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Satu kunci pokok tugas dan kedudukan guru sebagai tenaga profesional menurut ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) adalah sebagai agen pembelajaran (learning agent) yang berfungsi meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Sebagai agen pembelajaran guru memiliki peran sentral dan cukup strategis antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi
peserta didik.
Triyanto dan Titik Triwulan (2007: 71) berpendapat minimal ada dua parameter standar yang dijadikan rujukan bagi guru untuk keberhasilan dalam mengemban peran tersebut yaitu kualifikasi pendidikan dan kompetensi. Pasal 10 Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) menentukan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk
berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta, sesama pendidik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenihi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan (Triyanto dan Titik Triwulan, 2007:72).
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (2004: 12-13) menjabarkan kompetensi guru dikelompokkan menjadi 4 (empat) rumpun yaitu:
1. Penguasaan Bidang Studi
Pemahaman karakteristik dan substansi ilmu sumber bahan ajaran, pemahaman disiplin ilmu yang bersangkutan dalam konteks yang lebih luas, penggunaan metodologi ilmu yang berangkutan untuk memverifikasikan dan memantapkan pemahaman konsep yang dipelajari. 2. Pemahaman Peserta Didik
Pemahaman berbagai ciri peserta didik, pemahaman tahap-tahap perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek dan penerapannya dalam mengoptimalkan perkembangan dan pembelajaran peserta didik. 3. Penguasaan Pembelajaran yang Mendidik
Pemahaman konsep dasar serta proses pendidikan dan pembelajaran, pemahaman konsep dasar dan proses pembelajaran bidang studi yang bersangkutan, serta penerapannya dalam pelaksanaan dan pengembangan proses pembelajaran yang mendidik
Pengembangan intuisi keagamaan dan kebangsaan yang religious dan berkepribadian, pemilikan sikap dan kemampuan mengaktualisasikan diri, serta pemilikan sikap dan kemampuan mengembangkan profesionalisme kependidikan.
Menurut Triyanto (2006: 74), bahwa untuk dapat melaksanakan tugas professional dengan baik, guru harus memiliki sepuluh (10) kompetensi dasar yang meliputi:
1. Mengusai bahan
2. Mengelola program pembelajaran 3. Pengelolaan kelas
4. Penggunaan media dan sumber pembelajaran 5. Menguasai landasan-landasan pendidikan 6. Mengelola interaksi-interaksi pembelajaran
7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran
8. Mengenal fungsi layanan bimbingan dan penyuluhan sekolah 9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.
2.3.3 Kompetensi Profesional Guru
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pengajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memehuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Guru harus memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan serta
sikap yang mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif. Merujuk pada hal tersebut, diperlukan guru yang efektif, yaitu guru yang dalam tugasnya memiliki kazanah kompetensi yang banyak (pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan) yang memberi sumbangan sehingga dapat mengajar secara efektif (Triyanto, 2006: 71).
Kompetensi profesional besar pengaruhnya terhadap kualitas dari guru itu sendiri pada saat melakukan pembelajaran. Guru agar dapat memiliki kompetensi profesional dituntut untuk selalu mengembangkan dirinya terhadap pengetahuan dan mendalami keahliannya, karena guru tidak hanya bermodalkan penguasaan materi saja tetapi guru harus memiliki ketrampilan dan kemampuan khusus pada saat melakukan pembelajaran.
Guru yang memiliki kompetensi profesional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode pembelajaran, disamping dapat terlihat pila pada tanggung jawabnya dalam melaksanakan pengabdiannya. Guru tersebut memiliki tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral, dan spiritual. Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya. Tanggung jawab sosial diwujudkan melalui kompetansi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaktif yang efektif. Tanggung jawab intelektual dengan pengusaan perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang guru tersebut dalam mengajar. Tanggung jawab spiritual dan moral melalui penampilan guru
sebagai makhluk beragama yang senantiasa perilakunya tidak menyimpang dari norma-norma agama dan moral.
Triyanto (2007: 76-80) mengindikasikan sub kompetensi yang ada dalam kompetensi professional guru yaitu:
1. Menguasai subtansi bidang studi dan metodologi keilmuannya.
Guru dituntut untuk mengkaji substansi atau teori-teori dan mengkaji metodologi keilmuan bidang studi yang diampunya.
2. Menguasai struktur dan materi kurikulum bidang studi.
Guru dituntut untuk dapat mengkaji struktur kurikulum bidang studi yang diampunya, mengkaji materi bidang studi dalam kurikulum, mengkaji bahan ajar bidang studi dan diharapkan mampu berlatih mengembangkan bahan ajar sesuai bidang studi yang diampu.
3. Menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran.
Guru dituntut untuk mampu mengkaji berbagai jenis teknologi informasi dam komunikasi dalam pembelajaran. Memilih berbagai jenis teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran secara kontekstual, dan terlatih menggunakan dan memanfatkan berbagai jenis teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran.
4. Mengorganisasikan materi kurikulum bidang studi.
Guru diharapkan dapat berlatih memilih substansi, cakupan, dan tata urut materi pembelajaran secara kontekstual dan berlatih mengidentifikasi
substansi materi bidang studi yang sesuai dengan perkembangan dan potensi peserta didik.
5. Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.
Guru mengkaji hakekat penelitian tindakan kelas, berlatih mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pembelajaran, berlatih menyusun rancangan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas, serta berlatih merancang upaya-upaya peningkatan kualitas pembelajaran.
2.3.4 Pengaruh Kompetensi Guru Profesional terhadap Hasil Belajar
Menurut Soejana (2005:41) guru adalah salah satu faktor dominan atau paling penting yang mempengaruhi kualitas pembelajaran, namun guru akan menjadi faktor yang paling penting ketika mempunyai kompetensi profesional. Guru yang mempunyai kompetensi profesional baik diperkirakan akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang baik pula.
Menurut Hamalik (2006:36) proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa tidak hanya ditentukan oleh sekolah, pola, struktur dan isi kurikulum, akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbingnya. Guru yang kompeten akan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan dan mampu mengelola kelasnya, sehingga dalam belajar para siswa berada pada tingkat yang optimal.
Kompetensi profesional merupakan salah satu faktor penentu mutu atau kualitas guru. Menurut Soewarso (2004), bahwa guru yang professional mampu mengembangkan pembelajaran yang dapat membentuk peserta didik mendapatkan hasil belajar yang baik.
Proses pembelajaran dapat terlakasana dengan baik jika didukung oleh kompetensi professional yang dimiliki guru sesuai dengan pendapat Uzer Usman (2007: 43) bahwa proses belajar mengajar dan hasil belajar sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kemampuan guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada
tingkat optimal.
Guru sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap usaha pendidikan dengan pengajaran. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pembelajaran, khususnya mengenai masalah kurikulum dan peningkatan sumber daya yang dimiliki oleh siswa yang dihasilkan oleh pembelajaran yang sering bermuara pada faktor kemampuan guru. Uraian diatas menunjukkan bahwa guru dituntut untuk senantiasa berperan aktif dan eksis dalam dunia pendidikan. Keahlian dan kepribadian guru merupakan salah satu faktor yang sangat berperan sekaligus menjadi loncatan bagi siswa untuk meraih keberhasilan khususnya prestasi baik dari segi analisis maupun kemampuan mendayagunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Mengacu pada pendapat Triyanto tentang kompetensi profesional guru maka indikator dalam penelitian ini untuk variabel kompetensi profesional guru adalah :
1. Menguasai subtansi bidang studi dan metodologi keilmuannya.
3. Menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran.
4. Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas