• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Belajar Biologi

Dalam dokumen PENGARUH PENGELOLAAN KELAS TERHADAP HASI (Halaman 14-36)

BAB II DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN

2. Hasil Belajar Biologi

yang baik.

5. Pengelolaan kelas dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar biologi.

C. Pembatasan Masalah

Penulis membatasi penelitian ini pada :

1. Pengelolaan kelas pada siswa yang mampu menempatkannya sebagai pusat dari proses belajar mengajar.

2. Hasil belajar biologi siswa.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: pengaruh pengelolaan kelas terhadap hasil belajar biologi siswa.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :

1. Guru biologi, yaitu sebagai umpan balik terhadap kemampuan mengelola kelas yang dimilikinya agar lebih ditingkatkan lagi kemampuan tersebut untuk proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa.

2. Kepala sekolah, yaitu sebagai masukan terhadap kemampuan mengelola kelas yang dimiliki oleh seorang guru biologi sehingga akan lebih ditingkatkan lagi pembinaan serta pengawasan terhadap kinerja guru tersebut.

3. Bagi penulis, diharapkan dapat menjadi bekal pengetahuan mengenai pengelolaan kelas dalam meningkatkan hasil belajar dan dapat menerapkannya dengan baik dalam proses belajar mengajar.

7

DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretis

1. Pengelolaan Kelas

a. Pengertian Pengelolaan Kelas

Dalam proses pembelajaran di kelas yang sangat urgen untuk

dilakukan oleh seorang guru adalah mengupayakan atau menciptakan kondisi

belajar mengajar yang baik. Dengan kondisi belajar yang baik diharapkan

proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik pula. Proses

pembelajaran yang baik akan meminimalkan kemungkinan terjadinya

kegagalan serta kesalahan dalam pembelajaran. Maka dari itu penting sekali

bagi seorang guru memiliki kemampuan menciptakan kondisi belajar

mengajar yang baik dan untuk mencapai tingkat efektivitas yang optimal

dalam kegiatan instruksional kemampuan pengelolaan kelas merupakan salah

satu faktor yang juga harus dikuasai oleh seorang guru, di samping

faktor-faktor lainnya.

1

Kemampuan tersebut yang kemudian disebut dengan

kemampuan mengelola kelas.

1

Nasrun, Media Metoda dan Pengelolaan Kelas terhadap Keberhasilan Praktek Lapangan Kependidikan, (Forum Pendidikan : Universitas Negeri Padang, XXVI (04), Desember, 2001 ),h.429.

Sebelum memberikan pengertian tentang pengelolaan kelas berikut ini

adalah pengertian tentang kelas yang dikemukakan oleh Purnomo, bahwa

"Kelas adalah ruangan belajar (lingkungan fisik) dan rombongan belajar

(lingkungan emosional)".

2

Lingkungan fisik meliputi : (1) ruangan, (2) keindahan kelas, (3)

pengaturan tempat duduk, (4) pengaturan sarana dan alat pengajaran, (5)

ventilasi dan pengaturan cahaya. Sedangkan lingkungan sosio-emosional

meliputi: (1) tipe kepemimpinan guru, (2) sikap guru, (3) suara guru, (4)

pembinaan hubungan yang baik.

3

Kelas bukanlah sekedar ruangan dengan segala isinya yang bersifat

statis dan pasif, namun kelas juga merupakan sarana berinteraksi antara siswa

dengan siswa dan siswa dengan guru. Ciri utama kelas adalah pada

aktivitasnya untuk dapat menjalankan aktivitas atau kegiatan pembelajaran

yang dinamis perlu adanya suatu aktivitas pengelolaan kelas baik dan

terencana.

Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung

dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai

materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang

tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam

2

Purnomo, Strategi Pengajaran, (Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Email:[email protected], 2005 ),h.3.

3

mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses

belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya.

4

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pengelolaan diartikan

dengan "penyelenggaraan, pengurusan".

5

Sedangkan yang dimaksud dengan

kelas adalah "tingkat, ruang tempat belajar di sekolah".

6

dengan kata lain

pengelolaan kelas diterjemahkan secara singkat sebagai suatu proses

penyelenggaraan atau pengurusan ruang dimana dilakukan kegiatan belajar

mengajar, dan untuk lebih jelasnya berikut pengertian pengelolaan kelas yang

dikemukakan oleh Usman, bahwa "pengelolaan kelas adalah keterampilan

guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan

mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar".

7

Sedangkan menurut Wina Sanjaya bahwa pengelolaan kelas adalah :

“Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan

memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala

terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran”.

8

4

Hendyat Soetopo, Pendidikan dan Pembelajaran, Teori, Permasalahan, dan Praktek. (Malang : UMM Press, 2005), h.200.

5

W.J.S., Poerwadarmita, Tim Penyusun Kamus Pusat Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai Pustaka, 2002 ), h.470.

6

Ibid., h.446. 7

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung : PT.Remaja Rosda Karya, 2002), h.97.

8

Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta : Kencana Prenada Media Grup, 2005), Edisi pertama, Cetakan ke-2, h.174.

Pendapat lain yang cukup menarik dalam buku Quantum Teaching

tentang kelas, yaitu berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas

yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar.

9

Beberapa pengertian pengelolaan kelas yang telah dikemukakan oleh

para ahli di atas, dapatlah memberi suatu gambaran serta pemahaman yang

jelas bahwa pengelolaan kelas merupakan suatu usaha menyiapkan kondisi

yang optimal agar proses atau kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung

secara lancar. Pengelolaan kelas merupakan masalah yang amat kompleks dan

seorang guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan

kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan

pembelajaran yang ditetapkan secara efektif dan efisien.

Pandangan mengenai pengelolaan kelas sebagaimana telah

dikemukakan di atas intinya memiliki karakteristik yang sama, yaitu bahwa

pengelolaan kelas merupakan sebuah upaya yang real untuk mewujudkan

suatu kondisi proses atau kegiatan belajar mengajar yang efektif. Dengan

pengelolaan kelas yang baik diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan

pembelajaran di mana proses tersebut memberikan pengaruh positif yang

secara langsung menunjang terselenggaranya proses belajar mengajar di kelas.

b. Tujuan Pengelolaan Kelas

Menurut Usman pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan

umum dan tujuan khusus.

10

9

Bobbi De Porter, Mark Reardon, dan Sarah Singer, Quantum Teaching mempraktikan Quantum Learning di Ruang Kelas, ( Bandung : Kaifa, 2002 ), h. 3.

1. Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan

fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar

mencapai hasil yang baik.

2. Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam

menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang

memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk

memperoleh hasil yang diharapkan.

Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung pada

tujuan pendidikan dan secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah

penyediaan fasilitas bagi bermacam–macam kegiatan belajar siswa sehingga

subjek didik terhindar dari permasalah mengganggu seperti siswa mengantuk,

enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, mengajukan pertanyaan

aneh dan lain sebagainya.

11

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan kelas

adalah menyediakan, menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal di

dalam kelas sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dengan baik. Selain itu

juga guru dapat mengembangkan dan menggunakan alat bantu belajar yang

digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga dapat membantu siswa

dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.

c. Ketrampilan Mengelola Kelas

Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung

dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai

materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang

10

Moh. Uzer Usman, Op.Cit, h. 10. 11

tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam

mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses

belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya.

Oleh sebab itu kegiatan guru dapat dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan

pengelolaan pengajaran dan kegiatan pengelolaan kelas

12

. Tujuan pengajaran

yang tidak jelas, materi yang terlalu mudah atau terlalu sulit, urutan materi

tidak sistematis, alat pembelajaran tidak tersedia, merupakan contoh masalah

pembelajaran. Sedangkan subyek didik mengantuk, enggan mengerjakan

tugas, terlambat masuk kelas, mengganggu teman lain, mengajukan

pertanyaan aneh, tempat duduk banyak kutu busuk, ruang kelas kotor,

merupakan contoh masalah pengelolaan kelas. Dan untuk penanggulangannya

seorang guru harus dapat memberikan bimbingan sebab ini secara psikologis

akan menarik keterlibatan siswa. Guru bisa memulainya dengan apa yang

siswa sukai, bagaimana cara berpikir mereka dan bagaimana mereka

menyikapi hal–hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.

13

Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang mengaktifkan siswa

perlu diperhatikan hal–hal sebagai berikut :

1. Aksesbilitas : siswa mudah menjangkau alat dan sumber belajar.

2. Mobilitas : siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian

yang lain.

3. Interaksi : memudahkan terjadi interaksi antara diri siswa maupun antar

siswa

12Ibid, h. 200.

13

4. Variasi kerja siswa : memungkinkan siswa bekerja secara perorangan,

berpasangan atau berkelompok.

14

Pada intinya, kemampuan guru memilih strategi pengelolaan kelas

yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah

kelas yang dihadapinya jika ia tepat meletakkan strategi tersebut maka proses

belajar mengajar akan efektif.

d. Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas

Menurut James Cooper yang dikutip oleh Hendyat Soetopo

mengemukakan tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas, yaitu pendekatan

modifikasi perilaku, pendekatan sosio-emosional, dan pendekatan proses

kelompok.

15

Berikut penjelasan ketiga pendekatan di atas adalah sebagai

berikut :

1. Pendekatan modifikasi perilaku (Behavior-Modification Approach)

Pendekatan ini didasari oleh psikologi behavioral yang menganggap

perilaku manusia yang baik maupun yang tidak baik merupakan hasil

belajar. Oleh sebab itu perlu membentuk, mempertahankan perilaku yang

dikehendaki dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak

dikehendaki.

Berdasarkan pendekatan ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa

dalam pendekatan modifikasi perilaku aktivitas di utamakan pada

14

Boediono, Kegiatan Belajar Mengajar Makalah Kurikulum Berbasis Kompetensi http : // www. Puskur. Or. Id / Data / Buku KBM. Pdf, (Jakarta : Puskur, Balitbang Depdiknas, 2002), h. 8.

15

penguatan tingkah laku siswa yang baik maupun tingkah laku siswa yang

kurang baik, dengan pendekatan ini diharapkan guru dapat merubah

tingkah laku siswa sesuai dengan yang diharapkan oleh guru.

Teknik-teknik yang dapat diterapkan adalah

16

:

a). Penguatan negatif

Penguatan negatif adalah pengurangan hingga penghilangan stimulus

yang tidak menyenangkan untuk mendorong terulangnya perilaku

yang diharapkan.

b). Penghapusan

Penghapusan adalah usaha mengubah tingkah laku subyek didik

dengan cara menghentikan respon terhadap tingkah laku mereka yang

semula dikuatkan oleh respon itu.

c). Hukuman

Yaitu penghentian secara langsung perilaku anak yang menyimpang.

Sebenarnya penguatan negatif dan penghapusan merupakan hukuman

yang tidak langsung. Dengan kata lain hukuman adalah pengajuan

stimulus tidak menyenangkan untuk menghilangkan dengan segera

tingkah laku subyek didik yang tidak diharapkan.

2. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional (Socio-Emotional Climate Approach)

Pendekatan sosio-emosional bertolak dari psikologi klinis dan konseling.

Pandangannya adalah bahwa proses belajar-mengajar yang berhasil

16

mempersyaratkan hubungan sosio-emosional yang baik antara

guru-subyek didik.

Dapat disimpulkan bahwa pendekatan ini mengutamakan pada hubungan

yang baik antar personal di dalam kelas, baik itu guru dengan siswa

maupun siswa dengan siswa, sehingga siswa merasa aman dan senang

berada dalam kelas serta berpartisipasi dalam proses belajar mengajar

dalam kelas. Dengan kata lain peran guru sangat penting dalam

menciptakan iklim belajar yang kondusif dan guru diharapkan dapat

merasakan apa yang dirasakan oleh siswa serta mampu menyikapinya

secara demokratis

3. Pendekatan Proses Kelompok (Group-Process Approach)

Pendekatan proses kelompok berangkat dari psikologi sosial dan dinamika

kelompok, dengan anggapan bahwa proses belajar-mengajar yang efektif

dan efisien berlangsung dalam konteks kelompok. Untuk itu guru harus

mengusahakan agar kelas menjadi suatu ikatan kelompok yang kuat.

Dapat penulis simpulkan pendekatan proses kelompok ini bahwa

pengalaman belajar siswa didapat dari kegiatan kelompok di mana dalam

kelompok terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh anggotanya,

terdapat tujuan yang ingin dicapai, adanya hubungan timbal balik antar

anggota kelompok untuk mencapai tujuan, serta memelihara kelompok

yang produktif.

Lain halnya dengan guru yang memperhatikan siswa, selalu

terbuka, terhadap keluhan siswa, mau mendengarkan kesulitan belajar siswa,

maupun selalu bersedia mendengarkan saran dan kritik dari siswa adalah guru

yang disenangi oleh siswa. Siswa akan rindu dengan kehadirannya, siswa

merasa nyaman disisinya, dan siswa merasa bahwa dirinya adalah keluarga

bagi guru tersebut. Figur yang demikian ini biasanya akan sedikit sekali

menemui kesulitan dalam mengelola kelas.

Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru seperti inilah yang

diyakini berkorelasi positif dengan perubahan tingkah laku dan prestasi hasil

belajar siswa. Dengan kata lain, menciptakan iklim kelas yang baik

merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas

pembelajaran di kelas.

Jadi pengelolaan kelas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

kemampuan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang

optimal.

Dari Sini

2. Hasil Belajar Biologi

a. Pengertian Belajar

Menurut Hilgard dan Bower, dalam bukunya Theories of Learning

yang dikutip oleh Purwanto mengemukakan:

"Belajar berhubungan dengan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu

situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang

berulang-ulang dalam situasi ini, dimana perubahan tingkah laku tidak dapat

dijelaskan atau dasar kecenderungan, respon pembawaan, kematangan

atau keadaan-keadaan sesaat seseorang."

17

Hal lain dikemukakan oleh Ahmad Mudzakir dan Joko Sutrisno

bahwa: "belajar merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan

mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah

laku, sikap kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan lain

sebagainya."

18

Definisi lain seperti yang dikutip oleh E.L. Torndike tentang

pengertian belajar, yaitu: "belajar merupakan suatu bentuk perubahan perilaku

yang dapat diamati yang terjadi melalui hubungan rangsangan, jawaban

menurut prinsip-prinsip yang mekanistik".

19

Ditambah oleh Mulyono

Abdurrahman bahwa belajar dapat diartikan sebagai: "suatu proses dari

17

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2002), h. 82. 18

Ahmad Mudzakir, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT.Pustaka Setia, 2001), h. 34. 19

Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2003), h. 28.

seorang individu yang berupaya mencapai tujuan belajar yaitu suatu bentuk

perubahan perilaku yang relatif menetap."

20

Belajar juga merupakan proses pengumpulan atau penghafalan suatu

fakta dalam bentuk informasi atau materi pelajaran, demikianlah sebagian

orang menafsirkan arti belajar.

21

Menurut Gagne yang dikutip Nurdin Ibrahim, memaparkan bahwa :

Belajar sebagai suatu perubahan dalam disposisi atau kapabilitas

manusia. Perubahan dalam menunjukkan kinerja (perilaku) berarti

belajar itu menentukan semua keterampilan, pengetahuan, sikap, dan

nilai yang diperoleh siswa. Dalam belajar dihasilkan berbagai macam

tingkah laku yang berlainan, seperti pengetahuan sikap, keterampilan,

kemampuan, informasi, dan nilai.

22

Sementara Wittig seperti dikutip oleh Muhibin Syah mengemukakan

bahwa belajar : merupakan perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam

segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai

pengalaman.

23

Perubahan yang menyangkut seluruh aspek psikofisik

organisme yang didasarkan pada kepercayaan bahwa tingkah laku lahiriyah

organisme itu sendiri bukan indikator adanya peristiwa belajar, karena proses

belajar itu tidak dapat diobservasi langsung”.

24

Sedangkan menurut Witrock, belajar adalah : suatu terminologi yang

menggambarkan proses perubahan melalui pengalaman. Proses tersebut

20Ibid., h. 30. 21

Mulyadi Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004), h. 64. 22

Nurdin Ibrahim, Hasil Belajar Fisika SLTP Terbuka Tanjung Sari Sumedang Jawa Barat, (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 031, Tahun ke-7, September 2001), h. 487.

23

Muhibin Syah, M.Ed Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2006), h. 90.

24

mempersyaratkan perubahan yang relatif permanen berupa sikap,

pengetahuan, informasi, kemampuan, dan keterampilan melalui pengalaman.

25

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Menurut Kartini Kartono kegiatan proses belajar mengajar dipengaruhi

oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor ekternal yang dapat dijabarkan

lebih lanjut sebagai berikut :

26

1. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal), diantaranya meliputi:

a) Intelegensi

Intelegensi merupakan suatu kemampuan dasar yang bersifat umum

untuk memperoleh suatu kecakapan yang mengandung berbagai

komponen.

b) Bakat

Merupakan potensi atau kemampuan yang jika dikembangkan melalui

belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.

c) Minat dan perhatian

Minat dan perhatian dalam belajar sangat berhubungan erat. Seseorang

yang menaruh minat pada mata pelajaran tertentu, biasanya cenderung

untuk selalu memperhatikan mata pelajaran yang diminatinya. Begitu

juga jika seseorang menaruh perhatian secara kontinue baik secara

25

Nurdin Ibrahim, Pemanfaatan Tutorial Audio Interaktif untuk Perataan Kualitas Hasil Belajar,(Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.044, Tahun ke-9,Jakarta:September, 2003), h.734-735.

26

Kartini Kartono, Bimbingan Belajar di SMA dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: CV. Rajawali, 2000), h. 3.

sadar maupun secara tidak sadar pada objek tertentu biasanya akan

membangkitkan minat pada objek tersebut.

d) Kesehatan jasmani

Kondisi fisik yang baik akan sangat berpengaruh terhadap

berlangsungnya kegiatan belajar mengajar seseorang apabila memiliki

badan atau kondisi fisik yang sehat maka ia akan mempunyai

semangat dalam belajar. Namun sebaliknya seseorang yang sedang

dalam kondisi sakit maka akan sulit untuk bisa berkonsentrasi dalam

belajar.

e) Cara belajar

Cara belajar yang efektif dan efisien akan sangat berpengaruh terhadap

keberhasilan dalam belajar. Ada beberapa cara belajar yang efisien.

Diantaranya yaitu: berkonsentrasi baik sebelum belajar ataupun pada

saat proses belajar mengajar berlangsung, mempelajari kembali materi

pelajaran yang telah diterima, membaca dengan teliti dan betul

materinya, mencoba menyelesaikan latihan-latihan soal dari materi

yang telah diajarkan.

27

2. Faktor (Eksternal) yang berasal dari luar diri siswa, yaitu lingkungan,

lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Abu Ahmadi yang menyatakan

bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi belajar siswa baik secara

27

langsung maupun tidak langsung. Faktor-faktor tersebut digolongkan menjadi

tiga macam yaitu:

28

1. Faktor-faktor stimulasi belajar, mencakup panjangnya bahan pelajaran

kesulitan bahan pelajaran, berartinya bahan pengajaran, berat ringannya

tugas, dan suasana lingkungan eksternal.

2. Faktor-faktor metode belajar, mencakup kegiatan berlatih, resistensi dalam

belajar, pengenalan tentang hasil-hasil belajar, bimbingan dalam belajar,

dan kondisi-kondisi intensif.

3. Faktor-faktor individual, mencakup usia kronologis, perbedaan jenis

kelamin, pengalamannya sebelumnya, kapasitas mental, kondisi kesehatan

jasmani, kondisi kesehatan rohani, dan motivasi.

Sedangkan menurut Jhon M. Keller sebagaimana yang dikutip oleh

Mulyono Abdurrahman berpandangan bahwa : "belajar sangat dipengaruhi

oleh dua macam masukan, yaitu kelompok masukan pribadi (personal inputs)

dan kelompok masukan yang berasal dari lingkungan (environmental

inputs)."

29

Pendapat lain yang diungkapkan Muslim dalam Jurnal Penelitian

bidang pendidikan menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar,

yaitu:

30

1. Strategi pembelajaran, salah satu strategi yang dapat meningkatkan

keterlibatan siswa dalam proses belajar adalah: pra pembelajaran,

penyajian informasi, peran serta siswa, evaluasi, dan tindak lanjut.

2. Gaya kognitif siswa, yaitu kebiasaan bertindak yang relatif tetap dalam

menerima, memikirkan, memecahkan masalah, ataupun dalam informasi.

Dari berbagai penjabaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi

belajar dapat dikelompokan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor

28

Abu Ahmadi, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001), h. 130 – 138. 29

Mulyono Abdurrahman, Op.Cit, h. 106. 30

eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam diri anak

didik tersebut sedangkan faktor eksternal faktor yang disebabkan oleh stimuli

eksternal terhadap anak didik sehingga anak didik tersebut terpengaruh atau

terkondisikan oleh faktor eksternal tersebut.

c. Pengertian Biologi

Ditinjau dari segi etimologi biologi berasal dari kata bios dan logos.

Bios berarti hidup, sedangkan logos berarti pembicaraan atau ilmu. Jadi

biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang keadaan dan sifat makhluk

hidup.

31

Biologi merupakan wahana untuk menyadari keteraturan alam untuk

mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

32

Selain itu,

untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai serta

tanggung jawab kepada lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara.

33

Konsep dasar biologi merupakan abstrak dari fenomena visual,

sehingga biologi sebagai ilmu dapat dilihat sebagai gambar yang merupakan

hakikat utama.

34

Pembelajaran biologi akan menyusun rangkaian gambar dan

31

Tim Kashiko, Kamus Lengkap Biologi, (Surabaya: Kashiko, 2002), cet.ke-1, h. 50. 32

Dr. E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, implementasi, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2003), h. 213.

33

Ahmad Ridwan, dkk, KBK Mata Pelajaran Biologi untuk SMU, (Jakarta: Depdiknas, 2001), h. 3.

34

Tim Penulis PEKERTI Bidang MIPA, Hakikat Pembelajaran MIPA dan Kiat Pembelajaran Biologi di Perguruan Tinggi, (Jakarta: PAU – PPAI, Universitas Terbuka, 2001), h. 11.

membuat interkoneksi, kemudian menyusun abstraksi sehingga lahirlah

konsep.

35

Dalam proses pembelajaran, khususnya biologi, seorang siswa dituntut

untuk menguasai tiga dominan atau ranah yang meliputi:

36

1. Kognitif, memiliki enam taraf, yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi,

analisis, sintesis, dan evaluasi.

2. Afektif, meliputi: memperhatikan, merespon, menghayati nilai,

mengorganisasikan, dan memperhatikan nilai atau seperangkat nilai.

3. Psikomotor, meliputi: persepsi, respon terbimbing, respon mekanisis, dan

respon kompleks.

Mengingat akan hal tersebut, maka biologi bukanlah ilmu pengetahuan

yang statis, tetapi sebagai ilmu pengetahuan yang dinamis. Biologi merupakan

pengetahuan fisik yang tidak dapat secara utuh dipindahkan dari pikiran guru

ke pikiran siswa dengan kata lain tidak dapat diteruskan dalam bentuk jadi.

Setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan-pengetahuan itu dan

mengalaminya secara langsung.

Pada proses belajar biologi harus dikembangkan keterampilan proses

IPA, hal ini dikarenakan biologi merupakan bagian dari IPA. Sehingga proses

belajar lebih berfokus pada keterampilan intelektual, keterampilan proses

merupakan sejumlah keterampilan yang memungkinkan siswa memproses

lebih lanjut dalam mempelajari biologi, seperti observasi, klasifikasi,

interpretasi, merancang percobaan dan aplikasi.

35Ibid, h. 9.

36

James W. Popham dan Eval L. Baker, Teknik Mengajar Secara Sistematis, Penterjemah T. Amirul Hadi, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2001), h. 29-33.

d. Hakikat Hasil Belajar Biologi

Hakikat hasil belajar biologi adalah untuk menghantarkan siswa

menguasai konsep-konsep IPA dan keterkaitannya untuk dapat memecahkan

masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kata menguasai di sini mengisyaratkan

bahwa harus menjadikan siswa tidak sekedar tahu (knowing) dan hafal

(memorizing) tentang konsep-konsep IPA, melainkan harus menjadikan siswa

untuk mengerti dan memahami (to understand) konsep-konsep tersebut dan

menghubungkan keterkaitan suatu konsep dengan konsep lain.

37

Hasil belajar didefinisikan sebagai suatu hasil yang diharapkan dari

Dalam dokumen PENGARUH PENGELOLAAN KELAS TERHADAP HASI (Halaman 14-36)

Dokumen terkait