BAB II DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN
2. Hasil Belajar Biologi
yang baik.
5. Pengelolaan kelas dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar biologi.
C. Pembatasan Masalah
Penulis membatasi penelitian ini pada :
1. Pengelolaan kelas pada siswa yang mampu menempatkannya sebagai pusat dari proses belajar mengajar.
2. Hasil belajar biologi siswa.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: pengaruh pengelolaan kelas terhadap hasil belajar biologi siswa.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1. Guru biologi, yaitu sebagai umpan balik terhadap kemampuan mengelola kelas yang dimilikinya agar lebih ditingkatkan lagi kemampuan tersebut untuk proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa.
2. Kepala sekolah, yaitu sebagai masukan terhadap kemampuan mengelola kelas yang dimiliki oleh seorang guru biologi sehingga akan lebih ditingkatkan lagi pembinaan serta pengawasan terhadap kinerja guru tersebut.
3. Bagi penulis, diharapkan dapat menjadi bekal pengetahuan mengenai pengelolaan kelas dalam meningkatkan hasil belajar dan dapat menerapkannya dengan baik dalam proses belajar mengajar.
7
DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoretis
1. Pengelolaan Kelas
a. Pengertian Pengelolaan Kelas
Dalam proses pembelajaran di kelas yang sangat urgen untuk
dilakukan oleh seorang guru adalah mengupayakan atau menciptakan kondisi
belajar mengajar yang baik. Dengan kondisi belajar yang baik diharapkan
proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik pula. Proses
pembelajaran yang baik akan meminimalkan kemungkinan terjadinya
kegagalan serta kesalahan dalam pembelajaran. Maka dari itu penting sekali
bagi seorang guru memiliki kemampuan menciptakan kondisi belajar
mengajar yang baik dan untuk mencapai tingkat efektivitas yang optimal
dalam kegiatan instruksional kemampuan pengelolaan kelas merupakan salah
satu faktor yang juga harus dikuasai oleh seorang guru, di samping
faktor-faktor lainnya.
1Kemampuan tersebut yang kemudian disebut dengan
kemampuan mengelola kelas.
1
Nasrun, Media Metoda dan Pengelolaan Kelas terhadap Keberhasilan Praktek Lapangan Kependidikan, (Forum Pendidikan : Universitas Negeri Padang, XXVI (04), Desember, 2001 ),h.429.
Sebelum memberikan pengertian tentang pengelolaan kelas berikut ini
adalah pengertian tentang kelas yang dikemukakan oleh Purnomo, bahwa
"Kelas adalah ruangan belajar (lingkungan fisik) dan rombongan belajar
(lingkungan emosional)".
2Lingkungan fisik meliputi : (1) ruangan, (2) keindahan kelas, (3)
pengaturan tempat duduk, (4) pengaturan sarana dan alat pengajaran, (5)
ventilasi dan pengaturan cahaya. Sedangkan lingkungan sosio-emosional
meliputi: (1) tipe kepemimpinan guru, (2) sikap guru, (3) suara guru, (4)
pembinaan hubungan yang baik.
3Kelas bukanlah sekedar ruangan dengan segala isinya yang bersifat
statis dan pasif, namun kelas juga merupakan sarana berinteraksi antara siswa
dengan siswa dan siswa dengan guru. Ciri utama kelas adalah pada
aktivitasnya untuk dapat menjalankan aktivitas atau kegiatan pembelajaran
yang dinamis perlu adanya suatu aktivitas pengelolaan kelas baik dan
terencana.
Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung
dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai
materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang
tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam
2
Purnomo, Strategi Pengajaran, (Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Email:[email protected], 2005 ),h.3.
3
mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses
belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya.
4Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pengelolaan diartikan
dengan "penyelenggaraan, pengurusan".
5Sedangkan yang dimaksud dengan
kelas adalah "tingkat, ruang tempat belajar di sekolah".
6dengan kata lain
pengelolaan kelas diterjemahkan secara singkat sebagai suatu proses
penyelenggaraan atau pengurusan ruang dimana dilakukan kegiatan belajar
mengajar, dan untuk lebih jelasnya berikut pengertian pengelolaan kelas yang
dikemukakan oleh Usman, bahwa "pengelolaan kelas adalah keterampilan
guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan
mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar".
7Sedangkan menurut Wina Sanjaya bahwa pengelolaan kelas adalah :
“Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan
memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala
terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran”.
84
Hendyat Soetopo, Pendidikan dan Pembelajaran, Teori, Permasalahan, dan Praktek. (Malang : UMM Press, 2005), h.200.
5
W.J.S., Poerwadarmita, Tim Penyusun Kamus Pusat Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai Pustaka, 2002 ), h.470.
6
Ibid., h.446. 7
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung : PT.Remaja Rosda Karya, 2002), h.97.
8
Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta : Kencana Prenada Media Grup, 2005), Edisi pertama, Cetakan ke-2, h.174.
Pendapat lain yang cukup menarik dalam buku Quantum Teaching
tentang kelas, yaitu berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas
yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar.
9Beberapa pengertian pengelolaan kelas yang telah dikemukakan oleh
para ahli di atas, dapatlah memberi suatu gambaran serta pemahaman yang
jelas bahwa pengelolaan kelas merupakan suatu usaha menyiapkan kondisi
yang optimal agar proses atau kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung
secara lancar. Pengelolaan kelas merupakan masalah yang amat kompleks dan
seorang guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan
kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan
pembelajaran yang ditetapkan secara efektif dan efisien.
Pandangan mengenai pengelolaan kelas sebagaimana telah
dikemukakan di atas intinya memiliki karakteristik yang sama, yaitu bahwa
pengelolaan kelas merupakan sebuah upaya yang real untuk mewujudkan
suatu kondisi proses atau kegiatan belajar mengajar yang efektif. Dengan
pengelolaan kelas yang baik diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan
pembelajaran di mana proses tersebut memberikan pengaruh positif yang
secara langsung menunjang terselenggaranya proses belajar mengajar di kelas.
b. Tujuan Pengelolaan Kelas
Menurut Usman pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan
umum dan tujuan khusus.
109
Bobbi De Porter, Mark Reardon, dan Sarah Singer, Quantum Teaching mempraktikan Quantum Learning di Ruang Kelas, ( Bandung : Kaifa, 2002 ), h. 3.
1. Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan
fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar
mencapai hasil yang baik.
2. Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam
menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang
memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk
memperoleh hasil yang diharapkan.
Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung pada
tujuan pendidikan dan secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah
penyediaan fasilitas bagi bermacam–macam kegiatan belajar siswa sehingga
subjek didik terhindar dari permasalah mengganggu seperti siswa mengantuk,
enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, mengajukan pertanyaan
aneh dan lain sebagainya.
11Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan kelas
adalah menyediakan, menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal di
dalam kelas sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dengan baik. Selain itu
juga guru dapat mengembangkan dan menggunakan alat bantu belajar yang
digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga dapat membantu siswa
dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.
c. Ketrampilan Mengelola Kelas
Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung
dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai
materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang
10
Moh. Uzer Usman, Op.Cit, h. 10. 11
tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam
mencegah timbulnya perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses
belajar mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya.
Oleh sebab itu kegiatan guru dapat dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan
pengelolaan pengajaran dan kegiatan pengelolaan kelas
12. Tujuan pengajaran
yang tidak jelas, materi yang terlalu mudah atau terlalu sulit, urutan materi
tidak sistematis, alat pembelajaran tidak tersedia, merupakan contoh masalah
pembelajaran. Sedangkan subyek didik mengantuk, enggan mengerjakan
tugas, terlambat masuk kelas, mengganggu teman lain, mengajukan
pertanyaan aneh, tempat duduk banyak kutu busuk, ruang kelas kotor,
merupakan contoh masalah pengelolaan kelas. Dan untuk penanggulangannya
seorang guru harus dapat memberikan bimbingan sebab ini secara psikologis
akan menarik keterlibatan siswa. Guru bisa memulainya dengan apa yang
siswa sukai, bagaimana cara berpikir mereka dan bagaimana mereka
menyikapi hal–hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.
13Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang mengaktifkan siswa
perlu diperhatikan hal–hal sebagai berikut :
1. Aksesbilitas : siswa mudah menjangkau alat dan sumber belajar.
2. Mobilitas : siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian
yang lain.
3. Interaksi : memudahkan terjadi interaksi antara diri siswa maupun antar
siswa
12Ibid, h. 200.
13
4. Variasi kerja siswa : memungkinkan siswa bekerja secara perorangan,
berpasangan atau berkelompok.
14Pada intinya, kemampuan guru memilih strategi pengelolaan kelas
yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah
kelas yang dihadapinya jika ia tepat meletakkan strategi tersebut maka proses
belajar mengajar akan efektif.
d. Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
Menurut James Cooper yang dikutip oleh Hendyat Soetopo
mengemukakan tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas, yaitu pendekatan
modifikasi perilaku, pendekatan sosio-emosional, dan pendekatan proses
kelompok.
15Berikut penjelasan ketiga pendekatan di atas adalah sebagai
berikut :
1. Pendekatan modifikasi perilaku (Behavior-Modification Approach)
Pendekatan ini didasari oleh psikologi behavioral yang menganggap
perilaku manusia yang baik maupun yang tidak baik merupakan hasil
belajar. Oleh sebab itu perlu membentuk, mempertahankan perilaku yang
dikehendaki dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak
dikehendaki.
Berdasarkan pendekatan ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa
dalam pendekatan modifikasi perilaku aktivitas di utamakan pada
14
Boediono, Kegiatan Belajar Mengajar Makalah Kurikulum Berbasis Kompetensi http : // www. Puskur. Or. Id / Data / Buku KBM. Pdf, (Jakarta : Puskur, Balitbang Depdiknas, 2002), h. 8.
15
penguatan tingkah laku siswa yang baik maupun tingkah laku siswa yang
kurang baik, dengan pendekatan ini diharapkan guru dapat merubah
tingkah laku siswa sesuai dengan yang diharapkan oleh guru.
Teknik-teknik yang dapat diterapkan adalah
16:
a). Penguatan negatif
Penguatan negatif adalah pengurangan hingga penghilangan stimulus
yang tidak menyenangkan untuk mendorong terulangnya perilaku
yang diharapkan.
b). Penghapusan
Penghapusan adalah usaha mengubah tingkah laku subyek didik
dengan cara menghentikan respon terhadap tingkah laku mereka yang
semula dikuatkan oleh respon itu.
c). Hukuman
Yaitu penghentian secara langsung perilaku anak yang menyimpang.
Sebenarnya penguatan negatif dan penghapusan merupakan hukuman
yang tidak langsung. Dengan kata lain hukuman adalah pengajuan
stimulus tidak menyenangkan untuk menghilangkan dengan segera
tingkah laku subyek didik yang tidak diharapkan.
2. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional (Socio-Emotional Climate Approach)
Pendekatan sosio-emosional bertolak dari psikologi klinis dan konseling.
Pandangannya adalah bahwa proses belajar-mengajar yang berhasil
16
mempersyaratkan hubungan sosio-emosional yang baik antara
guru-subyek didik.
Dapat disimpulkan bahwa pendekatan ini mengutamakan pada hubungan
yang baik antar personal di dalam kelas, baik itu guru dengan siswa
maupun siswa dengan siswa, sehingga siswa merasa aman dan senang
berada dalam kelas serta berpartisipasi dalam proses belajar mengajar
dalam kelas. Dengan kata lain peran guru sangat penting dalam
menciptakan iklim belajar yang kondusif dan guru diharapkan dapat
merasakan apa yang dirasakan oleh siswa serta mampu menyikapinya
secara demokratis
3. Pendekatan Proses Kelompok (Group-Process Approach)
Pendekatan proses kelompok berangkat dari psikologi sosial dan dinamika
kelompok, dengan anggapan bahwa proses belajar-mengajar yang efektif
dan efisien berlangsung dalam konteks kelompok. Untuk itu guru harus
mengusahakan agar kelas menjadi suatu ikatan kelompok yang kuat.
Dapat penulis simpulkan pendekatan proses kelompok ini bahwa
pengalaman belajar siswa didapat dari kegiatan kelompok di mana dalam
kelompok terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh anggotanya,
terdapat tujuan yang ingin dicapai, adanya hubungan timbal balik antar
anggota kelompok untuk mencapai tujuan, serta memelihara kelompok
yang produktif.
Lain halnya dengan guru yang memperhatikan siswa, selalu
terbuka, terhadap keluhan siswa, mau mendengarkan kesulitan belajar siswa,
maupun selalu bersedia mendengarkan saran dan kritik dari siswa adalah guru
yang disenangi oleh siswa. Siswa akan rindu dengan kehadirannya, siswa
merasa nyaman disisinya, dan siswa merasa bahwa dirinya adalah keluarga
bagi guru tersebut. Figur yang demikian ini biasanya akan sedikit sekali
menemui kesulitan dalam mengelola kelas.
Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru seperti inilah yang
diyakini berkorelasi positif dengan perubahan tingkah laku dan prestasi hasil
belajar siswa. Dengan kata lain, menciptakan iklim kelas yang baik
merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas
pembelajaran di kelas.
Jadi pengelolaan kelas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
kemampuan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang
optimal.
Dari Sini
2. Hasil Belajar Biologi
a. Pengertian Belajar
Menurut Hilgard dan Bower, dalam bukunya Theories of Learning
yang dikutip oleh Purwanto mengemukakan:
"Belajar berhubungan dengan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu
situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang
berulang-ulang dalam situasi ini, dimana perubahan tingkah laku tidak dapat
dijelaskan atau dasar kecenderungan, respon pembawaan, kematangan
atau keadaan-keadaan sesaat seseorang."
17Hal lain dikemukakan oleh Ahmad Mudzakir dan Joko Sutrisno
bahwa: "belajar merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan
mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah
laku, sikap kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan lain
sebagainya."
18Definisi lain seperti yang dikutip oleh E.L. Torndike tentang
pengertian belajar, yaitu: "belajar merupakan suatu bentuk perubahan perilaku
yang dapat diamati yang terjadi melalui hubungan rangsangan, jawaban
menurut prinsip-prinsip yang mekanistik".
19Ditambah oleh Mulyono
Abdurrahman bahwa belajar dapat diartikan sebagai: "suatu proses dari
17
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2002), h. 82. 18
Ahmad Mudzakir, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT.Pustaka Setia, 2001), h. 34. 19
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2003), h. 28.
seorang individu yang berupaya mencapai tujuan belajar yaitu suatu bentuk
perubahan perilaku yang relatif menetap."
20Belajar juga merupakan proses pengumpulan atau penghafalan suatu
fakta dalam bentuk informasi atau materi pelajaran, demikianlah sebagian
orang menafsirkan arti belajar.
21Menurut Gagne yang dikutip Nurdin Ibrahim, memaparkan bahwa :
Belajar sebagai suatu perubahan dalam disposisi atau kapabilitas
manusia. Perubahan dalam menunjukkan kinerja (perilaku) berarti
belajar itu menentukan semua keterampilan, pengetahuan, sikap, dan
nilai yang diperoleh siswa. Dalam belajar dihasilkan berbagai macam
tingkah laku yang berlainan, seperti pengetahuan sikap, keterampilan,
kemampuan, informasi, dan nilai.
22Sementara Wittig seperti dikutip oleh Muhibin Syah mengemukakan
bahwa belajar : merupakan perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam
segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai
pengalaman.
23Perubahan yang menyangkut seluruh aspek psikofisik
organisme yang didasarkan pada kepercayaan bahwa tingkah laku lahiriyah
organisme itu sendiri bukan indikator adanya peristiwa belajar, karena proses
belajar itu tidak dapat diobservasi langsung”.
24Sedangkan menurut Witrock, belajar adalah : suatu terminologi yang
menggambarkan proses perubahan melalui pengalaman. Proses tersebut
20Ibid., h. 30. 21
Mulyadi Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004), h. 64. 22
Nurdin Ibrahim, Hasil Belajar Fisika SLTP Terbuka Tanjung Sari Sumedang Jawa Barat, (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 031, Tahun ke-7, September 2001), h. 487.
23
Muhibin Syah, M.Ed Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2006), h. 90.
24
mempersyaratkan perubahan yang relatif permanen berupa sikap,
pengetahuan, informasi, kemampuan, dan keterampilan melalui pengalaman.
25b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Menurut Kartini Kartono kegiatan proses belajar mengajar dipengaruhi
oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor ekternal yang dapat dijabarkan
lebih lanjut sebagai berikut :
261. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal), diantaranya meliputi:
a) Intelegensi
Intelegensi merupakan suatu kemampuan dasar yang bersifat umum
untuk memperoleh suatu kecakapan yang mengandung berbagai
komponen.
b) Bakat
Merupakan potensi atau kemampuan yang jika dikembangkan melalui
belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.
c) Minat dan perhatian
Minat dan perhatian dalam belajar sangat berhubungan erat. Seseorang
yang menaruh minat pada mata pelajaran tertentu, biasanya cenderung
untuk selalu memperhatikan mata pelajaran yang diminatinya. Begitu
juga jika seseorang menaruh perhatian secara kontinue baik secara
25
Nurdin Ibrahim, Pemanfaatan Tutorial Audio Interaktif untuk Perataan Kualitas Hasil Belajar,(Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.044, Tahun ke-9,Jakarta:September, 2003), h.734-735.
26
Kartini Kartono, Bimbingan Belajar di SMA dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: CV. Rajawali, 2000), h. 3.
sadar maupun secara tidak sadar pada objek tertentu biasanya akan
membangkitkan minat pada objek tersebut.
d) Kesehatan jasmani
Kondisi fisik yang baik akan sangat berpengaruh terhadap
berlangsungnya kegiatan belajar mengajar seseorang apabila memiliki
badan atau kondisi fisik yang sehat maka ia akan mempunyai
semangat dalam belajar. Namun sebaliknya seseorang yang sedang
dalam kondisi sakit maka akan sulit untuk bisa berkonsentrasi dalam
belajar.
e) Cara belajar
Cara belajar yang efektif dan efisien akan sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan dalam belajar. Ada beberapa cara belajar yang efisien.
Diantaranya yaitu: berkonsentrasi baik sebelum belajar ataupun pada
saat proses belajar mengajar berlangsung, mempelajari kembali materi
pelajaran yang telah diterima, membaca dengan teliti dan betul
materinya, mencoba menyelesaikan latihan-latihan soal dari materi
yang telah diajarkan.
272. Faktor (Eksternal) yang berasal dari luar diri siswa, yaitu lingkungan,
lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat.
Hal serupa juga dikemukakan oleh Abu Ahmadi yang menyatakan
bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi belajar siswa baik secara
27
langsung maupun tidak langsung. Faktor-faktor tersebut digolongkan menjadi
tiga macam yaitu:
281. Faktor-faktor stimulasi belajar, mencakup panjangnya bahan pelajaran
kesulitan bahan pelajaran, berartinya bahan pengajaran, berat ringannya
tugas, dan suasana lingkungan eksternal.
2. Faktor-faktor metode belajar, mencakup kegiatan berlatih, resistensi dalam
belajar, pengenalan tentang hasil-hasil belajar, bimbingan dalam belajar,
dan kondisi-kondisi intensif.
3. Faktor-faktor individual, mencakup usia kronologis, perbedaan jenis
kelamin, pengalamannya sebelumnya, kapasitas mental, kondisi kesehatan
jasmani, kondisi kesehatan rohani, dan motivasi.
Sedangkan menurut Jhon M. Keller sebagaimana yang dikutip oleh
Mulyono Abdurrahman berpandangan bahwa : "belajar sangat dipengaruhi
oleh dua macam masukan, yaitu kelompok masukan pribadi (personal inputs)
dan kelompok masukan yang berasal dari lingkungan (environmental
inputs)."
29Pendapat lain yang diungkapkan Muslim dalam Jurnal Penelitian
bidang pendidikan menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar,
yaitu:
301. Strategi pembelajaran, salah satu strategi yang dapat meningkatkan
keterlibatan siswa dalam proses belajar adalah: pra pembelajaran,
penyajian informasi, peran serta siswa, evaluasi, dan tindak lanjut.
2. Gaya kognitif siswa, yaitu kebiasaan bertindak yang relatif tetap dalam
menerima, memikirkan, memecahkan masalah, ataupun dalam informasi.
Dari berbagai penjabaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar dapat dikelompokan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor
28
Abu Ahmadi, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001), h. 130 – 138. 29
Mulyono Abdurrahman, Op.Cit, h. 106. 30
eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam diri anak
didik tersebut sedangkan faktor eksternal faktor yang disebabkan oleh stimuli
eksternal terhadap anak didik sehingga anak didik tersebut terpengaruh atau
terkondisikan oleh faktor eksternal tersebut.
c. Pengertian Biologi
Ditinjau dari segi etimologi biologi berasal dari kata bios dan logos.
Bios berarti hidup, sedangkan logos berarti pembicaraan atau ilmu. Jadi
biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang keadaan dan sifat makhluk
hidup.
31Biologi merupakan wahana untuk menyadari keteraturan alam untuk
mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
32Selain itu,
untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai serta
tanggung jawab kepada lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara.
33Konsep dasar biologi merupakan abstrak dari fenomena visual,
sehingga biologi sebagai ilmu dapat dilihat sebagai gambar yang merupakan
hakikat utama.
34Pembelajaran biologi akan menyusun rangkaian gambar dan
31
Tim Kashiko, Kamus Lengkap Biologi, (Surabaya: Kashiko, 2002), cet.ke-1, h. 50. 32
Dr. E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, implementasi, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2003), h. 213.
33
Ahmad Ridwan, dkk, KBK Mata Pelajaran Biologi untuk SMU, (Jakarta: Depdiknas, 2001), h. 3.
34
Tim Penulis PEKERTI Bidang MIPA, Hakikat Pembelajaran MIPA dan Kiat Pembelajaran Biologi di Perguruan Tinggi, (Jakarta: PAU – PPAI, Universitas Terbuka, 2001), h. 11.
membuat interkoneksi, kemudian menyusun abstraksi sehingga lahirlah
konsep.
35Dalam proses pembelajaran, khususnya biologi, seorang siswa dituntut
untuk menguasai tiga dominan atau ranah yang meliputi:
361. Kognitif, memiliki enam taraf, yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi,
analisis, sintesis, dan evaluasi.
2. Afektif, meliputi: memperhatikan, merespon, menghayati nilai,
mengorganisasikan, dan memperhatikan nilai atau seperangkat nilai.
3. Psikomotor, meliputi: persepsi, respon terbimbing, respon mekanisis, dan
respon kompleks.
Mengingat akan hal tersebut, maka biologi bukanlah ilmu pengetahuan
yang statis, tetapi sebagai ilmu pengetahuan yang dinamis. Biologi merupakan
pengetahuan fisik yang tidak dapat secara utuh dipindahkan dari pikiran guru
ke pikiran siswa dengan kata lain tidak dapat diteruskan dalam bentuk jadi.
Setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan-pengetahuan itu dan
mengalaminya secara langsung.
Pada proses belajar biologi harus dikembangkan keterampilan proses
IPA, hal ini dikarenakan biologi merupakan bagian dari IPA. Sehingga proses
belajar lebih berfokus pada keterampilan intelektual, keterampilan proses
merupakan sejumlah keterampilan yang memungkinkan siswa memproses
lebih lanjut dalam mempelajari biologi, seperti observasi, klasifikasi,
interpretasi, merancang percobaan dan aplikasi.
35Ibid, h. 9.
36
James W. Popham dan Eval L. Baker, Teknik Mengajar Secara Sistematis, Penterjemah T. Amirul Hadi, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2001), h. 29-33.