HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Hasil Belajar
Pada awal kegiatan penelitian, sebelum pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama siklus I, tepatnya hari Senin, 29 September 2009 , siswa diberikan tes awal berupa pretes I yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal sebelum diadakan proses pembelajaran tentang Ikatan ion
dan Kovalen. Hasil pretes I ternyata diperoleh skor nilai rata-rata 44,20 dan prosentase ketuntasan belajar sebesar 28 % yaitu hanya 7 orang siswa yang sudah tuntas dari 25 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman konsep ikatan ion dan kovalen secara umum masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah ditetapkan yaitu 62. Walaupun demikian skor nilai ini masih dianggap wajar, karena memang belum diajarkan (belum dilakukan proses pembelajaran di kelas). Waktu yang digunakan untuk pretes I adalah 30 menit.
Berdasarkan hasil pretes I yang diperoleh, yaitu ketuntasan belajar hanya 28 %, maka dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam melakukan suatu upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep ikatan ion dan kovalen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI.
Setelah proses pembelajaran yang berlangsung di siklus I, sebanyak 2 kali pertemuan maka untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar setelah diberi tindakan, siswa diberikan postes I yang dilaksanakan hari Selasa tanggal 6 Oktober 2009. Berdasarkan hasil dari postes I diperoleh skor nilai rata-rata 64,60 dan prosentase ketuntasan belajar mencapai 76 %, yaitu sebanyak 19 siswa yang sudah tuntas, dan hanya 6 orang siswa yang belum tuntas.
3. Refleksi
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari lembar observasi di siklus I, bahwa setelah proses pembelajaran yang dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan ( setelah diberi tindakan ), ternyata penerapan pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI konsep ikatan ion dan kovalen memberikan hasil yang cukup memuaskan sesuai dengan target yang diharapkan. Hal ini dapat dikatakan adanya peningkatan prosentase aktivitas kelas. Secara keseluruhan aktivitas belajar di siklus I meningkat dari 36 % menjadi 68 %. Dalam hal ini aktivitas kelas sudah termasuk kategori aktif, karena kriteria keaktifan kelas dikatakan cukup apabila proses aktivitas kelas berkisar antara 50 – 75%. Namun ada beberapa jenis aktivitas siswa yang masih dianggap rendah, yaitu aktivitas dalam hal penguasaan software. Diperkirakan bahwa siswa masih belum menguasai betul materi pelajaran yang sedang dibahas, sehingga berpengaruh terhadap hasil postes yang dilakukan pada akhir pelajaran. Rendahnya penguasaan software aplikasi kimia tersebut membuat peneliti harus bekerja keras kembali menjelaskan langkah-langkah pengoperasian aplikasi tersebut.Oleh karena itu nampaknya perlu ada pendekatan guru terhadap siswa untuk bisa merangsang atau menumbuhkan rasa percaya diri bagi siswa dengan cara belajar yang maksimal dan menjelaskan bahwa hal ini masih sedang taraf belajar. Siswa juga perlu dilatih keberanian mentalnya untuk mau mencoba aktif dalam hal mengemukakan pendapat, ataupun ada keberanian menyanggah, apabila hal itu tidak sesuai dengan konsep yang dia yakini (misalkan dari buku sumber).
Adapun hasil belajar yang diperoleh melalui postes I, setelah berakhirnya pembelajaran pada pertemuan di siklus I, diperoleh skor nilai rata-rata kelas sebesar 64,60 dengan prosentase ketuntasan belajar sebesar 76 %. Apabila dibandingkan dengan hasil pretes I, terdapat peningkatan nilai rata-rata kelas
sebesar 20,40 dan peningkatan prosestase ketuntasan belajar sebesar 48 %. Peningkatan ini cukup besar dan bisa dikatakan memenuhi kategori berhasil, karena siswa yang mencapai nilai diatas 62 (diatas KKM yang telah ditetapkan) sudah lebih dari 75%. Dengan demikian bahwa pengaruh proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI cukup besar sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan pada akhirnya hasil belajarnyapun meningkat. Berbeda dengan hasil belajar yang diperoleh sebelumnya selalu dibawah target (dibawah KKM) dimana proses pembelajarannya hanya penjelasan langsung dari guru melalui papan tulis. Dengan demikian hal ini perlu dipertahankan untuk proses pembelajaran pada pertemuan selanjutnya di siklus II.
B. Siklus II
1. Aktivitas Belajar
Pada pertemuan pertama di siklus II, yaitu hari Senin tanggal 13 Oktober 2009 dilanjutkan kembali proses pembelajaran mengenai konsep ikatan kovalen. Prosentase aktivitas siswa secara keseluruhan meningkat dari pertemuan sebelumnya yaitu 68 % menjadi 72 %. Peningkatannya sebesar 4 %. Pada pertemuan ini, yang bekerjasama sebanyak 10 kelompok siswa (62,5 %), bertanya 6 kelompoksiswa (37,5 %), yang menguasai software sebanyak 12 kelompok siswa (75 %). dan yang menjawab soal uji kompetensi diatas KKM sebanyak 9 kelompok siswa (56 %).
Kemudian dilanjutkan dengan petemuan kedua di siklus II, sekaligus sebagai pertemuan terakhir dari seluruh aktivitas penelitian ini, yang
dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 20 Oktober 2009. Ternyata suasana belajar semakin terlihat kondusif, karena hampir seluruhnya siswa terlibat dalam aktivitas pembelajaran baik yang bekerjasama, yang menjawab, yang menyanggah ataupun yang mengemukakan pendapat. Hasil yang diperoleh dari lembar observasi bahwa yang bekerjasama yaitu sebanyak 16 kelompok siswa (100 %), yang bertanya dan 3 kelompok siswa (18 %), yang menguasai software sebanyak 15 kelompok siswa (93%) dan yang menjawab soal uji kompetensi diatas KKM sebanyak14 kelompok siswa (87 %). Prosentase aktivitas kelas keseluruhannya mencapai 88 %.
2. Hasil Belajar
Pretes II dilakukan sebelum pelaksanaan pembelajaran di siklus II. Konsep yang dipelajari di siklus II ini adalah ikatan kovalen. Hasil yang diperoleh dari pretes II memberikan skor nilai rata-rata kelas sebesar 50,60 dan ketuntasan belajar siswa mencapai 48 %, yaitu 12 orang siswa yang sudah tuntas dari 25 orang siswa. Setelah pembelajaran dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan, diperoleh hasil dari postes II dengan ketuntasan belajar sebesar 84 % dan nilai rata – rata sebesar 72,00. Kenaikan dari pretes ke postes sebesar 36 % dan kenaikan nilai rata – ratanya sebesar 21,40.
3. Motivasi
Setelah proses pembelajaran ditempuh sebanyak 4 kali pertemuan mulai dari siklus I sampai siklus II, siswa diberikan angket isian untuk mengetahui motivasi siswa dalam model pembelajaran tipe SAVI, karena dengan adanya
motivasi belajar tersebut akan ada dorongan belajar dalam diri siswa. Dari angket yang diberikan pada siswa diantaranya ditanyakan merasa senang kegiatan belajar Kimia, belajar Kimia dengan menggunakan animasi sederhana terasa lebih mudah untuk memahami konsep ikatan ion dan kovalen
Berdasar hasil angket yang diberikan kepada siswa diperoleh hasil siswa yang senang dengan kegiatan belajar Kimia 19 orang siswa setuju (76 %), 5 orang siswa ragu-ragu (20 %) dan 1 orang siswa tidak setuju (4 %), sedangkan belajar dengan diskusi kelompok 23 orang siswa setuju (92 %), 2 orang siswa ragu-ragu (8 %), yang merasa senang belajar dari penjelasan teman 23 orang siswa setuju (92 %), 2 orang siswa ragu-ragu (8 %), yang merasa mudah memahami penjelasan teman 20 orang siswa setuju (80 %), 3 orang siswa ragu-ragu (12 %), dan 2 orang siswa tidak setuju (8 %), dan yang berpendapat perlu dikembangkan sebanyak 21 orang siswa setuju (84 %), sedangkan 4 orang siswa ragu-ragu (16 %).
4. Refleksi
Setelah proses pembelajaran ditempuh sebanyak 4 kali pertemuan mulai dari siklus I sampai siklus II maka berdasarkan analisis data kegiatan siswa diperoleh peningkatan aktivitas siswa yang cukup berarti. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2 : Prosentase Aktivitas Kelas
Pertemuan 1 2 1 2 Prosen Aktivitas Kelas (%) 36 68 72 88
Peningkatan prosentase aktivitas kelas ini, ternyata bisa terwujud apabila proses pembelajarannya diperbaiki dan disempurnakan.
Adapun hasil belajar (ketuntasan belajar dan skor nilai rata-rata) yang diperoleh setelah proses pembelajaran di siklus I dan siklus II melalui postes I dan postes II dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3 : Prosentase Ketuntasan Belajar
Siklus Pretes Postes Perbedaan
I 28 % 76 % 48 %
II 48 % 84 % 36 %
Tabel 4 : Skor Nilai Rata-rata Kelas
Siklus Skor Nilai Rata-rata Pretes
Skor Nilai Rata-rata Postes
Perbedaan
I 44,20 64,60 20,40
II 50,60 72,00 21,40
Berdasarkan data tabel tersebut di atas, secara umum dikatakan bahwa hasil belajar meningkat. Kenyataan ini bisa dijelaskan bahwa proses
pembelajaran pada konsep ikatan ion dan kovalen dengan menggunakan model pembelajaran tipe SAVI menarik bagi siswa, sehingga siswa termotivasi untuk mempelajari materi pembelajaran secara sungguh-sungguh dengan belajar sendiri yang menggunakan animasi multimedia sederhana.
Hal ini juga terlihat dari hasil angket siswa yang dapat dilihat pada tabel angket siswa berikut ini :
Tabel 5 : Motivasi Siswa
No Pernyataan Jumlah Responden Prosentase Pernyataan Responden S RR TS % % %
1 Saya senang dengan kegiatan belajar Kimia
19 5 1 76 20 4
2
Belajar Kimia dengan menggunakan animasi multimedia sederhana menyenangkan
23 2 - 92 8
-3 Saya merasa senang belajar menggunakan komputer
23 2 - 92 8
-4
Saya merasa mudah memahami penjelasan dengan animasi multimedia
20 3 2 80 12 8
5
Menurut saya kegiatan belajar ini
perlu dikembangkan 21 4 - 84 16
-Jumlah 424 64 12
Rata-rata Prosentase (%) 85 13 2
Dari tabel diatas terlihat motivasi yang dimiliki siswa dengan belajar tipe SAVI sangat menyenangkan, maka pembelajaran akan dirasakan lebih efektif
dan efisien dalam menyampaikan materi pelajaran atau mengajarkannya, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif.
Berdasarkan uraian, bahwa proses pembelajaran konsep ikatan ion dan kovalen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI terdapat hubungan antara motivasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan hasil belajar setelah proses pembelajaran dilaksanakan. Jadi bisa dikatakan apabila siswa aktif pada saat diskusi membahas materi pembelajaran, baik dalam hal bertanya ataupun mengemukakan pendapat, maka berarti siswa sudah mengerti dan paham apa yang sedang dipelajarinya, sehingga hasil belajarnya pun cukup memuaskan. Dengan demikian apabila pemahaman konsep sudah baik/meningkat, maka bisa dipastikan hasil belajarnya pun baik pula / meningkat.
BAB V