LAPORAN AKHIR
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN KIMIA KHUSUSNYA PADA IKATAN ION DAN IKATAN KOVALEN MELALUI PENGGUNAAN ANIMASI MULTIMEDIA SEDERHANA PADA SISWA KELAS
X.1 MAN LAHAT KABUPATEN LAHAT SUMATERA SELATAN Oleh AGUS SUTIONO, S,Pd NIP. 196806242005011005
Dibiayai oleh : DIPA MAN LAHAT 2009
DEPARTEMEN AGAMA MAN LAHAT
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
1. Judul Penelitian
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN KIMIA KHUSUSNYA PADA IKATAN ION DAN IKATAN KOVALEN MELALUI PENGGUNAAN ANIMASI
MULTIMEDIA SEDERHANA PADA SISWA KELAS X.1 MAN LAHAT
2. Peneliti
a. Nama Lenngkap b. Jenis Kelamin
c. Pangkat / Golongan /NIP d. Asal Sekolah
e. Alamat Rumah
Agus Sutiono, S.Pd Laki-laki
Penata Tingkat I / III.b MAN Lahat
Jl. Kapten Saibuna Talang Jawa Utara Lahat Kec. Lahat Kab. Lahat No. Telp / HP.
3. Lama Penelitian 3 Bulan
September - November 2009 4. Biaya yang diperlukan
Mengetahui,
Kepala MAN Lahat
Yan Hery Darmansyah,S.Pd. MM NIP. 19710127 199703 1 00 Lahat, November 2009 Peneliti Agus Sutiono,S.Pd NIP. 196806242005011005 Pembimbing, Drs. Ramlan Fauzi,MpdI NIP. 196202171993011001
ABSTRAK
Sejauh ini mata pelajaran Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa, termasuk siswa kelas X.1 MAN Lahat . Hasil belajar yang dicapai siswa pada tahun-tahun sebelumnya selalu dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Rendahnya hasil belajar siswa yang dicapai dapat disebabkan oleh motivasi siswa untuk belajar Kimia masih rendah dan proses pembelajaran atau sarana belajar yang kurang memadai. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar yaitu dengan menggunakan Animasi Multimedia Sederhana yang merupakan hasil rekayasa software Komputer dari peneliti sendiri. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI (adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, dan memecahkanmasalah.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa sehingga memudahkan siswa memahami konsep-konsep Kimia. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus dilakukan 2 (dua) kali pertemuan. Pada siklus I menunjukan peningkatan prosentase aktivitas siswa, pada pertemuan pertama 30 % dan pertemuan kedua 65 %. Sedangkan di siklus II pertemuan pertama 70 % dan pertemua kedua 85 %. Hasil belajarpun mengalami peningkatan di siklus I ketuntasan belajar 70 %, sedangkan disiklus II ketuntasan belajar 83 %, disamping itu tanggapan siswa juga positif terhadap model pembelajaran kooperatif tipe SAVI ini terlihat dari angket yang dijawab siswa yang merasa senang dengan model pembelajaran ini.
Kata kunci : Animasi; Motivasi ; Hasil Belajar ; Abstrak ; Pembelajaran Kooperatif SAVI (Somatic,Auditory, Visualization and Intellectualy )
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik, dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan laporan penelitian ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.
Penelitian ini berjudul “MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN KIMIA MELALUI PENGGUNAAN ANIMASI MULTIMEDIA SEDERHANA PADA SISWA KELAS X.1 MAN LAHAT”.
Permasalahan yang menjadi latar belakang penelitian ini dilandasi oleh pengalaman peneliti mengajar selama lebih kurang 15 tahun, ternyata diperoleh temuan masih rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kimia, terutama pada pokok bahasan ikatan ion dan ikatan kovalen. Sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, melalui pembelajaran dengan menggunakan Animasi Multimedia sederhana .
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X.1 MAN Lahat tahun pelajaran 2009-2010. Dari hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran Kimia khususnya pada pokok bahasan ikatan ion dan kovalen
Selanjutnya, peneliti menyampaikan ucapan terimakasih atas segala bantuan dan dukungan baik moril maupun spiritual kepada semua pihak sehingga laporan penelitian ini dapat terselesaikan.
Ucapan terimakasih dan penghargaan peneliti sampaikan terutama kepada :
1. Bapak Drs. H. Ramlan Fauzi, M.Pd. Selaku KakanDepag Kabupaten Lahat selaku pembimbing (konsultan ).
2. Bapak Yan Hery Darmansyah,S.Pd. MM, selaku kepala MAN Lahat yang telah memberikan bantuan dan dorongannya selama penelitian ini berlangsung.
3. Para siswa kelas X.1 MAN Lahat tahun pelajaran 2009 – 2010 yang penuh kesabaran dan semangat dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Kemudian, peneliti menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan penelitian ini masih jauh dari sempurna, masih terdapat kekeliruan dan kekhilafan dalam menuangkan gagasannya. Segala saran dan kritik konstruktif sangat diharapkan untuk perbaikan pada penelitian di masa mendatang.
Akhirnya, semoga laporan penelitian ini bisa bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di masa yang akan datang. Amiiin Ya Robbal ‘Alamiin.
Lahat, November 2009 Peneliti
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan
Abstrak
Kata Pengantar i
Daftar Isi iii
Daftar Tabel v
Daftar Lampiran vi
BAB I. PENDAHULUAN.
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 3
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah 3
D. Tujuan Penelitian 4
E. Manfaat Hasil Penelitian 4
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar 6
B. Motivasi Belajar 10
C. Pembelajaran Kooperatif 12
D. Pembelajaran Kooperatif Tipe SAVI 13 E. Gambaran Umum Konsep Ikatan Ion dan Ikatan Kovalen 15 BAB III. METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian 17
B. Prosedur Pelaksanaan Tindakan Kelas 18 C. Data dan Teknik Pengumpulan Data 19 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Siklus I
1. Aktivitas Belajar 23
2. Hasil Belajar 24
B. Siklus II
1. Aktivitas Belajar 27
2. Hasil Belajar 28
3. Motivasi 28
4. Refleksi 29
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan 33
B. Saran 33
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Siklus kegiatan penelitian . 18 Tabel 2. Prosentase Aktivitas Kelas. 29 Tabel 3. Prosentase Ketuntasan Belajar. 30 Tabel 4. Skor Nilai Rata-rata Kelas. 30
Tabel 5. Motivasi Siswa. 31
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran-lampiran 1. Daftar hadir siswa 2. Jadwal penelitian 3. Silabus
4. RPP
5. Lembar observasi kegiatan 6. Lembar pengamatan
7. Lembar jurnal harian
8. Data hasil pretest dan postest 9. Lembar angket siswa
10. Soal test siklus I dan siklus II 11. Foto KBM
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan,berbagai inovasi dan program pendidikan telah dilaksanakan.Antara lain penyempurnaan kurikulum,pengadaan buku ajar,buku referensi bahkan pengadaan multimedia disekolah. Peningkatan mutu Pendidik dan tenaga kependidikan melalui berbagai pelatihan, penataran dan peningkatan kualifikasi pendidikan juga telah dilaksanakan. Dari berbagai indikator menunjukkan bahwa upaya tersebut belum menunjukan bahwa mutu pendidikan meningkat secara signifikan.
Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa,mengapa dan bagaimana gejala alam; khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, transformasi dinamika dan energenetika zat yang melibatkan keterampilan dan penalaran. Ilmu kimia merupakan produk temuan sains dan proses.Oleh sebab itulah dalam penilaian dan pembelajaran kimia harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia sebagai produk dan proses.
Dirasakan oleh para pendidik, banyak siswa yang kurang berminat pada pelajaran kimia. Ilmu kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang sering dianggap sebagai pelajaran yang “ sulit “.Apabila anggapan tersebut terus melekat,maka akan berakibat pada penurunan hasil belajar.Padahal pada
tahun ajaran 2009 / 2010 ini mata pelajaran kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional.Oleh karena itulah perlu adanya inovasi pembelajaran menggunakan metode dan pendekatan yang bervariasi agar lebih menarik dan mudah dimengerti.
Selama ini para siswa umumnya menerima pelajaran kimia dengan metode ceramah dan diskusi tanpa dikenalkan dengan model pembelajaran yang menggambarkan proses yang mendekati kenyataan yang sebenarnya. Bertolak dari sulitnya mengajarkan kimia khususnya pada topik-topik yang abstrak mendorong penulis untuk mencari alternatif cara mengajar kimia sehingga mampu menumbuhkan minat siswa untuk belajar kimia. Dengan timbulnya rasa senang belajar,diharapkan penguasaan siswa terhadap mata pelajaran kimia menjadi lebih baik.Pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kimia.
Pada topik-topik abstrak yang sulit dijelaskan dengan cara diskusi informasi dikelas dapat dijelaskan secara visualisasi melalui komputer. Misalnya pada topik ikatan kimia. Pada topik ini akan digambarkan bagaimana terjadinya ikatan ion dan kovalen khususnya pada proses pelepasan dan penangkapan electron valensi.
Dalam Penelitian ini saya menggunakan program animasi komputer sederhana hasil rekayasa software dari beberapa program komputer antara lain; Bahasa pemrograman Visual Basic Aplication pada Excel ,PowerPoint,Word dan untuk perhitungan menggunakan program Excel.
Program ini telah peneliti gunakan disekolah tempat peneliti bertugas. Hasil belajar menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian di atas, peneliti dapat mengidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut :
1. Untuk pokok bahasan ikatan ion dan ikatan kovalen Situasi belajar siswa akan lebih kondusif dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI, dengan dukungan software animasi komputer. 2. Model pembelajaran kooperatif tipe SAVI membangkitkan motivasi
belajar siswa dalam mata pelajaran Kimia,terutama pada pokok bahasan yang abstrak seperti pada ikatan ion dan ikatan kovalen.
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah. a. Masalah dalam penelitian ini batasi pada :
1. Proses pembelajaran Kooperatif tipe SAVI dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Kimia khususnya pada konsep Ikatan Kimia ( ikatan ion dan ikatan kovalen)
2. Proses pembelajaran kooperatif tipe SAVI dapat meningkatkan hasil belajar Kimia konsep Ikatan Kimia ( ikatan ion dan ikatan kovalen).
b. Dalam penelitian ini peneliti memberikan perumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah proses pembelajaran kooperatif tipe SAVI dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Kimia konsep Ikatan Kimia ( ikatan ion dan ikatan kovalen).
2. Apakah proses kooperatif tipe SAVI dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kimia konsep Ikatan Kimia ( ikatan ion dan ikatan kovalen).
D. Tujuan Penelitian
Dari permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Meningkatkan motivasi belajar Kimia pada konsep Ikatan Kimia ( ikatan ion dan ikatan kovalen) melalui proses pembelajaran kooperatif tipe SAVI pada siswa kelas X.1 MAN Lahat.
2. Meningkatkan hasil belajar Kimia pada konsep Ikatan Kimia ( ikatan ion dan ikatan kovalen) melalui proses pembelajaran kooperatif tipe SAVI pada siswa kelas X.1 MAN Lahat.
E. Manfaat Hasil Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian tindakan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi guru, kegiatan pembelajaran kooperatif tipe SAVI dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif dan efisien (suasana belajar yang kondusif), mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi dan inovatif serta meningkatkan pemahaman guru dalam melakukan tindakan kelas. Sebagai upaya untuk mengatasi pembelajaran yang
konvensional, dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu proses belajar mengajar di kelas.
2. Bagi siswa, kegiatan pembelajaran dengan tipe SAVI dapat meningkatkan motivasi belajar, dan meningkatkan kegairahan belajar, karena bisa menarik perhatian siswa dengan anggota kelompoknya yang akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup, maka hasil belajarnya pun meningkat.
3. Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu memperbaiki proses pembelajaran, khususnya mata pelajaran Kimia, sehingga sekolah bisa memfasilitasi segala keperluan untuk kelancaran proses pembelajaran tersebut.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar
Belajar pada dasarnya merupakan peristiwa yang bersifat individual yakni terjadinya perubahan tingkah laku sebagai dampak dari pengalaman individu. Pengalaman dapat berupa situasi belajar yang sengaja diciptakan oleh orang lain atau situasi yang tercipta begitu adanya. Peristiwa belajar yang terjadi karena dirancang oleh orang lain di luar diri individu sebagai pebelajar biasa disebut proses pembelajaran. Proses ini biasa dirancang oleh guru.
Istilah belajar berarti suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku pada diri individu yang biasanya terjadi setelah adanya interaksi dengan sumber belajar, sumber belajar ini dapat berupa buku, lingkungan, guru atau sesama teman. Dalam Sardiman ( 1986 : 23) mengemukakan bahwa : “Belajar adalah berubah.” perubahan tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan,ketrampilan sikap,pengertian minat watak dan penyesuaian diri.
Adapun istilah mengajar adalah menciptakan situasi yang mampu merangsang siswa untuk belajar. Dari berbagai peran guru,dalam hal ini peran sebagai fasilitator lebih dominan dari peran-peran yang lain.Guru memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar sehingga tercipta suasana belajar mengajar yang kondusif.
Kegiatan belajar mengajar sebagai salah satu bentuk pendidikan yang multi variable sudah tentu dalam proses penyelenggaraannya akan turut dipengaruhi serta melibatkan faktor-faktor lain.
Faktor tersebut menurut Muhibbin Syah (2003 : 144) secara umum terbagi atas tiga macam berupa :
(1) Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa seperti halnya minat, bakat dan kemampuan.
(2) Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari lingkungan disekitar siswa seperti keadaan keluarga, latar belakang ekonomi dan kemampuan guru dalam mengajar.
(3) Faktor pendekatan mengajar, berupa upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Dengan demikian, untuk menciptakan proses pembelajaran yang tepat dibutuhkan suatu formula bentuk pembelajaran yang utuh dan tentu saja menyeluruh, dalam arti proses pembelajaran melibatkan aktivitas siswa. Jadi pada hakekatnya, belajar adalah wujud keaktifan siswa walaupun derajatnya tidak sama antara siswa satu dengan yang lainnya dalam suatu proses belajar mengajar di kelas. Tetapi terdapat banyak keaktifan yang tak dapat dilihat dengan mata atau tak dapat diamati, misalnya menggunakan hasanah ilmu pengetahuannya untuk memecahkan masalah, memilih teorama-teorama untuk membuktikan proposisi, melakukan asimilasi dan atau akomodasi untuk
memperoleh ilmu pengetahuan baru. Jadi yang dimaksud siswa belajar secara aktif adalah belajar dengan melibatkan keaktifan mental walaupun dalam banyak hal diperlukan keaktifan fisik.
Setelah berakhirnya proses pembelajaran biasanya diperoleh hasil belajar yang merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan puncak proses belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2002 : 3).
B. Motivasi Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002 : 90) Motivasi dapat bersumber ari dalam diri sendiri, yang dikenal sebagai motivasi internal dan dari luar yang dikenal sebagai motivasi eksternal. Motivasi internal adalah dorongan yang disebabkan karena siswa tersebut senang melakukannya.Sementara itu motivasi eksternal adalah dorongan terhadap perilaku seorang siswa yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya.Misalnya ia melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan hadiah atau untuk menghindari hukuman.
Agar pembelajaran menjadi lebih berkualitas maka guru harus dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar, sebab jika tidak ada dorongan dalam diri siswa untuk belajar, maka proses pembelajaran tidak akan efektif. Siswa yang termotivasi belajar akan berpartisipasi secara aktif dalam pelajaran yang berlangsung tanpa rasa terpaksa, tetapi secara sukarela atas inisiatif sendiri. Sebagai akibat dari hal ini maka hasil belajar yang dicapai akan lebih
lama diserap, karena dengan adanya motivasi belajar tersebut maka dorongan dalam diri siswa akan terpenuhi; dan siswa akan merasa puas dengan hasil belajar yang dirasakan sebagai pemenuhan kebutuhan.
Dalam kegiatan belajar di kelas ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan yaitu: 1) kemana siswa menuju pada akhir kegiatan, 2) bagaimana caranya agar siswa tiba pada sasaran yang dituju, 3) bagaimana agar dapat diketahui apakah sasaran yang dituju itu sudah tercapai atau belum. Agar melalui ketiga hal tersebut guru harus menciptakan kondisi yang dapat merangsang timbulnya motivasi belajar siswa. Hal tersebut senada dengan pendapat Sardiman (1986 : 76 ) yang menyatakan bahwa yang penting bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002 : 94) “Penguatan motivasi –motivasi belajar berada ditangan para pendidik dan anggota masyarakat yang lain. Guru adalah pendidik yang berperan dalam rekayasa pedagogis. Ia menyusun desain pembelajaran, dan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Orang tua dan Ulama bertugas memperkuat motivasi belajar sepanjang hayat.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002 : 97) Motivasi yang terkuat adalah motivasi belajar yang ada didalam diri siswa. Siswa benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau hadiah, motivasi ini muncul dari kesadaran siswa itu sendiri.
Kemungkinan penyebab rendahnya motivasi belajar siswa diantaranya, siswa beranggapan bahwa mata pelajaran KIMIA itu sulit. kemungkinan lainnya
adalah model pembelajaran yang digunakan masih berorientasi pada guru sehingga siswa belum terlibat aktif secara maksimal dalam proses pembelajaran, oleh karena itu maka perlu upaya untuk membangkitkan motivasi belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran KIMIA agar hasil pembelajaran menjadi bermakna perlu menggunakan pendekatan yang sesuai, antara lain dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Tipe SAVI
C. Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif tipe SAVI merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kooperatif tipe SAVI adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif tipe SAVI merupakan strategi belajar mengajar dengan mengutamakan gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi,
Siswa sebagai anggota kelompok yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Menurut W.Gulo (2004 : 144), Pada kegiatan belajar mengajar alat indera siswa dilibatkan sebanyak mungkin. Untuk maksud tersebut media pengajaran divariasikan, sehingga fungsi melihat (visual),fungsi mendengar (audio),dan fungsi meraba dan mencium diaktifkan pada hal-hal tertentu. Alternatif variasi media dapat disusun sebagai berikut :
a. Media audio – media visual – media audio b. Media audio – psikomotor
c. Media visual – media audio – media visual d. Media visual – perabaan – penciuman
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe SAVI akan memberikan hasil yang efektif kalau animasi multimedia yang digunakan memadai untuk kegiatan siswa belajar.
Langkah-langkah Model pembelajaran tipe SAVI adalah sebagai berikut :
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai 2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
3. Siswa menggunakan perangkat multimedia ( Animasi multimedia komputer ) secara berpasangan
4. Untuk mengetahui daya serap siswa, dilakukan uji kompetensi pada akhir pelajarn.
5. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum pahami siswa
6. Kesimpulan/penutup
F. Gambaran Umum Konsep Ikatan Kimia ( Ikatan ion dan ikatan kovalen )
Pada pokok bahasan ini, guru sering kali mengalami kesulitan untuk menjelaskan / menyampaikan konsep pada siswa dikelas,Oleh karena itu penulis mencoba membuat alat Bantu pembelajarn pada topik tersebut dengan menggunakan komputer.
Pada pokok bahasan ikatan Kimia dijelaskan bagaimana terjadinya ikatan ion dan ikatan kovalen. Pada Ikatan Ion, program komputer memvisualisasikan bagaimana proses terjadinya ikatan ion , contoh :
NaCl Cl
Na+17 →
11 pada reaksi tersebut terjadi transfer electron valensi dari unsure Na ke unsure Cl, komputer menggambarkan bagaimana electron valensi yang abstrak dapat divisualisasikan dengan animasi yang mendekatkan siswa kepada kenyataan,electron-elektron digambarkan dengan bentuk bola-bola yang atraktif sehingga akan membuat siswa tertarik untuk
mengetahui nya labih lanjut. Kemudian pada topik ikatan kovalen mengandung konsep yang abstrak yaitu bagaimana 2 unsur yang memiliki kecenderungan sifat afinitas yang sama dapat membentuk satu ikatan dan menjadi satu senyawa Kimia.
Contoh :
2 1
1H+H →H
Pada reaksi antara sesama atom hydrogen masing-masing atom hanya memiliki satu electron valensi sehingga tidak mungkin bagi salah satunya untuk memberikan satu electronnya kepada atom yang lain, untuk itu kedua atom akan menyumbangkan masing-masing satu electron untuk digunakan secara bersama-sama. Proses ini dapat digambarkan oleh program komputer berupa gambar konfigurasi electron masing-masing atom, pasangan electron yang digunakan secara bersama divisualisasikan dengan gambar-gambar yang menarik dan atraktif seolah mendekati kenyataan teori dan konsep yang ada.
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) atau dalam bahasa Inggris disebut Classroom Action Research ( CAR ). Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa yang berkaitan dengan proses pembelajaran di kelas, khususnya pada pemahaman konsep Ikatan Ion dan ikatan Kovalen dengan menggunakan animasi multimedia sederhana dan metode pembelajaran kooperatif tipe SAVI . Langkah-langkah yang ditempuh mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan penelitian akan dijabarkan dalam uraian berikut ini.
A. Setting Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2009-2010 di MAN Lahat mulai dari bulan September sampai November sebanyak 4 kali pertemuan yang dibagi menjadi 2 siklus. Siklus I sebanyak 2 kali pertemuan dan siklus II sebanyak 2 kali pertemuan. Jumlah jam pelajaran Kimia dalam satu minggu adalah 2 jam pelajaran dimana satu jam pelajaran waktunya 45 menit.
Subjek yang diteliti adalah siswa kelas X.1 MAN Lahat Tahun ajaran 2009 / 2010
B. Prosedur Pelaksanaan Tindakan Kelas
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun tahapan yang akan dilakukan dalam PTK ini menggunakan model yang
dikembangkan oleh Kurt Lewin seperti disebutkan dalam Dikdasmen (2003:18) bahwa tahap-tahap tersebut atau biasa disebut siklus (putaran) terdiri dari empat komponen yang meliputi : (a) perencanaan (planning), (b) aksi/tindakan (acting), (c) observasi (observing), (d) refleksi (reflecting).
Prosedur penelitian tindakan kelas ini secara garis besar dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 1 : Siklus Kegiatan Penelitian Siklus
I
Perencanaan
•Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dilaksanakan.
•Menentukan pokok bahasan
•Mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
•Menyiapkan sumber belajar seperti buku •Mengembangkan format evaluasi
Tindakan
•Melaksanakan KBM yang mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disiapkan.
•Melakukan evaluasi dalam bentuk tes kemampuan pemahaman konsep yang dipelajari.
Pengamatan
Melakukan observasi dengan menggunakan format observasi
Refleksi •Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi efektifitas waktu yang
telah dilaksanakan.
•Membahas hasil tindakan.
•Memperbaiki pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan yang belum mencapai sasaran.
•Evaluasi tindakan.
Indikator keberhasilan siklus
I
•Instrument-instrumen yang telah disiapkan pada siklus I dapat dilaksanakan semua
•Siswa mampu melaksanakan KBM dengan aktifitas yang tinggi.
•Siswa mampu menunjukan bentuk-bentuk energi dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari.
Siklus
II Perencanaan
•Identifikasi masalah dan penetapan alternatife pemecahan masalah •Pengembangan program tindakan II Tindakan •Pelaksanaan program tindakan II Pengamatan •Pengumpulan data tindakan II Refleksi •Evaluasi tindakan II
Indikator
keberhasilan siklus II
•Instrument-instrumen yang telah disiapkan pada siklus II dapat terlaksanakan semua
•Aktifitas siswa dalam KBM meningkat. •Motivasi siswa dalam KBM meningkat
•Hampir 100 % pencapaian hasil belajar menunjukan peningkatan.
C. Data dan Teknik Pengumpulan Data 1. Data
Sumber data penelitian ini adalah siswa, sedangkan jenis data yang didapatkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang meliputi :
• Data hasil pretes dan postes
• Hasil observasi terhadap proses Kegiatan Belajar-Mengajar • Jawaban angket
• Jurnal harian/catatan lapangan • Foto kegiatan
2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, angket, pretes, dan postes pada tiap siklus dan dilengkapi jurnal harian (catatan harian).
e. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dari observasi tersebut dapat dilihat peningkatan aktivitas belajar yang meliputi frekuensi aktivitas dan peningkatan kerjasama antar siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.
Angket digunakan untuk melihat motivasi siswa dari pembelajaran yang telah dilakukan, dimana angket adalah merupakan tanggapan dari seluruh siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan, bermanfaat atau dapat dirasakan oleh siswa dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.
g. Jurnal Harian (Catatan Harian)
Seluruh kegiatan dalam proses pembelajaran tidak semuanya tercantum dalam lembar observasi. Oleh karena itu di lengkapi lagi dengan jurnal harian / catatan harian yang merupakan alat bantu perekam yang paling sederhana yang memuat perilaku khusus siswa maupun permasalahan yang dapat di jadikan pertimbangan bagi pelaksanaan langkah-langkah berikutnya.
h. Foto
Untuk merekam peristiwa penting seperti aspek kegiatan kelas, aktivitas kelas atau untuk memperjelas data dan hasil observasi dari penelitian ini, di gunakan foto. Foto ini juga dapat membantu dalam evaluasi tentang data – data lainnya.
i. Data Tes Hasil Belajar
Data tes hasil belajar berupa data kuantitatif yang di peroleh melalui pretes sebelum diadakan tindakan pada masing-masing siklus dan postes setelah berakhirnya setiap siklus. Hal ini dimaksudkan agar setiap berakhirnya disetiap siklus dapat diketahui kemajuan dan perkembangan yang didapat oleh siswa melalui pembelajaran pemahaman materi pembelajaran melalui
pembelajaran kooperatif tipe SAVI. Data hasil tes tersebut bisa di jadikan acuan, pertimbangan, bahan refleksi, untuk merencanakan pelaksanaan pada siklus berikutnya.
3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Data Observasi
Data obsevasi ini di ambil melalui pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator sebagai observer, yang dilakukan pada saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran di kelas. Pengolahannya dengan menggunakan rumus :
A
− X 100% , dimana A = Jumlah siswa yang melakukan
B kegiatan
B = Jumlah siswa keseluruhan
b. Data Angket
Menganalisis data hasil angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut
Jumlah responden actual
−−−−−−−−−−−−−−−−−−− X 100 % Jumlah seluruh responden
Peneliti menentukan nilai setiap siswa dari hasil pretes dan postes masing-masing siklus dengan pemberian nilai skala 100, dimana KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) untuk pelajaran Kimia adalah 62. Kemudian menentukan banyaknya siswa yang mendapat nilai diatas atau sama dengan 62 (siswa yang sudah tuntas). Banyaknya siswa yang mendapat nilai ≥ 62 di hitung prosentasenya dengan menggunakan rumus :
Jumlah siswa yang tuntas
X 100 % Jumlah seluruh siswa
Sementara skor nilai rata-rata diperoleh dengan cara menjumlahkan skor nilai seluruh siswa dibagi dengan jumlah siswa.
d. Data Jurnal Harian
Peneliti sebagai orang yang terlibat secara aktif dalam pelaksanaan tindakan, dan juga guru lain sebagai observer menyimpulkan dan mendeskripsikan kejadian selama penelitian berlangsung baik pada siklus I maupun siklus II.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan hasil implementasi dari proses pembelajaran dengan model kooperatif learning tipe SAVI dalam rangka
meningkatkan motivasi serta aktivitas siswa dan hasil belajar yang diperoleh siswa.
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Di awal setiap siklus diadakan pretes I dan pretes II, demikian pula diakhir setiap siklus diadakan postes yaitu postes I dan postes II setelah proses pembelajaran berakhir atau setelah diberi tindakan.
Hasil penelitian dan beberapa temuan saat pelaksanaan berlangsung beserta pembahasannya akan diuraikan pada masing-masing siklus berikut ini : A. Siklus I.
1. Aktivitas Belajar
Pada pertemuan pertama di siklus I, yaitu hari Selasa tanggal 29 Septemberi 2009, dilakukan pretes siklus I, setelah melakukan pretes siswa berada pada tatanan kelompok masing-masing yang terdiri dari 16 kelompok yang beranggotakan 2 orang setiap kelompok , kemudian guru menjelaskan materi pelajaran secara global, terutama cara penggunaan software aplikasi animasi multimedia sederhana pada komputer.
Dalam melaksanakan pembelajaran dengan metode kooperatif learning model SAVI , peneliti melakukan pengamatan diantaranya kerjasama dalam kelompok, bertanya, dan kemampuan penguasaan komputer terutama penguasaan penggunaan software. Pada saat berlangsungnya kegiatan belajar di laboratorium TIK ini, Pada pertemuan pertama ini belum nampak adanya aktivitas siswa yang mencolok, namun siswa lebih cenderung untuk bertanya tentang cara penggunaan software aplikasi animasi tersebut. Berdasar data
hasil observasi, diperoleh 4 kelompok siswa (25 %) yang bekerjasama, 12 kelompok siswa (75 %) yang bertanya, 4 kelompok siswa (25 %) yang menguasai penggunaan software tersebut. dan yang menjawab soal uji kompetensi diatas KKM sebanyak 2 kelompok siswa (12,5 %). Prosentase aktivitas belajar secara keseluruhan diperoleh sebesar 36 %. Data tersebut diperoleh melalui lembar observasi kegiatan siswa.
Pada pertemuan kedua di siklus I yang dilaksanakan pada hari rabu tanggal 6 Oktober 2009 guru masih meminta siswa untuk menggunakan animasi multimedia sederhana yang dilaksanakan di laboratorium komputer. Aktivitas kelas pada pertemuan kedua ini sudah ada peningkatan dibandingkan pertemuan pertama. 8 kelompok siswa (50 %), bekerja sama, 9 kelompok siswa (56 %), aktivitas yang bertanya, 8 kelompok siswa (50 %), yang menguasai software animasi tersebut. dan yang menjawab soal uji kompetensi diatas KKM sebanyak 6 kelompok siswa (37 %). Prosentase aktivitas kelas secara keseluruhan yaitu 68 %. Dibandingkan dengan pertemuan pertama, sudah ada peningkatan aktivitas kelas sebesar 32 %.
2. Hasil Belajar.
Pada awal kegiatan penelitian, sebelum pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama siklus I, tepatnya hari Senin, 29 September 2009 , siswa diberikan tes awal berupa pretes I yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal sebelum diadakan proses pembelajaran tentang Ikatan ion
dan Kovalen. Hasil pretes I ternyata diperoleh skor nilai rata-rata 44,20 dan prosentase ketuntasan belajar sebesar 28 % yaitu hanya 7 orang siswa yang sudah tuntas dari 25 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman konsep ikatan ion dan kovalen secara umum masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah ditetapkan yaitu 62. Walaupun demikian skor nilai ini masih dianggap wajar, karena memang belum diajarkan (belum dilakukan proses pembelajaran di kelas). Waktu yang digunakan untuk pretes I adalah 30 menit.
Berdasarkan hasil pretes I yang diperoleh, yaitu ketuntasan belajar hanya 28 %, maka dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam melakukan suatu upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep ikatan ion dan kovalen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI.
Setelah proses pembelajaran yang berlangsung di siklus I, sebanyak 2 kali pertemuan maka untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar setelah diberi tindakan, siswa diberikan postes I yang dilaksanakan hari Selasa tanggal 6 Oktober 2009. Berdasarkan hasil dari postes I diperoleh skor nilai rata-rata 64,60 dan prosentase ketuntasan belajar mencapai 76 %, yaitu sebanyak 19 siswa yang sudah tuntas, dan hanya 6 orang siswa yang belum tuntas.
3. Refleksi
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari lembar observasi di siklus I, bahwa setelah proses pembelajaran yang dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan ( setelah diberi tindakan ), ternyata penerapan pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI konsep ikatan ion dan kovalen memberikan hasil yang cukup memuaskan sesuai dengan target yang diharapkan. Hal ini dapat dikatakan adanya peningkatan prosentase aktivitas kelas. Secara keseluruhan aktivitas belajar di siklus I meningkat dari 36 % menjadi 68 %. Dalam hal ini aktivitas kelas sudah termasuk kategori aktif, karena kriteria keaktifan kelas dikatakan cukup apabila proses aktivitas kelas berkisar antara 50 – 75%. Namun ada beberapa jenis aktivitas siswa yang masih dianggap rendah, yaitu aktivitas dalam hal penguasaan software. Diperkirakan bahwa siswa masih belum menguasai betul materi pelajaran yang sedang dibahas, sehingga berpengaruh terhadap hasil postes yang dilakukan pada akhir pelajaran. Rendahnya penguasaan software aplikasi kimia tersebut membuat peneliti harus bekerja keras kembali menjelaskan langkah-langkah pengoperasian aplikasi tersebut.Oleh karena itu nampaknya perlu ada pendekatan guru terhadap siswa untuk bisa merangsang atau menumbuhkan rasa percaya diri bagi siswa dengan cara belajar yang maksimal dan menjelaskan bahwa hal ini masih sedang taraf belajar. Siswa juga perlu dilatih keberanian mentalnya untuk mau mencoba aktif dalam hal mengemukakan pendapat, ataupun ada keberanian menyanggah, apabila hal itu tidak sesuai dengan konsep yang dia yakini (misalkan dari buku sumber).
Adapun hasil belajar yang diperoleh melalui postes I, setelah berakhirnya pembelajaran pada pertemuan di siklus I, diperoleh skor nilai rata-rata kelas sebesar 64,60 dengan prosentase ketuntasan belajar sebesar 76 %. Apabila dibandingkan dengan hasil pretes I, terdapat peningkatan nilai rata-rata kelas
sebesar 20,40 dan peningkatan prosestase ketuntasan belajar sebesar 48 %. Peningkatan ini cukup besar dan bisa dikatakan memenuhi kategori berhasil, karena siswa yang mencapai nilai diatas 62 (diatas KKM yang telah ditetapkan) sudah lebih dari 75%. Dengan demikian bahwa pengaruh proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI cukup besar sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan pada akhirnya hasil belajarnyapun meningkat. Berbeda dengan hasil belajar yang diperoleh sebelumnya selalu dibawah target (dibawah KKM) dimana proses pembelajarannya hanya penjelasan langsung dari guru melalui papan tulis. Dengan demikian hal ini perlu dipertahankan untuk proses pembelajaran pada pertemuan selanjutnya di siklus II.
B. Siklus II
1. Aktivitas Belajar
Pada pertemuan pertama di siklus II, yaitu hari Senin tanggal 13 Oktober 2009 dilanjutkan kembali proses pembelajaran mengenai konsep ikatan kovalen. Prosentase aktivitas siswa secara keseluruhan meningkat dari pertemuan sebelumnya yaitu 68 % menjadi 72 %. Peningkatannya sebesar 4 %. Pada pertemuan ini, yang bekerjasama sebanyak 10 kelompok siswa (62,5 %), bertanya 6 kelompoksiswa (37,5 %), yang menguasai software sebanyak 12 kelompok siswa (75 %). dan yang menjawab soal uji kompetensi diatas KKM sebanyak 9 kelompok siswa (56 %).
Kemudian dilanjutkan dengan petemuan kedua di siklus II, sekaligus sebagai pertemuan terakhir dari seluruh aktivitas penelitian ini, yang
dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 20 Oktober 2009. Ternyata suasana belajar semakin terlihat kondusif, karena hampir seluruhnya siswa terlibat dalam aktivitas pembelajaran baik yang bekerjasama, yang menjawab, yang menyanggah ataupun yang mengemukakan pendapat. Hasil yang diperoleh dari lembar observasi bahwa yang bekerjasama yaitu sebanyak 16 kelompok siswa (100 %), yang bertanya dan 3 kelompok siswa (18 %), yang menguasai software sebanyak 15 kelompok siswa (93%) dan yang menjawab soal uji kompetensi diatas KKM sebanyak14 kelompok siswa (87 %). Prosentase aktivitas kelas keseluruhannya mencapai 88 %.
2. Hasil Belajar
Pretes II dilakukan sebelum pelaksanaan pembelajaran di siklus II. Konsep yang dipelajari di siklus II ini adalah ikatan kovalen. Hasil yang diperoleh dari pretes II memberikan skor nilai rata-rata kelas sebesar 50,60 dan ketuntasan belajar siswa mencapai 48 %, yaitu 12 orang siswa yang sudah tuntas dari 25 orang siswa. Setelah pembelajaran dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan, diperoleh hasil dari postes II dengan ketuntasan belajar sebesar 84 % dan nilai rata – rata sebesar 72,00. Kenaikan dari pretes ke postes sebesar 36 % dan kenaikan nilai rata – ratanya sebesar 21,40.
3. Motivasi
Setelah proses pembelajaran ditempuh sebanyak 4 kali pertemuan mulai dari siklus I sampai siklus II, siswa diberikan angket isian untuk mengetahui motivasi siswa dalam model pembelajaran tipe SAVI, karena dengan adanya
motivasi belajar tersebut akan ada dorongan belajar dalam diri siswa. Dari angket yang diberikan pada siswa diantaranya ditanyakan merasa senang kegiatan belajar Kimia, belajar Kimia dengan menggunakan animasi sederhana terasa lebih mudah untuk memahami konsep ikatan ion dan kovalen
Berdasar hasil angket yang diberikan kepada siswa diperoleh hasil siswa yang senang dengan kegiatan belajar Kimia 19 orang siswa setuju (76 %), 5 orang siswa ragu-ragu (20 %) dan 1 orang siswa tidak setuju (4 %), sedangkan belajar dengan diskusi kelompok 23 orang siswa setuju (92 %), 2 orang siswa ragu-ragu (8 %), yang merasa senang belajar dari penjelasan teman 23 orang siswa setuju (92 %), 2 orang siswa ragu-ragu (8 %), yang merasa mudah memahami penjelasan teman 20 orang siswa setuju (80 %), 3 orang siswa ragu-ragu (12 %), dan 2 orang siswa tidak setuju (8 %), dan yang berpendapat perlu dikembangkan sebanyak 21 orang siswa setuju (84 %), sedangkan 4 orang siswa ragu-ragu (16 %).
4. Refleksi
Setelah proses pembelajaran ditempuh sebanyak 4 kali pertemuan mulai dari siklus I sampai siklus II maka berdasarkan analisis data kegiatan siswa diperoleh peningkatan aktivitas siswa yang cukup berarti. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2 : Prosentase Aktivitas Kelas
Pertemuan 1 2 1 2 Prosen Aktivitas Kelas (%) 36 68 72 88
Peningkatan prosentase aktivitas kelas ini, ternyata bisa terwujud apabila proses pembelajarannya diperbaiki dan disempurnakan.
Adapun hasil belajar (ketuntasan belajar dan skor nilai rata-rata) yang diperoleh setelah proses pembelajaran di siklus I dan siklus II melalui postes I dan postes II dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3 : Prosentase Ketuntasan Belajar
Siklus Pretes Postes Perbedaan
I 28 % 76 % 48 %
II 48 % 84 % 36 %
Tabel 4 : Skor Nilai Rata-rata Kelas
Siklus Skor Nilai Rata-rata Pretes
Skor Nilai Rata-rata Postes
Perbedaan
I 44,20 64,60 20,40
II 50,60 72,00 21,40
Berdasarkan data tabel tersebut di atas, secara umum dikatakan bahwa hasil belajar meningkat. Kenyataan ini bisa dijelaskan bahwa proses
pembelajaran pada konsep ikatan ion dan kovalen dengan menggunakan model pembelajaran tipe SAVI menarik bagi siswa, sehingga siswa termotivasi untuk mempelajari materi pembelajaran secara sungguh-sungguh dengan belajar sendiri yang menggunakan animasi multimedia sederhana.
Hal ini juga terlihat dari hasil angket siswa yang dapat dilihat pada tabel angket siswa berikut ini :
Tabel 5 : Motivasi Siswa
No Pernyataan Jumlah Responden Prosentase Pernyataan Responden S RR TS % % %
1 Saya senang dengan kegiatan belajar Kimia
19 5 1 76 20 4
2
Belajar Kimia dengan menggunakan animasi multimedia sederhana menyenangkan
23 2 - 92 8
-3 Saya merasa senang belajar menggunakan komputer
23 2 - 92 8
-4
Saya merasa mudah memahami penjelasan dengan animasi multimedia
20 3 2 80 12 8
5
Menurut saya kegiatan belajar ini
perlu dikembangkan 21 4 - 84 16
-Jumlah 424 64 12
Rata-rata Prosentase (%) 85 13 2
Dari tabel diatas terlihat motivasi yang dimiliki siswa dengan belajar tipe SAVI sangat menyenangkan, maka pembelajaran akan dirasakan lebih efektif
dan efisien dalam menyampaikan materi pelajaran atau mengajarkannya, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif.
Berdasarkan uraian, bahwa proses pembelajaran konsep ikatan ion dan kovalen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI terdapat hubungan antara motivasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan hasil belajar setelah proses pembelajaran dilaksanakan. Jadi bisa dikatakan apabila siswa aktif pada saat diskusi membahas materi pembelajaran, baik dalam hal bertanya ataupun mengemukakan pendapat, maka berarti siswa sudah mengerti dan paham apa yang sedang dipelajarinya, sehingga hasil belajarnya pun cukup memuaskan. Dengan demikian apabila pemahaman konsep sudah baik/meningkat, maka bisa dipastikan hasil belajarnya pun baik pula / meningkat.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan analisis, temuan dan pembahasan yang diuraikan pada Bab IV tentang proses pembelajaran pada konsep ikatan ion dan ikatan kovalen dengan menggunakan animasi multimedia sederhan hasil ciptaan peneliti dan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
Peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat dari aktivitas belajar siswa dan angket siswa. Di siklus I dari 36 % menjadi 68 %. Di siklus II dari 72 % menjadi 88 %. Dan dari hasil angket siswa rata-rata 85 % setuju.
2. Proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI dapat meningkatkan hasil belajar konsep ikatan ion dan kovalen. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari ketuntasan belajar siswa. Ternyata di siklus I ada peningkatan ketuntasan belajar sebesar 48 % , yaitu dari 28 % menjadi 76 %. Dan di siklus II meningkat sebesar 36 % , yaitu dari 48 % menjadi 84 %.
B. Saran
Saran-saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
1. Guru hendaknya mengadakan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI, agar siswa lebih termotivasi minat belajarnya sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. 2. Siswa hendaknya lebih bergairah dan lebih termotivasi serta lebih aktif
dalam berpartisifasi dalam diskusi dengan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI.
3. Sekolah hendaknya lebih membantu menyediakan / meningkatkan fasilitas sarana multimedia dan bahan untuk kegiatan proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SAVI.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati, (2002), Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, P.T. Rineka Cipta. Mendiknas, (2006), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta
Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.
Muhibin Syah, (2003), Psikologi Belajar, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada
W.Gulo (2004), Strategi Belajar Mengajar . Jakarta, PT. Grasindo
Rooyakkers, A. (1984), Mengajar dengan Sukses, Bandung, Gramedia. Sudjana, N. (1989), Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar
Suhardjono, Azis Hoesein, dkk. (1996) Pedoman Penyusunan Karya Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Widyaiswara. Jakarta : Depdikbud, Dikdasmen.
Suhardjono, (2006), Laporan Penelitian Sebagai KTI, makalah pada pelatihan peningkatan mutu guru dalam pengembangan profesi di Pusdiklat Diknas Sawangan, Jakarta, Februari 2006.
Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi (2006) , Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Bumi Aksara.
JADWAL PENELITIAN
No Kegiatan Bulan
September Oktober November I II III IV I II III IV I II III IV 1 Penyusunan Proposal Penelitian 2 Konsultasi Dosen Pembimbing 3 Penyusunan instrument,skenario pembelajaran, soal 4 Pelaksanaan A. Menyiapkan kelas dan perangkat pembelajaran B. Melaksanakan tindakan siklus I C. Konsultasi dosen pembimbing D. Melaksanakan tindakan Siklus II 5 Penyusunan Laporan 6 Konsultasi dosen pembimbing
LEMBAR PENGAMATAN
PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF Nama Guru : AGUS SUTIONO, S.Pd Kelas : X.1
Tanggal : ……….. Konsep :………
Pertemuan ke : ………. Sub Konsep :………… Petunujk.
Berilah tanda ceklis (v) pada kolom yang sesuai menurut penilaian anda. N
o Aspek yang dinilai
Penilaian
0 1 2 3 4
I PENGAMATAN PBM A. Pendahuluan
1. Mengaitkan pelajaran sekaranng dengan pelajaran sebelunnya
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran 3. Memotivasi siswa
B. Kegiatan Inti
1. Mempresentasikan informasi
2. Mengorganisasi siswa dalam kelompok-kelompok belajar
3. a. Membimbing kelompok b. Mengajukan pertanyaan
c. Menjawab / menanggapi pertanyaan d. Bekerja dan belajar bersama
C. Penutup Evaluasi
II. SUASANA KELAS 1. Siswa antusias 2. Guru antusias
3. Waktu sesuai dengan alokasi
4. PBM sesuai dengan skenario dalam RPP
Jumlah Keterangan :
0 = tidak melakukan 3=baik Lahat, Oktober 2009 1 = kurang baik 4= sangat baik Pengamat, 2 = cukup
NIP. Lembar Jurnal Harian ( Catatan Harian )
Pertemuan ke : ……… Hari/ Tanggal : …..……….. Pukul : …..……….. Guru : …..……….. I. Penguasaan Konsep ……… ……… ……… ……… ……… ………. ………..
II. Relevansi Materi dengan Metode Pembelajaran
……… ……… ……… ……… ……… ……… ………
III. Penguasaan Software
……… ……… ……… ……… ……… ……… …..………….
Daftar Nilai Pretes dan Postes Pada Hasil Belajar Konsep Ikatan Ion dan Kovalen No Nama siswa Siklus I Ket Pretest I Postest I Tanggal T/TT Tanggal T/TT 29/9/2009 11/2/2009
1 Agus Sidarman 35 Tidak Tuntas 65 Tuntas
2 Agustini 65 Tuntas 75 Tuntas
3 Ana Mariawati 30 Tidak Tuntas 55 Tidak Tuntas
4 Andika 65 Tuntas 80 Tuntas
5 Elia Susanti 55 Tidak Tuntas 65 Tuntas
6 Febriani Putrawan 45 Tidak Tuntas 60 Tuntas
7 Febrina Ramadani 60 Tuntas 75 Tuntas
8 Fenni Puspita Sari 45 Tidak Tuntas 60 Tuntas
9 Hariani 30 Tidak Tuntas 50 Tidak Tuntas
10 Hendra Eko Saputra 65 Tuntas 75 Tuntas
11 Indah Permata Sari 25 Tidak Tuntas 50 Tidak Tuntas
12 Khusnairo 45 Tidak Tuntas 70 Tuntas
13 Lestriwana 50 Tidak Tuntas 70 Tuntas
14 Lisma Hayati 35 Tidak Tuntas 65 Tuntas
15 Luluk Naziro 50 Tidak Tuntas 70 Tuntas
16 Lusi Mareza 25 Tidak Tuntas 45 Tidak Tuntas
17 M.Imriadi 35 Tidak Tuntas 70 Tuntas
18 Mirliana 30 Tidak Tuntas 55 Tidak Tuntas
19 Muhammad.B 60 Tuntas 75 Tuntas
20 Mutia Dewi 30 Tidak Tuntas 60 Tuntas
21 Nur Anggraini 60 Tuntas 80 Tuntas
22 Nur Hayati 35 Tidak Tuntas 50 Tidak Tuntas
23 Pera Yulia 30 Tidak Tuntas 60 Tuntas
24 Santi Hodia Ningsih 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
25 Sheila Laurincin 60 Tuntas 70 Tuntas
Rata – rata skor nilai 44.20 64.60
Jumlah siswa yang tuntas 7 19
Prosentase Ketuntasan Belajar
(%) 28.00 76.00
Keterangan :
- SKBM (standar ketuntasan belajar minimal) untuk mata pelajaran KIMIA adalah 60 - Siswa dikatakan tuntas jika skor nilai ≥ 60
- T = Tuntas ; TT = tidak tuntas
Prosentase ketuntasan belajar =
Jumlah siswa yang tuntas
X 100% Jumlah seluruh siswa
Daftar Nilai Pretes dan Postes Pada Hasil Belajar Ikatan ion
No Nama siswa Siklus II Ket Pretest II Postest II Tanggal T/TT Tanggal T/TT 13/9-2009 18-10-2009
1 Agus Sidarman 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
2 Agustini 60 Tuntas 85 Tuntas
3 Ana Mariawati 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
4 Andika 60 Tuntas 85 Tuntas
5 Elia Susanti 60 Tuntas 80 Tuntas
6 Febriani Putrawan 45 Tidak Tuntas 60 Tuntas
7 Febrina Ramadani 60 Tuntas 85 Tuntas
8 Fenni Puspita Sari 50 Tidak Tuntas 70 Tuntas 9 Hariani
30 Tidak Tuntas 55 Tidak
Tuntas
10 Hendra Eko Saputra 65 Tuntas 85 Tuntas
11 Indah Permata Sari
30 Tidak Tuntas 55 Tidak
Tuntas
12 Khusnairo 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
13 Lestriwana 60 Tuntas 80 Tuntas
14 Lisma Hayati
40 Tidak Tuntas 55 Tidak
Tuntas
15 Luluk Naziro 65 Tuntas 85 Tuntas
16 Lusi Mareza 40 Tidak Tuntas 60 Tuntas
17 M.Imriadi 60 Tuntas 80 Tuntas
18 Mirliana 40 Tidak Tuntas 45 TuntasTidak
19 Muhammad.B 65 Tuntas 85 Tuntas
20 Mutia Dewi 40 Tidak Tuntas 65 Tuntas
21 Nur Anggraini 65 Tuntas 85 Tuntas
22 Nur Hayati 30 Tidak Tuntas 60 Tuntas
24 Santi Hodia Ningsih 55 Tidak Tuntas 75 Tuntas
25 Sheila Laurincin 65 Tuntas 85 Tuntas
26 Siti Hulia 27 Wahida Nurmala 28 Widia Hertiana 29 Wulan Dari 30 Yessi Oktaviani 31 Yuliana 32 Yuni Marlina
Rata – rata skor nilai 50.60 72.00
Jumlah siswa yang tuntas 12 21
Prosentase Ketuntasan
Belajar (%) 48.00 84.00
Keterangan :
- Nilai di isi dengan skala 100
- SKBM (standar ketuntasan belajar minimal) untuk mata pelajaran KIMIA adalah 60 - Siswa dikatakan tuntas jika skor nilai ≥ 60
- T = Tuntas ; TT = tidak tuntas
Prosentase ketuntasan belajar = Jumlah siswa yang tuntas X 100% Jumlah seluruh siswa
ANGKET SISWA
Berilah tanda ceklis (v) pada kolom S, RR atau TS
No Pernyataan S RR TS
1 Saya senang dengan kegiatan belajar KIMIA.menggunakan multimedia
2 Belajar KIMIA dengan animasi komputer menyenangkan.
3 Saya merasa mudah memahami penjelasan melalui animasi komputer
4 Menurut saya kegiatan belajar seperti ini perlu dikembangkan. Keterangan : S = Setuju RR = Ragu-ragu TS = Tidak Setuju NAMA : KELAS:
Hasil angket siswa terhadap minat siswa belajar Kimia Pada Pokok Bahasan Ikatan Ion dan Ikatan Kovalen dengan metode Kooperatif
Learning tipe SAVI
No Pernyataan Jumlah Responden pada setiap pernyataan Prosentase Pernyataan Responden S RR TS % % %
1 Saya senang dengan kegiatan belajar KIMIA.menggunakan multimedia 19 5 1 76 20 4 2 Belajar KIMIA dengan animasi komputer menyenangkan. 23 2 92 8 - 3 Saya merasa mudah memahami
penjelasan melalui animasi komputer 23 2 92 8
- 4 Menurut saya kegiatan belajar seperti
ini perlu dikembangkan. 20 3 2 80 1 2 8 Jumlah 424 64 12 Rata-rata Prosentase 85 13 2 Keterangan : S = Setuju RR = Ragu-ragu TS = Tidak Setuju
TES UJI KEMAMPUAN
(jawaban anda di ketik pada kolom sebelah)
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar
1. Unsur 11Na dan 17Cl akan memiliki kestabilan jika mencapai konfigurasi electron,seperti unsure…
a. Ne dan Ar c. Ar dan Kr e. He dan Ne b. Ne dan Kr d. Kr dan Xe
2. Atom suatu unsure akan membentuk ion positif jika….
a. menerima pasangan elektron b. mengikat 7 elektron
c. melepas 7 proton d. menerima 1 elektron e. melepas 1 elektron
3. Ikatan ion terjadi karena adanya…
a. penggunaan bersama pasangan elektron b. gaya tarik antar electron
c. serah terima electron
d. penggunaan proton dan electron e. ikatan sesama unsure logam
4. Jika unsure Na (nomor atom 11) berikatan dengan Unsur O (nomor atom 16) maka akan terbentuk senyawa…
a. NaO c. NaO2 e.Na3O
b. Na2O d. Na2O2
5. Ikatan kimia yang terjadi karena penggunaan pasangan electron bersama adalah…
a. ikatan ion b. ikatan logam c. ikatan hydrogen d. ikatan kovalen e. ikatan elektrovalen
6. Jumlah electron yang digunakan bersama dalam molekul N2 untuk berikatan
…. ( No.atom 7)
a. 2 b. 3 c. 4 d. 5 e. 1
7. Diantara unsure Na,Cl,Ca,O,H,Al yang dapat membentuk senyawa dengan ikatan kovalen adalah…
b. Ca dan H d. H dan O
8. berikut berturut-turut nomor atom dari ; H, Cl, O, N, F ( 1, 17, 16, 7, 9 )
Maka ikatan kovalen rangkap dua akan terjadi pada : a. O dan O c. N da O e. N Dan H b. H da Cl d. N dan N
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP ) ( RPP )
Sekolah : MAN Lahat Mata Pelajaran : Kimia
Kelas : X
Semester : 1
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit Tahun Pelajaran : 2009-2010
A. Standar Kompetensi
Memahami struktur atom,sifat-sifat periodic unsure, dan ikatan kimia. B. Kompetensi dasar
Membandingkan proses pembentukan ikatan ion dan ikatan kovalen C. Indikator
• Mampu menjelaskan bagaimana suatu unsure untuk mencapai kestabilan konfigurasi electron menggunakan konsep ikatan ion.
D. Tujuan Pembelajaran
Dengan menggunakan Software Aplikasi Ikatan Kimia berbasis Multimedia (komputer)
Siswa Dapat :
1. menjelaskan bagaimana terjadinya ikatan ion
2. menjelaskan Unsur apa saja yang dapat melakukan ikatan ion 3. menjelaskan proses serah terima elektron valensi dari kation ke
anion
Ikatan Kimia
Kestabilan unsur
Kecenderungan suatu unsur untuk mencapai konfigurasi stabil dengan cara menangkap atau melepas sejumlah elektron pada kulit terluarnya.
Lambang Lewis
Lambang Lewis adalah lambang atom disertai elektron valensinya.
Ikatan ion dan ikatan kovalen
Ikatan ion ( antara unsur logam (IA s/d IIIA )dan non logam (VA s/d VIIA) Atom yang kehilangan elektron berubah menjadi ion positif. Atom yang
menangkap elektron berubah menjadi ion negatif.
Ikatan ion terjadi akibat gaya tarik-menarik antara ion yang berbeda muatan.
Ikatan ion terbentuk akibat serah terima elektron. katan ion terbentuk dari logam dan non logam.
Rumus kimia senyawa ion merupakan rumus empiris.
Struktur Lewis
Penggambaran molekul dua dimensi yang menunjukkan kedudukan atom-atom dalam suatu ikatan melalui distribusi elektron valensi.
Setiap atom yang berikatan cenderung memenuhi kaidah oktet untuk setiap jenis atom kecuali atom H (Duplet).
a. Oktet tidak sempurna b. Jumlah elektron ganjil c. superoktet
F. Metode Pembelajaran
- Praktikum ( kelompok ) - Berdiskusi,Tanya jawab
G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Uraian Waktu
Pendahuluan
Inti
Penutup
- Siswa mendengarkan informasi tentang tujuan pembelajaran
- Memotivasi siswa agar mampu menggunakan komputer untuk mengatasi suatu masalah - Guru menjelaskan bagaimana cara
menggunakan
Software aplikasi kimia pada komputer
- Siswa dikelompokan menjadi 2 orang perkelompok
- Setiap kelompok menghadapi 1 buah komputer
- Setiap kelompok diberi waktu selama 35 menit untuk menggunakan aplikasi kimia pada komputer (jumlah ideal komputer minimal 15 unit )
- Selesai menggunakan aplikasi tersebut, siswa diharuskan melakukan tes uji kemampuan selama 10 menit
- Guru langsung menilai hasil tes uji kemampuan yang dikerjakan siswa
- Guru menyimpulkan hasil kegiatan praktikum dengan kembali menegaskan konsep yang telah dipelajari oleh siswa dari komputer
7 menit
76 menit
Sumber Belajar : - Buku Pegangan siswa - Software Aplikasi Kimia
( PowerPoint,Basic,Word dan Excel)
Tempat Belajar : Laboratorium Komputer (TIK) Penilaian : Terekam pada komputer dan tertulis
Mengetahui Kepala MAN Lahat
Yan Hery Darmansyah,S.Pd.MM NIP.197101271997031001
Lahat ,Oktober 2009 Guru Mata Pelajaran
Agus Sutiono,S.Pd NIP. 196806242005011005
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP ) ( RPP )
Sekolah : MAN Lahat Mata Pelajaran : Kimia
Kelas : X
Semester : 1
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit Tahun Pelajaran : 2009-2010
H. Standar Kompetensi
Memahami struktur atom,sifat-sifat periodic unsure, dan ikatan kimia. I. Kompetensi dasar
Membandingkan proses pembentukan ikatan ion dan ikatan kovalen J. Indikator
• Mampu menjelaskan bagaimana suatu unsure untuk mencapai kestabilan konfigurasi electron menggunakan konsep ikatan ion.
K. Tujuan Pembelajaran
Dengan menggunakan Software Aplikasi Ikatan Kimia berbasis Multimedia (komputer)
Siswa Dapat :
1. menjelaskan bagaimana terjadinya ikatan kovalen
2. menjelaskan Unsur apa saja yang dapat melakukan ikatan kovalen
3. menjelaskan proses penggunaan elektron valensi secara bersama antara 2 unsur non logam
L. Materi Pembelajaran
Ikatan Kimia
Kestabilan unsur
Kecenderungan suatu unsur untuk mencapai konfigurasi stabil dengan cara menangkap atau melepas sejumlah elektron pada kulit terluarnya.
Lambang Lewis
Lambang Lewis adalah lambang atom disertai elektron valensinya.
Ikatan ion dan ikatan kovalen .
• Ikatan kovalen
Ikatan kovalen terjadi akibat penggunaaan bersama pasangan elektron.
Ikatan kovalen dapat terbentuk dari ikatan antara sesama nonlogam.
Senyawa yang berikatan hanya dengan ikatan kovalen merupakan senyawa molekul.
Ikatan kovalen dapat berupa:
a. Ikatan kovalen tunggal, yaitu ikatan yang menggunakan sepasang elektron milik bersama.
b. Ikatan kovalen rangkap dua, yaitu ikatan yang menggunakan dua pasang elektron milik bersama.
c.Ikatan kovalen rangkap tiga, yaitu ikatan yang menggunakan tiga pasang elektron milik bersama.
d. Ikatan kovalen koordinasi Struktur Lewis
Penggambaran molekul dua dimensi yang menunjukkan kedudukan atom-atom dalam suatu ikatan melalui distribusi elektron valensi.
Setiap atom yang berikatan cenderung memenuhi kaidah oktet untuk setiap jenis atom kecuali atom H (Duplet).
• Penyimpangan aturan oktet d. Oktet tidak sempurna e. Jumlah elektron ganjil f. superoktet
M. Metode Pembelajaran
- Kooperatif learning model SAVI
N. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Uraian Waktu
Pendahuluan
Inti
- Siswa mendengarkan informasi tentang tujuan pembelajaran
- Memotivasi siswa agar mampu menggunakan komputer untuk mengatasi suatu masalah - Guru menjelaskan bagaimana cara
menggunakan
Software aplikasi kimia pada komputer
7 menit
Penutup
- Siswa dikelompokan menjadi 2 orang perkelompok
- Setiap kelompok menghadapi 1 buah komputer
- Setiap kelompok diberi waktu selama 35 menit untuk menggunakan aplikasi kimia pada komputer (jumlah ideal komputer minimal 15 unit )
- Selesai menggunakan aplikasi tersebut, siswa diharuskan melakukan tes uji kemampuan selama 10 menit
- Guru langsung menilai hasil tes uji kemampuan yang dikerjakan siswa
- Guru menyimpulkan hasil kegiatan praktikum dengan kembali menegaskan konsep yang telah dipelajari oleh siswa dari komputer
7 menit
Sumber Belajar : - Buku Pegangan siswa - Software Aplikasi Kimia
( PowerPoint,Basic,Word dan Excel)
Tempat Belajar : Laboratorium Komputer (TIK) Penilaian : Terekam pada komputer dan tertulis
Mengetahui Kepala MAN Lahat
Lahat ,Oktober 2009 Guru Mata Pelajaran
Yan Hery Darmansyah,S.Pd.MM NIP.197101271997031001
Agus Sutiono,S.Pd NIP. 196806242005011005