KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori
6. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Belajar, pembelajaran serta hasil belajar merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Jika belajar dikatakan kegiatan siswa, maka mengajar dikatakan kegiatan guru. Dalam proses usaha mencari dan mendapatkan pengalaman baru, sebenarnya manusia telah melakukan kegiatan belajar. Dengan adanya pengalaman baru yang diperoleh dari hasil usaha tersebut, maka dalam diri manusia ada pengalaman yang bertambah dan berkembang. Sehingga dari proses tersebut, adanya perubahan tingkah laku dalam diri manusia. Perubahan itu terwujud dengan adanya pemahaman, kemampuan, dan kebiasaan dan ketrampilan yang bertambah. Perubahan tersebut yang dinamakan dengan hasil belajar.
Pendapat Abdurrahman yang dikutip Asep Jihad & Abdul Haris (2013: 14) menyatakan bahwa “hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak melalui kegiatan belajar”.
Dalam kegiatan pembelajaran tterdapat hasil belajar seperti pendapat Bloom bahwa hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehenshion (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasi, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif
adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon),
organization (organisasi), characterization (karakter). Domain
psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotor juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, managerial dan intelektual. (Agus Suprijono, 2011 : 6-7)
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku, sikap dan kemampuan yang terjadi setelah seseorang melakukan kegiatan belajar mengajar yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
b. Tujuan Dan Fungsi Hasil Belajar
Hasil belajar didapat melalui sebuah penilaian terhadap suatu pembelajaran yang dilakukan sebelumnya. Tujuan dan fungsi dari hasil belajar adalah untuk mengetahui seberapa besar keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran yang dilakukan sebelumnya yang nantinya dapat digunakan untuk perbaikan dalam proses pembelajaran. Tujuan dan fungsi dari hasil belajar menurut Hamdani (2011: 302) adalah sebagai berikut :
a) Tujuan penilaian hasil belajar (1) Tujuan umum
(a) Menilai pencapaian kompetensi siswa. (b) Memperbaiki proses pembelajaran.
(c) Sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan belajar siswa.
(2) Tujuan khusus
(a) Mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa. (b) Mendiagnosis kesulitan belajar.
(c) Memberikan umpan balik atau perbaikan proses belajar mengajar
(d) Menentukan kenaikan kelas
(e) Memotivasi belajar siswa dengan cara mengenal dan memahami diri dan merangsang untuk melakukan usaha perbaikan.
b) Fungsi penilaian hasil belajar
(1) Bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas.
(2) Umpan balik dalam perbaikan proses belajar mengajar.
(4) Evaluasi diri terhadap kinerja siswa.
7. Pembelajaran Kooperatif Student Team Achivement Division (STAD) a. Pengertian pembelajaran kooperatif Student Team Achivement
Division (STAD)
Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu
tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.
Model pembelajaran koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi verbal atau teks.
Menurut Slavin yang dikutip Isjoni (2009) ada lima komponen utama dalam pembelajaran kooperatif metode STAD, yaitu:
(a) Penyajian Kelas
Penyajian kelas merupakan penyajian materi yang dilakukan guru secara klasikal dengan menggunakan presentasi verbal atau teks. Penyajian difokuskan pada konsep-konsep dari materi yang dibahas. Setelah penyajian materi, siswa bekerja pada kelompok untuk menuntaskan materi pelajaran melalui tutorial, kuis atau diskusi.
(b) Menetapkan siswa dalam kelompok
Kelompok menjadi hal yang sangat penting dalam STAD karena di dalam kelompok harus tercipta suatu kerja kooperatif antar siswa untuk mencapai kemampuan akademik yang diharapkan. Fungsi dibentuknya kelompok adalah untuk saling meyakinkan bahwa setiap anggota kelompok dapat bekerja sama dalam belajar. Lebih khusus lagi untuk
mempersiapkan semua anggota kelompok dalam menghadapi tes individu. Kelompok yang dibentuk sebaiknya terdiri dari satu siswa dari kelompok atas, satu siswa dari kelompok bawah dan dua siswa dari kelompok sedang. Guru perlu mempertimbangkan agar jangan sampai terjadi pertentangan antar anggota dalam satu kelompok, walaupun ini tidak berarti siswa dapat menentukan sendiri teman sekelompoknya.
(c) Tes dan Kuis
Siswa diberi tes individual setelah melaksanakan satu atau dua kali penyajian kelas dan bekerja serta berlatih dalam kelompok. Siswa harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan kelompok.
(d) Skor peningkatan individual
Skor peningkatan individual berguna untuk memotivasi agar bekerja keras memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Skor peningkatan individual dihitung berdasarkan skor dasar dan skor tes. Skor dasar dapat diambil dari skor tes yang paling akhir dimiliki siswa, nilai pretes yang dilakukan oleh guru sebelumnya melaksanakan pembelajaran kooperatif metode STAD.
(e) Pengakuan kelompok
Pengakuan kelompok dilakukan dengan memberikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan kelompok selama belajar. Kelompok dapat diberi sertifikat atau bentuk penghargaan lainnya jika dapat mencapai kriteria yang telah ditetapkan bersama. Pemberian penghargaan ini tergantung dari kreativitas guru.
b. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
Kelebihan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Keunggulan pembelajaran kooperatif tipe Student Team
Achievement Divisions (STAD) menurut pandangan kelompok
Chilibert-Macmilan dilihat dari aspek siswa, adalah memberi peluang kepada siswa agar mengemukakan dan membahas suatu pandangan, pengalaman, yang diperoleh siswa belajar secara bekerja sama dalam merumuskan ke arah satu pandangan kelompok. Isjoni, (2013 : 23)
Menurut imas kurniasih & Berlin Sani, (2016: 22), banyak sekali manfaat dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD diantaranya :
(a) Karena dalam kelompok siswa dituntut untuk aktif sehingga model ini siswa dengan sendirinya akan percaya diri dan meningkatkan kecakapan individulanya.
(b) Interaksi sosial yang terbangun dalam kelompok, dengan sendirinya siswa belajar dalam bersosialisasi dengan lingkunganya (kelompok).
(c) Dengan kelompok yang ada, siswa diajarkan untuk membangun komitmen dalam mengembangkan kelompoknya.
Kekurangan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Menurut imas kurniasih & Berlin Sani, (2016: 22) kekurangan model pembelajaran tipe STAD sebagai berikut :
(a) Karena tidak adanya kompetisi diantara anggota masing-masing kelompok, anak yang berprestasi bisa saja menurun semangatnya.
(b) Jika guru tidak bisa mengarahkan anak, maka anak yang berprestasi bisa jadi lebih dominan dan tidak terkendali. Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas bahwa untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif metode STAD, sebaiknya dalam satu anggota kelompok ditugaskan untuk membaca bagian yang berlainan, sehingga mereka dapat berkumpul dan bertukar informasi. Selanjutnya, pengajar mengevaluasi mereka mengenai seluruh bagian materi. Dengan cara inilah maka setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar berhasil mencapai tujuan dengan baik. 8. Pembelajaran Guling Belakang Senam Lantai Menggunakan Model
Pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement Division (STAD)
Sebelum siswa melakukan gerakan guling belakang senam lantai, siswa penyajian kelas atau penyajian materi guling belakang senam lantai secara lisan atau penjelasam di dalam lembar kerja siswa atau LKS, kemudian siswa diberikan contoh gerakan guling belakang yang benar dengan menggunakan tutorial senam atau diberikan contoh langsung gerakan guling belakang, langkah ini diberikan kepada siswa untuk memberi gambaran tentang materi guling belakang.
Gambar 2. Penyajian kelas/materi guling belakang
Setelah dilakukan penyajian kelas atau pemberian materi kepada siswa, kemudian siswa akan di kelompokkan dalam beberapa kelompok, setiap masing-masing kelompok terdiri dari 4-6 orang siswa hal ini adalah hal utama yang harus dilakukan di dalam pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD), di dalam kelompok harus tercipta rasa saling percaya satu sama lain untuk tercapainya hasil belajar yang memuaskan, sebelum terbentuknya kelompok harus dilaksanakan pretest untuk mengetahui hasil belajar siswa mulai dari yang baik, sedang, dan kurang. Dalam pembentukan kelompok sebaiknya di dalam kelompok terdidri dari siswa yang mempunyai hasil belajar baik, sedang, dan kurang. Hal yang harus diperhatikan dalam pembagian kelompok ini adalah agar jangan sampai ada pertentangan dalam antar anggota dalam satu kelompok.
Gambar 3. Pembagian kelompok 4-6 orang siswa
Sebelum pelaksanaan tes dan kuis siswa melakukan gerakan guling belakang secara bergantian, siswa langsung melakukan gerakan guling belakang untuk yang sudah bisa melakukan gerakan guling belakang dengan baik dan untuk yang beluk bisa melakukan gerakan guling belakang dengan baik dapat dibantu oleh temanya yang sudah bisa, Langkah selanjutnya adalah pemberian tes atau kuis yang dilaksanakan setelah 1-2 kali penyajian kelas atau materi guling belakang, hasil dari tes ini akan disumbangkan untuk nilai kelompok masing-masing dan setelah itu memberikan penghargaan kepada kelompok yang memeperoleh hasil terbaik dalam pembelajaran guling belakang senam lantai melalui metode pembelajaran kooperatif STAD.
Gambar 4. Pemberian tes atau kuis untuk nilai kelompok
B. Kerangka Berfikir
Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu melibatkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar yakni menggunakan kegiatan siswa sendiri secara efektif di dalam pembelajaran. Siswa diarahkan untuk melakukan latihan yang sesuai dengan konsep pembelajaran yang sedang dipelajari. Dalam hal ini peran guru hanya sebagai motivator dan fasilitator. Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dengan melakukan latihan yang sesuai dengan materi pembelajaran.
Kondisi awal sebelum penelitian yaitu proses pembelajaran senam lantai guling belakang yang belum berjalan secara efektif. Hal ini disebabkan karena guru tidak mendesain sistem pembelajaran dengan menarik dan menantang siswa. Akibatnya siswa kurang antusias dan merasa kesusahan dalam melakukan gerakan senam lantai guling belakang, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Tingkat kesegaran jasmani rendah dan hasil belajar mata pelajaran pendidikan jasmani juga rendah karena guru kurang kreatif dan inovatif.
Menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Team
Achievement Division (STAD) siswa bisa lebih antusias, penasaran dan
tertarik dengan model pembelajaran yang berbeda. Dengan menerapkan model pembelajaran ini, diharapakan hasil belajar siswa meningkat dan
siswa mengerti bagaimana cara melakukan gerakan guling belakang yang baik dan benar. Selain itu, model pembelajaran yang digunakan harus memiliki daya tarik bagi siswa untuk mengikuti pembelajaran yang dirancang oleh guru dengan penuh antusias dan rasa ingin mencoba yang tinggi, sehingga akan merangsang ketertarikan siswa dalam pembelajaran senam lantai guling belakang.
Pembelajaran senam lantai guling belakang dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division
(STAD) dapat membantu siswa dalam pelaksanaan pembelajaran senam
lantai guling belakang sehingga meningkatkan keterampilan siswa terhadap gerakan guling belakang, merangsang ketertarikan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, meningkatkan keberanian dan meningkatkan kemampuan menilai dirinya sendiri dan teman yang lainnya.
Secara sederhana kerangka pemikiran daripenelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 5. Alur Kerangka Berfikir
Guru dalam pembelajaran guling belakang senam lantai masih menggunakan pembelajaran yang konvensional dimana pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga pembelajaran menjadi monoton, kurang kreatif & inovatif dalam pembelajaran.
Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif dan tidak memperhatikan dalam pembelajaran sehingga hal ini dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.
Kondisi awal
Menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran guling belakang senam lantai untuk meningkatkan keterampilan siswa.
Siklus I:
Peneliti menyusun bentuk pengajaran dan melaksanakan pembelajaran guling belakang senam lantai melalui model pembelajara kooperatif tipe STAD yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar guling belakang senam lantai, Setelah dilakukan evaluasi jika dalam siklus I capaian hasil belajar belum memenuhi target maka akan dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Siklus II:
Merupakan penyempurnaan dari siklus sebelumnya, siswa dapat mencapai hasil belajar gerakan guling belakang senam lantai sesuai target capaian.
Tindakan
Kondisi akhir
Melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa dapat lebih aktif dalam pembelajaran dan siswa dapat lebih termotivasi untuk mencapai hasil belajar yang baik, melalui model pembelajaran tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran guling belakang senam lantai.
Berdasarkan kerangka konseptual yang digambarkan tersebut bahwa, pembelajaran senam lanatai guling belakang menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD) merupakan bentuk-bentuk model pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan pembelajaran yang menyenangkan, dengan berkelompok membantu satu sama lain maka siswa akan lebih aktif dan antusias dan dapat mengembangkan kemampuan siswa. Melalui model pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD) siswa menjadi lebih tertarik, aktif serta antusias dan aspek-aspek yang terdapat pada diri siswa dapat dikembangkan. Aspek yang dikembangkan dalam pembelajaran senam lantai guling belakang menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD) ini yaitu: aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan Student Team
Achievement Division (STAD) mengajukan informasi akademik baru
kepada siswa tidak hanya mengembangkan aspek peningkatan hasil belajar senam lantai saja, tetapi aspek lainnya juga dikembangkan.
33
BAB III
METODE PENELITIAN