• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

2. Hasil Belajar

maju kedepan kelas untuk membaca hasil singkatan yang telah dibuat. Siswa yang tidak mendapatkan giliran, dapat menanggapi hasil singkatan dari temannya yang lain.

Penerapan metode mnemonic berbantuan media gambar diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV di SDN 42 Mataram.

2. Hasil Belajar

a. Definisi dan Karakterstik Hasil Belajar

Definisi hasil belajar menurut Purwanto (2010:45) adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom (dalam Purwanto, 2010:51-52) yaitu mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Merujuk pada pemikiran Winkle (dalam Purwanto, 2010:45) menyebutkan bahwa, hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.

Adapun menurut Susanto (2013:5) mengemukakan hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Kemudian Sudjana (dalam Kunandar, 2013:62) mendefinisikan hasil belajar siswa adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya.

24

Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan di atas dipertegas lagi oleh Nawawi (dalam Susanto, 2013:5) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.

Berdasarkan pengertian hasil belajar menurut para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku seseorang setelah mengalami suatu proses belajar yang merupakan suatu hasil dari kegiatan pembelajaran yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan).

b. Macam-Macam Hasil Belajar

Hasil belajar sebagaimana telah dijelaskan diatas meliputi tiga aspek, yaitu:

a) Hasil Belajar Kognitif

Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi dan bukan merupakan kemampuan yang tunggal. Kemampuan yang menimbulkan perubahan perilaku dalam domain kognitif meliputi beberapa tingkat atau jenjang. Sementara itu, Bloom (dalam Purwanto, 2010:50-51) membagi dan menyusun secara hirarkhis tingkat hasil belajar kognitif mulai dari yang paling rendah dan sederhana yaitu hafalan sampai paling tinggi dan kompleks yaitu evaluasi. Tingkatan hasil belajar kognitif menurut taksonomi Bloom revisi antara lain: kemampuan mengingat

25

(C1 ), memahami (C2 ), mengaplikasi (C3 ), kemampuan menganalisis (C4 ), kemampuan mengevaluasi (C5 ), dan mencipta (C6 ).

Untuk mengukur hasil belajar siswa daam ranah kognitif, guru dapat melakukan evaluasi produk. Sehubungan dengan evaluasi produk, Winkel (dalam Susanto, 2013:8) menyatakan bahwa melalui produk dapat diselidiki apakah dan seberapa jauh suatu tujuan instruksional telah dicapai; semua tujuan itu merupakan hasil belajar yang seharusnya diperoleh siswa. Berdasarkan pandangan Winkel ini, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa erat hubungannya dengan tujuan instruksional (pembelajaran) yang telah dirancang guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar.

Evaluasi produk dapat dilaksanakan dengan mengadakan berbagi macam tes, baik secara lisan maupun tertulis. Dalam pembelajaran di SD umumnya tes diselenggarakan dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, maupun ulangan umum.

b) Hasil Belajar Afektif

Definisi hasil belajar menurut Lange (dalam Susanto, 2013:10), hasil belajar afektif atau sikap tidak hanya merupakan aspek mental semata, melainkan mencakup respon fisik. Jadi harus ada kekompakan antara mental dan fisik secara serempak. Selanjutnya, Azwar (dalam Susanto, 3013:10) mengungkapkan tentang struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yaitu: komponen kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercaya oleh individu pemilik sikap. Komponen afektif yaitu perasaan yang menyangkut emosional.

26

Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki seseorang.

c) Hasil Belajar Psikomotorik

Definisi hasil belajar menurut Indrawati (dalam Susanto, 2013:9) merumuskan bahwa keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif maupun psikomotorik) yang dapat diginakan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori, untuk mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, atau untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan. Dengan kata lain keteramilan ini digunakan sebagai wahana penemuan dan pengembangan konsep, prinsip, dan teori. Selanjutnya Indrawati menyebutkan ada enam aspek keterampilan proses, meliputi: observasi, klasifikasi, pengukuran, mengomunikasikan, memberikan penjelasan atau interpretasi terhadap suatu pengamatan, dan melakukan eksperimen.

Selanjutnya, Usman dan Setiawati (dalam Susanto, 2013:9), mengungkapkan bahwa hasil belajar afektif atau keterampilan proses merupakan keterampilan yang mengarah kepada pembangunan kemampuan mental, fisik, dan social yang mendasar sebagai penggerak kemmapuan yang lebih tinggi dalam diri individu siswa.

Dari penjabaran beberapa ahli diatas tentang macam-macam hasil belajar dapat dikatakan bahwa, hasil belajar mencakup tiga komponen atau aspek yaitu hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif, dan hasil belajar psikomotorik. Dimana kognitif merupakan hasil belajar berupa pengetahuan,

27

afektif merupakan hasil belajar berupa sikap, dan psikomotorik merupakan hasil belajar berupa keterampilan.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Wasliman (dalam Susanto, 2013:12) mengemukakan bahwa, hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi, baik faktor internal maupun eksternal. Berikut uraian secara rinci mengenai faktor internal dan eksternal:

1) Faktor Internal

Merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang memengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan.

2) Faktor Eksternal

Merupakan faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang memengaruhi hasil belajar, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Keluarga yang sulit dalam ekonomi, pertengkaran kedua orang tua, kurangnya perhatian terhadap anak, serta kebiasaan sehari-hari berperilaku yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.

Selanjutnya, Walisman (dalam Susanto, 2013:13) mengemukakan sekolah merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan hasil belajar siswa. Semakin tinggi kemampuan belajar siswa dan kualitas pengajaran

28

di sekolah, maka semakin tinggi pula hasil belajar siswa. Sebagaimana dikemukakan oleh Sanjaya (dalam Susanto, 2013:13) bahwa guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Berdasarkan pendapat ini, ditegaskan bahwa guru merupakan salah satu faktor eksternal yang sangat mempengaruhi hasil belajar siswa.

Menurut Sanjaya (dalam Susanto, 2013:13), terdapat sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru, yaitu:

a) Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua

pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka. Yang termasuk ke dalam aspek ini diantaranya tempat asal kelahiran guru termasuk suku, latar belakang budaya, dan adat istiadat.

b) Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang

berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru, misalnya pengalaman latihan professional, tingkat pendidikan, dan pengalaman jabatan.

c) Teacher properties, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan

sifat yang dimiliki guru, misalnya sikap guru terhadap profesinya, sikap guru terhadap siswa, kemampuan dan intelegensi guru, motivasi dan kemampuan guru baik dalam pengelolaan pembelajaran termasuk di dalamnya kemampuan dalam merencanakan dan

29

evaluasi pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan materi.

Adapun pendapat Sudjana (dalam Susanto, 2013:15) mengatakan bahwa hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.

Selain itu, alat peraga atau media pembelajaran juga mampu mempengaruhi hasil belajar siswa. Pembelajaran yang disertai dengan penggunaan media atau alat peraga akan berlangsung lebih menyengangkan. Situasi yang menyenangkan dalam pembelajaran akan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Begitu pula dengan alat peraga domino matematika. Domino matematika ini merupakan alat peraga berbasis permainan dimana dalam penggunaannya dilakukan dengan cara bermain. Pembelajaran yang disertai dengan permainan biasanya akan meningkatkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga dapat berpengaruh pula terhadap hasil belajar siswa.

Dari penjabaran beberapa teori para ahli tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dikatakan bahwa, hasil belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Dimana faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalm diri siswa meliputi kecerdasan, minat, bakat, ketekunan, kemauan, sikap dan kesehatan siswa. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa yang meliputi keluarga,

30

sekolah, masyarakat, guru, model pembelajaran, suasana pengajaran, dan media atau alat peraga.

d)Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang alam sekitar beserta isinya. Hal ini berarti IPA mempelajari semua benda yang ada di alam, peristiwa, dan gejala-gejala yang muncul di alam. Ilmu dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan yang bersifat objektif.

Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains ini berasal dari bahasa latin yaitu scienta yang berarti “saya tahu”.

Dalam Bahasa Inggris, kata sains berasal dari kata science yang berarti

“pengetahuan”. Science kemudian berkembang menjadi social science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan

natural science yang dalam bahasa indonesia dikenal dengan ilmu

pengetahuan alam (IPA).

Dalam kamus Fowler (1951), natural science didefinisikan sebagai:

systematic and formulated knowledge dealing with material phenomena and

based mainly on observation and induction (yang diartikan bahwa ilmu

pengetahuan alam didefinisikan sebagai: pengetahuan yang sistematis dan disusun dengan menghubungkan gejala-gejala alam yang bersifat kebendaan dan didasarkan pada hasil pengamatan dan induksi). Sumber lain menyatakan bahwa natural science didefinisikan sebagai piece of theoretical knowladge

31

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Definisi ini memberi pengertian bahwa IPA merupakan cabang pengetahuan yang dibangun berdasarkan pengamatan dan klasifikasi data, dan biasanya disusun dan diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif, yang melibatkan aplikasi penalaran matematis dan analisis data terhadap gejala-gejala alam.

Definisi Ilmu Pengetahuan Alam menurut Fowler (Trianto, 2010:136) menyatakan bahwa IPA adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi. IPA mempelajari alam semesta, benda-benda yang ada di permukaan bumi, di dalam perut bumi dan di luar angkasa, baik yang dapat diamati indera maupun yang tidak dapat diamati dengan indera. IPA adalah ilmu tentang dunia zat, baik makhluk hidup maupun benda mati yang diamati.

Adapun pendapat Sulistyorini (2007:39) menuliskan bahwa IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengertian yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dari sendiri dan alam sekitar serta prospek

32

pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan pengertian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dari beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa IPA adalah suatu ilmu pendidikan yang mempelajari tentang cara mengamati alam dan sekitarnya dengan cermat dan lengkap.

Dokumen terkait