• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL

3. Hasil Belajar

Belajar adalah suatu aktivitas atau proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki tingkah laku, sikap dan mengokohkan kepribadian.38 Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan.39 Belajar pada hakikatnya adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.40

37

Ibid.

38

Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), cet. 3, h. 9

39 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta,2010), cet. 4, h. 10

40

Seperti dikemukakan oleh George J. Mouly dalam bukunya Psycology for Effective Teaching, bahwa belajar pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman.41 Karena belajar merupakan aktivitas yang berproses,sudah tentu di dalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap.42 Pandangan baru menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku akibat latihan dan pengalaman.43

Ivan Pavlov menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang terus menerus timbul sebagai akibat dari persyaratan kondisi.Sifatnya adalah membentuk hubungan antara stimulus dengan respon.44 Hilgard & Bower dalam bukunya Theories of Learning, mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan.45

M. Sobry Sutikno dalam bukunya Menuju Pendidikan Bermutu, mengartikan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya sendiri.46 Skinner mengartikan belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang bersifat progresif.47 Belajar adalah suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku pada individu yang belajar.48 Tujuan proses belajar mengajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh siswa.49

41 Ibid. 42 Syah,op. cit., h. 111 43

Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), cet 3, h. 106

44

Asep Herry Hernawan, dkk., Belajar dan Pembelajaran Sekolah Dasar, (Bandung: UPI Press, 2007), cet I, h.29

45

Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), cet 3, h. 5

46

Ibid.

47

Ibid., h. 6

48

Karyadinata, dkk., op. cit., h. 8

49

S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar,(Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2003), cet 8, h. 36

Ciri-ciri belajar diantaranya, adalah :50

1) Memiliki tujuan yaitu untuk membentuk siswa dalam suatu perkembangan tertentu

2) Terdapat mekanisme, prosedur, langkah-langkah, metode dan teknik yang direncanakan dandidesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

3) Fokus materi jelas, terarah dan terencana dengan baik

4) Adanya aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya pembelajaran

5) Aktor guru yang cermat dan tepat

6) Terdapat pola aturan yang ditaati guru dan siswa dalam proporsi masing-masing

7) Limit waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran 8) Evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi produk.

Unsur-unsur belajar adalah unsur-unsur yang harus ada dalam tahapan pembelajaran, agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud. Cronbach sebagai penganut aliran behaviorisme menyatakan dalam Sukmadinata, adanya tujuh unsur utama dalam proses belajar, meliputi:51

1) Tujuan. Belajar dimulai karena adanya suatu tujuan yang ingin dicapai, tujuan ini muncul karena adanya sesuatu kebutuhan. Belajar akan lebih efektif bila diarahkan kepada tujuan yang jelas dan bermakna bagi individu

2) Kesiapan. Agar mampu melaksanakan belajar yang baik siswa harus memiliki kesiapan, baik kesiapan fisik, psikis, maupun kesiapan yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu yang terkait dengan pengalaman belajar 3) Situasi yaitu tempat, lingkungan sekitar, alat dan bahan pelajaran yang

dipelajari, guru, kepala sekolah, pegawai administrasi dan seluruh warga sekolah yang lain

4) Interprestasi yaitu melihat hubungan diantara komponen situasi-situasi belajar, melihat makna dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan kemungkinan pencapaian tujuan

50

Djamarah dan Zain,op. cit., h. 39- 41

51

5) Respon, berupa usaha yang terencana dan sistematis

6) Kosekuensi,berupa hasil, dapat hasil positif (keberhasilan) maupun hasil negatif (kegagalan) sebagai konsekuensi respon yang dipilih siswa

7) Reaksi terhadap kegagalan. Kegagalan dapat memotivasi siswa lebih semangat lagi untuk belajar atau sebaliknya.

Sukmadinata menyampaikan prinsip umum belajar, sebagai berikut :52 1) Belajar merupakan hasil dari perkembangan

2) Belajar berlangsung seumur hidup maksudnya belajar adalah proses yang terus menerus, yang tidak pernah berhenti dan tidak terbatas pada dinding kelas. Melalui kemampuan bagaimana belajar, siswa akan dapat belajar memecahkan setiap rintangan yang dihadapi sampai akhir hayatnya

3) Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan, lingkungan, kematangan, serta usaha dari individu secara aktif

4) Belajar mencakup semua aspek kehidupan

5) Kegiatan belajar berlangsung di sembarang tempat dan waktu 6) Belajar berlangsung baik dengan guru maupun tanpa guru

7) Belajar yang terencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi

8) Perbuatan belajar bervariasi dari yang paling sederhana sampai dengan yang amat kompleks

9) Dalam belajar dapat terjadi hambatan-hambatan

10)Dalam hal tertentu belajar memerlukan adanya bantuan dan bimbingan dari orang lain.

Jenis-jenis belajar ada bermacam-macam, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Menurut para ahli jenis-jenis belajar itu, diantaranya :53

1) Belajar abstrak ialah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak, tujuannya untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah yang tidak nyata. Contohnya pelajaran matematika.

52

Ibid., h.128-129

53

2) Belajar sosial adalah belajar memahami masalah dan teknik untuk memecahkan masalah tersebut,tujuannya untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Contohnya masalah persahabatan.

3) Belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannya untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas. Contoh pelajaran IPA.

4) Belajar rasional yaitu belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional (sesuai akal sehat), tujuannya untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.

5) Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan atau perbaikan-perbaikan yang telah ada, tujuannya agar siswa memperoleh sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual).

6) Belajar apresiasi adalah belajar mempertimbangkan arti penting atau alat suatu objek, tujuannya agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affektif skill) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu.

7) Belajar pengetahuan ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu.

Dengan demikian inti dari belajar adalah adanya perubahan tingkah laku karena adanya pengalaman.54

b. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa. Pembelajaran adalah sebuah proses personal dan sosial yang akan membawa hasil jika setiap individu saling bekerjasama untuk membangun pemahaman dan pengetahuan bersama.55 Hasil belajar sebagai objek

54

Trianto, op.cit., h. 7

55

penilaian pada hakikatnya menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan instruksional, yaitu menggambarkan hasil belajar yang harus dikuasai siswa berupa kemampuan siswa untuk menerima setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.56

Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, guru tidak hanya berfokus pada hasil belajar saja, tetapi juga harus memperhatikan transfer hasil belajar dan proses belajar yang dijalani oleh siswa.57 Hasil belajar merupakan cerminan tingkat keberhasilan atau pencapaian tujuan dari proses belajar yang telah dilaksanakan yang pada puncaknya diakhiri dengan evaluasi siswa. Evaluasi berguna untuk mengetahui hingga manakah siswa telah mencapai tujuan pelajaran yang ditentukan.58

Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar yang ideal menurut Muhibbin Syah meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa (afektif) siswa, sangat sulit.Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible

(tak dapat diraba). Oleh karena itu, yang dapat dilakukan seorang guru dalam hal ini adalah hanya mengambil sedikit perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik pengetahuan, sikap dan keterampilan.59

Menurut Benyamin S.Bloom, dkk, hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam tiga, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.60 Setiap domain disusun menjadi beberapa jenjang kemampuan, mulai dari yang sederhana sampai dengan hal yang kompleks, mulai dari yang mudah sampai dengan hal yang sukar, dan mulai dari yang konkrit sampai dengan hal yang abstrak.

56

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 2012), cet. 17, h. 34

57

Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran Prinsip Teknik Prosedur, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), cet 4, h. 72 58 Nasution, op.cit., h. 78 59 Syah, op.cit., h. 148 60

Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), cet I, h.125

Belajar memiliki tujuan yang bersifat permanen atau tetap, yakni terjadinya perubahan pada diri siswa.61Baik itu dalam intelegensi, sikap maupun tingkah laku. Menurut Slameto, ciri-ciri perubahan dalam pengertian belajar, meliputi :62

1) Perubahan yang terjadi berlangsung secara sadar, bahwa pengetahuannya bertambah, sikapnya berubah, kecakapannya berkembang.

2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional.

3) Perubahan belajar bersifat positif dan aktif. Belajar senantiasa menuju perubahan yang lebih baik.

4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, jika perubahan bersifat sementara itu bukan hasil belajar.

5) Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.

6) Perubahan mencakup semua aspek tingkah laku, bukan bagian-bagian tertentu secara parsial.

Jadi dapat disimpulkan, bahwa hasil belajar diartikan sebagai hasil akhir pengambilan keputusan tinggi rendahnya nilai siswa selama mengikuti proses pembelajaran, pembelajaran dikatakan berhasil jika tingkat pengetahuan siswa bertambah dari hasil sebelumnya.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, diantaranya:63 1) Faktor internal

a) Fisiologi, yaitu kondisi umum jasmani mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam menjalani proses belajar (mata, telinga dan tonus jasmani)

b) Psikologi, yaitu keadaan dimana hubungan antara belajar, memori dan pengetahuan itu sangat erat dan tidak dapat dipisahkan (tingkat kecerdasan, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa).

61

Fathurrohman dan Sutikno, op.cit., h. 10

62

Ibid.

63

2) Faktor eksternal

a) Lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga ini sangat memegang peranan dalam pembelajaran yang pertama kali bagi siswa dalam pembentukan diri maupun mentalnya. Maka orangtua sebagai guru bagi siswa di rumah, sebaiknya memberi contoh dan mengajarkan untuk berbuat dan berperilaku yang baik untuk bekal dalam belajar di lingkungannya nantinya.

b) Lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah juga memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian siswa, guru harus berhati-hati dalam menentukan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud dan pembelajaran dapat bermakna bagi siswa.

c) Lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat sekitar juga menentukan kepribadian seorang siswa, baik dalam bertutur kata ataupun berperilaku. Maka pendidikan menjadi sangat penting bagi seorang siswa, agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

d) Pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.

Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi kearah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.

d. Pengukuran Hasil Belajar

Pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu.64 Dalam konteks hasil belajar, alat ukur atau instrumen tersebut dapat berbentuk tes atau non-tes. Selama ini tes merupakan alat ukur yang sering digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa mencapai kompetensi.65 Pada hakikatnya tes adalah suatu alat yang berisi serangkaian tugas yang harus

64

Arifin, op.cit., h. 4

65

dikerjakan atau soal-soal yang harus dijawab oleh siswa untuk mengukur suatu aspek perilaku tertentu.66 Alat ukur tersebut harus standar, yaitu memiliki derajat validitas dan reliabilitas yang tinggi.67 Pengukur keberhasilan juga dikenal dengan penilaian. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian, adalah:68

1) Penilaian hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif. Ini berarti bahwa penilaian didasarkan atas sampel yang cukup banyak, baik macamnya maupun jenisnya.

2) Penilaian harus dibedakan antara penskoran (scoring) dan penilaian (grading).Penskoran berarti proses pengubahan prestasi menjadi angka-angka,sedangkan dalam penilaian kita memproses angka-angka hasil kuantifikasi prestasi itu dalam hubungannya dengan personal siswa dalam skala tertentu.

3) Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua macam orientasi, yaitu penilaian norm-referenced (berorientasi pada kelompok tertentu) dan yang criterion-referenced (berorientasi pada suatu standar absolut, tanpa dihubungkan dengan suatu kelompok tertentu).

4) Kegiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dan proses belajar-mengajar.

5) Penilaian harus bersifat komparabel, artinya setelah tahap pengukuran yang menghasilkan angka-angka itu dilaksanakan, prestasi-prestasi yang menduduki skor yang sama harus memperoleh nilai yang sama pula.

6) Sistem penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri.

Menurut Scriven, fungsi evaluasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: pertama, fungsi formatif dilaksanakan apabila hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu atau sebagian besar bagian kurikulum yang sedang dikembangkan; kedua, fungsi sumatif

66 Arifin, op.cit., h. 3 67 Ibid., h. 4 68

Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2004), cet. 12, h. 73-75

dihubungkan dengan penyimpulan mengenai kebaikan dari sistem secara keseluruhan, dan fungsi ini baru dapat dilaksanakan apabila pengembangan suatu kurikulum telah selesai.

Depdikbud mengemukakan penilaian adalah suatu kegiatan untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil yang telah dicapai siswa. Hasil belajar siswa meliputi tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil belajar aspek kognitif berhubungan dengan inteletual siswa, aspek ini terdiri dari 6 tingkatan yaitu 1) ingatan, 2) pemahaman, 3) aplikasi, 4) analisa, 5) sintesa, 6) evaluasi.69 Hasil belajar ranah afektif adalah hasil belajar berupa sikap, yang terdiri dari lima tingkatan yaitu 1) penerimaan, 2) jawaban atau reaksi, 3) penilaian, 4) organisasi, 5) internalisasi.70 Hasil belajar ranah psikomotor adalah hasil belajar yang berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak, ranah ini terdiri dari 1) gerak reflek, 2) kemampuan gerakan dasar, 3) kemampuan perseptual, 4) keharmonisan atau ketepatan, 5) gerakan keterampilan kompleks, dan 6) gerakan ekspresif dan interpretatif.71Adapun tujuan penilaian hasil belajar adalah:72

1) Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan

2) Untuk mengetahui kecakapan, motivasi, bakat, minat, dan sikap siswa terhadap program pembelajaran

3) Untuk mengetahui tingkat kemajuan dan kesesuaian hasil belajar siswa dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan

4) Untuk mendiagnosis keunggulan dan kelemahan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Keunggulan siswa dapat dijadikan dasar guru untuk memberi pengembangan lebih lanjut, sedangkan kelemahannya dapat dijadikan acuan untuk memberikan bantuan atau bimbingan

5) Untuk seleksi yaitu untuk memilih dan menetukan siswa yang sesuai dengan jenis pendidikan tertentu

6) Untuk kenaikan kelas

7) Untuk menempatkan siswa sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

69

Yanti Elvita, Transparansi Evaluasi Hasil Belajar, Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islami, Vol.5, 2008,h.164. 70 Ibid. 71 Ibid. 72 Arifin,op.cit.,h. 15

Fungsi penilaian hasil belajar adalah:73

1) Fungsi formatif yaitu untuk memberikan umpan balik (feedback) kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran

2) Fungsi sumatif yaitu untuk menentukan nilai kemajuan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran tertentu, sebagai bahan untuk memberikan laporan kepada berbagai pihak, penentuan kenaikan kelas, dan penentuan lulus-tidaknya siswa

3) Fungsi diagnostik yaitu untuk memahami latar belakang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan tersebut

4) Fungsi penempatan yaitu untuk menempatkan siswa dalam situasi pembelajaran yang tepat sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.

Dokumen terkait